"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Tag-tag-an

Posted by The Bitch on 5/30/2008 09:01:00 PM

Well, wokeh. Akhirnya ada yang nge-tag gwa juga. Nggak nyangka. Haha!
Monggo dinikmati, Mbak Eve!

I’m Passionate About

1. Music
Musik adalah seperti agama buat gwa. Dari situ banyak kebijaksanaan dan pelajaran instan yang bener-bener nemenin gwa menyendiri dalam keramaian atau riuh dalam kesoliteran. Musik itu temen setia banget, nggak bakal nagging kalo nggak diperhatiin dan nggak pernah menggurui. Bisa bikin tenang, bisa bikin semangat, dan sangat menginspirasi. Apalagi kalo yang maen U2, Dream Theater, Symphorce, dan the topmost: HOMICIDE. Buat ngelangut, gwa suka denger Dewa-dewa Gitar, Vai-Satriani-Hofmann-Roth.
2. Books
Yang ini seiring sejalan, kayak tai ama kentut berpasangan sama musik. Tempat gwa menghilang dalam dunia paralel. Kadang ampe kebawa ke dunia nyata. Bener-bener menyesatkan.
3. Nongkrong
Salah satu kegiatan yang can't live without. Kalo nggak gwa beneran bisa gila, captived b y my own thought.

Mostly I say
1. Anjing!
2. Raimu!
3. WOI!!!
4. Yeah, rite
5. Fuck!
6. Oh, shit!
7. Taek!
8. Ya... apa yah...?

I’ve just finished reading
1. Bartimaeus Trilogy
2. Abarat 1 & 2
3. The Picture of Dorian Gray
4. Hans Christian Andersen's Stories

Before I die I want to
1. Keliling Indonesia dan dunia, terus nulis *blushes*

I love listening to
1. People talking

What my friends like about me
1. I'm the true misuher

Last year I learn
1. How to forgive and forget dan belum naek level juga ampe sekarang *sigh*

Sekarang...
Gantian gwa nge-tag. Ika, Sandal, Luvie, Mbak Tatut, Bro Id (biar nggak serius mulu postingannya), Maz Wahyu, Jin Laknat, dan Leksa. Sorry. I have no idea mo nge-tag siapa lagi. Hehe.

Labels:

Afternoon Quote

Posted by The Bitch on 5/30/2008 03:09:00 PM

... tapi bukankah itu sifat dasar dari keyakinan? Mempercayai tanpa jawaban, tanpa imbalan, tanpa bukti?

Kutipan anjing dari buku Footprints of God-nya Greg Iles yang gwa baca sambil e'ek. Taek. Gwa boker aja Lu masih bisa ngemplang gwa ya, Han...

Labels:

*You Speak of Signs and Wonders, I Need Something Other

Posted by The Bitch on 5/30/2008 05:20:00 AM

From the brightest star comes the blackest hole
You had much to offer, why did you offer your soul?
I was there for you, Baby, when you needed my help
Would you deny for others what you demand for yourself?

Hey, You!
Maaf untuk semalem. Saya sedang dalam modus self-centered. Mungkin masih banyak cerita yang kamu ingin sampaikan, selain gambar-gambar sahabat lama yang kamu tunjukkan pada saya, serta tuntutan berkedok kerinduan anggota keluarga melihatmu bahagia bersama pasangan jiwa. Saya memang bejat, datang ketika perlu dan kabur saat giliranmu tiba. Setelah nodong, kenyang menjejali perut dengan makanan, kemudian pulang karena bosan dan 'merasa' ngantuk. Padahal jam segini pun saya masih segar.
Ya, saya bullshit doang isinya. Tapi kita masih berteman kan?

Anjing! Udah adzan Subuh tapi gwa tetep diem, pasif, bengong, mati rasa, ditamparin Om Bono sambil digitarin The Edge untuk yang entah keberapa kali.


*Taken from U2 - Crumbs from Your Table

Labels:

A Slight of Gratitude

Posted by The Bitch on 5/30/2008 03:12:00 AM

Terima kasih telah mengingatkan saya untuk menengok kembali beberapa perihal yang terlupa. Meskipun setelah itu rasanya seperti abis digebugin preman se-Endonesah, saya merasa tenang. Entah karena mantra suci yang terkandung di dalamnya atau memang murni kebetulan, saya mendapatkan kembali beberapa serpihan jiwa yang terserak lumayan jauh.

Dan saya akan melampauinya dengan hebat: memutus siklus untuk dapat naik level. Mungkin sekarang saatnya kesombongan saya tiarap rela, bukan dengan paksa seperti biasa. Dan kutukan karena menjadi tau wajib ditertibkan sementara. Bantuin ya, Dhe. Kamu kan Pamei, as usual. Eh, tapi kamu bisa makan pake sumpit nggak to?

Labels:

Tentang Perpisahan

Posted by The Bitch on 5/28/2008 04:15:00 AM

Teriring Chords of Life meretas pada kisi-kisi malam, saya membungkuk rendah pada keputusanmu mundur teratur dari kalangan. Mungkin nafasmu sesak akan perhatian manusia-manusia tanpa wujud yang kamu sapa setiap persinggahanmu perlu ditengok. Atau kamu hanya lelah harus kunjungan balik kenegaraan ketika mereka meninggalkan jejak walau setitik. Saya tidak pernah tau karena saya belum mengenalmu sedalam itu.

Namun satu hal yang kamu perlu tau: tidak ada kewajiban untuk memenuhi keinginan semua orang. Jadilah dirimu sendiri. Berbuatlah semaumu tapi jangan pernah lupakan what you give you get back. Puaskan dahagamu untuk meng'ada', membentuk diri sesuka hati, membiarkan kemana angin dan aliran air membawamu, menikmati desau dan denyut dan gelenyar yang teraba dan terasa pada semua indera. Karena kita anomali. Karena, nanti, kita mati sendiri. Dan teman yang baik adalah mereka yang selalu ada ketika kamu lungkrah, mengamati dari kejauhan ketika kamu sedang berproses, dan menangkapmu ketika jatuh. Tidak akan banyak yang tersisa, memang. Begitulah seleksi alam.

Dan saya menentang keras saat kamu berkata 'sebagai perempuan maka pantang menjadi liar'. Definisikan liar. Menurutmu, menurut saya, atau menurut mereka? Kita hanya manusia yang terdiri dari darah, daging, dan tulang; sama-sama perlu makan sebagaimana yang ter-brainwash dalam jargon empat sehat lima sempurna; kadang bosan pada rutinitas dan perlu menggebrak untuk dapat kaget dan kembali tersadar; terombang-ambing antara menjadi individu, kekasih, teman, anak, rekanan, objek flirting, kakak, atau salah satu anggota masyarakat besar bernama dunia. Tidak ada yang sama pada pandangan dan otak kita. Yang ada hanya ketakutan untuk menjadi tidak monokrom, padahal karena itu pelangi jadi indah. Dan apakah bukan karena beda yang menjadikannya paling sempurna di matamu diantara iblis-iblis yang lain?

Ah, mungkin saya yang terlalu memandang semua melalui kacamata kuda yang saya kenakan. Saya yang hanya melihat apa yang ingin saya lihat dan abai pada ketidaksesuaian yang terjadi meskipun terpapar nyata di hadapan. Seharian ini ada satu orang lagi selain kamu yang memutuskan untuk mundur ketika keadaan tidak lagi tertanggungkan dan gesekannya pada ego terlalu besar untuk sekedar dinafikan. Dalam 'perang'nya, meski masih angkuh menatap langit dan tegar menjejak bumi, tidak ada pihak yang dimenangkan. Dia harus kehilangan nafkah, dan 'The Plintuter' mesti kehilangan asisten tangguh berbonus kesombongan yang burai. Dan, sama sepertimu, dia telah memilih. Haruskah saya gugat sesuatu yang bukan hak saya? Haruskah saya protes pada konsekuensi yang tidak terbebankan di pundak saya? Well, mungkin jika Yesus bisa memilih, dia juga ogah menanggung dosa semua anak manusia. Alih-alih disalib hanya bercawat koyak di Golgota, mungkin dia lebih suka menikah dan beranak pinak, membangun keluarga sakinah mawadah warrahmah bersama Maria Magdalena di pelosok terlupakan pada Jerusalem sana dan mati bahagia di usia senja. Tapi dia tidak punya pilihan. Dan disitu letak keberuntungan kita. Patut kita bersyukur karenanya.

Come what may. Jangan pernah hilangkan antusiasme seorang bocah yang tidak sabar kapan kereta akan berhenti di stasiun tujuan untuk kemudian menumpang dokar ke tempat kakek. Meski apa yang nanti kau temui tak sama, akan banyak kejutan menanti yang membuat darahmu berdesir dan jantung berdegup kencang. Bebaslah, Sista. Tantang angin dan kepakkan sayap. Kamu tau kemana pulangmu.


Dedicated to Stey. Damn, I'm losing one of my fans. (Anjrit! Narsis pisan!)

Labels:

Maaf...

Posted by The Bitch on 5/27/2008 11:20:00 AM

Empat huruf dalam satu kata ini memang kadang susah kadang gampang terucap. Di bis penuh sesak ketika tangan jahil seorang mas-mas pura-pura nggak sengaja menjawil dada atau pantat mbak-mbak; copet di KRL superpenuh yang menginjak kaki korbannya sebagai pengalih perhatian dari lolosnya dompet yang berpindah tangan; tumpahnya minuman pada sebuah kafe karena sang waiter melamunkan betapa halus daging telanjang kastemer MILF di seberang meja; dan lain-lain, dan sebagainya.

Saya terbiasa berucap 'sorry'--tanpa maksud--jika tas selempang yang saya kenakan mengenai wajah sebal ibu-ibu kinclong yang duduk di kursi Metro Mini karena saya mengganggu kenikmatannya ngantuk tekluk-tekluk sementara penumpang berdiri rapat berdesakan. Atau telat membalas SMS karena saya dan ponsel tidak selalu beriringan. 'Maaf' dan 'sorry' beda kasta buat saya. Saya hanya akan meminta maaf jika kesalahan saya begitu besarnya hingga membuat orang lain dirugikan lahir-bathin, dan bukan karena kecerobohan remeh tanpa unsur kesengajaan. Sementara 'sorry' yang sering saya pelesetkan jadi 'sowi' atau plainly 'sori' hanya jadi kembang lambe. Tidak lebih.

Ya, saya arogan masalah maaf-memaafkan. Saya sering mengingatkan teman-teman saya untuk tidak gampang minta maaf. Hanya karena salah window ketika ceting, terlambat dari janji, atau lupa menelepon bagi saya bukan kesalahan. Selalu ada alasan dibalik semuanya dan saya nggak perlu tau. Mungkin mereka sedang riweuh dengan pekerjaan atau banyak pikiran sehingga saya sementara hilang di benak mereka. Saya juga bukan pusat dunia. Tidak perlu lah diprioritaskan. Mereka juga nggak sehebat itu. Nggak usah lah sok merendahkan diri minta-minta maaf.

Pelajaran maaf-memaafkan ini saya dapat beberapa tahun lalu pada suatu sore adem di kamar kos. Sepulang sekolah, kamar saya yang tanpa kunci dan selalu jadi 'function room' itu sudah terisi seseorang yang sedang asik menyeduh kopi sachet satu-satunya milik saya. Reflek saya teriak, 'that's my coffee, you Bitch!'. Bener-bener tanpa mikir saya berucap. Mbak berjilbab dan berkacamata tebal yang saya dapuk jadi teman sekaligus partner in crime itu kaget melihat saya di pintu. Saya juga kaget mendengar suara saya sendiri. Nggak nyangka bisa sekasar dan seangkaramurka itu hanya karena masalah kopi. Sontak dia bangun dan menghampiri saya lalu mengenakan sepatunya. Saya speechless. "Maaf, nggak sengaja. Gwa reflek," ujar saya lirih beberapa detik kemudian. Dia hanya diam. Dari ransel merahnya dia keluarkan empat sachet kopi yang sama dan dia lemparkan ke dalam kamar. "Tuh, gwa bawain untuk elo. Gwa tau lo keabisan. Gwa bisa beli lagi ntar. Nggak ngopi disini juga gwa ga mati," katanya kemudian lalu pergi dengan langkah berderap. Terluka dalam diam, sementara saya nggak tau mesti gimana.

Seminggu kemudian e-mailnya masuk ke inbox saya (waktu itu kita sama-sama kere, nggak punya ponsel, kos nggak ada telpon, tinggal rada jauhan, tapi banyak warnet murah bertebaran). Dia bilang, perlu hati dan telinga baja berteman sama saya. Saya nggak perlu minta maaf untuk kejadian tempo hari karena sering maaf itu cuma di bibir tanpa diikuti perubahan. Jadi, daripada cuma jadi pemanis dan alat hipokrisi, lebih baik saya nggak usah minta maaf sekalian. Gitu katanya.

Point taken, dan itu adalah pelajaran yang amat sangat berharga bagi saya.

Bagaimana dengan si mbak berjilbab itu? Oh, kami masih berteman baik hingga sekarang, meskipun berbulan-bulan nggak ketemu. Beliau akhirnya menikah dengan salah satu 'pujangga maya' yang saya jebak dengan nickname tripel enam di Dalnet. Khusus buat dia, saya *sigh* ngaji sebelum mereka ijab. She's expecting now, due-nya Juli. Ngidamnya lirik lagu 'Stairway to Heaven' dan saya diminta 'menerjemahkan' arti terdalam dari lagu Led Zepelin itu. Semoga anaknya nggak bengal kayak saya.

Hey, Mpok! Kangeun euy! Ibu hamil ga papa kan mabuk es krim? Hehe.

Labels:

A God-Forsaken Place Called JAKARTA

Posted by The Bitch on 5/26/2008 06:09:00 PM

Tanpa membuka kamus, definisikan kata indah. Lalu, juga tanpa membuka kamus, jabarkan kata bobrok. Jika otakmu terlalu bebal diajak berpikir atau lidahmu tidak bisa merangkai apa yang ada di benak, datanglah ke Jakarta. Di sini keduanya mewujud, dalam sebuah kota dimana gemerlap dan muram bersanding nyata berpegangan tangan.

Di tempat ini banyak orang mengais mimpi, datang berduyun-duyun dari pelosok daerah terjauh, mencari sepenggal harap dan sepotong pengakuan. Banyak dari mereka yang terhempas di tengah jalan, namun tidak sedikit yang melesat tinggi mencapai bintang--dengan cara halal maupun tidak. Saya? Hanya pengamat yang duduk di tengah, berusaha merunduk tak terlihat dan mengeraskan hati untuk tidak mengulurkan tangan seperti Kevin Carter memotret bocah Sudan sekarat yang kemudian fotonya menang Pulitzer tahun 94 (lalu bunuh diri).

Bullshit jika ada orang bilang bahwa hanya orang di desa yang rajin bangun pagi. Disini orang bahkan tidak pernah tidur demi kerja. Coba ke Pasar Induk Kramat Jati atau pasar-pasar lokal manapun, dari yang pusat hingga yang mepet Jakarta Coret semacam Bekasi, Tangerang, Depok, atau Bogor. Dinihari uthuk-uthuk, lepas tengah malam, sudah banyak orang menggelar dagangan hingga terbeber hampir ke tengah jalan. Mulai dari tukang ojek, tukang becak, preman, buruh angkut dan anak-anak penjaja plastik serta bencong pembawa bas kotak hilir mudik, tidak hanya pembeli dan penjual sayur. Ada yang nongkrong di warung kopi atau makan mie instan pengganjal perut, bergosip mesum tentang janda penjual cabai atau mengeluh kalah taruhan, sementara bapak-bapak merokok kretek berseragam biru mengutip uang retribusi dari tiap lapak.

Di Senen atau selempitan belakang Melawai. Jam setengah tiga pagi tenda telah siap terpasang, diterangi pijar neon setiap satu meter pada biru langit-langit terpal, menaungi kesibukan penjual dan pembeli jajan pasar maupun kue modern di bawahnya. Berlomba riuh dengan derit suara crane maupun gemuruh truk molen membangun gedung di balik pembatas pagar batako tinggi.

Sebelum pintu tol Cawang ada berjejer rapi mobil van yang diatur para timer atau pengangguran iseng, menanti penumpang dengan sabar disela bis-bis AKAP datang-pergi yang menyedikit sejam sebelum Subuh. Mobil van itulah yang membawa pekerja-pekerja pulang ke Bekasi, Cikarang, Tambun menggantikan angkutan resmi yang telah beristirahat di pool; sementara bis-bis besar jurusan luar Jakarta mengangkut mereka yang rindu kampung. Patroli polisi yang datang dua kali semalam pun mereka bayar patungan agar supir-supir angkutan gelap itu tidak ditindak, terkoordinasi dengan baik oleh para timer.

Di Kota atau Sawah Besar yang 'marun' jejeran penjaja DVD porno, obat ngaceng serta kondom lele dan semacamnya masih terbentang menemani hingar diskotik, karaoke, maupun restoran Jepang sampai pagi. Para 'Chica' atau Amoy ber-makeup tebal berdiri menantang angin malam dengan pakaian terbuka bersama lelaki bermotor di kanan serta Mami atau Papi di kiri, melambai pada kendaraan yang melintas, berharap terjadi transaksi hingga keluarga masih bisa makan dan cicilan ponsel terlunasi esok hari.

Oh, jangan lupa para banci yang kerap berslilit jembut dan pelacur tua obralan berdagang daging busuk satu ons pada pinggir rel dan gerbong kereta rusak, ditemani riuh hentakan dangdut dari gerobak dan goyang nakal penyanyinya yang minim kain. Semua terjadi di sela-sela megahnya menara gedung perkantoran yang siang hari dipenuhi para eksekutif berkesan bersih dan kaya, padahal mereka juga sama-sama berbagi warteg saat waktu makan siang datang. Siapa tau? Dan orang-orang yang datang ke pusat perbelanjaan gemerlap? Kita hanya bisa menduga pekerjaan apa yang mereka lakukan dari cara berpakaian. Padahal bukan tidak mungkin mereka salah satu dari orang-orang profesinya saya sebut di atas.

Muram memang. Namun mereka sama manusianya, berjuang demi nyawa selembar dan tanggungan yang entah berapa mulut. Saya sudah kebal dan tidak lagi punya empati tersisa, karena toh secara prinsip masalah kami sama: bertahan hidup. Saya dengan cara saya dan mereka dengan cara mereka. Kadang saya dan mandor saya juga masih harus bekerja hingga dini hari dalam pabrik terang, bersih dan tenang (kecuali media player meneriakkan lagu gubrag-gubrak pelepas tegang yang saya setel dengan volume penuh), atau bahkan tidak pulang sama sekali. Para pemburu berita dalam ruangan hectic harus standby, mengetik dan mengedit tulisan mengejar tenggat layout lalu naik cetak. Ada juga mbak-mbak artis sinetron yang harus berkompromi dengan kerja dari jam 5 sore hingga jam 5 pagi, meskipun take gambar hanya adegan keluar dari taksi. Begitu juga Om Sutradara, tukang sombok dan tukang lampu. Jangan lupa mas-mas kemayu bagian makeup dan kostum. Atau mereka yang sibuk editing, terkungkung dalam ruangan, menunggu render berjam-jam atau menggunting adegan layak sensor. Atau bagian olah naskah yang ribet merombak-ulang cerita karena setting tidak sesuai dengan skenario. Yang membedakan kami hanya nasib dan kesempatan.

Dia mungkin lebih bisa menangkap keindahan dari segi arsitektur dan pembuatan, sementara bagi saya semua gedung pencakar langit adalah sama angkuh dan tak pernah ramah. Namun saya menemukan keindahannya bertiga bersama setan dan dedemit; atau saat duduk berdua berbagi rokok bareng Jin Laknat pada dingin marmer di pinggir kolam Plaza Indonesia. Jakarta sedikit senyap setelah tengah malam. Di sebelah-sebelah kami beberapa anak jalanan meringkuk pulas menahan angin setelah lelah menghirup aibon, dan bapak penyapu jalan mulai bertugas dengan cekatan sesaat sebelum adzan Subuh berkumandang. Saat itu Jakarta menyerah tunduk pada kemauan alam, tanpa pelindung, tanpa polutan asap, tanpa ribut kendaraan, menguarkan keindahan sederhana tanpa malu-malu.

Saya dapat menangkap pendar pantulan lampu pada kolam menerangi sepasang patung Selamat Datang dengan pose abadi. Purnama menggantung tepat di atas logo Grand Hyatt. Sosok Jendral Sudirman terlihat besar dan kokoh meskipun dalam jas hujan dan blangkon. Semburat warna di lubang-lubang patung depan Gran Indonesia. Rinai air jatuh miring yang saya lihat dari shelter busway. Alur-alur dinamis berpola acak pada jendela BMW yang melintas cepat membelah genangan air sehabis hujan. Teriakan riang anak-anak pengojek payung di depan Sarinah. Barisan lampu merkuri di sepanjang jalan protokol. Rukunnya Ibu, bapak dan dua anak yang tidur di emper toko terhalang dari jalan oleh gerobak biru besar berisi plastik dan botol bekas. Gemerlap lampu EX, Starbucks dan McDonald. Liuk warna-warni air mancur di Monas. Renyah tawa para pekerja restoran yang bercanda sambil menunggu angkot jurusan Kota. Pilar dan kubah Mahkamah Konstitusi yang berwibawa. Mungkin berbeda dengan suara jangkrik berderik di sunyi malam pedesaan Banten. Atau kabut pukul tujuh pagi yang masih tebal menggantung pada rumah-rumah di lereng Tengger. Atau ratusan kupu-kupu warna-warni terbang berkerumun di atas batu berbau urin pada salah satu sungai pedalaman Papua. Atau indahnya semburat senja pada pantai sunyi Pacitan. Atau larik pelangi yang terbentuk dari titik-titik air di Grojogan Sewu. Atau taburan bintang yang menggelayut rendah terbawa angin laut Kuta ketika saya masih SMP.

Kota dan desa menyimpan indah dan bobroknya sendiri. Semua sama indah, semua sama bobrok. Bagaimana kedua hal tersebut mewujud adalah masalah teknis yang berbeda dan darimana mata kita memandang. Bagi saya, keindahan hanyalah rasa antara uforia dan sentimentil akibat hal-hal abstrak--kadang acak kadang harmonis--yang tertangkap indera. Jakarta juga memberikannya jika kita menoleh ke tempat dan pada saat yang tepat. Namun tidak ada yang lebih indah daripada berjuang dan berhasil untuk tidak menjadi srigala di kandang srigala bernama Jakarta; sementara yang lain berhasil menjadi srigala di kandang domba di luar Jakarta.

Saya masih mengangguk setuju jika ada yang menyebut tempat ini sebagai Jancukarta setelah setidaknya dia telah berjibaku dan berhasil beradaptasi meski makan waktu sepuluh tahun. Namun maaf, bagi kalian yang belum pernah sekali pun menginjakkan kaki--apalagi bekerja--disini, jangan pernah berkomentar di hadapan saya tentang kebusukan Jakarta. Karena bahkan Al Ghazali pun berujar, 'Jangan berkata apa yang tidak kamu ketahui'.

Thus, shut the fuck up and carry on with your happy, tranquil life in a peaceful village anywhere. Capiche?

Halah! Backsound lagune malah Englishman in New York!


ps: Long live Three Musketeers, the last men standing in the end of Friday Nights! Haha!

Labels:

Melankoli Dini Hari

Posted by The Bitch on 5/26/2008 02:12:00 AM

Tengah malam, Nduk. Apa yang kau sesap sekarang? Kopi Sumatra yang getir luarbiasa itu? Atau Kopi Bali yang aromanya ramah? Buku apa yang sedang kau gumuli seharian ini? Novel psycho, sastra, atau buku teori tebal? Khatam kamu memamah Origin of Species yang telah kamu pinjam hampir setahun itu? Sudah berapa batang nikotin terbakar dalam dua puluh empat jam terakhir? Sebentar, biar kukira-kira. Mengingat sekarang adalah hari liburmu, pastinya sudah... dua setengah mendekati tiga bungkus? Betul? Ah, tidak percuma kau sebut aku belahan jiwa. Aku tau kamu hingga ke lubang taimu.

Maafkan jika kusapa kamu saat jiwa sedang gulana. Sebagaimana azas manfaat yang kamu terapkan, aku hanya ikut alurmu. Aku sedang perlu kamu yang pemarah karena dendamku tidak pernah selesai. Aku sedang perlu kobarmu untuk menerangi kembali sudut-sudut terjauh liang hati kosong dan dingin yang kini gelap karena hanya bara kecil yang tersisa di tengah.

Aku sedang lelah, Sayang.

Otakku beku. Lidahku kelu. Jemariku kaku. Raga ngilu ini kuhela berkoordinasi memuntahkan kata, baris demi baris, untuk sampai padamu. Karena aku perlu penawar instan dan muak pada alkohol. Aku rindukan akhir yang tidak pernah sampai padaku. Perjalanan ini terlalu jauh. Terlalu lama. Semua yang berhasil kuraih kini telah kehilangan greget. Karenanya aku kembali memeriksa log. Apa-apa yang sudah kudapat kuberi tanda, dan rasanya sudah cukup. Namun penantian yang lama membuatku iseng mencari yang belum kudapat. Hingga akhirnya aku kembali terpuruk pada satu nama yang kupikir telah tersimpan rapi di sudut terjauh.

Seperti biasa, kamu sudah tau kelanjutannya. Aku kembali jatuh ke lubang tanpa dasar. Siklus itu berulang lagi. Aku tau pada titikku kini kamu pasti merepet menyemburkan sumpah serapah dalam segala bahasa. Bertahun-tahun, ternyata aku tidak pernah 'lulus' kelas Hati 101. Aku ingin sepertimu, berpaling dari pintu yang lama tertutup dan telah berhias tumpukan tebal sarang laba-laba. Aku ingin mencari jendela. Tapi inderaku seperti tersihir dan kembali memandangi ornamen kenop dan lis berukir pada pintu tua termakan usia, menanti derak dan keriut engsel karena lama tidak tersentuh minyak. Aku terhipnotis menatap bulatan logam berkarat, menunggunya berputar melawan arah jarum jam, berharap dapat sejenak melihat raut wajahnya tersenyum ketika mendapatiku duduk diam di balik pintu, suatu saat nanti. Entah kapan.

Padahal aku tidak sediam itu.

Kamu tau aku sudah berusaha keras, kan? Kamu juga tau aku telah menekan emosiku kuat-kuat hanya untuk menghapus satu nama selamanya, kan? Apa yang aku lakukan juga telah mendapat restumu, kan? Tapi mengapa aku selalu kembali kesana? Apakah dia kutempatkan di posisi paling atas dan teramat sangat jauhnya hingga tak ada satu manusia pun yang mampu mendaki dan menggulingkannya dari singgasana padma cemerlang layaknya Buddha? Semua ini benar-benar di luar akal sehatku.

Nduk,
Jika kamu telah jauh berjalan dan perlu pelukan hangat serta rumah untuk pulang, aku selalu menunggumu. Mungkin kita dapat saling membasuh luka berdua, berbagi derita bersama tanpa saling menasehati, tanpa bau alkohol melayang di dunia kotak kita masing-masing. Aku butuh energimu untuk membangunkanku dari melankoli sesedih senja di tepi pantai-pantai Aceh setelah gelombang besar menerjang. Aku perlu cacianmu agar tidak terlalu lama terlena seperti penduduk asli yang selalu disetok Cap Tikus oleh Freeport. Aku rindu tamparanmu agar tersadar dari cuci otak serupa iklan dan jargon wakil rakyat menyungging senyum di wajah sambil menggendong balita yang belakangan ini kerap kau temui dari layar televisi hingga gedung bioskop.

Tapi tolong, bergegaslah. Waktuku tak banyak. Nyawaku tinggal separuh nafas.

[Maaf, Pak Tua. Hanya ini yang aku bisa. Memberi sedikit drama dan memajangnya bersama serpihan kerak otak sebagai monumen ketika diri tumbang mengharap bangkit dengan dendam]

ps: lagunya pas sekali. endlessly dari muse. menyusul, thoughts of a dying atheist, sepertimu, Pak Tua. semoga kamu senang karena kita benar-benar konek.

Labels:

Immaterial Thing Called Happiness

Posted by The Bitch on 5/22/2008 10:39:00 AM

"Kamu bahagia?" tanya seseorang pada saya berbulan-bulan lalu.

Dengan mantap saya menjawab, "Ya. Saya sangat berbahagia."

"Meskipun kamu protes memaki keadaan dan kenyataan yang nggak bisa kamu terima?" tanyanya lebih lanjut.

"Ya."

"Meskipun banyak hal yang ingin kamu raih tapi beberapa terhempas keras ke bumi?"

"Ya."

Absurd? Nggak juga.

Kebahagiaan adalah mindset. Saya memutuskan dari awal bahwa apapun yang saya hadapi, bagaimana proses dan seperti apa hasilnya nanti, semua adalah kebahagiaan dari awal hingga akhir. Tidak hanya hasil akhir yang dapat menentukan seseorang itu bahagia atau tidak. Jika harapan tidak sesuai kenyataan, berbesar hatilah meski awalnya harus memaki demi menenangkan ego yang terinjak. Ketika nasi sudah menjadi bubur, buatlah bubur ayam yang enak.

Sebutlah sesukanya. Silahkan stempel jidat saya sebagai 'tukang berapologi', karena seseorang pernah berkata bahwa manusia selalu bermain-main dengan skenario apapun di pikirannya untuk meringankan pedih yang dia derita. Apalagi sebagai orang (yang mengaku) Jawa. Selaknat apapun kondisi yang saya hadapi, selalu ada untung menggantung rendah di langit-langit dan sangat mudah dijangkau. Yang harus saya lakukan adalah menoleh dari pintu yang telah tertutup untuk mencari pintu lain, atau jendela terbuka. Saya tidak peduli jika untuk keluar dari masalah saya harus melompati satu daun jendela ngablak seperti maling celana dalam. Toh manusia diciptakan komplit dengan insting, otak, emosi, dan nurani yang pada akhirnya hanya menjelma mahluk oportunis demi kelangsungan hidup 'waras'. Termasuk saya.

Definisi bahagia juga berbeda-beda untuk tiap kepala. Mungkin kebahagiaan saya tidak terletak pada tas Louis Vuitton seharga dua puluh juta kayak Ibu Mandor. Mencuri waktu membaca kisah dongeng hebat di sela pekerjaan memburuh adalah oase bagi saya. Kebahagiaan bertemu pacar melepas kangen setelah tiga hari absen tidak pernah saya rasakan karena saya bisa mati bosan sering-sering ketemu. Namun saya senang berkumpul bersama para bedebah, dedemit, jin dan setan pada Jum'at malam setelah lima hari kepayahan mengikuti ritme kerja yang mirip rodi.

Saya sok nggak nganggap penting materi ya? Nggak juga sih. Saya juga senang belanja meski hanya di emperan Blok M. Seperti perempuan pada umumnya, saya kerap menjalankan retail therapy ketika gundah menyerang. Karena mampunya cuma itu, beli barang lucu-lucu harga limaribuan sebanyak tiga item atau berburu jins selutut yang muat sama saya adalah kebahagiaan tersendiri yang mungkin kamu anggap bodoh. Itu adalah kompensasi karena saya terlalu angkuh untuk menangis. Kecuali denger Cryin'-nya Satriani dan For the Love of God-nya Vai sewaktu mellow sendirian--which is amat sangat jarang sekali karena saya sedang terpesona pada suara maskulin Jonathan Davis dan petikan gitar James Shaffer.

Penjabaran saya tentang bahagia adalah ketika saya dapat menemukan keindahan sederhana pada setiap kejadian yang menjadi bagian dalam sebuah proses panjang bernama hidup hingga saya meregang nyawa nanti. Sumbernya adalah anggota lingkaran kecil-sempit bernama keluarga dan sahabat. Ya. Sesederhana itu.

Labels:

Malam Depan Istana

Posted by The Bitch on 5/21/2008 11:18:00 AM

Setelah sukses menggondol dua buku dari si kerempeng sembelit anggota PKI tukang kelayapan yang tempo hari nyepeda onthél bawa pipis setan, keluar dari my fortress of solitude berpintu tanpa kunci untuk 'ngafé' gratisan, flirting nggak jelas sama brondong ganteng-tinggi-gede tapi narsis dan duduk bareng cowok Purworejo gonjes manis ngobrolin tentang mahalnya punya anak, akhirnya pesta pun selesai. Saya dan Jin Laknat ini akhirnya bubar jalan menyusuri trotoar lebar menyenangkan karena masih kepingin ngobrolin apa sih pentingnya sejarah sambil merokok santai.

Mak bedunduk mata saya tertumbuk pada lampu kristal menyala terang di langit-langit teras lebar yang saya lihat dari luar pagar besi dimana halaman depan seluas lapangan bola berada di sebaliknya. Meski besar di ibukota, saya akui saya amat sangat ndésonya. Nggak tau apa-apa. Saya pun bertanya--dan menyesal kemudian karena saya menyadari sepersekian detik setelahnya bahwa jin yang berjalan di sebelah saya ternyata jauh lebih ndéso.

"Cuk, ini istana ya?"

Dan kemudian dijawab dengan, "Tauk. Iya kali."

Kami kembali berjalan pelan sambil sesekali menghisap rokok dengan nikmat, mereguk pemandangan Jakarta berpurnama Waisyak tengah malam saat keindahan khas kota mewujud tanpa teracuni buram asap knalpot dan suara riuh kendaraan atau panas terik berdebu. Beberapa meter kemudian saya melihat Kandang Monyet dengan dua kunyuk menyandang bayonet berhelm putih di kepala sedang ngobrol di tengah jalan masuk beraspal menuju Istana.

Mendadak salah satu siamang itu menunjuk ke arah kami sambil berteriak-teriak. Reflek yang lambat banget dikombinasi dengan kemampuan mendengar lima level dibawah normal bikin saya bener-bener nggak ngerti apa yang dia maksud waktu jarinya gerak-gerak ke arah seberang jalan. Dengan muka bego saya cuma balas teriak 'Hah?!' ketika akhirnya saya dengar suaranya:

"Jangan lewat situ! Sana! Kesana!"

Untungnya, meskipun lebih ndéso daripada saya, Jin itu lebih pinter. Refleknya lebih jalan, dan dia bisa baca gerakan bibir dari jauh. Mungkin akibat telaten ngoprek Drupal dan install server Windows 2003 cuma untuk diganti Linux, ditambah paparan radiasi ribuan kWh yang kerap melanda otaknya. Apalagi sekarang mesin ketiknya ketambahan memori 2 GB. Saya yang masih nyureng ndelok kethék mbengok (yes, I need new lenses in my glasses, fuck you very much) segera ditariknya menyeberang. Saat itu baru saya menangkap conthongan salah satu beruk.

"Ngerokok tuh! Pada ngerokok! Sana! Jalan kesana!"

Saya baru ngeh saat nyebrang, dan hal itu membuat saya sesekali menoleh ke sepasang babon homo dengan tatapan andai-saya-punya-kemampuan-ngampleng-jarak-jauh-udah-tak-jotos-raimu-cuk. Meskipun ada trotoar nyaman terpasang sepanjang ruas jalan, ternyata pejalan kaki nggak boleh melintas di depan Istana yang dibangun atas pajak dan retribusi dan devisa DARI RAKYAT YANG SEBAGIAN BESAR MISKIN dan sekarang telah menjadi aset negara itu. Sementara Jin yang menarik bagian lengan kaos gratisan saya mengangguk-angguk sambil senyum dan berkata "Iya, Pak... Ini kita lagi nyebrang, Pak... Iya, Pak..." menanggapi seruan bernada mirip meneriaki maling ayam, saya misuh-misuh "Anjing! Anjing! ANJING!!!"

Saya bener-bener nggak abis pikir. Jika kami ingin berbuat onar, jumlah kita imbang. Dua lawan dua, meski bodi saya boleh diitung tiga. Jin saya itu cuma berbekal belati bankai Smith & Wesson (dan beberapa jin yang beneran jin) yang baru dia beli siang tadi, sementara sepasang lutung géblék itu punya bayonet dan rekan-rekan seperlutungan sak bajeg kirik yang berjaga nggak jauh dari sana. Apalagi ada dua truk barbed wire tajam-tajam yang panjangnya bisa mengelilingi satu RW.

Di angkot menuju Blok M, satu-satunya jin halus budi-bahasa (sesuai dengan kultur bangsa Jin, tentu) itu cengar-cengir sok menenangkan saya yang berusaha mengendalikan sumpah-serapah. Dan gagal.

"Itu trotoar sak hohah, segede alaihim gambréng, kenapa juga dibikin kalo nggak boleh dilewatin?! Jancuk! Simpanse taek! Bekantan mandul! Yak opo wong mlaku mat-matan kok diusir?! If only they have a single active cell in their pathetic brains, they would've silently watched us strolling along and promptly responding when we fucked up and not shouting their asses off instead! Segala neriakin kita ngerokok pulak! Sirik nggak bisa udad-udud yeh?! Salahe mung dadi propos! Above all, it's our money they spent to build that godamned palace, for fuckin's sake! So fuckin' what kalo kita norak ndomblong liatin lampu kristalnya yang keren itu?! Cen asu!"

Masih dengan senyum ala Gandhi (karena mukanya emang mirip), dia menjawab.

"Pit, orang kayak gitu tuh harusnya dikasianin. Bukan dipisuhi. Mereka cuma lagi tugas, menjalankan perintah. Nggak bisa mikir sendiri. Kesannya emang jadi sok kuasa, abussive sama kekuasaan secuil yang mereka terima. Tapi mereka dibayar dan di-brainwash untuk itu. Mungkin Pak Presiden juga nggak mau tidurnya terganggu sama asap rokok, makanya kita disuruh jauh-jauh. Jadi presiden kan tanggungjawabnya berat, nggak boleh dirusuhi hal-hal remeh."

Yeah right.

Saya hanya memandang gerak bibirnya yang bercerita sambil sesekali menatap ke luar jendela. Meski tidak berdegup cepat, Jakarta masih menyisakan denyut yang tersaruk-saruk pada Starbucks dan McDonald, menyerap dalam pendar barisan kuning lampu merkuri, menemani para manusia-manusia kalong berduit menghabiskan bual mengisi perut dan membunuh waktu menuju mentari Rabu pagi muncul pada horison di antara sosok megah gedung-gedung pencakar langit kelabu.

Tapi, hey... Ada apa di Bundaran HI? Mengapa satu lajur jalan terpalang dan jejeran polisi serta lelaki-lelaki berpakaian hitam Paspampres menjadi pagar betis renggang mengatur laju mobil yang melamban? Ah, ternyata ada pengambilan gambar pada jalan yang memisahkan Kedubes Cina dan warung mi instan. Seketika marah saya mereda. Semiskin itukah para anggota Paspampres sampai harus cari tambahan mengamankan lokasi shooting shitnetron?

Shit! I'm just a filthy damned lucky bitch yang siang bisa ngadem di mall. Sore membantai mahasiswa psikologi 'bimbingan skripsi' sambil ngopi dan merokok. Malam leha-leha keminter ikut acara launching buku 'Kronik Seabad Kebangkitan Indonesia'. Dan masih punya waktu untuk nongkrong menikmati Kopi Jos di angkringan seraya mengenang landmark yang kini tergusur. Lalu pulang pada dunia kotak merupa benteng.

Untuk protes dan pisuhan saya... Mohon maaf ya, Bapak-bapak Bedhés berhelm. Bener deh. Tulus nih.

Labels:

The Art of Forgetting

Posted by The Bitch on 5/19/2008 03:41:00 PM

... karena mengingatmu pun sudah tak pantas: kita tidak sepadan. bukan berseberangan. camkan baik-baik:
TI DAK SE TA RA.
tempatmu rendah, merunduk tekuk di bawah telapakku.
mengucapkannya pun aku sesungguhnya enggan. kamu terlalu remeh.

jadi, maaf.

[dan ini adalah mantra]

Labels:

Ode Buat Jo

Posted by The Bitch on 5/16/2008 08:41:00 PM

Jo,

Gue masih di pabrik, ngadep kerjaan seblejek butek yang rasanya nggak pernah selesai. Nahan kuping denger omelan mandor kita itu yang lidahnya lebih tajam dari samurai. Mencibir mandor satunya yang selalu mencela lelaki penyuka lelaki sebangsanya (padahal kita tau topeng seperti apa yang dia kenakan).

Biasanya jam segini kita selalu pulang berdua, lo tungguin gue pake sepatu atau gue nungguin lo ambil air. Kita jalan berjingkat dengan suara sepelan mungkin, menghindari teriakan 'The Boss' supaya nggak dikasih kerjaan last minute. Biasanya kita cekakakan bareng lepas dari 'gerbang neraka', ngetawain semua yang terjadi seharian, cerita-cerita tentang harapan, ketakutan, kesedihan, dan perasaan kehilangan masing-masing. Kita nggak pernah punya tempat romantis, selalu di pinggir jalan, nunggu angkot atau makan mi rasa vetsin di warung tenda.

Padahal lo baru pergi beberapa minggu, tapi gue kehilangan. Rasanya nggak ada alasan pulang karena nggak ada keharusan untuk itu. Nggak ada jalan berdua lagi, diliatin tukang ojek karena kita amat sangat bertolak belakangnya. Nggak ada Swiss Miss yang gue sesap habis atau roti-roti lucu yang kita nikmati di beranda.

Gue kangen. Dan ini menyesakkan. Gue cuma bisa nunggu karena nggak ada modal buat nyusul. Gue bakal seneng ketemu lo lagi, cekikikan lagi, cerita-cerita lagi dan norak-norakan di PIM lagi sementara lo dengan cool-nya ada di sebelah gue.

Tapi gue lebih bahagia kalo tau lo bakal baik-baik saja di ujung dunia manapun. Gue pengen ngalamin masa dimana suatu hari nanti lo beranak-pinak. Kita buktikan sumpah gue, manjur nggak lu gue kutuk beranak selusin.

ps: I'm listening U2, Miracle Drug. Fuck!

Labels:

Insignificant Thought

Posted by The Bitch on 5/16/2008 10:51:00 AM

Okay. I've got another confession to make. I love to eavesdrop on my next door's idiot box. Well, actually it wasn't eavesdropping afterall. She turned up the volume so loud I could hear it clearly from a mile away, though. Not my fault, eh?

Tonight's topic was about national holidays and the celebration behind them. From ajeb-ajeb music as the background and the breaks that sometimes presenting the station's jingle—a local Jakarta, I presumed—I daresay that it was a tekjing-tekjing program. Or AJAGJ, 'Acara Joget-joget Anak Gaul Jakarta' in my Babab's term. The host was asking some questions to female party animals in proper Bahasa Gaul Indonesia with too-damn-perfect-it-sounded-like-he-got-a-frog-stuck-in-his-throat English insertion here and there around what next week's harpitnas is all about. Most of those unimportantly giggling girls answered correctly, Hari Kebangkitan Nasional (National Resurrection Day? Like Jesus did?), and some didn't have enough neurons to send the message to their motoric senses to answer since, perhaps, the blood their cardiac muscles pumped had stopped at their tits to perk them up and jut the nipples to all their glory, thus, it couldn't go all the way up to their brains. Such a hard work to do for those tiny hearts to go separate tracks in altogether, don't you think? Specifically in considering their strict diets that forbid them to eat anything, hard exercises and chemical toxins to make them pretty and accepted. Thanks God or The Devil or any substance that made them speak, those loose jaws could mention five other. Our Independence Day included, of course. How could you forget the most embarrassing moments when you've got to push yourself so hard to run around in a ragsack without falling face first eating dirt and voluntarily become a laughingstock?!

And why do I have to be so fuckin' cynical? ...is as follows.

The hunk-voiced host was later on asking what it would be if they could have one national holiday on their terms. One said that it should be Mabok Round the Clock, the other suggested Bikini Party, while another oh-has-she-ever-stopped giggling girl wanted to have Rave. I said "what-the-fuck-ever" and went to my own room, remembering yesterday's news about a remote area in Indonesia that didn't have any gas to be filled into the tanks of their boats since there was no fuel came to their island for days. They couldn't go out fishing because of it, although they had many mouths to feed in their houses.

I couldn't put all the blame on their shoulders for their ignorance, though. They are the Jakartans, urban people who work their ass off to yield millions and millions of rupiah from giant corporations. They deserve to have some fun! They live excellent, worriless lives compare to the fishermen they didn't know. And people tend to answer in conform to their moods, and they are clubbing. Yet, I feel bizarre notion when, right in the middle of that kind of tekjing-tekjing program, there are news about lives lost because of fierce flood or shattering earthquake. I couldn't stand the unfairness, how some people laugh merrily, while some other blankly staring at their houses that swept away by nature's anger. It was traces of tears drying on their cheeks, the expression in their faces, and their silent screams crying out loud to heaven that emblazoned into my very core; and how shiny happy people, on the other hand, have the privilege to live the life to the fullest, warm beds waiting, and many malls to shop in. Those two incidents are like a dream to me: unreal, untouched, unfelt. Yet, I know that both negating occurrences are actually happening in reality, not a manmade consciousness of a movie.

Ah, shit. How I miss Spongebob Squarepants at times like these, when his stupid giggles could cheers my whole screwed day. I think I'm going to watch an episode from Happytree Friends instead.

Is there ever any wonder
Why we look to the sky
Searching space
Asking why?
All alone
Where is God?
Looking down
We don't know

It’s Korn’s Hollow Life that deafening, isolating me from the outside, keeping me safe in my square world, again.


Eh, edan. Kenapa gwa jadi rajin posting tiap hari gini yeh?

Labels:

Another Silver Lining in the Dark Cloud

Posted by The Bitch on 5/15/2008 05:55:00 PM

M**** : nyun
mPitz : wets! nama gwa ganti lagi
M**** : alamad mana alamad
mPitz : heh? buad paan?
M**** : titipan elu, tadi udah dapet yg 1 ama 2
M**** : BURUAN!
mPitz : Jl Y*** I V**** Z-1B Jakarta 12***
Phone: +62-21-7** **49/0477

(10 menit kemudian)

M**** : nyun
mPitz : ya?
M**** : udah gwa kirim pake tiki
mPitz : luv U

Sepertinya liburan ini nggak parah-parah banget. Ada 3 buku tebel-tebel yang bakal nemenin gwa.

Indah...

Labels:

Cuk!

Posted by The Bitch on 5/14/2008 09:45:00 PM

Gagal maning.
Nggak jadi jalan-jalan. Di pabrik mau ada acara peluncuran topeng-topeng terbaru koleksi musim panas, pas gwa mau cuti. Jadi yah... Belum rejeki. Mungkin harus nunggu beberapa lama lagi biar liburannya enak.

Buat yang kadung janjian, maaf. Lagi-lagi saya mangkir. Emang mending nggak janjian kali yah. Balungku nggak pernah terskedul. Harus dadakan semuanya. Maaf banget.

@#$%^&*()+_)(*&^#$%^~~%^&&!^%@%#\
(itu pisuhan paling kasar, saking kasarnya sampe nggak bisa diketik)

Labels:

Tuhan, Anyone?

Posted by The Bitch on 5/14/2008 04:19:00 AM

Pada segulung asap nikotin dinihari, For the Love of God terasa ngelangut menggayuti langit-langit dunia kotak tempat melepas kepenatan dalam rongga kepala melayang bersama aroma primitif Kopi Aceh seduhan. Saya sedang mendengarkan versi live-nya bersama satu grup orkestra. Lengkap dengan denting piano dan harpa, gesekan biola, tiupan oboe, seruling dan saksofon serta cabikan gitar mendominasi. Tanpa polesan dan dia bermain indah, berkali-kali, karena hanya satu track itu saja yang saya niat dengarkan. Talenta luarbiasa, Steve Vai itu. Dia mampu mewujudkan ratap tangis rindu, harapan, dan cinta pada Sang Maha meski tak terlihat. Sebagaimana Cryin'-nya Kang Satriani mampu membobolkan kelenjar airmata saya karena rintihan lirisnya (okay, I'm a melancholic bitch when it comes to a good-looking guy who plays guitar like he's performing the art of making love, so fuckin' what?!), maka saya layaknya berdzikir bersama jemari Om Steve yang menari di atas fret dengan sempurna.

Dan saya teringat Tuhan yang tadi sore diperdebatkan Jin Hitam Laknat ini bersama seorang mbak-mbak manis dan saleh. Pada semua kitab suci, generalisasi Tuhan adalah Maha Segalanya, termasuk Maha Baik. Namun, jika Dia memang Maha, sebutkan seluruh kata sifat yang ada pada semua kamus bahasa di jagad raya, lengkap beserta antonimnya, dan itulah Dia. Termasuk Maha Iseng, Maha Perusak, Maha Rese, Maha Jayus, Maha Ngebetein, Maha Jahat, Maha Sombong, Maha Wagu, dan sebagainya. Dia tidak bisa dinalar oleh otak manusia. Jika memang Dia yang menciptakan semesta beserta seluruh isinya, buat apa Dia menghantamnya dengan Tsunami atau gempa bumi? Jika Dia Maha Adil, mengapa Dia jaga koruptor hingga mati tua dalam rumah peristirahatannya di Swiss dan Dia cabut nyawa seorang bapak muda yang baik, jujur dan ramah di pelintasan rel kereta? Mengapa orang-orang di Afrika selalu kelaparan jika Dia Maha Mencukupkan? Jika Dia Maha Pemberi Damai, mengapa masih banyak perang terjadi di dunia? Mengapa Dia beri leukemia yang luarbiasa menyakitkan fisik dan mental bagi sahabat saya yang berperangai bagai malaikat dan memiliki kesabaran tujuh samudera jika memang Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang? See? Nggak masuk logika kan?

Konon Lucifer, yang identik dengan deretan tiga angka enam seperti buntut pada nomer ponsel saya, adalah malaikat utama sekaligus panglima Tuhan yang jadi sombong dan ingin membuat kerajaannya lebih tinggi dari Tuhan. Dan Tuhan pun murka lalu Si Bintang Pagi itu pun dihukum. Dia mursal dan bersumpah akan menjatuhkan manusia untuk berpaling dari Sang Penghukum. Dengan tenang kemudian Tuhan mengorbankan 'anakNya' untuk menyelamatkan umat manusia dari perangkap Luci yang lebih jahanam daripada jebakan betmen, menanggung semua dosa yang terbuat oleh orang-orang khilaf.

Tapi ada sebuah kisah Parsi dimana Iblis sebenarnya adalah wujud cinta dan kesetiaan tiada akhir dari mahluk pada Khalik. Syahdan, ketika Pak Adam, manusia pertama, tercipta lalu menunjukkan kepintarannya menyebut nama-nama benda, Tuhan meminta seluruh alam semesta serta berjuta-juta malaikat dan jin, termasuk Iblis, untuk menyembahnya. Sejak saat itu manusia secara resmi disertifikasi sebagai mahluk dengan derajat tertinggi. Iblis menolak karena cintanya telah diprogram untuk tunduk patuh pada satu majikan dan itu adalah Tuhan. Nanti bakal syntax error kalau dipaksa. Setinggi-tinggi derajat Pak Adam, dia cuma ciptaan dari lempung dan nggak pantes disembah olehnya yang tercipta dari api. Gitu Si Iblis bilang. Ya Tuhan marah, dong! Berani-beraninya dia menolak perintah tertinggi (kok Tuhannya jadi kayak jendral perang ya?). Iblis nggak peduli karena memang itu tugasnya sebagai pecinta. Akhirnya karena Tuhan kesel, Iblis pun langsung mendapat SP 3 saat itu juga, yaitu dikeluarkan dari surga dan jadi penguasa neraka. Dan karena Tuhan Maha Asik, Iblis masih juga dikasih bonus menggoda manusia. Dia diwajibkan ngetes sampe dimana kekeukeuhan anak-cucu Pak Adam hasil persetubuhannya dengan Bu Hawa--yang notabene terbuat dari tulang rusuknya sendiri--terhadap Tuhan hingga kiamat nanti. Iblis pun berjanji akan mengemban kewajiban sebaik-baiknya demi Pencipta Tercinta, demi pembuktian bahwa kesetiaannya tanpa batas meskipun itu menihilkan arti pengabdiannya sebagai sosok pecinta sejati. Edun!

Saya nggak tau sudah berapa banyak tumpukan notes penuh berisi catatan dari malaikat sebelah kiri yang menggerutu karena saya telah mengetikkan entri ini. Mungkin dia akan meminta inventaris laptop made in surga karena kapalan di jarinya sudah mulai mengganggu dan akselerasi dosa saya berbanding terbalik dengan kecepatan stenonya yang melamban kelelahan. Sementara malaikat sebelah kanan saya yang obesitas karena nggak pernah kerja itu hanya ongkang-ongkang kaki, memutar-mutar buku tipisnya yang masih kosong menggunakan pensil sebagai poros sambil ngopi dan meledek koleganya yang kurus kering karena harus lembur setiap saya melek. Ridwan mungkin tidak akan pernah mengenal saya karena pintu yang dia jaga tidak akan pernah saya masuki, dan Izra'il menatap saya sebal dari kejauhan sambil mengetuk-ngetukkan jemari tangan kirinya dengan tidak sabar sementara tangan kanannya menopang dagu. Mungkin detik ini, di suatu tempat antah-berantah berbau pekat belerang bernama Neraka, Malik memerintahkan para kroco-kroconya untuk menyusun batu-batu pembatas melingkari merahnya api raksasa yang menjilat-jilat liar dan dipersiapkan untuk menyambut kedatangan saya. Terhimpit di antara Nietzche dan Adolf Hitler, berseberangan dengan Sartre, Musollini dan Karl Marx. Ah... teman-teman yang asik untuk main kartu sambil nge-jekdi. Setiap hari Minggu saya akan mengundang Marquis de Sade, Kaisar Nero, Leopold von Sacher-Masoch serta Mao Tse Tung yang tinggal di blok seberang. Tapi pasti saya bakal bete luarbiasa akibat obrolan yang terhenti karena mereka serempak menoleh ketika Marilyn Monroe melintas bergandengan tangan bersama Asia Carrera dan melambaikan tangan pada Jim Morisson.

N O T H I N G

After a battle lasting many ages,
The Devil won,
And he said to God
(who had been his Maker):
"Lord,
We are about to witness the unmaking of Creation
By my hand.
I would not wish you
to think me cruel,
So I beg you, take three things
From this world before I destroy it.
Three things, and then the rest will be
wiped away."

God thought for a little time.
And at last He said:
"No, there is nothing."
The Devil was surprised.
"Not even you, Lord?" he said.
And God said:
"No. Not even me."

Clive Barker's Abarat: Days of Magic, Nights of War
Part One, page 9

Damn... ini malam Kopi Aceh terasa lebih pahit dari biasa.

Labels:

*Coming Through from the Monastery of Hate

Posted by The Bitch on 5/13/2008 11:08:00 AM

dialektika kami tanpa radio dan visualisasi anti-HBO
tanpa agenda politik partai yang membuat Mussolini membantai D'Annunzio
juga korporasi multinasional yang menjadikanmu lubang senggama
kooptasi kultur tandingan yang berunding dalam gedung parlemen Partai Komunis Cina
yang mereproduksi Walter Benjamin ke tangan setiap seniman Keynesian
yang mensponsori festival insureksi dengan molotov cap Proletarian®
instruksi harian dalam mekanisme kontrol pergulatan menuju amnesia
lupakan Colombus, karena Bush dan Nike® telah menemukan Amerika®
inkuisisi mikrofonik dalam kuasa estetika
yang merevolusikan pola konsumsi menjadi intelektualisme organik seperti Gramsci
Homicide - Boombox Monger

Sepulang dari memburuh di pabrik topeng tadi malam saya berlama-lama duduk di kursi rotan pada teras, mendengarkan berita dari televisi di kamar sebelah. Mahasiswa Makassar menolak kenaikan harga BBM, kata mbak pembawa berita yang intonasinya kerap tidak sesuai, bikin muak dan digawat-gawatkan. Sambil memasukkan sepasang kaus kaki bau ke keranjang baju kotor saya hanya mencibir lalu masuk kamar, menyalakan mesin tik dan memilih Homicide sebagai pengantar malam. Ya, saya apatis.

Televisi dan media sudah tidak dapat menggerakkan hati saya untuk bersimpati. Politik, bencana, demonstrasi mahasiswa, iklan, sinetron. Saya sudah kebal. Saya menolak percaya. Saya membutakan mata karena media, sebagaimana halnya sejarah, dapat tertulis menurut orang dan kelompok yang mengangkanginya. Saya hanya kebetulan lahir di negeri (yang dulunya) hijau-indah namun bersistem brengsek bernama Indonesia dimana orang-orang yang dihormati berlaku lebih rendah daripada maling, menjual apa-apa yang bukan miliknya demi kepentingan perut dan sedikit di bawah perut. Saya tidak pernah menggunakan hak pilih saya secara benar karena saya tidak pernah percaya pada bapak-ibu terhormat di gedung DPR sana. Saya tidak pernah merasa bertanggungjawab sebagai warganegara karena negara pun tidak pernah bertanggungjawab pada rakyat kecuali (mungkin) pada para istri dan selir dan gundik dan gigolonya. Sebagai penghuni bumi maka tanggungjawab saya hanya pada bumi. Buang sampah di tempatnya, irit air dan listrik, selalu bawa tas belanjaan sendiri dan menolak plastik supermarket, berusaha menjalankan Reuse-Recycle-Refill secara Spartan, semacam itulah.

Saya sudah pernah membaca 1984-nya Orwell dan saya rasa sepetak negara yang saya tempati ini tidak ada bedanya dengan wilayah dimana Big Brother berkuasa. Saya juga bukan konseptor ulung dan luarbiasa pintar yang mampu membuat cetak biru negara Utopia-Madani. Hidup saya hanya seputar kerja, duit, nongkrong, jalan-jalan, caci-maki, dan mungkin kelon sekali-sekali jika bernyali. Saya terlalu lelah mengikuti laju pemberitaan tentang politik, siapa menjabat apa, tentang perekonomian, bahkan gosip artis sekalipun.

Namun saya punya mimpi, dimana masing-masing jiwa yang mengaku bertanah-air Indonesia mampu saling jaga tanpa gampang curiga, tidak memakan saudaranya, hormat pada alam pada air pada langit yang telah berbaik hati memberi perlindungan, dapat saling memahami ideologi merah-hitam-hijau-kuning-putih, membuka wawasan akan hal-hal baru dan tidak sekedar meniru, dan bangga dengan ke-Indonesiaannya. Sungguh, saya mimpi.

Dan demi perpanjangan tangan remah di mulutmu, Anakku
Jangan izinkan aku terlelap menjagai setiap sisa pembuluh hasrat yang kumiliki hari ini
Demi setiap huruf pada setiap fabel yang kututurkan padamu sebelum tidur, Zaharaku, Mentariku
Jangan sedetikpun izinkan aku berhenti menziarahi setiap makam tanpa pedang-pedang kalam terhunus
Lelap tertidur tanpa satu mata membuka
Tanpa pagi berhenti mensponsori keinginan berbisa
Tanpa di lengan kanan-kiriku adalah matahari dan rembulan
Bintang dan sabit
Palu dan arit
Bumi dan langit
Lautan dan parit
Dan sayap dan rakit

Matahari tak mungkin lagi mengebiri pagi untuk menghianati...**


[mari tundukkan kepala bagi Ibu Nusantara yang makin sekarat terjual oleh anak-anaknya sendiri]

* Taken from State of Hate
** Taken from Barisan Nisan

Labels:

Another Introduction

Posted by The Bitch on 5/12/2008 03:20:00 PM


Skrinsyut diambil dari sini. Silahkan dicela. Emang buat buang sial. Hehe...

Labels:

The Plan

Posted by The Bitch on 5/12/2008 04:10:00 AM

Dulu, seseorang pernah protes pada saya karena saya dianggap sangat mencintai tempat saya mburuh. Jika dia bertanya dimana saya lepas Isya, jawaban saya selalu sama: masih di pabrik topeng, garap lilis atau laporan. Jika saya iseng telpon dia lepas jam dua belas malam dan bertanya sedang apa saya, jawabannya hampir selalu sama: capek kerjain lemburan di kamar. Mbok kamu jalan-jalan sana, jangan depan komputer terus, sarannya sambil setengah menggerutu. Ya... mau gimana? Kerjaan saya bersepupu dengan tenggat dan event. Kadang harus digarap malam ini karena acaranya pagi jam sepuluh dan yang saya kerjakan adalah materi acara yang sak bajeg kirik. Piye, jal?

Respon saya selalu garuk-garuk kepala sambil cengar-cengir, meski dia tidak pernah melihat saya seperti itu. Lha saya bingung, mau jalan-jalan kemana? Di Jancukarta ini yang thing telecek dimana-mana cuma mall. Ya paling bisanya cuma nongkrong di kafe. Wah, nggak bisa ngeragatinya kalo harus nongkrong terus. Lagian saya nggak bakat nongkrong di mall. Kalau mau nongkrong kere ya cari public space yang kira-kira enak. Dan yang paling aksesibel buat saya cuma Bunderan HI. Kebiasaan tiap minggu kesana, kumpul bareng balakurawa saru-saru, kemproh-kemproh, lucu-lucu, tur baik-baik.

Namun ada kejadian yang sangat menjungkirbalikkan ke-aku-an saya selama sebulan ini, dan saya pikir sarannya bagus juga. Saya perlu liburan. Harpitnas besok rencananya saya bakal safari Jogja-Surabaya. Menemui orang-orang yang betul-betul peduli dan menerima saya sebagaimana saya seutuhnya, bukan hanya my fucked-up mind, namun juga kegeblekan dan kejelekan saya seluruhnya. Melepas kangen pada My Phoenix Brotha #2 (dan kita bakal omongin panjang-lebar beda tipis antara 'istimewa' dan 'gila'), pada Sandal, pada Sukopet dan mbaknya, pada perempuan cantik-seksi-mungil-cerdas-tapi-galak (yang skripsinya masih ngendon di salah satu file mesin tik saya, hehe), pada pusara paman saya, pada warung kopi Manut, pada Beringharjo, pada Malioboro. Mungkin pada My Phoenix Brotha #1 (yang seperti Phoenix, selalu muncul saat saya sedang terluka) dan pasti 'My Satelite' yang selalu ada selama tujuh tahun ini (edan ya maz, tujuh taun dan aku selalu lupa ulangtaunmu!) di Surabaya. Serta satu mahasiswa 'bimbingan skripsi' saya yang ngotot pengen ketemu hanya karena saya pernah menerjemahkan artikel tentang ateisme.

Saya rindu ngobrol bareng bakul pecel yang di puncak tenongnya selalu ada kembang Kecombrang lepas stasiun Purwokerto. Kangen gojekan saru--dengan bahasa Jawa yang mereka pikir tidak saya pahami--antara penjual minum gerbong restorasi dan pedagang rokok asongan. Sudah lama saya nggak dengar dan lihat kecrekan sekenanya atau dentum bas kotak serta goyangan sok genit mas-mas berkebaya, berpupur dan bergincu tebal yang suaranya mengalahkan gemuruh kereta ekonomi. Pengen lagi duduk di bordes paling belakang gerbong, menatap pemandangan yang menjauh sementara saya mundur. Begitu banyak yang terekam dari satu perjalanan, begitu nihil namun ngangeni.

Kesimpulannya... saya bakal travelling kere lagi KALO DAPET CUTIIIIIIII!!!

ps: piye, ka? sido ketemu ora?

Labels:

Missing in Action

Posted by The Bitch on 5/12/2008 02:17:00 AM

"Bu, kenapa aku boleh ngerokok di rumah? Dulu waktu masih SMP malah aku dibolehin mabuk dan ngeganja. Kamu kan ibuku, Bu," tanya saya suatu hari pada Mrs. Bambang berjilbab yang kebetulan adalah orang yang melahirkan saya.

"Biar kalo tepar gampang nge-handle-nya. Lagian Ibu pengen tau kalo kamu mabuk jeleknya kayak apa."

"Yah elah. Mbok normal kenapa sih Bu kayak ibu-ibu lainnya. Pit serius ini lho nanyanya."

"Kamu aja nggak normal gimana Ibu mau normal?! Ngadepin kamu itu pake psikologi kebalikan. Biasanya apa yang Ibu bolehin malah kamu nggak lakuin. Kalo dilarang malah ndadi. Inget nggak dulu kamu Ibu gampar depan temen-temen kamu karena selalu nongkrong bareng cowok-cowok di pos depan komplek? Besok malemnya tetep aja kamu masih nongkrong, perempuan sendiri, genjrang-genjreng kayak anak pengangguran. Padahal besok pagi harus sekolah, tapi pulang manjat pager gara-gara kemaleman. Udah kayak gitu, bukannya tidur, masih aja nyolong-nyolong baca buku di kamar pake senter. Bangun kesiangan, manjat pager sekolah lagi. Halah! Pasti bakal mati berdiri kalo Ibu kayak ibu-ibu normal lainnya. Kamu bandel gitu."

Saya cuma ketawa mengingat kejadian yang seperti sudah berpuluh-puluh tahun itu. Ibu saya sendiri, yang amat sangat disegani oleh teman-teman lelaki saya yang semuanya lebih tua, menampar saya keras-keras di depan mereka, mengatai saya seperti lonte karena selalu kongkow bareng lelaki, dan menyeret rambut di kepala saya sampai ke rumah. Lumayan. Dua ratus meteran. Saya nggak bisa berontak karena takut amarahnya tambah meledak.

"Kamu masih dendam gara-gara Ibu galak begini?"

"Nggak. Lagian udah lewat. Percuma dendam juga. Aku nggak bisa tuker ibuku sama Tamara Blezinsky, misalnya."

"Ibu nggak mau anak Ibu rusak di luar. Kalo mau nakal di rumah aja. Lagian kamu ditawarin kayak gitu juga mana, nggak ada nyali buat nyoba kan? Paling tau-tau Ibu cuma dapet cerita kamu ngeganja disini, mabuk disitu, dugem disana. Deg-degan Ibu dengernya, takut kamu kegrebek terus masuk penjara. Padahal kamu cuma nyoba-nyoba. Tapi Ibu doain kamu terus biar demit ora ndulit, menungso ora doyan. Cuma ngerokok aja yang kecolongan, lebih banter kamu daripada bapakmu sekarang. Ibu kuatir kalo kamu mulai batuk nggak sembuh-sembuh kayak kemarin."

Saya nyengir denger sambatnya beliau. Mulai deh, melankolor.

"Ibu tu punya anak kamu masih eksperimen. Kurang bahan, kurang pengalaman. Namanya juga kamu anak pertama. Jadi maaf-maaf kalo kurang berkenan. Kamu dan adekmu beda sifat. Bukan berarti Ibu pilih kasih, lebih lembut ke Icha dan galak ke kamu. Adekmu masih mbok-mbokan, nggak bisa jauh dari rumah, curiositynya nggak segede kamu. Paling ndableknya aja yang masih nggak ketulungan. Kamu selalu pengen tau dari bayi. Kalo udah punya mau ampe titik darah penghabisan juga masih ngotot. Belum waktunya nujuhbulanan aja udah nggak sabar pengen keluar. Masih mberangkang aja udah ngejar-ngejar semut sampe lantai ruang tamu bolong dicuthiki dan seruangan harus dibongkar. Belajar ngiket sepatu sendiri aja setengah jam, nggak mau dibantuin, ampe ileran ngeces-ngeces. Padahal kita udah pada siap mau pergi. Makanya Ibu nggak pernah larang kamu mau ngapa-ngapain. Terserah sana, wong kamu udah gede. Paling kalo udah kena batunya Ibu tinggal nyukurin."

Yeah, rite.

"Nduk, sekali lagi inget. Kamu anak pertama. Beban ada di kamu kalo Ibu sama Babab udah pada nggak ada. Kamu yang harus momong Icha dan jadi tulang punggung keluarga. Tanggungjawabmu gede. Karena itu kamu Ibu biarin ngerasain kejem dan jeleknya dunia, biar nanti kamu nggak kaget dan nggak selalu lari ke Ibu kalo kamu nemuin hal-hal yang diluar kehendakmu. Biar kamu belajar nyelesain sendiri. Biar kamu kuat. Ibu udah ngasih kamu bekal semua yang Ibu tau dan berharap kamu bisa lebih baik dari Ibu. Jaman kamu di Jogja dulu Ibu selalu nangis inget kamu, dengan duit segitu harus survive. Tiap kita pesta pecak bandeng atau gulai ikan, kamu selalu dipanggil-panggil bapakmu. Mungkin saat itu kamu cuma bisa beli nasi kucing dua bungkus dan jalan kaki ke kampus. Ibu sedih, anak sendiri mesti susah kayak gitu. Tapi itu harus. Kalo nggak gitu kamu nggak kayak sekarang."

-------------------------------------------

Dan entry ini ditulis pada Minggu malam, mengingat-ingat kata-kata bertuah dari seorang perempuan luarbiasa, pada weekend mangkir saya pulang ke rumah genap sebulan ini karena merasa disana sesak oleh cinta, oleh perhatian, oleh kasih tak berkesudahan yang membuat saya enggan memerangi monster saya sendiri.

Maaf...

ps: nggak cuma kamu dan Arif, Dhe. aku juga memanggul ibuku kemana-mana.

Labels:

Yet Another Fucked-Up Conclusion

Posted by The Bitch on 5/11/2008 01:35:00 AM

Mabuk-mabukan itu enaknya di kamar, sendirian, denger MP3 nyomotan volume pol pakek hedset biar nggak ganggu mbak-mbak jilbaban di kamar kanan-kiri. Nggak usah pakek tarikan. Cukup rokok, asbak dan korek. Headbang dah sana ampe leher pegel. Kalo mau jekpot tinggal ke kamar mandi. Hangover? Tinggal bikin kopi pait di dapur.

But nooo...
Gwa malah iseng nyobain jekdi upeti honor nulisnya cowok kerempeng anggota PKI (Pemakai Kaos Ireng) yang kemaren dateng gerimis-gerimis bawa sepeda onthel nyandhang ransel. Hasilnya? Tripsy abis ampe susah pipis. Jalan nggak lempeng. Naek angkot bawaannya naek ke neraka. Sampe Blok M nemenin makan pengennya naro kepala di meja dan jangan dibangunin ampe abang mi ayamnya pulang. Udah kayak gitu, masih aja perut rasanya kayak diaduk-aduk. Di taksi malah nyender sama Jin Item buta Radio Dalem. Walhasil, sepanjang jalan harus melek liat jalan yang kayaknya bergelombang. Sampe depan pager nyelonong langsung ke depan kamar nggak nengok kanan-kiri, buka sepatu sekenanya, buka pintu seadanya (untung inget nutup!), lempar tas, copot kaos kaki terus lempar ke pojokan, abis itu tengkurep, molor nggak bangun-bangun dari jam 4 pagi sampe jam 11. Padahal nggak cuci kaki, nggak cuci muka. Pasti kalo Ibu tau bakal dimarahin, soalnya masih bau setan. Dari mana-mana itu harusnya cuci-cuci biar setannya larut sama air ke selokan. Gitu katanya.

But look at the bright side! Biasanya tidur dapet 4 jam aja udah nyembah-nyembah, ini bisa tidur 7 jam straight tanpa hangover. Keyen!!! Nggak bakal kejadian kayak gini kalo nggak mabuk atau migren berat ampe harus ngobat.

... padahal janji anterin ibu kos donor darah jam 6 pagi. Huahahahahaha!!!

Labels:

YM-an Geblegh

Posted by The Bitch on 5/10/2008 11:12:00 AM

M****: lu fokus dong jeng, biar kelar tu atu
mpitz: susah, bu. lu tau sendiri gwa kalo kerja aja gimana
mpitz: mesti buka window 'pengalih perhatian', ceting ato milis. kalo ga gitu ga bakal rampung
M****: sama kalo gitu ama gwa
M****: di kantor juga gitu
M****: demi duit aja makanya gue stay, kalo ga gitu mau makan darimana?
mpitz: iya euy, tadi ada tes ADD di kampung, skor gwa ternyata 96!
mpitz: gwa posting aja, berdalih kalo ngerjainnya sambil merem
M****: lha lu mending segitu!
M****: gue 110! ga berani posting di kampung!
M****: hihihi
mpitz: whoa!
mpitz: *sujud syukur* ternyata elu emang lebih parah dari gwa
mpitz: ((=
M****: eh eh, jadi itu cowok medok akhirnya gimana?
mpitz: *tepok jidad* MASIH DIBAHAS?!

Labels:

Love Song for the Dear Departed

Posted by The Bitch on 5/09/2008 05:25:00 AM

Hey, Pejantan!

Saya tidak datang dengan cinta. Yang saya bawa adalah dendam pada para pembawa phallus di selangkangan, merupa kelamin, terpuja dalam pasangan lingga dan yoni di candi-candi, dan kemudian menjadi lambang pada menara-menara pencakar langit lengkap dengan sepasang skrotum dalam bentuk bangunan bersayap kanan-kiri.

Saya tidak datang dengan kasih. Yang saya bawa adalah nafsu pembalasan sebagaimana konon Hindun memekik lantang pada perang di Jazirah Arab dahulu, memburu sebongkah jiwa pembunuh ayah, abang, suami dan putra lalu tersenyum puas saat tangannya teralir darah dari sebuah jantung yang masih berdenyut, terenggut dari nganga pada dada sang mujahid.

Saya tidak datang dengan rela. Yang saya bawa adalah kesempatan licik memperdaya pikiran dimana kamu dapat saya tindas sesuka hati, membual tentang hal tak masuk akal, membenturkanmu pada ide-ide terliar, mengejewantahkan sundal dan binalnya sosok perempuan tanpa harus berpakaian ketat dengan tali G-string tersembul satu senti di atas pinggang jins hipster meski selarik kain menutup kepala hingga payudara.

Dan kamu membuat semua alasan saya bertambah kuat untuk tidak tunduk dan patuh. Terimakasih.

Teriring Jonathan Davis, Munky dan Fieldy pada sesayup adzan Subuh mengambang di udara pagi bercampur pengap asap dalam dunia kotak tiga kali tiga kali tiga.

Labels:

One Great Conclusion

Posted by The Bitch on 5/09/2008 03:03:00 AM

I've got a confession to make.

There was this hard lesson about 'the art of communication', about 'read between the lines' and about 'make a good partition' between rational mind and emotional feeling, started from April 12 to May 8. I'd been slapped in the face by the very shituation that I thought I could handle. I was wrong in pulling the leg of the person whom I thought could wipe all the clouds from my sky. Blah!

What I've got from this less-than-a-month relationshit: a loony is still a loony no matter how high the appreciation is. And yes, men are easily provoked and threatened by ways of women think and do.

Well, to tell the truth, I'm glad it's over. It's kinda underlining my own opinion about I'm so fucked no one could stand me for so long.

[Here I am, sipping marshmallowed Swiss Miss full of love and longing from your Mazbule, Jon, recollecting what you're saying on the other day. Woman needs a woman's girlfriend at times like these. I miss you already...]

Headstone for the brokenhearted. Hours to kill or flowers to steal. Headtrip for the mortal earthbound, one sip of the blood that I found lying here. I'm dying here.

Labels:

Bad Morning Syndrome

Posted by The Bitch on 5/08/2008 10:56:00 AM

I should've known this all along. I should've trusted the itsy bitsy tiny weenie voice deep within.

IT'S ALL A BIG, FUCKIN, STUPID JOKE.

Thanks for hardening my shell.

(=

Labels:

The Cosmopolitans

Posted by The Bitch on 5/04/2008 03:24:00 AM

Lelaki itu baru saja mengejang kaku dan melenguh panjang bagai meregang nyawa di atas tubuhku, lalu layu. Untuk ketiga kalinya. Dinginnya AC tidak mampu mengeringkan peluh dari tubuh telanjang kami yang menyatu di atas seprai berantakan penutup spring bed berukuran raksasa. Kupeluk dan kuraba kumpulan otot liat pada punggungnya dan kubelai ikal rambut di kepalanya yang rebah di bahuku. Nafasnya memburu, terasa panas dan liar di leher. Kedua ujung bibirku menaik sinis. Hanya selintas, sementara mataku menatap nyalang pada langit-langit putih kamar hotel berbintang yang kami tempati dari dua jam lalu.

"Terima kasih, Sayang. That was great," bisiknya sambil memain-mainkan cuping telingaku dengan bibirnya yang hangat dan basah.

Mau tau terusannya? Klik disini. Gwa pindahin! Hehehe...

Labels: