"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Lebaran, Anyone?

Posted by The Bitch on 9/25/2009 06:42:00 PM

Hari terakhir puasa Babab tidak bersama kami ketika Lebaran. Kami santai saja. Ibu masih mencetak adonan kue kering pada nampan ketika takbir berkumandang tanpa henti di mesjid, karena ini adalah saat yang tepat mencoba resep. Adik saya malah tidur karena flu. Dan saya baru pulang ke rumah pukul sebelas malam. Semua sama seperti biasa, kecuali bagian membuat kue. Sejak dulu keluarga saya memang tidak pernah mendewa-dewakan Idul Fitri karena itu hanya perayaan atas terbebasnya nafsu setelah terkungkung sebulan penuh. Setidaknya begitulah menurut saya.

Salahkan media yang mengangkat momen ketertundukan manusia atas nafsunya sendiri sebagai tambang iklan dan rating yang tak habis dikeruk. Silahkan berkernyit pada lawakan-lawakan konyol pengantar sahur (dan saya bertanya-tanya ada berapa korban tersedak hingga mati ketika mereka makan sambil tertawa). Bebaskan dirimu untuk memaki beberapa pendakwah—dadakan dan asli—pengisi waktu sebelum adzan magrib datang (dan tidak akan kamu lakukan karena beduk belum bertalu, bukan?). Setelah malam datang kita akan makan seperti babi lalu tergeletak kekenyangan. Sebelum muadzin selesai meneriakkan "Allah" pertama, kita sikat habis berbagai penganan—ringan, sedang dan berat—hingga ludes tak bersisa, melepasliarkan kembali keinginan yang tertahan seharian.

Benarkah kita telah menang?

Satu hal yang saya lakukan ketika 1 Syawal datang adalah mengirim SMS pada teman dan kenalan yang saya yakin tidak akan bertemu muka. Bukan meminta atau memberi maaf, karena saya terlalu megalomaniak untuk itu. Saya hanya menyuarakan keprihatinan terhadap pameran keserakahan yang ditampilkan mereka para ‘pemenang’. Padahal menang atau kalah selama Ramadhan sama pribadinya dengan apakah kamu cebok atau tidak sehabis buang air besar.

Berbual tentang nafsu, ada yang lucu pada halaman Facebook saya. Seorang om-om tall-dark-handsome beranak dua, mapan, dan merasa dunia ada dalam genggamannya memanjatkan doa untuk mendiang ibu pada statusnya. Sementara di pesan inbox, dia frontal mengatakan ingin bersetubuh dengan saya. Mungkin itu hanya guyonan basi khas om-om yang terseok mengejar tren, atau dia memang ingin nakal. Saya tidak pernah tau karena saya tidak pernah membalas ajakannya. Saya hanya mengingatkannya untuk tarawih sementara saya makan opor di warung dekat kos. Ketika saya mengadukannya pada seorang ‘angel in disguise’, dengan bijak dia berkata: Ada hal yang memang bukan konsumsi publik, toh?

Saya terlalu naif memaknai rangkaian Ramadhan lengkap dengan Idul Fitri, dimana manusia akan jadi lebih baik, setan-setan dirantai dan diikat, yang berpuasa selama sebulan seharusnya dapat menundukkan ego dan berbagi. Bukan membusungkan dada dan menyombongkan THR. Jiwa seharusnya tersegarkan kembali. Tidak bertambah ganas. Mungkin karena saya tinggal di kota dengan keluarga yang hanya sepeminuman kopi jaraknya hingga saya tidak memerlukan ponsel dan kendaraan baru untuk dipamerkan ke kerabat di kampung. Mungkin khusuknya suara takbir keliling desa dengan obor—seperti yang pernah saya lihat di iklan-iklan rokok—tergantikan gebyar audio system di kafe dengan irama 200 bpm. Mungkin kelelahan karena melihat begitu banyak orang berburu diskon menggantikan malam saat seharusnya kami berburu seribu bulan. Atau karena saya skeptis terhadap semua omongkosong orang-orang bergamis putih yang percaya bahwa sorban lebih bisa dijadikan pelindung kepala ketimbang helm ketika motor mereka melaju kencang di jalur cepat?

Dan saya muak.

Namun saya masih menunggu hadirnya Ramadhan tahun depan. Mungkin saya masih akan memaki.


ps: teriring salam dari semua petugas penyedia jaringan ponsel yang begadang berhari-hari; korban-korban mati dan luka karena mudik; mereka yang berjejalan di kereta dan kapal dan bis; bocah-bocah menangis kepanasan dan terhimpit; telur, ayam, kambing dan sapi yang berakhir menjadi kue kering, opor, kebuli dan rendang; polisi-polisi yang duduk-duduk di tenda bertuliskan ‘Operasi Ketupat’; dan kamitua yang menangis ketika kerabat datang dan pergi. Semoga tidak berakhir dalam kesia-siaan.

Labels:

Loony Talk

Posted by The Bitch on 9/24/2009 05:00:00 PM

Repost dari entri bertanggal 13 Januari 2009, saya kopas demi sebuah kenangan terhadap dua orang gila di suatu dinihari.


1:59:05 AM Him: paganisme pada dasarnya merupakan keyakinan yang toleran: kultus2 lama tidak merasa terancam oleh kedatangan tuhan2 baru, selalu ada ruang bagi tuhan2 lain di kuil untuk berbagi tempat di altar dan duduk berjejer berbagi sesembahan tradisional
1:59:07 AM Him: hahahahaha! Nice! macam musyarawah tuhan
1:59:15 AM Him: :))
1:59:30 AM Me: itu tulisan sape?
1:59:36 AM Him: karen amstrong
1:59:40 AM Him: gw ketik ulang buat elu
1:59:44 AM Him: kagak pake kopas2an
1:59:48 AM Me: aihhh…
1:59:52 AM Me: makaciiiii
2:00:07 AM Him: lucu2 gmn gitu itu bagian itu
2:00:12 AM Him: nyengir gw bacanya
2:00:19 AM Me: iya, gwa juga bayanginnya gitu
2:01:08 AM Me: tuhan2 pada ngerubungin meja
2:01:39 AM Him: hahahaha
2:01:44 AM Him: tuhan melu prasmanan
2:01:45 AM Me: ngopi2 sambil ngomongin umat ama nabi2nya
2:01:47 AM Him: enek dress code
2:02:01 AM Him: trus saling curhat soal umatnya di bawah sono
2:02:34 AM Him: sambil taruhan: “yahudi menang, voor setengah… sopo sik wani!” kata YHWH
2:03:44 AM Him: eh, A-L-H malah lagi maen krambol sama K-R-S-N di pjok
2:03:51 AM Me: =))
2:03:53 AM Him: YHWH bilang: “woi, wani ora?”
2:04:08 AM Him: K-R-S-N menjawab: sek dab, iki lagi tanggung
2:04:09 AM Him: :))
2:04:10 AM Me: :))
2:04:42 AM Him: eh, dhe…. dhe….
2:04:49 AM Him: malaikat nyatet log chat kita gak ya?
2:04:56 AM Him: jangan2 ntar ada di buku pahala dan dosa?
2:06:51 AM Me: cuwek
2:07:08 AM Me: paling malekate dho ngomong: “wooooo… gak gitu yoooo…”
2:07:19 AM Him: hwahahahaha
2:07:27 AM Me: keknya malekat kiri lagi kejar setoran, diketawain ama malekat kanan
2:07:28 AM Him: sambil malaikat melet2in: sok tau lu pade
2:07:59 AM Me: malekat yg kiri udah steno cepet banget gitu, hampir kecepatan cahaya nulisnya sambil misuh2
2:08:21 AM Me: ‘bocah loro iki kapan menenge to yooo… tanganku wes keju kiii’
2:08:26 AM Him: nah, kalo malaikat kecepetan nyatet logchat, itu pasti lagi nyatet lo
2:08:29 AM Him: lo kan ngetiknya cepet
2:08:34 AM Him: bukan lagi nyatet log chat ku
2:08:36 AM Him: :))
2:08:57 AM Me: =))
2:09:51 AM Me: gwa slalu ngerasa malekat kiri gwa kurus kering, di sampingnya buku tebel bertumpuk2, bekas rautan pensil menggunung, matanya kek vampir ada lingkaran itemnya, tuz mukanya bete mulu sambil misuh2
2:10:07 AM Him: hwahahahahaha
2:10:23 AM Me: yg kanan malah obesitas ketawa2 sambil ngemil, pensilnya masi panjang, tuz ngeledekin yg kiri
2:10:25 AM Him: dodol
2:10:35 AM Him: hwahahaha
2:10:36 AM Him: asu lah
2:10:58 AM Him: pokoknya, berat badan malaikat berbanding terbalik dengan berat manusia yg diawasinnya
2:11:10 AM Him: :))
2:11:14 AM Me: huhahahaha
2:11:16 AM Me: iyo
2:11:51 AM Me: 1-1nya yg dikerjakan malekat kanan gwa adalah ngerautin pensilnya si malekat kiri ama ngasih buku catetannya dia yang ga pernah kepake
2:12:02 AM Him: hahahaha
2:12:09 AM Me: tuz ngeledekin ‘mo dibantuin gaaaaak?’
2:12:14 AM Him: hwahahaha
2:12:16 AM Him: asu asu asuuuuu
2:12:21 AM Him: dodol nih
2:12:26 AM Him: ceting keren euy
2:12:27 AM Me: ;))
2:12:39 AM Him: karen amstrong imajinatif ngasih paragraf
2:13:00 AM Me: gara2 paragraf dia itu makanya gwa kepikiran malekat kiri kanan gwa
2:13:09 AM Him: lha ya iya
2:13:11 AM Him: kocak sih
2:13:21 AM Him: penggambaran tuhannya itu kek lagi resepsi dan prasmanan
2:13:27 AM Him: lagi kopdar tuhan lah
2:14:24 AM Me: kalah kopdar Jakarta dan semua kopdar2 bloger
2:14:30 AM Him: lebayyyy
2:14:33 AM Him: lewattt
2:14:50 AM Him: dhe, lu yg transkrip deh ini jadi postingan
2:15:15 AM Me: done

… dan kami menambah berat timbangan sebelah kiri. berat sekali.

Labels:

Pada Dua Puluh Menit Terakhir

Posted by The Bitch on 9/19/2009 09:20:00 PM

... yang sekarang beranjak sembilan belas: Indikator daya yang tersisa di baterai Pektay, menggeletak di meja pada sebuah kafe.

Malam melarut. Takbiran dengan bingar suara latar berirama lebih dari 200 beat per minute telah lama punah, terpadamkan oleh protes saya yang menginginkan lengang di malam 1 Syawal (yang saya rasa sama sepi dan kering di hati).

Kursi-kursi diangkat, membuat kafe ini bertambah luas. Namun kami, saya dan seorang lelaki yang duduk di sebelah saya, berwajah tirus seperti mengemban beban pada sepasang pundak kurus, masih terpaku di sini, di hadapan pendar layar tigabelas inci, meluapkan gelisah dalam diam. Hanya bunyi ketukan tuts keyboard dan hembusan asap tipis dari hidung dan mulut kami, mengambang ke atas untuk kemudian lenyap.

Dan beberapa pengunjung berdiri dari meja, menggeser bangku, mengangkat pantat, tertawa, bersalaman, berpelukan, mengucap selamat, dan berpisah di halaman parkir. Beberapa pelayan menatap gelisah pada kami yang masih menunduk, bahkan enggan untuk menoleh. Botol-botol teh dan milkshake setengah isi terlantar, mengembun, terlupakan.

Kosong. Sunyi.

Well, selamat Idul Fitri. Damai di hati, damai di bumi.

(... dan masih bersisa lima belas menit di pojok kanan atas. Ibu, saya pulang)

Labels:

Tentang Kendali

Posted by The Bitch on 9/11/2009 08:47:00 PM

Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Puasa-puasa begini biasanya makanan di rumah tidak banyak berubah. Hanya es buah atau kolak yang biasanya tidak pernah absen setiap hari. 

Ibu saya menyukai Ramadhan. Asalkan harga-harga tidak melambung tinggi. Baginya, memasak untuk makanan sahur dan buka itu lumayan irit dari segi waktu dan material. Dan ibu masih saja bertanya-tanya sampai sekarang mengapa bisa semua harga bahan makanan naik gila-gilaan dalam sebulan untuk para keluarga yang 'cuma makan segitu'.

Seingat saya, saya mulai puasa penuh sejak kelas tiga SD. 'Penuh' menurut ukuran ibu saya, turut sahur dan berbuka pada waktunya, nggak makan dan minum diantaranya. Padahal, andai beliau tau, pasti saya nggak dianggap puasa. Saya kerap 'nithili' tempe goreng di dalam lemari, siang-siang sepulang sekolah karena nggak tahan. Bukan karena lapar (seingat saya, saya nggak pernah merasa lapar), tapi karena pengen.       

Ketika saya besar, saya lebih bisa paham tentang puasa yang tidak hanya tahan tanpa makan dan minum. Mulut saya berhenti bicara sembarangan, saya lebih pendiam, dan tidak berasap. Mungkin karena tidak bisa ngopi dan merokok. Dua hal itu sebenarnya yang menjadi motor saya. 

Ibu guru agama saya dulu pernah bilang bahwa puasa itu sebenarnya adalah berperang dengan diri sendiri, melawan keinginan yang dilarang seharian. Dulunya saya nggak ngerti dengan omongan perempuan bulat menyenangkan dan terbungkus kerudung di hadapan saya itu. Setelah saya besar, saya baru mengerti artinya. Meskipun sedikit.

Ini tentang pengendalian diri, sama seperti yang diiklankan salah satu ustad di televisi duluuu sekali.

Terlepas dari puasa, kadang saya sendiri sering lupa dan tidak terkendali. Dorongan untuk melakukan sesuatu terasa amat sangat hebatnya hingga saya seperti HARUS melakukannya. Sama seperti ketika saya mencium kening Caca di depan abang saya. Saya tidak sadar bahwa perbuatan saya membuatnya iri, karena selama dua tahun Caca menjadi putrinya, dia tidak pernah sekali pun melakukannya. Baginya, mencium anjing adalah melanggar batasan antara manusia dan binatang. Padahal dia ingin sekali membawa mereka tidur di ranjang yang sama. 

Dan saya tidak habis pikir mengapa banyak sekali orang berbondong-bondong menyerbu mall hanya untuk membeli pakaian dan mukena yang akan dikenakan saat Lebaran. Perayaan kemenangan yang cuma dua hari itu seperti tanpa rem. Semua hal yang dilarang sebulan penuh akan diumbar gila-gilaan. Opor, rendang, kue-kue kering, minuman ringan berkrat-krat. Semua membuncah, terhidang di meja makan, di dapur, di ruang tamu. Belum lagi parsel yang dikirimkan ke kolega bisnis.

Ada yang membuat miris setiap Ramadhan. Beberapa rumah dari kos saya ada tiga kamar kebobolan. Selalu begitu sebulang sebelum Lebaran. Para maling itu perlu uang untuk merayakan kemenangan. Dan saya makin malas menonton televisi, menghindari berita tentang korban yang terinjak berebut uang zakat atau sedekah.   

Kalau sudah begini, apanya yang terkendali?  

Gambar diambil dari koleksi wallpaper unduhan yang tersimpan dalam harddisk Pektay.

Labels:

The Aging Part

Posted by The Bitch on 9/09/2009 11:15:00 PM

"Gue kangen brondong, Pit," keluhnya di jendela chatting suatu malam. Saya tau, yang dimaksud pasti lelaki muda yang fotonya dia kirimkan ke email saya. Beberapa bulan yang lalu memang dia sempat cerita ada 'brondong' yang sedang 'dilekatinya' dan ia kenal di Facebook.

"Ya udah. Telpon sana. Atau SMS. Jangan kayak orang susah gitu lah," jawab saya sekenanya.

Ada jeda lumayan lama sebelum akhirnya dia melanjutkan.

"Nggak bener nih. Dia masih SMS dan masih nelpon setelah ketemu gue. Nadanya juga masih mesra. Padahal umur gue udah 35. Menurut lo dia suka nggak ama gue?"

Saya hampir terjengkang dari kursi karena pertanyaannya lucu sekali bagi saya.

"Are you that blind?! Geez!"

"Ya... Gimana dong? Gue janda beranak empat, perut bergelambir, paha berselulit. Mosok dia masih bilang gue imut?"

Well, untuk urusan penamaan sebenarnya saya agak pilih-pilih. Buat saya, anjing gede bertampang sangar dan berbulu hitam gondrong bisa jadi imut jika sepasang matanya polos kekanakan. Namun perempuan tiga puluh lima tahun yang membesarkan empat anak pintar-lucu-sehat, lebih suka menghabiskan waktu membongkar ensiklopedia dan mengajari si sulung ngoprek komputer adalah... fantastis.

Saya nggak tau dari mana diksi 'imut' itu dia dapat. Mungkin dari perawakannya yang sama kuntet dengan saya (dengan daging jauuuh lebih sedikit, tentunya). Mungkin dari wajahnya yang tidak pernah lelah tersenyum. Mungkin dari caranya memperlakukan teman dengan penuh kasih. Atau mungkin she's just simply irresistible buat para lawan jenis.

"Itu masalahnya, bukan masalah lo. Lagian, apa lo tunjukin bekas operasi Caesar di perut bergelambir lo ke dia? Apa lo plorotin celana lo buat pamer selulit ke dia? Nggak kan? Lo cuma tinggal sit back and enjoy the ride. Hak dia untuk menuduh elu sesuai dengan persepsinya. Elu nyusahin diri sendiri aja."

"Tapi dia lebih muda dari gue sebelas taun, Pit! Se. Be. Las. How's that sound?"

Saya garuk-garuk kepala beneran.

"Terus kenapa? Dia suka, elu suka. Masalahnya ada dimana? " tanya saya.

"FYI: I'm aging, Pit. And an aging lady with three failed marriages somehow needs assurance for her future. She needs someone to share cups of tea in rainy afternoon on the porch. She needs strong shoulders to lean on when the going gets tough. She needs a pair of steel ears to listen to her nags. In short, she needs something solid underneath her feet."

"And this lady also needs a juicy, satisfyingly big and experienced dick to go with all of those, eh?" balas saya, mengetik sambil tertawa. Beberapa orang yang kebetulan satu meja dengan saya di angkringan malam itu sekilas menoleh, ingin tau.

"Dammit! Of course!"

Saya tertawa makin kencang.

Masalah penuaan ini memang seperti monster hidra berkepala tujuh bagi para mahluk bervagina. Ketakutan akan keriput yang nongol terlalu pagi, gurat cakar burung muncul di sudut mata dan kekenyalan wajah melenyap membuat perusahaan kosmetik berbondong-bondong membuat krim ajaib yang dapat memanipulasi waktu. Mereka janji dan mampu menghilangkan semuanya secara dramatis, katanya. Namun ada satu hal yang mereka--perusahaan kosmetik dan para perempuan itu--lupa: attitude. Somehow, semua krim di seluruh dunia tidak akan bisa menguapkan kebijaksanaan dan berbagai pelajaran yang didapat seiring dengan berdetaknya detik beralur maju.

Dan usia hanya deret angka yang tersusun dalam satuan ciptaan manusia karena mereka nyaman mengetahui segala sesuatu menggunakan ukuran. Dalam kasus ini, usia adalah benda usang yang patut dibuang ke tong sampah.

"Well, gue nggak bisa ngomong apa-apa sih. Have never been in your shoes before. Tapi gini aja, deh. Kalo pun lo nggak sreg ama dia karena umur, ya... dibikin asik aja kenapa? Setidaknya kalo ntar ada 'orang khilaf' yang mau jalan bareng elu beneran, lo ada selingan buat nunggu sampe masa itu dateng."

"Pit... Somehow gue heran gimana orang dengan pikiran seruwet elu bisa punya solusi yang amat sangat sederhana kayak gitu," jawabnya.

"Lha? Kenapa mesti dibikin ruwet kalo emang aslinya simpel?"

"Udah ah. Gue mau tidur. Makasih ya, Beib."

"Sama-sama, Ma. Sweet dream."

Yah... Usia. Lagi-lagi memang tidak bisa menipu.

Labels:

Re: Post

Posted by The Bitch on 9/08/2009 07:35:00 PM

Ada bekas-bekas gerimis dengan titik air bergayut malu di ujung-ujung daun Angsana
Ada sejuk udara malam berembun mengiringi pergantian tanggal
Ada hangat tawa sahabat di tengah kopi kental dan hot ginger bersusu

Aku berontak ketika kau hentak tanganku untuk turut, menepis–tanpa hasil–lengan yang kau lingkarkan di bahuku dan setengah menyeretku pulang

Namun mengapa waktu berhenti, gerak otot melumpuh, mata terpejam, mulut membungkam dan lidah kelu ketika kurasa sepersekian detik panas bibirmu pada bibirku, turun menjalar selalu kian kemari ke perut, menggemuruhkan dada dan membuat isi kepala berputar pasca bungee di Jembatan Bloukrans?

Dan mengapa semua warna jadi kontras luar biasa padahal malam redup, bulan sembunyi, bintang lelap, dan lampu merkuri pun malas-malasan seperti Kuntilanak pulas di bawah selimut tebal?

Bumi basah. Aku juga.

Repost dari entri bertanggal 18 November 2008. Just a simple remembrance.

Labels:

Tentang Patah Hati

Posted by The Bitch on 9/05/2009 06:51:00 AM

Saya lupa berapa kali saya kena sial seperti judul entri ini. Banyak hal penyebabnya. Cowok, pekerjaan, sekolah, keinginan tak tercapai. Sebut saja. Saya sudah pernah semuanya. Tapi toh dunia nggak berhenti berputar karena hati saya patah, kan? 

Sebuah studi yang entah dimana, entah siapa penggagasnya dan entah siapa penelitinya (blame my limited memory, don't blame those angelic scientists) pernah berkata bahwa orang dengan tinggi diatas rata-rata, berkulit lebih terang dan secara fisik enak dilihat akan selalu mendapatkan semua hal lebih mudah ketimbang orang yang tingginya standar cenderung kuntet, berkulit sawo busuk, dan AGAK sepet di mata. Sebagai salah satu mahluk tuhan dengan karakteristik terakhir saya sadar betul hal ini. Namun satu hal yang (mungkin) dilupakan para peneliti tersebut adalah daya juang para mahluk sepet yang tidak standar.

Saya juga tau cowok-cowok akan melirik ke teman-teman perempuan saya yang lebih kurus dan lebih bening. Itu wajar. Preferensi. Makanya saya males gaul dengan sesama perempuan dan lebih sering nongkrong bareng para lelaki. Namun sesering dan sedekat apapun saya akrab dengan mahluk berpenis dan berkaki dua, toh nggak punya-punya pacar juga. Ini bukan curcol! Harap diingat. Saya hanya menjaga kemurnian pertemanan dengan tidak menyeret mereka untuk check in di hotel transit murah setempat atau menodainya dengan kata-kata seperti "kita kan pacaran, kenapa kamu nggak mau anter aku beli gado-gado?" Maaf, saya tidak sepicik itu.

Teman saya terkuple-kuple mengenang bagaimana aroma tubuh perempuannya dulu, yang pelukannya menyembuhkan semua luka hati, wajahnya meredamkan amarah dan suaranya membuat seluruh dunia serasa bernyanyi. Iya. Sepertinya dia lebay. Tapi sudah lah. Untuk manusia sepet seperti dia, mendapatkan seseorang yang khilaf dan mau dibohongi, dielus-elus, dicium-cium dan ditiduri mungkin akan sangat teramat susah. Makanya patah hati yang dia derita mungkin akan sangat lama. Sudah hampir setengah tahun pun, meski kadang terlupakan, perasaan kehilangan itu kadang mengemuka. Seperti mendadak ditabok preman Ambon gede lagi mabok, padahal kita lagi sumpek nunggu bis di terminal Senen. Maaf. Saya nggak bermaksud rasis. Ini murni asosiatif. Kebetulan preman serem yang saya liat bertampang Ambon. Ada yang lebih serem dari preman Ambon, dan dia bertampang India-Arab. Sayangnya dia teman saya, bukan preman, dan tidak suka menabok. Jadi, dia tidak masuk dalam hitungan. 

Namun ada juga teman saya yang bermodal diehard. Mau berapa kali pun dia diputusin pacar, ditolak perempuan, atau bahkan diusir sebelum nembak, dia selalu berpikiran positif bakal dapet lagi. Padahal semua perempuan itu nggak asal bening, baik dan menyenangkan. Dia harus tau apakah debar-debar di dada setiap salah satu perempuan incarannya lewat itu pertanda sebelah sayap yang akan menemukan pasangan sayapnya untuk terbang tinggi atau dia hanya deg-degan takut ditagih utang. Dia juga banyak melakukan riset dan pendekatan. Mungkin sama seperti merak jantan memamerkan bulu ekornya pada merak betina. Untuk cowok dengan tampang ngepas seperti dia, saya nggak tau dia kelewat optimis atau kebangetan ngarep. Kadang perbedaan kedua hal itu hanya setipis jembut dibagi seribu, lebih tipis dibanding jembatan Sirathal Mustaqim (konon). Tapi saya suka gayanya. "Kalo yang ini nggak dapet, ya gue cari inceran baru lagi. Jangan dibikin susah, lah!" ujarnya.

Buat dia, siapapun yang pernah datang dan kemudian pergi berarti memang bukan untuknya. Tidak ada nada sendu disana. Saya hanya menangkap suara riang ketika ia bercerita tentang pacarnya yang selalu tidur tiap diajak nonton, atau salah satu perempuan incaran yang ia suka karena selalu berparfum kayu putih dan bedak bayi. 

"Buat gue, ini cuma gimana lo ngelepas tu cewek buat nyari perbandingan. Kalo suatu hari dia dapet cowok brengsek, setidaknya dia tau dulu ada cowok baik yang pernah macarin dia." Hanya itu kesimpulannya. Sederhana sekali.

Ketika saya bertanya apa yang membuatnya dapat berbesar hati seperti itu, ternyata dia terinspirasi lagu yang enak di kuping dan gampang diingat. Dan setelah bertahun-tahun lagu itu terus membuatnya semangat untuk tidak jatuh terlalu lama dalam kubangan dekil berjuluk patah hati. 

Saya tidak berharap siapapun yang membaca entri ini sedang dalam keadaan sial dan mengalami hati yang patah. Jika iya, mungkin sedikit penguatan dari lirik lagu ini akan membuat si hati sembuh. Enjoy! (=


Labels:

Redefining Life

Posted by The Bitch on 9/04/2009 03:13:00 AM

“You name any relationships imaginable (and unimaginable), state your attachments, simplify everything, and you get yourself a baggage—be it small, big, or gargantuan. It’s only a matter of how to press the baggage into an itsy-bitsy, tiny-winy little package that will put a smile on your face, every step of the way. The smaller the package, the wider the smile. Thus, make one hell of a good show, Pit. Let God watch you in silence while the Angels stroking His dick fiercely.”

— an email that I read at two o’clock in the morning that successfully made me laugh to my heart’s content and waking mbak-mbak next door to have their very early sahur.


Thanks, dear friend. You are proved and tested to be a guru long before I knew you personally. You have my highest gratitude…

Errr... performing before God and seeing the Angels do the handjob?! Ergh! Think of something greater, Baldy-Perv! I know you could do better than wanking your weenie when the earthquake hit you.

Image is taken from here.

Labels: