"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Kisah Tiga Perempuan

Posted by The Bitch on 4/26/2009 03:43:00 AM

Untuk: Kartini

Saya dipertemukan dengan perempuan-perempuan hebat. Single parent dengan tiga bocah lucu, fun-fearless-female dalam arti sesungguhnya, dan seorang pemikir yang yakin bahwa Tuhan hanya ngopi, ngemil dan nonton setelah Dia menciptakan alam semesta.

Ada kesamaan pada tiga perempuan dengan tiga status berbeda: kekecewaan pada lelaki. Mereka membawa kisah sendiri-sendiri. Tentang kesepian, arti sahabat, dan identitas berganda sebagai ibu, istri, dan jatidiri mereka sendiri.

Mendengar mereka saling bercerita, saya baru sadar bahwa perempuan tidak pernah punya identitas pribadi. Akan ada atribut beraroma falus yang selalu mengiringi tiap fase hidup kami. Di belakang nama seorang perempuan pasti tertera nama ayah, kecuali ibunya melahirkan tanpa menikah (dan orang memanggilnya jadah). Setelah itu, ada nama suami ketika dia tanda tangan kontrak di KUA. Menjanda? Tetap dia akan dikenang sebagai 'Mantan Ny. Anu'.

Tokoh publik sekalipun akan tertaut dengan pria. Lihat di infotainment yang marak di kotak bodoh bernama televisi. Pada setiap perempuan muda yang tersorot kamera, akan selalu ada nama lelaki yang tertangkap basah mengencaninya di bioskop atau menggandeng tangannya keluar dari pesta.

Perempuan terlahir membawa luka: sebentuk celah pada selangkang bernama vagina. Berdosakah dia karena konon menjadi alat Iblis melemparkan lelaki dari taman Eden? Padahal dari luka itu kehidupan meng-ada. Dan luka itu pula yang membuat lelaki gila.

Dan pada tiap lekuknya perempuan memanggul nafsu. Salahkah dia karena tujuan penciptaan membuatnya seperti itu?

Perempuan berkulit pualam mendulang resah tentang mantan-mantannya yang tidak pernah membiarkan ia sendirian. Padahal dia ber'buntut' tiga dan lelaki-lelaki itu juga ayah dan suami seseorang. Dua kali sudah dia menjanda. Namun tawa renyah tak mampu menyembunyikan duka yang lindap pada sepasang jendela hati karena stigma membuat langkahnya mati.

"Aku lelah sendirian. Aku menginginkan pendamping hidup yang pelukannya menghapus semua ketakutan. Dia yang akan duduk di sampingku berbagi kudapan dan teh hangat. Menikmati senja berdua di beranda ketika kami menua," ujar Perempuan Pertama.

"Terkadang aku tidak bisa memahami jalan pikiran perempuan meskipun aku perempuan," sahut Perempuan Kedua. "Penghianatanku pada komitmen membuat aku mengizinkan suami menikah lagi. Aku menyambutnya seperti anggota keluarga sendiri, maduku itu. Namun itu tidak cukup. Usus dia tarik, ketika aku memberinya paru-paru. Dan jantung direnggutnya ketika sudah kuberi hati. Suamiku meradang, dan dia kembali pulang hanya untuk penghiburan. Sadarkah dia bahwa aku istri pertamanya dan bukan ibunya?"

Perempuan Ketiga menghela napas.

"Aku 'bermain' permainan lelaki. Dan mereka menyebutku jalang. Aku tulus mengagumi lekuk tubuh indah perempuan lain yang tak mungkin kudapat. Dan mereka tuduh aku lesbian. Aku berpikir dengan rasio, bukan emosi. Dan mereka mengeluh aku terlalu pintar. Dan kamu ingin aku, perempuan mandiri yang selalu lungkrah melawan dunia sendirian, mengabdi pada mahluk-mahluk sepicik itu dan menjadi inang bagi parasit yang mereka buahi melalui sperma saat mereka ejakulasi? Rasanya aku lebih baik mati."

Seperti Kartini, mereka tunduk-patuh pada kuasa lelaki, dengan dahi menekan lantai karena kepala diinjak kaki. Seperti Kartini, mereka berbagi. Karena hanya sahabat perempuan yang mengerti perempuan. Seperti Kartini, mereka menulis. Sebagai terapi dan penyeimbangan diri. Meski belum tentu terbit terang sehabis gelap.

Seperti Kartini. Perjuangan kami belum berhenti.

Labels:

Comments:

  at: 3:36 PM, posted by Anonymous Kesepian said...

:)
Post a Comment

<< Home