"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Iseng

Posted by The Bitch on 4/30/2009 04:57:00 AM

Tidur paling lama dua jam tiap hari bakal bikin otak bekerja maksimal dan mampu menciptakan bom atom. Worked splendidly to Einstein, though.

AKU ADALAH SETAN

Aku tercipta dari api paling panas di Neraka, lahir bersama ratusan jenisku sendiri yang berlari ganas merobek rahim ibuku. Aku sudah lupa berapa saudara kandungku, saking banyaknya. Tapi aku ingat beberapa tugas pertamaku saat beranjak dewasa: membisiki telinga manusia-manusia tak beriman untuk larut dalam perbuatan yang dimurka pencipta.

Malam ini aku baru saja berhasil membujuk seorang lelaki berputra dua untuk membelot dari tanggungjawab sebagai suami dan ayah. Dia baru saja menggadai motor butut satu-satunya, sumber nafkah sebagai tukang ojek. Uang yang sedianya untuk anak pertama masuk SMP kini dia hamburkan demi kehangatan seorang kupu-kupu malam di kompleks pelacuran. Meski sebentar, dia dapat melupakan istrinya yang kurus, sakit-sakitan dan selalu kelelahan.

Lepas tengah malam dan aku sedang duduk di bawah pokok Mangga pada halaman belakang sebuah rumah sederhana. Jajaran pakaian setengah kering pada tali di tiang jemuran menghalangi pandang ke pintu menuju dapur. Aku menikmati kegelapan dan hingar suara dangdut setelah bekerja. Menyimak cekikik genit wanita penjaja tubuh dan seloroh nakal preman-preman setengah mabuk.

“Anyu pengen denger cerita kunang-kunang,” ujar seorang bocah kecil tiba-tiba. Sepasang matanya berbinar tanpa ada tanda-tanda kantuk mampir pada kelopak. Temaram cahaya bohlam dari belakang tubuh mungil itu membuat aku mengingat keagungan malaikat yang pernah melawan pasukanku dalam sebuah perang besar. Lengan kanannya mendekap boneka monyet bermata satu dan piyamanya berwarna biru. Dia berjalan mendekat dari sebuah pintu terbuka.

Ibu anak itu sedang bergumul bersama lelaki yang bukan ayahnya, dalam sebuah kamar sempit-pengap berbau alkohol, asap rokok, dan dosa. Seperti dugaanku, dia terbangun dan enggan untuk kembali menyulam mimpi.

Aku menoleh dan tersenyum, menampakkan sepasang taring tajam pada sudut mulut. Kukerutkan tubuh agar bisa sejajar dengan tingginya lalu bangkit mendekati.

“Memangnya kamu tahu kunang-kunang? Disini kan tidak ada,” sahutku ketika akhirnya kami berhadapan tepat di bawah beberapa kutang warna-warni.

“Anyu pernah lihat di rumah Nenek di kampung. Ada banyak di sawah. Anyu cuma tahu binatang itu mirip semut, tapi bisa terbang. Keluarnya juga malam. Namanya kunang-kunang. Bersinar, mirip mata kamu. Tapi matamu lebih besar dan terang. Lagipula warnanya merah,” jelasnya.

Tanpa kuduga sebelah tangannya mengusap pipiku. Aku sontak mundur, berbareng dengan kekagetannya. Sepasang sayap hitam dan besar yang terlipat di punggungku membuka separuh dan berhasil mencampakkan dua penutup dada tembuspandang berwarna hitam. Tidak kuduga bocah ini punya nyali. Manusia dan bangsaku tidak diperkenankan bersentuhan. Itu peraturan utama.

Aku memaki dalam sepuluh bahasa purba. Hidup ribuan tahun membuatku punya banyak waktu mempelajarinya.

Perempuan kecil itu masih tegak berdiri. Sebelah tangannya masih memeluk boneka. Kepalanya dimiringkan, seakan dengan begitu dia akan jelas melihatku.

“Jangan takut. Kata Mama, kalau nggak mau dicubit, jangan nyubit. Anyu nggak akan mencubit, kok,” sahutnya lagi.

Aku terkekeh geli dan kembali mendekatinya. Karena wujudku yang bertambah besar, dia mundur dengan mulut ternganga dan mata membelalak takjub.

“Memangnya kamu nggak takut melihatku begini?” tanyaku.

Sekarang tinggiku hampir menyamai pokok Mangga yang tajuknya sejajar dengan atap rumah. Aku menunduk menatapnya, melebarkan senyum yang makin menampakkan geligi runcing.
Tanpa kuduga, bibirnya melengkung gembira. Bocah kecil itu bertepuk tangan, melupakan bonekanya yang tercampak di tanah, lalu melonjak-lonjak.

“Waaah… Kamu hebat bisa cepat tinggi! Anyu mau kayak kamu! Mama pasti nggak bakal nyuruh-nyuruh Anyu makan sayur lagi kalau bisa cepat besar seperti kamu!” teriaknya riang.

Sialan! Anak macam apa ini?! Mengapa dia tidak surut melihatku berubah bentuk?

“Kamu pasti raja kunang-kunang karena kamu paling besar daripada kunang-kunang yang pernah Anyu lihat.”

Aku merasa terhina oleh bocah yang kutaksir baru lima usianya. Kurang ajar!



[Shit! Jam empat! Asuuuu!!! Bikin bom atom kagak, bego iya gara-gara kurang tidur lagi!]

Labels:

A Letter to Jon

Posted by The Bitch on 4/30/2009 01:11:00 AM



Dear Jonathan Davis,

Sedang apa kamu saat ini? Pukul berapa disana? Bagaimana proyek-proyek sampingan setelah kelompokmu moksa? Bagaimana kabar istri cantikmu yang mantan bintang film porno itu? Masihkah kau pelihara dreadlock panjang hingga punggung? Di usiamu yang sekarang ini, apakah kau sempat merasakan getirnya asam urat? Apalagi kulihat perutmu membuncit dan gumpalan lemak bertebaran di sekujur tubuh.

Maaf, baru kali ini aku menyapa. Padahal suaramu menghantam telinga tiap aku kemana-mana. Maaf, aku tidak turut mengenalmu sejak masih SMA. Eric Martin dan Billy Sheehan membuat serak geramanmu menenggelam.

Did you know, Jon?

Karenamu aku belajar keindahan dari nada yang hampir selalu turun setengah. Melalui bait-baitmu aku belajar memahami perih-pedih penghianatan, dusta, penghinaan, putus asa dan gelisah. Lewat irama gegap namun muram, kau beberkan lungkrahnya menjalani hidup menunggu ujung.

Kamu memberi arti baru pada makian. Pada gumaman. Pada liris bagpipe yang membawaku ke pucuk-pucuk pinus pegunungan Irlandia. Pada negeri fantasia bernama Narnia—sebuah cerita yang berhasil membuat malam kanak-kanakku indah dengan mimpi bertemu Aslan dan satyr baik hati.

Menyimakmu adalah ritual, layaknya mandi dan gosok gigi yang kulakukan dengan takzim. Tidak seperti Bono dan The Edge yang membawa irama dengan tujuh nada dasar menjadi megah; atau Sting melagukan cinta secara agung; kau dan kawan-kawanmu tetap berada di bawah rata-rata air.

Ketika Metallica terpuruk akibat bassis baru yang salah tempat, kau memilih minggir dan menjadi sunyi. Saat de la Rocha habis semangat untuk menyengat, kau bawa orang-orang lain untuk bermusik secara gerilya. Waktu System of A Down bisu tak berkabar, kau masih meniti langkah. Dan aku tidak akan meninggikanmu sepuncak dengan Dream Theater. Mereka dewa.

Hey, Jon,

If I could only have one wish, it is to be with you all night long, with a bottle of Jack Daniels that we share together and hear you curse till dawn. But please, do it without unzipping your jeans. It’d made you look stupid.



[Damn! You’re hot!]

Labels:

Choke, Anyone?

Posted by The Bitch on 4/29/2009 01:54:00 PM

Waktu saya masih sekolah di Jogja, pada setiap liburan, 'sanctuary' saya untuk bisa baca buku-buku aneh secara gratis adalah QB Sarinah. Adem, dengan sofa empuk, dan ambience yang bikin orang betah berlama-lama membaca. Nggak peduli saya harus berangkat panas-panasan dari Bekasi.

Saya sempat 'tersandung' sebuah buku hanya karena sampul depannya bergambar diagram anatomi manusia dengan tulisan C H O K E berwarna merah. Otak saya langsung berasumsi, mungkin orang itu mati tersedak. Kasihan sekali.

Itu adalah cinta pada lembar pertama. Saya langsung suka pada cara Palahniuk menulis (dan tanpa sadar saya belajar mengadopsi gayanya bertutur). Semua satir dan getir tertuang dari pengalaman hidup yang pahit, seperti diceritakannya pada reporter Rolling Stones. Sempat dia membukukan kumpulan cerpen yang dia buat saat dia menjadi sukarelawan untuk kelompok pecandu seks. Ironis. Di negara sebebas Amerika, dengan impian-impian kaum migran untuk jadi apapun, ada segelintir manusia yang di kepalanya hanya ada perkelaminan.

Waktu sedang iseng menelusuri gambar anal bead untuk teman saya, lagi-lagi saya 'tersandung' pada sebuah blog asing. Ternyata dia bercerita tentang book-signing by none other, the master of fucked up storytelling, the Great Chuck! Dan selain bookmark, dia juga menyelipkan benda berikut:


Yes. It's Ben Wa ball atau Anal Bead. I can't speak no more. Speechless. Haha!

Labels:

Here's Something You Can't Understand

Posted by The Bitch on 4/29/2009 12:55:00 AM

You know I'm going to gat ya
how do you know where I'm at
When you haven't been where I've been
understand where I'm coming from
while you're up on the hill in your big home
I'm out here risking my dome
just for a bucket or a faster ducket
Just to stay alive yo I got to say fuck it.
Here is something you can't understand:
How I could just kill a man
- Rage Against the Machine


Malam ini melankoli sekali meski siklus perdarahan bulanan baru terlalui. Seperti ada gumpalan berkarat memenuhi benak. Mengendap dan tercampur bersama nanah, terwadahi hati sedang infeksi.

Saya membenci. Saya ingin membunuh. Saya haus.

Namun, apakah menyelesaikan masalah?

Saya ingin berteriak di wajah seseorang, betapa saya terhina dengan perlakuannya. Saya ingin menyayat wajahnya tipis-tipis. Ingin menggarami hingga rata. Mengucurinya dengan lemon terkecut.

Saya ingin merasakan hangatnya darah memuncrat ke muka saya dari nadi besar di lehernya yang saya robek dengan belati. Saya ingin mengikat kakinya lebar-lebar dan memutilasi daging imut yang menggelayut di selangkangannya. Akan saya awetkan kelamin dan perabotannya itu dalam botol formalin. Akan saya letakkan botol itu dalam kamar agar bisa saya pandangi lama-lama sambil ngopi ketika malam melankoli seperti ini.

Saya sadar, saya bukan nabi. Karena itu saya bisa benci. Dengan menuliskan semua keinginan-keinginan terliar itulah maka perbuatan tersebut hanya sampai di halaman ini. Terbaca, dan mungkin tanpa sadar terbawa hingga ke alam bawah sadarmu. Hingga, mungkin, suatu hari nanti, ketika kau diberi kesempatan, kau akan bisa melakukannya karena kau lebih bernyali. Dan halaman ini yang menginspirasi.

Saya tau betul saya sedang berproses dan itu perlu waktu. Saya harus ada dalam amarah, karena dengan itu seluruh semesta membuka diri untuk dituliskan. Begitu cara saya bekerja. Membawa dendam sebagai bahan bakar untuk berlari.

Kau tunggu saja, Mbok. Aku akan datang dengan kepala tegak dan dagu terangkat.

Labels:

Orang-orang Jakarta

Posted by The Bitch on 4/28/2009 03:45:00 PM

Saya bukan anak baik-baik. Saya sering sekali pulang dini hari sendirian, menyusuri Jalan KH Ahmad Dahlan hingga Radiodalam. Saya kerap mendapati gembok pagar kost terkunci karena pulang lewat dari jam malam. Akhirnya, saya harus terdampar di restoran bubur ayam yang buka 24 jam, di seberang gang, menunggu pagi datang. Seperti saat ini. Meskipun uang yang saya punya hanya cukup membeli segelas teh tawar panas dan akan dimaklumi oleh mas-mas pelayan dengan senyum tulus.

Saya masih nakal. Saya tidak pernah menolak lintingan ganja yang ujungnya telah terbakar dan wanginya mengundang liur. Terkadang saya mencandu, menginginkan harum dedaunan kering itu menari-nari pada paru dan nostril, membuka cakrawala berpikir yang sepertinya tidak habis-habis.

Saya bandel. Terkadang saya pulang dengan kepala berat akibat iseng meladeni tantangan seorang sahabat yang berbekal sebotol Jack Daniels dan mengajak saya mabuk di pinggir trotoar. Saya selalu ingin mencicip tuak khas satu daerah yang berhasil membuat saya berjalan terhuyung dan muntah udara. Dan saya punya supplier tetap untuk hal ini.

Saya tidak suka kerumunan yang bergoyang seiring dentum musik yang menghentak lebih cepat dari denyut nadi ditingkah lampu kerlap-mengerlap dan membuat mata sakit. Namun saya pernah merasa nyaman dan segar setelah lelap di sofa tempat ajeb-ajeb seperti itu, karena punggung saya seperti dipijat. Dan teman saya mengomel tiada henti karena gagal membuat saya kesal.

Semua saya temukan di Jakarta, kota yang katanya individulis dan jahat.

Terlepas dari itu semua, saya tidak pernah mempersonifikasi sebuah kota. Bagi saya, semua tempat sama saja. Yang berbeda adalah siapa yang ada disana dan bagaimana seseorang membawa diri. Karena manusia pada dasarnya adalah baik.

Buktinya adalah apa yang akan saya ceritakan.

Ini lagi-lagi tentang pulang kemalaman. Teman saya yang asli Betawi pulang terlalu larut dari pertemuan dengan organisasinya, beberapa bulan lalu. Celakanya, saat itu waktunya taksi pulang ke pool. Jadi, berapa kali pun dia melambai pada taksi yang melintas, dia tidak beda dengan hantu: tak kasat mata. Padahal rumahnya masih teramat jauh dan kantuk terlalu cepat datang.

Saat kakinya tersaruk melangkah karena lelah, mendadak sebuah motor berhenti di sebelah dan pengendaranya menawarkan tumpangan. Kebetulan searah, begitu alasan bapak yang mengenakan helm sewajah penuh ketika teman saya ditanya tujuannya.

Pukul satu saat itu, dan mereka ngobrol di tengah deru angin menembus kulit. Ternyata si pengendara adalah pegawai sebuah restoran yang tutup tengah malam di bilangan Gajah Mada. Ketika teman saya terheran-heran mengapa si bapak percaya untuk menawarkan tumpangan, polos bapak itu berkata: “Yah… Saya sih niatnya baik, Mas. Saya pernah kemalaman dan pulang jalan kaki jauh sekali. Saya nggak pengen ada orang yang bernasib sial seperti saya saat itu. Tuhan juga nggak tidur. Dia tau saya hanya ingin membantu. Kalau Mas memang berniat untuk jahatin saya, itu urusan Mas.”

Saking takjubnya, teman saya lupa menanyakan siapa nama si bapak dan berapa nomer ponselnya. Apalagi setelah beliau tidak mengambil uang pengganti bensin yang diangsurkan ke hadapannya. Untuk seribusatu alasan yang dikemukakan teman saya, bapak itu punya penolakan ke-seribudua.

"Gila, Pit. Gue terlalu takjub bahkan hanya untuk nanya nama. Padahal gue pengen tau gimana latarbelakang bapak itu. Gue terbengong-bengong ada orang baik kayak gitu di Jakarta. Jakarta, Pit. Jam satu malem!" ujar teman saya bersemangat.

Hal yang sama pernah terjadi pada saya. Saya selalu membiasakan diri menumpang Bajaj atau taksi jika saya pulang lepas tengah malam. Atau, jika uang saya tiriiiiis sekali, saya lebih baik jalan kaki. Bukan apa-apa. Saya merasa risih menumpang ojek karena ukuran dada saya lumayan tidak standar (ehm!), meskipun tertutup kaos gombrong.

Sempat saya jalan kaki diantara apitan pepohonan rindang pukul tiga pagi, ditemani teriakan Ucok Homicide pada MP3 player dengan earphone tersumpal erat di telinga. Saya hanya mengandalkan mata yang sedikit rabun karena malas mengenakan alat bantu. Cahaya yang minim membuat saya waspada pada sorot lampu dari belakang yang searah dengan tujuan saya, berharap itu adalah taksi.

Tapi tanpa saya duga, seorang bapak bermotor berhenti di sebelah saya dan menawarkan tumpangan. Setelah melepas headset, saya tolak sambil tersenyum bingung. Jujur saya bilang, saya menunggu taksi. Ini adalah salah satu kelemahan saya. Jika berada dalam posisi tidak terduga seperti saat itu, saya terlalu bodoh untuk sekedar berbohong. Dan saya tidak bisa berkelit di cecar pernyataan: “Saya mau ke Ciputat. Adek ke Radiodalam. Kita searah. Lagipula, saya cuma inget anak perempuan saya yang seumuran Adek. Dia SPG yang juga sering kemalaman. Pasti Ayah si Adek juga bakal prihatin ngeliat anaknya jalan kaki sendirian malam-malam begini…”

Akhirnya sambil menggumamkan Bismillah banyak-banyak di dalam hati, saya naik ke boncengan. Dari obrolan singkat kami, ternyata beliau baru pulang mengojek, mengantar seseorang ke suatu tempat. Ketika saya sudah sampai di seberang gang menuju kost, bapak itu menolak uang sepuluh ribu yang sedianya untuk naik taksi. Beliau langsung tancap gas tanpa sempat mendengar terimakasih yang saya ucapkan.

Saya tidak tau apakah sumpah Ibu saya sedari kecil benar adanya (dhemit ora ndulit, menungsa ora doyan—diucapkan sambil meniup ubun-ubun saat saya harus bepergian jauh dan lama), atau Tuhan memang tidak pernah tidur seperti satpam penjaga malam. Sejak lahir dan besar di Jakarta, porsi saya diberi kebaikan oleh orang-orang yang tinggal di sini lebih besar ketimbang bangsat yang saya terima.

Jakarta itu kejam? Saya rasa itu tergantung apa yang dialami masing-masing jiwa.

Labels:

Cerita Akhir Pekan

Posted by The Bitch on 4/27/2009 06:32:00 PM

Saya meninggalkan Bandung diiringi tatapan sedih seorang perempuan kecil menggendong anak kucing imut bernama Beibeh. Saya yang salah, tidak terburu-buru pergi ketika dia belum pulang. Saya kecup puncak kepalanya dan berjanji akan kembali jika akhir pekan saya luang. Sementara benak saya penuh terisi materi bahasa Inggris fucked up yang harus saya ajarkan di Boncang Headquarter pukul delapan nanti.

Langit gelap dan rintik hujan turun satu-satu ketika saya sampai di terminal Leuwipanjang. Mata saya nyalang mencari bis merah eksekutif yang akan membawa saya ke Lebak Bulus. Nggak ada. Damn! Terpaksa saya lompat ke bis lain dengan sandaran duduk warna ijo ngebet.

Nama Saya Merah’ pemenang Nobel 2006 tidak mampu membuat saya fokus membaca. Apalagi lengkingan Sebastian Bach melagukan ‘In A Darkened Room’ bersama Skid Row pada MP3 player portable membuat saya nyaman seperti sedang berada di kamar sendiri. Saya hampir tidak sadar ada bapak setengah baya menyandang tas kerja dengan jas coklat lusuh duduk di kursi sebelah yang masih kosong karena mata saya keburu terpejam.

Hampir setengah jalan tol Cipularang, saya jengah. Bapak di sebelah tertidur sambil mendesak saya hingga ke pinggir jendela. Saya putus asa ingin melanjutkan lelap, namun tidak bisa nyenyak. Jancuk! Akhirnya saya ganti playlist saya dengan Korn. Kantuk kembali menerjang tanpa bisa saya tahan.

Beberapa saat kemudian saya tersentak bangun mendapati paha kiri saya diremas. Sepersekian detik kemudian, bapak di sebelah saya berpura-pura batuk dan menarik tangannya dari paha saya. Saya melotot. Saat itu juga saya ingin menonjok dan menendang mukanya dengan sepatu bot tentara yang melekat di kaki. Tapi, seperti tidak terjadi apa-apa, dia masih pura-pura tidur dengan tubuh tetap condong di pundak saya. Dan saya tidak punya bukti kuat untuk membuat keributan.

Saya meraih ponsel di saku jins lalu menghubungi nomer telepon my partner in crime.

“Mas Epat? Kamu dimana?”

“Rumah. Nopo, Nduk?”

“Nggak. Mau nanya. Kira-kira bagian tubuh mana yang buat cowok paling menyakitkan untuk ditendang?”

Preman Malang yang saya ajak bicara tertawa keras sekali di seberang sana.

Kon nyapo je, Nduk? Kamu dimana ini?”

Dengan suara saya keras-keraskan, saya menyahut.

“Gue lagi di bis dari Bandung. Ini ada MONYET di sebelah gue pura-pura tidur tapi tangannya grepe-grepe paha gue. Enaknya diapain nih?”

Oknum monyet di sebelah saya beringsut menjauh ke bagian kursinya sendiri. Kedua tangannya erat memeluk tas. Mendadak suasana dalam bis senyap. Semua orang berhenti bicara. Dua orang yang sedang ngobrol tentang kehebatan iPhone 3G di kursi belakang mendadak terdiam. Mas Epat, karena dia preman, masih saja tertawa menggelegar menyakitkan telinga.

Oalah, Nduk… Nduk… Kamu kan ngerokok. Kamu bakar aja tangannya pake korek kalo dia iseng lagi.”

“Oh, gitu? Siram bensin terus bakar ya? Oke. Kalo gitu, siapin perabotannya. Kayaknya gue nyampe setengah jam lagi. Sebar anak-anak di sekitaran Cawang sampe terminal. Bawa parang yang kemaren buat menggal orang pas kita berantem itu, ya. Gue pengen tangan kirinya. Nggak tau malu tuh orang. Grepe-grepe orang sembarangan. Dia pikir gue bakal diem, apa?! Nanti gue SMS-in ciri-ciri orangnya.”

“Huahahaha!!! Cah edan! Iyo, wes. Kowe ati-ati, yo!”

“Iya. Makasih ya, Mas. Inget, bawa parang buat si MONYET. Gue udah nggak sabar pengen motong tangan MONYET itu pake tangan gue sendiri. Udah bau tanah nggak tau diri.”

Saya matikan ponsel dengan derai tawa masih terdengar di ujung ponsel yang lain. Tanpa menoleh, saya lantang berkata: “Lu tunggu aja. Jangan maen-maen ama gue,” lalu kembali melanjutkan tidur yang tidak terganggu hingga perempatan Giant Lebak Bulus.

Oh, sepertinya oknum monyet berjubah bapak setengah baya itu turun di UKI Cawang. Menunduk, bergegas, tanpa berani menoleh ke belakang. Semoga hidupnya berakhir tidak lama lagi. Secara menyedihkan. Well, itu doa paling tulus seumur hidup saya.

Labels:

Kisah Tiga Perempuan

Posted by The Bitch on 4/26/2009 04:43:00 AM

Untuk: Kartini

Saya dipertemukan dengan perempuan-perempuan hebat. Single parent dengan tiga bocah lucu, fun-fearless-female dalam arti sesungguhnya, dan seorang pemikir yang yakin bahwa Tuhan hanya ngopi, ngemil dan nonton setelah Dia menciptakan alam semesta.

Ada kesamaan pada tiga perempuan dengan tiga status berbeda: kekecewaan pada lelaki. Mereka membawa kisah sendiri-sendiri. Tentang kesepian, arti sahabat, dan identitas berganda sebagai ibu, istri, dan jatidiri mereka sendiri.

Mendengar mereka saling bercerita, saya baru sadar bahwa perempuan tidak pernah punya identitas pribadi. Akan ada atribut beraroma falus yang selalu mengiringi tiap fase hidup kami. Di belakang nama seorang perempuan pasti tertera nama ayah, kecuali ibunya melahirkan tanpa menikah (dan orang memanggilnya jadah). Setelah itu, ada nama suami ketika dia tanda tangan kontrak di KUA. Menjanda? Tetap dia akan dikenang sebagai 'Mantan Ny. Anu'.

Tokoh publik sekalipun akan tertaut dengan pria. Lihat di infotainment yang marak di kotak bodoh bernama televisi. Pada setiap perempuan muda yang tersorot kamera, akan selalu ada nama lelaki yang tertangkap basah mengencaninya di bioskop atau menggandeng tangannya keluar dari pesta.

Perempuan terlahir membawa luka: sebentuk celah pada selangkang bernama vagina. Berdosakah dia karena konon menjadi alat Iblis melemparkan lelaki dari taman Eden? Padahal dari luka itu kehidupan meng-ada. Dan luka itu pula yang membuat lelaki gila.

Dan pada tiap lekuknya perempuan memanggul nafsu. Salahkah dia karena tujuan penciptaan membuatnya seperti itu?

Perempuan berkulit pualam mendulang resah tentang mantan-mantannya yang tidak pernah membiarkan ia sendirian. Padahal dia ber'buntut' tiga dan lelaki-lelaki itu juga ayah dan suami seseorang. Dua kali sudah dia menjanda. Namun tawa renyah tak mampu menyembunyikan duka yang lindap pada sepasang jendela hati karena stigma membuat langkahnya mati.

"Aku lelah sendirian. Aku menginginkan pendamping hidup yang pelukannya menghapus semua ketakutan. Dia yang akan duduk di sampingku berbagi kudapan dan teh hangat. Menikmati senja berdua di beranda ketika kami menua," ujar Perempuan Pertama.

"Terkadang aku tidak bisa memahami jalan pikiran perempuan meskipun aku perempuan," sahut Perempuan Kedua. "Penghianatanku pada komitmen membuat aku mengizinkan suami menikah lagi. Aku menyambutnya seperti anggota keluarga sendiri, maduku itu. Namun itu tidak cukup. Usus dia tarik, ketika aku memberinya paru-paru. Dan jantung direnggutnya ketika sudah kuberi hati. Suamiku meradang, dan dia kembali pulang hanya untuk penghiburan. Sadarkah dia bahwa aku istri pertamanya dan bukan ibunya?"

Perempuan Ketiga menghela napas.

"Aku 'bermain' permainan lelaki. Dan mereka menyebutku jalang. Aku tulus mengagumi lekuk tubuh indah perempuan lain yang tak mungkin kudapat. Dan mereka tuduh aku lesbian. Aku berpikir dengan rasio, bukan emosi. Dan mereka mengeluh aku terlalu pintar. Dan kamu ingin aku, perempuan mandiri yang selalu lungkrah melawan dunia sendirian, mengabdi pada mahluk-mahluk sepicik itu dan menjadi inang bagi parasit yang mereka buahi melalui sperma saat mereka ejakulasi? Rasanya aku lebih baik mati."

Seperti Kartini, mereka tunduk-patuh pada kuasa lelaki, dengan dahi menekan lantai karena kepala diinjak kaki. Seperti Kartini, mereka berbagi. Karena hanya sahabat perempuan yang mengerti perempuan. Seperti Kartini, mereka menulis. Sebagai terapi dan penyeimbangan diri. Meski belum tentu terbit terang sehabis gelap.

Seperti Kartini. Perjuangan kami belum berhenti.

Labels:

Halo, Han! Apa Kabar?

Posted by The Bitch on 4/23/2009 12:20:00 AM

I met a traveller from an antique land
Who said: Two vast and trunkless legs of stone
Stand in the desert. Near them on the sand,
Half sunk, a shatter'd visage lies, whose frown
And wrinkled lip and sneer of cold command
Tell that its sculptor well those passions read
Which yet survive, stamp'd on these lifeless things,
The hand that mock'd them and the heart that fed.
And on the pedestal these words appear:
"My name is Ozymandias, king of kings:
Look on my works, ye Mighty, and despair!"
Nothing beside remains: round the decay
Of that colossal wreck, boundless and bare,
The lone and level sands stretch far away.
- Ozymandias by Percy Bysshe Shelley (1792-1822)

Kamu masih disitu kan, Han? Masih belagu dan maha, kan? Well, kata orang-orang, Kamu masih tetap seperti itu. Menyayangi dengan caraMu sendiri.

Tapi dari apa yang aku alami sendiri, ternyata Kamu memang masih Maha Usil. Masih suka bermain-main. Suka ngulik-ngulik yang lagi anteng. Kenapa sih? Apakah Kamu begitu kesepian hingga perlu hiburan? Atau Kamu merasa keusilanMu tersaingi sama aku?

Udah sih, Han. Aku kan usil begini juga atas izinMu. Kalo Kamu nggak membiarkan semua terjadi, nggak mungkin keusilanku bisa terlaksana.

Sebagai mahluk ciptaan, aku mencoba memaklumi Kamu. Aku mencoba menggandengMu dan berkawan denganMu. Secara psikologis, aku beruntung pernah dikenalkan denganMu dan masih menganggap Kamu ada. Setidaknya ketika tiada satu pun telinga mendengar, masih ada Kamu. Atau when shit happens, aku masih punya Kamu untuk dipersalahkan. But, hey! Aku nggak akan berbuat sebodoh itu lah. Aku tau Kamu membiarkanku menentukan pilihan-pilihan sendiri. Karena itu shit happens because of me. Gitu kan?

By the way, gimana kabar kamu, Han? Kamu sedih ketika banyak orang membunuh sesamanya demi terkukuhkannya nama-nama suciMu? MenurutMu, apa yang akan terjadi di tanah Palestina ketika orang-orang Kristen dan Muslim tergusur Yahudi? Mbok ya Kamu itu ngomong sendiri to, dulu perjanjianMu sama Musa itu gimana sebenernya. Dan penyelesaian terbaik itu seperti apa. Mosok Kamu nggak ngelus dada sih liat manusia berebut tanah tandus sepetak sambil bunuh-bunuhan dan memanggilMu dengan tiga nama?

Atau... memang belum waktunya?

Nggak tau nih, Han. Rasanya kok 'kering' ya? Aku takut Kamu menjauh.

Help?

Labels:

Tentang Maju

Posted by The Bitch on 4/22/2009 11:02:00 AM

kita tak kan berhenti di sini
kita adalah doa yang menjelma
dari mimpi buruk alam semesta
menyesal lahirkan pemerkosa
yang tega gagahi ibunya sendiri
- Taken from here and written by Ichimusai, my Papap

Kami duduk berhadapan di meja sebuah warung tenda, sejam lepas tengah malam. Lelaki kecil berwajah tirus, berkacamata minus dan berhidung panjang di depan saya mengaku kelaparan. Pulang saya batal sepenggalan karena pengantar minta ditemani makan.

Saya mengenalnya Oktober tahun lalu, bertepatan dengan dibukanya tempat nongkrong tetap saya sejak saat itu. Dia, si konyol yang kerap bertingkah seperti anak sekolah. Orator hebat dan penikmat wisata kuliner dengan jam terbang tinggi. Terutama rendang, masakan khas daerah asalnya. Lelaki tiga puluh dua dengan meja kerja dan pakaian rapih tanpa cela, juga motivator sejati yang melihat semua hal dari kacamata bermain. Dia, si kecil dengan aura kakak menguar tak terbendung.

Di tengah Sapi Cah Kailan yang dia makan separuh, pernyataannya membuat saya tersentak.

“Lu inget tadi pagi keluar kamar kos pake kaki yang mana makanya kita bisa jam segini makan bareng disini? Lu tau apa yang bikin gue tau-tau mau nganter lu pulang? Gue sendiri juga nggak tau. Setiap detik, sadar atau nggak, kita dihadapkan oleh pilihan. Itu adalah hal terindah menjadi manusia!”

Saya berontak! Saya benci jadi manusia yang selalu harus memilih. Saya sedikit mengutuk Pak Adam yang lebih memilih ‘ada’ ketika Tuhan menyediakan pilihan hidup atau mati. Choosing is confusing!

“Pikiran, Pit. Let’s say, berapa orang sih yang bakal ngajak lu ngewe? Lu mau apa nggak, tergantung elu. Kalo lu cuma cari seneng-seneng, lu bakal mau. Tapi lu nolak! Kenapa? Cuma elu yang tau alasan sebenernya. Tapi gue percaya semua manusia pada dasarnya adalah baik. Dia yang milih sendiri mau masuk surga atau neraka. Itu kalau memang ada.”

Saya membenarkan. Dengan sangat berat hati.

“Belief. Itu yang bikin gue berusaha berpikir positif ketimbang caci-maki orang lain. I believe this country will turn into a great nation. Jangan salahin pemerintahnya. Salahin diri kita sendiri yang nggak bisa bikin perubahan. Lagi-lagi, kita mau apa nggak susah-susah buat bikin perubahan itu?”

Padahal beberapa jam sebelumnya saya mengirimkan SMS pada seseorang, mempertanyakan keraguan saya sendiri. SMS sebelumnya yang berisi ‘Insya Allah, keyakinan dan minat nilainya menyalip bakat’ terasa sangat mengganjal. Tak berbalas. Ternyata keraguan saya terjawab dengan hantaman keras ini.

Dan saya diingatkan untuk kembali percaya pada ‘believe’. Shit!

Pembicaraan kembali bergulir diseling jeruk dingin dan jus mangga, serta asap rokok yang tidak berhenti dari mulut dan hidung saya.

“Mereka, para penulis, nggak sadar kalo diri mereka sudah menjadi nabi. Bullshit itu, membiarkan pembaca mengintepretasikan apa yang tertulis. Kesimpulan baik atau buruk yang diambil pembaca dari sebuah tulisan, penulis punya tanggung renteng yang bakal dia panggul karena men-trigger pemikiran itu. Inget!”

Dan saya semakin menunduk.

“Tapi trigger adalah awal yang bagus untuk mengubah mindset. Lu bakal bisa bikin pembantu lu nanti nggak kurang ajar ketika lu ajak dia makan satu meja. Kita adalah orang-orang post-mo yang ngerti internet, yang tau dan melek informasi, yang punya wawasan terbentang luas. Jangan berpikir dengan otak lu untuk masuk ke dunia orang-orang yang bukan post-mo. Carilah kesetimbangan. Bertindak baik, bertindak benar, dan bertindak bijak adalah tiga hal yang beda. Yang terakhir yang paling susah. Dan itu beban kita sebagai orang yang lebih tau,” sergahnya lagi.

“Butet, yang ngajar baca bocah-bocah Suku Anak Dalam memang nggak bijaksana kalo cuma ngajarin baca-tulis. Mereka lebih butuh pelajaran hidup. Tapi kalo dengan itu mereka bisa dapet motivasi untuk tau bahwa dunia nggak sesempit hutan yang mereka huni dan rasa ingin tau mereka jadi tinggi, buat gue itu bukan hal bodoh. Still, it depends on them. Pilihan terletak di tangan mereka. Mau nggak mereka buka mata lebih lebar?”

Damn! Lagi-lagi saya dikemplang tanpa bisa melawan, karena kata-katanya adalah benar. Saya kerap ‘bicara dengan bahasa saya sendiri’, dengan mindset saya sendiri. Dan saya masih terkaget-kaget ketika pesan yang ingin saya sampaikan meleset dari target.

“Kita bisa bikin perubahan, Pit. Kita bisa melakukan sesuatu biar nggak dibego-begoin pemerintah. Jangan salahin pemerintah yang nggak bisa bikin apa-apa untuk Situ Gintung; Mega yang nggak capable; Prabowo yang arogan. Emang kita bisa bikin apa? Setidaknya orang-orang itu udah bikin beberapa gelintir orang punya nafkah. Makanya, kalo lu pinter, cari cara gimana nularin kepinteran elu ke orang-orang.”

Dan saya pun berceloteh tentang project titipan seorang putra Cilincing untuk mengajarkan Bahasa Inggris pada pengamen jalanan. Project yang membuat saya menghela napas berkali-kali namun bikin saya penasaran.

“Gilanya, Mas… Gue cuma dikasih waktu tiga bulan buat bikin anak-anak itu ngerti. Isn’t that nuts?!”

Sepasang matanya mendadak menyala terang mendengar kata-kata saya.

“Hey! That’s sexy, bukan gila! Kalo lu pinter dan disuruh ngajar orang-orang pinter, apa asiknya? Kalo lu pinter dan lu jungkir-balik bikin orang yang nggak ngerti apa-apa jadi tau, bukannya itu tantangan? Itu way beyond sexy, Sista!”

“Gue tau, Mas. Gue cuma bingung gimana mulainya. Dulu gue sempet punya project pribadi kayak gini. Gue ngajarin pengamen di Patas AC 05 buat bawain Top 40 dengan pronunciations yang bener biar nggak diketawain penumpang. You know what? Yang ada MP3 player gue diembat dan duit gue dibawa kabur. Gue udah nyoba masuk ke dunia mereka. Gue begadang bareng mereka di terminal. Mungkin gue masih berpikir cara gue. Gue bertendensi. Gue pengen mereka punya peluang. Sama seperti gue dapet kesempatan perbaikan hidup meski gue nggak jadi sarjana,” jawab saya.

“Harusnya lu kasih motivasi ke mereka. Coba pikir: kalo lu jadi pengamen, yang terpenting adalah live for today. Gimana caranya lu dapet duit lebih dari ngamen. Ajak mereka nge-logic, gimana duit gopek yang biasa mereka dapetin, bisa jadi dua ribu dengan gaya nyanyi yang beda. Bagus tuh, elu mau ngajar bahasa Inggris lewat lagu. Gue suka!”

“Jadi… Hajar nih?”

“Maju, Pit. Hajar! Just do it, kata tagline Nike,” tandasnya sambil nyengir.

“Satu hal yang lu perlu tau: jangan berhenti belajar meskipun lu ngajar. Bikin diri lu pada posisi nggak tau apa-apa, karena dengan itu lu bakal terus bertanya dan otak lu kepake.”

Saya mengangguk mantap.

Saya temani dia ke mobil dan menolak diantar karena kos saya tinggal beberapa langkah dari tempat makan.

“Makasih ya, Mas. You’ve enlightened me,” kata saya sambil bersandar pada jendela kendaraannya yang setengah terbuka.

“Pencerahan buat elu. Padahal tadi itu gue sampahin lu. Haha!”

Saya melambai ketika akhirnya klakson dia bunyikan dua kali lalu melaju ke kiri jalan. Aaaaaaahhhhh… benak saya orgasme berkali-kali…

Labels:

Lelaki Lelah di Ranjangku

Posted by The Bitch on 4/16/2009 11:48:00 AM

... and I write to unleash...

Lelaki lelah di ranjangku mengeluh pegal minta dipijat. Tidak, kataku. Kamu bukan bapakku, karena aku pemijat eksklusif untuk keluargaku.

Lelaki lelah di ranjangku merangsek maju, memintaku bercerita tentang film, tentang mantan pacar, tentang malam dan tentang gelisah. Tidak, kataku. Kita sudah pernah membahasnya dan aku bukan multimedia player penurut tanpa pernah protes dimuati cakram DVD yang sama tiap hari.

Lelaki lelah di ranjangku rebah ke samping. “Jadikan aku dildo berkupingmu. Aku rela”. Tidak, kataku. Daging lebih yang menggelantung di sela pahamu adalah alat, membantumu mendapatkan dua penerus keturunan dari rahim seorang perempuan yang kau ikat dalam janji suci atas nama agama, negara, Tuhan.

Lelaki lelah di ranjangku hilang akal setelah tadi meloloskan jins dan membuatku menolak kekagetan di wajah sendiri. Lelaki lelah di ranjangku terbebat handuk putih yang kulempar ke muka, menutup pinggang hingga batas lutut. Memamerkan setelapaktangan tanda lahir berwarna gelap pada paha kiri di atas kulit merah kecoklatan. Dia, yang berlekuk serupa Adonis dan merasa merengkuh dunia pada kedua lengannya. Lelaki lelah di ranjangku yang kupuja (dengan arogansi setinggi puncak Everest) tanpa dia pernah tahu.

Lelaki lelah di ranjangku yang seharusnya berada di ranjang sendiri. Terhangatkan gelinjang liar pasangannya. Dan bukan dariku. Tidak pernah dariku.

Lelaki lelah di ranjangku tak kenal letih memamah baris demi baris terjejal pada pendar elektrik layar tiga belas inci, menggumamkan empat elemen pertiwi, menghalau kelamin yang sedang ereksi, alpa mengeja pori-pori (dan pada fase ini aku nyaris mati menahan diri).

Lelaki lelah di ranjangku, memanggul harapan berupa nama untuk bisa selalu bijak dan penyayang. Tapi apa lacur? Jika aliran darah hanya bisa terpusat ke satu titik sementara gravitasi bumi membuat semua mengalir dari yang tinggi ke rendah, bisakah kusalahkan kau yang lebih memilih hasrat bawah perut ketimbang berpikir dengan kepala dingin?

Lelaki lelah di ranjangku, adakah kau pikir melepas sperma adalah cara tercepat menggiring penat ke bibir jurang untuk jatuh tanpa suara ke lubang tanpa dasar?

Lelaki lelah di ranjangku teruji, hanya memiliki nyali sekulit ari. Ketika selangkang tak sempat mengangkang, diambilnya kunci, diseretnya kaki, lalu hilang di penghujung hari. Kembali ke pelukan anak-istri.

Lelaki lelah di ranjangku, pernahkah kau mengerti? Kau bawa serta sepenggal harap dengan rasa tak bernama. Membiarkan secuil hati koyak untuk kembali menjilati luka, sendiri. Sunyi.

Lelaki lelah di ranjangku, perempuan keberapa aku hingga kau perangkap begini? Benarkan ritual dini hari kau lakukan demi jiwa yang tanggal lapis demi lapis? Bukankah kau tak lagi berjiwa kecuali nafsu yang kau komando melalui perintah suara?

Terimakasih, lelaki lelah di ranjangku. Kamu membantuku mempertebal benteng sekokoh beringin yang selama ini angkuh tak terperi. Mungkin kita akan bertemu kembali. Namun tidak disini. Bukan saat ini.

Akhirnya aku mengakui bahwa Fay Weldon memang seorang nabi!

[Ini terapi, membasuh luka dengan melepas amarah. Maaf jika ada beberapa orang yang merasa dan tersinggung karenanya. Jangan khawatir. Ini fiksi. Tidak termasuk fotonya.]

Labels: