"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

For the Love of God, eh, Dog

Posted by The Bitch on 7/05/2009 02:40:00 AM

Ini Sasa. Halfbreed antara rottweiler dan herder. Umur dua tahun, betina, sudah divaksin komplit dan steril. Dia pintar menjaga rumah. Manis, penyayang, dan cerdik.

Diantara kumpulan anjing, dia adalah pemimpin (melihatnya saya percaya kalau perempuan bisa jadi presiden yang kompeten). Dulu, waktu masih tinggal di shelter untuk anjing-anjing terlantar, dia selalu berada paling depan. Selalu berinisiatif mencetuskan permainan. Namun dia mematuhi tuannya seperti seorang putri menurut pada ayahnya. Bandel sedikit, kadang-kadang. Layaknya gadis kecil yang selalu ingin tahu. Jika ayahnya sedang mengepel dan kebetulan dia berada dalam ruangan, dia akan lari dan naik ke kotak di sudut halaman depan. Entah karena tidak ingin mengganggu atau tidak suka kakinya basah.

Sasa selalu bisa menjaga diri. Dia akan keluar malam-malam jika ingin jalan-jalan. Tanpa harus didampingi, bila saatnya pulang, dia sudah akan berdiri di depan pagar. Lidahnya menjulur dan ekornya bergoyang seperti baling-baling helikopter, menunggu sang ayah membukakan pintu. Dan saya seperti mendengar kisah saya sendiri ketika saya kekuncian dan harus pulang pagi. Haha!

Yang di sebelah kanan itu Wawa. Halfbreed antara rottweiler dan chow chow. Umurnya juga dua tahun, jantan, dan steril. Sudah divaksinasi.

Wawa adalah pengikut setia Sasa. Mungkin karena dia jantan, darah rottweiler yang mengalir di nadinya lebih mendominasi. Itu yang menjadikan dia penjaga rumah yang baik. Wawa tidak gampang percaya pada orang baru. Dia akan menyelidik, menggonggong, dan mengawasi siapapun yang dia anggap asing. Kedua telinganya akan tegak dan dia langsung terbangun dalam posisi waspada ketika dia merasakan ada sesuatu atau bebunyian janggal.

Namun jika kamu sudah berada dalam lingkarannya, dia akan manja luarbiasa. Kebalikan dari Sasa yang mandiri, Wawa ini seperti cowok anak Papa (karena tuannya lelaki). Dia akan menggonggongi pintu ruang kerja yang tertutup pada jam-jam sang ayah merancang bangunan atau menggambar sesuatu. Dia harus selalu tahu bahwa ayahnya disana, dan akan tetap disana jika dia menoleh sesekali. Dia suka sekali memperhatikan sang ayah bekerja. Duduk diam tak menggonggong. Hanya melihat tanpa mengganggu.

Wawa adalah yang paling konyol diantara kedua anak 'abang' saya ini. Dia selalu tidur telungkup dengan dua pasang kaki lurus ke depan dan ke belakang. Karena matanya hitam legam, kamu akan mendapati gumpalan bulu gelap teronggok di lantai ketika dia tertidur lelap.

Anjing satu ini seperti punya kemampuan cenayang. Dia akan menggonggongi tukang sate bersuara cempreng yang tiap malam selalu lewat depan rumah. Menurut abang saya (yang sama-sama sebal dengan si tukang sate), mungkin karena satenya nggak enak. Dan karena tinggal di kota, dia juga nggak suka pada tukang jualan yang memakai lampu teplok atau petromak. Dia punya nama kesayangan: Getat. Gede pantat, saking dia doyan makan. Ayahnya membuat Wawa diet karena obesitas. Jika tidak diet, Wawa tidak akan bisa berlarian menikmati masa kecil karena malas bergerak.

Wawa juga manja. Dia paling nggak suka dengan kondisi gerah dan tempat kotor. Tidak suka becek-becekan, tidak suka hujan-hujanan. Oh, dia juga paling takut pada suara keras seperti petir dan petasan. Dan sangat aktif. Abang saya sampai harus memegangi kepalanya jika dia masuk rumah, atau celananya akan ditarik Wawa sampai melorot. Begitu cara dia bermain.

Sering sekali ketika sang ayah duduk bersila di beranda, salah satu dari Sasa atau Wawa yang sedang bermain di halaman tiba-tiba mengendap-endap mendekatinya. Sepasang mata lucu itu akan melirik, menunggu sang ayah untuk menggendong dan memangkunya. Hanya semenit, sudah itu dia akan melompat dari pangkuan lalu berlarian lagi seolah tidak terjadi apa-apa. Atau ketika abang saya sedang ngoprek rancangannya di laptop, sering sekali dia dapati tatapan mata Wawa yang memelas. Menurutnya, itu tanda Wawa minta diajak jalan-jalan. Dan tanpa ia sadar, Wawa membantunya menjernihkan benak sambil menyusuri jalan, membuat sang ayah rehat sebentar.

Duo ini selalu sukses bekerjasama dalam mencegah pencurian. Pernah suatu kali ada orang tolol yang nekat masuk rumah melalui tempat sampah berpintu. Belum sempat dia melancarkan aksi, Sasa dan Wawa sudah ada di depan mukanya ketika dia menengadah. Beberapa minggu sebelumnya mereka juga berhasil menggagalkan usaha pencurian di rumah sebelah. Abang saya curiga karena kedua anaknya diam tak bergerak sambil melihat ke arah rumah tersebut. Sang ayah pun memanjat tembok pembatas. Ternyata ada satu orang pencuri sedang mengutak-atik garasi sementara temannya menunggu dengan motor. Tanpa pikir panjang dia membuka pintu pagar dan anak-anak itu berlarian sambil menggonggong. Malingnya? Tentu saja kabur ketakutan.

Jujur saja, saya belum pernah melihat mereka. Saya hanya mendengar kisah. Tapi sepasang bintang di mata sang ayah bersinar jauh lebih terang saat bercerita. Dan itu sudah membuat saya yakin bahwa mereka dibesarkan dengan kasih sayang yang merupakan hak istimewa peliharaan dari tuan bertanggungjawab seperti ayah mereka.

Anjing adalah representasi tuannya. Anjing galak berarti tuannya juga galak. Anjing, sebagaimana manusia, perlu kasih sayang dan disiplin. Itu menurut ayah Sasa dan Wawa.

Pernah suatu kali, pada shelter yang dulu dia kelola, abang saya harus 'menyiksa' seekor anjing terlantar yang hanya bisa poop di tempat dengan banyak sampah. Selama tiga hari anjing itu menahan perut karena tempatnya bersih sekali. Dengan sabar abang saya melatihnya untuk berhajat di tempat yang sudah disediakan, dan berhasil. Kurang dari sebulan.

Bagi abang saya, Sasa dan Wawa, peliharaan yang dia anggap anak-anaknya, adalah semangat untuk bekerja lebih giat. Mereka yang memacunya mendapatkan uang lebih banyak. Supaya bisa memberi mereka makanan lebih layak. Dia rela memarut bawang putih setiap hari agar Sasa dan Wawa tidak gampang terkena pilek dan selalu sehat. Dia rela bangun pagi jam setengah enam hanya untuk memandikan mereka (padahal dia chatting dengan saya hingga pukul empat). Dari binatang berkaki empat yang dianggap najis dan dibilang menghalangi malaikat masuk rumah ini, abang saya belajar satu hal besar namun kadang dilupakan orang: Cinta tanpa syarat, tanpa rasa takut, tanpa penyesalan, dan tanpa prasangka.

Sayangnya, ada kondisi yang membuatnya harus segera berpisah dengan kedua anaknya ini. Saya miris membaca teks yang dia kirim pada saya. Melalui posting ini, saya berharap ada penyayang anjing yang mau menjadi orangtua Sasa dan Wawa, menyayangi mereka seperti abang saya mencintai kedua anaknya. Yang berdomisili di Jakarta, kalau bisa. Agar mudah dijenguk jika ayahnya kangen. Mas Roni tidak menginginkan uang untuk ditukar dengan anak-anaknya. Yang dia inginkan hanya rumah dengan kasih sayang dan perhatian untuk kedua anaknya.

Peminat serius silahkan menghubungi nomer ponsel Roni di 0818799976.


...dan Tuhan tidak pernah menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia...

Labels:

Comments:

  at: 1:36 PM, posted by Anonymous dita.gigi said...

semoga sasa dan wawa segera mendapatkan rumah baru... *berdoa*

  at: 8:17 PM, posted by Anonymous teresa said...

Pitoe, semoga "anak-anak" yang manis segera mendapat rumah dan keluarga baru yang baik ya. best of luck... dan oya, kalau sama milis Loen***, ulurlah kabel kesabaran panjang-panjang....:)

  at: 1:50 AM, posted by Anonymous teguh saja said...

semoga gak jadi sangsang

  at: 2:01 PM, posted by Anonymous silly said...

Pitoooo

anjing gue yang gue post disini sekarang udah meninggal :((

  at: 1:11 AM, posted by Blogger The Bitch said...

@Dita
i'm still crossing my fingers rite now (=

@Tante Ter
thanks for the pray. wish them luck. oh, ttg milis? nah. they're nothing. haha! thanks for dropping by! (=

@Teguh
aminnnnnn

@Tansil
my condolence ))= may them rest in peace...
Post a Comment

<< Home