"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

The Art of Losing

Posted by The Bitch on 8/20/2009 05:55:00 AM

Dulu saya pernah mentertawakan teman yang muntah-muntah sehabis melihat pacarnya meggandeng lelaki lain. Saya kira tubuh saya tak akan bisa 'dihajar' kehilangan semacam itu. Ternyata saya salah.

Kabar yang saya dapatkan sedari sore telah membuat isi kepala saya bertubrukan dan pandangan berkunang-kunang. Bukan, ini bukan tentang pacar saya yang tidur dengan perempuan lain. Toh semua orang tau saya jomblo sejati (and proud to be one). It's more than just stupid thing like that: I'm about to lose something.

Sudah berjam-jam saya mencoba mengurai sedih dan marah, namun baru kali ini saya totally lost for words. Bahkan untuk berteriak pun saya tak mampu. Bicara pun saya tidak bisa. Dan saya mual sedari tadi.

Jadi... Seperti ini ya rasanya?

ps: no question, please...

Labels:

Tentang Perbedaan

Posted by The Bitch on 8/17/2009 02:26:00 AM

Ia punya darah campuran Jepang-Belanda-Betawi. Meskipun cheesecake dan coklat adalah cemilan utama, ia amat suka kambing bakar madu dan lontong sayur, juga tumis paria. Karena suaminya warga negara Australia namun mukim lama di Perancis, lidahnya fasih melafalkan kalimat-kalimat dalam bahasa negeri Eifel.

Singapura sempat jadi tempat ia ‘melarikan diri’ selama hampir setengah tahun karena muak dengan kenangan pahit di Jakarta. Paris juga pernah ia tinggali beberapa bulan. Dan ia akan tandangi Groningen minimal dua tahun sekali, untuk pengobatan.

Ia leukemia.

Kemarin, saat pendingin ruangan di pabrik mampus dan Jakarta berada pada titik panas tertinggi, ia mimisan berkali-kali. Padahal baru kemarin lusa ia transfusi. Dokternya bilang, ia harus ‘disimpan’ dalam suhu dingin. Udara gerah semacam ini membuat aliran darah tersendat dan kepalanya sakit luar biasa. Ia bercerita pada saya sambil setengah tengadah, menahan darah yang sebentar lagi leleh dari sepasang cuping hidung putih bangir pada wajah sebersih sakura.

Suaminya menyerah membujuknya tinggal di negeri Singa atau kembali ke Perancis demi kesehatannya. Seleranya yang tropis dan kondisi tubuh yang mengharuskan ia berada di negara empat musim tidak seiring sejalan. Padahal uang tidak jadi masalah buat mereka. Liburan ke Maldives, Thailand, Filipina atau Bali seminggu sekali mereka mampu. Namun ia kukuh tinggal di kota tempat dia lahir. Alasannya? Ia tidak suka dengan kecongkakan orang-orang Eropa dan tata krama kaku mereka.

Lalu terdengar ledakan bom di Kuningan, untuk kedua kali. Sang suami luput dari celaka, karena pertemuan dengan rekan bisnis diadakan sehari sebelumnya. Lalu orang-orang berbondong-bondong dan teriak mereka tidak takut. Lalu kaos dibagikan dan spanduk dijembreng di pusat-pusat perbelanjaan mewah.

Ia sempat membaca kekhawatiran saya, namun apa yang ia katakan membuat saya tambah deg-degan. Sebegitu cinta ia pada Indonesia? Tidak juga. Menurutnya, meninggalkan negeri ini sama saja dengan membunuh tubuhnya perlahan.

Kemudian sepupu sekaligus donor tetapnya mengalami kecelakaan. Mobil yang dikendarai terjungkir di pintu tol Bandung. Untuk beberapa bulan ke depan, darah tak bisa berpindah buluh. Donornya yang lain tinggal di negeri Kanguru. Namun ia masih kukuh untuk tetap tinggal.

Pesimislah sesuka kalian. Ya, dia kaya. Karena itu dia punya pilihan. Ya, dia cantik. Karenanya bisa menggaet suami bule. Ya, dia kekanakan. Dan itu yang membuat semua orang jatuh sayang. Namun saya membuktikan sikapnya yang lugas selama saya mengenalnya. Apapun yang terjadi, dia lebih setia tinggal disini meski kadang dia sendiri sebal.

Sering ia mengeluh mengapa setiap mereka berlibur ke pulau dewata para pelayan toko masih menganggapnya lebih rendah daripada suami yang bermata biru. Sering ia meradang mengapa ibu-ibu pribumi yang duduk menyebelah di ruang tunggu bandara begitu ingin tau ketika ia menangis melepas suaminya bertugas. Sering ia menghela napas berat mengapa begitu sulit tinggal di negara yang ia cinta setengah mati.

Ia punya jiwa merdeka. Ia tentukan pilihan berdasarkan kasih terhadap tempat, terhadap budaya, terhadap manusia-manusia. Mungkin ia tidak sadar. Tapi, bagi saya, apa yang ia tetapkan merupakan perjuangan anak-anak produk pasca perang kemerdekaan, dimana negara tenang-aman-sentosa. Meskipun ia berbahasa campur baur antara Inggris-Indonesia-Perancis dan lebih memilih nongkrong di Starbuck ketimbang warung kopi pinggir jalan. Meskipun ia berbelanja di mall ketimbang pasar tradisional. Meskipun ia membeli Zara dan Cosmopolitan ketimbang Batik Danar Hadi atau Femina. Baginya, nasionalisme tidak harus digegapgempitakan. Ia takzim mengamini merah putih.

Tidak sekali pun dari bibirnya terlontar cacian tentang Indonesia dan orang-orangnya. Walau sempat darah yang dia perlukan tertahan di PMI dan sering dipersulit di kedutaan karena punya visa berjangka tiga tahun. Ia terlalu santun untuk memaki.

Kerap matanya berkaca-kaca ketika membaca berita di internet tentang anak-anak yang tidak berumah atau korban bencana yang mengungsi di bedeng-bedeng. Tidak sekalipun kritik terlontar. Yang sempat saya dengar hanya doa agar mereka semua diberi kesehatan dan tidak sakit-sakitan. Semoga mereka diberi ketabahan. Semoga tuhan mendengar dan memberi apa yang mereka perlukan.

Ada lagi seseorang yang baru saya kenal sebulan. Saya memanggilnya Tante Em karena ketegasannya mengingatkan saya pada karakter M di film 007. Ia tinggal di Jepang, mengajari Bahasa Indonesia pada Riku dan Kai meski bersuamikan Om Gen nan sipit. Tante Em juga membiasakan Kai memanggil Kakak pada Riku.

Liburan musim panas tahun ini mereka pulang ke Jakarta dan banyak dihabiskan di museum dan kebun binatang, juga wisata kuliner agar kedua putra setengah Jepang itu turut merasakan budaya sang mama. Ada keharuan menghangat dalam rongga dada ketika ia mendengar ‘Indonesia Raya’ berkumandang, dimanapun. Dan itu tidak bisa ditahan-tahan.

Ia pernah berkata bahwa semua sahabatnya ada di Indonesia, meskipun hanya mengenal mereka lewat blog. Termasuk saya. Liburan baginya adalah surga yang harus ia syukuri, saat dimana ia dapat mendengar bahasa ibu dipercakapkan. Ia akan rindukan liburan dan kembali lagi tahun depan.

Mungkin terlalu muluk membahasakan mereka sebagai nasionalis. Namun satu hal yang mereka dan saya sama-sama rasakan: ini soal akar, tempat tinggal nenek moyang dan orang-orang terkasih serta tempat cinta disemai. Kemanapun kami pergi, kami tidak bisa menanggalkan Indonesia dari darah dan tulang kami. Negara ini adalah tempat kami pulang. Di atas tanah ini kami dibesarkan.

Sebutlah apapun sesuka kalian. Makilah pemerintahnya. Satu hal yang kami tau: kami cinta negara ini.

Sudah 64 tahun. Merdekakan dirimu, Indonesia!

ps: gambar dicomot semena-mena dari sini.

Labels:

About Redemption

Posted by The Bitch on 8/16/2009 04:19:00 AM



Lisannya bercerita tentang kehilangan nan kelam, selepas tengah malam. Sepasang matanya menyiratkan sakit meski tubuhnya bersandar santai pada kursi. Saya hanya diam dan merespon dengan ucapan konyol agar sesak yang juga saya rasa tak mengemuka.

"Tidak ada satu hari pun berlalu tanpa aku dapat melupakan perasaan bersalah karena kehilangan ini. Tidak sehari pun," ujarnya sambil menerawang.

"Jika tidak karenaku, maka dia masih akan berlarian, masih menemani mereka yang dia kasihi, akan menyambutku setiap aku pulang..."

"Everything happens for a reason, Mas," ujar saya. Mendadak, televisi yang menyala di hadapan kami menjadi sangat menarik buatku meskipun hanya menampilkan berita basi tentang bom dan teroris yang tersudut di kamar mandi.

"I know. It's just..."

Selanjutnya ada pembelaan, ada kesadaran, ada ketakberdayaan, lalu diam. Di penghujung kalimat terbata, dia ungkapkan kenyataan.

"For all I've done in the past, it's all coming back to me now. Damn."

Kata-kata menggantung di udara dan kami beralasan untuk menghindari percakapan. Saya tau lukanya masih segar. Dan saya kaget karena dia membicarakannya dengan saya.

Ingin rasanya mengguncang tubuhnya dan berteriak bahwa dia orang baik, apapun yang pernah dilakukannya dahulu. Meskipun kadang bejat sesekali, kesalahan tidak terletak padanya penuh seluruh. Saya hanya lihat kepeduliannya terhadap orang lain, empati pada mereka yang kesusahan, kemauan untuk berubah, dan kekukuhan terhadap apa yang dia pilih. Itu saja.

Namun rasa bersalah pada apa yang pernah dia lakukan menghantuinya tiap hari, tiap detik. Dan apapun yang ia lakukan, apapun yang orang lain katakan, tak akan mampu menebusnya.

Rasanya saya lupa dimana saya pernah meninggalkan rasa bersalah dari kepala saya. Mungkin saya memang tidak pernah merasa bersalah karena sifat egois saya yang jumawa atas pilihan sendiri. Meski kadang tersandung dan harus jatuh berkali-kali.

Saya tidak pernah berpikir tentang penebusan, namun saya tau saya salah. Dan saya juga sulit meminta dan memberi maaf, karena maaf yang saya ucapkan berjuta kali tidak akan membuat semuanya jadi lebih baik kecuali jika saya berubah.

Yang saya ingat, saya sudah lama tidak pulang.

Labels:

A Kind of Prayer

Posted by The Bitch on 8/12/2009 10:50:00 PM



Sayang,

Kukirimkan sebarisan malaikat untuk menjagamu ketika malam sunyat hingga pagi meriuh menggemeretakkan geligi hidup. Ketika surya menyembul seperempat di cakrawala, jangan kau usir pagi yang mengusung aroma kopi bercampur tahi dari kandang ayam belakang rumah, menggebrah kelopak yang lekat dengan mimpi akan tahta, harta dan wanita.

Selamat malam. Selamat tidur.

Picture is taken from 2001 Pulitzer winner, about an Afghani refugee kid's body being prepared for the funeral in Pakistan. 

Labels:

Tentang Sendirian

Posted by The Bitch on 8/12/2009 05:34:00 AM

Pukul empat kurang satu dan ada Stone Temple Pilots meneriakkan ‘Down’ dari kamar depan tempat saya menginap beberapa hari ini. Sendiri.

Saya tidak merutuk pada mata yang masih terang menatap layar mesin ketik, tidak menggugat pegal akibat ngepel pukul dua pagi mencari lelah, tidak khawatir jam berapa ‘keponakan’ saya—Sasa, si halfbreed Herder dan Rottweiler—pulang nanti. Saya hanya heran atas kemampuan saya untuk sendirian dan menikmatinya.

Beberapa hari kemarin saya mendapati seorang ibu muda dengan dua anak merasa sepi meskipun dunia ada di sekelilingnya. Sebelumnya ada satu jiwa yang merasa tidak pernah tercukupi dan selalu sendiri meskipun semua hal dia punya. Ada juga yang mengaku berselingkuh dari satu perempuan ke perempuan lain karena merasa terasing dari sang pasangan jiwa. Dan, yang menurut saya paling konyol, ada yang merasa kesepian jika dirinya tanpa pacar.

Saya tidak tahu bagaimana merasa sendirian walau dua harta paling berharga dan seorang pasangan jiwa selalu turut kemana kaki melangkah menetapkan hati. Saya belum—dan berencana tidak—menikah dan berkeluarga. Namun saya sadar beberapa hari ini saya juga tidak sendiri-sendiri amat. Ada banyak teman di jejaring maya yang bisa saya akses lewat ponsel kacangan. Mereka selalu menjawab panggilan saya, berbalas status dan komentar di halaman Facebook. Ada lima penjaga di depan dan belakang rumah—dua kucing dan tiga anjing—yang kadang mengeong dan menggonggong, seperti menunjukkan bahwa saya tidak sendiri. ada setumpuk film dan tiga buku yang saya bawa. Ada ribuan lagu pada hard disk MP3 saya. Ada file komik dan beberapa file PDF ebook yang berhasil saya codot. Saya tidak punya alasan untuk kesepian.

Lalu mengapa masih ada beberapa orang merasakan hal itu meski mereka punya lebih banyak perangkat hiburan ketimbang saya? Jujur, saya tidak punya jawabannya. Mungkin ini adalah kengeyelan saya dalam tingkat tertinggi, dimana saya menolak merasa kesepian meskipun saya sendirian. Meskipun saya sering mengaku antisosial, saya tidak menolak siapapun untuk menyapa. Karena itu saya punya akun Facebook. Jika saya anti manusia, saya tidak akan tersenyum dan menjawab pertanyaan tentang siapa nama Siberian Hushkey yang saya ajak jalan-jalan lepas tengah malam—meskipun saya pikir itu adalah waktu terbaik karena manusia normal biasanya sudah lelap entah bermimpi apa.

Mungkin saya bisa sombong karena kebutuhan saya akan orang lain (kelihatannya) tidak begitu besar. Namun saya tau, akan selalu ada sepasang tangan merengkuh ketika saya jatuh—tangan siapapun. Saya percaya besok masih akan ada beberapa teman yang datang pada saya mengajak saling bertukar cerita. Masih ada keluarga yang selalu riang merangkul ketika saya kebetulan punya pikiran pulang. Masih ada adik yang selalu ngomel karena tidak saya ajak nonton. Masih banyak orang-orang senasib dengan saya sebagai underpaid-overworker dan selalu kas bon ke kasir pabrik. Masih ada teman yang mentraktir makan siang meskipun saya belum ingin makan.

Masih ada orang yang peduli pada saya dan saya pedulikan. Mungkin itu jawabannya.     

Selamat pagi. Waktunya tidur (=

Oh… Semoga hari ini kamu tidak kesepian.

  

Labels:

BHI English Club: Week 8

Posted by The Bitch on 8/09/2009 12:32:00 AM

Thanks to Paman Tyo's post, and after some 'serious' conversations with those ol'-yet-funky guys in W3 a night before, The Bitch Teacher had a 'normal' material for her class tonight. Though there were only Mas Hedi and Tante Ai presented, still they had fun.

Tonight's subject was I've got to comprehend, taken from the lyric of Simply Red's song, Star, that The Bitch teacher suddenly remembered. The class had four stories that they had to retell with their own words. All of the stories are taken from an old copy of Reader's Digest Asia, February 1984 edition given by a charming person who tend an old, shrewd, gloomy, stuffed secondhand book stall next to Blok M bus station where The Bitch Teacher frequently spend her times reading without buying anything.

And here they are:

Made of Irony
Helene Hanff, author of 84, Charring Cross Road, first went to New York City nearly 40 years ago after winning a playwriting contest. She wrote about the result of that contest:

The Theatre Guild knocked its brain out training 12 of us to be playwrights because the year before we won our contest, two other contest winners had been given their fellowship money and went wandering off on their own. The Theatre Guild knew this was very bad because playwrights didn’t need money as much they needed training, so they held seminars for us and went to all the plays on Broadway and we took lessons in how to produce, write, act, and direct. And when the year was up, everybody agreed it was a great success—except that not one of us ever became a Broadway playwright.

The two writers who had been given the money and went wandering off on their own with no training were Tennessee Williams and Arthur Miller.
— Underfoot in Show Business (Little, Brown)

Birth Daze
While in the hospital after having our first child, I kept the baby in the room with me so my husband could hold, feed, and play with her when he came to visit. One day, while he was changing the baby’s diaper, a nurse came in to make the bed. “Well, Daddy,” she asked, “is this your first?”
“No, my second,” my husband answered.
“What do you mean this is your second?” I asked heatedly. “We don’t have any other children!”
“Oh!” he replied, rather embarrassed. This is the second time I’ve changed the baby’s diaper.”

Note from Mom
Daughter of the universe,
Child of the atom age,
Goddess of Sagittarius,
Dancer of the stage,
Daffodil or buttercup,
Chaser of a dream,
May I ask one thing of you,
Before I have to scream?
Gymnast, jumper, acrobat,
Gazer of the moon,
Would you mind so terribly
To PLEASE clean up your room?
—Charlene F. Williams in Toledo Blade

Overcured?
Barney had a terrible problem with dandruff. He had tried all the remedies but nothing seemed to work. Finally, in an all-out effort to cure his condition, he consulted four different barbers in a single day.

The first barber treated Barney’s scalp with a green tonic. The second barber used red lotion, the third barber a blue cream, and, at the last shop, the remedy was bright purple. Three days later Barney told a friend that his dandruff had disappeared.

“Terrific!” was the reply. “I’ll bet you’re really happy.”
“I’m not so sure,” said Barney. “Now I’m bothered with the confetti.”
—Bill Lawson, quoted by Alex Thien in Milwaukee Sentinel

As the closing, the class had to watch a footage taken from Youtube to learn about the word that had made a tagline in this bloody shitty page. Wanna take a peek? Here it is:




It was one of the quietest and most normal class they had. The Bitch Teacher could not have one of those no more or she would gone mental, for sure.

Have one hell of a weekend, Peeps! They said they shot the terrorist, yet, nothing to worry about but your happy asses. Haha!

Labels:

A Sort of Prayer

Posted by The Bitch on 8/04/2009 03:58:00 AM

Surya tenggelam. Semesta terhimpit malam. Seseorang menyapa dalam kalam pada lengas kubikel suram. Dia, yang darinya terang didapat melampaui kelam, darinya ucapan selalu berakhir dengan acuh salam, darinya sepotong nasihat berbalut senyum membuat resah jiwa padam. Dia bilang: muram.

Katanya ada dusta menghunjam. Ada kalimah surga namun merajam. Ada kata berlekuk terjal jeram. Ada tanya terjawab bungkam. Ada rindu berbalas dendam!

Wahai, Sang Kala. Mengapa tak lekas tersudahi pulihnya sebuah hati dari halimun zaman? Ia tahan benaknya untuk menyimpan hanya satu resam. Bagaimana kau berpaling dari dia yang telah tuntas membayar dengan cahaya untuk semua yang dulu ia lakukan dalam kelam?

Sejenak, jantungnya menghitam. Ia, manusia biasa, bukan Brahmana atau Begawan. Namun ia ingin belajar bagaimana ikhlas dapat ia paham. Meskipun dia punya ego setinggi gemawan. Dan sungguh, ia belajar luruh, belajar turut, belajar lebur, menari dalam hujan teriring irama waktu walau kadang tertatih ngilu, belajar menyamarkan lebam dalam gelegar tawa yang diam.

Aku tak ingin menggugat, Han. Namun namaMu terbetik dalam gurat alis tertaut, tersirat melalui solilokui gumam. Aku yakin Kau tau bahwa dia punya luka yang telah teramat perih terkucur cuka masam. Dan kita bicara tentang hati, Han. Bukankah Kau Maha Pengampun? Tidakkah dia telah selesai melaksanakan penebusan? Akankah Kau biarkan dia tanggung pembelajaran perjalanan sendirian?

Ah, aku memang patut mendapat tamparan. Sepertinya aku khilaf bahwa Kau Sang Maha Maqam. Tak layak aku menempatkanMu dalam sudut temaram jika ia pun meninggikanMu di atas binar gemintang. Tak pantas aku mengerkah jalan jika Kau telah buatkan jembatan.

Maka jadikanlah, Han. Jadikan seluruh kuasaMu atas langit, atas bumi, atas manusia, atas seluruh alam. Pelihara semua laku dan perkataan kami agar Kau dapat sedikit tergambarkan. Namun berikan padanya yang terbaik yang pernah Kau nubuatkan. Lapangkan untuknya titian dan besarkan hatinya, Han. Karena dia selalu melakukannya untukku: sebagai insan yang berusaha jadi ihsan.

Han, selamat malam (=

Ps: Come what may, Dear God. Bring it on…

[semacam doa dalam hard disk dan sempat terlupakan]

Labels:

English Club: Week 7

Posted by The Bitch on 8/03/2009 10:02:00 PM

As usual, it was Saturday night and The Bitch Teacher was trying to get serious to her fucked up class. There were still the same formation like last week, minus Tika because she had to go to Jogja. But they had a guess star: Mas Hedi. Yet, there were a lot of free riders in the class, so it was quite crowded as hell.

To show her seriousness, The Bitch Teacher had made some effort to sum up her screwed brain and squeeze one thing or two from it. And here they are:

PRONOUN: Which person is it?
The term PERSON in English means who a sentence is about or who is doing something in a sentence. Most of the time, we know this by which pronoun is used or could be used. FIRST PERSON is always yourself (the speaker); SECOND PERSON is the one or ones you are speaking to; THIRD PERSON is whom we are speaking about. " I (first person) asked you (second person) to invite him (third person) to the party."

PRONOUNS:







PRONOUN is a word that takes the place of a noun in a sentence when the noun has already been used earlier, when the speakers know who is being spoken about, or when people are speaking directly to each other. The following sentences will use Subject Pronouns, which are used as the subjects of sentences.

Example:
  • My name is Mrs. Smith. I am your new whore (Mrs. Smith = I).
  • Stand up, John. Will you please fuck her hard (John = you).
  • Mr. Smith is the new pimp. He pimps you and me (Mr. Smith = He).
  • Mrs. Roberts teaches Social Studies. She fucks for social reason (Mrs. Roberts = she).
  • Frank swings his dick. He swings it left and right (dick = it, Frank = he).
  • My boyfriend and I fucked all day. How we did not get tired (My boyfriend and I = we).
  • OK, Slaves. Bent down, butt high. Did you do your assignments? (Slaves = you)
  • Ten girls wore new see-through lingerie. They looked very sexy (girls = they).

The next group of sentences will demonstrate Object Pronouns which act as direct objects (receive the action), indirect objects (receive something), or as objects of a preposition ( TO, OF, FROM, BY, WITH, AFTER, etc.).

Example:
  • A dominatrix says to her slave, "Come to Mommy." Then she says, "Give me a hard fuck." (Mommy = me)
  • "Mary, here is the test result. It says you are positively pregnant." (Mary = you)
  • Martha sent Uncle Jim a love letter. Martha sent him her pubic hair, also (Uncle Jim = him).
  • Uncle Jim sent Martha a letter, too. Uncle Jim returned the pubic hair to her (Martha = her)
  • Pete screwed her hole. Pete filled it with his cum (hole = it)
  • There were free tickets for Larry, Moe and I. The coach sent the tickets to us. Larry, Moe and I = us
  • The boss said, "I need extra help from you this weekend to gangbang my mother, Mike and Joe." "I will pay you overtime for it." (Mike and Joe = you)
  • The pimp gave new uniforms to the whores. He gave new aprons to them, also (whores = them).

There are special forms of these pronouns to show ownership. They are called Possessive Pronouns. The form used with a noun is sometimes called a Possessive Adjective because it modifies, or gives information about, the noun: my, your, our, his, her, their.











Example:

  • That green dildo belongs to me. The dildo is mine. It is my green dildo.
  • Does that green dildo belong to you? Is that dildo yours? Is it your green dildo?
  • That crotchless brief belongs to him. Is that crotchless brief his? Is it his crotchless brief?
  • That old spiked condom belongs to Mrs. Potter. Is that old spiked condom hers? Is it her old spiked condom?
  • Those syphilis bacteria belong to the neighbor's cunt. Those bacteria are its. They are its bacteria.
  • The porn video belongs to Pamela and I. The porn video is ours. It is our porn video.
  • Do these MILF DVDs belong to all of the class? Are those MILF DVDs yours? Are they your MILF DVDs?
  • Does that fluffy bustier belong to the Boy Scouts? Is that fluffy bustier theirs? Is that their fluffy bustier?

Note:
• Possessive Pronouns come in two different forms: one form must be used with the noun it possesses - MY, YOUR, HIS, HER, ITS, OUR, THEIR. The other form takes the place of the noun and can stand on its own: MINE, YOURS, HIS, HERS, ITS, OURS, THEIRS. Two of these are the same in both cases - HIS and ITS.

That's all from last week. Hey, don't blame me if you despise the examples. I told you that The Bitch Teacher's brain is screwed, right?

Labels: