"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

HEH?!

Posted by The Bitch on 6/30/2009 05:33:00 AM

So, one twisted mind asked me to unveil seven awesomeness in me. I didn't know why but one thing for sure I just couldn't say no.

Seven awesomeness, heh? Here they are:

1. Do you ever wonder why I've got Pito for a nickname yet I'm a girl? It started out one night, two by twenty four hour before a shower to celebrate seven-month-old pregnancy of my mother. And... Voila! There I was... Born. Less than 2 kgs and had to spend 10 days in a small incubator. Now I never question where I get this claustraphobic from.

2. My parents had quite high hope for me. From both Grandpas, Pitoresmi and Pujiningsih were suggested. Both are taken from Javanese. Pitoresmi means 'seven that hopefuly beautiful' while Pujiningsih means 'highest gratitude to the Lord'. Thus, combining those two, it could be said that the baby born is hoped to be beautiful against all the odds and she should be grateful for it.

3. Along the way, I am used to pain. I am not a crybaby. I did not even shed a tear when I had to be punished by broomstick for the wrongdoings that I did not committed. I did not even scream when I fell from the tree while I had to cover my unstoppable bleeding chin, afraid of being noticed by my mom and made her mad like hell.

4. I've got rawkin' parents. They are free-minded, easygoing, kewl, old persons that never say 'No' to everything I want to do. Did your parents ask you to try booze, marijuana, or drugs at home? Mine did when I was in junior high. The reason? So they'd be able to drag me to the hospital when shit happens. And even when the shittiest happens, like I'm dead overdosed, they know where to find my corpse.

5. I was raised with ABBA, Rolling Stones, Beatles, Joan Baez, and CCR. Since I was a baby, my mom always turn on the music to help me sleep and get me used to be undistracted by any noise. So it was not a big deal when in my first year of elementary, I was the one and only who sang Chiquitita in front of the class.

6. I tend to see everything from every angles imaginable. And unimaginable. Therefore, there is no wrong and right to all situations and occurences. They're just... happen. Period.

7. The image above was made by my partner in crime, Doni Kristian Dachi. I love to shorten his name into DKDC, abbreviation of "don't know, don't care". He was an old friend, more like a big brother to me. I met him in those good ol' days (and nights) when we were both in Jogja, in a small netcafe that I had to tend. With all the ups and downs, it's a miracle seeing him living and breathing up to now. And that's what made him awesome.

Nyoh, Nyong! I spit it out!

Labels:

About A Dream

Posted by The Bitch on 6/29/2009 02:47:00 PM

Martin Luther King punya mimpi bahwa akan datang suatu masa dimana warna kulit tidak lagi jadi batasan. Berpuluh tahun kemudian seorang warga keturunan Afrika memimpin negaranya.

Joan d’Arc pernah bermimpi tentang tanahair bebas merdeka dari penguasaan Inggris. Berabad kemudian mimpinya terwujud, jauh setelah tubuhnya terbakar menjadi abu.

Satu hal yang saya pelajari: Orang-orang besar selalu punya mimpi besar.

Sementara beberapa hari yang lalu ada seorang perempuan kecil namun lebih dewasa daripada saya menceritakan perihal mimpi yang ingin segera ia wujudkan. Sederhana saja sebenarnya. Tidak perlu darah tertumpah atau nyawa tergadai. Hanya uang yang cukup dan beberapa ketrampilan sederhana untuk mencapainya. Celakanya, dia mengajak saya.

“Bayangkan, Pit. Kita punya mobile office sekaligus mobile home. Kita bisa sewaktu-waktu kerja di tengah sawah atau pinggir pantai; di pelosok Cirebon atau Nusa Tenggara Timur. Kamu dengan bahan tulisanmu dan aku dengan rancangan gambarku. Jalan sambil kerja. Kita bisa self-sufficient dengan cara itu. Modem ada, sinyal GPRS dimana-mana, laptop komplit. Apalagi? Kamu kukasih waktu setaun untuk jago nyetir VW Combi. Gimana?”

Tempting. So fuckin’ tempting. Ada yang mau modalin? Hihi.

Labels:

...and I Miss You, Love...

Posted by The Bitch on 6/24/2009 04:01:00 AM


Make room for the pray
'Cause I'm coming in
With what I wanna say but
It's gonna hurt
And I love the pain
A breeding ground for hate but...

I'm not, not sure,
Not too sure how it feels
To handle everyday
Like the one that just past
In the crowds of all the people

Remember today
I've no respect for you
And I miss you love
And I miss you love

Beberapa bait yang saya curi dari wajah polos namun kencang meneriakkan luka, sempat di'tuduh' sebagai junior Nirvana, dan album-albumnya tidak pernah saya koleksi.

Sepasang telinga 'perek' saya tak pernah menyaring bebunyian instrumen maupun suara. Apapun yang mereka tangkap seperti langsung terserap benak dan menjadi data, sewaktu-waktu dapat ditarik kembali jika situasi dan kenangan asosiatif memanggilnya keluar.

Pukul tiga pagi ini radio internet memunculkan syair tentang remaja canggung pendiam yang selalu merasa salah tempat. Dan frekuensi otak saya merata dengan mereka, kembali ke masa haid pertama, cinta monyet pertama, penyangkalan pertama, lebam pada buku jari pertama...

Soulmate pertama.

Shit. I miss you, Love.

ps: yang tidak berubah adalah tarik-ulur sepersekian detik antara cinta dan benci, rindu dan dendam, perih dan bahagia, tawa dan tangis. kita pernah punya itu.


untuk mantan ketua kelas yang rela jam tangannya remuk agar saya tidak mengamuk. masa putih-biru itu dan bagaimana kamu mengerti saya meski kita hanya berkirim kartu ucapan dan surat sarat goresan pensilmu... mungkin kamu masih akan melakukannya jika kamu ada disini.
hey, sudah berapa anakmu sekarang?

Labels:

Cogito, Ergo Doleo

Posted by The Bitch on 6/17/2009 10:38:00 PM


Ciptaan Tuhan yang mana yang paling kamu suka? Begitu pertanyaan teman saya suatu kali. Dengan cepat saya menjawab: Setan!

Kenapa, tanyanya lagi.

Karena dia adalah mahluk paling tragis yang pernah tercipta. Dia, tunduk patuh pada kuasaNya, mengakui hanya Dia yang patut disembah, dipatuhi dan ditaati. Sementara semua malaikat bersujud di kaki Adam, hanya Setan yang menolak menjadi rendah di hadapan manusia pertama. Karena dia hanya mau merendah pada Pencipta.

Dan apa yang dia dapat? Hukuman tiada akhir hingga kiamat datang untuk selalu menjadi musuhNya. Menguji manusia akan konsistensi terhadap perintah dan larangan hingga batas terakhir. Apa yang dia lakukan? Patuh pada perintah Sang Junjungan, tentu saja! Bukankah itu konsistensi tragis?!

Namun bagaimanapun Setan membawa dendam. Itu yang membuatnya tetap dapat menjalankan fungsi sebagai salah satu pewarna dunia. Dengan amarah dan kesumat yang dia bawa kemana-mana, dia janjikan untuk membawa manusia menjadi pengikutnya, menemani ia menjalankan hari-hari berbau belerang di Neraka.

Somehow, saya merasa menemukan diri saya pada setan.


*Judul adalah pelintiran dari dasar filsafat Eyang Descartes cogito, ergo sum (I think, therefore I am). Cogito, ergo doleo berarti I think, therefore I depressed. Got the pun?

Labels:

Stupidity Tak Pernah Mati

Posted by The Bitch on 6/16/2009 10:34:00 PM

“I want to shut down my blog.”

“Why?”


“I just realize that there are a lot of brains that I’ve poisoned. Writer is like a prophet. Writer could never walk away after she writes something. She has to be responsible for the words she wrote and the impact to the brains she infected.”


“And how many minds you have opened?”


“Well… I fucked them up, okay? Don’t use smoother words. I. Just. Fucked. Them. Up. Period.”


“So, what was your intention to write in the first place, after all?”


“I just want to throw up, to yell, to unleash the anger into nothingness. I just want to write what I feel…”


“And feel what you write. Yada, yada, yada. Heard that shit before. Still you broadcast it in a fucking cyberspace called blog. And still you can’t help it when people love what you write. What do you say, then?”


“I just want them to know that I’m exist, a fucked up mind living and breathing somewhere, somehow. I just want them to understand that thinking what I am thinking is not against any laws. It is just different. There’s nothing wrong being different. They have friend in me. They’re not alone being weirdo, if that’s what they feel. I want them to read between the lines about how I manage to take writing as a therapy, as a device to, at least, make me feel as a balanced human being though I’m trying hard to keep my sanity. That’s it!”


“And still you nag about people who adore you for what you write? To hate people who feel grateful because you open their minds to another level of thinking? Who’s the baby now? Who is stomping her feet and pouting now?”


“But…”

“Look. Though I hate to admit it, but I’ve got a confession to make: I love your writings. You could see things from a point where I could not. Damn, girl! I am an architect. I draw. I could make a painting of a naked woman just like that, and the picture will stay the same no matter you look at it now or five years later. But you… You ‘draw’ the naked woman with your words, with the punch of the keyboard, with imagination and energy you pour down to the tip of your fingers. It’s different. It takes extra effort and more senses to work on. I admire you for that.”

“Dammit. I don’t even think that way. I just think we both work in different areas. That’s all.”


“But we’re the same! We, people who work with senses, need the moods to materialize the concept into something. We are still learning to control it because sometimes it feels too fucking much. Perhaps what had happened to you is exactly the same with what I had experienced few months ago. I am still learning here, the same as you are. I work with images and pictures. You work with words. That’s the way it is.”


“But it’s kind of awkward to see how people know me through my writings, to find out that they know how I think from the entries I wrote, and get praised from it. It’s… weird.”

“Have you thought about this the first time you made your entry? Have it ever crossed your mind that perhaps somebody get his or her enlightenment after reading your shits?”


“No.”

“So, return to the basic, then. Try finding out what your intention in writing. Dig it deeply to the core.”


“I just want to write.”

“Go ahead, then! Write! Fuck people who read! Life is full of choices. If they happen to choose reading your blog, it’s their own decision. Not yours. If they happen to love what they’ve read, again, it’s their choice. You don’t rule over people’s minds. You rule over your own.”

“So?”


“Move from where you sit if you don’t like what you see. Make them and yourself comfortable. It’s a matter of choosing. See everything with the smile on your face. This is your next step in learning. You are leveling up by things you’ve thrown up. Don’t quit the purity of your fucked up mind. If there is ‘market’ you want to satisfy, learn to do it. But you have to remember the most important thing: Just be yourself.”

“Do you want me to hug you for this?”


“And stink my cool jacket here? I think you could skip that.”


[just an encrypt from one long conversation in the wee hour of the night with one helluva guy who was just escaping the inevitably gross fate should he did not stuck with me in an angkringan until dawn. how come we always find relations in the stories we shared though it’s been centuries since we last met? funny how an angel comes in red-black rider jacket, leather gloves, and rides a big red motorbike. I always miss you this way, Bro]

Labels:

Journey I

Posted by The Bitch on 6/15/2009 10:29:00 PM

Saya sungguh beruntung. Pagi-pagi buta saya datang di kota yang jalur bis dan angkotnya saya nggak hafal sama sekali. Namun ada seseorang yang belum pernah saya temui sebelumnya menanti di sana dengan sabar. Mengajak saya sarapan, menunggu saya membeli tiket pulang, mengantar saya ke tempat yang saya tuju, dan sama sekali nggak mau saya ganti uang bensinnya. Gilanya, kami seperti sudah kenal lama. Bercerita perihal keluarga, kakak yang jarang pulang, pacar yang beralih ke lain hati, harapan, pekerjaan, dan semua hal yang biasa dibicarakan dua karib.

Siangnya, setelah dia harus pulang untuk bekerja, saya bertemu raut teduh pada terik panas Semarang—yang mallnya pun sama panasnya. Akselerasi kami bertukar informasi cepat sekali, karena dia hanya punya waktu satu jam yang dia curi dari jatah menghadap Tuhan mendengarkan khutbah Jumat.

Beberapa jam sesudahnya, satu jiwa yang berhasil saya sesatkan melalui tulisan-tulisan sampah disini melenggang santai sambil tersenyum kemudian duduk di samping saya. Dia, perempuan cantik dengan sepasang bintang pada matanya. Menyesap Irish Coffee dengan sedotan. Menikmati getir nikmat Rum menyengat hangat langit-langit mulut pada senja membasah. Menyisakan samar lipgloss jingga pada pangkal rokok di asbak. Mengurai cerita tentang tarik-menarik antara jadi diri sendiri dan jadi apa yang distempel orang lain di keningnya.

Kami berdua, membelah jalan raya sekejap untuk sampai pada peraduan saya malam itu. Dia harus pergi ke salon untuk persiapan resepsi besok, sementara saya melepaskan penat di sebuah kamar nyaman yang saya tempati dua malam tanpa harus membayar.

Ketika saya membosan di sebuah pesta dan hanya membaca buku dengan Jonathan Davis menggeram menyumpal telinga dan nikotin di tangan kiri, dua orang penyelamat saya datang. “Sebentar, kami akan evakuasi kamu,” ujar salah satu diantara mereka dalam SMS yang masuk sebelumnya. Mereka tidak datang gagah-gagahan dengan kuda putih besar maupun berbaju zirah mengkilat membawa tameng dan pedang bertatah batu mulia. Sama sekali tidak. Wolverine dan Cyclops itu—yang dalam benak saya menjelma Thomson and Thompson dalam komik Tintin—sempat bingung mencari tempat memarkir sedan gelap (yang mekanisme pintunya mirip angkot karena harus dibuka dari luar). Dan mereka adalah om-om beranak dua, berkacamata gelap, dan cekikikan melihat saya rikuh berjalan menenteng tas tangan coklat dengan rok batik coklat dan blus putih. Oh, dan Converse buluk saya yang terkenal itu!

Setelah menghiba agar diizinkan berganti jins dan kaos, kami menikmati sepotong sejuk di sebuah taman. Kami bicara mimpi, bicara keinginan, bicara tentang driver modem yang ngadat sambil sesekali melirik kumpulan ABG berseragam putih-abu sebelum terusir karena para pedagang kukut.

Hasrat nongkrong para om-om yang menggila membuat sedan melaju kembali menuju rumah seorang perempuan hebat dengan tiga anak hebat. Well, ini bedanya kumpul dengan teman sebaya dan dengan orang dewasa. Yang terakhir selalu membuat acara nongkrong menjadi seperti silaturahmi penting dan dilakukan saat masih ada matahari di langit.

Saya seperti balita sok tau di hadapan mereka: Wolverine, Cyclops dan Storm yang kata-katanya adalah badai dan ucapannya petir. Di penghujung pertemuan, Storm ini masih saja bijak dan menganggap kami jawaban yang dikirim Tuhan atas pertanyaan dan kegelisahannya. Whoa! Padahal selama ini saya menganggap diri sebagai cobaan Tuhan untuk orang-orang yang bersinggungan dengan saya. Hihi.

Pukul delapan malam saya kembali. Saya letakkan penat di kasur dengan ranjang kayu. Bukan ranjang cor-coran semen sebagaimana roadtrip akhir tahun dimana suara ‘ah-uh’ terdengar dari kamar sebelah menyebelah dan berhasil membuat saya menginjak cairan licin di lantai yang saya tidak ingin tau namanya.

Mungkin apa yang saya alami tidak keren sama sekali. Cuma kejadian-kejadian standar yang sering dihadapi siapapun, kapanpun. Namun buat saya, orang-orang yang saya temui membuat saya akan terlihat keren suatu hari nanti karena dari mereka saya banyak belajar. Terutama untuk tidak menikah. Lagipula, buat saya, perjalanan bukanlah KEMANA dan APA, tapi SIAPA yang saya temui. Lagipula, keindahan itu sama. Di desa dan di kota.

Karena satu alasan mulia saya bertandang: Pernikahan. Karena Fany dan Mas Yudhis. Janji pada Tuhan yang kalian ucap untuk saling bersama dalam satu ikatan suci paling agung membuat saya bisa terdampar menyenangkan. Nggak habis-habis terimakasih saya pada kalian. Nggak percuma saya jauh-jauh datang menikmati tengkleng, peking duck, puding, muka cemas Gun yang merasa kehilangan ponsel (padahal saya duduki. hihi), Peter yang grogi saya navigatori, dan cowok-cowok bloger Jogja yang saya ancam akan saya jual untuk membeli MacBook Pro 17”. Damn, guys! You're all something!

Dan, jika janji Sahabat saya itu benar, bahwa segala hal-hal baik akan terjadi pada orang-orang baik, maka pernikahan kalian akan dibanjiri pula dengan kebaikan. Selamat dan terimakasih (=



Ps: hey, sakit punggung di dekat pinggang itu bukan berarti ginjalmu bermasalah. Mungkin hanya pertanda flu karena sering iseng begadangan pamer yoghurt dingin lewat SMS. But, still. You’re one of my superheroes, Doc.

Labels:

A Journey

Posted by The Bitch on 6/12/2009 02:56:00 PM


Tiga cangkir Torajan, Mandheling, dan Robusta Premium Coffee. Satu jam padat bersama seorang kakak mengurai tawa tentang teman dalam tempurung, ganja, anak hiperaktif yang minta adik, dan kesempatan berkantor di tempat baru. Melewatkan dua momen terpenting di pabrik melibatkan jilbab dan tumpeng.

Tapi saya tidak menyesal!

Mungkin ini yang dinamakan Si Pamei Kurus Gondrong dengan 'perjalanan yang memilih pejalannya': Ketika semua aspek membuatmu dapat melakukannya.

Tadinya saya gentar mengingat dana bulanan mendefisit. Namun saya memang a damn filthy lucky bitch, meskipun tidak pernah mendapat semuanya secara gratis. Saat-saat mepet begini ada saja tawaran kerjaan dari klien lama. Ternyata hasilnya lumayan, bisa untuk ongkos bolak-balik naik kereta eksekutif.

Tadinya saya takut nyasar menemui klien lama yang sudah berbilang tahun saya berkirim naskah lewat email tanpa pernah tau seperti apa bentuk dan rupanya. Namun seorang malaikat dikirimkan untuk saya. Dan dia mengirim malaikat lain dalam bentuk adik kandungnya sendiri untuk standby di stasiun dan mengantar kemana saya suka.

Tadinya saya takut kecewa karena nggak jadi jalan-jalan. Jadwal kerjaan pabrik yang padat membuat saya terantai di kursi tanpa ada alasan kabur mengejar kereta pukul tujuh. Namun berkat tukang ojek diehard yang bikin jantung saya deg-degan, saya berhasil mengejar kereta pukul sembilan. Menempuh padat jalanan Radiodalam ke Stasiun Pasarsenen dalam waktu setengah jam.

Perjalanan ini masih setengah. Besok masih ada resepsi yang harus saya hadiri. Membayar hutang budi karena saya pernah dibelikan tiket pulang ke Jakarta. Menemui kawan baru dan lama, dan berharap saya pulang dalam keadaan utuh.

Hey, Malaikat! Semua karena kamu. Makasih ya! Cepet sembuh, jangan begadang mulu!

Labels:

Hear Me Out!

Posted by The Bitch on 6/10/2009 03:09:00 AM


For this, I could bet my ass off. At least we could mingle with interesting person there, like Pol Pot, Leopold von Sacher-Masoch, Marquis de Sade, Dante, Nero, Hitler, and all of the war criminals and psycho ever living and breathing. Sounds fun... Haha!


Gambar dicolong semena-mena dari tag Kak Dontjeh di Facebook untuk saya. Thanks, Bro! I'll see you when you get there!!!

Labels:

Nggak Penting

Posted by The Bitch on 6/09/2009 02:00:00 AM

Saya mau cerita tentang rak sepatu.

Pada tiap-tiap pintu yang sejajar dengan kamar saya, di sebelahnya terdapat minimal satu rak sepatu. Mbak Bunga, kamar paling ujung, bahkan punya dua. Total lima belas pasang, terdiri dari selop-selop cantik dan sandal terbuka. Ditambah sandal jelek dua pasang untuk pergi ke kamar mandi maupun belanja sayur. Karena beliau bekerja sebagai corporate secretary, bisa kebayang tampilannya feminin dan chic meskipun sudah lama berjilbab.

Sebelah saya persis, Mbak Lisa, nggak begitu suka koleksi sepatu. Jadi, raknya juga sepi. Sekretaris firma hukum ayu, kenes, berkacamata ini hanya punya dua pasang sepatu model ballerina yang nggak neko-neko dan dia pakai hampir tiap hari. Jika kadang harus meeting dengan boss besar, paling banter dia hanya mengenakan flat shoes formal warna hitam dengan hiasan pita kecil di atasnya. Tapi dia punya sepasang peep toe seksi warna hitam dan dua pasang sandal trepes yang biasa dia pakai jalan-jalan. Jadi total ada enam pasang alas kaki ada di raknya.

Di depan kamar satu lagi, Mbak Anggi, seorang researcher pada konsultan kebijakan pemerintah cuma punya dua pasang sepatu trepes warna hitam dan khaki serta sepatu terbuka warna coklat dan satu selop hitam. Semuanya berlabel merah di kanan dan hijau di kiri. Kecuali selop (kayaknya nggak mungkin Kikckers bikin selop berpayet buat kondangan). Dia fanatik pada merek itu. Ketiganya dia kenakan bergantian untuk ngantor, ke gereja, atau jalan bareng pacarnya (dan mereka jadian karena saya! Haha!). Ada juga sepasang sepatu jogging putih berlarit jambon bertuliskan RBK pada bagian atas tumit biasa dia kenakan untuk fitness, serta sandal perempuan berwarna coklat muda.

Di seberangnya ada Kak Mutia, perempuan Medan yang selalu halus bertutur. Sama seperti Mbak Bunga, dia juga maniak mengoleksi sepatu. Terutama sepatu terbuka dengan pita-pita cantik dan beberapa sandal trepes. Kak Mutia ini paling beruntung. Dia punya ‘abang-abang’ gaul yang suka sekali membelikannya sepatu bermerek, berapapun harganya. Dan pilihan mereka selalu tepat. Pernah suatu kali dia menenteng kotak Vinnci berisi sepasang sepatu mewah beludru sewarna anggur. Atau Rotelli tinggi yang—damn—seksi sekali di tungkainya. Semua hasil traktiran dan tanpa diskon. Kak Mutia ini juga feminin sekali. Dia pergi ke salon untuk meluruskan rambutnya sebulan sekali, ke spa untuk totok aura bareng Mbak Bunga, dan ke dokter akupunktur untuk menurunkan berat badan. Padahal, meskipun terlihat besar, dia cantik menurut saya.

Tepat pada kamar sebelah kanan saya ada Mbak April yang bekerja sebagai marketing di Dompet Duafa. Setiap akhir pekan dia mengajar pada salah satu universitas swasta di daerah Jakarta Selatan. Mbak April ini suka sekali mengoleksi sepatu tinggi dengan ujung runcing. Semua sepatunya, sesuai dengan saran Mbak Bunga, dimasukkan ke dalam plastik dan dijajarkan dengan rapih. Apik, warna-warni. Saya suka melihatnya berangkat bekerja. Mbak April memilih sepatu senada dengan jilbab lebar penutup kepalanya yang cerdas.

Kemudian saya pandangi rak milik saya sendiri. Sepasang boots tentara warna hitam, dua pasang Converse tinggi (satu kulit coklat buluk dan satunya hijau army), sepasang Everlast kanvas hitam yang sudah jebol namun lebih sering saya pakai karena enak sekali untuk jalan, sepasang sandal gunung Avtech, sepasang trekking Reebok coklat, dan tiga pasang sandal jepit yang sering sekali kelayapan di depan kamar para mbak-mbak.

Kecuali boots yang dihadiahi Mamih untuk saya pakai kondangan, semua saya beli diskonan. Converse coklat itu saya tunggu tiga tahun sampai harganya terjangkau untuk kantong saya. Converse hijau nggak begitu lama, hanya enam bulan. Everlast karena diskon dan saya ingin kanvas hitam tapi ogah beli Converse. Reebok trekking karena saya mengincar model seperti itu sejak saya SMA (ini penantian paling lama), sementara Avtech karena saya suka modelnya. Dan, believe me, harga sepatu saya paling mahal adalah yang termurah diantara koleksi sepatu mbak-mbak saya.

Entah kenapa tengah malam ini, sambil merokok di beranda, saya iseng memandangi jejeran rak sepatu di depan masing-masing kamar. Rasanya saya kok tidak masuk himpunan, ya?


[pusing mo kondangan nggak punya sepatu dan males pake sepatu cewek. haha!]

Labels:

Missing You....

Posted by The Bitch on 6/08/2009 08:36:00 PM


Han,

Sebagaimana Karen Armstrong berucap bahwa bahkan jika kuda bisa membuat gambarMu maka Kau pun akan berwujud sepertinya, izinkan aku menyapaMu di penghujung malam melalui tuts keyboard seputih susu hangat yang menyertaiku meniti lelap.

Aku lelah menjadi bodoh, dikuasai asumsi dan prasangka tanpa berdaya menelusur fakta. Meski aku menggugat jawab, pertanyaan tak sempat terlontar pada lisan karena ketololan membuat otakku beku dan Google kelu.

Ini masalah hati, Han. Hati yang menanting dendam kemana-mana meski selalu kutekan hingga hidungnya melesak menentang aspal. Hati yang culas karena menjejak kepala orang lain sebagai undakan untuk sampai ke tempat paling tinggi. Hati yang busuk bernanah karena kebencian menggelegar. Hati yang tak lagi merah marun indah karena hitam tersulut kesumat.

Sebagai sahabat, apa Kau bisa membuat benak keledaiku rekah menciptakan padma hijau terang keunguan berkelopak seribu yang mirip mahkota Biksu Tong? Atau tarafku hanya sampai Go Kong, berwajah kera dan tertutup bulu?

Han,

Sebagai mahluk ciptaan setengah jadi dengan implan buah pengetahuan termakan Adam pada suatu ketika, aku bertanya. Pernahkah terbersit bahwa kami akan sempat menduga-duga skenarioMu, mengira-ngira pemufakatan apa yang pernah Kau rencanakan dengan bala tentara malaikatMu menunduk patuh, bersayap sebersih keping salju pertama di musim dingin, berbibir basah karena selalu menyebutMu dalam bahasa-bahasa suci, dan terang seperti langit?

Ini konyol, Han. Membuatku hidup lebih lama, menyudutkanku yang tergugu karena orang-orang yang kukasihi satu-satu pergi. Sementara bangsat-bangsat berdatangan menghisap darahku sedikit demi sedikit seperti vampir berukuran nano.

Namun jika kekonyolan yang jadi kehendakMu, maka jadilah. Karena Kau si Maha Satir, Maha Lucu, Maha Sarkas. Mana bisa kusamai tingkat ke-Maha-anMu?

Maaf jika aku terlalu banyak menggugat. Aku tau, tidak mudah menjadi Tuhan dan menjadi sahabat untuk seorang perempuan berotak kotor sepertiku. Terimakasih untuk waktunya ya, Han. You know I love You.


Picture taken from Pullitzer winner of 1962 where a soldier shot by a sniper hung onto a priest at his last moment.

Labels:

Freedom of Speech, Anyone?

Posted by The Bitch on 6/03/2009 10:10:00 PM



Saya akui mulut saya sampah. Pikiran saya sedekil brutu babon baru turun petarangan setelah tuntas mengeram berhari-hari lalu berhajat. Jari saya nggak kapok mengetikkan tai. Telinga saya nggak berhenti mendengar suara setan. Namun semua saya lakukan di rumah saya sendiri. Dan apapun yang saya tanggung karenanya, saya terima dengan kepala tegak. Bales, kalo perlu.

Tapi saya risih mendengar orang terlalu sering mengeluh. Bagi saya, you are what you choose and I respect you ONLY if you live the consequences without nagging like a fucked-up, retarded baby. Saya lebih menghargai mereka yang jatuh-bangun dan babak bundas sendirian ketimbang mereka yang ribut mengaduh hanya karena lecet selarik. Seperti beberapa teman yang saya blok dari Facebook hanya karena saya gatal membaca update status tentang sakit maag, patah hati, pacar yang pergi, dan kaki terkilir karena nekat ber-high heel.

Namun ketika mengeluh mempertanyakan hak bahkan tanpa menggugat membuatmu masuk penjara... saya ada di belakangmu sepenuhnya. Meskipun saya tidak berkuasa mengeluarkanmu dari penjara, saya akan berdoa dengan satu doa sederhana jika semua usaha membentur dinding.

Seperti Wiji Tukul dalam sajak-sajak lantangnya. Hanya ada satu kata: LAWAN!!!

SPREAD THE WORD, PEOPLE. CLICK THE BANNER AND POST IT IN YOUR SITE.

WE. HAVE. TO. GET. THIS. THING. RIGHT!


... so help us, God...

Labels:

One Simple Pray

Posted by The Bitch on 6/03/2009 04:27:00 AM


Now I lay me down to sleep,
I pray the Lord my soul to keep;
If I die before I wake,
I pray the Lord to avenge my enemies without mercy.

Amen.

Rock on, God!

Labels:

237 Entri dan Satunya Cache

Posted by The Bitch on 6/02/2009 12:29:00 PM

... and what did you get after all the bruises, anger, restlessness and pain?

Play another game?

ABSOFUCKIN'LUTELY!

Tee. Hee. Hee.

Labels:

Disclaimer, lagi

Posted by The Bitch on 6/01/2009 10:40:00 PM

Once upon a time, ada seorang perempuan yang (katanya) nge-fans sama saya (nggak ngaku bakal nggak bisa pipis kamu seumur idup!!!). Gara-gara blog bangsat ini, beliau jadi sering protes, sering sebel dan sering SMS saya kalo lagi kancilen.

One day dia harus pergi ke Kalimantan hanya karena dia seneng jalan-jalan dan pengen keluar Jawa. Saya rada kaget juga tau dia udah nyebrang tanpa pemberitahuan. Yah, emang saya juga nggak penting-penting banget sih sampe harus dikasihtau.

Intinya, dia protes lagi. Meskipun belum berbilang bulan dia di Kalimantan. Katanya tempat dia tinggal sekarang nggak ada warnet, sinyal sering ilang, dan dia kesusahan buka halaman muntah-muntah ini dari hape bututnya karena ADA CONTENT WARNINGNYA.

Begini, ya. Saya pasang peringatan itu karena saya selalu 'disampahin' sama pengunjung. Lha suka-suka saya to mau nulis sekasar apa asal nggak merujuk pada satu nama?! Kalo emang nggak suka ya tinggal di klik aja itu tanda X di pojok kanan (kalok pake Windows. Nek sampean pakek Mek ya klik di pojok kiri atas).

Tapi sekarang saya mau mencoba berbesar hati, sebesar badan saya ini. Silahkan nyampahi saya. Silahkan maki-maki apa saja. Bebas. Wong tinggal tak maki balik. Gitu aja kok repot.

Oh, satu lagi. Kalo ada yang 'gatal' dan pengen nyampahi saya lebih banyak daripada di shoutbox, silahkan klik pada judul posting yang pengen kalian sampahi. Itu nanti ada form buat komen, paling bawah sendiri. Nggak pake autorisasi apapun. Nggak ada kode captcha. Nggak ada huruf atau angka yang harus diketik. Monggo, lho. Jangan bilang saya nggak visitor friendly. Saya bahkan membuka diri untuk kalian biar lebih bebas muntah-muntah disini, sebebas saya ngomel nggak jelas.

Udah. Gitu aja disclaimernya. Udah malem, ndak saya dikunciin ibu kos lagi. Bwek!

Labels:

Family Matters

Posted by The Bitch on 6/01/2009 02:47:00 PM

Baru di ujung gang, saya lihat tukang ketoprak sibuk pada gerobaknya tepat di depan rumah. Padahal Babab sedang berapi-api menjelaskan pembelaannya ketika saya teriak dari belakang Thunder merah, “Babab bauuuuu!!!”.

Ibu pasti nggak sempat masak. Padahal saya pulang karena kangen masakan rumah. Mie Ayam dan Gado-gado, makanan pokok saya tiap hari, perlu didetoks oleh makanan layak dibumbui cinta Ibu yang sekarang potongan rambutnya mirip inang-inang Batak. Sayang, ngomongnya masih Betawi logat Jawa. Meskipun sudah jago bikin arsik halal.

Turun dari motor, saya hanya sempat mencopot sepatu trekking kesayangan, melepas kaus kaki, lalu bersih-bersih seadanya ketika ketoprak pesanan saya datang. Kami makan bersama di ruang tengah. Saya, Icha, Ibu, Babab, dan Hasan sepupu saya. Anak dari abang Ibu, Pakdhe yang agoraphobia.

Lewat pukul dua belas malam dan kami mentertawakan Hasan yang gaya-gayaan jalan kaki lebih dari empat kilo karena dipikirnya Angkot masih lewat jam sebelas. Dia satu-satunya cowok yang lumayan produktif di keluarga saya. Untuk ukuran anak delapanbelas tahun, jago ngeles dan ngeyel, dari keluarga berantakan, putus sekolah, playboy cap sendal dan selalu jadi bulan-bulanan mbak-mbaknya yang usil, dia cukup tangguh. Meskipun tingginya hanya lebih sedikit dari kepala saya dan kalah oleh Icha yang menjulang 172 cm.

“Lu ngapain jalan kaki jauh-jauh banget? Nggak punya duit buat ngojek?” tanya saya.

“Ya sayang aja, Mbak. Hasan kan udah capek-capek nyari, mosok cuma diabisin buat ngojek doang?” jawabnya.

Oh, saya lupang bilang. Hasan mencari uang tambahan dengan bekerja sebagai pencuci motor siang hari. Spesifikasinya adalah steamer. Malamnya, ngamen. Dia betulkan sendiri gitar Yamaha butut saya yang teronggok setelah saya dan Icha menyerah. Katanya, dia ingin ‘melebarkan sayap’ dan cari uang saku tambahan untuk naik kapal pulang ke Gorontalo, tempat ibunya. Mereka terpisah sejak Hasan balita. Bukan karena perceraian, namun karena sang ibu dipanggil pulang mengurus kebun kopi di perbukitan Rante Pao. Tapi saya curiga. Beliau pergi membawa anak perempuannya meninggalkan Pakdhe saya karena, meskipun ganteng, setengah gila.

Ada tiga perokok di ruangan itu, namun hanya saya dan Babab yang merokok dengan nikmat. Sementara Hasan menghormati Om dan kakak sepupunya sambil menahan diri untuk tidak membakar rokok yang saya sodorkan. Anak pintar. Dia tau, mengambil rokok saya sama dengan mengikat perjanjian dengan setan. Dia pernah kapok karena prinsip saya yang ‘there is no free cigarette’ harus dia bayar dengan mengerjakan soal Bahasa Inggris semalaman.

“Anak ini keterlaluan rajin nyari duitnya. Kemaren dia bilang sama Ibu, ‘Tante, gelas Aqua berantakan dimana-mana! Hasan pengen rongsokin. Lumayan tuh duitnya!’ Ibu bilangin, jangan serakah. Udah siang nyetim, malem ngamen, kamu masih mau ambil jatah rejeki tukang rongsokan pulak! Nggak boleh!” ujar Ibu saya bercerita.

Hasan hanya cengar-cengir malu. Saya agak kaget juga melihatnya. Damn. How time flies. Dia duduk bersila mengenakan jins saya semasa SMP. Mukanya nggak jerawatan lagi seperti setahun lalu ketika dia teriak-teriak saya ajak naik Tornado di Dufan. Kulitnya langsat turunan mamanya, berhidung mbangir seperti Pakdhe saya. Nggak heran pacarnya dimana-mana.

“Mending lu rapihin, San. Terus lu kumpulin di depan, deket tempat sampah. Biar tukang rongsokan enak mungutnya. Lo juga dapet pahala!” jawab saya,

“Iya. Jangan lupa lu bungkus kertas kado terus kasih pita merah! Haha!” Icha menambah, membuat wajahnya semakin merah.

“Udah ah, Hasan tidur aja. Dicela mulu!”

Belum sempat dia beranjak, tangannya melindungi diri dari hujan korek, bungkus rokok, dan ikat rambut dari Icha dan saya berbareng dengan sorakan “Wuuu… Chicken! Payah!” yang keluar dari mulut-mulut brutal kami.

Ketika pertempuran mereda dan Hasan masuk kamar dengan selamat, saya ajukan protes pada Ibu.

“Kenapa nggak masak? Kan Ibu tau aku mau pulang?” tanya saya sambil merengut.

“Halah! Anak kurang ajar! Minggu kemaren Ibu masak gudeg karena kamu bilang mau pulang. Eh, malah nggak jadi. Ya udah, Ibu kapok.”

“Yey, inang-inang nggak pantes ngambek. Mending bikin arsik, sana. Arsik be dua. Bacanya arsik beibeh,” tukas Icha sambil mengikik.

“Jangan. Ntar pilek,” sahut Babab yang sedari tadi hanya ikut tertawa.

Protes saya dibela Babab. Beliau bilang mereka berdua pergi sedari pagi, menjemput Mbak Sus, sepupu Babab satu kakek beda nenek (Babab dari Nenek ke lima dan Mbak Sus dari Nenek ke dua. Iya. Mbah buyut saya memang playboy abis). Adi, anak lelakinya, diterima di STAN dan mereka menengok asrama yang dekat dengan kediaman Pakdhe Bo’ing—sepupu Babab yang lain—di Jurangmanggu sana.

Mbak Sus ditinggal suaminya ketika Mitha, si bungsu, masih di dalam kandungan. Sejak itu ia tidak pernah menikah lagi meskipun kecantikan membuat beberapa lelaki membawa pinangan ke kakinya. Saya mengenalnya lumayan dekat sewaktu almarhum Mbah Kakung di Tegal sering gerah dan saya selalu beliau panggil pulang. Sekarang perempuan hebat itu punya Dian, si sulung, yang menjadi guru kimia sebuah STM Pertanian di Tegal, lulusan UNES Semarang; Niar, yang meskipun hanya lulusan D3 sekarang bekerja di salah satu perusahaan dengan gaji lumayan; Adi, satu-satunya jagoan, diterima di STAN; dan Mitha masih kelas 2 di salah satu SMP favorit di Tegal.

“Pakdhe Bo’ing nanyain kamu terus, tuh. Mau disuruh nyanyi Richard Marx lagi katanya. Budhe Nunung juga kangen sama kamu. Kan kamu udah dianggap anak perempuannya, abis Mas Dimas sama Mas Regi. Heran… Sama sodara-sodara sendiri kok ketemunya cuma pas ada hajatan sama Lebaran aja,” kata Ibu.

“Yah, Budhe Nunung sih salah kalo nganggap Mbak Ipit jadi anak cewek. Icha aja kenapa, sih?!” sahut adik saya sebal.

Saya hanya tertawa. Alasan Icha terutama bukan itu. Pakdhe Bo’ing selalu lebih royal pada kami ketimbang pada keponakan-keponakan lain. Bahkan ketika saya sudah kuliah pun ‘jatah’ Lebaran—yang selalu berlebih dua lembar limapuluhribuan ketimbang Icha—masih mengalir. Hihi. Oh, dan saya, duluuuu sekali when I was young and stupid (and now it leaves only stupid), pernah cinta monyet-monyetan pada Mas Regi yang—ehm!—ganteng. Meskipun menurut ibu saya: Anak SMP cinta-cintaan mah apaan sih?! Yang penting keliatan punya titit juga bakal dia pacarin!

Jam empat pagi rumah ini mati. Hanya dengkur lembut terdengar dari kamar-kamar tertutup. Icha sudah sejak tadi lelap di sebelah saya. Dia harus berangkat pagi ke toko, menghitung stock opname yang menjadi tanggungjawabnya sebagai SPG butik di mall. Babab mengumpulkan tenaga karena masih harus jadi ‘guide’ untuk Mbak Sus dan mengantarnya naik Tegalarum jam tiga sore. Ibu juga harus bangun pagi untuk ke pasar, memenuhi tuntutan saya terhadap masakan beliau.

Saya mendadak klaustrafobik. Semua ini terasa menyesakkan. Bukannya tidak menyenangkan. Saya hanya ingin menjaga apa yang sedang saya rasakan, mengawetkannya dalam keempat bilik jantung, melindunginya dengan kungkungan kawat berduri melingkar di benak saya agar tidak nggladrah kemana-mana. Saya rindu rasa ini, setelah berbulan-bulan menggelandang mencari diri. Tidak saya sangka, ternyata hati saya ada di rumah.

Pada jejeran cenderamata pernikahan yang mengisi sebagian besar lemari display tempat Babab meletakkan kamera pencari nafkah; pada kokok monoton dua ayam pelung berjengger lebar di halaman depan; pada tumpukan keranjang anyaman dan perca pengisi waktu Ibu membuat paket Seserahan; pada gitar butut di pojok ruang tengah; pada potongan mangga manis-dingin dari halaman depan; pada buku-buku yang saya kumpulkan sejak lulus SMP; pada Gundud si kura-kura Brazil sebesar piring makan berusia tujuh tahun dan bertampang bijak; pada sepeda yang dulu mengantar saya latihan silat atau tanding basket bersama anak-anak komplek tiap sore; pada Momon McCleod boneka monyet pelipur lara semasa kuliah; saya sadar satu hal. Pulang selalu membuat saya recharged untuk kembali menantang dunia.

Labels: