"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

To My Dear Departed...

Posted by The Bitch on 5/31/2009 01:50:00 AM

I woke in my pyjamas, few minutes after midnight tonight. I cursed the hot stuffy air, empty boxes of cigarettes, my menstrual cramp, and him. One bastard who still lingered in my mind. Freely, absentmindedly. Only God knows how I wanted to shake him up and fished the answers from his mouth, from his mind, from his heart. The answers I desperately seek for the past few months, fruitlessly.

Yes, I bore this wrath, the fury that soon will be unleashed, demolishing everything in its path like a wounded beast with red eyes and blurry sight. I wanted revenge. I wanted blood. Him or mine.

This insatiable thirst was first took its shape after one quick, full-contact combat between an angel and a demon within me. No one lost, as nothing was won. They both went to their corners with head hung low, shoulders down, and eyes casted on the ground, counting the steps as a red herring from their bleeding injuries.

I watched them with anguish that I did not know why. Perhaps—just a little maybe that slightly whispering from the remotest, God-forsaken part of myself—I wanted the angel to triumph like the stories my mother once told me before drifting to sleep when I was a child. Or it might be the demon I longed as a victor because I had enough with ‘happily ever after’.

I woke in my pyjamas, few minutes after midnight tonight. Alone, abandoned, hurt. Red blood oozed from the fresh cut I made with my own knife. After so long, it felt relieving. I greeted that long lost friend from the past. He was and is still my closest friend. People called him Misery. I named him Buddy.

I asked him to sit by me, to have nostalgic conversations over two cups of coffee right on the porch, enjoying the breeze and formless voices that sometimes heard hours before dawn.

He used to pat my head, embraced me into his brotherly bear-hug yet deadly. He wanted the same now, as we silently sipped the coffee filled with memories and grieves. He looked me in the eyes, trying to persuade me in his hypnotizing glare from a pair of fathomless black seas on his face. I just smiled. I reached for his left cheek and gently stroke the cold, ragged skin under my palm. I asked him to wait a little longer before he crushed me peacefully. It will come soon before you finish saying ‘fuck’, said I. He closed his eyes and disappeared, leaving me bleeding solitarily.

I woke in my pyjamas, few minutes after midnight tonight. And I felt naked to the core. I was exposed, used, beaten, and neglected after all I had done. To myself, for the most part. I pasted the gentlest feathers onto the frame of one pair of wings I made. I pressed them hard, using the stickiest Superglue I had ever found in a convenience store. I wanted to fly against the moon tomorrow night when she appeared in full throttle, lurking phototactic animals to bathe in her light and turned them into helpless prey for their predators.

I shackled the moon, brought her down and put her into seclusion. I made her starve; I made her cry for help to the wolves as the wolves were once howling at her without response. Smarter than Icarus I was. I left at sunset. Yet, there was gravity. A jealous act of a mother that kept everything she loved to be close to her heavy bosom. An act of love, they said. And here I was: broken.

I woke in my pyjamas, few minutes after midnight tonight. I felt myself weightless. Light as the mist roved ashore from the ancient ports of England. Bodiless as the smoke rose from a fireplace in one cold winter night. Tired of my journey, I greeted the first dewdrops on the tip of every leaf. I was unable to see my own reflection, blinded by their crystal clarity. Humbly, they offered me to take the ride, sliding down the bamboo trees together and up again under the wings of a dragonfly.

I wanted to pick up the pieces of broken mother pearl, said I to one of the dewdrops. They were shouting ‘no’ in unison with face full of fright. I wanted to row the boat after I get the shreds. Again, they were shouting their refusal with more ashes on their face. I never knew why, because the sun abruptly took them away. I guess I did not have to know the answers either.

I woke in my pyjamas, few minutes after midnight. I got up and went outside my room only to see the blue sky shared the same color with my pants. I saw two moons swarmed with starlight. A confused wolf was howling from afar, neither to both. There were Andromeda and Milky Way in this tropical azimuth, while Sagittarius and Cancer constellations shone brightly in August hours of darkness. And I heard myself asking, “What the fuck is ‘awaking’, after all? Is it reality?”

Since then, I never sleep.

[ah, damn! I haven’t lost my touch!]

Labels:

Bleeding

Posted by The Bitch on 5/30/2009 10:02:00 PM

DISCLAIMER: Ini bukan cerita saya. Suatu malam ada seorang teman yang mengirimkan resahnya dalam bentuk seperti ini melalui email. Saya cuma permak dikit, biar dramatis aja. Nggak percuma punya guru nulis menye-menye. Huahaha!

“Gue nggak ngerti apa yang ada di otaknya. Is she trying to get herself killed in the office?”

Aku hanya diam di hadapan perempuan yang mengobarkan api dari mata dan batin terluka, mencoba menikmati rokok bungkus kedua kurang dari dua puluh empat jam ini. Alunan lembut musik jazz pada sound system tidak mampu meredakan amarahnya.

Di sini, di kafe tempat biasa kami menghabiskan malam, ia meledak. Temaram ruangan seperti tidak berarti bagi nyala amarahnya. Ia kecewa, tidak berdaya terhadap rekan sekantor yang positif leukemia selama sepuluh tahun terakhir. Mereka berkarib sejak pertama kali si sakit namun cantik itu menjejakkan kaki di tempat mereka bekerja menjual jasa. Pertemanan aneh, karena mereka sungguh berbeda dalam semua hal.

Si Cantik dan rekan sepenongkrongan saya ini—sebutlah namanya Si Monyet karena dia paling tidak suka orang tau siapa dirinya—seperti mentok kanan dan mentok kiri. Si Monyet item, karibnya putih; Si Monyet dekil, dia cerlang-cemerlang; Si Monyet kemana-mana hanya berkaos dan jins, rekannya modis abis; Si Monyet dari keluarga cenderung miskin, sobatnya kaya raya. Betul-betul kebalikan.

“Baru tiga taun ini gue kenal dia, cewek tangguh yang selalu ingin membuktikan pada dunia bahwa dia tegar menghadapi tekanan sekeras apapun. Buat gue itu adalah salah satu pembuktian bodoh. Karena kita semua udah tau. Kalo dia nggak tegar, dia nggak bakalan kuat menahan sakitnya jarum berdiameter hampir sepuluh senti yang menancap tanpa bius di atas tulang ekor setiap biopsi. Bekasnya bakal bolong dan nutup sendiri sebulan kemudian. This is just… Nuts!” serunya.

Aku sempat bertemu perempuan itu ketika menjemput Si Monyet di kantor. Dia, si pendiam berambut panjang berkulit pualam, dengan bahasa dan laku tubuh terjaga. Sungguh seperti langit dan bumi dengan Si Monyet yang baut pada rahangnya kendor semua. Menurut oralisa saya—karena keluar dari mulut dan bukan brutu—mereka bersahabat akibat gaya tarik layaknya magnet berbeda kutub saling melekat. Sesederhana itu.

Dia gusar sekali mengetahui Si Cantik lesu sedari pagi. Dia tau, rekannya pantang meletakkan kepala pada bantal kecil di atas meja, seberapapun hebat sakit kepala yang diderita dan biasanya berujung pada perdarahan dari hidung.

Senja tadi membawa mendung sepekat kekhawatiran Si Monyet pada Si Cantik. Wajah sepucat kapas membuat ia harus pulang sebelum waktunya. Sambil menunggu jemputan mereka bicara di beranda, berdua saja. Si Monyet penasaran bagaimana rasanya mimisan karena seumur hidup belum pernah merasakannya.

“Yah… Kayak lu pilek dan ingusan aja. Tapi pake sakit kepala segala,” sahut Cantik.

“Terus, kenapa bisa mimisan? Apa yang bikin darah itu keluar dari hidung? Apa ada pembuluh darah yang pecah? Kenapa setiap orang kena kanker pasti ada episode mimisannya?” tanya Monyet. Anak itu tak pernah habis pertanyaan dalam satu helaan napas.

Si Cantik hanya menggeleng lemah sambil masih memeluk bantal berwarna cerah.

Kusesap espresso yang tinggal setengah cangkir, tandas dalam sekali teguk. Si Monyet masih resah setelah bercerita panjang lebar. Dia kembali membakar rokoknya yang entah keberapa malam ini. Mukanya terang seketika dari api pada lighter menyala. Sepersekian detik, kureguk puas-puas lekuk lembut di sana. Pada hidung, bibir tipis ramun menggelap karena nikotin, pipi dengan noktah hitam bentuk hati semungil kepala korek api, lengkung rambut halus membentuk alis yang tak pernah tersentuh pinset, bulu mata tanpa maskara, dan dagu membulat. Monyet ini tidak pernah sadar dirinya indah. Semua dia tutupi dengan lagak sok pintar dan prilaku kelelakian. Seperti anak kucing berusaha mengaum menakuti ancaman mendekat, padahal hanya mengeong lirih minta pertolongan. Celakanya, hanya aku yang mendengar pesan dalam kode rahasia itu, lalu terseret ke dalam manik mata sekelam malam.

What do you think I should do? I hate to admit it but… I’m lost,” ujarnya setelah diam pada hembusan asap rokok ke empat.

Aku hanya mengangkat bahu. Mendadak, sebuah kotak rokok melayang, tertumbuk ke dada. Darinya. Selalu begitu jika dia kesal. Apapun bisa dia lempar. Aku tertawa, memungut kotak dengan isi setengah, dan mengembalikannya ke meja. Dia pasti akan mencarinya beberapa menit kemudian setelah rokok di tangannya padam.

“Payah! Cari solusi dong buat gue! Jangan diem aja! Kayak orang gagu deh lu, Njing!”

“Jadilah apapun yang dia perlu dan duduk diam-diam ketika dia sedang nggak perlu elu. That’s all,” jawabku.

So what’s the fucking point of what so-called friendship here? She’s the one who dragged me down and now she wants me to let her go? After I’m drowning and crying for salvation? To save both of our asses? Fuck!

Saya menggeser duduk dengan pantat bertengger di pinggir kursi, menatap ia lekat.

“Kamu sadar kamu melakukan hal yang sama padaku? Kamu sadar aku berkali-kali minta pertolongan untuk bisa lepas darimu? Kamu sadar jika aku akhirnya menyerah dan akan melakukan apapun untukmu?”

Ekspresinya tidak berubah karena semua pertanyaan itu hanya tercekat dalam tenggorokan tanpa pernah kusuarakan.

Do you really care for her? Are you really her friend? Are you ready to sacrifice your own dignity for her?”

I don’t know,” jawabnya.

Do something that I know: do it. That’s what I do for one of my friend. You.

Easy for you to say. You’ve got no dignity at all.”

Have you?”

“Haha!”

“Pulang yuk. Nanti lo kekuncian lagi. Gue lagi males begadang nemenin cewek bandel,” ujarku sambil meraih kunci motor.

Malam kembali kulalui tanpa tidur, mengingat senyum terkembang pada pagar pintu kos-kosan setelah aku mengantarnya pulang. Senyum yang kurindukan diam-diam.

Labels:

Untitled, Anyone?

Posted by The Bitch on 5/29/2009 03:59:00 AM

Belum ada satu menit ponsel menggeletak di sebelah Pektay ketika dia kembali bergetar. Ada pesan pendek masuk. Darinya yang mengisi satu jam lepas tengah malam saya dengan SMS kerjaan dan cinta. Di penghujung kata, saya tersenyum pada layar ponsel butut murahan dalam genggaman.

“Nitey nite, Pit. Luv ya! :-*”

Dan saya balas dengan:

“It’s already morning, Hun. Luv you more! Mwah!”

Ah. Cinta. Manis sangat. Berbanding terbalik dengan penjabaran Al Ghazali perihal sebentuk rasa yang pertama membakar kemudian membunuh.

Sudah beberapa hari ini waktu saya dibanjiri celoteh orang-orang kasmaran dan kehilangan. Saya merasa petuah Coelho sedang bekerja dalam keajaibannya dan melingkupi semesta saya, ketika saya mencari jawaban dan seluruh aspek jagad raya membantu menemukannya. Tidak berlebihan, karena saya berkali-kali mengalami hal semacam ini.  

Salahkan saya dan siklus pematangan sel telur sebelum kembali meluruh. Karenanya saya luarbiasa peka beberapa hari dalam sebulan hingga hampir dapat melihat hantu (dan saya sangkal habis-habisan karena saya aslinya penakut sok berani). Namun menyoal cinta adalah membedah emosi berkelindan seperti sepasang ular birahi saling berpagut. Ada sayang, cemburu, kepemilikan, keberhakan, harapan, realita, kepercayaan, kompromi, intrik, pengorbanan, kesetiaan, ujian, tanggungjawab. Dan nafsu.

Variabel terakhir itulah yang—tanpa saya sadari—sering membuat tergelincir dengan muka menghantam tanah.

Sebagaimana—menurut teman saya—konflik di seluruh dunia berawal dari perut dan bawah perut, saya merasakan yang terakhir. Bukan masalah selangkang. Ini tidak ada urusannya dengan perkelaminan, karena nafsu tidak melulu membincang genital. Ini tentang sebuah tindakan yang kerap saya tekan karena akan memperburuk mental megalomania saya: perasaan menguasai.

Saya control freak. Saya harus selalu berada dalam posisi menguasai medan. Itu kenapa saya khatam berkali-kali bab demi bab Art of War karya agung Sun Tzu. Meskipun hanya versi komik. Bagi saya ini hanya bagaimana bermain dan mempermainkan. Dan saya aplikasikan dalam semua aspek kehidupan. Mulai dari pekerjaan, sosialisasi, nego-nego najis, bahkan dengan nasib dan Tuhan. Meskipun dalam warna-warni pelangi.

Saya hanya punya satu rule: Knowing how to start and when to stop. Walau kadang mentah dan jatuh berkali-kali. Menyesakkan memang, menjadi pihak yang kalah. Namun saya berbesar hati. Jika permainan tidak dimenangkan, saya akan main lagi sampai menang. Haha!

Malam ini jemari saya menari di atas keyboard putih dekil teriring beat funk fusion Two Ton Shoe yang hanya berisi tujuh lagu. Setelah mencoba menenangkan diri dengan album lounge Siddharta: Spirit of Buddha Bar, saya klik playlist yang saya dapat tujuh tahun lalu itu. Saya mengenang satu-satunya permainan seri dalam hidup yang berlangsung empat tahun. Melibatkan perasaan sayang, kepemilikan, keberhakan, harapan, realita, kepercayaan, kompromi, intrik, pengorbanan, kesetiaan, ujian, tanggungjawab, nafsu, namun tanpa cemburu. Saya bahagia karena saya bisa mengenang sambil tersenyum, melupakan torehan panjang luka berdarah yang kami buat sendiri. Meskipun makan waktu bertahun-tahun. Saya payah jika harus berurusan dengan hati dan relationshit. Makanya nggak pinter-pinter. Begitu yang dibilang ibu saya.

Hampir seminggu yang lalu ketika malam hampir pagi. Seorang perempuan membasahi guling merah saya dengan airmata, tepat di atas seprai hitam dalam dunia kotak tiga kali tiga tempat saya pulang. Dia menangisi kenangan, menangisi tatu yang belum purna mengering, menangisi perih yang masih menghunjam uluhati saat mengingat, berusaha mencuci otaknya sendiri dengan pemikiran ‘saya baik-baik saja’ yang terus berulang layaknya mantra. Saya meminta pemaklumannya karena tidak bisa turut dalam tangis dan malah beres-beres lemari. Padahal saya ingin sekali melarut bersama gulir air bening meluncur turun ke pipi yang katanya bisa menjadi penyucian jiwa. Asalkan jangan terlalu sering.

Satu hal yang masih saya pelajari bertahun-tahun adalah semua luka akan tersembuhkan melalui pemaafan dalam koridor waktu, meskipun tidak terlupakan. Sebab kita butuh kenangan sebagaimana anak sekolah perlu buku catatan yang akan menjadi rujukan ketika harus belajar menghadapi pop quiz. Dan saat level belajar saya meningkat, saya hanya perlu kenangan sebagai sebuah tesis yang akan saya bikin komparasinya dengan peristiwa sekarang sebagai anti tesis. Karena hidup adalah bergerak dan berubah, maka akan sangat bodoh jika saya terus berpegang pada tesis lawas untuk selalu menghidupkan kenangan, untuk selalu menoleh ke belakang.

Ada masa ketika kenangan mengejewantah di hadapan tanpa saya bisa mengelak. Jika itu terjadi, saya hanya akan menjalaninya dan sedikit bernostalgia tanpa harus terseret pusaran masa lalu. Saya bukan manusia dalam gambar yang terbekukan oleh kertas foto dan tinta lalu dilipat dan dimasukkan ke dalam dompet untuk ditengok sesekali. Dan saya tidak ingin membuat orang lain seperti itu karena saya sendiri tidak punya dompet atau album foto.

Rencana adalah untuk para organizer yang menginginkan hidup tanpa kejutan. I am a gamer and I play the game of life, with all the roller coaster rides in between. Saya. Hidup. Untuk. Hari. Ini.

Carpe diem, baby!

[dedicated to all people who live in the memories of their past and one helluva Ignatius who taught me to love against all odds, to stand tall and proud, patiently, unconditionally: what we had is a real something, don’t you think?] 



Labels:

Yet Another Thought

Posted by The Bitch on 5/28/2009 02:04:00 PM

"Why you said you love me?" asked I.
"Because you could do things I couldn't," said he.

And I wonder was it because I could operate a Mac of my own instead of him only his Windows?

Hmmm...

[kita berangkat dengan rima dan kopi secawan, berkawan bentangan kalam yang menantang awan. mind that!]

Labels:

Kawin, Anyone?

Posted by The Bitch on 5/28/2009 11:45:00 AM

Saya pernah mengenal penulis melalui jejaring laknat bernama internet (yang tanpanya saya tidak bisa hidup sehari saja. Argh!). Dia cowok, (terlihat) ganteng (di foto), mengaku berprofesi EO, dan ‘baik-baik’. Maksudnya, dia sempat cerita sudah punya pacar dan tidak mencoba ‘menjaring’ saya. Itu adalah salah satu ciri-ciri tipe cowok baik dan sangat tidak menarik menurut saya. Well, karena obrolannya basi, tulisannya garing, dan saya cepat bosan, saya sering membiarkan jendela YM darinya berkedip tanpa saya respon. Atau langsung saya tutup tanpa melihat isinya.

Suatu kali dia meninggalkan offline message tentang poligami, karena dia mengaku sedang riset kecil-kecilan. Entah kenapa yang ini terbaca oleh saya. Hmmm… Menarik. Tapi, lagi-lagi karena kebasiannya, saya juga jawab sebasinya. Iya, ini nggak typo. Taglinenya adalah basi.

Jujur saja, saya setuju poligami dengan saya sebagai istri muda. Setidaknya saya akan punya mitra dalam mengurus seorang bayi besar bernama laki-laki, terlepas dari stigma perempuan kedua yang berkonotasi gatal, ganjen, dan mata duitan.

Wacana istri muda sebenarnya sudah sering kami bicarakan, saya dan kawan-kawan perempuan satu pondokan. Terbersit pada gosip pagi tepat di depan kamar saya sambil mengantri kamar mandi sebelum berangkat kuliah. Menjadi diskusi utama pada malam-malam tanpa tidur karena resah yang tidak kami kenal namanya. Bahkan pada gelisah mbak-mbak ‘ninja’ di kanan-kiri kamar saya di Jogja dulu, sepulang liqo’. Terselip diantara perbincangan mengenai kitab dan ruju’ yang saya dengar sambil cekikikan diam-diam dari balik pintu.

Sebagian besar dari kami menolak dimadu atau menjadi madu, kecuali mbak-mbak ‘ninja’ yang pasrah pada pilihan murabi mereka. Saya, sebagai orang yang tidak percaya lembaga pernikahan, hanya cengar-cengir mendengar mereka berdebat. Kadang jadi provokator untuk salah satu pihak, supaya si jilbab cihuy yang hanya ber-tanktop dan celana superpendek meradang ke mbak ‘ninja’ yang keukeuh berkulot sematakaki dan kaus tangan panjang.

Si tanktop ini macan Persma. Tulisannya garang, segarang rautnya jika sedang kesal. Benaknya meledak-ledak, berlawanan dengan senyum kenes dari bibirnya jika dia tersipu. Dan dia percaya seharusnyalah satu perempuan untuk satu laki-laki hingga maut memisahkan.

Ketika saya hijrah ke Jakarta dan lagi-lagi harus nge-kos, saya bertetangga kamar dengan perempuan berjilbab yang juga ikut liqo’ tapi—puji Tuhan—bukan ‘ninja’. Dia ternyata sudah siap jika suatu hari nanti dia harus jadi istri kedua atau bersuamikan duda. Lagi-lagi terserah pilihan murabi meskipun dia bisa menolak jika ta’aruf berujung buntu.

Satu hal yang mengelompokkan mereka, perempuan-perempuan pengajian yang saya temui dalam rentang waktu berbeda, adalah keyakinan bahwa mereka akan menikah karena Allah. Tapi sering niat mulia itu terbentur permintaan para lelaki yang menginginkan kulit bersih, tubuh langsing, kesehatan luarbiasa prima untuk mampu menjadi mesin seks dan anak, serta kesabaran tiada batas. Meski tertutup kain sekali pun, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Padahal mereka piara jenggot seperti Nabi. Padahal karena takut najis dunia menempel pada ujung keliman, celana-celana mereka berakhir tepat diatas mata kaki. Padahal dahi mereka menghitam karena seringnya menggerus sajadah dalam sujud-sujud panjang.

BAH!

Tentang menikah, orangtua saya membebaskan sebebas-bebasnya. Entah saya mau melajang sampai mampus atau khilaf diperistri seseorang suatu hari nanti, mereka tidak pernah bertanya. Atau… Mungkin bosan karena topik itu selalu saya tangkis dengan bermenit-menit argumen yang saya susun layaknya tesis. Biasanya, Babab hanya akan balik-kanan-bubar sambil geleng-geleng kepala. Ibu? Beliau hanya akan berkata ketus: “Di kampung pelosok sono, seumuran kamu mungkin udah jadi janda lima kali dan rantang-runtung kemana-mana bawa anak kecil minimal tiga!” Ah, love you both for this!

One day adik saya pernah bertanya pernahkah saya berpikir untuk menikah? Saya jawab, ya. Dengan alis bertaut dan pengalaman bertahun-tahun punya kakak selicik jin Bartimaeus, dia bertanya lagi: “Syaratnya apa?”

“Well, si cowok khilaf ini harus punya modal buat nguliahin gue, minimal S1, di luar negeri. Dia juga harus setuju untuk nggak punya anak sama gue karena I hate being pregnant. Even seeing a pregnant woman hurts and annoys me. Lagipula dunia udah terlalu penuh buat ketambahan satu nyawa lagi. Kalo dia mau anak, kita bisa adopsi dari panti asuhan. It’s no big deal. Bullshit itu prinsip yang bilang bahwa anak bawa garis darah. Itu cuma usaha egoisme laki-laki aja supaya bisa tetep eksis bahkan ketika badannya udah dimakan cacing. Oh, dia juga harus nyediain koneksi internet unlimited 24/7, betah dikebulin asep rokok dan uap kopi panas, harus bisa masak, dan suka musik-musik gue. Bakal ada pre-nuptial agreement yang harus dia kritisi dan kita rancang bareng minimal tiga bulan sebelum hari-H. Gue juga nggak mau ada resepsi yang bikin gue ditonton dan nggak bisa ngembat kambing guling di pesta gue sendiri. Kalopun harus ada pesta, gue mau slumber party dimana semua orang boleh pake piyama. Termasuk pengantennya. Syarat yang sama juga gue ajukan buat siapapun yang pengen jadiin gue istri muda. Dengan tambahan, kuliah full scholarship minimal S2, di luar negeri. Kalo salah satu dari itu dia nggak mau turutin, mendingan penghulunya dianter pulang lagi aja.”

Begitu jawaban saya.

Adik saya hanya bengong sejenak, menghela napas panjaaaang sekali, lalu beranjak bangun dari duduknya di sebelah saya. Setelah itu dia meletakkan telunjuk tepat di tengah jidat saya dan mendorongnya ke belakang sambil berkata: “Sebenernya lu mau cari suami apa beasiswa?”

Ah, adik saya memang pintar! Nggak percuma punya kakak seperti saya!

Labels:

About Judgement

Posted by The Bitch on 5/26/2009 03:14:00 AM

Malam ini Kang Ucok kembali menyalak galak, melagukan heroisme David melawan Goliath dalam ‘Tantang Tirani’. Lagu ini biasa saya dengarkan jika sedang patah hati, sekedar pengingat bahwa ada banyak hal yang lebih berarti dan lebih penting untuk dilakukan ketimbang meratapi nasib dan merekatkan kembali kepingan jiwa satu-satu.

Sungguh, saya nggak lagi patah hati atau apapun lah itu sebutannya. Saya hanya sedang berpikir bodoh tentang betapa penilaian menjadi tak ubahnya tiran yang menindas benak, mengkotakkannya ke dalam satu kardus khusus, ditutup, lalu dilakban berkali-kali. Penilaian, prasangka, justifikasi, pembenaran, membutakan semua indera-indera manusia. Hanya gelap pemikirannya sendiri yang dapat dia lihat. Tanpa celah sedikitpun untuk dapat melirik keluar kotak. Apalagi melenting tinggi melebihi kardus dan melihat semua seperti seekor elang memandang hijau dan indah daratan dari kumpulan mega-mega.

Sedari kecil saya hidup melawan telunjuk-telunjuk yang mengarah ke jidat. Akibat pernikahan mirip Romeo dan Juliet, kedua orangtua saya harus babak bundas membuktikan bahwa mereka bahagia (dan terbukti hingga sekarang mereka adalah pasangan tua-tua paling funky yang pernah saya kenal, berpuluh tahun kemudian). Ketika saya lahir ‘berbeda’, saya harus buktikan bahwa saya bisa melebihi teman-teman saya yang ‘seragam’. Ketika saya jadi ‘anak bawang’ pada seleksi Bina Vokalia Children’s Choir, saya buktikan dengan menjadi solis teriring denting piano yang dimainkan almarhum Pranajaya. Ketika ben saya hanya terdiri dari bass, satu gitar, drum dan vokal, kami mampu membawakan Green Tinted Sixties Mind sebagus Mr. Big pada Festival Rock Log Zelebour di Ancol (padahal saya datang dengan seragam putih-biru). Ketika saya dicaci karena terjemahan Arab-Israel saya dianggap ‘kiri’, saya kirimkan buku itu kepadanya (dan saya akan selalu mengingat bahwa pernah ada satu negara bernama Palestina meskipun Encarta, Wikipedia dan hampir semua ensiklopedi dunia menghapusnya dan menggantinya dengan Israel. Fuck!).

Tak ada satu pun dari semua itu saya tanggung tanpa meninggalkan luka berdarah seperti cambukan tentara Romawi di punggung Yesus. Dan dengan cara itu saya masih dapat bertahan hingga sekarang.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan daripada sekedar menempelkan cap pada jidat-jidat manusia lalu-lalang yang saya temui tiap hari. Namun tenyata pemberian stempel itu menjadi tak terhindarkan. Seperti setting standar, ketika kita bertemu orang baru, melihat fenomena nggak umum, atau gagap menyikapi hal yang tidak kita tau sebelumnya.

Ada banyak ‘layer’ yang harus saya gali ketika saya memandang sesuatu. Itu yang diajarkan trilogy Matrix dan My Phoenix Brotha #1 dan sampai sekarang masih saya junjung kemana-mana. Jangan kamu lihat permukaan, Pit. Look deeper. Karena kadang pertanyaan memerlukan lebih dari satu jawaban. Begitu katanya, suatu waktu.

Sama seperti Kangen Band yang musikalitasnya ngaujubilah di bawah standar tapi semangat juangnya tinggi sekali. Alih-alih bikin demo berjuta-juta, mereka merekamnya sendiri ketika sedang berlatih dalam studio musik murahan yang mereka sewa dengan cara urunan. Mereka, tukang cendol, kuli bangunan, dan anak jalanan itu, mengais rupiah demi mimpi menjadi terkenal, dengan skill minim sekalipun. Demo ngasal ini lantas mereka sebar secara gerilya di lapak-lapak DVD bajakan yang menjamur di negeri kita tercinta. Perlu semangat edan, waktu nggak sebentar dan mimpi gila-gilaan untuk bisa mencapai taraf seperti mereka sekarang. Apalagi ketika ngetop pun mereka masih menuai cacian dari jumawa-jumawa yang merasa lebih mampu, lebih jago, dan lebih layak. Meski lagu-lagu mereka bukan preferensi saya, saya acungkan semua jempol yang saya punya untuk kegigihan mereka. Mereka patut mendapatkannya. Dengan poni menutup sebelah mata sekali pun!

Kadang saya heran pada orang-orang yang merasa diri pintar tanpa pernah membagi kepintarannya. Mereka yang sekolah tinggi-tinggi hanya demi gaji berjuta-juta untuk diri sendiri. Mungkin cuma saya yang berpikir bahwa keberuntungan harus ditularkan. Bahwa kesempatan mendapat ilmu tidak harus bersekolah. Bahwa informasi seharusnya dibagi rata, penguasa dan rakyat. Bahwa kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan adalah nilai yang tak lekang dipegang, tidak hanya diteriakkan kala Revolusi Perancis pecah.

Saya mencibir orang-orang yang memberi sekedar lima ratus atau seribu rupiah pada pengemis kanak-kanak dan pengamen-pengamen cilik. Untuk apa jika ternyata kemudahan mendapatkan uang di jalan hanya membuat anak-anak itu malas belajar, membuat waktu bermain terrenggut, dan meracuni benak bersih mereka dengan nominal rupiah? Karena ingin mendiamkan nurani yang kisruh? Menjauhkan mereka dari lingkungan aman untuk bermain, tumbuh dan berkembang seperti sekolah dan melemparkan mereka ke jalan? Tidak, bukan seperti itu caranya!

Karena uang adalah tiran, lawan kuasanya.

Saya terhenyak mendapati tas selempang seorang teman berisi beberapa kotak susu seratus mili hanya karena dia ingin membongkar kardus penilaiannya tentang uang. Menurutnya, anak-anak itu lebih butuh susu untuk pertumbuhan tulang dan sebagai pertahanan terhadap timbal yang terhisap tiap hari, bukan uang. Teman saya yang sempat jadi aktivis dan hidup di jalan ini bilang anak-anak itu hanya tau sate sebagai makanan paling enak, botol gepeng sebagai minuman surgawi, atau lem Aica-Aibon yang akan membawa mereka melupakan kemiskinan. Dan itu yang akan mereka beli ketika beberapa rupiah ada di tangan, meskipun tidak setiap hari. Bahkan ketika usia mereka belum genap sepuluh.

Sebenarnya, saya sendiri juga curang. Saya sadar sepenuhnya bahwa saya meletakkan ‘judgement’ di ujung jari yang mengetuk huruf pada papan kunci hanya karena kepala sarat beban kerja. Saya muak pada sistem hidup dimana nasib lamban sekali berubah dan kesempatan jarang sekali datang pada mereka yang benar-benar membutuhkan. Saya muak pada orang-orang yang hanya bisa menunjuk. Saya muak pada mereka yang berpura-pura punya wajah malaikat. Saya muak pada mereka yang hanya bisa menangis tanpa bisa berbuat apa-apa. Saya muak pada janji-janji penguasa. Saya muak pada kebohongan. Saya muak pada subliminal message yang terpampang pada iklan televisi dan majalah. Saya muak pada gelontoran barang mewah di mall. Saya muak pada taipan-taipan korporasi berongkang-ongkang kaki sementara kami para buruh harus memeras darah demi nasi sehari sekali dan susu anak-anak kami. Saya muak pada setan yang selalu dipersalahkan. Padahal manusia lebih berpotensi untuk jadi lebih jahat daripada jahatnya setan.

Mungkin suara saya cuma jadi desahan lirih seperti angin yang hanya mampu menggerakkan sehelai daun. Seperti Homicide tenggelam dalam gemeretak roda-roda kapitalis. Seperti Tolstoy mati sendirian. Seperti Chairil terkapar karena sifilis. Seperti Marquis de Sade meregang nyawa dalam kubangan kotorannya sendiri. Atau Gie yang hilang ditelan gemunung.

Namun saya masih punya semangat untuk bergerak. Hayuk atuh, Kang Ucok?

[do I look like a rebel without a pause here?]

Gambar adalah pemenang Pulitzer tahun 1963. Thich Quang Duc, seorang biksu Buddha di Vietnam Selatan, membakar diri hingga mati sebagai protes terhadap penyiksaan para biksu oleh pemerintah. Thich Quang Dug tidak bersuara sama sekali hingga tubuhnya menjadi abu. Visualisasi 'gila' mengenai beliau pernah dilakukan Linklater dalam film animasi 'The Waking Hour', film yang nggak berhasil saya tonton hingga usai karena otak saya overloaded...

Labels:

Hihihi... *giggles*

Posted by The Bitch on 5/25/2009 05:58:00 AM

Terbangun pukul setengah dua dinihari setelah tepar dari jam sepuluh memang bikin kesal. Enam puluh menit kemudian saya bertambah kesal karena usaha untuk kembali merem seperti mandul. Akhirnya saya bangun, menyalakan lampu, dan buka lemari. Aha! Pringles gede Original flavor! Just what I need in times like these! Saya pun merobek tutup aluminium foil paling atas dan mengunyah lembaran-lembaran kentang renyah setipis kertas dengan nikmat. Hail Pringles!

Seperti yang biasa terjadi setiap saya ngemil makanan jahanam itu (karena mahal dan jarang saya beli) adalah: Lupa berenti. Bener, kan. Tau-tau abis setengah kaleng. Anjrit! Nggak, saya bukannya takut hasil kalkulasi karbohidrat didalamnya akan menambah tumpukan lemak sekitar paha dan pinggang. Itu saya nggak peduli. Mau digimanain juga udah default. Saya cuma sebel jika beberapa hari kedepan nanti saya iseng kebangun tengah malam dan keabisan rokok, saya cuma bisa nginyem nggak ada yang dikunyah. Iya, saya tau. Masih ada sendal. But, trust me. Itu bukan pilihan bijak.

Karena stres sendiri, saya bikin susu hangat full cream segelas besar plus madu satu sendok, my last resort kalo udah mandi, siap-siap tidur, tapi gagal di ranjang (err… sounds ‘berlendir’ ya? Don’t you think). Tenang, tenang. Saya cuma tidur berdua Udoph. Boneka reindeer berhidung merah, salah satu penarik kereta Santa, sepanjang tiga puluh senti yang saya jadikan penahan deretan buku-buku yang belum saya baca, tepat di kepala tempat tidur.

Sudah habis setengah gelas dan tanda-tanda kengantukan nggak juga mampir. Argh! Mau marah rasanya. Sindrom Malem Senen saya hampir selalu seperti ini. Karena paginya harus kembali memburuh sementara leyeh-leyeh dan jalan-jalan belum tuwuk, saya seperti anak SD dibelikan sepatu baru. Nggak bisa tidur, nggak sabar menunggu matahari nongol. It happened few times with my lil sista, a long, long time ago. Sementara saya kebalikannya: Sebagai buruh telatan, selalu benci hari Senin dan mencoba menikmati detik-detik libur berakhir. Iya, buruh teladan dan telatan memang cuma beda satu huruf, tapi fatal!

Akhirnya, mau nggak mau, suka nggak suka (halah!), saya colokin juga si Pektay dan buka aplikasi Pac Man. Master mode, yang cuma dikasih cahaya seteropong, bikin si imut kuning itu nggak tau dimana setan-setan pemburunya. Biasanya sih berhasil bikin saya kecapekan karena kalah terus. Hihi. Entah karena tadi saya sempat bengong di kafe atau masih kebayang mas-mas lucu yang saya lirik di Kopaja, ternyata saya bosen nge-game. Jadilah, saya ngetik entri nggak penting ini jam setengah empat pagi. Preambulenya panjang yaaa…

Jadi, sepanjang jalan pulang-pergi ‘membodoh’ tadi, Kopaja 63 yang saya jogrogin dari terminal Blok M nggak juga keliatan bentuk dan rupanya. Padahal sudah 45 menit saya pantengin bareng 3 batang rokok yang mati syahid masuk tempat sampah dan hampir satu album Untouchables-nya KoRn menyumpal telinga. Walhasil, saya lompat deh, naek Metromini 75 ke Pasar Minggu JUST BECAUSE DI DALEMNYA ADA MAS-MAS LUCU!!! *drooling*

Okay, sorry to disappoint you, guys. But my definition about mas-mas lucu biasanya nggak sesuai sama definisi cewek-cewek pada umumnya. Saya juga baru dapet rumusannya beberapa bulan belakangan ini, ketika saya sedang mencoba mapping cowok yang bisa bikin saya nengok dua kali karena saya bosen ngelirik cewek.

First, he has to have tampang badboy. Biasanya terbantu dengan gaya belagu (tapi nggak norak), topi militia, rada gondrong, nggak kinclong, atau jenggot dikiiit aja. Yah… seperdelapan jenggotnya Syeh Puji, lah. Dan celana kain is a big no-no. Cowok badboy kayak gini biasanya pakek jins belel atau malah yang udah robek macem abis berantem sama macan. Bawa ransel hitam, bersepatu kanvas kumal atau sandal gunung. Biasanya juga cuma mengenakan kaus oblong. Kalau pun dia harus berkemeja, biasanya kotak-kotak lengan pendek, atau lengan panjang yang digulung sampai atas siku. Nggak pernah polos.

Kedua, anatomi muka. Cowok yang bisa bikin saya nengok dua kali biasanya punya garis rahang tegas, hidung tinggi, sepasang mata tengil dibawah alis tebal, dan bibir yang seperti selalu senyum ngenyek. Mas-mas tadi kayak gitu.

Ketiga, bodi. Minimal, dia harus lebih tinggi dari saya dan nggak bungkuk. Dia juga harus punya bokong nggak tepos. Meskipun padat dan kencang lebih preferable. Huahahahaha! Yang cungkring kayak orang nggak makan seminggu nggak bakal saya lirik. Saya nggak suka cowok kurus. Kebayang, kemana-mana kenanya tulang.

Keempat, nggak putih. Saya sebel sama cowok-cowok putih (Hai, A’ Abi!). Saya paling seneng jalan-jalan kemana-mana sama cowok item. Karenanya saya suka jalan bareng Si Jin Laknat yang keturunan Arab-India itu *menjura pada Oyek*. Dia bikin saya terlihat terang.

Si mas lucu itu punya semuanya, sayangnya. Waktu dia turun di Mampang, saya cermati pantatnya padat dan kencang terbalut jins belel. Iya, ranselnya hitam, sandal gunungnya Boogie, topinya Eiger. Meskipun Mampang masih setengah jalan ke Pasar Minggu, tujuan terakhir saya, tapi saya puas liatin mukanya. Hihi. Meskipun kursi di sebelahnya kosong, saya memilih duduk di deret paling belakang karena lutut saya nggak bakal mentok dan saya lebih bebas buat melototin dia ketimbang disampingnya.

Pasti pada teriak saya bego karena saya nggak ambil kesempatan baik itu buat ngajak kenalan. Gini, ya. Ada perbedaan antara cowok yang fungsinya sebagai Vitamin A (baik untuk kesehatan mata dan mental atau cuma buat diliat doank), berguna sebagai Ginko Biloba (bagus untuk ketajaman otak dan layak ditemenin), dan bermanfaat seperti mens sana in corpore sano (baik untuk jiwa-raga, karena itu FARDHU 'AIN buat dipepet).

Cowok jenis pertama itu biasanya punya ego setinggi Everest dan pintar. Jadi, selain bisa dipergunakan sebagai Vitamin A, dia juga bisa berfungsi sebagai Ginko Biloba. Tapi itu kalo udah kenal lama. Tipe-tipe seperti ini hanya bisa tertarik pada cewek-cewek mainstream yang pastinya nggak naik Kopaja atau Metromini. Mereka punya dendam untuk bisa menundukkan perempuan semacam Dian Sastro yang pintar-cantik-kaya-terkenal. Saya juga males ngajakin ngomong, karena pasti kalah terus. Tapi emang biasanya mereka udah punya pacar, sih ((=

Cowok jenis kedua ini biasanya adalah para belahan biji saya. Tampang? Bodi? Penampilan? Ancur semua! Ada yang mandinya kalo temen-temen seruangan udah mulai tutup hidung sambil mengernyit setiap dia lewat; ada yang baru sikat gigi kalo setiap bangun pagi mulutnya seperti mengulum mentega semalaman *yucks!*; sering lupa ‘ngebacem’ pakaian kotor di larutan deterjen selama 3 hari sampe baju dan celananya bladus semua; ada yang sok keren tapi tepos; ada yang fetish-nya toket segede gaban; macem-macem lah. Kalaupun ada yang ganteng, nggak keliatan sama sekali karena saya udah tau setai-tainya. Tapi bareng mereka lah saya nyaman. Dan karena mereka lah saya sadar saya masih berfungsi sebagai manusia. Setidaknya buat lawan cela-celaan. Karena saya harus berpikir kuantum untuk melawan celaan mereka yang seperti karabin, ITU yang bikin mereka jadi Ginko Biloba!

Jenis ketiga adalah yang sesuai dengan semboyan jaman orde baru, masa-masa dimana olahraga dimasyarakatkan dan masyarakat diolahragakan *rollingeyes*. Cowok macem ini biasanya mapan-pintar-berduit-matang. Oh, yang pasti berusia diatas 35 dan sudah punya anak minimal satu. Entah puber keberapa, cowok model kayak gini biasanya senang ngobrol sama cewek seusia dan semacam saya. Dan saya menyebut mereka sebagai om-om. Karena berduit, mereka nggak pernah protes saya minta nongkrong dimanapun. Dan karena mapan, mereka tetap terlihat bersih karena kemana-mana bawa mobil. Dan karena mereka pintar dan matang, mau ngobrolin apapun biasanya lancar jaya maju bersama. Dan… Karena mereka suami dan bapak seseorang, mereka adalah cowok-cowok yang ‘aman’ karena nggak bakal mendadak berlutut dan meminta saya menikah dengannya (halah! Kayak ada yang mau aja!). Aman juga buat mereka karena nggak bakal saya tandangi terus tiap hari buat minta traktir.

Yang paling penting, pengalaman bikin mereka punya banyak cerita dan banyak referensi. Ini juga bikin mereka jadi Ginko Biloba sekaligus punya ego setinggi langit. Just my kind of perfect toy *nyengir najis menjijikkan*.

Menurutmu, setelah baca uraian saya di atas, mana yang paling sering saya deketin? Iyak! Om-om! Damn, they’re good! Haha!

(Anjrit! Ini posting superbasipisan!!!)

Labels:

Once Upon An After-midnight

Posted by The Bitch on 5/22/2009 12:16:00 AM

Ada dua perempuan merokok di beranda pada pagi pukul tiga. Yang satu gamang memegang sloki berisi Tequila dingin, sementara satunya khusu’ menyesap kopi pahit-panas-kental seperti shaman perempuan menghirup darah perawan persembahan. Saat itu dia memutuskan untuk tidak ikut mabuk agar bisa berpikir dan berbagi kejernihan hati mendengar kejujuran jiwa mabuk dihadapannya.

“Kamu tahu, Nduk? Ada yang aneh pada lelaki-lelaki beristri. Mereka selalu lebih menarik meskipun secara penampilan jauh lebih payah dari brondong-brondong ganteng yang nggak kalah pinter. Kenapa ya?” tanya Si Pemabuk.

“Mungkin karena mereka milik wanita-wanita jalang.”

Alisnya bertaut, mencerna kata-kata dalam benak setengah hilang.

“Gini lho, Mbak. Maksudku, kadang sesuatu yang tidak mungkin teraih akan membuat dia jadi megah dan agung. Dan lebih menantang. Itu yang membuat lelaki beristri selalu terlihat lebih keren. Karena status mereka membuat satu benteng default: tidak tersentuh. Yah… setidaknya begitulah menurut logika bodohku.”

“Hmmm… Gitu ya? Aku baru tahu.”

“Sekali lagi, ini logika bodoh lho, Mbak. Jangan dipercaya. Apalagi keluarnya dari mulutku yang sebusuk septikteng,” tukas Perempuan Kopi.

“Tapi ini paling aneh dari kasus-kasusku yang lain. Dia sadar sepenuhnya dia beristri, begitupun aku. Karena itu aku memendam hati. Tapi ternyata tidak seperti yang kuharapkan.”

“Memangnya kamu berharap apa?”

“Agar dia memperhatikanku sebagai adik, sebagai murid, sebagai bawahan, apapunlah! Selain jadi objek pemuas napsu.”

Pemabuk seperti bicara pada gelas dihadapannya, melontarkan kata demi kata tanpa menoleh pada teman bicaranya.

“Kamu yakin, Mbak? Bukannya kamu selalu mencari lelaki yang dapat memuaskan napsumu untuk menguasai? Untuk mendapat pengakuan bahwa kamu femme fatale?”

“Justru itu, Nduk. Dia lain. Dari awal aku sudah putuskan untuk menghamba, untuk ditaklukkan. Aku berhasil. Dia tidak.”

“Mungkin kamu terlalu irresistible buat dia, Mbak! Haha!”

Dia kesal. Bibirnya merengut menggemaskan.

“Jangan diketawain, dong. Ini kan bukan sesuatu yang lucu!”

“Lha… Kalo kamu ada di tempatku sekarang, ini lucu!”

Perempuan Kopi meletakkan gelas bertangkai ke meja yang memisahkan mereka berdua. Kakinya diangkat ke kursi hingga lututnya menyentuh pipi. Pandangannya lurus menatap perempuan di hadapannya, mencari satu kepastian tentang isi hati.

“Kamu yakin nggak cinta sama dia, Mbak?”

Pemabuk mendesah.

“Aku nggak tahu harus diberi nama apa rasa ini. Cinta? Nggak. Aku kagum sama dia. Cemburu pada pengalaman yang pernah dia kunyah seumur hidup. Luruh pada sikapnya yang santun.”

“Lalu… Kenapa kamu mabuk malam ini? Mengapa kamu begitu pathetic?”

“Karena aku marah dan aku nggak tahu mesti gimana!”

“Lho? Kenapa?”

“Karena dia bilang dia cinta!”

“Yah elah!!! Kamu percaya, Mbak?! Setahuku, lelaki kayak gitu itu buaya! Apapun dia bilang buat dapetin tidur semalam dengan perempuan cerdas macam kamu! Kamu piala buat lelaki manapun yang nggak cuma mikir tentang tampang cantik dan kaki lencir. Kamu dan pikiran-pikiran liarmu, Mbak. Ya Tuhan… Kamu nggak tahu seberapa banyak benak yang berhasil kamu buka hanya dengan mendengarmu bicara. Kamu nggak inget ada seseorang yang nggak kamu kenal hanya bisa ndomblong bego dan ngajak kamu kenalan setelah kamu jelasin ide-ide liarmu padaku padahal dia hanya nguping dari meja sebelah di kafe tempo hari? Kamu itu tadi bengong dimana sih sampe bisa kesambet gini?”

Bibir si Pemabuk kembali mengerucut.

“Kami bermain, Nduk. Dia dan aku sama-sama meninggalkan tanda. Pada ucapan, pada makna, pada tulisan. Kami ‘bicara’ dengan cara itu, melantunkan sakit dan perih yang sama kami tanggung. Dia dengan pilihannya terhadap keluarga. Aku dengan hidup yang kuseret susah payah.”

“Lalu maumu gimana?”

“Menuntaskan ini secepatnya dan menjadikan dia penyulut dendam kesumat. Kamu tahu gimana dahsyatnya obsesi berbahanbakar amarah.”

Perempuan Kopi menggaruk-garuk kepala, bingung.

“Oalah, Mbak. Ini cuma same shit different day! Kamu tahu? Saat ini aku pengen ada diantara para pengunjung blogku yang menganggap aku keren lalu ngetawain kamu yang kupuja setinggi langit bisa jatuh membodoh seperti ini.”

“Anjing! Haha!”

“Emang, ya. Tuhan itu Maha Adil. Orang yang diberkahi dengan kelebihan otak selalu nggak bisa mikir pake hati.”

“Halah! Taiiiii!!! Haha!”

Mereka cengengesan berdua, pukul tiga pagi lewat sedikit, perempuan di beranda itu.

“Mbak..”

“Ya?”

“Aku ngantuk. Bobok yuk…”

“Halah… Ini kesimpulannya gimanaaa?”

“Ya kamu bisa apa emang selain sit back, relax, and enjoy the ride?”

“Hmmm… Point taken. Ya udah. Mending bobok deh kayaknya. Yuk…”

Akhirnya mereka beranjak dari kursi rotan berhadapan, pergi ke kamar masing-masing dan menganyam mimpi tentang pangeran berbaju zirah menunggang kuda putih datang sebagai penyelamat dari diri mereka sendiri…

Ps: Hehe. Tak jadiin posting. Maafffff… *menjura*

Labels:

Luka dan Lupa

Posted by The Bitch on 5/21/2009 01:59:00 AM



Pukul satu dan saya 'sembahyang' bersama Koil. Salah satu grup ben Indonesia yang saya dengar dengan takzim. Liriknya dahsyat. Musiknya gila. Drummernya gede (hihi... Sori, Kang Leon! Abdi teh jujur pisan!).

Silahkan sing-along bila suka (=

Aku Lupa Aku Luka

mengatasi keputusasaan
menyakiti diriku sendiri
aku memacu seluruh waktu memburu jantungmu
dan semua yang kujalani dan harapkan ternyata membuat kecewa
pil pahit kegelapan akan mematikan rasa jiwa raga
luka luka luka luka
aku lupa luka luka luka luka
menangis meratapi kebodohan memahami dan tinggalkan mimpi
aku melantunkan lagu pedih menutup hatiku
dan semua yang kuberikan dan serahkan dan pinjamkan takkan kuminta
sebening kehampaan doa menghambarkan luka

Ini dzikir saya saat perlu kontemplasi. Saya nggak aneh. Seluruh dunia yang menyebut saya aneh, itu yang aneh!!!

Labels:

Ketika Pena Terlalu Cepat Terbakar

Posted by The Bitch on 5/19/2009 03:06:00 PM


Karena cinta hanya akan berlabuh setelah melewati sederetan birokrasi ideologi berwarna merah, hijau, hitam, kuning dan biru, merah, putih, dan biru, dan merah, dan putih
Jangan izinkan aku untuk mati terlalu dini, wahai zahraku, mentariku
Jangan sedetikpun izinkan aku berhenti menziarahi setiap makam tanpa pedang-pedang kalam terhunus
Lelap tertidur tanpa satu mata membuka
Tanpa pagi berhenti mensponsori keheningan berbisa
Tanpa di lengan kanan-kiriku adalah matahari dan rembulan
Bintang dan sabit
Palu dan arit
Bumi dan langit
Lautan dan parit
Dan sayap dan rakit
Hingga seluruh paruku sesak merakit setiap pasak-pasak kemungkinan terbesar
Memperbesar setiap kemungkinan pada ruang ketidakmungkinan
Sehingga setiap orang yang kami temui
Tak menemukan lagi satupun sudut kemungkinan
Untuk berkata 'TIDAK MUNGKIN'
Tanpa darah mereka mengering sebelum mata pena berkarat
Dan menolak kembali terisi

Matahari tak mungkin lagi mengebiri pagi untuk mengkhianati

[Barisan Nisan yang menemani saya berjalankaki pulang memburuh, satu lima puluh pagi, 1500 meter/10 menit, dan poetry yang terulang dalam kepala]

Wahai, Sesuatu Tak Berbentuk yang konon tempat semua mahluk berkeluh-kesah...
adakah jatah semangat untuk saya hari ini?

Labels:

Tentang Belajar

Posted by The Bitch on 5/17/2009 11:48:00 PM

Ini lagi gila, lagi punya ide bikin sesuatu yang beda. Pokoknya... Gitu deh. Haha!

Elegi Sebuah Nama

Teori relativitas dan hukum kekekalan energi mengejewantah pada diri perempuan yang kukenal tiga tahun lalu. Duapuluhempat jam waktu hidup tiap hari ia padati dengan memberi les piano pada anak tuna netra di akhir pekan, membaca ensiklopedia, menyiram kembang, dan rutin berangkat ke kantor.


Tubuh lencir itu padat amunisi layaknya selongsong peluru. Padanya, energi tidak hanya kekal namun berpangkat dua. Membuat takjubku tak pernah sirna, pukul berapapun kutemukan raut riangnya. Wajah bulat berbingkai ikal rambut dengan buntut kuda poni yang selalu bergoyang, seiring kepala menoleh menebar lengkung indah dari bibir dan cahaya mata. Membuat siapapun ingin berdekat-dekat, ingin memandangnya lagi. Aku diantaranya.


Bermula dari sepasang sandal jepit hijau dikakinya dengan sisi bergambar burung layang-layang. Sandal yang nyaring bernyanyi diantara rinai high heels dan business shoes kulit berkerumun dalam lift, suatu pagi di sebuah gedung perkantoran Sudirman. Kesederhanaan tungkai terbalut kargo tiga per empat menggoda kepalaku mendongak. Kudapati ia berparas sejambon gulali kapas di pasar malam pinggir Jakarta. Manis dan lembut.

Mau tau lanjutannya? Sila klik disini. Wek.

Labels:

Say What?

Posted by The Bitch on 5/13/2009 06:07:00 PM

… karena tidak ada seorangpun mau membangun dunia untukku, maka kutatah batu bintang menjadi relung penghias dinding kamar agar ketika malam datang dia masih bisa mendongeng tentang penciptaan matahari dan Bima Sakti dan bagaimana lelucon semesta ini bermula…

[About Me yang saya pasang disini]

Labels:

I Listen to...

Posted by The Bitch on 5/13/2009 03:01:00 PM

And even when you've paid enough, been pulled apart or been held up

With every single memory of the good or bad faces of luck


don't lose any sleep tonight

I'm sure everything will end up alright

You may win or lose

But to be yourself is all that you can do

Audioslave - Be Yourself

Emang mau jadi siapa lagi kalo bukan jadi diri sendiri?

Yet, sorry. I'm an insomniac by default and there's nothing you can say or do to soothe me that everything will be alright when the sun rises in the morning. I know. My demon doesn't. My angel? He never cares.


Picture taken from one of my wallpaper collection. Hail Google!


Labels:

Semacam Manifesto

Posted by The Bitch on 5/12/2009 05:39:00 PM

... yet another carpe diem...

Hidup bermula sejak pertanyaan pertama terlontar dari mulut seorang manusia, karena saya memaknai hidup sebagai pembelajaran tanpa henti, pencarian jawab atas pertanyaan yang akan kembali menimbulkan tanya, pembuatan tesis-anti tesis-tesis baru tak berujung, chaos and order ad infinitum, hingga tiba tengkorak berhenti berfungsi sebagai penampung otak ketika Pemilik mengambil apa yang menjadi hak.

Kematian hanya perjalanan panjang lain menuju entah, seperti Baggins tua melayari kapal Elf subtil nan megah. Hanya saja kita tidak tinggal di dunia dongeng Tolkien. Tak ada kapal, tak ada Hobbit, tak ada Elf. Hanya... Kehampaan. Bagi mereka yang ditinggalkan.

Terang terdapat dalam gelap. Mereka tercipta layaknya saudara kembar, demi keseimbangan, agar retina mata semua mahluk hidup di alam raya dapat bekerja dengan maksimal, menyempit dan melebar sesuai dengan kondisi cahaya. Saya mencari terang dalam gelap yang saya selami. Dan tidak semua gelap adalah jahat, seperti tidak semua terang berarti baik.

Salah dan benar tidak ada. Semua hal memiliki nilainya sendiri. Namun saya percaya ada alasan pada tiap-tiap kejadian yang kerap tak mampu dinalar akal. Jadi, biarkan semua terjadi sebagaimana mestinya.

Cinta itu ada. Dibuat, bukan ditemukan. Dibangun berdasarkan rasa percaya dan pemahaman utuh antara dua orang atau lebih melalui proses dalam koridor waktu, bukan dipaksakan. Saya temukan cinta dimana-mana. Memilikinya? Itu tidak mungkin. Karena masing-masing manusia punya cinta sendiri-sendiri yang dia proyeksikan pada lawan jenis, pada benda, pada apapun. Saya tidak menginginkan bayangan. Karenanya saya simpan yang sejati.

Ketika saya harus berdoa, saya tidak ingin Tuhan mengembalikan saya ke jalan yang lurus. Jalan lurus adalah semua hal yang mudah didapat, tanpa tantangan, melenakan. Saya tidak sepintar itu untuk dapat belajar dari hal yang tidak meninggalkan kesan di hati dan kepala. Saya tau Dia Maha Tau. Jadi, saya biarkan semua sebagaimana kehendakNya. Lagipula, bisa apa saya?

Saya bertanggungjawab penuh akan apa yang terucap, tertulis, terketik, dan terbersit di benak karena saya melakukan semua dalam keadaan sadar dan mampu untuk membuat pilihan, tanpa paksaan, tanpa ancaman. Jika ternyata ada amarah membuncah akibat ucapan saya, tidak ada kata lain yang dapat saya haturkan selain maaf setulus-tulusnya. Namun jika ada pemikiran menggelegak keluar dari kepala lain-lain orang hanya karena membaca apa yang saya ketikkan disini, itu bukan masalah saya. The mind perceives what the eyes want to see. No offense.

Ada yang keberatan? Kamu pikir saya peduli?


ps: ah... teknologi memang membuat renungan kloset bisa jadi satu bahan posting ketimbang hanya bengong merokok menanti tuntasnya hajat. terimakasih, Steve Jobs!

Labels:

Ugh!

Posted by The Bitch on 5/10/2009 05:13:00 AM

In a darkened room
Beyond the reach of God's faith
Lies the wounded
The shattered remains of love betrayed
And the innocence of a child is bought and sold
In the name of the damned
The rage of the angels left silent and cold

Forgive me please for I know not what I do
How can I keep inside the hurt I know is true

Tell me when the kiss of love becomes a lie
That bears the scar of sin too deep
To hide behind this fear of running unto you
Please let there be light
In a darkened room

All the precious times have been put to rest again
And the smile of the dawn
Brings tainted lust singing my requiem
Can I face the day when I'm tortured in my trust
And watch it crystallize
While my salvation crumples to dust

Why can't I steer the ship before it hits the storm
I've fallen to the sea but still I swim for shore

Tell me when the kiss of love becomes a lie
That bears the scar of sin too deep
To hide behind this fear of running unto you
Please let there be light
In a darkened room


[gelap-gelapan jam empat pagi denger ginian emang bisa bikin otak nggladrah kemana-mana...]

Gambar diambil dari sini. Saya suka sekali. Nge-blend abis sama layout!

Labels:

Membodoh

Posted by The Bitch on 5/10/2009 12:03:00 AM

Dari balik kaca, saya melihat lelaki kurus dengan rambut kribo itu tersenyum sambil melepas helem separuh wajah. Jumper merah yang ia kenakan kontras dengan mendung menggantung selepas hujan sore hari. Saya melambai, mengabaikan buku terbuka di hadapan saya. Ruangan tempat saya duduk kedap dari bising di luar. Entah apa yang membuat saya menoleh tepat ketika motornya sedang parkir. Mungkin energi positifnya, mungkin intuisi.

Kami 'kencan' di sini untuk kedua kali, persinggahan yang akan mengantarkan saya menemui berpasang mata polos namun jalang ditempa terik surya dan timbal buangan kendaraan. Menyambung hidup yang cuma sekali melalui suara dan gitar butut di bis-bis kota tanpa melupakan masa indah menuju dewasa.

Awalnya adalah perjumpaan saya dengan cowok gondrong ganteng, Papanya Novi. Ada yang meminta saya menemuinya karena tenggat membuatnya tak bisa kemana-mana. Kebetulan lain mempertemukan saya dan Papanya Novi di Jogja (dan berakhir tepar foursome di kamar salah satu soulmate saya). Dari situ, cowok gondrong dengan wajah teduh ini meminta saya mengajar bahasa Inggris di sebuah rumah singgah seputaran Tanjung Barat.

Jujur saja, ini proyek nekat bagi saya. Dengan hanya dua belas kali pertemuan, saya harus bisa membuat mereka mengerti. Pagi pukul dua dinihari, saya masih bengong menatap layar Pektay, bingung mencari bahan ajar. Begitu banyak referensi, begitu banyak materi, terpampang banyak dan jelas. Hasil penelusuran Om Gugel Si Maha Keren. Akhirnya, setelah salin sana tempel sini, saya menatap puas pada empat lembar modul belajar untuk kelas pertama saya.

Menatap Heru, Monday, Unay, Adek dan Arif, saya gamang. Ini pilot class dari empat program yang direncanakan Serrum. Saya buta dengan mereka. Tapi bagaimana pun caranya, saya harus membuat mereka terpacu belajar, meski tubuh lelah setelah seharian ngamen dan main. Saya juga harus memenangkan pertempuran melawan suara mobil dan motor dan KRL Jabotabek di luar ruangan kecil bekas warteg tepat di tepi jalan. Sementara Lelaki Bertudung Merah bersandar dekat pintu, menyemangati saya dengan mata lugu, tanpa suara.

Saya tidak tahu, entah setan atau Tuhan yang membantu saya menyulut semangat lima remaja tanggung itu untuk tetap tinggal dan mengikuti perbedaan antara Noun, Verb, Adjective, dan dimana Article harus diletakkan. Dua jam kemudian kelas berakhir, tepat ketika adzan maghrib berkumandang. Dua jam yang menghabiskan energi saya karena mereka tidak berhenti bertanya, lapar dengan arti kata, dan bangga ketika kertas-kertas latihan mereka saya tulisi EXCELLENT! besar-besar.

Dua jam yang gila! Dan saya membodoh ketika ternyata saya tidak sabar menunggu Sabtu selanjutnya!

ps: Makasih, Gun! Gara-gara pulangnya elu mau gue seret ke Leksika, gue dapet Anais Nïn Winter of Artifice cuma dua puluh empat ribu! Yay!

Labels:

Tentang Teman

Posted by The Bitch on 5/06/2009 01:15:00 AM

Tepat satu jam dua puluh satu detik kami saling bertukar suara. Menemaninya misuh akibat rate ping reply mencapai 6,000 (padahal ini cuma lokal lho Pit!); mendengarnya bicara pada rekan kerja; dan terakhir, meresapi ucapan tulus seorang sahabat ketika dia buang hajat. Semua dia lakukan dengan headset menempel di telinga, mendengar makian dan helaan napas panjang saya yang merentang antara Jakarta-Semarang.

Saya lupa kapan terakhir bertemu dengannya. Namun saya masih ingat keluhannya karena saya lebih sering ngurusi tenggat ketimbang minggat ke kantornya, tempat saya kerap begadang hingga pagi. Ngumpul bersama begundal-begundal Malang dan tenggelam dalam diskusi tentang pacar-pacar mereka: server dan mainframe kelas enterprise yang lebih besar dari lemari jati.

Saya pernah menarik diri, memintanya untuk tidak bertanya-tanya tentang satu hal. Suatu hari nanti akan saya kabarkan padamu tentang apa yang sedang saya alami sekarang. Saya sedang ingin sendiri, ujar saya. Jawabannya: Nggak usah. Lo bilang kapan mau kayak gitu, saat itu juga bakal gue apus nama lo dari entri phonebook di ponsel gue dan gue format ulang otak gue biar lupa pernah punya temen elu. Simpel. Entah kenapa ada yang sakit di ulu hati mendengar perkataannya. Saya tau dia peduli. Saya tau akan menyakitkan untuknya karena saya pernah 'lepas' dari matanya.

Saya ingin mengulang kembali masa-masa geblek, berjalan dinihari dari Stasiun Manggarai mencari makan sahur. Nongkrong di emperan sekitar Ratu Plaza karena gerbang kos saya dan kantor tempat dia mondok sama-sama terkunci. Bergerombol mencari makan malam di belakang fX Sudirman dengan saya satu-satunya perempuan. Berbagi file MP3 dari kelompok-kelompok bernama aneh (Dimmu Borgir? Ayreon? Saya tau itu semua dari dia). Namun saya terlalu pongah untuk mengaku luruh di depan matanya.

Dan ketika semua sudah tidak tertanggungkan, pertahanan saya runtuh. Saya menelponnya. Perbuatan bodoh karena sebenarnya saya bisa memintanya datang atau sekedar menyapa di pondokannya sebelum dia bertolak ke Semarang. Dan di tengah pekerjaan, dia masih sabar mendengar muntahan saya.

Dia, salah satu penggenggam jiwa. Semoga semesta raya membantunya menggapai bintang.

Terimakasih, Njing! (=

Labels:

Tentang Rindu

Posted by The Bitch on 5/05/2009 03:56:00 AM

Rindu itu seperti anjing bodoh di taman yang mengejar ekornya sendiri ketika tuannya tidak melemparkan kayu maupun bola sebab lebih tertarik pada perempuan-perempuan muda mendorong kereta bayi berseragam putih dengan garis kotak-kotak pada ujung kedua lengan, cekikikan membicarakan betapa ibu-ibu majikan kalah canggih di ranjang karena suami-suami kerap mendatangi kamar sempit-pengap tempat mereka istirahat tepat di sebelah dapur luas, hampir tiap malam.

Rindu itu seperti luka menembus perut dari belati yang menancap di pinggangmu ketika pasangan homomu tebakar cemburu mendapatimu mencumbu brondong lain di kamar setelah bertahun-tahun kalian tempati sebagai sarang atas nama cinta, nafsu, dan dosa yang membuat kalian berpaling muka menulikan telinga dan menganggap apa yang kalian lakukan adalah benar karena perkelaminan kalian terbukti tidak akan menghasilkan jiwa baru yang nantinya menyesaki bumi.

Rindu itu seperti menyuntikkan kokain ke lengan setelah terikat sabuk dan akan mengaliri pembuluh darah, besar maupun halus, melewati kepala, pundak, lutut, kaki, membuatmu terbang jauh tinggi ke awan memandangi orang dan rumah dan jalan dan alun-alun yang mengecil seperti mainan sementara kau tetap ada di tempatmu berpijak, melayang tanpa sayap.

Rindu itu seperti amarah pemabuk yang tidak menemukan botol untuk dipecahkan atau wajah preman untuk ditonjok dan berakhir pada perut sang istri hamil tua, membuatnya perdarahan di kasur tempatmu pernah bergumul menyatukan keringat bersama pelacur jalanan sementara istrimu mengais rupiah dinihari pada pasar induk Kramat Jati, berjualan sayur-mayur demi mulut tiga anak hasil sperma yang sempat kau muncratkan ke rahimnya setelah membuat gigi depannya rontok, geraham tertelan, dan sepasang mata biru lebam dan masih membekas dua minggu kemudian.

Rindu itu seperti Icarus yang tolol merekatkan bulu-bulu burung dengan lem Aica-Aibon setelah aromanya habis dihirup dari balik kaos anak-anak jalanan teler, kemudian leleh ketika sayap dikepakkan menentang matahari lalu jatuh berdebam ke aspal jalan layang dengan wajah dan tulang remuk menghantam bumi tanpa ampun karena dia lupa ada gravitasi yang selalu menarik apapun di atasnya untuk tetap menjejak.

Itu rindu, Sayang: Menyakitkan.

Bangsatnya, kita adalah masokis-masokis sejati yang tidak pernah lupa bagaimana nikmatnya memendam lara sendirian, meringkuk di balik selimut dengan posisi fetus, punggung menempel dinding, dan mata nyalang tanpa terpejam meski berjam-jam rebah di ranjang.

Jangan khawatir. Kau tidak sendirian. Mari kutemani merindu, merasakan duka dan busuknya dendam pada hati masing-masing.

Dalam tangis dan tawa kurawat jasadmu
… semoga kita sembuh.

Koil – Semoga Kau Sembuh Part I & II


[Dedicated to another insomniacs in their sleepless nights. May WE simultaneously live forever and die immediately. You are never alone…]

ps: kita masih kombatan, dan aku menagih kepalan yang pernah kau janjikan.

Labels:

Perfect?

Posted by The Bitch on 5/04/2009 03:01:00 PM

Tenggat segabrug membuat saya iseng siang-siang di pabrik. Hasilnya adalah berita basi dua bulan lalu dan nyasar ke salah satu blog favorit.

Ini berita basinya.

Seorang perempuan muda usia dua delapan, menjalani operasi plastik lebih banyak dari umurnya—32 kali. Dia bahkan meminta dokter mematahkan dua tulang iga untuk nampak seperti Dolly Parton: payudara besar dan pinggang jenjang. Alih-alih belajar jadi entertainer cerdas serbabisa.

Sheyla Hershey namanya. Lahir di negara penghasil atlit sepakbola hebat dan berjuluk Land of Babes saking semua perempuannya seperti bidadari: Brazil. Orangtua dan putra sematawayang yang masih sepuluh tahun menganggap perbuatannya sia-sia karena dia jadi mahluk aneh. Namun dia lakukan itu untuk dirinya tanpa peduli tanggapan orang, bahkan anaknya sendiri. “Karena saya suka jadi sempurna.” Begitu jawabnya.

Pada website pribadinya, Sheyla menganggap operasi plastik adalah seni dan dia sangat serius mengerjakannya. Untuk menjadi pemegang rekor toket terbesar di dunia? Mungkin. Hanya dia dan tuhan yang tau alasan sebenarnya. (Dan saya teringat Lolo Ferarri dengan payudara sebesar bola basket, larangan bepergian dengan pesawat karena khawatir tekanan udara membuat silikonnya pecah, dan kesulitan bernapas saat tidur. Lalu bunuh diri karena tetap tak pernah merasa cantik)

Dan ini blog favorit saya: Asia Carera’s Bulletin.

Dia belum mati meskipun hatinya kandas, bintang film porno itu. Saya masih ingat film biru pertama yang saya tonton bersama dua teman perempuan satu komplek ketika SMA dulu, kelas dua. Asia membuat kami membelalakkan mata dan percaya bahwa seks bisa sehebat itu.

Sungguh, kami nggak tertarik dengan pemain prianya. Kami lebih kagum pada tubuh Asia yang mulus, kakinya yang lencir, dan matanya yang terlihat cerdas. Kami bahkan nggak sempat terangsang. Belakangan saya baru tau bahwa dia adalah salah satu anggota kelompok eksklusif berisi orang-orang dengan kapasitas otak jauh di atas rata-rata.

Asia sekarang gantung G-string dan menjadi ibu rumah tangga single parent dengan dua anak, Catty dan Devin, 4 dan 2 tahun. Tubuhnya tidak lagi ramping meskipun tidak gendut. Montok. Itu deskripsi yang tepat ketika akhirnya dia mempublikasikan foto diri setahun lalu.

Sebagai mantan bintang film saru dengan nama mendunia, Asia hampir tidak bisa sembunyi. Semua orang mengenalnya. Mungkin dia sempat jadi bacol (bahan coli) lelaki yang kebetulan menjadi kasir di tempat dia belanja. Saya nggak tau bagaimana perasaannya jika dia tau. Atau dia nggak peduli?

Asia dan Sheyla punya masa kecil suram. Orangtua Asia bercerai dan ayahnya suka main pukul. Sementara Sheyla sempat bermasalah dengan obesitas, hidung babi, dan dada rata hingga dia kerap memecahkan cermin karena benci perawakannya sendiri.

Dua orang itu hanya saya kenal melalui berita dan tulisan. Diantara kedua perempuan itu, rasanya saya lebih memilih Asia yang nyaman dengan bodi terlalu montok dan dua anak bengal-pintar namun penuh cinta pada ibunya.

Bicara mengenai kesempurnaan, seseorang pernah berkata saya difabel dan saya benci sekali dibilang seperti itu. Saya punya dua tangan, dua kaki dan otak untuk berpikir. Saya bisa melakukan apa yang orang lain bisa lakukan. Dan saya tidak ingin diingatkan tentang kekurangan yang bagi saya adalah cambuk untuk melecut diri mencapai lebih daripada orang kebanyakan. Ambisius? Nggak juga. Saya santai mengerjakannya.

Tapi saya tidak suka dikasihani. Itu hanya akan membuat saya jadi rendah diri dan merasa dunia berputar dengan saya sebagai poros. Padahal saya bukan siapa-siapa.

Asia (mencoba) hidup bahagia sebagai orangtua tunggal dengan dua anak, perempuan dan laki-laki. Sheyla bangga dengan tubuh anehnya. Saya punya keluarga dengan moto ‘mangan ora mangan ngumpul’ (meskipun saya jarang pulang). Punya beberapa teman yang rela saya stempel jidatnya sebagai pasangan jiwa (dan sering saya bajak dengan semena-mena). Punya kemampuan mengetik tanpa typo di atas rata-rata (tanpa melihat papan kunci). Punya pekerjaan tetap (meskipun sering misuh saat datang tenggat). Masih punya tempat pulang (walau sering kekuncian). Pegang password beberapa hotspot eksklusif (untuk download anime secara brutal). Punya adik yang menganggap saya keren (namun menghela napas berat saat dia menyebutkannya. Haha!). Bisa melepaskan emosi tanpa harus banting-banting atau bakar-bakar orang (walau ada keinginan ke arah sana). Punya beberapa penggemar maya yang tersesat dengan entri-entri saya (ngaku kamu! Ngaku!). Dan punya seseorang yang bisa horny hanya dengan membaca tulisan-tulisan saya (yang ini perlu dikonfirmasi dulu).

“It’s all between your ears,” ujar seorang perempuan Belanda keturunan Jerman berwajah cantik mirip Dido, penyuka kopi pahit, dan alergi pada kacang, susu, dan air di negara dunia ketiga--tapi hobi blusukan--pada suatu waktu. Itu kesimpulannya ketika dia terperangah mendapati ibu-ibu penjual makanan di Jogja masih bisa tersenyum tulus dan menganggap hidup mereka sempurna walau ekonomi mencekik leher.

Saya? Jauh dari sempurna. Namun saya punya hidup yang lengkap. Itu sudah cukup.

Labels:

May Day, Anyone?

Posted by The Bitch on 5/01/2009 01:04:00 PM

Hampir jam makan siang. Saya membunuh waktu rehat dari tenggat dengan merokok di gerbang pabrik. Dari kejauhan sebuah gerobak bakso didorong penjualnya, mengobrol dengan rekan sambil berjalan. Mungkin asistennya, atau calon penjual bakso lain yang sedang magang.

Ponsel butut saya berbunyi. Dari seorang kawan yang berprofesi sebagai Public Relation. Mengeluh tidak bisa shalat Jumat karena Ibu Bos sudah merencanakan Press Briefing tepat pada Hari Buruh.

"Gue udah bilang, Pit, Jakarta bakal banyak demo dimana-mana. Macet! Wartawan juga susah buat ngejar waktu ikut event kita. Tapi yah... Namanya juga bos. Ucapannya adalah sabda, dan gue kacungnya yang harus melaksanakan titah," ujarnya sambil menghela napas berat dari dalam taksi sejuk yang ditumpanginya ke salah satu hotel, tempat event akan berlangsung.

Saya hanya tertawa mendengar ironi pada suara, seorang mantan aktivis yang dulu kerap membawakan protes-protes de la Rocha dari grup RATM di panggung-panggung kampus seputaran Jakarta. That's life, Bro. Sometimes you've got to sell yourself cheap.

Saya sendiri bukannya tidak prihatin mengetahui banyak rekan seperburuhan yang haknya diambil sementara kewajiban membebani mereka tanpa henti. Dengan jam kerja panjang yang membuat mereka tidak punya kehidupan pribadi. Saya bersama kalian, kawan. Namun saya tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin saya adalah salah satu buruh beruntung, memiliki rekan kerja menyenangkan dan mandor baik. Occasionally.

Saya tidak mengerti makro dan mikro-ekonomi dan bagaimana cara menjalankan bisnis kapitalis. Yang saya tau, sesuai dengan namanya, mereka adalah pemilik modal atau kapital. Punya uang banyak dan strategi bisnis gila-gilaan. Beberapa korporasi bahkan membayar mahal pada sebuah badan riset untuk menengarai prilaku konsumen. Akhirnya, mereka mengucurkan dana yang tidak sedikit untuk membuat pasar baru. Membuat produk baru, dan menggenjot produksi. Karena itulah banyak iklan yang mengajak manusia menjadi konsumtif. Hey, uang yang mereka keluarkan banyak sekali! Mosok nggak dapet untung?

Sementara itu pekerja-pekerja yang berada di bagian produksi harus babak bundas mencapai target, menjadi robot tanpa ada sedikitpun rasa manusiawi. Sayangnya, mereka tetap melakukannya karena harus mencari nafkah. Karena bargaining position mereka yang lebih rendah, jadilah mereka diperdaya.

Sama halnya ketika revolusi industri memicu digunakannya mesin-mesin pengganti tenaga manusia, sementara orang-orang banyak menganggur. Akhirnya, meskipun diupah minim, mereka mau bekerja dalam kondisi sangat memprihatinkan. Terutama untuk industri garmen. Dari sinilah istilah 'sweatshop' berasal (ini hasil kesimpulan saya sendiri di kelas History of English dulu, berabad-abad lalu. Jangan dipercaya. Percayalah pada Tuhan dan Wikipedia. Atau salah satu diantara keduanya).

Dari situs ini (yo,
Jim Keady!) saya mengerti ada seseorang yang rela mengorbankan kehidupan mapan-nyaman-aman asal tidak harus membohongi nuraninya dengan mengenakan sepatu yang dihasilkan dari keringat perempuan-perempuan buruh di dunia ketiga. Gagasannya sebenarnya sederhana: Memberi 'kesadaran' akan keadaan buruh pabrik-pabrik Nike di seluruh dunia pada orang-orang muda Amerika, dimana beasiswa sangat mudah diraih jika kamu cukup jago dalam salah satu cabang olahraga. Terutama di kampus-kampus. Tapi, damn, amat sangat susah ditembus. Gagasan sederhana itu bukanlah pekerjaan mudah. Dan saya hanya bisa angkat topi dan kasih jempol banyak-banyak untuk perjuangan mereka melawan taring-taring kapitalis yang menyedot habis darah para buruh di Indonesia, Vietnam, Cina, dan Meksiko.

Mungkin saya tidak bisa berpikir seperti ekonom, dimana hukum supply dan demand berkuasa layaknya tuhan. Pemikiran itu sempat diperdengarkan ke telinga saya oleh om-om dandy mahasiswa S2 yang mendapat tugas belajar di UGM dari Pemda Palu. Kami ngobrol sambil merokok di beranda warnet tempat saya bekerja. Dia menyayangkan saya yang hanya kuliah sastra dan bukan ekonomi, karena menurutnya saya memubazirkan logika humanis yang saya punya dan akan dapat melibas tesis tentang ekonomi. Ujungnya adalah tesis baru yang luar biasa. Yeah, right. Sastra aja gue nggak lulus!

Well, saya bukan aktivis. Makan siang, saya malah ditarik ke kafe dan menyelesaikan posting ini. Dilayani oleh mas dan mbak pelayan yang tidak mengerti makna Hari Buruh dan harus terus bekerja menyambung hidup.

Happy Labor Day, peeps. All workers UNITE!


Picture taken from here. The caption says: President Soekarno addressing May Day rally, 5/7/1965 in Jakarta, Indonesia in the Sports Hall Building (GOR Soekarno Senayan at the present time?). He announced his decision not to attend a peace conference with Malaysian PM Rahman in Tokyo. The announcement was viewed as a victory for Indonesia's powerful Communist Party. The silent crowd stress the unity of the working classes in their struggle to overcome "imperialism". Image: (c) Bettmann/CORBIS. Date photographed: May 7, 1965.

Labels:

Hummin'... Cummin' Atcha...

Posted by The Bitch on 5/01/2009 06:31:00 AM

“Lo tau kalo lo mahal?”

“Hah?”

“Sini lu. Gue itung dari bawah. Sepatu Converse baru beli di mall kemaren plus kaos kaki: dua ratus tujuh puluh ribu. Jins pasar Blok M, lima puluh ribu. Kaos distro luar, cepek. Daleman lo? Pake apa hari ini? Wacoal? Oke, taroh lah sepasang seratus ribu. Kacamata, Levi’s asli, sejuta. Tas lo, Eiger, tiga ratus enam puluh ribu. Isinya apa? Laptop kan? Tiga belas juta. Coba lo itung, berapa duit tuh harga lo. Hampir dua puluh juta sendiri.”

“Terus kenapa?”

“Ya… Supaya lo tau aja kalo lo mahal.”

“Itu kan itung-itungan lo”

“Emang. Tapi bener kan?”

“Jadi, kalo semua barang-barang gue dilucuti, gue bisa dituker duit dua puluh juta, kurang-lebih? Gitu?”

“Ya tergantung, sih.”

“Tergantung apa?”

“Lo bawa duit berapa di dompet lo. Say, karena gue tau lo lagi kaya dan lo berencana mau nitip duit buat nyokap lo, pasti ada sepuluh lembar seratusan di dompet lo. Itu belum termasuk duit yang lo bawa buat jajan dan jalan.”

“Anjing!”

“Hey! I’m only telling you the truth. And reality bites. Live with it.”

“Tapi lo salah. Kaos ini oleh-oleh temen gue waktu dia ke Amrik. Kacamata dikasih ama mandor gue. Laptop gue beli cuma lima juta ditambah satu juta lagi kapan-kapan. Itu pun belum lunas. Hari ini pun gue pake Sorella diskonan, cuma dua puluh ribu. Celananya ceban. Itu juga gue beli taun berapa tauk. Currency lo nggak valid dipake at the present time. Barang yang beneran gue beli cuma jins, daleman, dan tas. Itu pun harus nabung-nabung dulu.”

“Hmmm… Gitu ya?”

“Iya, Monyet! Lambemu kui ati-ati nek njeplak. Tak ciak nganggo sutil, nangis kowe!”

“Haha!”

“What are you trying to say sih sebenernya? Tumben-tumbenan otak lo penuh angka begitu?”

“Nggak. Cuma mau kasih tau elu kalo lo nggak bakat jadi kere. Seberapapun lo keras berusaha.”

“…”

“Hey… itu bagus kan? Tandanya emang standar idup lo meningkat. Lo berubah. Sekarang udah berani ke mall sendirian dan bisa nongkrong di kafe. Udah bisa beli sepatu tanpa harus ngotot nunggu diskon bertaun-taun…”

“Cukup!”

“Kenapa? Lo marah karena sekarang lo nggak lebih dari orang-orang Jakarta kebanyakan? Udah lah. Gue hargai kalo lo akhirnya berdamai dengan keadaan lo sekarang.”

“Gue nggak suka nada ngomong lo.”

“Lo kan bukannya baru kenal gue sehari, Beib. Udah berapa lama coba kita temenan? Lo kayak nggak tau gue aja.”

“Justru karena gue tau elu makanya gue ngomong gitu. Lo orang paling jujur kalo ngomong apa-apa ke gue.”

“Ya udah. Gue cuma mau ngomong itu aja.”

“Nggak. Ada hal lain yang mau lo omongin ke gue.”

“So?”

“So… What is it? Lo mau bilang apa sih?”

“Berhenti, Beib.”

“Berhenti ngapain? Gue nggak ngapa-ngapain kok.”

“Berhenti menyakiti diri lo sendiri dengan mencari pelarian pada berapa banyak barang yang berhasil lo beli. Lo kayak orang lain kalo begini caranya.”

“…”

“Gue udah bilang, reality bites. Dan gue bangga kalo lo mahal.”

“Maksud?”

“Gue tau ‘harga’ lo gak bisa dituker jebret pake duit dua puluh juta. Lo masih cewek yang gue kenal dulu di Jogja. Masih memandang semuanya dengan mata kanak-kanak. Masih bawel, ngomong nggak berenti. Tapi punya sikap. Itu yang nggak bisa kebeli duit seberapapun.”

“Lo nggak pake sepatu gue dan gue nggak pake sepatu lo. The shoulders carry the burden feel the weight. You only see. You don’t weighted by the heaviness people carry like I don’t feel the pain you bear.”

“…”

“Kadang gue pengen jadi murahan. Jualan daging busuk setengah ons yang ada di selangkangan buat dapetin apapun. Sayangnya gue nggak mau laku. Haha!”

“Lo pernah nyoba?”

“Pernah. Dia nawarin, gue iya-in. Dia berdalih mau ngasih sesuatu that I desperately seeking for a long time: pengetahuan. Deep down inside gue tau kalo gue nganter nyawa sendiri ke algojo. Dia bawa gue ke hotel esek-esek. Dia konak, gue juga. Tapi gue nggak bisa. Gue nggak mau.”

“Did he touch you?”

“Not in the way you’re thinking.”

“What happened, then? You could skip the story and tell me the outline if you mind.”

“It’s OK. Ini pengakuan dosa gue karena gue lupa caranya nangis.”

“So…?”

“Gue dorong badannya menjauh dan gue suruh dia pulang ke istrinya.”

“He’s married, then?”

“With two kids. And he loved that woman so fuckin’ much I never get the idea of he sleeping with me. Laki-laki memang menyebalkan…”

“Lo tau apa yang bikin dia kayak gitu?”

“Gue nggak tau. Ngakunya, dia horny sama tulisan gue. Fetish yang aneh…”

“See? Itu bukti kalo lo nggak kebeli.”

“Tapi kenapa gue masih berasa terlecehkan?”

“Karena dunia nggak berputar dengan elu sebagai porosnya. Lo marah karena beberapa hal nggak berjalan sesuai dengan kemauan lo.”

“Ya. Gue mau dia memperlakukan gue seperti ‘adik-adik’nya yang lain. Gue mau dia peduli sama kemajuan pelajaran gue kalo emang dia niat jadi guru gue.”

“And it turned out that dia cuma mau tidur ama elu.”

“Gue nggak tau lah apa yang ada di otaknya. Banyak cewek cakep-seksi-cantik, kenapa juga dia mepet gue yang dekil dan bau babi sekandang gini.”

“Well, gue balikin kata-kata lo: lo nggak pake sepatu dia dan dia nggak pake sepatu lo.”

“But…”

“Here, Baby. Let me tell you that men have their own wiring in their brains like women have in theirs, yet insanely different. You played his game, on his rule, and he lost. It’s enough. In the end, you’ve proved and tested to be a winner. A victor, indeed.”

“No, I’m not. To be honest, gue pengen…”

“Apa? Bercinta semalam kemudian merekatkan kepingan hati lo satu-satu dan nggak bakal selesai bertaun-taun kemudian? Lo bakal nyesel. Percaya ama gue. Lo tau nggak sih kalo lo disayang makanya Dia nggak ngebiarin lo dapetin apa yang lo mau?”

“Kata lo Dia nggak peduli? Kata lo Dia cuma nonton sambil ngemil ketawa-ketawa dan ngopi-ngopi?”

“Be smart. Get what he didn’t: lesson. Everything happens for a reason. Lo kombatan. Dan kombatan nggak berhenti berjuang sampe dia mati. Itu profesi seumur idup.”

“Babi lu ah!”

“I love you more, Hun.”

Dan malam itu saya menemaninya mabuk hingga adzan Subuh berkumandang. Dunia memang terlalu berwarna untuk dihujat…

ps: judul diambil dari lirik lagu RATM, Here's Something You Can't Understand. Iya, saya lagi gila lagu itu. Terus kenapa?

Labels:

English Club: Week 5

Posted by The Bitch on 5/01/2009 01:21:00 AM

The Bitch Teacher says sorry for those who follow her entries of learning English in this good-for-nothing blog since she FORGOT to update the materials *d'oh!*. Deeply apologize, peeps!

Before her class starts tomorrow, on Sunday (yes, we change the day so the class would have more students--to be fucked! Haha!), The Bitch Teacher uploads this on Friday night while hanging out with her fucked up friends slash dirty-minded students on Bunderan HI.

After absence for so long, and with the renewed spirit (thanks to Letters to Editors that The Bitch Teacher and her friends sent to fight for their public space around Plaza Indonesia), BHI English Club is back on track. We have some new faces in the class, thus, The Bitch Teacher decided to give reading and listening subject instead of structure. Argh! Don't we hate structure!

Here is the next chapter of The Canterville Ghost by Oscar Wilde.

The Canterville Ghost

Chapter III

The ghost did not appear for the rest of the week. The only strange thing that happened was the blood-stain, which they found on the library-floor every morning. It was also quite strange that the colour of the stain changed from time to time. Some mornings it was red, then brown or purple, or even green. These changes amused the family very much, and bets on the colour were made every evening. The only person who did not enter into the joke was Virginia. For some unexplained reason, she was rather annoyed at the sight of the blood-stain, and nearly cried the morning it was green.

The second appearance of the ghost was on Sunday night. Shortly after the family had gone to bed they heard a fearful crash in the hall. A suit of armour had fallen on the floor and in a chair sat the Canterville ghost and rubbed his knees, which seemed to hurt. When the twins started shooting peas at him with their pea-shooters, the ghost stood up with an angry growl and passed through them like a mist. He also blew out the candle, leaving them all in total darkness. On top of the stairs the ghost turned around and, in order to frighten the Otis boys, laughed his most horrible laugh. Just then, a door opened and Mrs. Otis came out of her bedroom. “I am afraid you are not well,” she said, “I have therefore brought you this bottle of medicine.” The ghost looked at her furiously, and then he disappeared.

When he reached his room, he was completely exhausted. This American family was extremely annoying. But what annoyed him most was, that he had not been able to wear the suit of armour. The weight of it had made him fall and hurt his knees.

For some days after this the ghost only left his room to renew the blood-stain. However, on Friday, the 17th of August, he tried to frighten the Otis family again. At half-past ten the family went to bed. For some time the ghost heard the twins laugh, but at a quarter past eleven all was still. So, at midnight he left his secret chamber and glided through the corridors, when suddenly, behind one corner, a horrible ghost stood right in front of him. As the Canterville ghost had never seen another ghost before, he was terribly frightened. He quickly hurried back to his room. But then he thought that he should go and and speak to the other ghost. After all, two ghosts were better than one, and his new friend might help him to frighten the twins. However, when he came back to the spot, he found that this 'other ghost' was not real, but only a white sheet which the twins had hung there to play a trick on him. Very upset the Canterville ghost went back to his chamber.

[Continued to Chapter 4 in the next meeting]

For listening, The Bitch Teacher had succeeded to awe her class with the footage from Erotica Exhibition, boasted as the celebration of decadence and delight that had been held annually in London since 1997. Well, to tell the truth, her class was confused thanks to the thick British accent from the hostess and they were amazed by the speed she is speaking. Sorry, class )=

Yet, to wrap it up, we had fun, indeed (=

Here are the questions on Listening:

1. When was Erotica exhibition firstly held?

2. As the hostess said, how many visitors coming to the exhibition every year?

3. Why could she ‘jump the queues’?

4. The hostess said that visitors could meet their favorite stars while shopping. What kind of stars are they? And what would these stars do to the visitors meeting them?

5. What do you think you could find in the Erotica Exhibition?

6. What does the hostess have to gain privileges of sit back and relax in exclusive areas?

7. Who is Richard Thomson?

8. Listening to Richard Thomson, what do you think about Erotica Exhibition for the past ten years?

9. What is the ‘main attraction’ to get people come and visit Erotica as said by Richard Thomson?

10. Why does Dita von Teese feel excited to be in the exhibition? What does she generally do when she is not in Erotica?

11. What are the reasons people should come to Erotica according to Dita?

12. What kind of seminars is there in the footage? And what does the hostess say about the seminars?

13. Why does Savanna Samson say that there is no reason to be nervous?

14. What is Savanna doing in the exhibition?

15. What happens at night?

16. What are the messages in the tagline of ‘Be Daring. Be Decadent. Have Fun!’?

17. Listen to the voice and the people in the footage. Where do you think they come from?

18. Could Erotica be held in Jakarta? Why?

19. What is your impression after seeing the footage?

20. As seen in the footage, what do you think Erotica would be in 2009?

Oh, you could also take a peek on the footage. Enjoy!

video

As usual, you should be grateful for not joining The Bitch Teacher's offline class. She hates being distracted by useless sounds like ringtones or cellphone reminder. Thus, she strongly OBLIGES her students to TURN OFF THEIR FUCKIN' PHONES during the class.

[damn... i think i need to get drunk. BIG TIME! haha!]

Labels: