"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

To One Tired Angel...

Posted by The Bitch on 10/30/2009 02:07:00 AM

Somehow, being great is not enough. You have to be perfect. You have to be what everybody wants you to be. You have to have countless of masks so you won't be disappointing anybody and wear it with exact timing though you only have split second to change into another mask once you meet another people. And it sucks.

Somehow, the temptation is too bitch to be ignored you surrender. Not because you want to but because you simply need to silence the seductress so you could carry on with the life you have. And you're breaking down in the process because the hope raised and the expectation came unexpected. In the end of the day, you know you've taken the wrong turn and you made it into one hell of a lesson learned.

Somehow, it's very exhausting to mend all the things by yourself. I know. You said that million times. And it's all begin with what people called choice, option, consequence. We had this kind of talk before. A long one that I never forget.

But one thing I know since the very beginning: you never ceased to be an angel, no matter what. In your worst, you're still there when I was in my lowest. You taught me to smile at the problems, to embrace invisibly, to think beyond any boundaries, to endure the pain, how impossible it seemed. That's how I know you're still human.

Yet, it's so painful to see you face the battle alone. The long, winding struggle that you'd talked about long after it's gone and you slip into conversations casually, unintentionally.

For an unfinished creature that God implanted knowledge, you're one perfect specimen that human could choose the purpose of creation. I bow deeply before you for this.

Thanks for the blue list. You're in my topmost, too (=

picture taken from here. nice, eh?

Labels:

Tentang Maktub

Posted by The Bitch on 10/13/2009 01:41:00 PM

Ternyata…

Di Jakarta Selatan dekat Beverly Hills-nya Indonesia masih ada tempat dengan halaman rindang serupa hutan; ada pemahaman tentang privasi; ada kasih dari dua manusia asing; ada senyum penuh pengertian; ada teras dengan jendela besar-besar; ada dunia dengan biaya sewa murah; ada satu petualangan panjang menanti di hadapan.

Dan keajaiban yang mewujud tepat hingga ke renik.

Ini untuk kamu: tentang komitmen seumur hidup, berdua menantang dunia.

Dan ini karena kalian: semua orang yang doanya terselip diantara berjuta pinta seiring helaan nafas.

Terima kasih, Sang Maha Baik. Bahkan ketika saya memohon seekor anjing, Kau kirimkan malaikat lengkap dengan sepotong Eden terlempar ke Radiodalam.

… and the adventure begins…

ps: semoga nggak ada cerita kekuncian dinihari.


gambar diambil dari foto album sang ayah.

Labels:

Hypocrisy, Anyone?

Posted by The Bitch on 10/10/2009 05:50:00 PM

Menurut kamus online ini, hypocrisy, yang berasal dari abad ke-13, berarti:

1 : a feigning to be what one is not or to believe what one does not; especially : the false assumption of an appearance of virtue or religion

Lalu, apa hubungannya dengan berita tentang Miyabi yang saya ambil screenshot-nya di sebelah?

Saya gerah. Beneran. Sumuk, kepanasan, emosi tinggi. Ngapa-ngapain jadi nggak jenak.

Kenapa? Karena kemunafikan ini semakin menjadi-jadi. Katanya Miyabi merusak moral bangsa. Setau saya, bangsa itu hanya satu kelompok besar, terdiri dari individu-individu yang berdiri sendiri, punya otak dan hati sama sepeerti manusia lainnya, dan punya pilihan sendiri. Mereka hanya KEBETULAN berada dalam satu tempat yang sama. Ada juga yang bertebaran di berbagai negara lain, namun karena akar dan budaya, mereka masih merasa bangsa Indonesia.

Satu hal yang saya nggak abis pikir dengan FPI yang katanya Front Pembela Islam. Islam sebelah mana yang kalian bela? Saya jengah dengan kelompok-kelompok yang seperti majas pars pro toto itu, membawa-bawa semua padahal mewakili sebagian. Saya yang juga ber-KTP sebagai Islam Indonesia malah nggak merasa pernah mereka bela. Mbak-mbak yang dinihari berdiri di sekitaran Melawai untuk bertahan hidup (yang saya yakin sebagian besar juga mencantumkan Islam di kolom agama pada KTP mereka) malah mereka maki-maki. Jadi, apa tindakan kalian sebagai pembela?

Saya juga sangat menyayangkan pemerintah yang harusnya bisa mengatur 'gerombolan liar' seperti FPI untuk tidak sembarangan menuding kelompok lain sebagai pihak bersalah dan kafir dan sok-sokan jadi Robin Hood kesiangan, merampoki juragan-juragan Mangga Besar agar diskotik dan tempat maksiat mereka tidak digerebek. 'Allahu Akbar' yang seharusnya suci hanya jadi pembenaran untuk menutup jalan rejeki sebagian besar pekerja prostitusi dan ojek pengantar dan penjual minuman. Sungguh picik.

Sekarang mereka merambah ke area film, dengan alasan moral mereka merasa berhak mengusir Miyabi yang akan membintangi salah satu sinema di negara ini. Padahal, Miyabi juga manusia. Bukankah manusia satu dan lainnya bersaudara, sesama penghuni planet Bumi dan berhak atas udara yang sama-sama kita hirup? Lagipula, merusak moral bangsa, katanya? Bagian mana? Apa yang mereka tau tentang film itu jika naskahnya atau outline-nya pun mereka malas mencari tau?

Rasanya sama seperti yang saya lihat di televisi, ketika spanduk-spanduk penolakan dijembreng di kampung halaman jenazah yang mati dan dituduh sebagai penyebab Bom Kuningan II. Bukankah itu tidak manusiawi? Mana itu yang katanya agama pembawa kedamaian jika semua dibicarakan dengan parang dan kemarahan?

Hanya orang-orang munafik yang berkoar merasa diri paling benar. Lagipula, semakin kencang kamu berteriak ke telinga orang lain, maka akan makin tuli nuranimu bahkan untuk mendengar suara kebenaran.

gambar diambil dari sini.

Labels:

Relativity, Anyone?

Posted by The Bitch on 10/09/2009 11:59:00 PM

Kemarin saya terkapar tak berdaya di kamar kos, sejenak setelah membuka mata, pagi pukul delapan. Kepala rasanya seperti dihantam kontainer tiga biji sarat berisi muatan, lengkap dengan supir dan keneknya. Untuk mencetin keypad di ponsel dan mengabarkan saya absen saja rasanya susah sekali. Kelemahan saya memang di kepala dan perut. Antara sakit kepala dan mules, meskipun tampang berusaha dibuat sangar dan galak.

Hampir setahun yang lalu rekan seperburuhan saya yang cantik, manis, dan kalem pulang dari perawatan di Belanda. Dia bercerita tentang biopsi, ketika jarum diameter lima sentimeter menusuk tulang ekor tanpa anestesi. Sakitnya tidak tertahankan. Dan karena trauma hebat setelahnya, dia baru bisa bercerita beberapa bulan kemudian. Saya hanya terhentak tanpa bisa berkata apapun di hadapan perempuan dengan airmata leleh, di suatu sore.

Kami berdua punya ambang sakit berbeda. Baginya, mungkin biasa untuk merasakan sakit kepala berkepanjangan dan mimisan tak berkesudahan. Hampir tiap hari dia mengalaminya. Namun tidak bagi saya yang merasa sekuat banteng dengan waktu tidur tak beraturan berbahan bakar kopi kental hingga lima gelas tiap hari dan rokok berpuluh-puluh batang.

Pernah pada suatu kali saya mendapati hidup saya dan hidup seorang lajang lelaki usia tiga puluh tiga mendadak beririsan. Saya hanya bengong mendapatinya mengurus rumah, mencuci pakaian, membersihkan kotoran ketiga anjing-anjingnya, bermain dengan mereka, dan masih sempat ngobrol dengan nada riang. Padahal sudah dua hari ia melek tanpa tidur. Semua dilakukan sepulang bekerja, tanpa duduk dan tanpa sempat menghela napas. Enteng, dia berkata "Welcome to my world." Tanpa beban. Begitu saja.

Lalu saya tersasar di negara bernama Indonesia, mendapati suatu hari beberapa orang terpilih untuk memerintah, mewakili suara rakyat--katanya. Dan gaji mereka berpuluh-puluh juta, jauh melesat melebihi pendapatan seorang pemulung dengan pendapatan kurang dari sembilan ribu rupiah per hari. Saya marah-marah karena empati mendefisit di suatu tempat dengan hiasan megah serupa rumah keong terbelah. Sementara teman saya datar menanggapi: "If you were in their shoes, are you sure you won't do the same like they do?"

Saya terdiam. Mungkin hanya karena kesempatan yang tidak sampai ke muka saya maka saya tidak bisa berbuat seperti mereka. Kekuasaan dan harta adalah dua godaan yang kadang tidak tertahankan bagi manusia-manusia lemah seperti saya. Untung Gie mati muda. Jika tidak, maka ia akan sama dihujat sebagaimana rekan seperjuangannya yang beberapa tahun kemudian menjadi birokrat.

Semua memang relatif, karena sifat, latarbelakang, dan masing-masing pengalaman orang berbeda-beda. Saya juga belum tentu ingat akan orang-orang yang saya wakili jika saya berada dalam posisi mereka, menangguk uang berpuluh-puluh juta dengan tidur seharian mendengarkan orang berbusa-busa.

Tapi ya sudah lah. Toh saya tetap alive and kicking. Ergh. Saya mengantuk. Selamat malam semua. Semoga akhir pekan ini menyenangkan...

Labels:

Tentang Pasrah

Posted by The Bitch on 10/07/2009 03:19:00 AM

Malam tadi saya dinner lagi bareng lelaki kurus berwajah tirus, orang yang sama dengan siapa saya berbagi malam takbiran. Sehabis libur Lebaran baru malam itu kami bertemu. Mendadak, setelah kami bertukar celaan (penanda keakraban yang aneh bagi orang-orang di sekeliling saya), ia mengajak saya makan sate padang.

Bukannya tanpa persiapan saya menuruti ajakannya. Dia adalah salah satu dari dua orang ‘berbahaya’. Makan atau nongkrong berdua saja bareng lelaki-lelaki usia tiga puluh tiga yang saya kenal dalam satu komunitas ini sebenarnya hanya ‘same shit different day’. Sebagai ‘adik’ mereka—saya yang mengaku-ngaku sementara mereka melepéh-lepéh—saya hanya akan ‘digampari’ dengan berbagai cerita sehari-hari yang sepertinya dipetik dari udara namun kental makna. Padahal saya sedang menunggu gamparan orang ’berbahaya’ satu lagi yang tak kunjung datang.

Sesudah beberapa kunyahan, awalnya adalah batik yang saya protes keberadaannya secara serempak dalam satu hari. Hanya untuk satu nasionalisme semu (padahal masih kalap terhadap diskon Zara dan Louis Vitton) maka orang bangga berbatik, beragam corak dan model. Dengan suara datar, ia mengatakan tanggal 2 Oktober kemarin adalah eforia kemenangan setelah—lagi-lagi—kami dicolong Malaysia. Mungkin jika orang-orang sini tidak memprotes negara tetangga yang mencaplok batik sebagai salah satu hasil budaya mereka, UNESCO tidak akan mengakui batik sebagai ‘made in Indonesia’. Yang tidak saya katakan keras-keras adalah kesimpulan bahwa keseragaman berbatik adalah salah satu bentuk persatuan atas kebanggaan. Dan ia setuju tentang esensi: rasa kebersamaan. Sama halnya dengan para pekerja kerah biru Jakarta bersatu dalam kedukaan ketika gedung perkantoran mereka terimbas ledakan bom Kuningan bab 2.

Lalu ia menyoal kepasrahan melepas apa yang dia miliki meskipun hanya dua minggu. Saya agak terkejut karena setau saya lelaki di depan saya itu adalah orang dengan perhitungan matang. Dia membongkar pemahaman saya tentang pasrah yang berarti berhenti berusaha ketika semua cara menubruk dinding; bahwa pasrah adalah kata sifat dan bukan kata kerja; bahwa pasrah adalah tidak berbuat apa-apa; dimana seluruh daya dan upaya terperas hingga tinggal tersisa tai kemudian lungkrah dan akhirnya luluh seluruh.

Rasanya dia sedang menampar saya ketika ia mengingatkan ada satu faktor yang tidak terduga, yaitu keajaiban. Bagi saya tidak ada satu pun yang tidak saya dapatkan tanpa berusaha dan bekerja, bahkan keajaiban sekalipun. Saya harus mengerahkan semua tenaga dan kemampuan saya untuk akhirnya mendapatkan keajaiban. Saya, yang merasa banyak orang bergantung pada keberadaan saya di pabrik dan di rumah; sebagai kakak, anak dan buruh; sebagai pendengar dan pencela; sebagai pembantai dan bahu untuk bersandar; sebagai apapun yang diperlukan orang lain. Namun ia mengingatkan saya untuk berhenti sejenak, menarik nafas dalam-dalam kemudian membiarkan semua berjalan dengan sendirinya: menikmati kekosongan (yang berbunyi sangat nyaring beberapa hari belakangan).

Ia kembali mengingatkan saya untuk berpikir dengan hati.

Sangat sulit bagi saya sekarang untuk berlaku seperti itu. Sepanjang hidup, ada banyak hal yang terjadi dan saya simpan sebagai data statistik. Karena itu saya sering sok tau. Namun saat saya jumawa dan bersikeras membuktikan bahwa apa yang mereka stempel di jidat saya adalah salah, pada akhirnya saya tidak mendapatkan apa-apa kecuali beberapa mulut terbungkam dan dendam menghebat.

Sore sebelumnya seorang perempuan periang bertanya mengapa saya belum menulis juga. Mendadak pertanyaan itu mengemuka ketika saya sedang ‘dibantai’. Saya pikir saya sedang menikmati pasrah menjalankan hidup tanpa harus mendokumentasikannya ke dalam bentuk teks tak berarti seperti ini. Ternyata saya kelelahan. Saya capek berpikir dan penat bekerja. Beberapa tenggat teronggok tak tersentuh ketika seharusnya selesai beberapa waktu silam. Padahal ini demi hajat hidup orang banyak.

“Pasrah itu, Pit, adalah kondisi dimana kamu tidak takut dan tidak berani; adalah vertikal dan bukan horisontal; adalah menerima hidup tanpa penyangkalan. Bisakah kamu seperti itu?” tanyanya retoris.

Samar saya mengingat sore gerimis di bawah atap sebuah toko dengan titik hujan yang saya pandangi dari balik asap nikotin. Saat itu, setelah beberapa lokasi kos saya sambangi, saya berharap ada keajaiban untuk seekor anjing berbagi hidup bersama manusia tanpa dibatasi doktrin agama…


ps: Gambar di atas adalah dogtag milik Sasa semasa bayi, diberikan sang ayah karena komitmen yang saya buat sendiri. Saya membuatnya menjadi kalung sebagai pengingat bahwa keajaiban tidak akan berhenti sampai disini (=

Labels: