"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Forgive Me for I have Sinned

Posted by The Bitch on 3/26/2008 10:33:00 AM

Beberapa percakapan geblek antara saya dan dua orang mas-mas gila:

Seseorang (Se) : Libur panjang kemaren ke Jogja, Pit?
Saya (Sa) : Nggak, di kos aja, nonton anime ampe goblog.
Se : Lho? Biasanya kamu kangen Jogja?
Sa : Iya, tapi kemaren bener-bener bokek belum gajian. Lagian capek gawe. Mending kalo libur bikin Hari Malas-malasan Sedunia
Se : Memutuskan jadi budak kerjaan nih sekarang?
Sa : Masih butuh duit jé, Maz )=
Se : Hah?! Seorang Pito masih butuh duit yang lebih kejam dari rezim Soeharto?!
Sa : Halah! *ngedumel* Kalo nasi bisa dibeli pake idealisme, aku nggak usah kerja, Maz!

Seseorang Lain (SL) : Aku sebenernya males masuk. Kalo nggak janjian ama klien juga aku nggak masuk nih.
Saya (Sa) : Lha kenapa males?
SL : Bosen di kantor terus. Pusing.
Sa : Enak ya jadi pegawai negri, bisa bolos. Aku sih kadang ampe jam 3 pagi baru pulang.
SL : Yah... kasian banget. Kamu diperbudak kerjaan itu namanya.
Sa : Saling memperbudak kok, Maz. Aku juga abusive sama jam kerja, ngumpetin torrent buat nyolong bandwith pabrik. Makanya Bleach-ku selalu update, manga dan animenya *nyengir*
SL : Ya tetep aja. Bosmu nggak protes? Atau kamu nguber duit lemburan?
Sa : Yeah, rite. Mana pernah pabrikku mikir lembur?! Wong semua kontraknya per project. Mandorku yo nggak ngerti torrent. ITnya juga out source, temennya salah satu mandorku. Datengnya seminggu dua kali. Udah gitu klemar-klemer. Tak macak preman aja, tak bilangin kalo maintenance perabotanku jangan berani-berani dia buang satu file-pun atau dia tak gebukin. Haha!
SL : Owalah, kejemnya. Tapi mosok nggak bosen to kamu di pabrik terus?
Sa : Ya makanya ampe jam 3 pagi itu sebenernya demi download, bukan mburuh!

Saya memang akhirnya harus kembali ke Jakarta setelah ngéngér di pertapaan Jogja. Kata salah satu belahan biji saya ini, percuma jika ilmu bertahan hidup yang sudah saya dapat tidak terbukti dan teruji di Padang Kurusetra berselubung ibukota.

Seumur-umur, saya cari duit secara solo. Nggak pernah kerja tim. Dalam satu kelompok pun saya sendirian karena saya hanya jadi tenaga cadangan ketika pekerja asli harus layat neneknya di luar kota. Tanggung jawab saya langsung ke pelanggan, bukan mandor atau rekan sekerja. Jadi, nggak pernah tau yang namanya hirarki organisasi. Atasan saya langsung adalah orang yang menggunakan jasa saya sebagai penterjemah ecek-ecek (yang bahkan pernah dibayar dengan sebungkus rokok) maupun korektor struktur bahasa. Bukan leader, supervisor, manager, atau managing director. Workflow saya sederhana. Ada kerjaan, saya makan. Nggak ada kerjaan, saya bengong atau jalan-jalan pake kaki. Sagan-Malioboro-Sagan adalah trayek saya puluhan kali jika menganggur.

Saat saya memutuskan kembali ke Jakarta dan bekerja dalam satu kelompok, saya hanya tahan sebulan karena leader saya mutung. Meskipun saya berperan sebagai Tuhan dalam kehidupan seorang Dewi Berisik, saya nggak bisa jilat pantat sang leader dengan baik dan benar. Bapak ganteng itu, yang datang ke pabrik sekali sore dalam seminggu, merasa tersinggung karena saya hanya teronggok di sudut. Lusuh, kucel, belum mandi, sambil mata tak lepas dari Eragon, Harry Potter, dan kumpulan cerpen Hemingway. Apalagi adiknya pernah saya bentak. Saya pun harus hengkang karena supervisor saya, yang meringis menahan sakit lambung dadakan, akhirnya mengatakan bahwa saya dipecat. Alasannya? Pak Leader udah nggak punya chemistry sama saya. Yeah, rite.

Kemudian saya terdampar di pabrik topeng dimana sehari-hari saya harus memoles citra produk-produk korporasi raksasa agar layak mendapat peringkat terbaik menurut IDC--entah apa kepanjangannya-- atau Gartner. Disini sungguh ilmu survival saya sangat teruji. Saya harus terjebak lagi dalam urusan jilat-menjilat pantat. Untungnya saya dipaksa untuk betul-betul mengerti apa yang saya kerjakan, jadi mandor saya pun nggak banyak ngomel jika saya salah. Karena dia juga sering nggak tau kesalahan saya dimana. Dan nggak ada yang berani 'nyolek' saya karena saya hanya minta ditinggal sendirian. Asik, kan!

Saya tidak bekerja karena uang. Saya bekerja demi pembuktian. Bahwa saya yang Dancing Out ini bisa nongkrong di pabrik kerah putih. Bahwa saya yang sering bersandal jepit ke pabrik ternyata juga diperlukan mbak-mbak dan mas-mas kinclong beraroma Body Shop dan Bvlgari. Selama saya kelihatan bekerja, maka ibu saya nggak pusing mikir anak gadisnya yang bisanya cuma cuap-cuap hingga berbusa dan mengurung diri di kamar sebagai perawan tua. Dan keluarga besar saya pun akan ayem-tentrem melihat cucu dan keponakannya mampu menyumpal telinga mereka dengan cerita menyenangkan dari pabrik saya yang mirip taman bermain itu.

Dulu, saya masih naif. Saya sangat respek pada mereka yang memberi saya upah. Seperti anjing penjaga yang ekornya bergoyang riang diberi rentetan sosis babi, itulah saya tiap gajian. Pemberi sosis babi itu akan saya tatap dengan respek dan rasa terimakasih yang luar biasa besar--bahkan sayang. Tapi berbagai kejadian yang saya alami membuat saya harus licik seperti Dorna. Dan akhirnya saya memiliki mindset pedagang: Lo jual, gwa beli. Atau makelar: Lo bayar gwa berapa, gwa kasih yang harga segitu. Atau pelacur: Setia sama duit, bukan yang ngasih duit. Dan hidup memang lebih mudah dijalani dengan cara seperti itu...

Labels:

Me and My Narcissist Mind

Posted by The Bitch on 3/22/2008 08:48:00 PM

Should I be guillotined for each abominable book I read and for every single phrase I typed, then my head would roll merrily into the basket thousands of times
The Quills adalah bukti pernyataan saya. Ya, ya, ya. Saya OOT, baru tau ada film judulnya The Quills yang bercerita tentang Marquis de Sade. Yes, *that* Marquis de Sade, si bangsawan fucked up yang hobi nulis pornografi sebagai pelepas rasa kesepian (dan kegilaan?).

Buat saya, membaca, menulis dan nonton adalah pembebasan; dari kesepian, kesedihan, kegilaan, perasaan tertinggal, keterbatasan, kebodohan, apapun. Saya sangat tidak suka disebut hip atau keren atau melék karena buku yang saya baca atau film yang saya tonton, sebab saya sering OOT dan nggak ikut trend. Buku yang saya baca dan flm yang saya tonton nggak sebanyak manusia ini--orang yang lebih sering nulis daripada berak. Namun saya percaya bahwa buku dan film memilih saya, bukan kebalikannya. Karena apa yang saya saring melalui kelima panca indera saya adalah cara alam bekerja menunjukkan sesuatu dengan segala kemisteriusannya.

Namun apa jadinya jika cara tersebut tidak sesuai dengan norma dan etika orang kebanyakan? Bersalahkah saya? Buat saya pribadi, mungkin tidak. Buat orangtua saya, mereka tidak pernah melarang meski kadang ucapan dan materi yang saya baca membuat alis mereka bertaut. Ya, saya suka nonton Shortbus karena seksualitas yang ditampilkan amat sangat vulgar dan jadi hal yang lebih penting dari makan tiga kali sehari. Saya punya buku berjudul Porno tentang orang Inggris gila yang setengah mati bikin usaha bordil. Seseorang memberi saya manual bagaimana menulis Erotica yang baik dan benar. Saya suka membuat lelaki berjengit dengan bahasa dan istilah yang saya gunakan. Akankah saya gunakan itu semua dalam hidup saya? Mungkin. Akankah saya paksakan kesukaan saya pada mbak-mbak berjilbab yang rajin tahajud dan mengaji di sebelah kamar saya? Tidak.

Sebagaimana Marquis de Sade berargumen bahwa manusia berhak memilih apa yang dia ingin tulis, saya pun begitu. Tapi ketika orang terpengaruh karena apa yang saya tulis... saya takut. Takut menjadi bad role model; takut ditiru dengan salah; takut banyak orang menjadi saya. Saya bukan siapa-siapa. Hanya cewek gembrot yang sering lari dari kenyataan dengan mengurung diri di kamar sempit-pengap-berantakan bersama puluhan film dan buku dan laptop kuno dengan bau asap rokok dan ampas kopi mengambang di udara hingga adzan subuh berkumandang.

Still... it's your choice, dear Reader, to read every impure story that I live to write. Ketika saya memutuskan mem-broadcast karat-karat yang ada di benak, saat itulah saya membebaskanmu memilih apa yang kamu ingin cerap di pikiran dan hatimu.

Dan sungguh saya beruntung hidup di era internet, dimana membaca Karl Marx tidak membuat saya dibuang ke Buru...

Labels:

Jilbab, Anyone?

Posted by The Bitch on 3/20/2008 09:05:00 PM

Suatu siang, sambil makan, mandor saya yang lelaki metroseksual itu memberi pernyataan yang bikin alis saya bertaut:
"Hari gini banyak ya perempuan berjilbab yang ngerokok di public area. Bete deh gwa."

Dan saya, yang khatam sama bahasan perempuan dan jilbab sedari saya ngéngér di kawah Candradimuka berbentuk rumah kos di Sagan 844, menjelaskan bagaimana jilbab sekarang hanya menjadi mode karena perempuan terlihat lebih manis dengan hanya wajah yang tampak (lengkap dengan gundukan-gundukan yang membengkak di tempat-tempat yang tepat, tentu). Saya nggak habis pikir dengan pernyataannya. Ya, saya melakukan hal bodoh ketika dia membuat pernyataan itu: saya berasumsi. Bahwa lelaki muda profesional, yang mengoles masker wajah secara berkala; yang merasa dunianya berakhir ketika dia menemukan satu jerawat di hidung; yang perabot perawatan tubuhnya jauh lebih banyak daripada yang nangkring di meja saya; ternyata masih peduli dengan pakaian dan ekspektasi di belakangnya. Kayaknya emang saya yang goblok, mengharap seorang pekerja bidang humas untuk tidak berasumsi.

Masalah penutup kepala ini menghantam saya jauh sebelumnya, dua tahun pertama saya bertapa di Jogja. Dulu saya percaya bahwa perempuan-perempuan yang berani menutup auratnya sesuai ketentuan agama adalah mereka yang tiap langkah menguar aroma surga. Obrolan sore saya bersama om-om dandy, di sebuah beranda warnet tempat saya bekerja dulu, membuka kunci pada istilah 'jilbab erotis'. Dengan songong, si om-om itu--yang kuliah S2 di UGM-nya dibiayai oleh negara dan kerjanya hanya dugem sana-sini tiap malam--berkata bahwa jilbab tidak lagi profan. Sering dia dapati mbak-mbak yang 'bau surga' itu melekat ketat layaknya tas ransel di boncengan mas-mas yang bukan muhrimnya, dengan kaos kecil lucu memeluk tubuh sintal dan celana hipster melorot membebaskan beberapa senti celengan babi untuk dilihat orang dari belakang. Dan mbak-mbak seperti ini yang membuat saya iseng mengantongi beberapa kerikil untuk latihan menembak tiap saya dibonceng seseorang dengan sepeda motor. Ya, saya memang nakal. Dari lima orang yang celengannya saya lempar kerikil, 3 diantaranya masuk dengan sukses.

Menurut salah satu 'abang jadi-jadian' yang setahun lalu berhasil menikahi perempuan berjilbab yang saya dapuk sebagai mpok saya, jilbab itu awal mulanya dari revolusi tahun '84. Orang Indonesia yang latah kemudian meniru penutup kepala yang dikenakan mbak-mbak Iran yang mereka lihat di TVRI ketika mereka berontak pada tradisi Syi'ah. Dan jilbab memang bukan temuan orang sini karena Ibu Fatmawati, penjahit bendera merah-putih pertama itu, mengenakan kebaya--pakaian nasional yang ketat dan bermaksud bikin perempuan jadi seksi dan anggun dengan membuat mereka sesak nggak bisa napas--bersama kerudung, komplit dengan sanggul segede tampah. Bukan jilbab.

Saya jadi ingat sepupu teman kos saya yang saya kenal jauh sebelum dia jadi mahasiswi UGM jurusan Geografi. SMA-nya dihabiskan di sebuah sekolah favorit di Jakarta. Meskipun ingin terlihat trendi dengan nonton AADC dan ikut goyang di Festival Jazz Kampus, dia kaffah dengan jilbab lebarnya yang menutup hingga ke dada. Hingga suatu hari saya dapati dia di sebuah kafe, dengan contact lens warna coklat, kaos ketat hitam, dekker panjang hingga pergelangan tangan... dan Djarum Black Capuccino di tangan kanan. Caranya menyulut rokok amat sangat jago, nggak seperti saya yang bertahun-tahun jadi perokok tapi sering gagal bakar di kali pertama korek dinyalakan. Dan layaknya tim Inkuisisi yang merasa benar menghakimi tiap Katolik bid'ah, saya cabut rokok dari bibirnya dan saya tarik pulang dia. "Kamu malu-maluin. Kemarin dengan bangga kamu cerita bahwa kamu mabuk di tempat ajeb-ajeb. Sekarang kamu merokok di tempat umum kayak gini. You better take that stupid fuckin' jilbab off your head, my dear friend," ujar saya dingin. Dan dia mengkeret mengingat saya adalah salah satu 'sesepuh' di tempat kos dan ikut saya pulang sambil menunduk.

Kemudian saya kenal simbok ini, perempuan tigapuluhan mapan dengan dua orang putra dari satu suami funky. Ya, dia berjilbab dan merokok dimana-mana. Hidupnya ayem, karena sepertinya dia tidak pusing mikirin mau makan apa anak dan suaminya besok karena uang belanja yang tidak pernah cukup. Asal modem nancep di laptop dan dia bisa online, maka dunia berjalan baik-baik saja baginya--ditemani kopi pahit dan sebungkus rokok, tentu. Di rumah, di restoran, di kafe. Kumpul ataupun sendiri. Dan dia tidak peduli orang mau bilang apa demi melihatnya tertutup jilbab dan merokok. Dia tidak melakukannya untuk gaya, tapi murni kebutuhan.

Namun yang membuat saya 'agak' terganggu adalah ketika Pak Mandor Metroseksual saya itu berkata bahwa perempuan-perempuan muda berjilbab yang merokok di Atrium Senen tempo hari adalah pelacur, sebab daerah itu adalah tempat cowok-cowok Arab 'berpetualang'. So fuckin' what?! Di Mesir dan Jazirah Arab pun pelacur mengenakan burka, seprai yang membungkus seluruh tubuh mirip yang dikenakan bajingan-bajingan putih Klu Klux Klan yang demen bakar-bakar orang kulit hitam. Perhaps he needs to take another class of Economy 101 untuk tahu dimana demand dan supply berjalan beriringan.

Thus, bear in mind, Milord. Jilbab adalah mode, fashion, dimana less is more, sebagaimana prinsip kesederhanaan yang diagungkan para arsitek muda masa kini. To hell dengan 'memanjangkan kain hingga ke dada dan tidak menonjolkan bagian-bagian tubuh'. Mungkin sebagaimana Ulil Absar Abdalla, yang darahnya dihalalkan beberapa kelompok Islam garis keras, Qur'an bebas diinterpretasikan seenak udel mereka. "Yang penting ada usaha untuk ke'sana'," sanggah mbak-mbak itu, setelah nikmat menyedot asap nikotin sambil bergayut mesra di salah satu lengan brondong yang dia temui di mall. (Kalimat terakhir adalah imajinasi liar saya yang mirip novel kacangan Abdullah Harahap.)

Labels:

Point Taken, Thanks

Posted by The Bitch on 3/18/2008 05:54:00 PM

Here is The Jakarta Post Weekender March edition that I read while sitting on my throne:
























Yo, Om Adrian! You rawk!
*jik ngguyu kemekelen*

Labels:

My Times with the Bajingans

Posted by The Bitch on 3/14/2008 03:26:00 AM

Di sebuah warung tenda pinggir jalan, dinihari.

Gwa (G): Nyet, siniin lighter-nya. I wanna smoke. Empat hari nih bebas asep.
Bajingan1 (B1): Katanya mo pulang? Muka lu udah kusut tuh kayak cucian kotor. Mata ama idung merah, beraer, keringetan gitu, masih mo ngerokok?
G: Ya tapi kan sebatang aja, baru abis itu pulang
B1: Pulang sekarang aja kenapa? Udah jam 2 nih.
G: Sebatanggg aja. Sakaw... lighter gwa manaaaaaaa?!
B1: (Ngeloyor gitu aja ke tempat parkir sepatu tanpa ba-bi-bu)
G: Monyong! Itu lighter dikasih orang, Kampret! (Tendang backpack B1 ke luar tenda)
B1: Heh! Tas gwa! Itu lagian angkotnya udah dateng... katanya mo naek angkot
G: (Narik kaos B1 ke arah angkot) Lighter gwa! Mana lighter gwa!!!
B1: (Sambil jengkelitan berusaha lepas) Di meja, tadi gwa tinggal.
G: BO'ONG! Gwa liat di meja tadi ngga ada!
B1: Ya lu periksa aja lagi kalo ga percaya!

Sementara itu tukang angkot udah kesel nunggu. Klakson ditekan berkali-kali sampe bikin senewen. B1 ngibrit nyebrang jalan karena perhatian gwa terpecah antara ngecek meja, melototin tukang angkot, atau buru-buru naek. Akhirnya opsi ketiga diambil. Dan dari jendela angkot yang terbuka lebar, tertuju pada bangsat botak yang berlari-lari macam tuyul di seberang jalan, gwa teriakkan keras-keras sebaris ucapan mesra penuh dendam membara dengan sisa suara di tenggorok: "Fuck you, asshole!" dan dibalas dengan acungan jari tengah.

Setengah jam kemudian, sesampai di kandang babi yang mirip kamar, ada sandek masuk ke ponsel gwa.
Lightr blk klo lu dah g batuk2lg.Krn lightr fav lu gada,stidaknya lu bkl mikir klo mo ngrokok.Tidur!Bdn lo dksh istirahat tu!
Yak. Anda benarrrr!!! Dari si B1 terkutuk itu. Karena capek tarik-tarikan dan sebel-sebelan, yah... gwa tidur deh. Satu setengah jam sesudahnya. Hehe.

Nggak sampe 24 jam kemudian, besoknya, siang-siang, terjadilah konversesyen sebagai berikut melalui perabot ceting (PC):

Bajingan2 (B2): Udah sembuh, Pid?
Gwa (G): Disembuh-sembuhin. Pagi-pagi ditelpon emak mandor. Denger suaranya aja gwa udah otomatis merasa harus masuk.
B2: Ooo... lagi jadi babu dunk nih?! Huahahahaha!!!
G: Cuk!

Dan beberapa jam kemudian...

B2: Blom pulang apa udah pingsan dari tadi?
G: Masih. Banyak gawean banged ni hari di pabrik. Lagian tadi sempet eek juga koq lama.
B2: Yakin eek apa batuk dari pantad lu?

Belum sempat gwa jawab, mak bedunduk Korn tereak-tereak dari ponsel gwa. B2 is calling, katanya. Dan begitu gwa jawab, "Yoh..."

B2: Yak. Masih sakit. Gwa telpon cuma pen denger suara lo serak apa nggak.
G: Emang napa?
B2: Nggak, ga papa. Yawdah sana kelarin dulu gaweannya.
G: Ntar dulu... lu ntar ada ga? Mo gwa bawain kue ni. Banyak banget, mandor-mandor abis ada acara tadi.
B2: Oh, abisin aja. Bentar lagi gwa ama anak-anak mo keluar koq, mo nongkrong.
G: (Semangat) Asiiiiik! Ikuuuuuuuuuuuuut!!!
B2: Enak aja! Suara udah sekarat gitu! Nggak boleh! Pulang aja sana, tidur cepet.
G: (Mulai merengek) Yaaa... bole dunk... ikut dunk... Udah sembuh koq. Bener deh!
B2: (Ketawa ngenyek) Mo bo'ong ama gwa. Ga kena! Pokoknya pulang, nggak usah ikut.
G: (Merajuk) Eh, ef way ai ye, semalem elu nge-grounded gwa juga ga mempan. Gwa nongkrong ama B1 ampe jam 2.
B2: Nggak ngurus. Yang penting bukan ama gwa. Gwa kan udah bilang kalo lo ga boleh dulu kena angin malem, jangan nongkrong dulu, sembuh dulu.
G: I hate you.
B2: Bodo. Gwa mo boker. Daaahhh...
Mbak Tutut: Tuuut... Tuuut... Tuuut...

Moral of the story: Jangan pernah deket-deket bajingan. They won't let you to have fun. Trust me.

[I love you more lah, Njing! Gwa yakin kalo besok kita ketemu betiga lagi, kalian pasti bakal tos dengan amat sangat bahagianya di atas penderitaan gwa. Bangsat emang kalian!]

Labels:

Movie Time!

Posted by The Bitch on 3/08/2008 06:34:00 PM

Di sela kesibukan saya yang sedang ikut menyepi di kamar, berteman mesin tik kelurahan nan butut bernama Dino, saya nikmati alunan nada klasik dari film Jerman berjudul Vitus: seorang anak luar biasa jenius yang jago piano, licik on good purpose, encer menjungkirbalikkan bursa saham, jatuh cinta pada babysitternya yang jauh lebih tua, namun berusaha keras jadi bocah normal.

Ibunya, Hellen, mencium bakat nggak umum yang dipunyai putranya ketika dia berulang tahun ke lima. Dalam hitungan detik, dimainkannya lagu 'Happy Birthday'--tanpa cela--pada piano mainan hadiah dari seseorang. Usia enam, setelah setengah tahun belajar pada guru piano biasa, Vitus ngéngér pada seorang profesor konservatorium yang berkata bahwa semua pianis kampiun yang terdeteksi di usia dini disebut wunderkind (or wonderkid in English). Usia dua belas Vitus mempermalukan guru-guru SMA di sekolahnya karena intelejensinya jauh di atas mereka. Gurunya menawarkan agar Vitus ke sekolah anak-anak berbakat alih-alih bergabung di SMA. Ayahnya yang insinyur menyarankan langsung ikut UMPTN dan pada usia tiga belas nanti dia sudah jadi mahasiswa fakultas teknik. Kedekatannya dengan sang kakek, Dr. Wolf, membuat kegalauannya tercurah karena Vitus lelah jadi luarbiasa. Visualisasi yang sangat indah ketika bapak sepuh yang doyan bikin macem-macem dari kayu itu berjalan beriringan bersama cucu semata wayang berlatar belakang pepohonan agak meranggas. Di bawah payung hitam dan langit kelabu, disela gerimis halus, beliau melempar topi kesayangannya jauh ke seberang danau. Vitus keheranan. Setelah itu, menurut subtitle berbahasa Inggris yang saya baca, si kakek berkata, "If you can't decide, you have to part with things you like".

Jadilah. Vitus menerjemahkannya menjadi playing dumb. Dibuatnya sandiwara terbang di satu malam berhujan menggunakan sayap kelelawar yang dulu dibuat kakeknya ketika dia masih umur lima. Sang ibu, yang menemukan Vitus telentang di bawah jendela kamarnya di lantai sekian, jadi teramat sedih dan gagal karena wunderkind-nya jadi normal. Padahal Vitus menipu semua orang, bahkan kakeknya sendiri, hanya agar dia dianggap normal. Harapan jadi kenyataan. Vitus kembali bersekolah di SD dimana dia berkumpul bersama anak seusianya. Bersepeda, berkalung tutup bir, dan belajar dimana letak Sungai Nil. Normal.

Sifat pendiam namun sangat ngeh pada sekitar membuatnya paham bahwa Leo, ayahnya, akan dipecat akibat nepotisme yang kental. Alih-alih mewariskan tahta kepemimpinan pada ayah Vitus, orang yang pernah mengangkat perusahaan itu dari kebangkrutan, Pak Direktur melengserkannya pada putra mahkota. Disini otak licik Vitus bekerja. Meminjam nama, tabungan dan semua harta kakeknya, Vitus bermain di bursa online. Dan... berhasil, dengan keuntungan 1000%. Tidak hanya untuk membantu orangtuanya, tapi uang itu juga membuat hasrat terbang sang kakek terlaksana dengan membeli simulator, lalu memiliki PC-6 sendiri. Vitus pun menyewa ruang kantor untuk Dr. Wolf Holding yang dia bayar penuh setahun sebagai sanctuary tempat sebuah piano grandmaster, satu set audio system, gantungan pakaian dan CD musik klasik berumah--beralas karpet empuk seperlunya. Disini sisi wunderkind Vitus berlabuh, menuangkan segala bakatnya dalam memainkan kepingan ebony and ivory sembari bekerja guna membeli perusahaan ayahnya sendiri. You know what? Vitus bahkan menggunakan mesin tik kelurahan yang sama dengan saya!

Akhirnya Vitus memang jadi bintang di sebuah konser diiringi violist, conductor, dan pemain instrumen lainnya yang rata-rata sudah beruban. Orangtuanya menangis haru. Mantan babysitter yang pernah menolak cincin berlian darinya memberi buket bunga pada Vitus sang Maestro. Akhir yang indah, teriring standing ovation para penonton konser dan para pemain instrumen untuk Vitus seorang, lalu kamera zoomed-out dengan tulisan 'Ende' di tengah layar monitor saya.

Sungguh, cerita indah dengan akhir yang indah dan sangat update ironinya hingga ke Indonesia--negara yang tidak tecantum dalam daftar pasar bursa yang dipegang Vitus (hanya ada Malaysia di korannya). Hellen sangat khawatir ketika putranya ikut bekerja bersama kakeknya menggergaji kayu, takut tangannya kenapa-kenapa dan tidak bisa main piano lagi. Hellen juga kecewa demi mengetahui tingkat intelejensi putranya jadi senormal anak biasa. Sebangun, sebentuk, dan paralel dengan para ibu-ibu di Jakarta yang membuat waktu bermain anak-anak mereka sangat berkurang dengan les piano, les balet, dan les-les lainnya. Namun Vitus masih bersyukur memiliki kecerdasan ngakali orangtuanya.

Dari dulu, ketika teman sebaya saya berjuang mati-matian ikut kelas sepulang sekolah, saya hanya membaca komik atau mengasuh adik, bersepeda di luar atau main petak umpet dengan anak-anak yang tidak ikut les. Akhir pekan saya selalu plesir bareng Babab atau Ibu, meskipun hanya ke Stasiun Gambir melihat kereta datang dan pergi atau berlarian di lapangan rumput Monas. Usia lima, saya dilepas sendiri ketika ibu berbelanja atau kami berkunjung ke PRJ. Pesan beliau hanya satu: jika saya sudah bosan dan ingin kembali, hubungi bagian informasi (yang ada mbak-mbak atau mas-mas bermikrofon) dan minta mereka mengumumkan tentang bocah yang mencari Ibu Yunita Anggraini dari Depok.

Melihat Vitus dan bocah-bocah kecil sepuluh tahun belakangan ini, saya merasa beruntung jadi kere dan tidak jenius.

Labels:

So Fuckin' Sorry

Posted by The Bitch on 3/08/2008 04:33:00 AM

Hold your tongues, Earthlings. From now on I'd be silent and treat you merely as guests in my playground. I'm kinda tired of being nice. Aw, stop pouting and stop being a spoiled brat! And fuck you very much for the attentions. I don't deserve those flashy words. Do that to other cyberians, not me. I've had enough.



*melirik syotboks yang isinya cuma pujian basi lalu menghela nafas sedih*

Labels: