"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Melankoli

Posted by The Bitch on 7/31/2008 01:01:00 PM

Pagi. Sendiri. Merasa mati. Hasilnya? Ini!

Tunggu
Lima menit
Disitu
Aku akan cari Lang Ling Lung
Dan aku akan bilang:
"Tolong
hentikan
waktu-bukan aku bukan dia-
saat aku bersamanya"

Sayang, aku hanya bisa mencampakkan buku Donal Bebek tua ke keranjang sampah
(Tahan. Sisa hari tidak seperti Jisamsu yang berat dan panjang dan lama)

--

Kumaki waktu yang mulur-lengket s
eperti tahi
dari genjer terdigesti
berlarik liris pada lagu Gerwani

Kala
yang terkadang pejal
mampat ujung ke pangkal
Seperti orgasme quickie di kamar mandi
dosen dan mahasiswi

Ada ribuan detik sepi berderik
pada engsel-engsel malam
membawa kelam dan suram
Jutaan dendam
Milikku

(tak kusangka kesunyian bisa sepekak ini)
Aku mabuk waktu. Hik.

Labels:

Jakarta. Lagi

Posted by The Bitch on 7/29/2008 03:19:00 AM

Saya senang bertandang ke pasar tradisional dinihari saat orang-orang terlelap dalam mimpi. Meskipun aroma tak karuan bercampur, antara sayuran busuk, ikan asin, amis daging, dan seruap otak-otak mentah, saya masih tetap bisa menikmati kopi berjam-jam dan bergelas-gelas di salah sebuah warung, menyendiri dan mendengarkan kesibukan. Namun saya nggak tahan sama premannya. Di lorong masuk ke kamar kecil, oleh seorang preman gondrong-dekil-sok-galak-dan-kerempeng saya dikomentari sebagai pembawa tanda akhir zaman karena berlagak seperti laki-laki dengan rambut pendek dan rokok di tangan. Saya berbalik dan menantang matanya, kemudian menyumpal telinga saya dengan Muhammad Marxianus Samsul Al-Ramadhani keras-keras sambil menunggu Jin Laknat selesai berhajat. Oh, sambil tetap mengepulkan asap, tentu. Jangan lupa. Dengan gaya Bitchy. Haha! (Anjing lah! Untung gwa nggak digebugin!)

Karena iseng Sabtu Malam tidak bisa tidur, pukul dua pagi saya sudah berada di Pasar Minggu, melarut bersama orang-orang optimis yang mengais hidup saat yang lain nyenyak tertidur. Saya suka auranya, meskipun pasar yang menyatu dengan terminal itu tidak pernah dingin dan selalu ribut dengan hiruk pikuk orang dan motor dan pick-up mengepulkan asap yang membuat sesak.

Beberapa jam sebelumnya saya (terpaksa) harus mendengarkan kisah seorang ABG dari Menado yang sudah dua hari terlunta-lunta di Jakarta setelah dua minggu berlibur di hostel murah lalu ditinggal pulang ketiga temannya karena dia janjian dengan seorang cewek di Blok M. Malam pertama dia menangis dan tidur di emperan pinggir kolam Plaza Indonesia, berbaur bersama kere dan gembel yang menganggap granit dingin hitam itu kasur terempuk yang disediakan untuk publik. Puji Tuhan, saya masih bertemu orang-orang baik yang memberi saya uang dua puluh ribu hanya untuk menunjukkan tempat membeli voucher pulsa atau membantu menyeberangkan seorang nenek, katanya. Namun dia rindu kampungnya di Tondano, kangen rumah yang berisi Papa kandung dan Mama Tiri jahat seperti di sinetron, ingin bertemu kembali dengan Cici yang sudah menikah dan tinggal di kontrakan karena tidak setuju Papa menikah lagi. Pulang ke kehidupan nyaman karena disini, di Jakarta, tidaklah seindah di televisi dimana Ibukota adalah tempat teduh dan bersih dengan gedung-gedung pencakar langit megah tinggi menjulang. Dengan jujur dia mengaku sedikit sebal karena harus menabung setahun hanya untuk melihat tempat brengsek namun tidak pernah tidur ini. Well, then. Join the club, gumam saya dalam hati.

Kembali ke pasar, saya dapati ketan bakar gurih mengepul bersama taburan serundeng dan sedikit gula pasir, kopi pahit dan kental, serta kawan baik sesama vampir yang hanya 'menyala' ketika matahari tergelincir di horison. Berbincang akrab dengan Mang Warung dan bapak penjual rokok diseling para pembeli yang minta dibikinkan mi instan atau susu panas. Saya merasa seperti milyuner dengan celana khaki, kemeja lapangan, sepatu trekking dan topi rimba, bertualang di kedalaman hutan hujan Amazon maupun mengembara di atas Hummer pada sebuah savana di Afrika, menikmati keindahan eksotis yang tidak didapatkan di penthouse pucuk gedung bertingkat tujuh puluh. Tidak, saya tidak bangga. Saya merasa bersalah karena saya bisa pulang kapanpun ke dunia kotak milik saya, mengetikkan entri ini, dan merasa senang karena sudah berhasil berbaur bersama rakyat kecil. Padahal saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk membuat tempat jualan mereka jadi lebih bersih dan tertib. Padahal uang sedikit yang mereka terima masih harus dipalak anggota-anggota FBR dan Forkabi--preman berkedok organisasi. Padahal mereka berhak mendapatkan penerangan namun masih harus membayar pada sang monopolis penyewaan neon. Padahal saya pernah kuliah. Padahal saya lebih punya ilmu dibanding mereka. Padahal, padahal, padahal.

Shit. Kesenangan sederhana pun masih juga mengendapkan lara disini. I wonder apa kata Adinda Bakrie setelah resepsi supermahalnya kalau harus nyemplung ke lumpur yang dibuat sang paman, jika di Jakarta saja banyak yang seperti ini...

Labels:

Bendera Saya Setengah Tiang

Posted by The Bitch on 7/28/2008 03:23:00 AM

Bisakah kau kehilangan apa yang sebenarnya tidak pernah kau miliki? Tadinya saya pikir tidak mungkin ada kondisi seperti itu. Yet, experiencing is believing and I've lived to tell you this.

Sejam yang lalu saya masih terbengong-bengong dan merasa percakapan pada ponsel yang baru saya akhiri adalah mimpi, mencoba mencerap kata demi kata dari orang asing berlogat Bali yang berkawan akrab dengannya beberapa tahun terakhir mereka bekerja sekantor. Sebut saja namanya Oka, dengan terbata-bata menahan haru, bercerita tentang dia yang kerap menyampahi inbox saya dengan SMS tak masuk akal hingga saya harus sering 'nyapu'; yang rajin menemani malam-malam tanpa lelap dengan diskusi lewat telepon hingga saya tertidur selepas Subuh; yang mengejutkan Senin saya dengan paket kaos dan cemilan; dan terdiam lama tanpa jawab saat saya bertanya 'How do you feel about me?'.

Dia tiada. Setelah dua hari dirawat di rumah sakit, gegar otak yang tidak terdeteksi merenggutnya di usia yang masih dua lima. Namun yang membuat trenyuh adalah dia sering mengigaukan nama saya. Karena itulah Oka mengerti cerita tentang saya dan dia karena kebetulan hanya Oka yang berjaga setiap Si Akang memanggil saya dalam tidur, bukan calon istrinya yang akan dinikahi November nanti. Karena kaget, Oka bertanya setelah sahabatnya terbangun. Dengan menghela nafas berat dan dalam akhirnya terbuncahlah semua kisah yang terjalin asal-asalan, dari awal hingga akhir. Timing yang tepat, karena tidak lama kemudian keluarga dan calon istrinya datang langsung dari Jawa dan terus berada di sisinya hingga maut merenggut. Seperti pertanda, dia meminta Oka menyimpan cerita ini sendiri dan memberitahukan pada saya jika keadaannya bertambah buruk. "Kamu bisa liat nomernya di ponselku, namanya yang paling banyak di call historyku," kata Oka menirukan omongannya ketika saya bertanya bagaimana dia tahu kemana menghubungi saya. Dia juga berpesan agar Oka menghapus semua SMS dan jejak saya jika nanti dia sudah tidak kuat lagi melakukannya sendiri. Dia hanya tidak ingin Adindanya membawa luka saat dia sudah tidak di sisinya lagi.

Saya tidak pernah tau motornya diserempet truk yang kabur ketika jalanan sepi dinihari sementara dia terpental tanpa helm dengan kaki patah saat hendak membeli rokok. Yang saya tau, hingga saya menerima kabar ini, SMS dan email balasannya tidak se-intens biasa. Dan ketika saya ingat-ingat, pada jam dia kecelakaan, dia hanya meminta saya untuk cepat-cepat tidur karena beberapa teman mengajaknya keluar dan dia tidak bisa mengawal saya hingga lelap. Dia tidak menelepon saya dua malam terakhir meski saya terburu-buru pulang dari acara di pabrik hanya untuk dia. Saya marah dan menuntut jawaban. Yang tidak saya duga seperti ini jadinya.

Gaun yang saya beli dan akan saya kenakan pada pernikahannya tidak akan pernah dia lihat. Mungkin ini lebih baik, karena dia pun tidak akan pernah melihat seberapa cantik perempuan yang telah dipacarinya lima tahun itu nanti dalam balutan kebaya putih saat mereka mengikat janji sehidup semati. Saya juga tidak akan bisa menghadiahkan nama untuk putrinya. Tidak akan bisa merekomendasikan buku apa yang pantas bagi anak-anaknya kelak. Saya hanya berharap semoga perempuan calon istrinya itu berhati baja dan bisa menerima kehilangan sebesar ini.

Istirahat yang tenang, Akang. May you finally find what you're looking for. Jika kau ingin berkunjung, pastikan aku terjaga dan tidak sedang bermimpi.

[... dan entah kenapa air mata ini titik saat baris-baris terakhir tertumpah diiringi Sting melagu King of Pain...]

Labels:

Tentang Kehilangan

Posted by The Bitch on 7/23/2008 03:32:00 AM

Nduk,

Aku begadang lagi, mengabaikan lelehan ingus yang makin mendera hidung dan membuat susah bernafas tanpa mengindahkan pening di kepala. Berteman seorang penyendiri, meniada diantara jejeran rak pemancar radiasi ribuan kwh, mencoba mengisi lowong yang mendadak terasa sesak sementara telinga terhantam dentam dan nyalak yang bikin pekak. Ini adalah salah satu malam dimana aura sewarna kembang sepatu pada pagar sekolah dasar pinggir Jakarta saat langit menjelang senja di Sabtu malam. Familier, menyamankan, namun tetap ditinggalkan.

Baru kemarin rasanya aku kembali belajar menjalani multitasking tergila, bergerak antara waktu publik dan waktu langit dalam alur simultan, melatih seluruh indra bagaimana merasakan lagi sedikit asketisme dalam kadarnya yang paling sederhana, melakukan perjalanan ulang-alik dalam setiap detak jantung. Namun yang paling gila adalah di saat yang sama itu pun aku merasakan uforia luar biasa atas suatu kejadian semu dimana penindasan kembali terjadi dalam kondisi maya yang enggan kuakui ada, uforia yang sensasinya masih membekas manis meski telah kuperas habis.

Yang ada di penghujung hari, saat malam menjauh menanti pagi, adalah pilihan. Satu kata dimana tiga dimensi berhamburan melesak masuk ke dalam wadah mampat bernama otak manusia, ketika waktu lalu dan yang ada di depan nanti menjadi pertimbangan demi tercapainya konsensus kini yang teramat urjen untuk dianggap lenyap.

Ya, kamu tau akhirnya. Hanya aku yang tertatih sendirian, merasa bodoh dan lemah dan sok martir dengan membiarkannya berlalu dan masih menyediakan savana tempatnya beristirahat nanti. Ya, kamu benar, karena saat itu mendadak sontak suara renyah Vanessa Carlton dan Adam Duritz terngiang-ngiang di kepalaku. Don't it always seem to go that you don't know what you got 'til it's gone. Ya, kamu tepat sekali menjuluki aku pahlawan kesiangan. Sudah, sudah. Cukup. Aku sudah tau. Ini bukan kali pertama.

Kamu pernah bilang bahwa kelemahan terbesarmu adalah tidak pernah bisa bersabar dan mengikhlaskan semua kembali pada apa yang telah tergariskan. Ternyata aku juga begitu. Dan kamu juga pernah bilang bahwa melankoli hanya bisa terhapus dengan tidur semalam, menunggu fajar bergerak natural dalam ketidaksadaran, melelap bersama mahluk-mahluk bernyawa di radius zona waktu yang sama, mensyukuri berkah Tuhan terbesar dengan menggunakannya sesuai porsi.

Rasanya aku ingin tidur...

Labels:

Hey Han!

Posted by The Bitch on 7/22/2008 10:29:00 PM

Kenapa rasanya kosong sekali?

Labels:

Pro: Someone

Posted by The Bitch on 7/21/2008 01:29:00 PM

Buaya laki-laki tidak selalu lebih berbahaya daripada buaya perempuan

Terimakasih, terimakasih, terimakasih untuk paket kaos dan cemilan. Sebenernya nggak usah diselipin gitu kamu selalu jadi malaikat pembuat kenyang lho.
Eh, tapi aku kok ngerasa yang kamu pilihin itu berdasarkan pengalaman pribadi yah?

Haha!

Labels:

Between Romanticizing and Ngising

Posted by The Bitch on 7/13/2008 11:56:00 PM

Person 1
Night
xxx1: Hey, pulang. Jangan kerja terus. Gwa lagi packing ni, mendadak disuruh ke luar kota ama bos. Dem
Me: Iya, ini bentar lagi juga kelar. Errr... mo mana?
xxx1: Aceh. Cuma 4 hari koq. Besok pagi brangkat. Ntar Senen juga ketemu lagi. Tapi dadakannya ini gwa eneg banget
Me: Ya anggap aja jalan2. Eh, kopi Aceh ya, ama dodol. Pake ganja!
xxx1: Siap! Kalo sempet ya. Soalnya jadwal padet banget ni
Me: K. Gwa dah slesai ni. Mo cabz. Take care, U
xxx1: Have a great nite ya. Mwah!

Morning
xxx1: Pagi, say. Gimana tidurnya? Enak?
Me: Hey! Morning 2 U 2 (= Lumayan la, dapet 4 jam kek biasa. Gimana Aceh? Menyenangkan?
xxx1: Udah getting better ketimbang 6 bln lalu gwa kesini. Nanti sore mo cari pesenan lo nih. Katanya susah. Bingung juga kalo ntar ditangkep aparat
Me: Yawda, sebisa lo aja. Yang penting mah Kopi Aceh la sekilo. Yah, yah, yah...
xxx1: Buat lo apa sih yang nggak? Haha! Gombal banget ya gwa =P
Me: Gwa dah biasa digombalin. Ga mempan kalo cuma segitu doank. Coba lagi ya! ((=

Daytime (the next day)
xxx1: Eh, susah ya nyari orang yg bisa nerima diri kita apa adanya. Selalu yg pertama diliat tu materi
Me: Lho, lho... Mak bedunduk koq gini? Kenapa mbak dokter?
xxx1: Bukan mbak dokter, tapi cewek atu lagi. Teller bank. Dah jalan 6 bln tapi gada kejelasan status gini. Dia masih trauma ama mantannya
Me: Kalo mo mbahas ttg 'nerima diri apa adanya' keknya lo harus ngaca de. Lo dah punya mbak dokter knapa masih lirik2 cewek laen? Sorry kalo gwa terlalu kenceng. Tapi gwa ga suka cowok yg ga bisa nentuin pilihan
xxx1: Mbak dokter ambil S2 di Oz. Apa salah kalo gwa perlu dia tapi gwa cuma bisa denger suaranya aja? Dah gitu keknya dia rencana mo stay disana =( Ama yg atu lagi juga gwa digantung. Masih trauma dia ama mantannya yg gagal kawin itu
Me: Ya diiket la. Ajak tunangan. Kalo yg atu ga bisa ya yg atu lagi. Laki2 tu dipegang & diliat dari omongannya. Dah pernah minta blum? Eh, mbak dokter katanya dah mbantuin kerjain tesis?
xxx1: Iya, bantuin doa aja dari jauh =)) Justru. Gwa dah pernah bilang mo nunggu dia slesai S2. Tapi ya gitu, keknya dia malah rencana mo stay disana. Padahal dah 2 taun kita jalan
Me: (= Gwa juga pernah pacaran 4 taun gada kejelasannya. Tapi ada masa ketika lo harus menyelesaikan yang tidak bisa selesai dan terus berjalan karena hidup itu maju ke depan. Pito's rule #1: Don't hope, don't expect. Kalo sayang mah sayang aja. Jangan ngarep dipacarin ato dikawinin. Gwa juga banyak cowok2 yg gwa sayang & ga pernah ngarep dipacarin. It's fun!
xxx1: Makanya gwa cari alternatif lain. Eh, sama aja. Digantung gini. Mungkin skarang saatnya buat gwa untuk ga ngarep kali ya
xxx1: Ya sutra la. Kata pepatah ketika pintu tertutup kita terlalu lama memandang pintu itu sampe ga sadar ada pintu lain terbuka. Dasar cinta!
Me: Haha! Kalo gwa 'waktu pintu tertutup ada jendela kebuka. Cari!'. Tuz kalo nasi dah jadi bubur, bikin bubur ayam yg enak. Gitu aja repot. Eh, katanya pulang ke Bdg siang ini? Dah packing? Demamnya gimana?
xxx1: Iya, tadi sms sambil packing. Ni di lobi, check out. Flight jam 11. Demam dah mendingan. Kopi? Kata orang sini kebanyakan Kopi Aceh dah dioplos ama Kopi Jawa. Cari aja di Bdg la, banyak kan =))
Me: Oyawda, kalo gitu Kopi Aroma yaaa... Arabika, Robusta sama Moccha. Yah, yah, yah...
xxx1: Gampang. Smsin aja alamatnya. Ntar Selasa gwa kirim. Emang mau?
Me: BANGET! Eh, asik ni dari pagi udah digombalin cowok calon mantan dokter. Minggu menyenangkan
xxx1: =)) Kidding say. Lagian kalo gwa seriusin juga lo pasti ga suka ma gwa
Me: Dih, PD! Blum nyoba dah ngomong gitu. Dah sana. Ntar terusin kalo dah nyampe
xxx1: Oke deeeh... C U, say
Me: Miss U already. Haha!

Person 2
Daytime
xxx2: Bangun, Geulis. Jadi pulang ga? Udah pagi ni
Me: Yah, Akang banguninnya pake SMS. Ga kedengeran. Kalo telpon kan ringtonenya bisa bangunin mayat, apalagi gwa. Sekarang si kesiangan, udah panas. Males pulang
xxx2: Ga tega euy banguninnya. Tadi aja mandi pelan2 takut kamu ngelilir. Tak pamiti tadi pake mwah juga cuma ngulet ga melek. Padahal bahu kiri pegel, kamu tidurnya meluk terus dari semalem ga gerak2
Me: *blushes* Ya maabh. Abis anget
xxx2: Gpp. Buat kamu mah Akang relaaaaaa...
Me: Halah, pagi2 dah ngegombal. Udah sarapan? Gwa dapet mi rebus gratisan ni. Mbak kamar depan masak kebanyakan katanya. Mawu?
xxx2: Kamu tu ya. Jam 1 tadi malem blackforest. Kemaren Oreo, abon, kerupuk ikan. Bahagia banget sih idupmu, ga pernah kekurangan makanan. Haha!
Me: Ya abis gimana? Mbak2 sini pada demen beli, laper mata aja. Giliran makan kapasitas lambungnya dikit. Pada takut gendud. Gwa kan udah ndut jadi ga takut lagi ((=
xxx2: Kamarmu ada magnet makanannya kali ya? Curiga aku
Me: Makanya jangan kemana2. Sini aja
xxx2: Ya kan harus kerja. Bentar lagi mesti mudik. Kemaren liat tiket mahal2 banget. Ntar aja deh kalo udah mepet baru beli
Me: Gimana rasanya mo kawin? Deg2an?
xxx2: Udah lewat deg2annya. Sekarang udah datar
Me: Eh, tapi gwa salut lho. Masih muda dah berani kawin. Mbaknya gimana? Dah ada kerjaan kalo boyongan kesana?
xxx2: Ga tau. Gampang la ntar cari2. Ato bikin usaha sendiri
Me: Kamu ga ngerasa berat? Kawin, kuliah, dengan kerjaan cuma segitu...?
xxx2: Aku cuma mo buktiin ke orang2 yg bilang kalo kawin muda banyak rintangannya, kawin pas lagi kuliah ga lulus2. Liat aja nanti
Me: Nice (= Tapi kata My Phoenix Brotha #2, jangan merasa bisa tapi bisalah merasa
xxx2: Ya aku juga ga rumongso iso sih. Tapi perhitungane wes mantep. Kalo gimana2nya udah diprediksi ya tinggal jalan aja. Optimis lah. Will U pray 4 me?
Me: Always (=
xxx2: Trus gimana pulang? Udah siang ini
Me: Iya, tadi Icha telpon. Udah bilang kalo ga jadi pulang. Alesane ada temenku. Kata Icha jangan salahin dia kalo kabisan mangga dan dicoret jadi anak sama Babab ((= Abis lagi asik nih, tumben banget anak kos pada ada di rumah semua. Bakalan banyak makanan gratisan mengalir!
xxx2: Halah! Yg pengen banget pulang buanyak yg ga bisa lho. Kan bisa beli sendiri kalo cuma makanan. Ntar tak bawain wes. Kamu mau maem apa?
Me: Maem Akang *blushes* Abis capek. Pen leyeh2 di kos, baca, nonton DVD, ngetik2 ga jelas, nemenin Akang...
xxx2: Waduh. Bisa disepatani Pak Bambang nanti anaknya ga pulang2 gara2 nemenin orang ga jelas
Me: Ssssttt... Yg Pak Bambang & Bu Nita ga tau ga bakal bikin mereka sebel *nyengir iblis* Lagian Akang kan jelas2 orang, bukan orang ga jelas
xxx2: Ih, si Neng. Akangnya lagi eneg ama orang tapi ga tau eneg ama siapa gini, selalu bisaaa aja bikin Akang senyum2 sendiri
Me: Ati2 gila ((=
xxx2: Bentar ya Geulis. Akang maksi dulu. Dibawain ama temen ni. Kalo makan sambil ngobs ntar kegigit. Kalo minta obatin pake gigit juga kan ga lucu
Me: Haha! Yawda, sok. Ntar kalo iseng lagi gpp koq smsan lagi. Bon apetite, Akang
xxx2: Nuhun, Geulis

Person 3
Night Time
Me: Gila lu, dinihari gini telpon. Tumben banget. Kenapa? Gwa lagi pacaran nih. Gangguin aja
xxx3: Gwa kebangun trus ga bisa tidur lagi. Iseng, tapi ga tau mo ngisengin siapa. Trus gwa inget lo pasti lagi party line. Mampus kan lu! Eh, elu lagi pacaran ama yg mana? Bali, Temanggung apa Bandung? Gaya aja lu pacaran di telpon. Kek ada yang mau beneran gitu ama elu...
Me: Tai ah! Haha! Ada apa? Sini sini cerita ama tante
xxx3: Nggak papa. Gwa mo cerita korban gwa kemaren, yang ceting dari Depok itu. Gwa berhasil bikin dia terkaing-kaing dan ngajak gwa ketemuan. Udah gitu malah ngajak pacaran. Huahaha!!!
Me: Yah, elu nggak asik. Masak ngebuayain kadal?! Pick your own size dunk ah! Yang sebanding ama tingkat keiblisan lo gitu...
xxx3: Ya siapa suruh dia buka front duluan?! Terus elu gimana ama korban-korban lu? Dress yang kemaren lu beli itu bakal lo pake beneran ceritanya? Kemana sih? Kondangan si Akang itu?
Me: Ya jelang dos! Tapi gwa ga beli khusus buat dia koq. Kan gwa emang ada kondangan Agustus besok. Sekalian. Toh dia juga ga tau kalo tu baju udah gwa pake resepsi di tempat laen. Yang penting dress to kill lah!
xxx3: So... slackdress item-putih tanpa lengan, belahan dada rendah, long torso item, tindik di dagu, sama... apa kemaren? Boots? Ga sekalian kalung palu-arit?! Huahahaha!!!
Me: Yooooooo'ih!
xxx3: Bawa AKA 47, helm baja, granat nanas ama bomber jacket ga? Kan kek Saving Private Ryan tu!
Me: Hahaha! Anjing lu ah!
xxx3: Body paint dunk Pit. Dari leher ke pipi, motif tribal gitu. Jadi ntar lo ga usah pake make-up. Berani nggak? Jangan nanggung kalo mo dress to kill. Eh, rambut lo di bob nungging aja. Asik tu keknya. Atau Harajuku-an. Lo mo ngecet rambut jadi ijo lagi kan?
Me: Ih, rese deeeeeeeehhh... Lo cowok, tampang setan gitu, tapi kalo kasih advis macem cewek aja. Bwek!
xxx3: Lha gwa kan udah ngebayang lo gimana. Asik Pit. Atau nge-goth aja. Gwa dandanin deh. Ga percuma dulu gwa lama di teater. Percaya ama gwa
Me: Fuck you very much deh. Cuma kondangan sebentar aja mesti bawa elu jadi make-up artist gwa?! Blah!
xxx3: Pokoknya kalo ke kawinan gwa lo pake kebaya ya. Pink ato ungu muda. Rambut kepang dua. Bawa kipas, tas kecil, ama selendang. Selop high-heels pokoknya. Ga boleh sneakers ato boots. Uuuuuuhhh... So cute...
Me: Yah elah. Gwa pake dress aja deh. Ga papa yah? Boleh yah?
xxx3: Yey! Ga bisa! Perjanjiannya dulu udah gitu. Eh, rambut lo jangan dipotong deh. Bentar lagi Echa kawin. Lo janji kan, kalo gwa, Echa ato Cimot kawin bakal kek gitu?
Me: Idihhh... Gwa ga janji! Elu tu yang iseng ngintip cetingan gwa ama room milis!
xxx3: Eh, Pit. Sekali-sekali lu posting dunk hasil mesum lu. Gwa pen liat
Me: Siap!

Dan komen pun dibuka...

Labels:

Protes

Posted by The Bitch on 7/08/2008 10:45:00 AM

Melalui 'Tuhan Sembilan Senti'-nya Taufik Ismail lagi-lagi saya 'ditegur sayang' oleh seorang kawan lama karena dia paling antipati pada kebiasaan saya merokok. Ya, saya mencoba berprasangka baik bahwa apa yang dia lakukan adalah demi kebaikan saya dan karena dia peduli pada saya. Sebagaimana pejalan kaki di sekitaran Bundaran Senayan yang memandang simpati pada pengemis tua di pintu masuk STC dan melemparkan sekeping limaratusan padahal bapak itu amat sangat lemahnya hingga berjalan membeli makan pun dia tidak kuat. Iya, persis seperti itu.

Saya berusaha memahami puisi penyair senior ini dengan amat sangat lapang dada (meskipun sekarang memang sedang sesak karena terlalu banyak merokok dan flu dua minggu yang belum sembuh juga). Begini. Sama halnya dengan seluruh ciptaan manusia di dunia, rokok memiliki dua sifat baik dan buruk. Misalnya, pisau yang tercipta untuk memotong makanan (dan berakhir di dada seorang istri bersimbah darah ketika sang suami kalap memergokinya selingkuh dan menancapkan benda pertama di dapur yang tertangkap tangan). Atau pacul untuk membolak-balik tanah (dan tertanam dalam-dalam di batok kepala seorang tua yang dituduh dukun santet). Atau sekop untuk menggali (dan terhunjam ke pinggang seorang adik oleh kakak yang iri berebut warisan). Oke, saya berlebihan. Mari kita ambil satu benda yang sama sekali tidak berbahaya: sendok makan (dan di otak teman saya tetap menjadi alat untuk menyodok bola mata keluar dari rongganya). Fine. Salah lagi. Sumpit? (yang ditusuk ke lubang hidung musuh Bruce Lee dan tembus ke sinus?! Aw, come on!)

Dan apakah fungsi utama dari rokok sesungguhnya selain menjadi alat pembunuh pelan-pelan yang membuat paru-parumu terbakar hitam dan tenggorokanmu sekering Sahara? Oh, dan juga selain jadi penyumbang pajak dan cukai terbesar negeri ini serta penyerap jutaan tenaga kerja yang bahkan sudah tidak produktif?

(Kali ini saya membakar batang rokok kedua sebelum mulai mengetik paragraf baru)

Dulu saya berpendapat bahwa orang yang merokok dengan alasan kalut adalah bodoh. Mereka tidak mampu membangun kepercayaan diri dan keteguhan sikap hingga memerlukan medium untuk memaklumi tindakan-tindakan salah mereka. Namun setelah saya menjadi perokok saya baru sadar bahwa tembakau dan berbagai campuran yang digulung dalam kertas sepanjang sembilan senti itulah yang perlu dijepit diantara jari tengah dan telunjuk. Dan gerakan menghisap dan menghembus itulah yang diperlukan, bukan nikotin, yang sesungguhnya malah memperlambat proses otak untuk berpikir. Intinya: saat orang sedang berpikir keras, harus ada sesuatu yang dilakukan dengan santai, tanpa perhitungan dan aturan, dan agak-agak membuat diri tidak nyaman. Berdzikir atau membaca Novena? Tidak akan membantu karena kepala akan dipenuhi dengan bacaan-bacaan yang harus diulang sehingga apa yang mengganggu pikiran malah tidak mengemuka. Joging? Perlu tempat dan sepatu dan tidak semua orang suka berlari. Coitus? Perlu dua orang untuk melakukannya, ditambah ruang yang sangat pribadi jika tidak ingin digerebek FBR atau Forkabi atau induk semang kos-kosan.

(Sekarang saya mulai menyulut batang rokok ketiga dari sebungkus LA Light Menthol isi 16 yang baru saja saya robek hymennya)

Saya selalu kagum dengan tradisi Indian menghisap pipa perdamaian ketika dua atau lebih kepala suku sedang berkumpul dan musyawarah dimulai. Sebagaimana suku-suku primitif terdahulu yang cinta pada alam dan kedamaian, mereka juga saling menguliti kepala dan melempar kampak ke punggung dan torso anggota suku lainnya ketika terjadi perebutan wilayah atau perempuan. Jadi, rokok itu menurut saya memiliki sejarah panjang dan indah dimana suku-suku yang berbeda itu mencoba menghindari perselisihan dan mencapai kesepakatan.

Lalu bagaimana dengan keberatan Bapak Taufik Ismail tentang Indonesia sebagai surga perokok? Menurut saya larik-larik kata disitu malah menembak pembawa pesan dan tidak mengena pada pesannya sendiri (terjemahan bebas dari shoot the message, not the messenger). Mungkin beliau juga belum pernah bertemu saya, Jin Laknat, dan beberapa orang teman perokok yang peduli para mereka yang bukan perokok. Kami selalu membawa-bawa asbak portabel kemana-mana, jadi tidak ada alasan untuk siapapun menuduh kami pembuat sampah. Kami juga tidak pernah merokok dalam ruangan ber-AC, kecuali di gudang tempat dia bekerja karena semua orang disana juga ahli hisap dan beberapa yang bukan ahli hisap memerlukan pendingin ruangan agar sirkuit dan drive penyimpan data sebesar lemari itu tidak kepanasan. Kami sering menegur orang-orang yang sembarangan menyalakan rokok mereka di dalam bis pengap penuh orang. Kami sadar betul bahwa bukan hanya perokok yang menggunakan transportasi umum ini. Dan kami selalu berusaha menghindar dari para anti-rokok jika sakaw nikotin melanda.

Di pabrik tempat saya memburuh yang ibu mandornya sangat antipati pada perokok, saya membuat Smokers United alih-alih Serikat Pekerja. Setiap jeda, saya panggil anggota-anggota saya ke beranda dan beriang-riang dalam gemulung asap Class Mild, Djarum Black, Marlboro dan LA Menthol. Jika mak bedunduk Bu Mandor nongol di pintu, saya terima 'disetrap' dan meneruskan merokok di seberang pabrik sambil bermain-main dengan ponsel butut saya, menikmati buku yang saya bawa dari kos, atau menunggu Mala si Siberian cantik yang sedang hamil itu lewat. Saya juga e'ek sambil merokok dan membaca. Di rumah, di kos, di pabrik. Tapi kebetulan kamar mandi di ketiga tempat itu sangat nyaman buat perokok karena ventilasinya besar dan tidak pengap. Call me a damned filthy lucky smoker bitch, tapi maaf buat kalian yang tidak memiliki privilege seperti saya. Go find your luck in some other place, but stay away from mine. Tee hee hee.

Tentang penularan penyakit yang lebih ganas dari HIV-AIDS? Ah, berlebihan. Jangan tinggal di Jakarta jika tidak ingin menghirup udara yang kotor oleh buangan knalpot bis dan mobil dan pick-up yang tidak lulus emisi. Asap rokok yang kamu hisap dari perokok yang berjarak lima meter tidak sejahat udara Jakarta yang kamu hirup tiap detik. Kecuali jika kamu berniat merokok tanpa modal dengan menghisap dalam-dalam asap yang dihembuskan perokok yang duduk di sebelah.

Dan ada kalanya apa yang menjadi prioritas utama bagi seseorang belum tentu mendapat tempat yang sama pada orang lain. Sebagaimana orang kebanyakan perlu makan, saya, sebagai perokok, lebih memilih untuk membeli sebungkus nikotin ketimbang nasi. Sungguh, nggak sedikit orang yang menegur saya karena kebiasaan yang menurut mereka menyakiti diri sendiri ini. Padahal akan jauh lebih menyakitkan bagi saya membiarkan tubuh mendamba nikotin daripada 'membuatnya sehat' dengan merepresi kebutuhannya. Masalah penyakit dan sebagainya yang menyebabkan kematian? Well, masalah mati adalah hak prerogatif Dia yang Menciptakan. Entah nanti saya tewas dengan paru bolong atau tergencet molen Holcim yang supirnya lupa menarik rem tangan, tidak ada yang tau. Dan buat saya amat sangat percuma memperingatkan para perokok tentang bahaya dan sakit yang akan mereka derita. Saya sendiri juga sudah khatam bahasan penyakit-penyakit yang dapat timbul karena rokok. Jadi, terima saja lah ketika semua bermuara pada satu hal: pilihan.

Dan saya sangat berterimakasih pada orang yang punya ide jenius membuat produksi masal tembakau lintingan dan filter di ujungnya serta penambahan menthol di dalamnya yang disebut rokok karena ketidakmampuan saya melinting apapun selain uang kertas yang akan saya berikan ke kondektur bis maupun mbak-mbak kasir di supermarket atau bapak penjual rokok. Jadi, saya tidak perlu menggunakan pipa atau meracik sendiri seberapa takaran yang nikmat untuk dihisap.

Bagi para ulama dan mereka yang terlihat cerdas di dalam gedung parlemen sambil petantang-petenteng dengan rokok di tangan, mungkin perlu dibuat buku atau peraturan tata cara merokok yang baik. Terutama agar para ulama itu tidak terlalu memikirkan agama dan kitab kuning sambil merokok dan meracuni santri-santrinya, dan anggota dewan bisa menghargai sesama anggota yang tidak merokok. Saya sendiri sedang belajar mengurangi carbon guilt dengan berjalan kaki ke kos sepulang mburuh dan sebisa mungkin menggunakan kaki sebagai alat transportasi, meskipun belum bisa mengurangi rokok. Namun saya juga menggiatkan gerakan Reuse-Recycle-Refill (dan Reduce) secara Spartan dan saya kampanyekan pada orang-orang terdekat. Salah satunya adalah dengan mengumpulkan kotak rokok bekas dan saya berikan pada para penjual rokok agar mereka tidak perlu menggunakan plastik jika ada yang membeli rokok ketengan. Jadi, jangan pernah sekalipun berani menyebut saya perokok tidak bertanggungjawab!!!

(Dan ketika menengok asbak lucu berbentuk kucing di sebelah kiri mesin tik saya dapati enam puntung tergeletak dengan kumuhnya)

Labels:

Texting Romance

Posted by The Bitch on 7/07/2008 10:59:00 AM

Morning
Him: Non, mo ikut ga? Nanti resepsinya Jon jam 3 sore. Tapi aqiqahan dulu di kantor. Jam 9 harus udah siap ya. Tak jemput
Me: Dresscode? Rok batik gpp? Tapi sepatunya sneaker ya? Xixi...
Him: Wes, pakek kerudung aja. Aman, ga bakal ditilang pulisi
Me: Gak nduwe )= Eh, kita kan begadangan tuh, mripate wes koyok burung hantu. Mecing2an yuh
Him: Lha ya jelas, wong ra tau turu mbengi. Le durung subuh durung turu. Eh, mecing piye?
Me: Kamu pake PDL sama celana kulit. Atasane kemeja item. Aku tak pake boots sama gaun item. Tak pake chocker spike juga. Kan asik tu, kek mo nonton konser Marilyn Manson. Heboh pasti!
Him: Bedez gendeng. Eh, ga jadi jemput wes. Masih sakit kan?
Me: Gpp koq. Sakitnya karna kurang jalan2
Him: Lha penyiksaan namanya kalo sakit masih tak ajak. Mbok ke dokter. Tak anter po?
Me: Males. Ndak doktere tambah sugih. Ini udah digelontor kunirasem+madu, jus mangga, makan serius, sama vit c dosis tinggi
Him: Nek 1 x 12 jam belum sembuh tak gotong ke Balian Karangasem biar disedot penyakite dari ubun2
Me: MOH!!! Mending dicium bencong daripada disedot dukun!!!
Him: Yowes sana siap2. Aku tak pulang trus jemput kamu ya
Me: Oke bos!

Early Afternoon
Him: Tadi ke tempatmu tutupan gitu. Pasti ketiduran. Jadi aku langsungan. Kasian kamu nek tak bangunin
Me: Bwek! Nyebelin!
Him: Jangan cemberut to. Napsuin
Me: Ga bakal berani kamu napsu kalo aku cemberut. Bawaannya pen bacok orang gini
Him: Haha! Justru ituuuu... Eh, udah makan?
Me: Ini nyandhing rujak sambil nonton. Piye tadi aqiqahane? Embek party?
Him: Iyo, wareg. Kamu mau tak bawain po?
Me: Moh. Kamu nyampe sini jam berapa? Ini aja baru mo ke tempate Jon to?
Him: Iyo. Sek ya. Ini siap2

Late Afternoon
Him: Aku udah liat kecelakaan 2x. Pertama, motor sama truk. Kedua, baru aja lewat, motor sama bis. Ini darahe masih ngalir. Pulisine goblok, ga iso ngatur lalu-lintas. Magabut
Me: Thanx God! Daritadi udah gatel mo nanya. Yang ada di otakku cuma adegan kecelakaan sama namamu. Tak pikir kamu kenapa2. Kamu gpp to?
Him: I'll be OK. I promise U
Me: Ini masih jauh ya nyampe kantor lagi?
Him: Iyo. Kamu katanya mo pergi?
Me: Ke pabrik, garap laporan pembuatan topeng. Mau tak masakin aer anget buat mandi?
Him: Ga usah wes. Keburu dingin. Kamu jangan malem2 perginya biar ga begadang di pabrik lagi
Me: Waduh... Ini aja masih di rumah. Sekarang penyakite nambah. Mules. Nyeri haid
Him: Jadi tak bawa ke Balian?
Me: Gag mawuuuuuuuuuuuuu!!!
Him: Ya udah, ke dokter ya? Mbok kamu itu nurut to, tak anter wes. Biar dokternya tambah kaya yang penting kamu sehat lagi. Suarane udah sekarat gitu lho semalem
Me: Bawel ah! Dibilangin udah gpp koq. Nanti kalo mo makan ada spaghetti. Angetin ya
Him: Weh... tumben. Tau aja aku udah laper lagi gara2 ngempet gondok liat polisi goblok
Me: Ga ngurus pulisi wes. Pastanya ada di wajan di atas kompor, sausnya di kulkas. Terserah, mo ngangetinnya dicampur apa sendiri2
Him: Iyo, suwun. Jangan pulang malem2 ya, biar sempet ngobrol
Me: Iye, bawellllllllllll

Night
Me: Eh, bulannya bagus, sabit tipis banget. Sayang gada cahcilik mancing kek di logo DreamWorks-nya Spielberg. Ada bulan tak disana?
Him: Kan tadi ujan, Non. Jadi masih mendung. Ga keliatan
Me: Ooo... Aku udah nyampe pabrik. Lagi dengerin Doa Dalam Kerja-nya Sujiwo Tedjo
Him: Aku udah di Tabanan. Mo dibawain apa?
Me: Bawain kamu yang baru mandi, sarungan, sambil duduk ngopi liat anggrek
Him: Haha! Indahnya diarep-arep. Eh, gaweanmu piye? Jangan pulang malem2 lho. Masih sakit kan?
Me: Horeeeeeee!!! Spiker jatoh nimpa saklar terminal. Mendadak mati komputere. Garapanku ilang kabeh
Him: Waduh. Ngulang lagi dari awal? Banyak ya? Tambah malem pulangnya?
Me: Ketoknya. Yawda, kamu tidur duluan aja la gpp. Dari kemaren malem belum tidur to?
Him: Ntar kalo pulang bangunin aja kalo kamu belum ngantuk. Langsung masuk ke sarung juga gpp. Hehe
Me: Moh. Ntar kamu belum melek udah ada yang bangun pulak
Him: Haha! Dasyar!
Me: Udah sana merem. Tak garap gawean meneh. C ya later, Akang
Him: Gonna miss you, Geulis

... and the conversation took place in his and my cellphone, in the form of text message. I'm in Jakarta and he's in Bali. We haven't met each other, physically. We see only pictures and some writings I've made. Oh, another thing. He'll be marry in two or three months and the bride won't be me. Nice, eh?

Labels:

Being A Brave One

Posted by The Bitch on 7/06/2008 08:20:00 PM

There's plenty of ways to die, but you've got to figure out a way to live.
Neil Jordan's The Brave One

Siang terik dengan nyeri haid, sedikit demam, hidung tersumbat dan kepala pening karena flu berat, lagi-lagi saya salah pilih film. Bersetting di The Big Apple, Erica Bain yang diperankan Tante Jodie, punya a tall-dark-handsome-and-oh-so-sexy lover bernama David Kirmani (I never knew Indian could be this hot, considering the ol' Shahrukh...). Mereka 'dikerjain' beberapa berandal dan berakhir dengan sekujur tubuh babak belur, Erica koma tiga minggu dan Si Ganteng David pergi ke alam baka. Erica, sadar bahwa belahan jiwanya tiada, terguncang hebat. Akhirnya dia cari keadilannya sendiri berbekal sepucuk pistol tanpa lisensi, berubah dari korban menjadi pelaku. Cerita diakhiri dengan tuntasnya dendam Erica yang berhasil memuntahkan peluru panas ke tenggorokan si tokoh jahat melalui pistol yang dipinjamkan detektif simpatik Mercer. Edan, karena disini penegak hukum pun berpaling dari peraturan-peraturan yang sangat dia jaga. Dan mereka hanya jadi diri mereka sendiri: manusia. Punya rasa takut, khawatir, dan tidak nyaman tanpa perlindungan.

Rasanya baru kemarin saya menulis tentang bagaimana brutal dan sadis hukuman mati menurut pemahaman saya, padahal di kepala saya pun mengendap cara-cara penyiksaan yang tidak kalah berdarah-darah. Saya lupa bagaimana manusia bisa sangat rapuh, terluka bathin dan menyimpan angkara begitu lama yang tidak akan selesai sebelum hutang nyawa dibayar nyawa. Bagaimana harapan yang terhempas dapat membuat mereka kehilangan jiwa. Dan bagaimana trauma membuat seseorang menebalkan cangkang pelindung hati yang melepaskan raga dari norma dan peraturan dan adat-kebiasaan.

Well, saya nggak akan sok tau dan merasa mengerti kejiwaan manusia yang bahkan bagi para peneliti dibilang sebagai semesta tak terbatas karena kemungkinan-kemungkinan mahadahsyat yang tersimpan dalam sel-sel kelabu dan berpotensi menciptakan alat-alat gila semacam bom atom atau roller coaster gendheng di Disneyland. Namun saya akan sangat mengerti bahwa apapun yang dilakukan masing-masing orang berdasar pada alasan-alasan yang seringkali hanya dimengerti oleh pelakunya. Peraturan, larangan, sistem, norma, apapun itu yang mengatur tata cara bersosialisasi dalam satu kumpulan pun kadang bisa dipelintir jika keadaannya memungkinkan dan situasinya genting.

Diantara semua itu, yang paling penting adalah bagaimana mempertahankan hidup dan nyawa selembar agar tidak mati konyol di tengah belantara manusia pemakan sesamanya. Damn, it's hard.

Labels:

Pada Suatu Ketika

Posted by The Bitch on 7/05/2008 05:04:00 AM

Me: Dhe?
Him: Ya?
Me: Why does it hurt?
Him: Nggak tau
Me: Tapi kan dia yang patah hati, kenapa dada gwa sesak dan sakit sampe sekarang?
Him: Lha kamu maunya gimana?
Me: Pengennya seneng, soalnya dia udah nggak bareng si sundal yang cuma bisa main-main sama hati dan hidupnya itu. I really hate dat slut!
Him: Jangan gampang 'I hate-I hate' kenapa sih?! Udah... Biarin aja dulu
Me: Ampe berapa lama didieminnya? Nggak bisa pake cara instan gitu?
Him: Maksudnya didiemin dulu itu supaya ketauan penyebab dadamu terasa sesak dan sakit itu kenapa. Siapa tau itu cuma impuls-impuls aja. Kalo perlu kamu meditasi. Atau jangan-jangan kamu pake kutang kekecilan? =))
Me: Asu
Me: *sigh* What should I do now?
Him: Rileks. Kalo eneg ya udah, terima aja. Nggak usah mikir macem-macem dulu
Me: But I don't like this feeling. It's annoying. Nggak bisa ditanggulangi po?
Him: Kamu harus belajar membiarkan sesuatu membuka dirinya sendiri. Jangan dipaksa-paksa
Him: Mending fokus ke dia, bantu dia pulih kek ato gimana
Me: How?
Him: Meneketehe?!
Him: Intinya, lu harus fokus dampingin dia karena lu juga nyangkut di masalah ini kan?
Him: Jangan terheran-heran dengan empetnya elu dulu
Him: Kalo lu beneran intensif bantu dia pulih, nanti otomatis lu bakal bikin diagnosis sendiri. Diagnosis sekaligus pemulihan. Bareng-bareng. That will be nice =)
Me: It sounds hard )=
Him: Susah bukan berarti nggak bisa kan? Perlu waktu. Percaya deh, ntar semua bakal terurai dengan sendirinya
Me: Lo tau gwa kan Dhe, nggak sabaran. Yang ada ntar gelas di kos dan di pabrik tambah langka gara-gara gwa banting-bantingin...
Him: Ya makanya, belajar. Coba deh. Kamu bener-bener kudu membiarkan hal-hal untuk membuka dirinya sendiri. Ini cara lain menikmati hidup
Him: Menikmati kejadian-kejadian yang kita alami sebagai mahluk bernyawa, menjadikannya sebagai guru kehidupan
Him: Biarkan hidup itu sendiri yang bercerita ke kamu dengan cara-cara yang tak terduga
Him: Ini cara hidup yang puitis
Me: AND WHAT THE FUCK IS DAT?! Bahasa lo Klingon banget sih?!
Him: Halah!
Him: Kita itu terlalu sering menghayati hidup secara prosais
Him: Harus jelas ada plot, karakter antagonis-protagonis, ada klimaks, ada awal, ada ending, ada setting
Him: Sementara puisi itu order non-order, tatanan tanpa tatanan
Me: Ai si. Jadi akan selalu ada kejutan di tiap belokan gitu?
Him: Yup. Kamu harus belajar membiarkan kejadian-kejadian itu bergerak dan berkawin-mawin secara natural
Me: Nice! Sounds fun ((=
Him: Gue berasa kek Pai Mei lagi kasih pencerahan sama Si Beatrix =))
Me: Yeah rite. I wish I had a bod like hers...
Him: In your dream, Baby =))
Me: Taek
Him: Eh, coba kamu retrospeksi tentang kejadian-kejadian hidup yang sudah kamu anggap tuntas dipahami
Him: Entah pas kamu patah hati jaman baheula atau apa
Him: Coba kamu liat dari sisi lain
Him: Ngacak-ngacak pengertian, bikin oder to chaos
Me: Halahhhhhhhhhhhhhhhhh.......
Me: Mumet!!!
Him: Hehehehe
Him: Ya udah, sabuk elu masih biru soalnya, belum coklat
Him: Jadi Pai Mei bisa ngerti =))
Me: prettttttttttttt
Him: =))=))


ps: so, my masta Pai Mei... Hidup puitis nih kita...?

Labels: