"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

About Ar Rahman

Posted by The Bitch on 7/29/2009 04:21:00 AM

Ini malam melankoli bersama Apocalyptica menghajar telinga menggiring sunyi keluar jendela. Saya sendirian meski tidak kesepian. Karena saya masih punya cinta.

Tadinya saya tidak percaya cinta pada pandangan pertama. Saat dua pasang mata bertatapan dan masing-masing hati mengirim getar yang tertangkap dalam satu frekuensi menyelaras; ketika dunia sontak senyap meskipun kamu sedang berada di pinggir jalan raya paling padat dan paling macet se-Jakarta; ketika semua bayangan dan warna mengabur karena hanya ada dia sebagai fokus alam semesta. Tai kucing! Bullshit itu!

Namun saya merasakannya. Kemarin, pada teduh Minggu sore. Tiga kali, bahkan. Damn.

Saya begitu heroik menyebrangi empat jalan protokol dan merunduk di bawah kolong dua jalan layang demi mendapati sepasang mata putih susu. Dan, sebagaimana terjadinya kecelakaan, apes, dan cinta, semua datang tanpa sempat ditebak. Strike one.

Memasuki pagar sebuah rumah sederhana, saya dapati sepasang mata garang menyelidik, mengira-ngira, menimbang-nimbang, namun beberapa detik kemudian membuat saya jatuh sayang. Strike two. Ugh!

Beberapa saat kemudian, ketika saya sedang menata deburan hati antara takut dan antusias, waktu pantat baru saja menempel di lantai beranda dan napas saya atur sebaris demi sebaris, saya kembali dikejutkan oleh sepasang mata lain yang langsung menatap dalam. Sungguh-sungguh menatap dalam tak lepas-lepas. Strike three. Argh!

Ini aneh. Sangat aneh. Karena saya tidak peduli apakah cinta ini berbalas atau tidak. Yang saya rasakan berjam-jam bersama mereka adalah perkenalan menyenangkan. Melibatkan tawa, kata-kata lembut, elusan di punggung dan leher, serta pelukan malu-malu.

Semua ini baru bagi saya namun tidak buat mereka. Masing-masing dari mereka punya cinta mutlak pada satu hati, satu sosok, dan satu suara yang perkataannya adalah sabda dan sentuhannya mendamaikan. Saya tau betul bahwa saya hanya bisa melihat dari luar dan menikmati sensasi aneh dan hampir terlupakan: ketulusan dan kepercayaan. Namun itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

Mereka adalah Ice the Blind Siberian Hushkey, Wawa the Naughty Noir, dan Sasa the Queen karena dia satu-satunya perempuan. Sambil ngobrol dengan sang ayah hingga empat jam lebih, mereka meleburkan semua rasa ketidakmampuan saya menghadapi adik-adik saya di sanggar. Membelai mereka menentramkan amarah saya. Membuat mereka menandak dan bergulingan riang mendamaikan keputusasaan saya.

Saya sempat canggung ketika harus menyaksikan luapan kasih sayang yang sebegitu besar antara dua spesies berbeda, melibatkan saliva yang terasa dingin di kulit namun, entah bagaimana caranya, membuat hati saya hangat. Saya hilang kata-kata. Betapa binatang lebih bisa menunjukkan kasih ketimbang manusia yang katanya mahluk paling mulia.

Saya pulang dengan bibir berbentuk default melengkung ke atas, merasa bodoh namun bahagia. Saya teringat adik saya. Mungkin dia juga akan merasakan hal yang sama karena ia selalu menyapa ramah anjing-anjing pelacak bertampang sangar dengan “Hi, cutie!” atau “Halo, cakep!” meskipun disahut dengan gonggongan galak. Mungkin mereka tidak terima dianggap imut.

Dua hari berselang dan saya rindu memeluk mereka. Rindu melihat kekonyolan mereka memamah kerupuk, rindu melihat Sasa memutar ekornya tigaratus enampuluh derajat, rindu dicurigai Wawa lagi ketika saya keluar dari pintu depan, rindu membelai Ice yang merebah malas di samping saya. Rindu. Titik.

Fuck. I think I’m addicted. Damn you, Maz Oon!

Labels:

English Club: Week 6

Posted by The Bitch on 7/25/2009 11:09:00 PM

Yes, BHI English Club is back! The Bitch Teacher is rolling again. After losing the classroom in Boncang Headquarter because the Treasury Minister had moved to Tebet Effektif apartment, thanks to Paman Tyo, we succeeded to learn in one, cramped, icy room in Dagdigdug office behind the hypest angkringan in town.

It was Saturday night and Mbak Wiwiek, Tika, The Treasury Minister and The Lady, and-hey!-Tante Ai were joining the fucked-up class. The subject was about basic survival phrase.

There is the level of urgency in the words want to, need to, and have to, and the last becomes most urgent.

Put it this way:
When a man sees a sexy lady in front of him for five minutes, he wants to fuck her. When she starts to dance seductively, he needs to fuck her. When she begins to undress, there... he has to fuck her.

When The Bitch Teacher asked her students to put those expressions into stories, there were a lot of 'cubung' (curhat terselubung) poured down. Mbak Wiek was seeing a hot man that she wanted to kiss, had the urge that need to be fulfilled, and when she couldn't stand it, she just had to kiss him when he unbuttoned his shirt. Tante Ai told us about Kika who wanted to drink milk yet there was none in the fridge. When she needed to buy it the grocery, she had to pay it in the cashier. Meanwhile, Maz Ipul the Minister wanted to buy a house he saw in Tebet, so he needed to have one hell of money stacks--two meters high for each, perhaps--if he had to raise his little family there. One suggestion for Mbak Wiek: Go get yourself a husband ASAP!

Then, there are need, want, and have without 'to'. They have nothing to do with level of urgency.

Again, The Bitch Teacher asked her students to make these words in sentences and made a story from them. And, again, there were cubung here and there. But the most interesting one was from Mitha, the Lady of The Minister. She said that she had so many lingeries in her wardrobe since she was married. She needed them because she wanted her husband seeing her in the sexy outfit and go slowly horny. (The story was retyped word by word because of the punchline: slowly horny.)

Well, that was all for tonight. The Bitch Teacher could not ask for more for her class. It was one hell of a HILARIOUS bunch of students! But still, she only ordered them to turn off the fuckin' cellphone and follow the rule: her.

Nitey nite! Have a rawkin' weekend! (=

Labels:

About A Bomb

Posted by The Bitch on 7/21/2009 04:38:00 AM

Jumat, 17 Juli 2009. The end of an ordinary weekday. Saya berangkat memburuh dengan hati riang memeluk akhir pekan yang sehari lebih panjang. Saat saya menutup kamar pagi itu, U2 menyumpal telinga dengan 'Sometimes You Can't Make It On Your Own', lagu pembuka untuk siapapun yang menyapa saya melalui ponsel karena saya pasang sebagai RBT hampir setahun ini.

Dan sungguh, saya memang sama sekali tidak bisa melalui hari berdarah tersebut sendirian. Jakarta 'meledak' lagi.

JW Marriot dan Ritz-Carlton hotel kali ini yang kena sasaran. Pagi ketika orang sedang memulai hari. Ketika aroma pagi menyapa nostril memaksa mata tak kembali pejam. Ketika nyawa turun sepenggalan setelah Penabur Pasir usai menunaikan tugas. Ketika roda-roda hidup mulai berakselerasi dengan kerja.

Saya marah. Dan takut. Tidak seperti tahun 2003, ketika tempat yang sama meledak pertama kali, sekarang saya ada di Jakarta. Bukan di Jogja. Meskipun saya tidak bisa mendengar dentuman tersebut karena jauhnya lokasi dengan kamar, saya masih bergidik membayangkannya. Orang-orang terkasih saya ada di kota ini!

Saya tidak tahu apa yang salah dengan sistem pengamanan di hotel-hotel berbintang. Bahkan keledai pun tidak terperosok ke dalam lubang yang sama dua kali. Dan sekarang beberapa kabar burung mengatakan adanya beberapa titik di jalan tol yang juga meledak (dan belakangan baru ketahuan bahwa itu hanyalah mobil yang akinya korslet. Shit!). Sungguh, saat itu saya hanya berpikir tentang nasib adik saya yang bekerja di salah satu pusat perbelanjaan.

Sambil masih berkutat dengan tenggat harian di pabrik, saya teliti semua informasi simpang-siur dari internet dan televisi. Saya mencari berita yang membuat hati tenang, setidaknya dari pemimpin negeri ini. Namun ternyata saya harus membesarkan hati karena pernyataan-pernyataan dari konferensi pers yang diadakan setelah jam makan siang tidak lebih dari beberapa prasangka dan 'curhat'.

Empat hari berlalu, dan saya lumayan damai karena tidak 'terjamah' informasi internet dan televisi. Sekarang hanya ada usaha pemulihan dari kekecewaan karena Manchester United gagal berlaga di Gelora Bung Karno, dan bagaimana membangkitkan warga Jakarta dari kekagetan bom Jumat pagi.

Dan semua akan kembali baik-baik saja...

[Sementara Axl Rose menyapa saya dini hari ini. What so civil about war, anyway? Begitu katanya.]

Gambar adalah milik Papa Mata Air. Saya ambil karena ia bermata hitam dengan airmata hijau.

Labels:

Impossible Cuntry

Posted by The Bitch on 7/10/2009 02:27:00 AM

Yes, your eyes don’t mistake you. Saya menulis judul sewaras saya terjaga malam ini.

Karena saya ingin bercerita.

Pada suatu masa ada kerajaan dimana semua penduduk dan rajanya melakukan hal-hal yang tidak bisa dinalar dengan akal sehat. Mereka dipaksa menjadi robot meskipun sejatinya mereka manusia. Namun rakyat hidup teratur. Setidaknya karena semua barang mahal sementara upah minimalis, mereka dipaksa menjadi teratur dan tidak melakukan apapun kecuali bekerja.

Misalnya, di beberapa tempat, mereka berangkat kerja pagi-pagi sekali, mandi dengan air kekuningan bercampur endapan feses setelah terjaga di atas kasur busa tipis dalam RSS (Rumah Susah Selonjor) nan pengap dihuni sepasang suami istri dengan tiga anak. Para pekerja ini kemudian menunggu angkot atau bis di pinggir jalan raya semrawut, tergenang becek kehitaman dari selokan meluap. Lalu mereka mengantri di gerbang pabrik. Kadang bagi perempuan yang mengaku sedang mengalami proses peluruhan akibat sel telur menganggur tak terbuahi, mereka digiring ke kamar mandi untuk membuktikan adanya pembalut berdarah.

Di beberapa pelosok negeri, tanah gersang tak terairi. Para petani tidak lagi punya tanah. Lahan ijo royo-royo biasanya dimiliki keluarga kerajaan, demi menggemukkan pundi-pundi uang para bangsawan meskipun harus menguruskan para penggarap. Menurut beberapa pencerita lain, sempat ada lahan menganggur dan mereka tanami tetumbuhan penghasil ripis. Setelah bertahun-tahun menunggu panen, punggawa kerajaan membabatnya habis dan menggantinya dengan jagung. Karena bibit berlebih dan mereka ingin bertanam jagung meski tanah hanya cocok ditumbuhi tetanaman lain.

Di lain daerah ada tempat tergenang lumpur, menenggelamkan segala rumah dan sawah dan memori tentang leluhur serta rencana masa depan. Mereka pun kini merobot, karena hilang suara setelah serak berteriak dan buntu kemana mengadu. Duduk mencangkung di depan bedeng pengungsian pada siang lengas, menatap nanar ke depan sekosong tong penampung hujan di wilayah tanah gamping.

Lalu, kemana perginya para punggawa dan pengayom rakyat?

Syahdan, menurut konon, mereka hanya bekerja dibawah pemimpin saat itu. Menurut jobdesk, siapa yang membayar, untuknya mereka bekerja. Jadi, mereka hanya melindungi kepentingan juragan, seperti centeng jaman Pitung memilin-milin kumis sekepal petantang-petenteng di depan rumah gedongan.

Dan kemana Sang Raja?

Entahlah. Kabarnya dia ganteng, berwibawa, sekolahnya tinggi, dan ayah serta suami yang baik. Namun entah apa yang salah sehingga banyak sekali 'anak-anak'nya di berbagai pelosok negeri tidak mendapatkan 'kasihsayang'nya.

Lalu bagaimana nasib rakyat?

Oh, mereka baik-baik saja. Itu menurut grafik dan kurva statistik para ahli duit dan kesejahteraan. Well, saya bukan ahlinya. Lagipula, saya hanya pencerita.

Kemudian kerajaan ini menggelar perhelatan besar untuk memilih raja baru. Katanya sih secara demokrasi. Tapi yah... Lagi-lagi saya nggak tau. Saya mendengar juga dari cerita. Dan konon, rajanya masih sama dengan yang sebelumnya. Entahlah.

Di negeri impossibble yang saya cinta sampai mampus, saya hidup dengan 'rasa' yang terkikis hari demi hari.



Terinspirasi dari tulisan ini.
Mengapa CUNTRY? Lihat disini.

Labels:

For the Love of God, eh, Dog

Posted by The Bitch on 7/05/2009 02:40:00 AM

Ini Sasa. Halfbreed antara rottweiler dan herder. Umur dua tahun, betina, sudah divaksin komplit dan steril. Dia pintar menjaga rumah. Manis, penyayang, dan cerdik.

Diantara kumpulan anjing, dia adalah pemimpin (melihatnya saya percaya kalau perempuan bisa jadi presiden yang kompeten). Dulu, waktu masih tinggal di shelter untuk anjing-anjing terlantar, dia selalu berada paling depan. Selalu berinisiatif mencetuskan permainan. Namun dia mematuhi tuannya seperti seorang putri menurut pada ayahnya. Bandel sedikit, kadang-kadang. Layaknya gadis kecil yang selalu ingin tahu. Jika ayahnya sedang mengepel dan kebetulan dia berada dalam ruangan, dia akan lari dan naik ke kotak di sudut halaman depan. Entah karena tidak ingin mengganggu atau tidak suka kakinya basah.

Sasa selalu bisa menjaga diri. Dia akan keluar malam-malam jika ingin jalan-jalan. Tanpa harus didampingi, bila saatnya pulang, dia sudah akan berdiri di depan pagar. Lidahnya menjulur dan ekornya bergoyang seperti baling-baling helikopter, menunggu sang ayah membukakan pintu. Dan saya seperti mendengar kisah saya sendiri ketika saya kekuncian dan harus pulang pagi. Haha!

Yang di sebelah kanan itu Wawa. Halfbreed antara rottweiler dan chow chow. Umurnya juga dua tahun, jantan, dan steril. Sudah divaksinasi.

Wawa adalah pengikut setia Sasa. Mungkin karena dia jantan, darah rottweiler yang mengalir di nadinya lebih mendominasi. Itu yang menjadikan dia penjaga rumah yang baik. Wawa tidak gampang percaya pada orang baru. Dia akan menyelidik, menggonggong, dan mengawasi siapapun yang dia anggap asing. Kedua telinganya akan tegak dan dia langsung terbangun dalam posisi waspada ketika dia merasakan ada sesuatu atau bebunyian janggal.

Namun jika kamu sudah berada dalam lingkarannya, dia akan manja luarbiasa. Kebalikan dari Sasa yang mandiri, Wawa ini seperti cowok anak Papa (karena tuannya lelaki). Dia akan menggonggongi pintu ruang kerja yang tertutup pada jam-jam sang ayah merancang bangunan atau menggambar sesuatu. Dia harus selalu tahu bahwa ayahnya disana, dan akan tetap disana jika dia menoleh sesekali. Dia suka sekali memperhatikan sang ayah bekerja. Duduk diam tak menggonggong. Hanya melihat tanpa mengganggu.

Wawa adalah yang paling konyol diantara kedua anak 'abang' saya ini. Dia selalu tidur telungkup dengan dua pasang kaki lurus ke depan dan ke belakang. Karena matanya hitam legam, kamu akan mendapati gumpalan bulu gelap teronggok di lantai ketika dia tertidur lelap.

Anjing satu ini seperti punya kemampuan cenayang. Dia akan menggonggongi tukang sate bersuara cempreng yang tiap malam selalu lewat depan rumah. Menurut abang saya (yang sama-sama sebal dengan si tukang sate), mungkin karena satenya nggak enak. Dan karena tinggal di kota, dia juga nggak suka pada tukang jualan yang memakai lampu teplok atau petromak. Dia punya nama kesayangan: Getat. Gede pantat, saking dia doyan makan. Ayahnya membuat Wawa diet karena obesitas. Jika tidak diet, Wawa tidak akan bisa berlarian menikmati masa kecil karena malas bergerak.

Wawa juga manja. Dia paling nggak suka dengan kondisi gerah dan tempat kotor. Tidak suka becek-becekan, tidak suka hujan-hujanan. Oh, dia juga paling takut pada suara keras seperti petir dan petasan. Dan sangat aktif. Abang saya sampai harus memegangi kepalanya jika dia masuk rumah, atau celananya akan ditarik Wawa sampai melorot. Begitu cara dia bermain.

Sering sekali ketika sang ayah duduk bersila di beranda, salah satu dari Sasa atau Wawa yang sedang bermain di halaman tiba-tiba mengendap-endap mendekatinya. Sepasang mata lucu itu akan melirik, menunggu sang ayah untuk menggendong dan memangkunya. Hanya semenit, sudah itu dia akan melompat dari pangkuan lalu berlarian lagi seolah tidak terjadi apa-apa. Atau ketika abang saya sedang ngoprek rancangannya di laptop, sering sekali dia dapati tatapan mata Wawa yang memelas. Menurutnya, itu tanda Wawa minta diajak jalan-jalan. Dan tanpa ia sadar, Wawa membantunya menjernihkan benak sambil menyusuri jalan, membuat sang ayah rehat sebentar.

Duo ini selalu sukses bekerjasama dalam mencegah pencurian. Pernah suatu kali ada orang tolol yang nekat masuk rumah melalui tempat sampah berpintu. Belum sempat dia melancarkan aksi, Sasa dan Wawa sudah ada di depan mukanya ketika dia menengadah. Beberapa minggu sebelumnya mereka juga berhasil menggagalkan usaha pencurian di rumah sebelah. Abang saya curiga karena kedua anaknya diam tak bergerak sambil melihat ke arah rumah tersebut. Sang ayah pun memanjat tembok pembatas. Ternyata ada satu orang pencuri sedang mengutak-atik garasi sementara temannya menunggu dengan motor. Tanpa pikir panjang dia membuka pintu pagar dan anak-anak itu berlarian sambil menggonggong. Malingnya? Tentu saja kabur ketakutan.

Jujur saja, saya belum pernah melihat mereka. Saya hanya mendengar kisah. Tapi sepasang bintang di mata sang ayah bersinar jauh lebih terang saat bercerita. Dan itu sudah membuat saya yakin bahwa mereka dibesarkan dengan kasih sayang yang merupakan hak istimewa peliharaan dari tuan bertanggungjawab seperti ayah mereka.

Anjing adalah representasi tuannya. Anjing galak berarti tuannya juga galak. Anjing, sebagaimana manusia, perlu kasih sayang dan disiplin. Itu menurut ayah Sasa dan Wawa.

Pernah suatu kali, pada shelter yang dulu dia kelola, abang saya harus 'menyiksa' seekor anjing terlantar yang hanya bisa poop di tempat dengan banyak sampah. Selama tiga hari anjing itu menahan perut karena tempatnya bersih sekali. Dengan sabar abang saya melatihnya untuk berhajat di tempat yang sudah disediakan, dan berhasil. Kurang dari sebulan.

Bagi abang saya, Sasa dan Wawa, peliharaan yang dia anggap anak-anaknya, adalah semangat untuk bekerja lebih giat. Mereka yang memacunya mendapatkan uang lebih banyak. Supaya bisa memberi mereka makanan lebih layak. Dia rela memarut bawang putih setiap hari agar Sasa dan Wawa tidak gampang terkena pilek dan selalu sehat. Dia rela bangun pagi jam setengah enam hanya untuk memandikan mereka (padahal dia chatting dengan saya hingga pukul empat). Dari binatang berkaki empat yang dianggap najis dan dibilang menghalangi malaikat masuk rumah ini, abang saya belajar satu hal besar namun kadang dilupakan orang: Cinta tanpa syarat, tanpa rasa takut, tanpa penyesalan, dan tanpa prasangka.

Sayangnya, ada kondisi yang membuatnya harus segera berpisah dengan kedua anaknya ini. Saya miris membaca teks yang dia kirim pada saya. Melalui posting ini, saya berharap ada penyayang anjing yang mau menjadi orangtua Sasa dan Wawa, menyayangi mereka seperti abang saya mencintai kedua anaknya. Yang berdomisili di Jakarta, kalau bisa. Agar mudah dijenguk jika ayahnya kangen. Mas Roni tidak menginginkan uang untuk ditukar dengan anak-anaknya. Yang dia inginkan hanya rumah dengan kasih sayang dan perhatian untuk kedua anaknya.

Peminat serius silahkan menghubungi nomer ponsel Roni di 0818799976.


...dan Tuhan tidak pernah menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia...

Labels:

Vote, Anyone?

Posted by The Bitch on 7/03/2009 03:22:00 AM

Keluarga saya nggak ada yang fanatik pada ajaran agama maupun partai tertentu. Tapi kami memilih. Saya pun akhirnya harus rela menodai kelingking dengan tinta murahan warna biru gelap beberapa bulan kemarin, lebih karena sabda kedua orangtua yang mengingatkan saya agar menjadi warganegara yang baik.

Ya. I voted.

Namun benarkah saya menggunakan hak suara sebagaimana lazimnya orang memilih? Tidak.

Pada empat lembar kertas selebar koran, saya tuliskan besar-besar dengan spidol ‘MEMILIH UNTUK TIDAK MEMILIH’ (dan misteri pemilih kurang ajar itu terungkap beberapa minggu kemudian ketika saya pulang dan mengaku. Ibu dan Babab hanya nyengir tengil. Untungnya). Setelah itu saya roadtrip, liburan singkat. Terlempar di terminal Lebak Bulus sore hari untuk larut dalam obrolan bersama tukang ojek di penghujung malam menunggu jemputan pada pinggiran Semarang.

Jujur saja, saya muak dengan nama-nama yang tercantum di lembaran kertas pemilih. Itu adalah nama yang menghiasi jalan protokol dan gang tikus di kampung-kampung dengan wajah sumringah artifisial a la sampul majalah ABG. Nama jumawa yang rela merogoh ratusan juta dari kocek orang lain hanya demi kursi kekuasaan yang belum tentu dia dapat. Nama yang sosoknya terlihat bodoh ketika bicara namun mesum saat bernyanyi. Nama yang pongah digotong orang-orang menyesaki Metromini dan angkutan umum dengan supir menggerutu karena setoran tak terkejar, memacetkan bulevar, menghambat lalu-lintas dan melambatkan ritme segala elemen kerja dan hidup.

Saya sayangkan tinta, kertas, lembaran sablonan plastik, dan cagak-cagak bambu yang harus terbuang ketika gaung perayaan demokrasi mereda.

Namun pesta belum usai.

Dan saya mulai serius menengarai para Goliath yang berdebat. Saya tidak harus melihat mereka. Perut saya tidak cukup kuat untuk itu. Saya pun tidak harus melawan mereka karena saya bukan David. Mendengarnya dari televisi tetangga kamar atau menyimak reaksi teman-teman pada entri mailing list sudah membuat saya kebanjiran informasi. Dan saya tidak akan melupakan informasi-informasi itu.

Satu-satunya perempuan yang pernah memimpin negara ini melukai saya. Bukan saya seksis, namun bernaung pada bayang proklamator besar tidak menjadikan beliau mampu menggenjot prestasi dan kepemimpinan. Tante itu, menurut saya, malah menjadikan semua orang yang melihatnya seperti harus menurutinya. Blah!

Kandidat lain yang namanya masih resmi sebagai pucuk tertinggi dengan plat mobil RI1 pun sama. Saya tidak rela mengakuinya sebagai pemimpin berikutnya jika korban di Porong masih harus bersedih menderita kehilangan tak terganti, jika kasus-kasus yang ‘terpaksa’ dilupakan tak lagi digali, jika barometer leadership tak lebih dari sekedar ganteng dan ‘terlihat’ punya wibawa. Diperparah dengan mutungan, dan meminta rakyat untuk maklum karena pekerjaan sebagai pemimpin bukanlah hal mudah. Hei! Apa yang Bapak tentukan dalam hidup membuat Bapak harus berdiri di podium sebagai pemimpin negara! Jangan merajuk seperti bayi!

Satu Goliath lain adalah pengusaha. Dia, yang unggul dalam debat-debat sebelumnya dan gemilang pada adu mulut terakhir tak lebih dari seorang makelar, menggampangkan segala urusan dengan sorotan kamera sekali pun dan menganggap rakyat adalah liability. Huh?!

Dan kita lelap dalam buai abab mereka.

Hingga obrolan suatu sore bersama Emak Mandor di pabrik tempat saya memburuh menggugah tidur lasak saya: KPK hendak dihapuskan. Padahal personel-personelnya terlatih khusus, bukan sekedar mereka yang uplek menangani kriminal perdata dan pidana. Padahal, meskipun terseok, tanpa KPK tidak akan nama Indonesia terangkat, melesat meninggalkan negara-negara Afrika yang pemimpinnya rakus nggak ketulungan dan kerjanya perang melulu. Namun adakah salah satu calon presiden dengan nama-nama agung itu berpikir untuk melestarikan KPK? Akankah tikus menyetujui kucing yang ingin tinggal diantara mereka?

Saya subjektif. Akan sangat sulit meminta saya memilih diantara ketiganya, bahkan ketika pelipis saya tertempel Glock. Untuk masalah ini saya jauh dari oportunis. Saya tidak akan menunjuk bangkai yang tidak terlalu busuk diantara tumpukan bangkai-bangkai dengan lalat berkerumun. Akan lebih baik jika saya makan gado-gado. Tapi lagi-lagi itu pilihan saya. Saya tidak meminta siapapun untuk turut bersama saya.

Masalah saya adalah saya tidak kenal mereka secara personal, dan saya juga tidak merasa perlu. Apalagi mereka. Siapa sih saya? Saya pun mengakui bahwa saya cenderung anti pada aturan. Apapun yang diwajibkan, saya lakukan kebalikannya. Tapi saya sadar sesadar-sadarnya bahwa kelompok besar yang terdiri dari ratusan juta manusia perlu hukum dan pemimpin yang mengatur. Di sisi lain saya juga sadar bahwa order bisa tercapai jika ada chaos, dan semua adalah lingkaran setan tak sudah dan tak lekas.

Namun saya kenal sepasang suami-istri yang bekerjasama sebagai ketua RW di rumah orangtua saya. Mereka anggota partai berlambang beringin yang sempat melesakkan kita selama 32 tahun pada ninabobo swasembada pangan dan program inpres dan ikan mas besar-besar pada Laporan Khusus usai berita pukul sembilan malam. Tapi kerja nyata mereka membuat RW tempat saya tinggal menjadi tempat percontohan se-Jawa Barat karena semua program yang mereka tangani selalu berhasil. Meskipun ibu-ibu dan bapak-bapak ‘bawahan’ mereka selalu ngambek dimintai nota dan bon setiap ada LPJ. Meskipun uang kas sempat diraibkan bendaharanya untuk mempercantik rumah. Meskipun dana koperasi didepositokan oleh yang bertanggungjawab dan peminjam harus bersabar menunggu jatuh tempo walau suaminya wajib segera operasi jantung.

Saya kenal orang-orang muda yang gerilya mengadakan program pendidikan, menyekolahkan anak-anak tidak mampu dan mendampingi mereka belajar di tengah kesibukan mereka yang padat luar biasa. Saya kenal manusia tak kenal lelah yang menyebrangi dua benua hanya untuk menyebarkan informasi agar rekan sebangsanya tidak amnesia terhadap kelakuan pemimpinnya. Saya kenal sekelompok mahasiswa yang babak bundas tak punya-punya pacar karena lebih mementingkan pelatihan ketrampilan bagi anak-anak jalanan yang tiap hari kerjanya hanya ngamen dan nongkrong. Meskipun skripsinya tak juga selesai. Saya kenal David lain yang berjuang di Aceh melawan Goliath-Goliath lokal karena mimpi sovereignty yang hampir sama dengan Joan d’Arc. Untuk mereka, saya punya suara.

Jika suatu hari nanti semesta mengizinkan, saya hanya akan memilih Bang Aip atau Buya Alex sebagai presiden. Hanya pada mereka saya pasrah jadi pengikut.

Maaf. Otak saya sedang gatal.

Labels: