"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Another Weekend Shits

Posted by The Bitch on 8/31/2008 08:27:00 PM

Destiny. Where motives and methods and everything is connected. Sometimes a little human collateral is the cost of freedom. For one person, they are only war casualties. For another, they are just evidence. Some people don't know what's coming. They don't have a clue.

There is a purpose. Satan reasons like man but God thinks of eternity. Somehow, I prostrate myself before a world that's going to hell in a handbag, 'cause in all eternity, I am here and I will be remembered. That's destiny. A bomb has a destiny, a predetermined fate set by the hand of its creator. And anyone who tries to alter that destiny will be destroyed. Anyone who tries to stop it from happening will cause it to happen. We're not here to coexist. I'm here to win. So you'd better have some divine intervention. You're gonna need it.

(Caroll Oerstadt in Deja Vu. Oh, the monologue was happening in the interogation room where he stated those shit with pride but cried after Denzel said, "You better have K-Y; you're gonna need it.")

Mungkin otak gwa yang overloaded dengan pikiran-pikiran nggak nggenah, but somehow gwa selalu merasa bahwa semua hal yang sudah, sedang, atau akan dilakukan beberapa milyar manusia di seluruh dunia sesungguhnya pernah dilakukan berjuta-juta kali oleh orang-orang yang hidup sebelumnya. Bahkan ketika gwa mengetikkan entri ini. Dan ingatan itu tersimpan sedemikian rupa dalam otak-terlupakan, mungkin-mengendap di lapisan terbawah, menunggu seseorang (sesuatu?) untuk mengaduknya dan kemudian melayang naik ke permukaan.

Satu hal tentang benak manusia adalah bahwa isinya adalah alam semesta itu sendiri: njelimet, unbelievable, dan banyak misteri yang tidak dapat diungkap bahkan oleh pakar paling ahli. Sel-sel kelabu yang aktif bergerak dan berpikir itu menangkap data dan disimpan pada storage yang keseluruhan beratnya nggak sampe lima kilo, memilah-milah mana yang harus diingat dan mana yang harus dinafikan. Makanya ada hipnosis, cara buat manggil ingatan yang ingin dilupakan biar balik lagi dan bisa dianalisa (now I sound like a Freudian. Blah!). Kalo otak bisa inget semua hal yang manusia kerjakan detik demi detik, maka storage yang nggak sampe seberat salah satu toket mendiang Lolo Ferari itu nggak bakal cukup. Edan.

Dan gwa percaya bahwa yang bertugas mengingat tidak hanya otak namun juga seluruh sel yang secara kolaboratif membentuk apa yang menjadi seorang Pito, Sandal, Jin Laknat, Mbak Uli, Maz Arif, dan lain-lain, dan menggerakkan mereka mau kemana dan ingin apa. Dimana meletakkan kunci kamar kos, makan mie ayam pake sumpit, pesen gado-gado di warung ujung gang, merancap di kamar mandi sambil membayangkan bersetubuh dengan Maria Ozawa, bagaimana mengisi form excel laporan bulanan, dan sebagainya.

Dalam gen yang gwa bawa, juga terdapat ingatan-ingatan dari kedua orang tua yang urun sel sperma dan sel telur, dimana mereka juga diwarisi ingatan kedua pasang mbah-mbah gwa yang juga mendapat warisan ingatan dari buyut gwa yang mendapat warisan dari cicit gwa, teruuuuuuuuus ke atas sampe bego. Nggak heran kalo gwa sering ngerasa dejavu, seperti pernah melakukan ini tapi lupa dan nggak inget dimana. Seperti kenangan lama yang tersimpan baik-baik di sudut hati dan terpicu keluar karena bau, suara, bunyi, dan apapun yang tertangkap panca indera.

Karena itu gwa nggak gumunan jika menonton, mendengar, melihat, atau membaca apa aja. Paling cuma heran, bagaimana bisa seseorang menyusun cerita sebegitu bagus tapi gwa nggak pernah ngalamin, misalnya. Dan gwa nggak percaya hak cipta. Seperti si Mas ini, dengan senyum selalu tersungging, pernah bicara tentang ide yang beterbangan di udara, tak kasat mata, menunggu untuk 'dipetik'. So, silahkan mau copyleft apapun yang ada disini. Monggo. Karepmu. Gak ngurus. Cuma orang yang gilanya kaffah yang bisa nerusin tulisan gwa dan tetap mempertaankannya selama hayat dikandung badan. Haha!

Udah ah. Mau traweh. Cieee....

ps: eh, eh, kalo dipikir-pikir omongannya Caroll Oerstadt kayak kamu lho, Maz! Dia aja berani ngebom kapal feri, elu bikin apa kek yang lebih heboh. Katanya pengen jadi Nero mbakar Roma sambil dengerin Recuerdos De La Alhambra? Mosok beraninya cuma jualan aspal macem Daendels bikin Anyer-Panarukan?

Labels:

La Vita è Bella

Posted by The Bitch on 8/25/2008 02:03:00 AM

Berteman satu karton susu full cream dingin seliteran (yang saya tenggak langsung tanpa gelas) dan suara seksi Jonathan Davis menyumpal telinga sambil menunggu telepon dari Jin Laknat, saya mensyukuri hidup yang menurut saya amat sangat indah tak tergantikan. Tidak, saya tidak membandingkan dua puluh tahun sekian hidup saya dengan penjual angkringan yang tadi saya sambangi dan bercerita tentang pekerjaan barunya sebagai pesuruh kantor. Atau dengan tukang parkir asli Malang berwajah mirip Sujiwo Tejo yang saya pancing ngobrol dan berakhir dengan pembicaraan mengenai syariat-tarikat-hakikat-makrifat dan bagaimana akhirat sebagai hidup setelah mati (dan saya babak bundas mengikutinya). Atau dengan senyum di muka lelah mbak-mbak pelayan resto fastfood tempat saya mengganjal perut dengan nugget dan rootbeer di detik-detik menjelang tutup (dan saya santai merokok 3 batang sambil membaca). Atau dengan bapak supir taksi pendiam yang saya tumpangi dari pelataran Melawai hingga Radio Dalam dan menunggu saya dengan sabar bersandar pada tangan di balik kuduk ketika saya memintanya berhenti di pelataran parkir warung 24 jam. Sama sekali tidak. Meski UMR saya sedikiiiiiiiiit di atas rata-rata. Meski tiap tengah bulan harus kukur-kukur ndas karena tidak bisa membeli rokok. Meski harus menghela nafas karena tidak bisa mengganti V3 hitam butut yang selalu hang. Meski harus puas dengan mesin tik kelurahan berklitoris merah. Meski harus cengar-cengir tanpa daya ketika Ibu memarahi saya yang tidak pernah punya tabungan. Meski sering ditodong orang serumah untuk ngempanin ponsel mereka. Meski harus menelan ludah mengidamkan hard disk eksternal sebagai penyimpan file musik pembangkit mayat dan koleksi manga dan hentai bondage dan monster. Meski sering dimarahi Bu Mandor karena hobi bercelana buntung ke pabrik. Meski sering merasa sepi di tengah keramaian. Saya bersyukur tak habis-habis.

Dimensi kesusahan 'orang-orang kurang beruntung' yang saya sebut di atas-sebagaimana disebut masyarakat mid-high class sok tau-adalah jauh berbeda dengan kesulitan hidup saya. Paralel, gak sama. Just... different. Namun yang bisa saya rasakan, cewek mapan-modis-halus-terawat yang kemana-mana nyetir mobil sendiri, saat menemukan satu jerawat di hidung atau SMS ke pacarnya tidak berbalas, memiliki stress dengan level dan kadar yang sama dengan istri pekerja bangunan beranak lima dan tinggal di bantaran sungai Ciliwung ketika upah dari suami tinggal dua puluh ribu sementara gajian masih tiga hari lagi dan beras telah tandas. Tingginya tingkat sosial seseorang akan berbanding lurus dengan kebutuhan-kebutuhannya. Dus, makin tinggi pendapatan, makin banyak kebutuhan dan prioritas utama yang harus dipenuhi. Makin tinggi status sosial seseorang maka akan semakin banyak tuntutan sok-sial tersebut terhadapnya, dan mau nggak mau harus dia penuhi jika masih ingin hidup lebih lama dalam lingkungan tersebut. Masing-masing orang punya kesusahan dan kesulitannya sendiri-sendiri, hanya secara teknis dan bagaimana menghadapinya saja yang berbeda, tergantung tingkat kedewasaan dan bagaimana cara berpikir. Lagipula, kesulitan itu sebenarnya mahluk apa sih? Keterbatasan? Ketiadaan fasilitas? Rendah diri? Use your brain, loosers!

Saya nggak percaya pada masalah yang tidak terpecahkan, pada keterbatasan, pada ketidakberdayaan. Seperti slogan salah satu produk olahraga, impossible is nothing, meski diperlukan waktu lebih lama untuk mencapai apapun itu yang ingin diraih. Saya nggak pernah baca yang namanya buku-buku bullshit tentang pengembangan diri. Saya hanya punya ibu yang who had been through hell and back dan menceritakan pengalaman-pengalamannya pada saya. Beberapa disertai tangis namun sering dengan mata membara menyimpan api. Nggak ada yang nggak bisa. Adanya cuma nggak mau, tegasnya. Karena itu saya percaya untuk push to the limit, to go beyond the boundary. Still, wejangan itu selalu diakhiri secara implisit dengan 'know how to start and when to stop' sebagaimana konsep nrimo ing pandum. Fair enough. (Ibukku jik Jowo, Cuk! )

Dan Sabtu sore hingga dini hari kemarin beranda kamar kos saya dipenuhi empat orang mbak-mbak Ijo Lumut (Ikatan Jomblo Lucu dan Imut--atau begitulah cita-cita mereka. Sumpah, saya nggak!). Mereka berbagi kisah dan resah tentang cowok, pekerjaan, masa depan, kehidupan yang akan mereka alami setelah masa lajang terlepas, dan siapa diantara selebriti ganteng pujaan perempuan penyuka sinetron yang suka semburit sesama jenis. Saya sengaja melupakan tumpukan cucian dua minggu yang siang tadi sudah saya rendam deterjen, abai pada dunia kotak yang sudah lama tidak tersentuh sapu apalagi kain pel, amnesia pada kondisi kasur dengan seprai burai dan selimut tercampak, dan cuek pada buku terbuka di atas bantal dengan asbak dan serpihan abu rokok layaknya keping salju pertama, dan kukuh bertahan pada aroma babi sekandang karena Jumat pagi kemarin saya terakhir mandi (itu mah default!). Di waktu yang sama ponsel butut saya layarnya menyala hampir tanpa henti saat pesan-pesan pendek masuk dari jiwa kesepian di salah satu sudut negeri meminta waktu dan telinga saya sekaligus. Dan semua-di depan, di samping, dan di layar telepon-menyedot perhatian saya secara simultan.

Sungguh, saya bersyukur untuk makan siang yang setiap hari terpampang di tempat saya memburuh karena teman-teman perempuan saya berlambung kecil namun bernafsu besar. Saya bersyukur untuk jam memburuh nggak jelas yang membuat saya bisa nyomot Bleach dan beberapa gambar provokatif Tante Bellucci atau Dek Dizon (dan ngarep bisa berbodi kayak mereka. Huahahaha!). Saya bersyukur dengan sekolah saya yang Dancing Out tapi membuat saya bisa membaca dalam bahasa lain. Saya bersyukur untuk pekerjaan sampingan tak terduga dan bisa bayar utang. Saya bersyukur punya teman-teman yang rajin menghubungi saya, memanfaatkan promo gratisan provider GSM lepas tengah malam. Saya bersyukur untuk teman-teman yang mempercayakan masalah-masalah mereka pada saya sebagai kuping 24 jam walau solusi yang saya beri kacau balau (dan ahirnya harus bayar tagihan telepon lebih dari biasa).

I couldn't ask for more. Thank you, all. You make me feel alive and kicking (=

ps: so, Papa Vajra, sudah bersyukur hari ini? Fuck Gurdjieff jika kamu hanya masturbasi dengan pikiran-pikiranmu. Anyway, ganbatte for your Battle for Insanity! I made this entry to kick your balls. Haha!

Labels:

Some Kinda Nothing

Posted by The Bitch on 8/22/2008 03:43:00 AM

Hey Han!

Sudah akan Ramadhan lagi dan kesalahanku masih membukit. Janji, niat, yang akan berujung entah, dan lagi-lagi Kamu masih selalu terlalu baik. Nggak bosen apa Han, tak kasih cuap-cuap semacam caleg cari dukungan?

Sudah akan Ramadhan lagi dan waktuku hampir tak ada. UntukMu, untukku sendiri, dan untuk orang-orang terdekat. Sementara Kamu mencipta matahari dan bulan bukan tanpa arti (meski aku sunyi sendiri menggugat pengetahuan yang semakin ingin digali).

Sudah akan Ramadhan lagi dan langkahku makin jauh. Apa yang sepertinya aku cari hanya berakhir pada ruang hampa kedap suara. Dan teriakanku semakin hilang, tenggelam bersama hiruk-pikuk kerumunan riuh.

Sudah akan Ramadhan lagi dan kerja tak pernah selesai. Bagi tubuh, bagi jiwa, bagi benak. Ramadhan memang tidak akan membuat semuanya bertambah ringan. Namun Kau berjanji ini adalah pertempuran terberatku melawan nafsu untuk utuh mendapatkanMu.

Han,
Tolong...

Labels:

Blah!

Posted by The Bitch on 8/20/2008 03:30:00 AM

Well, now I'd like to babble about people called lunatics, loony, nuts, insane, mentally disorder, crazy, screwed-in-the-head, or whatevathefuckingnameis. Starts from...

Him who had made an encounter with a piper who called himself Borneo from Kalimantan (got the pun? Go praise your stupidity if you don't. Haha!), scribed on a leftover name card that once belonged to someone. Who that someone is would be nothing of any importance in whatsoever. What I'm about to emphasize is how he wrote about this so called Borneo with respect, without any disgraceful tone in his most gentle manner and lifting this loony up by calling him a man with free soul though another person stated his/her gratitude for being way better than this poor Borneo and it sucked, big time. (I knew him well to call him gentle, so stop rolling your eyes or I'll stuck my fingers into your sockets and poke them out. Capiche?)

And then, him who is so depressed he needs professional help and proud of it (or doesn't give a damn, I never know). A megalomaniac who lost his audiences and shares his knowledge to the silent world of his mind because he could not communicate his enlightenments in any language, written and/or spoken, since people could not understand him. He looks up to Hitler and Pharaoh as his raw model on how insanity could rule the world. He, who takes Nietzsche as a spiritual man, and says existentialism is nothing but a good read when you have to burst your shit out in the john.

Him, who once went to Bogor Botanical Garden barefooted, on a crowded train, without giving a single fuck to people around. A person whose glare is a psycho but has the heart of Theressa (that he showed very, very, rarely), and, with his time, a borderless savanna for anybody to sit and take a rest as long as they please. He, who people take for granted because of his look, his shabby clothes and his habit of not touching the water for days. Does he give a slightest shit about it? Hell no!

I didn't mean to make this mental disorder shit as a gender issue, that it only inflicts to male as 'disease'. You should forgive my lack of female acquaintances, then. I know, somewhere out there, people blessed with vaginas who have the same mania as these penises species do exist. Too bad I didn't know any. Or, should I call myself to the spotlight? Oh, well.

Yes, people sometimes mistaken me for a loony since I zoned out more often than not among my hang out mates, or jabbering on meaningless subjects though no one hears me. Yes, I wore boots to go with feminine dress and showed up in a wedding ceremony located in a forsaken corner of Purworejo. Yes, I have this nailbiting habit that hurt and bleed from my teeth attack. And yes, I rock myself to and fro when I'm sitting crosslegged alone and nervous in my square world. Even my female best friend stated that anyone who take my haircut as an example in a beauty parlor should questioned his or her sanity. And my major fantasy is becoming a lesbian, panting, groping, and licking the restless and naked and squirming and moaning and horny as hell Monica Belluci who lies under me.

Fuckin' fine, then. For me and all the person I mentioned above, we don't live to make anybody feel better for their socalled 'normal' life. We're not the unfortunates who have to be granted mercy from others. It's the others that we should take pity on since they could not live the life to the fullest and be happy with it as we are. And I'm pretty damn sure Joker has more fun than Bruce Wayne or Batman since he's always asking 'Why so serious?' though everyone calls him nuts. It's obvious that Joker is way beyond cool than neither the pathetic Batman and/or Bruce, because it's clearly his story that been told in Dark Knight while The Bat is just flashing his artificial cape, riding sophisticated Batmobile that made for come-what-may against the barehanded Joker (The Manson, ex Mr. Dita Von Teese). Batman could only pout in a way a rich, bastard, brat should pout while Joker smiles, for fuck's sake!!

Still, should you be grateful for what Satan or God has been blessed you with, say thanks in your most proper way and don't try to compare your bountiful privileges with us. We've been cursed with fun and gladly dwell in it. We're just not like you and don't want to be like you. Period.

Besides, insanity and genius be differentiated in only sejembut dibagi seribu. Come forward you, people who call me insane. How many hours do you need to make this kind of post, in English, while it took me only 30 minutes? Therefore, sit back, relax, carry on with your splendid, customary lives and shut the fuck up. Will ya?

Labels:

Siang Sunyi (?)

Posted by The Bitch on 8/19/2008 03:12:00 PM

Sebentar...
I'm the best? Really?
Bukankah 'the best' adalah superlatif dimana harus ada pembanding sementara disini yang menjadi peserta satu-satunya adalah saya seorang diri?

Wait...
Hanya saya yang mengerti kamu?
Oh, Please!
Jika kamu menutup diri pada dunia bagaimana dunia akan mengerti kamu?

Errr...
I'm amazing?
Yeah rite. You see me with the microscope on and I'm the only ear who'd like to hear

So, what's the deal?

Let me strip the plain, let me not give in.
Free me of your life, inside my heart dies.
Your dreams never achieved, don't lay that shit on me.
Let me live my life
(Korn - Dead Bodies Everywhere)

Labels:

The Mother

Posted by The Bitch on 8/13/2008 05:21:00 AM

Masih dalam rangka safari kondangan, saya berhasil menyasarkan diri ke pelosok Klaten dengan rok batik sematakaki dan blus putih tanpa lengan. Stupid memang, jauh-jauh dari Jakarta ke Klaten hanya untuk kondangan, apalagi mengenakan 'perabotan lenong' berupa rok dan blus. Tapi begitulah kode etik saya demi menghormati yang punya hajat.

Namun (mungkin) karakter saya memang tidak terhormat. Pada pesta yang telah usai itu, pada hamparan makanan yang tertutup perabot metal, di depan panggung pelaminan terpampang megah di halaman rumah, di depan sepasang mempelai yang telah berganti baju rumahan beserta kerabat-kerabatnya, di hadapan seorang ibu berwajah bijak-bestari, saya yang hanya tentengan dan cuma kenal si wali nikah yang kebetulan teman saya mulai merasakan candu nikotin merambat perlahan dari urat nadi dan menggedor syaraf motorik untuk segera memasukkan asap jahanam ke dalam paru. Saya reflek menjangkau sekotak rokok dalam tas dan meminta izin sekedarnya. Dikasih atau nggak, saya bakal tetap menyulut. Yang menenteng saya, cowok tinggi besar dan agak sok perhatian itu, sebenarnya agak kaget. Begitu juga ibu mempelai perempuan. Namun saya cuek saja menyalakan dan menghisap dengan nikmat sambil menunggu bapak wali yang sedang mengantar abangnya ke terminal.

Sudah saya duga sebelumnya. Si Ibu langsung mengeluarkan petuah bijak tentang bahaya merokok bagi perempuan dan bagaimana trik mengurangi asupan nikotin dalam darah untuk mengikis candu dan telah berhasil diterapkan pada almarhum ayah yang telah tiada karena gagal ginjal. Saya hanya manggut-manggut dengan sedikit ngeyel di sana-sini sambil bersyukur dalam hati karena ibu saya sendiri hanya bisa menghela nafas tanpa bisa melarang saya merokok.

Tidak lama kemudian teman saya datang, tidak jadi mengantar si abang karena tau cowok yang menenteng saya ada di rumah ibunya. Ternyata si abang ini nggak kalah 'bocor' dari saya. Dan kita pindah lokasi, dari kursi-kursi tamu turun derajat jadi lesehan di panggung pelaminan. Cela-celaan, ketawa-ketiwi tanpa ujung pangkal, lempar-melempar rangkaian melati dan kotak rokok seperti pelawak Srimulat berhasil membuat penonton ger-geran. Bahkan dia sampai berani memiting dan menjitak kepala saya, entah karena sebal atau gemas, sambil tertawa-tawa (keanehan kesekian yang kerap saya jumpai pada orang-orang yang lebih tua karena entah sudah keberapa kali saya diperlakukan seperti ini). Dan saya melupakan sang ibu.

Hari beranjak sore, perut sudah kaku karena terlalu banyak tertawa dan es krim sudah tandas kami bantai. Saatnya saya pulang ke Jogja. Setelah berpamitan dan meminta maaf karena keributan yang kami perbuat, kami pun kembali menyusuri aspal dengan bapak wali tertinggal di belakang. Dan cowok yang menenteng saya itu masih membahas betapa saya sungguh-sungguh membuat syaraf tawanya tak bisa diam karena kelakuan saya.

"Elu mungkin cewek paling gila yang pernah ditemui ibunya T****. Lo ngeh nggak? Selama lo cekikikan tadi si ibu masih ada di belakang lo sambil ngelus dada prihatin," kata teman saya.

"Hah?! Lu kok nggak ngomong sih?! Edan ah! Gwa kan nggak enak jadinya..."

Mampus!

Kembali ke Jakarta dan saya online lewat layanan Instant Messenger gratisan. Saya masih penasaran dengan sang ibu dan apa yang ada di pikirannya mengenai saya.

Saya: Eh, nyokap lo shock ya liat gwa?
Dia: :D
Saya: Nggak menjawab pertanyaan >:P beliau komen apa pas gwa pulang?
Dia: Nggak komen apa-apa kok, cuma bilang 'Temen kamu itu tomboi banget ya. Temennya pasti laki-laki semua...'
Saya: Beneran? Nggak komen apa-apa lagi?
Dia: Iya, bener. Cuma bilang itu aja
Saya: Lo nggak dilarang deket-deket ama gwa?
Dia: Nggak. Tenang aja

Habislah saya. Apa jadinya kalau beliau tau anak lelaki satu-satunya itu sedang saya target untuk jadi 'tentengan tetap' saya yang ke sekian? Blah! Saya lupa jaim!

Nasibmu, Nduk. Huahahaha!!!

Labels:

A Journey, Anyone?

Posted by The Bitch on 8/13/2008 02:21:00 AM

Kamu tidak memilih perjalanan, namun perjalanan yang memilihmu
Zen si Pejalan Jauh

Senin sore kembali saya jejak Stasiun Jatinegara. Melangkah mantap diantara kerumunan penumpang KRL Jabotabek yang berdiri menunggu kereta di peron. Berbaur bersama copet dan pengemis dan anak-anak dekil memanggul karung besar berisi gelas plastik bekas wadah air mineral. Menghirup kembali campuran aroma keringat, parfum merek abal-abal, dan asap knalpot yang melindap dari luar. Senyap dalam riuh halo-halo bapak petugas informasi dan pedagang asongan dan wajah penuh harap pengemudi taksi dan ojek dan bajay menawarkan jasa. Pada satu warung Sate Padang berornamen lalat di seberang saya labuhkan pantat, ransel padat dan tas hitam dengan logo salah satu provider GSM nyata tercetak di bagian muka berisi boots hitam setengah betis, salah satu 'perlengkapan perang' yang saya bawa dalam perjalanan. Fuck the flies, karena lapar adalah bumbu ternikmat untuk makanan apapun. Apalagi sedari dini hari menunggu, perut saya hanya terisi bergelas-gelas kopi pahit, pecel kereta satu pincuk, dan berbatang-batang rokok. Saat itu lalat hijau gemuk yang berenang dalam bumbu kacang pekat terlarut maizena pun akan terasa enak.

Langit hampir kesumba dan orang-orang bermuka lelah sepulang kerja memadati bis dan Mikrolet. Absen memburuh sehari, saya pulang lagi ke Jakarta setelah hampir tiga hari berada di jalan demi menghadiri upacara berawalnya siklus baru dua orang manusia dalam satu ikatan suci: pernikahan--satu kata benda yang bagi saya memuat konsep absurd tentang persatuan dua individu lain kelamin, berharap dapat menyambung garis keturunan lelaki yang akan repot mengurus mereka kelak di hari tua demi satu kata yang nggak kalah absurd yaitu bakti.

Kali ini saya tidak hendak bicara tentang betapa memuakkannya kehidupan berpasangan yang disahkan negara melalui dua buku mungil berwarna merah dan hijau. Tidak. Saya akan menceracau tentang betapa menyenangkannya pertemuan saat proses perjalanan telah terlampaui.

Pernah suatu kali seseorang (yang merasa-entah takut entah khawatir-punya hubungan lebih dari sekedar teman ke saya) berkata-dengan personifikasi dirinya sendiri-bahwa pemandangan indah yang ditatap melalui jendela bis tidak ada tai-tainya ketimbang apa yang didapat ketika sampai ke tujuan. Bagi saya, apapun yang saya lalui di perjalanan, dari bapak-bapak pengantuk di sebelah, mas tukang sambat di kanan depan dan lelaki dingin berwajah sumringah di sebelahnya; banci berbisep keren menenteng 4-string bas kotak dengan gincu tebal terlalu merah dan mata turun karena koplo; segarnya bunga Honje di puncak gunungan sayuran rebus dan rangkaian tahu-bakwan-lontong tertata rapi bagai canang sesaji pada bakul mbok-mbok pedagang pecel; perspektif rel mundur dari jendela gerbong paling belakang saat kereta melaju bertambah cepat; semua seperti terekam dan tersimpan rapi dalam memori kepala saya.

Begitu juga dengan muka bantal penjemput saya di Stasiun Tawang yang tersentak bangun karena fajar hampir terang sementara kereta saya tiba dinihari. Celakanya, sebagai perekam dan pengenang yang baik, ingatan akan Kota Lama, Java Mall, Peterongan, Sompok, Gombel, dan Banyumanik bertemperasan keluar seperti isi kotak yang dibuka Pandora. Fuck!

Dengan dress selutut berbelahan dada rendah dan boots hitam setengah betis (yang-anjrit!-disangka penyanyi organ tunggal gwa!), ditambah tas hitam mengilat berisi kado, menenteng cowok tinggi besar sebagai pengawal, malam itu saya blusukan di daerah Purworejo. Saya berhasil membuat para perempuan disana--yang HAMPIR SEMUA BERJILBAB--jadi bertambah tua karena kernyit pada alis mereka yang bertaut akan berhasil membuat satu kerutan tegas. Sementara bapak-bapaknya mungkin ngaceng nggak jelas sementara mulut mereka bergunjing tentang pasangan geblek yang duduk rapat cekikikan dengan gestur hampir berciuman. Namun yang paling menyenangkan adalah demi melihat wajah pengantin pria yang malam itu resmi menjadi suami seseorang. Raut yang tadinya tegang dan hampir tanpa ekspresi sontak takjub karena saya cengar-cengir sambil dadah-dadah ketika matanya bertumbukan dengan mata saya. Ternyata saya berhasil membuat syarafnya kendur karena dia bisa senyum di depan kamera. Yay!

Jujur saja, perjalanan kali ini memiliki banyak sekali agenda. Bertemu sahabat yang serasa puluhan tahun tidak bersua. Menyapa pusara paman saya. Melagukan liris, nyeri, dan (ehm!) cinta pada ruas jalan Semarang-Jogja bertahun-tahun ke belakang. Mencerca kemajuan Kota Pelajar yang sekarang sudah banyak taksi berseliweran. Menyambangi warung kopi (yang celakanya sudah nggak asik lagi). Dan bertemu perempuan kritis pembaca setia omelan saya. Namun inti utamanya adalah membuat kejutan bagi si mempelai pria yang apatis saya tidak bisa datang. Padahal saya sudah warning, jangan buat saya merasa tertantang atau dia akan malu. Jadilah. Entah sampai keturunan keberapa dia akan digunjingkan orang sekampung karena 'tamu tak diundang' yang nggak umum ini. Hihihi.

Dan, bicara tentang tujuan perjalanan, muka kagetmu nggak akan terlupakan. Haha!

Selamat berjibaku membangun keluarga sakinah-mawadah-warahmah-umbah-umbah-dan-asah-asah ya, Juz! Have a nice fuckin' life!

ps: Ka, kamu baru tau kalo aku keren? KEMANA AJA?!

Labels:

Stupidity, Anyone?

Posted by The Bitch on 8/03/2008 01:46:00 AM

Rada gatal juga membaca masalah ini. Apalagi sampe Ndoro Sesepuh unjuk posting juga karena diamanahi 'imel pengaduan' (yang sayangnya juga mengadukan nama-nama 'korban' lengkap dengan link ke blog mereka masing-masing). Berkolaborasi bareng manusia gila mantan playa, ditengah tenggat yang nggak kalah gila, saya ikutan nyampah di situs begawan panatablogger itu (saya nggak akan link blognya karena beliau sudah terlalu ngetop!).

Sungguh, kata adalah senjata. Berbekal semacam disclaimer yang menjelaskan bahwa beliau belum sempat crosscheck dan check dan recheck di penghujung tulisan, betapa manusia-manusia berumah maya tersebut seperti mesiu tersulut di padang gersang waktu kemarau dengan komentar-komentar yang tajam menusuk seperti belati segar tergerinda. Mereka lupa jika beliau HANYA POSTING dan bukan jadi curhat center. Beberapa nama yang ada dalam daftar 'korban' menolak pernyataan mbak pencurhat dan menyangkal jika mereka pernah kena tipu. Komentator yang berusaha meluruskan permasalahan ke jalurnya malah disindir-sindir. 'Tertuduh' penipuan yang akhirnya nongol jadi berang karena telunjuk-telunjuk murka yang mengarah ke mukanya. Ujung-ujungnya melunak dan berbaik-baik. Mungkin energinya sudah habis untuk mengumpat. Sementara yang punya rumah sendiri nggak nongol-nongol hingga komen ke berapa ratus sekian. Pokoknya rame!!!

Iseng, saya bertandang ke halaman rumah si 'tertuduh', baca entrinya skip-skip, dan nemu ID Instant Messenger-nya. Saya tinggalkan pesan singkat, berkata bahwa saya baru baca entri Ndoro dan asik ngikutin komennya yang seru. Beberapa jam kemudian pesan saya terjawab dan kami ngobrol. Well, at least istilahnya ya gitu lah, meskipun saya banyak diam karena sibuk membaca hasil paste dari chatter lain yang dia pikir punya ketertarikan sama dengan saya. Padahal dia bukan mind reader dan apa yang membuat saya tertarik tidak seperti yang dia pikirkan. Aneh.

Dari hasil analisa otak rusak yang sering saya bentur-benturkan casingnya waktu migren hebat melanda, si mas yang ceting nggak umum itu ternyata cuma player ecek-ecek. Mungkin dia terlalu menjiwai salah satu peran dalam film yang karakternya too good to be true, bikin salah satu anggota klan Punjabi tambah kaya raya karena menangguk keuntungan dari pertunjukan hampir dua bulan, yang membuat mbak-mbak berjilbab lebar berbondong-bondong ke sinema, bikin mereka terkaing-kaing sama mas-mas alim-baik-keren dan berharap nemu satuuuu aja (buat mereka masing-masing) di dunia nyata. CMIIW, tapi begitulah yang saya liat dari kacamata butut saya yang sering berembun ini.

Mas-mas yang, konon, asli ti Garut ini bermanis-manis playing bad-boy-wants-to-be-good dengan beberapa rayuan edan adaptasi dari Ayat-ayat Cinta. Dan mbak-mbak 'korban' yang mungkin bosan dengan kehidupan rumahtangga mereka yang lurus-lurus saja seperti mendapatkan lahan untuk beramal dan berbaik hati dengan sedekah perhatian. One thing leads to another, dan kisah roman-romanan berlangsung setelah itu.

Saya sangat menyayangkan mereka yang tidak punya hidup seperti saya yang sering berada pada lubang jarum, dimana situasi dan kondisi kritis adalah makanan saya tiap hari hingga bikin mati rasa. Mereka yang selalu berada pada kondisi senang-mapan-nyaman dan lurus-lurus saja lalu bosan kemudian mencari setitik adrenaline rush yang akan membuat mereka 'menyala' kembali. Dan mengapa saya menyebut korban dan pelaku dengan tanda kutip? Karena mereka bukan keduanya. Mereka hanya orang-orang maya yang saling menemukan apa yang mereka butuhkan. Dan itu sangat pribadi namun terumbar pada orang-orang dalam lingkaran terdekat. Dalam jeda waktu yang saya nggak peduli kapan, mbak-mbak tersebut (yang digambarkan sebagai ibu-ibu muda dan segar) mungkin mundur selangkah dan melihat bagaimana big picture antara mereka dan si mas garut ini terbentuk, menyadari bahwa gambar itu miring tidak beraturan, merasa bodoh, lalu tersadar dan kembali ke jalan yang benar (Haleluya! Praise the Lord!). Case closed.

Really?

Tidak, karena everything has its price ketika di satu masa datang Joan d'Arc berpedang imel lengkap dengan tautan yang saya siggung di atas. Satu hal yang saya patri di benak: bahwa tidak semua maksud baik tersampaikan dengan baik. Dan begitulah mbak Joan d'Arc ini. Seperti Chicken Little yang memperingatkan seisi kota bahwa langit runtuh menimpanya dan dicela-cela karena angkasa masih baik-baik saja, Mbak Joan d'Arc pun di'hajar' dengan penyangkalan-penyangkalan dari mbak-mbak 'korban' karena maksudnya tersampaikan dengan gaya infotainment basi di televisi yang kerap mencekoki ibu-ibu rumahtangga dan babu dan mbak-mbak dan mas-mas pecandu gosip, dari pagi hingga pagi. Well, at least soul-nya kena jika bicara tentang martir.

Namun bukan itu yang terpenting.

Yang paling saya sesali adalah adanya orang sekaliber Ndoro (bergelar Penatablogger oleh 'tertuduh') mewartakan imel sesensitif itu dengan nama dan tautan yang tidak diedit. Mungkin kesibukannya membuat beliau minim waktu untuk memoles imel sepanjang itu. Mungkin beliau juga tidak begitu sadar akan efek bola salju yang bakal terjadi. Namun ada satu hal terpenting, vital, dan berakibat sangat fatal: tidak ada seorang pun with the sane mind yang suka dianggap bodoh dan ditertawakan orang.

Fuck citizen journalism yang bakal tertata rapi dengan media sebebas ini bila masing-masing orang tidak punya etika bercerita jika menyangkut stabilitas rakyat banyak. Namun bahkan Roma tidak terbangun dalam sehari, begitu juga blogosphere aman-damai-tentram-sentosa. Mungkin ini pembelajaran buat kita dan orang-orang yang tersangkut di dalamnya. Dengan harga yang sangat mahal.

Dan saya bersyukur sekarang karena telah membangun benteng Hogwarts tebal dan tinggi di sekeliling saya dan halaman maya ini.

Labels: