"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Justified

Posted by The Bitch on 6/27/2008 03:14:00 PM

Following kerusuhan Nusa Kambangan, mak bedunduk ujug-ujug mandor saya bertanya di siang-siang terik yang bikin kita semua terkantuk-kantuk: "Eh, itu eksekusi jadi nggak ya semalem?"

Cuma karena kata 'eksekusi' pikiran saya jadi kemana-mana. Dulu saya pernah mendiskusikan dengan adik saya tentang cara mati paling menyakitkan tapi 'fun' buat algojonya. Jawab Si Icha yang waktu itu masih SMU di Muhamadiyah adalah, "Dikitik-kitik aja. Kan karena geli banget, ketawa nggak berenti-berenti, bakalan susah napas tu. Pasti sesek. Atau sekalian, biar cepet, pas dikitikin mukanya dibekep bantal."

Not bad.

Atau versi teman saya yang asli Purwokerto, "Disendokin aja matanya."

Nice.

Atau versi teman saya yang lain, "Pake garpu. Tusuk lehernya. Atau dicuwili dagingnya. Gimana kek caranya, yang penting pakek garpu."

Sementara saya, terinspirasi dari film dan cerita Abad Pertengahan, membayangkan seseorang dengan tangan dan kaki terpentang ke empat penjuru angin, diikat tambang tebal yang tertambat pada empat mobil Four Wheel Drive di sebuah area offroad. Saat peluit dibunyikan, empat mobil besar tersebut akan bergerak berlawanan arah dan saya akan mendapat kesempatan meneliti hingga batas mana otot manusia mampu tahan terhadap regangan hingga tertarik dan lepas dari persendian. Apalagi darah yang muncrat bakal jadi pemandangan terindah. Air mancur merah-meriah.

Ergh... Terlalu brutal.

Saya selalu takjub dengan alat-alat penyiksaan semacam Perawan Besi dan Pisau Turun. Atau instalasi unik-rumit seperti yang ada pada film SAW. Pada sesama manusia, mahluk yang dibilang memiliki derajat paling tinggi ini memang memiliki kemampuan tak terbatas dalam mencipta keindahan... dan kehancuran. Meskipun saya memang terkesima pada semua peralatan tersebut, saya menolak setuju untuk menghukum orang sampai mati. Rasanya bukan hak manusia untuk mencabut nyawa manusia lain, meskipun mereka memiliki kesalahan sebesar Everest. Saya selalu percaya kesempatan kedua. Kecuali untuk para koruptor dan pemerkosa anak. Nggak, beneran deh, saya juga nggak akan menimpakan hukuman mati bagi kedua jenis kriminal ini. Jika saya punya sedikit kekuasaan, paling banter saya cuma potong kaki dan tangannya hingga pergelangan serta saya kuliti penis mereka hidup-hidup tanpa anestesi. Selesai dikuliti saya persilahkan orang lain untuk memberinya perban. Selesai. Mereka nggak akan bisa ngapa-ngapain.

Nggak tau lah. Saya memang freak nanggung.

Labels:

Quo Vadis, Polisi Indonesia?

Posted by The Bitch on 6/25/2008 09:36:00 PM

Belum ada sepuluh menit yang lalu saya menyaksikan kejadian menyedihkan setelah saya mengantar Jo hingga ke taksi. Waktu saya menyebrang jalan Radiodalam yang padat merayap untuk beli rokok di koperasi, dua motor hitam, besar dan keren berhenti dan parkir mendadak dengan satu motor matic biru-putih di belakangnya. Pengendara motor-motor keren itu adalah dua orang identik dan gagah berhelm a la pembalap dan celana lapangan warna coklat, sepatu lars, dan jaket hitam dengan badge 'Fighting Falcon' dan beberapa aksesori berbau angkatan. Sementara pengendara motor matic adalah pemuda remaja dengan sneaker, jumper, tas selempang dan helm setengah.

Dua mas-mas ganteng dan bertampang garang itu bicara dengan nada kasar namun suara tetap ditekan hingga saya yang berjarak tidak lebih dari lima meter hampir tidak bisa mendengarnya. Sesayup mereka membentak tentang 'lampu merah' dan 'macet' dan 'menerobos' sambil bergegas mendekati si mas matic yang sepertinya gemetar dengan sorot mata khawatir. Salah satu mas gagah itu mendekati--amat dekat sekali--si mas matic, bicara dengan nada mengintimidasi dan... Plak! Tamparan melayang di pipi si matic yang belum sempat menjejakkan standar pada motornya. Saya sontak kaget. Dan ketika saya menoleh ke pintu koperasi, saya baru ngeh bahwa hampir semua orang di dalamnya keluar menyaksikan 'pertunjukan' itu.

Saya mencoba tidak peduli, bahwa ada seorang warga diperlakukan semena-mena oleh orang berseragam yang katanya bermoto 'Melindungi dan Mengayomi', yang gajinya juga dikutip dari pajak yang dibayar penduduk sipil, yang dilatih menggunakan senjata dan tampil gagah untuk dapat bekerja sesuai dengan fungsi dan profesinya. Sungguh, saya berusaha keras. Namun saya nggak bisa konsen menghitung kembalian dari mbak kasir karena ekor mata saya melihat orang-orang yang berjumlah tidak seberapa tetap berkerumun di pintu keluar koperasi yang mirip mini market itu.

Akhirnya saya nggak sabar. Saya titipkan kembalian pada kasir dan saya keluar. Saya dekati 'TKP', bermaksud memprovokasi tanpa suara dengan bersandar pada dinding tidak sampai 5 meter dari tempat kejadian. Saya tatap lekat-lekat si mas celana coklat yang tadi menampar mas matic. Edan! Dia bergeming tidak bergerak, masih dengan lagak sok berkuasa, menengarai dengan sebal ke arah si mas matic dari kepala sampai kaki (apakah kamu mengira-ngira berapa puluh ribu bagian yang kamu dapat dari seorang remaja sembilan belas tahun mengingat rekanmu bertanya usia, STNK, SIM dan KTP?). Saya nyalakan rokok se-bitchy mungkin, dan mata saya masih lekat pada salah satu celana coklat. Saya hisap rokok dan menghembuskan asapnya dengan gaya belagu. It didn't work. Mereka masih berkutat dengan urusan geblek itu.

Saya berharap diusir dari tempat saya bersandar, berharap bahwa setidaknya dua orang yang tidak terlihat lebih tua dari mas matic itu masih memiliki sedikit rasa malu karena aksi tersebut ditonton orang banyak--yang juga tidak mampu berbuat apa-apa. Saya menunggu-nunggu episode Memindahkan Isi Kepalan dari Penduduk Sipil untuk Makan Malam Bapak Berseragam. Dan... Voila! Terjadilah! Tepat di depan mata saya. Kurang dari 5 meter dari tempat saya berdiri.

Sungguh, saya heran. Mungkin saya agak sedikit lebih pengertian jika yang melakukan praktek seperti itu adalah bapak-bapak gendut yang mungkin kekurangan uang untuk belanja dan biaya sekolah anak istrinya di asrama polisi. Namun ini mas-mas yang saya yakin berusia awal duapuluhan, terlihat dari betapa hausdarahnya mereka--meskipun tampang masih cupu--menghadapi mas matic yang gentar, menemukan banyak kesamaan pada raut mereka dengan sepupu saya yang masih dua satu. Apa yang diajarkan di tempat latihan kalian hingga harus bertebal muka mendulang kejadian seperti ini, duhai yang katanya pengayom masyarakat?! Tepat di depan puluhan mata warga sipil lainnya. Mengapa harus seperti ini, bertingkah layaknya preman kehabisan uang untuk beli minuman, sementara seharusnya kalian memberantas kelakuan seperti itu? Sungguh, saya nggak ngerti. Kalian masih sangat muda namun begitu tidak punya nyali, berlindung di balik seragam dan tubuh kekar hasil latihan. Padahal seragam itu juga dibeli dari uang rakyat.

Pertunjukan usai sudah, menyisakan senyum getir pada bibir saya dan sedikit huruf dan angka yang tertera pada salah satu plat Suzuki RGR Hitam keren itu. Saya ketikkan nomer platnya pada ponsel butut saya: B6379SLH.

ps: ya. quo vadis nurani Polisi Indonesia? Terlalu hebatkah beberapa lembar sepuluh ribu rupiah sekali tilang hingga menutup kemaluan dan teriakan kecil dari lubuk hati terdalam?

Labels:

Sedang E'ek

Posted by The Bitch on 6/24/2008 11:39:00 PM

Dua malam kemarin karena derajat keisengan saya sedang berada di titik kulminasi, saya menyapa seorang bloger yang entrinya lumayan bikin saya terhibur. Komen di tempatnya selalu lebih dari lima puluh. Penggemarnya dari seluruh penjuru Indonesia, bahkan luar negeri. Fotonya pun komersil abis. Ganteng pisan. Ngobrol dengan dia adalah sama menyenangkan seperti membaca tulisannya.

Ternyata dia juga familiar dengan kotak muntahan saya ini. Jadilah, obrolan memanjang. Namun satu hal yang sebenarnya mengganggu saya. Dia ngotot secara halus minta saya menunjukkan foto, nggak terima alasan jika saya ingin anonim. Celakanya saya melunak. Saya tunjukkan muka babi saya dan dia puas, karena setelah itu dia harus mengerjakan sesuatu yang penting dan obrolan terpotong dengan lumayan nyaman.

Abang ganteng itu nggak salah sih. Dia mungkin cuma ingin memberi sosok pada teks yang merespon barisan kata-kata yang telah dia ketikkan. Tapi--maaf ya Bang--ID instant messenger miliknya yang baru terpajang beberapa saat di daftar teman segera saya hapus. Saya sungguh merasa tidak nyaman jika nanti melihatnya online. Seperti ada keharusan menyapa, beramah-tamah, dan menjalin silaturahmi. Padahal bisa saja salah satu dari kami sedang mengerjakan sesuatu yang lebih penting ketimbang spak-spik basi sementara saya tidak mengenalnya sama sekali.

Mungkin saya memang aneh, mem-broadcast apa yang menjadi kegelisahan saya di tempat seterbuka ini dan dibaca oleh orang-orang yang telah saya filter terlebih dahulu melalui peringatan konten dewasa. Berusaha menyendiri dalam kotak tebal kedap suara namun tembus pandang dimana orang dapat melihat apa yang saya lakukan tapi tidak berdaya mencegah semua perbuatan saya yang menurut mereka adalah salah. Menginginkan kesendirian tanpa blogroll maupun jaringan pertemanan kecuali link-link basi yang saya pajang di sidebar hanya untuk memudahkan saya mengakses site tersebut. Nggak reader-friendly karena saya lebih suka latar hitam berhuruf putih yang membuat lensa mata saya bekerja keras dan lambat laun akan berpengaruh jelek terhadap ketergantungan saya pada alat bantu melihat.

Kemarin saya cuma bisa menarik nafas mencoba sabar ketika saya sedang diuji sebagai mahluk komunal, berusaha bersosialisasi dengan sesama individu lain meskipun saya sedang dalam moda invisible. Dan saya khilaf bahwa manusia diberkahi rasa ingin tau yang tinggi.

Udah ah. Saya mau pulang.

Note:
Judul memang nggak sesuai dengan isi. Tapi ada benang merahnya. E'ek adalah salah satu keharusan yang dilakukan semua mahluk hidup untuk membuang ampas makanan yang saripatinya sudah terserap dan mengalir bersama darah ke seluruh tubuh. Prosesnya menjijikkan, tapi jika tidak dilakukan akan berbahaya bagi kesehatan si pemilik anus, saluran tempat keluarnya e'ek. Begitulah.

Labels:

Another 'Blah!'

Posted by The Bitch on 6/24/2008 12:17:00 AM

Sesulit-sulitnya melepaskan diri dari keramaian namun masih lebih sulit berusaha tetap dalam lingkaran.

Shit. I wish I were God.

Labels:

Iseng

Posted by The Bitch on 6/23/2008 09:08:00 AM

Minggu sore saya kedatangan tamu istimewa. Teman senasib sepergadangan dulu. Duo maupun trio bersama seorang gadis manis berjilbab yang bakal bikin nyali lelaki manapun jadi ciut ketika dia menyentak galak namun cerdas dalam forum diskusi manapun.

Tamu ini masih sama seperti dulu. Berbahasa santun, dengan kerudung Aceh dan logat Melayu kental mengingat asalnya dari Kalimantan, berwajah mirip Cina namun sesungguhnya mengalir darah dari leluhur Haddramaut dengan nama fam bertradisi kental. Hanya wajahnya yang tambah tirus dan badannya bertambah lurus serta kulit menggelap mengingat mobilitas tinggi sebagai penyuluh dan researcher pertanian memaksanya bolak-balik Telok Betung-Ketapang-Pontianak mengendarai motor cicilan. Kami berusaha merangkum setahun setelah pertemuan terakhir dalam waktu beberapa jam saja, disela dua cangkir Kopi Aroma Arabika Moccha, cucian pakaian dalam seember kecil (milik saya), dan berbatang-batang rokok tanpa henti (yang juga milik saya). Dengan teknis dan jangka waktu berbeda ternyata kami mengalami beberapa hal yang sama dalam menjalin hubungan.

Sayangnya dia tidak bisa menginap karena kepergiannya ke Jakarta adalah untuk memenuhi panggilan wawancara dengan salah satu departemen besok paginya. Jadilah saya mengantarnya pulang jam sepuluh malam ke kediaman kakaknya di seputaran Pasar Minggu.

Ngobrol sebentar lalu saya pamit kembali ke kandang sendiri. Celakanya, saya sudah terlanjur pasang Homicide, lagu pengantar jalan kaki. Dari sepasang headset penyumpal telinga dentamannya saya nikmati sambil merokok, menyusuri jalan Pasar Minggu hingga berkeringat kelelahan dan harus ngebis di dekat rental Mobilindo. Niat saya untuk langsung pulang jadi batal karena kelaparan. Sebelumnya, ketika harus turun di terminal sekaligus pasar, saya sudah mengincar mie ayam yang masih buka selarut itu. Tapi ketika saya melewati tempat yang sama sejam setengah setelahnya, ternyata gerobak itu raib. Dan mata saya tertumbuk pada warung kopi dengan jajaran benda bujursangkar putih rada hitam pada sisinya. Jadah bakar. Yay!

Lapar saya terobati dengan dua buah jadah (atau ketan dalam Bahasa Indonesia. Tapi saya lebih senang menggunakan jadah mengingat artinya jika di depannya terletak kata 'haram'). Saya diberi tatakan gelas warna biru berisi serundeng dan gula pasir. Dengan air jeruk hangat dan pemandangan jual-beli di depan dan kanan-kiri saya, entah kenapa rasanya nikmat sekali.

Total 2 jam 39 menit saya nongkrong, ditemani 17 SMS dan 34 menit telepon oleh teman-teman saya di Temanggung dan Bali. Saya seperti larut dalam bebauan jengkol dan sampah sayuran busuk, teriakan para penjual yang memesan kopi atau mie goreng instan pada si mang tukang warung, dan tawar-menawar harga oleh pembeli dan tukang jamur. Disini semua orang bangun dan bekerja. Tidak (atau belum?) ada tanda kelelahan atau raut wajah menyerah yang saya temukan. Beberapa menit lewat tengah malam hingga saya mengangkat pantat saya dari kursi panjang depan gerobak kopi, mas-mas asal Wates di sebelah kanan saya masih cekatan memilah kangkung dan mengikatnya dengan bilah bambu tipis. Penjual jamur, bakso, tempura, dan telur puyuh di sebelah kiri saya masih tangkas menghitung dagangan dan memasukkannya ke dalam plastik kecil-kecil. Si mang warung juga giat menerima panggilan telepon delivery service yang meminta kopi susu atau teh hangat diantarkan ke lapak berjarak 200-an meter dari gerobak. Orang-orang datang-pergi, membawa tas plastik berisi sarat belanjaan. Beberapa motor mengangkuti sawi dan bayam dan wortel hingga semua tempat di kendaraannya penuh sekali. Saya jadi teringat masa-masa ketika Ibu usaha katering kecil-kecilan dulu. Jam 12 berangkat, pulang jam 2, lalu masak sementara saya baru saja tidur. Yang paling unik adalah beberapa bocah tanggung dan brondong dekil dengan bot setengah betis, jins skinny, ikat pinggang berpaku, kaos hitam bertuliskan RANCID dan SEX PISTOLS didobel kemeja flanel serta bertindik heboh di wajah dan gaya rambut mohawk terlihat wira-wiri membawa tentengan plastik berisi jamur kuping dan sayuran.

Setengah tiga lebih sedikit dan saya membayar 2 jadah bakar, 2 gelas kopi pahit dan segelas jeruk hangat yang totalnya sembilan ribu. Saya beranjak dan berjalan pelan menikmati suasana kerja dini hari sebelum saya masuk Metro Mini jurusan Blok M. Malam itu saya membawa pulang gerak dinamis manusia-manusia pekerja dan suasana yang tidak terbeli di riuh Starbucks maupun sejuknya Plaza Indonesia.

Labels:

Seberapa Jembut Dirimu?

Posted by The Bitch on 6/22/2008 12:10:00 AM

Leaderboard
Create your own Friend Test here


Sok dah, diisi kalo lagi nggak ada kerjaan. Gwa bikinnya juga pas iseng. Sekalian biar tau lu udah jadi jembut gwa belom.

Oh, iya. Gwa udah isi tesnya sendiri. Gila! Ternyata gwa amat sangat jembut pada diri gwa sendiri. Huahahahaha!!!

Labels:

An Offer

Posted by The Bitch on 6/20/2008 01:19:00 PM

Mari sini. Kuajak kamu berkeliling menikmati Bakso dan Mie Ayam Jamur, Tengkleng, aneka masakan bebek dan sajian lain yang hanya dapat kamu lihat disini. Menikmati hangat dan ramahnya lingkaran kawan lama yang sejak dulu hanya bersua suara dalam dingin terapit Sindoro-Sumbing. Ya, aku bakal jemput kamu di Stasiun Jogja dan membawamu kemanapun kamu mau, kemudian kuculik kamu pada sejuknya kota kecil yang belum pernah kamu pijak.

Ayo saling bicara bertatap muka, mentertawakan sepi, luka dan cinta. Membincang apa yang entah dan kemana masa depan membawa. Jangan khawatirkan kemana meletakkan kepala ketika penat datang melanda. Kami keluarga, mungkin bukan siapa-siapa. Tapi akan selalu ada. Semoga.

Jadi, kapan kamu datang?

[Anjing! Kenapa sih duit dan waktu selalu berjalan pada jalur yang beda?!]

Labels:

A Cup of Coffee and A Good Friend

Posted by The Bitch on 6/20/2008 02:57:00 AM

Him: I need a shoulder...
Me: Got a pair of cold ones. Shoot, Beib. S'up? R U allrite?
Him: I will, later. Thanx to those pair of yours
Me: May I know what's it all about? U won't be like diz if it isn't sumthing big dat bothers U much. But it's fine if U jez need 2 lay Ur weary head in my imaginery shoulder. Dun 4get 2 smile, plz (=
Him: :)
Him: Dun laugh but I pretend dat I'm texting God when I send U my SMS
Me: Well, I'm the closest thing 2 God considering my insom habit and all ((= Take a deep breath & let go, Beib. Things'll be fine 4 U and all dat makes U worry 2 much
Him: I'm picturing God's shoulder in the shape of yours, actually. Tengkyu bertubi-tubi
Me: Anytime, Hun. Anytime. Dat's what being a belahan biji is all about. Sumthing way closer than Ur own penis. Shit. I aint good in making analogy. I'm trying lah tapinya
Him: Dat's a great one! Lebih membumi :))
Me: So, R U gonna keep texting God and give Her a chance 2 show how fluent Her English is or U jez wanna lay in bed picturing Pito's shoulder in Ur head?
Him: :) Carry on w/ what U do now. Yes, I'll be fine. Thanx again
Me: Seneng deh. Akhirnya gwa berguna juga buat lo. U always have God's shoulders in anyone cuz U always provide yours for everyone *bows* U're very fuckin' welcome, anyway

Saya nggak tau mau terharu atau ketawa ketika membaca kembali archive SMS pada ponsel hitam butut yang saya tenteng kemana-mana. Dia, yang biasanya selalu jadi tempat saya bersandar, ternyata juga perlu bahu imajiner dari saya. Yah, meskipun dia membayangkan Tuhan saat melakukannya. Dan semua berawal ketika saya sedang memasak kopi. Kebetulan? Rasanya tidak jika dalam satu kesempatan dua hal pahit bercampur menjadi sesuatu yang manis untuk dikenang: Kopi tanpa gula dan teman yang gulana.

Manis? Ya, karena satu hal yang sangat menonjok mesra di uluhati adalah sebuah gentle reminder: Bagaimanapun manusia tetap perlu manusia lain. Memang, selalu ada harga yang harus dibayar untuk apapun. Begitu juga pertemanan. Banyak friksi yang akan terjadi saat proses yang akan melekatkan dua orang berbeda karakter dan latar belakang sedang berlangsung. Saya dan dia seperti surga dan neraka. Dia kalem, pendiam, tenang, pintar, santai, ganteng (ehm...), dan amat sangat peduli pada teman-temannya. Saya? Yah... tau sendiri lah. Semua kebalikannya, kecuali bagian ganteng dan pintar (HAH!). Udah bisa ketebak kan mana surga mana neraka?

Yang menyatukan kami adalah semua perbedaan itu ditambah kecenderungan insom, kesukaan kami untuk nongkrong, dan menjadi pemerhati. Saya ingat betul pertama kali kami bertemu di Jogja. Betapa pendiam dan pemaklum bapak satu itu. Di tengah asap rokok saya yang tanpa henti dan beberapa cangkir kopi tanpa gula yang saya pesan, dia tetap tenang dan senyum menghadapi semua letupan dan muntahan lahar yang membuncah dari mulut saya. Merespon seadanya dan menatap mata saya dengan penuh perhatian. Tidak sedikitpun terganggu pada kabut kelabu yang mengambang di atas kepala meskipun dia tidak merokok, atau sok perhatian dan meminta saya berhenti sebentar. Dia bahkan menurut ketika saya memesankan kopi untuknya, meskipun di gelas kedua tangannya tremor sementara saya baik-baik saja pada gelas ketiga. Detik itu saya segera tau bahwa saya akan terjerat pada semua kebaikannya. Celakanya, saya jadi frigid. Jenis seperti dia adalah spesies yang saya nggak tega menjadikannya pacar. Dem! Akan sangat sulit bagi saya untuk menutup diri dari orang berkarakter seperti itu, dan hampir tiga tahun ini semua teori saya terbukti.

Pernah saya marah karena harapan saya terlalu tinggi, menganggapnya tidak pernah melakukan kesalahan. Saya hampir lupa bahwa dia bukan malaikat. Dia sangat ksatria, mengakui perbuatannya meskipun tau itu akan membuat saya muntab ke ubun-ubun dan rasanya seperti tertusuk belati di punggung. Saya sempat mencoret namanya dari daftar 'belahan biji'. Hanya dua puluh lima menit, ketika hampir tiga batang rokok mengabu dan amarah saya mereda. Saya malu karena apa yang saya lakukan mungkin lebih banyak melukainya ketimbang dia ke saya.

Saya pernah jumawa, merasa bisa mengatasi semua masalah sendiri, merasa kuat dan mampu menyangga beban apapun yang tertimpa di sepanjang dua puluh tahun lebih saya menyesaki bumi, merasa rebel karena tidak seorang pun tau bagaimana menghadapi saya. Bahkan kedua orangtua saya sendiri. Namun sebagaimana kesombongan-kesombongan saya yang lain, yang ini pun patah dan luruh. Ternyata saya tidak seistimewa itu. Terbukti bahwa saya tidak se-chaos itu untuk tidak bisa dimengerti. Bahkan di rentang pulau Jawa pun saya masih menemukan beberapa serpihan jiwa yang membentuk saya menjadi utuh. Saya hanya harus memahami jika ingin dipahami. So very fuckin' simple.

Proses kami memerlukan waktu, energi, dan kompromi. Sungguh, tidak semuanya menyenangkan. Karena bahkan pertemanan pun memiliki durasi, saya harus siap jika suatu hari dia menghilang. Dengan alasan apapun. Lebih dari lima kali saya mengalaminya dan akhirnya saya harus belajar menerima jika yang datang pasti harus pergi ketika saatnya tiba. Saya juga belajar untuk berani menunjukkan siapa saya tanpa baju zirah dan topeng berlapis pada mereka-mereka yang layak saya percaya, alih-alih selalu kembali menarik diri ke dalam benteng kesunyian.

Entah dia harus bersyukur atau mengutuk karena seleksi alam membuat saya mempertahankan sosoknya dalam lingkaran kecil yang saya bikin di sekeliling saya. Tidak berlebihan untuk menyebut dia sebagai salah satu penyangga yang mampu membuat saya berani menghadapi dunia luar, dan di saat yang sama, dia adalah atap tebal yang melindungi saya dari hujan kesedihan.

Kamu adalah salah satu bukti bahwa Tuhan dan The Great Plan itu ada. Terima kasih (=

ps: seiring saya merunduk rendah pada kalian yang sempat dan masih meluangkan hidup untuk saling mengiringi. saya sayang kalian.

Labels:

Just A Thought

Posted by The Bitch on 6/19/2008 11:12:00 AM

Tidak pernah ada yang salah dengan buah pemikiran manusia. Yang ada hanya ketidaksesuaian dengan apa yang dianggap benar dalam kumpulan. Jadi, saya nggak menganggap Ahmadiyah sebagai aliran sesat sebagaimana saya juga nggak pernah bilang bahwa pengikut Buddha bakal masuk neraka. Monggo lho, buat para pengkapling surga yang bakal punya tujuh istri perawan dengan auto-rejuvenate hymen setiap habis disetubuhi. Silahkan halalkan darah saya karena apa yang sudah saya ungkapkan.

Sudah lama saya kehabisan hati untuk mengikuti mainstream karena lelah mengenakan topeng dua puluh empat jam sehari untuk tidak dianggap aneh. Toh buat keluarga saya aneh itu nggak dosa. Kalaupun dosa, konsekuensinya apa? Jika cuma surga dan neraka, bukan saya atau komunitas yang berhak memberi. Saya percaya bahwa surga adalah kondisi dan situasi aman-nyaman-menyenangkan yang dapat diusahakan siapa saja selama hayat masih dikandung badan. Dikucilkan? Sudah biasa. Saya bahkan sering mengucilkan diri sendiri kok.

And everything has its price dan what you give is what you get. Untuk menjadi beda dalam kelompok maka kamu harus terima menjadi terlihat. Seperti zebra bergaris biru-kuning diantara yang standar hitam-putih. Jangan harap terlindungi oleh kumpulan jika sudah begitu. Yang paling terlihat adalah yang paling enak ditarget dan paling gampang jadi sasaran untuk dimangsa. Sama halnya dengan rambut skin warna hijau diantara kepala-kepala hitam. Atau celana jins belel selutut diantara jajaran professional outfit.

Namun saya seringkali lupa bahwa tidak setiap orang punya garis yang sama seperti saya. Juga lupa bahwa citra yang terbuat di diri orang lain adalah impresi dari apa yang saya perbuat. Walhasil saya akan terkaing-kaing, misuh heboh dan mecucu berkepanjangan saat seseorang menunjuk wajah saya dan berkata bahwa dia nggak suka dengan apa yang saya katakan dan/atau lakukan. Well, saya kerap khilaf bahwa dalam kacamata orang lain saya tetap bad girl meski punya hati sesuci bayi *halah!*

Sorimoridoristroberi lah buat mereka-mereka yang punya misi mulia untuk mengembalikan saya ke jalan yang benar. Saya lebih suka untuk mencari jalan saya sendiri meskipun harus nyasar dan jatuh berjuta kali. Nggak ada seorang pun tau mana yang paling baik buat hidupnya kecuali orang yang ngejalanin kan? Eh, jangan bete gitu. Meskipun saya tetap pasang Benteng Hogwarts, saya masih mau dengar semua kritik dan saran kok. Saya bakal tatap mata kamu ketika kamu ngomong, bakal dengerin baik-baik, dan mungkin tidak akan membakar rokok saya yang entah keberapa jika kamu terganggu. Nggak bakal saya cuekin deh. Tapi ya itu. Jangan harap saya bakal jalanin apa yang kamu sarankan. In the end, mungkin saya cuma akan teriak di depan mukamu: Nil bastardi carborundum! Seperti biasa.

Sudah lah. Tolong hargai keinginan saya untuk dibiarkan, sebagaimana kamu memberikan makanan enak, as requested, pada seorang terhukum gantung yang ereksi dan cepirit dengan lidah terjulur saat tali menjerat leher dan sakratul maut menjemput.

ps: ini postingan cuma demi Michelle yang protes kemaren.

Labels:

Senandika

Posted by The Bitch on 6/16/2008 03:34:00 AM

Han,
Sini duduk dekatku. Maaf, aku belum mandi. Kalah deh wanginya sama Kamu. Tapi aku ngebet pengen cerita. Tentang manusia-manusia dan bumi yang pernah Kamu cipta. Tentang derita yang ditimpakan saudara sesama. Tentang satu sifat turunan bernama acuh yang terpelihara karena keadaan. Tentang memuaskan dahaga bernama serakah yang layaknya mereguk air sesamudera. Tentang berkasihsayang, tentang ego, tentang eksistensi.

Biar kuhirup dalam-dalam wangi rambutMu, Han. Biar aromanya merangsek masuk hingga ke tulang sumsum, sampai ke tiap nano darah yang mengalir pada pembuluhku terpompa dalam jantung untuk kemudian menyebar dari kepala hingga kaki, memberi tenaga pada bibirku saat kubisikkan kontroversi Theresa pada telingaMu. Dia, yang seumur hidup mengasihi sesama layaknya Santa, menghabiskan jiwanya dalam kemiskinan pelosok India, pada penghujung hari pun ternyata mempertanyakan benarkah Kamu ada.

Mari letakkan tanganMu dalam genggamanku. Akan kukecup lembut telapakMu dan kutanyakan bagaimana Yesus mengerang pada kayu salib, memanggilMu kembali untuk memberinya kekuatan. Dia, yang konon adalah anakMu, buah kasih yang Kau titipkan pada Perawan Suci Maria, yang bertugas memanggul dosa semua orang, yang tidak pernah punya pilihan selain patuh.

Tolong ceritakan padaku bagaimana tangis Fatimah yang harus membuka pintu bagi Sang Maut dan betapa berat derita Muhammad saat nyawa terpisah dari raga hingga Jibril pun menangis haru, sementara yang diingat dan terulang tiga kali dari mulut agung itu hanya umatnya dan bagaimana nasib mereka kelak.

Izinkan kupangku tungkaiMu, Han. Biar kupijat sirna pegal yang menghambat jalanMu dari ujung jari hingga ke betis. Aku ingin dengar bagaimana Musa menggigil setelah dilihatnya semak terbakar, dan bagaimana jumawanya dia berteriak memanggil keberadaanmu demi keberlangsungan budak-budak Firaun yang percaya pada tuntunannya.

Aku tau, kita sungguh berbeda. Kamu sudah hapal bagaimana kelakuan mahluk primata berkaki dua yang pernah Kamu plot sebagai rahmat bagi alam semesta sementara Kamu hanya bisa kukira-kira dan kubentuk semauku. Pilihan bebas yang Kamu beri pada kami sebenarnya adalah semu, sebagaimana layout halaman bermainku ini yang sesungguhnya hanya deretan berbaris-baris string pada skrip yang dituliskan di notepad. Mungkin aku harus menerima bulat-bulat bahwa ada beberapa gelintir manusia yang senyap tersurat kere sementara yang lain riuh dalam gelimang harta, dan apapun yang mereka lakukan tidak akan pernah membuat keadaan jadi berbalik.

Ya, kami memang semesta-semesta kecil yang sadar, bergerak menuruti insting dan naluri dan berbagai pilihan. Kamu beri kami lebih dari cukup--panca indera, hati, otak, dan kebebasan memilih--hingga Iblis pun iri. Namun kami hanya anak-anak manja yang tidak pernah merasa cukup, selalu ingin lebih, selalu cemburu pada milik orang lain, selalu ingin menguasai, selalu ingin terlihat.

Han,
Mungkin aku tidak sehebat Theresa, Musa, Muhammad dan Isa. Aku juga belum mampu seperti Pakdhe dan Mas Greenpeace; atau Ndoro dan Paman. Mereka adalah orang-orang bijak, menyesap semua peristiwa dan mengejewantahkannya ke dalam bahasa santun. Mungkin mereka manusia-manusia anggur, beraroma mantap dan fermentasi matang seiring berjalannya waktu. Sementara aku hanya mangga karbitan, sok tua padahal kecut luar biasa.

Namun aku lelah memunguti serpihan-serpihan hati yang terserak di sepanjang jalan tak berujung. Menatapi mata-mata hampa tanpa harapan. Menjalani hidup dengan insting primitif layaknya hewan. Mendengar keluh dan desah nafas yang berat terhela di jeda sikap bersabar. Meresapi tangis tertahan di bangsal-bangsal rumah sakit. Mendapati anak-anak kelaparan.

Aku nggak tau, Han, seberapa lama Kamu biarkan aku menghirup udara di tempat bernama dunia. Aku rindu Kamu, ingin menatap wajahMu penuh-penuh. Meskipun nanti hanya siksa yang menyambutku karena laranganMu kerap kuabaikan.

Labels:

Some Kinda Punch on the Nose

Posted by The Bitch on 6/12/2008 05:25:00 PM

Jangan bilang ada yang percaya sama tes feminin-femininan kemaren. Sini, biar gwa jelasin.

[ ] suka warna pink
Gwa ga suka karena terlalu terang. Warna paling terang yang gwa pake adalah merah darah. Eh, tapi waktu itu gwa punya celana dalem pink denk. Abis, yang pink goceng, yang item tujuh ribu sebiji. Dan gwa lagi defisit. Lagian nggak ada yang ngeliat juga.

[ ] ga begitu suka warna item
SALAH BESAR!!! Item is my basic color. Enak. Mau dipake seminggu juga nggak keliatan kotor.

[ ] ga suka ngomong keras2
Weits... Rem suara gwa udah jebol dari jaman entah.

[x] ngerti basic table manner
Iya, ngerti basic-nya doank. Ngerti nggak selalu harus ngejalanin kan?

[ ] ga suka musik keras
Errr... Symphorce, Dream Theater, Satriani, Metallica, Korn? Gwa nggak suka mereka?! UDAH GILA APA GWA YA?!

[ ] ga suka cowok metal
Cowok metal rawks!

[x] selalu ada waktu buat nyenengin diri
Oh, yang ini A MUST. Meskipun lagi hectic kabina-bina, gwa bisa maen Bounce atau Candy Cruncher. Atau nongkrong di teras rumah seberang, nungguin Mala, anjing Siberian Husky yang cantik dengan pupil sebelah coklat sebelah kelabu, lewat. Atau elus-elus Eddy, Golden Retriever nakal punya orang yang tinggalnya 5 rumah dari pabrik. Atau simply pura-pura boker padahal baca sambil ngerokok di balkon belakang. Apapun, gwa selalu berusaha bikin semua jadi menyenangkan. At least buat gwa sendiri.

[ ] suka renda2
Gwa nggak suka karena renda itu bikinnya makan waktu dan ketelatenan tinggi, fungsinya nggak signifikan, harganya ngaujubile. Udah gitu kalo kena kulit gwa bawaannya gatel-gatel.

[x] sayang anak kecil
Ya, gwa sayang sama anak-anak kecil asalkan mereka bukan anak gwa. Selama bukan gwa yang harus didik, harus nyekolahin, harus beliin baju dan buku-buku pelajaran, mereka akan selalu lucu dan menyenangkan. Patut disayang lah.

[ ] daleman selalu warna putih/krem
Mostly iteum, ijo pupus, dan kuning. Kenapa? KARENA SUKA, NJING!

[ ] suka liat cowo bersih
Nggak. Kurang macho, nggak laki-laki banget. Model yang dijewer nangis kalo cowok bersih tuh.

[ ] banyak yg bilang kamu feminin/cewe banget
Xixixi... No komen.

[ ] ga suka film action
Suka, asal plotnya keren.

[x] pernah ketiduran waktu nonton film action
Nah, ini pernah kejadian waktu ternyata jalan ceritanya basbang.

[ ] ga pernah nembak cowo duluan
Oh, gwa selalu bilang duluan ke cowok kalo gwa suka ama mereka. Like in, "Eh, bau lo enak. Gwa suka." Atau "Mata lo keren." Atau "Eh, gwa suka deh tangan lo... lencir." Samting laik det lah. Atau brutally: Gwa suka elo karena elo blah blah blah. Titik. Tapi nggak usah GR. Kalo gwa bilang 'suka' gwa ga bakal ajak si cowok itu pacaran. Biasanya image yang gwa bikin di kepala gwa tentang mereka langsung hancur nggak berbentuk waktu semuanya merujuk pada suatu relationshit bernama ' p a c a r a n ' .

[ ] posisi tidur selalu rapi/ga urakan
Well, kerjaan nyokap gwa dulu jaman masih SD adalah bangunin gwa pake gebugan bantal yang tadinya buat alas kepala gwa tapi paginya udah ada di lantai kamar. Kalo sekarang, di rumah gwa selalu terbangun dengan seprai kusut sampe copot dari kasur, padahal ujung-ujungnya udah ampe dipenitiin. Gwa nggak tau juga posisi tidur gwa gimana. Eh, tapi in a way gwa bisa koq tidur ga bergerak kalo pas lagi harus umpel-umpelan.

[ ] jarang pake sneakers
Gwa cuma punya sneaker ama treking. Oh, ama sepatu pantopel bertali, tapi model cowok. Hehe.

[ ] lubang anting ga nutup
Nutup koq. Yang di dagu kan? Eh, yang di kuping juga denk. Akhirnya.

[ ] suka pake dress
Nggak punya malah.

[ ] ga suka marah2
BECANDA, YA?!

[ ] suka pake rok
Suka. Tapi nggak pernah keliatan ke orang laen.

[x] ga suka perintah2 pacar
Emang nggak suka. Gwa macarin dia bukan untuk diperintah-perintah.

[ ] punya rambut panjang
Panjang kok! Seleher. Tapi belakangnya di skin.

[ ] suka mandi busa
Kelamaan kalo mandi busa mah. Frankly, kata 'suka mandi' aja udah salah buat gwa.

[ ] pake sabun mandi cewe
Gwa pakeknya sabun mandi keluarga yang ada sriwing-sriwingnya. Udah gwa ga suka mandi, jangan sampe deh jadi nggak menyenangkan dengan sisa sabun yang nempel kayak nggak bisa-bisa dibilas itu.

Lagian, perempuan yang harus lebih feminin dan lelaki harus lebih nonjolin maskulinnya itu bullshit. Semua manusia punya kedua sifat itu, tergantung yang mana yang mau dia tampilin. Perempuan yang nggak terlalu feminin maka dia dicap sebagai kelelaki-lelakian dan laki-laki yang gemulai maka dinilai bencong adalah stempel yang amat sangat dangkal dari mereka yang hanya melihat kulit dan bukan isi. Yang berpikir instan dan spontan tanpa mau cari tau apa dan bagaimana esensi semua. Padahal opini bisa dibikin, dan mereka yang dengan gampang dibentuk opininya adalah orang-orang yang tidak berpijak pada akar, terkatung-katung tergantung kemana ombak membawa.

Kasian sekali.

Labels:

Mid Deadline Quote

Posted by The Bitch on 6/12/2008 12:26:00 PM

Teman baik itu seperti jembut: Selalu berada di persimpangan, nggak pernah jelas kegunaannya apa, sering bikin terombang-ambing antara pengen babat abis atau melihara, dan dua pilihan ini sama-sama bikin gatel. Tapi jembut itu selalu tumbuh dalam waktu yang sudah ditentukan, ketika pemiliknya dianggap siap menerima tanggung jawab sebagai manusia dewasa yang mampu mengemban tugas sebagai agen reproduksi.

So, jembut-jembut. Ada yang protes?

*ketawa licik*

Labels:

How Feminine Am I?

Posted by The Bitch on 6/10/2008 01:40:00 AM

Dapet ginian di bulbo ep es. Iseng-iseng aja gwa jawab. Dan yang lo liat di bawah ini emang murni dari lubuk hati gwa terdalam, gwa jawab jujur sejujur-jujurnya jujur, tanpa tedeng aling-aling, tanpa nutup-nutupin. Silahkan dibaca dan ketawalah puas-puas.

Tandai pernyataan yg sesuai dengan kamu. Jumlah jawaban dikalikan 4 dan itulah presentase feminin kamu.
[ ] suka warna pink
[ ] ga begitu suka warna item
[ ] ga suka ngomong keras2
[x] ngerti basic table manner
[ ] ga suka musik keras
[ ] ga suka cowok metal
[x] selalu ada waktu buat nyenengin diri
[ ] suka renda2
[x] sayang anak kecil
[ ] daleman selalu warna putih/krem
[ ] suka liat cowo bersih
[ ] banyak yg bilang kamu feminin/cewe banget
[ ] ga suka film action
[x] pernah ketiduran waktu nonton film action
[ ] ga pernah nembak cowo duluan
[ ] posisi tidur selalu rapi/ga urakan
[ ] jarang pake sneakers
[ ] lubang anting ga nutup
[ ] suka pake dress
[ ] ga suka marah2
[ ] suka pake rok
[x] ga suka perintah2 pacar
[ ] punya rambut panjang
[ ] suka mandi busa
[ ] pake sabun mandi cewe

Oke, yang gwa centang ada 5. Dikali 4 jadi... 20?! Dua puluh persen?! Yeah, rite.

Labels:

Don't Hope, Don't Expect

Posted by The Bitch on 6/09/2008 10:22:00 AM

Ibu saya sudah lama berhenti berharap saya pulang meskipun jarak antara kos dan rumah masih lebih dekat ketimbang Jogja-Semarang. 'Inget sukur... nggak inget ya udah,' ujarnya. Tapi saya nggak pernah alpa melihat sekilas binar matanya dan pelukan yang makin hangat menyambut di depan pintu, serta ciuman yang dihujankan pada pipi dan kening (dan biasanya Icha cengengesan melihat saya tidak berdaya. Dia bosan jadi satu-satunya obyek afeksi ibunda). Meskipun di ujung ritual itu ada kesan sedih terlontar, 'Tambah santer aja bau rokokmu'.

Ibu saya juga nggak pernah berharap angka-angka saya di atas rata-rata setiap rapor dibagikan. Saya juga nggak punya jadwal belajar khusus setiap malam, kecuali belajar membaca kelas 1 dulu. Jika saya sedang 'lempeng' dan pingin tau, saya bawa buku pelajaran dan duduk di sebelah beliau.

Kelas 5 SD, sekali saya mendapat angka 5 untuk Matematika. Saya ingat betul bagaimana saya berjalan dalam diam sepulang mengambil rapor, tidak berani bahkan untuk menggandeng tangan Ibu karena benak saya sibuk menyerap cerita-cerita teman sekelas. Mereka harus menerima pukulan gagang sapu, gayung, dan tongkat rotan saat hasil evaluasi memburuk. Mengingat Ibu saya yang juga tidak segan melakukan hal yang sama, perjalanan pulang lima menit itu seperti lima hari (Hail Einstein for his Relativity!). Sesampai kami di rumah saya mempersiapkan fisik dan mental menghadapi apa yang akan terjadi nanti. Hingga sore semua berjalan seperti biasa dan masalah nilai rapor merah sama sekali tidak diungkit-ungkit. Mungkin nunggu Babab pulang, pikir saya.

Benar saja. Ketika Bapak yang Lucu dan Santai itu 'mendarat' di teras bersama motor RX-nya, lalu nge-teh dan mandi dan siap makan malam, Ibu melapor. Saya tegang mengantisipasi bagaimana makan malam ini akan jadi salah satu hal paling traumatis setelah hukuman kamar mandi. Ternyata Babab cuma nyengir, dan Ibu santai menggendong Icha yang waktu itu belum balita sambil berceloteh apa yang beliau dan Pak Dharma, wali kelas/guru ngaji/guru agama saya, gosipkan. Karena bingung, dengan bodoh saya bertanya, "Jadi... Pit nggak dipukul nih? Nggak papa, nih?"

"Lho? Kenapa? Ibu tau kok kamu nggak bisa matematika. Belajar aja males gitu. Capek Ibu oprak-oprak kamu nyuruh belajar, wong yang sekolah juga kamu. Tadi Ibu ketemu guru matematikamu dan dia bilang sendiri kalo kelas 5 ini susah-susahnya pelajaran SD karena buat ujian akhir nanti. Wajar kalo nilainya pada jatoh semua," jawab Ibu.

Detik itu saya seperti mendengar malaikat riuh bernyanyi Haleluya diiringi sinar cemerlang yang memancar dari atas langit menyoroti senyum di wajah saya yang menengadah menerima berkat dengan tangan terentang. Ya, ya, ya. Saya terlalu banyak nonton film bertema Natal sewaktu kecil.

Mungkin yang membuat Ibu berhenti berharap pada saya adalah karena saya ndablek nggak ketulungan. Nggak bisa dibilangin, makanya dibiarin aja. Seperti yang terjadi pada Tragedi Pos Ronda di depan komplek waktu itu. Dan beberapa peristiwa memaksa saya belajar untuk tidak 'ngarep' pada apapun, meski proses denial-nya amat sangat panjang dan lama.

Karena itulah saya terganggu dengan omongan-omongan 'ngarep' yang tertuju ke muka saya. "Oh, aku kira kamu jago gambar, Pit. Wong kamu nyeniman gitu," komentar mandor saya waktu saya terkagum-kagum pada lukisan putri Big Boss yang terpampang di ruangannya dan berandai-andai bisa melukis sebagus dia. Atau omongan teman saya kemarin siang yang menohok tepat di ulu hati: "Untuk ukuran orang se-egaliter elu, gwa ga nyangka lo mau cabut gitu aja padahal anak-anak mau makan." Atau setelah sesi curhat dimana teman saya yang ketiban sampur berkata, "Nggak nyangka yah... untuk urusan kayak gini elu lebih cewek daripada cewek."

Well, then. Karena saya nggak bisa hidup sendirian; karena saya nggak mampu bertahan tanpa orang-orang sekeliling (meski mereka cuma pelengkap); karena saya masih perlu second, third, fourth, and fifth opinion dari para bajingan dan begundal dalam lingkaran sempit saya; dengan berat hati saya menghela nafas dalam-dalam dan harus berkompromi ketika my most basic rule hanya meluncur satu arah dari saya tanpa memantul kembali. Ah, saya tinggal menggeser mindset aja kok. Gampang.

Labels:

Pada Sebuah Pagi

Posted by The Bitch on 6/08/2008 08:44:00 AM

Mari sini, sayangku.
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa.
Soe Hok Gie*

... kembali saya tersadar akan makna kata ikhlas sementara saya masih tertawa angkuh, merasa congkak, merasa lebih tau dan lebih pintar dengan mengintip diam-diam.
Bisakah?

[Duhai, rasa bernama dendam. Haruskah nganga dari ego terluka robek sebegitu besar untuk tidak menyisakan ruang bagi sabar?]

*Quoted, without permission, from a view-invited blog--in which I wasn't invited no more. This is when I call it war. This is when I call it spying to the enemy's front line. Dan ini yang saya sebut dendam. Maaf. Tapi kamu memang pantas ditertawakan. Dengan sinis.

Labels:

... From the Other Side

Posted by The Bitch on 6/06/2008 08:19:00 PM

p***** (3:49:55 PM): sebetulnya beberapa hari lalu dah kutelusuri hingga kujamah tuh isi blog nya dan berakhir dengan pingin jempol kaki kiri.
p***** (3:50:09 PM): memelototin gitu lho.
gwa (3:50:21 PM): kenapa jempol kiri?
p***** (3:50:47 PM): yang kanan dah tahu koq dan keringetnya lebih banyak.
p***** (3:50:51 PM): :D
gwa (3:50:54 PM): sok tau
p***** (3:52:47 PM): loe enggak pernah memperhatikan kedua JEMPOL kaki loe sih. perhatikan kalau diliat bener2x, beda lagi
gwa (3:52:54 PM): :))
gwa (3:52:57 PM): sumpah
gwa (3:53:07 PM): this is the funniest part
gwa (3:53:42 PM): gwa dah tau dari gwa kecil kalo semua yg ada di gwa tu gada yg sama
gwa (3:53:44 PM): ah, udah lah
gwa (3:53:52 PM): kalo kita ktemu gwa tunjukin ke elu
gwa (3:53:59 PM): tapi asli, sumpah
gwa (3:54:04 PM): ini lucu sekali
gwa (3:54:06 PM): =))
p***** (3:54:33 PM): payah nih. serius koq dibilang lucu.
gwa (3:54:39 PM): lho jelas!
p***** (3:56:06 PM): jelas gimana, dan emang loe dah memperhatikan dengan seksama tuh JEMPOL kaki kanan dan kiri. kalau sekilas mah...
gwa (3:56:22 PM): =)) =))
p***** (3:56:31 PM): yeee.... ASEM
gwa (3:56:32 PM): sori

Shit. How I died laughing at that time. And how I look forward to see his surprised face while looking at my big toes for the first time.

SINI LU KALO BERANI!

Labels:

Pointless

Posted by The Bitch on 6/05/2008 05:43:00 AM

See the red-marked doodle? Ya... gitu deh. Nggak nyangka aja jam segini, mesjid tetangga udah selesai tahlilan abis Subuhan, masih ada aja orang iseng liat-liat. Kayaknya spammer ya? I mean, itu program sesuatu yang otomatis dateng ngecek doang kalo gwa posting baru kan ya? Bukan orang kan itu yah? Yakin deh. *PD tapi minder*

Huahahahahahaha!!!

Monyet ah.

ps: errr... sebenernya sih cuma pengen pamer skin browser *blushes*

Labels:

Early Month Syndrome

Posted by The Bitch on 6/05/2008 05:23:00 AM

Mbaskomi (istilah ibuku untuk makan gila-gilaan) dan jerawatan karena mau haid (untung di kuping, bukan di dalem idung), laporan pabrik topeng sak ndayak, pending-pending kerjaan karena maleus, jalan-jalan nggak puguh, nongkrong nggak jelas, bengong, diare, kopi nggak berenti-berenti, asam lambung naek, migren berkepanjangan, mellow di kamar sendirian, telpon dan nerima telpon dari orang gila sampe adzan Subuh (atau sampe ponsel jadul keabisan daya, terserah mana yang duluan), terima pasien nggak kenal waktu, jadi konsultan percintaan dengan kecenderungan solusi merusak (antara putus, batal kawin, atau ceweknya jadi a feminist-lesbian-bitch), nggambleh sak nggon-nggon, nyanyi dengan volume pol sambil mandi, monolog, kuku jari yang makin hari makin tipis sampe berdarah, rambut rontok yang berubah warna, autis akut, adult ADHD kronis, short-(and long, frequently) term memory loss, reflek lambat, jam tidur makin menipis...

Indahnya. I think I could use a bad-assed volunteer for an assistant *tsaaaaaahhh...*
Anyone?

Labels:

Honto Arigatou

Posted by The Bitch on 6/03/2008 11:58:00 PM

You rawk, Jo!
Damn glad to see you back... with THAT!
Teeheehee...

[Gambar di sebelah adalah hasil scan dari kotak yang di sisinya tertulis Finest Swiss Goldkenn® Milk Chocolate with Jack Daniel's® Whiskey Syrup Center, dibawa seorang malaikat baik hati yang namanya saya sebut dalam beberapa doa]

- Updated
Setelah nyobain 2 potek (gwa ga tau mesti menyebut satuan ini kayak gimana) coklat yang bentuknya kayak lambang OSIS di atasan seragam siswi SMU (dasarnya kotak tapi atasnya bulet), saya merubah judul dari Domo menjadi Honto karena ENAK BANGET, GILAK!!!
Buat yang gwa janjiin bakal gwa sisain, kayaknya gwa harus break the promise. Hihi.

Labels:

D'ya Mind...

Posted by The Bitch on 6/02/2008 06:31:00 PM

... to pull your knife from my back, please? And I beg you, stop squirting lemon to my wound.

Ah... that's better.

*sigh deeply*


(SHIT, IT HURTS!!!)

Labels:

Ode Buat Jo v1.1

Posted by The Bitch on 6/01/2008 04:32:00 AM

Jo,

You broke my heart dengan subjek imel berjudul 'Life sucks' yang lo kirim di tengah hectic gwa berburu waktu dengan tenggat. Early in the morning di sana, namun lo masih sempat ngabarin gwa, mengendap mencuri kesempatan hanya untuk sekedar say hi, menjauh dari kabel-kabel dan peralatan medis simpang-siur di ruangan tempat lo bertatapan langsung dengan kesakitan. Jantung gwa mencelos sampe perut membaca kata demi kata yang lo rangkai di tengah waltz mengalir tenang namun menyentak yang lo tarikan bareng Le Mort. Gwa nggak peduli jika saat itu juragan tau tenggat gwa terlewat dan gwa disuruh keluar dari pabrik hanya karena baca imel. I miss you much and it hurts.

Gwa masih inget muka lo yang menegang marah waktu gwa ngingetin lo untuk bersabar dan ngadepin semua dengan ikhlas, memasrahkannya pada Sesuatu Yang Lebih Punya Kekuatan. Lo bilang bahasan sabar, ikhlas, dan pasrah udah khatam lo telan bulat-bulat jauh sebelum lo ketemu gwa, dan gwa nggak berhak ngomong kayak gitu karena gwa nggak ngerasa apa yang lo alamin. Lo yang harus going through hell and back to go there and doing the same old shit all over again dan itu sangat traumatis. Lo bilang semua hal yang lo ceritain ke gwa adalah demi meringankan sedikit beban karena ada kuping yang mendengar. Tapi bisakah lo tenang ketika gwa kewalahan garap laporan pabrik sementara lo sendiri juga punya kerjaan? Bisakah lo diem waktu salah seorang temen mburuh kita dituduh untuk sesuatu yang nggak dia lakukan? Bahkan sama juragan kita yang nggatheli itu lo masih mau offering a hand meskipun dia amat sangat annoying. Dan lo menuntut gwa untuk diam?

Lo nggak salah menganggap pabrik kita seperti rumah, juragan seperti ibu sendiri, dan atasan sebagai kakak sementara gwa sebagai teman sepermainan. Gwa juga gitu, demi meredakan berontaknya hati atas terjualnya idealisme yang dulu sempat gwa junjung setinggi bintang. That's survival. Tapi untuk babak bundas berdedikasi disini demi sesuatu yang udah didapet rekan-rekan yang dulu sempet bareng kuliah? Rasanya lo ngejar kereta yang salah.

Dua taun udah cukup membuktikan bahwa lo bisa, nggak usah pada dunia tapi pada orang-orang deket yang bersentuhan langsung sama lo. Underestimate itu ada di benak mereka yang liat lo dari permukaan. They take you for granted, seperti SPG sepatu di Bali yang bikin lo jadi terakhir dalam antrian hanya karena lo bareng Mas Bule, para mandor yang menganggap lo ringkih dan cuma ditaro jadi pengamat koran, atau kuli-kuli keyboard yang menganggap lo imut dan bisa diajak-ajak. You are more than meets the eyes and I know that you know.

Lo punya seseorang yang rela menyerahkan nyawa jika lo minta. Lo punya sahabat-sahabat bengal dan konyol tapi selalu ada setiap saat. Lo punya keluarga yang sayang sama lo dan membebaskan lo jadi apapun. You've got so much that life could offer, karenanya lo dibebaskan buat ngejalanin lagi. Buat mereka dan buat lo sendiri. Lo berhak bahagia seperti orang lain. Jangan pernah menyesal karena lo hidup. Menyesallah karena lo nggak bisa mengisinya dengan hal-hal menyenangkan dan meaningful, dan itu bukan cocktail yang iseng lo cobain dan bikin lo masuk rumah sakit. Berpalinglah dari pintu ini, Jo, meskipun masih terbuka. Menjauhlah dari Jakarta, dari kenangan-kenangan yang merusak, namun simpan kami pada ceruk dimana kami selalu ada: pada hati lo terdalam.

Lo nggak pernah sendirian, Beib. Meskipun gwa bukan Intan, punya ponsel tapi nggak niat, berkali-kali berkomentar bodoh dan sering ketawa di saat gwa harusnya empati, I do my best. Taruhannya masih valid. Gwa kuat-kuatin menahan lo jadi temen gwa karena dari lo gwa belajar banyak tentang kesabaran, tanggap, berpikir kuantum, dan gimana cara ngadepin orang tanpa harus basa-basi namun tetap elegan. Karena lo mata gwa kebuka bahwa nggak semua orang berpunya itu bangsat. Dari lo gwa tau sudut pandang lain tentang Starbucks, chick magz, Paris Hilton, and anything between purple and pink and why grey is the new black. Dari lo gwa sadar bahwa gwa tetep perlu temen perempuan dan belajar jadi salah satunya. Dan dari lo gwa ngalamin, on field, bahwa beda adalah indah.

Take all the time you need. We won't rush you. Take a break from your pain. Smell the sweet scent of fresh air. Ravish the wonderful sight of the world. Enjoy the children's laughing and laugh at silly jokes. Stand tall and proud because you've managed to duck before the very eyes of Death once again. Let your will to live becomes stronger by the day. Turn around and see the other side of Life. Well, I'm not telling you what to do because I know you know yourself better than I do. But if you finally decide to 'resurrect' faraway from here, let me know. I'll write to you everyday till you get sick of me.

Labels: