"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

For the Love of Dog v0.1

Posted by The Bitch on 11/01/2009 09:53:00 PM

Tau anjing? Iya, binatang berbulu berkaki empat, selalu ngos-ngosan meskipun nggak lari-lari, sering nggonggong nggak puguh, berliur segentong nggak abis-abis, (yang katanya) penghalang malaikat chicken buat masuk rumah orang Islam, dan jadi kata umum untuk memaki (dan biasa saya gunakan). Banner di atas adalah pengumuman kumpul anjing yang diadakan tanggal 8 November nanti, jam 7.30 sampai 12 siang di Taman Langsat, Kebayoran Baru. Dekat dengan tempat nongkrong saya, Wetiga.

Beberapa bulan belakangan ini saya jatuh cinta pada anjing. Dan seperti pecinta pada umumnya, sang objek akan selalu terbayang dimanapun saya berada. Gara-gara anjing, saya jadi kelewat sering menjenguk Oma Wiwik dan Mbah Gogo, mencari tau lebih banyak tentang sifat dan berbagai jenis mereka. Karena mereka pula saya sering mojok di pabrik sambil merokok di beranda, bertukar cerita dengan Pak HRD yang ibunya sering memungut anjing terlantar kemudian dipelihara di rumah.

Lagi-lagi, seperti pecinta pada umumnya, anjing menjadi kelemahan saya. Saya sering reflek tersenyum melihat anjing yang sedang diajak jalan-jalan pemiliknya. Pernah suatu sore saya dikejar seekor puppy jantan mix Siberian Husky dan Kintamani usia enam bulan hanya karena saya menyapanya dengan ‘Hay, Ganteng!’. Tidak, dia tidak mengejar saya karena saya berdaging banyak. Dengan ekor bergoyang riang, lidah jambon terjulur, dan mbak-mbak pemegang kekang pontang-panting di belakangnya, Gladi berlari dan meminta saya untuk sejenak bermain dengannya.

Dan saya bertindak sebagai pencinta—pada umumnya—ketika tau begitu banyak kisah sedih menimpa anjing-anjing tak bertuan. Saya menahan amarah pada para pemilik tak bertanggungjawab yang melemparkan anjing mereka ke jalan dan membiarkan mahluk-mahluk manis itu menggunakan insting purba untuk bertahan, melawan tukang ojek ringan tangan dan anak-anak kecil yang didoktrin bahwa anjing hidup untuk dilempari batu dan liurnya membuat seorang Islam mendadak Kristen.

Beberapa hari yang lalu seorang ayah dari tiga anjing bahagia menunjukkan sebuah alamat situs pada saya. Saya baru tau ada LSM seperti itu di Indonesia. Dari daftar berbagai kegiatan yang dipublish, tidak ada satu pun yang membuat saya tidak berdecak kagum. Penyelamatan, kebiri massal, edukasi, garage sale, semua dibabat habis. Salah satunya adalah artikel tentang kegigihan seorang ibu tua miskin bernama Mak Isa yang membaktikan waktunya melindungi sembilan anjing jalanan. Padahal orang-orang hebat itu tidak melulu ‘mengurusi’ anjing, tapi juga kucing yang jumlahnya lebih banyak. Di situs ini mereka malah sempat mengabadikan demonstrasi untuk dua lumba-lumba pentas, Lulu dan Lala, yang tidak mendapatkan perawatan secara layak dan ditangkap di perairan yang seharusnya menjadi suaka binatang hampir punah. Mereka pasti punya hati dan tekad baja untuk membuat organisasi seperti ini tetap bergerak.

Saya sayangkan orang yang tidak—atau belum—menemukan kebahagiaan mencintai binatang marjinal. Saya prihatin pada mereka yang menggilai anjing ras namun menyerahkan pengurusannya pada pembantu lalu membuangnya ketika bosan. Terlebih lagi, saya hanya bisa menghela napas berat pada mereka yang fanatik bahwa komitmen bertanggungjawab hanya ada antara lelaki dengan perempuan, dengan sesama manusia, dan bukan manusia dengan anjing. Karena kadang saya membuktikan anjing lebih manusiawi ketimbang manusia-manusia yang saya kenal.

Saya tau kendala sebagian besar orang yang takut dan pernah punya trauma dikejar anjing. Apalagi sejak kecil mereka—termasuk saya—sudah tercuci otaknya untuk menganggap anjing sebagai binatang terlarang dan harus dijauhi. Mungkin saya termasuk anak beruntung yang pernah memiliki tetangga depan rumah dengan anjing manis yang bisa saya kuwes-kuwes seenaknya. Dan saya lebih beruntung memiliki sepasang orangtua moderat yang tidak pernah melarang dan selalu menjawab pertanyaan saya—termasuk menegasi semua pendapat guru agama tentang anjing dan kerancuan antara haram dan najis. Ya, anjing haram jika dimakan dan liurnya adalah najis yang punya tata cara sendiri untuk membersihkan. Namun saya tidak memandang peraturan—yang entah didapat dari hadits atau ayat Al Quran—secara tekstual. Menurut saya, peraturan bebersih dengan air tujuh kali dan mengusap dengan pasir sekali diantaranya ketika terkena liur anjing memang harus dilakukan karena di masa itu belum ada sabun antiseptik. Sesederhana itu, atau saya hanya malas direpotkan.

Sungguh, saya tidak menjadi murtad dan kebarat-baratan hanya karena saya memutuskan untuk mulai berkomitmen pada anjing. Saya hanya menjalankan fungsi saya sebagai manusia: berbagi kasih dengan sesama mahluk.

Mari…


With dog like this, how could anyone say no?
(photo courtesy of Shiro's Daddy, taken in one fine Sunday afternoon)

Labels: