"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

A Masochist Note

Posted by The Bitch on 4/23/2008 05:37:00 PM

Will you be there beside me
If the world falls apart
And will all of our moments
Remain in your heart
Will you be there to guide me
All the way through, I wonder will you
Walk by my side, and follow my dreams
And bear with my pride, as strong as it seems
Will you be there
Tomorrow

Will you be there beside me
As time goes on by
And be there to hold me
Whenever I cry
Will you be there to guide me
All the way through, I wonder will you
Walk by my side, and follow my dreams
And bear with my pride, as strong as it seems
Will you be there
Tomorrow


Dua dinihari lalu lagu ini seperti mendobrak dari dalam kepala saya, ingin menyeruak lepas, menjalar-jalar selalu kian kemari hingga dapat menggerakkan lidah dan menggali paksa memori purba yang dorman di balik sel-sel kelabu otak, menendang-nendang pita suara dalam tenggorok untuk bergerak dan mencambuk semua organ di dalam turut bernyanyi. Bernyanyi, teriak, mengenang peristiwa apapun yang berasosiasi dengan lagu asu tersebut. Padahal saat itu telinga saya rapat tersumpal Freak on a Leash dan file lagu itu sudah terbuang lama sekali.

Saya kesakitan. Entah kenapa nikmat rasanya.

Labels:

Love is In the Air

Posted by The Bitch on 4/22/2008 02:57:00 AM

Satu jam lima menit dari tengah malam dan saya baru selesai mandi: usaha terakhir saya jika ingin segera lelap. Meski di luar rinai hujan melenakan, kamar sejuk, nyaman dan bersih serta seprai masih wangi pelembut, saya belum juga mengantuk. Jika saya memaksa rebah, saya hapal di luar kepala runtutan kejadiannya. Begitu lampu dimatikan dan mata terpejam, lima belas menit pertama adalah pertarungan saya dengan bantal dan guling yang nanti hanya berakhir sebagai penutup kaki--dua-duanya. Lima belas menit berikutnya adalah repotnya saya dengan selimut sambil mencari posisi (biasanya telungkup dengan satu kaki sedikit tertekuk dan wajah menghadap ke kiri). Lima belas menit lagi adalah usaha saya untuk menenangkan pikiran dan berusaha rileks, dan pasti bakal gagal. Jika saya masih memaksa, tiga puluh menit kemudian saya akan bangun dengan tampang kusut, rambut awut-awutan, beranjak dari tempat tidur sambil menenteng rasa sebal lalu menyalakan lampu sambil menggerutu. Daripada menghabiskan dua setengah jam hanya untuk mencoba tidur dan gagal, akan lebih baik jika saya mengasah ketrampilan mengetik (dan berharap kelelahan lalu jatuh tertidur).

Sudah lebih dari dua minggu rumah tempat penampungan anak-anak terlantar tempat saya numpang tidak lagi sepi dinihari. Dulu memang saya biang ributnya. Karena sebal tidak bisa tidur, saya setel Korn, Metallica S & M, Erwin Gutawa Rockestra, Dream Theater, Homicide atau Ayreon selantang-lantangnya. Untung sebelah-menyebelah saya termasuk anak-anak kebluk yang bahkan saat gempa pun harus saya yang menggedor pintu. Induk semang yang dinding kamarnya hanya berjarak sepuluh meter pun tidak pernah terganggu. Namun sekarang malah saya yang rada nggak enak karena hingga jauh malam saya masih dapat mendengar rengekan manja dan cekikik renyah yang teredam dari balik kamar. Konyol. Atau mungkin saya yang terlalu kaku menghadapi hal-hal seperti ini?

Waktu itu, jam satu pagi, saya pernah memergoki tetangga kamar membawa-bawa ponselnya ke kamar mandi saat saya hendak menyeduh susu di dapur. Saya pikir beliau punya kebiasaan sama dengan saya, suka nge-game atau online dengan ponsel sambil e'ek jika malas bawa bacaan. Ternyata dia pipis sambil telpon-telponan dengan 'abang'nya dan pembicaraan itu tidak terputus selama proses berlangsung hingga dia masuk ke kamar lagi. Well, rekornya nggak separah saya yang menerima telpon sambil buang hajat besar--dan berantem sambil mengejan di kakus. Atau makan siang sambil boker. Saya emang kemproh kok.

Yang lebih unik lagi, mbak-mbak di sebelah kamar saya persis selalu tidur paling cepat. Jam sembilan sudah tidak ada tanda kehidupan disana. Kemudian tepat jam sebelas mendadak pintunya terbuka, gedubrak-gedubrak dia keluar cuci muka di kamar mandi, lalu setengah berlari kembali ke kamar masih dengan mata serupa bantal. Setelah itu saya akan mulai hitung mundur dari sepuluh. Dan pada angka lima atau empat, ponselnya akan berbunyi dan tawa manja kemriuk nikmat yang nyaring di telinga akan menyapa kuping saya juga, mengganggu musik yang saya setel pelan. Jika sedang 'hardcore mode', telepon itu akan berlangsung selama dua jam.

Bukan sekali-dua saya iseng tengah malam dan membangunkan beberapa teman hanya untuk saya pisuhi lewat ponsel. Dan saya juga jadi orang pertama yang dituju jika mereka belum bisa tidur dan ingin curhat. Namun saya lebih suka menerimanya di teras, duduk di kursi panjang dari rotan sambil memberi makan kura-kura saya, atau merokok sambil menghirup susu panas. Saya nggak suka terima telepon sambil tiduran karena teman saya bilang suara saya yang sedang tiduran bikin imajinasi liarnya kemana-mana. Dan dia bilang--jika tidak misuh--cuma pada suaralah terletak keperempuanan saya. Bajingan tenan!

Lucu memang, perihal menjadi perempuan itu. Meskipun keesokan paginya mereka harus terburu-buru mandi karena kesiangan dan berangkat ngantor dengan mata setengah watt, malamnya mereka masih melakukan hal yang sama. Ya mbok kawin aja sana terus tinggal serumah. Jadi saya nggak harus terpaksa dengar desahan-desahan manja yang hanya bercerita tentang klien di kantor atau kastemer geblek. Tapi saya agak senang juga sih. Sejak episode telepon-telepon dinihari itu saya tidak pernah lagi mendengar suara aneh yang kadang bikin merinding disko.

Udah ah. Tiba-tiba saya pengen nonton The King of Scotland lagi.

Labels:

Some Kinda Shoutout

Posted by The Bitch on 4/18/2008 11:53:00 AM

Saya pernah diprotes seseorang yang mengira saya orang Jogja asli. Dia bilang untuk ukuran perempuan Jogja saya tergolong kasar karena seneng misuh. FYI ya Mbak. Bibit saya Portugal. Ibu Purworejo (meski lahir dan besar di Jakarta) dan Babab Tegal (ya, saya bangga berdarah Tegal karena di Jakarta para esmud nggaya berduit sedikit, tukang ojek, buruh pasar dan tukang kain nggak mampu makan jika tak ada Warteg). Saya lahir di Depok, Jawa Barat. Kelas tiga SD saya pindah ke LA, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. SMP kelas satu saya pindah ke Depok (lagi). SMA saya pindah ke Bekasi ikut orangtua saya yang pindah duluan ke sana. Kemudian Babab dan Ibu saya yang belagu itu pengen anaknya jadi sarjana. Jadilah, saya terbuang di Jogja. Tanpa menghasilkan ijazah, tentu. Jadi, santai saja, Mbak. Jogjamu bersih tanpa saya. Pék en wes. Gak ngurus.

Namun entah kenapa saya selalu merasa Jogja adalah pulang. Disana saya berproses menghadapi Jakarta, kota saya sendiri. Di Malioboro saya pernah nongkrong bersama para pengamen jalanan hingga adzan subuh menjelang, berbagi berbatang-batang rokok dan cerita. Saya juga pernah ngopi bareng banci dan tukang becak di angkringan depan Panti Rapih saat malam bergulir pagi. Atau hanya mendongak di trotoar Terban menghitung bintang bersama anak-anak tak berumah. Kamu pernah seperti itu, Mbak, di Jogja, (mungkin) di kotamu sendiri?

Saya tidak pernah lupa ketika wajah kusam-layu-lusuh mendadak berbinar terang melihat raut muka saya yang mereka kenal tapi amat sangat jarang ketemu. Tanpa sungkan mereka teriak, "Su! Néng ndhi wae gak tau ketok?!". Atau, "Wooo... Bajingan! Ra tau dolan!". Buat saya, jutaan home theater terkeren dan termahal nggak bisa ngalahin indah dan medunya sapaan ramah penuh persahabatan dari tubuh-tubuh dekil berkulit tembaga itu.

Buat saya pisuhan adalah ekspresi terjujur dari dasar jiwa, terapi termurah dan tergampang sebagai pelepas ketegangan. Makin kotor dan kencang diteriakkan, makin kental emosi itu. Entah senang entah sebal. Makanya Kak Dontjeh pernah bilang bahwa misuh itu haram separo-separo. Jika kasar, kasar sekalian. Jika mangkel namun tidak ingin dibilang nggak berpendidikan karena bermulut kotor, diamlah. Telan emosimu dan pendam dalam perut agar terbuang bersama tahi yang akan mengambang di kakus, dibanjur, untuk kemudian masuk ke dalam septikteng. Seperti bangkai yang coba kamu tutup rapat, toh semerbak tahi itu akan tercium juga saat septikteng bocor atau penuh. Bagus jika bau itu hanya mampir di indra penciumanmu. Namun jadi bangsat bagi tetanggamu jika mereka harus menjepit hidung dengan jempol dan telunjuk berbarengan dengan raut mengernyit jijik tiap lewat depan rumahmu. Konon, mangkel yang tertelan itu menambah aroma tahi jadi makin sedap. Haha!

Tapi saya punya salah satu belahan biji yang mengharamkan kata-kata kotor keluar dari bibirnya yang oh-so-sexy-tanpa-pernah-tersentuh-asap-tembakau itu. Buatnya, jika bisa tidak misuh kenapa harus misuh? Yah, saya curiga dia jelmaan Yudistira yang punya darah sewarna tulang saking sabarnya. Pertemuan pertama, kedua, ketiga, dan kesekian kali pun telinga dan wajahnya amat sangat tenang meredam ledakan emosi saya yang naik turun saat bercerita--dan misuh.

Sungguh, misuh itu preferensi masing-masing. Monggo jika nggak suka misuh dan dipisuhi. Silahkan jika kebalikannya. Namun jika pisuhan itu bukan untukmu... NGGAK USAH GE ER DEH, NJING! TAI LU, BABI!

ps. untuk daftar pisuhan yang komprehensif, silahkan klik disini.

Labels:

When Freedom Shut (Ketika Kebebasan Dibungkam)

Posted by The Bitch on 4/11/2008 03:12:00 AM

Hear us, world! Hear us the Indonesians, mourn for our freedom of speech, freedom of expression. Crushed by our own rulers/decision makers who promised to speak out our voices. Based on righteousness hypocrisy, they prevent our eyes to open and see the brutal truth and listen to an egomaniac, self-proclaimed expert in telematics instead--while all he did was just checking porn images from local good-for-nothing celebs and making unquotable quotes.

French peasants had to write their heart-boiling stories down with their blood in the dungeon walls back then, and we blog our cry for help now. Should we get back to the Dark Age while people had walked on the moon--literally--long, long time ago? Should we conduct revolution for the sake of writing some phrases, seeing some footages, accessing some internet sites, making some inter-regional new friends, or simply to tell the world how miserable it is being disabled to eat since our wages could not afford it?

WHERE ARE OUR VOICES, MY DEAR GOVERNMENT?

---------------------------------------------------------

Wahai Dunia, dengarkan kami rakyat Indonesia yang berduka untuk kebebasan kami berpendapat dan bicara. Tertindas oleh para penguasa/pembuat keputusan yang dulu berjanji surga menyuarakan nurani kami. Berkedok kebenaran nan munafik, para yang terhormat menutup paksa mata kami melihat kebenaran pahit dan lebih mendengar seorang egomaniak mengaku ahli telematika--sementara yang dilakukannya hanya meneliti gambar porno seleb lokal tanpa guna dan membuat kutipan tidak layak kutip.

Petani Perancis menulis kisah perjuangan yang membakar semangat dengan darah mereka sendiri pada dinding-dinding penjara bawah tanah, dulu sekali. Kami blog teriakan ini, saat ini. Haruskah kami kembali ke Zaman Kegelapan ketika manusia telah mampu menginjakkan kaki di bulan berpuluh-puluh tahun yang lalu? Haruskah terjadi revolusi hanya untuk menulis, melihat film-film pendek, berkunjung ke situs internet, berkenalan dengan sahabat baru di lain benua, atau hanya untuk mengeluh tidak bisa makan karena upah sedikit?

DIMANA SUARA KAMI, WAHAI PEMERINTAH YANG TERHORMAT?

(this post is made when there is gossip about blocking all internet sites containing controversial footage 'Fitna' from entering Indonesia. multiply, wordpress and blogspot sites could not be accessed at the time this post is written)

Labels:

The Thought of A Dying Lover-at-Heart

Posted by The Bitch on 4/07/2008 02:43:00 PM

As a proud Sagittarian, this bleeding heart would recuperate in no time. Still, I draw the conclusion that maybe I'm no good to any living woman. Perhaps I destined to live alone. Very well, then. Let's be alone, shall we?!
An online friend after 15 fast-paced minutes of whining over the lost love who got another lover.


Ah, sudahlah. I mourn for you, my dear friend. I really do. If only I could pacarin you, we'd be in bed together long, long time ago. With cigarettes in our hands and dreams in our heads, and silence after one, long and hardly ending argumentations. You're my long lost half...


Judul diadaptasi dari sini.

Labels:

Untitled 0.0

Posted by The Bitch on 4/06/2008 03:22:00 AM

Hey, Bodoh.
Saya disini. Saya, yang masih menunggu jendela dengan nama 'asu bajingan' bergoyang saat tersambung ke internet. Terkadang rindu Bandung dan rumah germo kita itu yang riuh tawa penghuni kampung, asap sate, serta cumi bakar (dan Wild World dan Mr. Jay). Atau Warung Indung dengan bercangkir-cangkir Kopi Aroma. Namun saya lebih rindu pada malam di Bunderan dan janji es krim satu liter yang bakal kita habiskan bersama.

Kita masih berteman dan kamu masih soulmate saya. Saya hanya menjauh untuk memberi ruang pada kesayangan barumu agar dia bisa beradaptasi dengan kamu dan lingkaranmu. Kebetulan pilihan saya untuk melacur pada pabrik penghasil topeng di ibukota demi segelintir rupiah membuat saya tidak bisa bergerak belakangan ini. Dan uang yang sedikit itu seperti pasir dalam genggaman, meluncur cepat dari sela jemari saat upah dibagikan. Jadi, maafkan jika saya lupa berkabar karena belum lunas tagihan pasca bayar.

Kamu perlu seseorang untuk dirimu, yang kamu pilih sendiri, dan bukan sekedar teman. Stop berpikir tentang hal besar barang sejenak. Dunia tidak berada di pundakmu untuk jadi bebanmu sendiri. Jesus destined to do that, not you. Nikmati sepoi angin, terik matahari pukul satu, rinai hujan di tengah hari panas, sesayup nyanyian fals pengamen jalanan, klakson Kopata yang berkoar seperti weker milik Spongebob, Ave Maria, nasi kuning, gudeg Wijilan, serta jeda mengajar. Kemudian, berbagilah dengan perempuan itu. Bantu dia untuk mengerti kamu ketika kamu berusaha memahami dia. Kamu perlu itu.

Akhirnya berujung sudah malam-malam panjang argumen ngotot saya tentang mengapa kamu perlu pacar. Gerilyawan dalam dirimu sudah mulai berhuma, meskipun kutukan saya masih sempat melekat. Semoga dia orang yang tepat dalam membantumu menyiapkan ransum saat harus 'ambush' ke kota. Mudah-mudahan kamu menemukan patrun baru darinya dan akan kamu limpahi cinta sebesar kasihmu pada patrun lama. Mas-mas yang terbagi secara geografis? Mungkin salah satunya akan jadi kesayangan saya. Doakan saja. Mudah-mudahan nanti si mas yang malang itu cukup tabah punya seseorang seperti saya yang terobsesi pada kematian muda dan tidak gantung diri sesaat setelah saya dikafankan. Atau jadi pastur dan hidup selibat.

Sungguh, saya akan selalu ada untuk kamu. All you've got to do is buzz or text me. Or simply give me misscalled. I'll call you back. Perlu lebih dari sekedar santet anti cewek gendut untuk mengenyahkan saya dari kehidupanmu. Apalagi cuma pacarmu. Saya juga masih mengklasifikasikan kamu sebagai penasihat penggerutu yang bakal saya cerna sabdanya saat saya harus memilih antara menggunakan intuisi atau rasio. Saya masih perlu kamu untuk melatih kemampuan berpikir dan mengetik cepat saat harus menangkis semburan panah dari jari dan otakmu. Dan kita masih akan saling misuh hingga ajal menjelang *halah!*

Sudah. Tidak usah minta simpati orang lain karena saya berubah. Kamu hanya Si Bodoh Berkepala Batu yang gengsinya nyundul langit. Titik.


ps. you know who you are.

Labels:

Posting Ternajis Sepanjang Sejarah

Posted by The Bitch on 4/01/2008 02:30:00 AM

(Ceritanya sekarang mau lebih reader-friendly buat siapapun yang baca, demit maupun manusia)

Waktu iseng mencermati beberapa posting terakhir, gwa baru nyadar kalo gwa amat sangat bitchy sekali. Lebih drama queen daripada seseorang yang jidatnya gwa stempel pake gelar yang sama tempo hari. Ya gimana nggak, wong mostly gwa ngomongin diri sendiri dan ngeluh-ngeluh menjijikan. Tadinya malah pengen gwa kasih backsound suara orang menangis tersedu-sedu (bunyinya du... du... du...) dan terisak-isak (nggak usah gwa contohin ya. Use your imagination) biar lebih dramatis. Untung gwa nggak tau add-onnya saking amat sangat terlalu gaptek banget. I mean, kadang-kadang mengeluh emang nggak papa sih. Tapi kalo keseringan? Bete juga jadinya. Gwa yang ngetik sendiri aja geuleuh, gimandra yang baca yax?! Bukan begitu, Bokir?

Ya gwa emang moody. Kadang suka enak, seringnya nggak. Dan gebleknya orang sering nggak tau gwa lagi dalam mode apa saking setelan muka gwa emang cengar-cengir bego nggak jelas. Dan karena jari gwa lebih galak daripada mulut, yang paling sering ketimpa makian adalah orang-orang yang gwa sapa lewat ketikan. Nggak tau kenapa rasanya mantep aja misuh pake tuts keyboard ketimbang pake mulut. Lebih... apa ya? Tanpa batas? Ya semacam itu deh.

Nah, karena gwa lagi merenung-renung dangdut di malam hari ini (dan karena file report pabrik topeng ga bisa kebuka juga) akhirnya gwa jadi inget seseorang di Jogja yang belum pernah sekali pun ketemu tapi sering ngobrol di ceting. Anaknya polos, low profile, berusaha nggak subjektif, sederhana, dan amat sangat positif thinking. Nggak pernah sekali pun dia berpikiran jelek ke orang lain. Gwa nggak nangkep itu semua hanya dari ceting. Kebetulan salah satu belahan biji gwa tuh temen kosnya dia. Dan dari belahan biji ini pula gwa kenal anak itu. Sebut aja namanya Jonih, pake 'h' biar mantep (berasa lagi nonton Buser nggak sih, pakek nama samaran gini? Untung gwa ga pake nama Bunga atau Mawar. Ntar jadi korban perkosaan.)

Then, one day, gwa yang amat sangat self-centered dan berasa paling tragis in kerén way sejagad raya ini sok bergaya multitasking: ngerjain laporan pembuatan topeng di hari itu sambil buka sopwer ngobrol. Karena nggak ada satu pun yang menyapa, gwa mulai provokatif pasang status yang mancing komentar. Dan karena gwa amat sangat belagu dan merasa paling pinter sendiri, gwa kasih lah status keminggris. Gotcha! Ada yang nanya. Ya Si Jonih itu. Beruntunlah pertanyaan yang membentuk tesis kemudian dijedotin ke anti-tesis untuk bikin tesis baru menurut pandangan Si Jonih. Mak bedunduk gwa 'tinggi' karena gwa merasa semua pertanyaan dan tesis-tesisnya itu amat sangat nggak penting. Bukan karena nggak menghasilkan ijazah S2 tapi juga sangat annoying. Akhirnya gwa bilang kalo gwa lagi sibuk dan semua ucapannya cuma ngeganggu kerjaan gwa. Ah, shit! Me and my selfish mind... )=

And the result is...
Udah sebulan ini Jonih yang selalu inpisibel karena mesin tik-nya lagi masuk rumah sakit dan selalu onlen dari mesin tik tetangga itu nggak menyapa gwa. Bahkan hanya sekedar manggil nama dan memberi emotikon ala Teletubies. Padahal kerjaannya yang trader forex bikin dia harus onlen minimal dua atau tiga jam sehari. Tadinya gwa pikir 'What the fuck! I could get thousands of people like him!' dengan amat sangat jumawa. Terus gwa mikir lagi berkali-kali, 'Where could I get those thousands while I couldn't even maintain the one whom I knew quite well?'

Very well, then. Ini kali kesekian gwa ditinggal temen setelah ditinggal target yang gwa plot buat jadi pacar gwa di masa depan. Dan semua karena kesalahan gwa. Gwa keilangan temen karena terlalu belagu dan berasa nggak butuh. Punya mantan-calon-pacar kesekian kali juga karena terlalu cuwek dan nggak terlalu nunjukin kalo I'd-be-here-for-you-anytime-anywhere. Mungkin Papanya Dek Air bener. Tuhan nggak lupa koq menciptakan seorang lelaki buat gwa. Tapi entah dia masih idup ato udah jadi tanah, nggak ada yang tau. Dan gwa bener-bener terlalu gengsi buat nunjukin kalo gwa butuh mahluk berpenis juga. Haha! Nadjeeeeeeezzz!!! Curcol abis ginih!!!
(Yah... ngeluh lagi.)

Buwad Jonih... my deepest regret for all the things happened between us. Karena kamu nggak pernah mau ngaku bloger, mungkin kamu bakal denger dari my belahan biji yang amat sangat sering berkunjung dan lurking kesini. Sorry. So fuckin' sorry.

Labels: