"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Disclaimer, Anyone?

Posted by The Bitch on 2/29/2008 06:21:00 PM

Maafkan jika saya mengantui hidupmu yang nyaman tak tersentuh. Maafkan jika kamu ingin misuhi saya karena apa yang ada disini. Maafkan jika kamu tidak bisa orgasme spesifik di tempat ini. Kamu hanya orang yang berdiri di luar lingkaran. Ini ruang saya. Dunia saya. Dan saya bukan siapa-siapa. Jadi, nggak usah lah susah-susah ingin berteman. Saya cuma bikin kepala kamu pening nantinya. Saya banyak mengeluh, banyak mikir yang nggak penting, bersumbu sangat pendek, sering bengong, agak autis, dan rada agoraphobic. Oh, saya juga arogan.

Saya nggak se-tough yang kamu pikirkan. Saya nggak berani masuk ke lift sendirian hanya untuk ke lantai tiga yang lamanya nggak sampe satu menit, karena saya merasa ke empat dinding logam itu semakin menyempit tiap detik. Saya nggak berani jalan di lorong sendirian lepas tengah malam karena saya selalu merasa dikuntit dan dipelototi para tak kasat mata meski terang seperti siang. Saya cuma berlagak pintar dengan mengutip sana-sini karena kebetulan banyak teman saya yang berotak cemerlang dan doyan cerita. Saya si gembrot berkepribadian ganda, dan perempuan kurus di dalam diri saya selalu mendesak ingin keluar.

Saya mbok-mbok penjual gudeg yang kamu temui setiap saat di emper Stasiun Lempuyangan. Saya orang yang melintas di depan toko sepatu berharga jutaan. Saya orang ke tiga ribu tujuh ratus empat puluh delapan yang lewat di tikungan itu. Saya yang pernah makan mie ayam di warung depan. Saya yang dibuntuti satpam di Gramedia karena membaca terlalu lama.

Saya hanya orang biasa, merasa diri istimewa, dan berusaha setengah mampus untuk jadi spesial. Saya bukan siapa-siapa, sebenarnya. Sungguh, kamu adalah orang yang lebih bodoh jika terkuple-kuple karena saya.


teruntuk seseorang yang hanya ingin dipanggil tiga huruf.

Labels:

This is A Hate Post

Posted by The Bitch on 2/29/2008 03:50:00 AM

Yes, for most people, I am a bitch. A person that you could never get close to, a two-legged creature that speaks the same language yet you'll never understand, a body that emits unbearable heat pronounce as 'Dangerous: I Bite'. For the whole of my godamned fuckin' life, I knew this all along.

Yes, I shouldn't have to shout to your ears just to get some attention from you about which parts of conversation you could utter and which one I forbid because you already know. You, that someone whom I call a friend of mine, someone who ask me to listen, someone who sit next to me with hands around my shoulders like old pals, someone who smilingly points his finger at me and say 'best friends'. But you just did it the other way around. I just couldn't fuckin' believe it.

Yes, I don't like her for the unexplainable reasons I keep for myself. It's just we're not made of the same materials. Yes, I have issues around relationship and have enough of it. Thus, I want to keep and seek as many people as I could lay my hands upon and hold on to some of them. And that's why I never show my dislike or I'd be exiled. She's everybody's favorite person, for fuckin's sake! And who the fuck am I to complain? I'm just a loud, grumpy, old, hag who posts hatred and curses and longing and put a happy, pleasant mask with--hopefully--big, killing smile on my deformed face. As I believe nobody has the rights to judge anybody, here I am, stamping her forehead with a big, red, letter A for Annoyance--feeling-based reasoning. I don't have any obligation to be nice to everybody and vice versa. I'm free to like and dislike people as people have their own freedom to hate or love me. Therefore, never ask me why I don't like you, my dear little lady. Sometimes it comes together with what socalled attitude. Mine and yours.

Yes, you may call it jealousy. It's an ugly, green monster in your closet; not among lovers, but us, women. Sometimes we can only think with our tits, not with our brains since some of us don't have the privilege of having one. Before your face, my dear, I daresay I've been blessed with both tits and brain but never with look. Try to look for your picture in the dictionary sometimes. Just for fun. And you'll find one under the entry of Drama Queen. Well, you can't always get what you want in one fuckin' package, can you? You do, perhaps, if the universe evolves around you. Too bad it doesn't.

Yes, my lovely ex-friend. It's time for me to be back to my old habit: wickedly nasty. I can't trust you. You failed to get it and I don't have enough respect to keep you as a friend no more. I'm through. I'm going to stop asking how are you doing, quit being a nice sista, hold my tongue, plug my ears, cross my hands and hold my head high. You go your own, I'll go mine. If sometimes we cross paths, I'll say hello. If you lost your way, I will sympathetically sigh and say: there goes another misled young gentleman, juts like any other. And that's it. No follow-up's. I'll lay back and enjoy the show. You make the scene and I watch. Fair enough.

Hey, don't bother to explain. It's not your fault. You did that based on 'love' wrapped around the core entitled 'pride'. You've got to win her heart, I understand that, whatever it cost. Even selling your own mother, I presume. I knew this thing would come one of these days. It was written all over your face, yet, I was trying to have faith in you out of my scarce benevolence. I guess I'm not suitable to become a Jesus-like lady who will give her left cheek after the right one was slapped. I slapped back. Haha!

Shit! It's been days and this fury hasn't subsided. Gotta go to Anger Management class, I guess. Jancuk!

ps. Yes, this post is about you and you. You both suck. Big time.

Labels:

About Sexuality

Posted by The Bitch on 2/24/2008 08:20:00 AM

Teman perempuan saya punya phobia terhadap penis. Bentuknya menyeramkan, katanya. Bikin ngilu. Visualisasinya mengenai penembusan hymen adalah teror tiada akhir teriring sakit seperti disilet karena 'barang' seperti itu harus menerabas liangnya yang imut. Saya nggak tau penjabarannya tentang silet itu setelah dia sering mendengar Genjer-genjer yang sering saya setel di pabrik atau bukan. Saya hanya ketawa dan mengingatkan bahwa dari liang imut itulah lima anaknya nanti--ini adalah doa berkedok kutukan--akan lahir dengan diameter kepala sepuluh senti. Saya juga mencuci otaknya tentang bagaimana lelaki dan perempuan bersenggama melalui anime dan manga berkategori ecchi (Futari Ecchi rawks!). Dan menurut saya penyatuan dua tubuh menjadi satu jiwa melalui persebadanan yang didasari cinta adalah hal terindah dan paling alami. Entah itu lelaki-perempuan, lelaki-lelaki, maupun perempuan-perempuan (dan saya paling nggak terima dibilang indah jika yang berpasangan adalah perempuan-kuda/anjing, perempuan-bonggol jagung/wortel/terong/vibrator, maupun lelaki-tangannya sendiri).

Buat saya pribadi seksualitas bukan masalah tabu. Dan usaha saya mengkampanyekan hal ini malah sering jadi bumerang. Rekan mburuh saya selalu bilang saya saru, bahwa otak saya nggak jauh dari selangkangan, dan saya sering dicap binal dan jalang. Persetan. Menurut ibu saya pendidikan seks harus diajarkan dari kecil biar anak-anak nggak salah langkah ketika mereka remaja. Dan dari tiga orang perempuan, saya satu-satunya 'duta' dari kompleks perumahan saya yang pulang dari Jogja tidak dalam keadaan hamil diluar nikah. Padahal kedua teman saya itu termasuk anak baik-baik dan lurus dan saya yang paling sering dicibir tetangga karena sering nongkrong bareng teman-teman lelaki hingga hampir dinihari.

Saya selalu percaya responsible freedom of speech, karena itu blog ini ada. Dan yang harus dilenyapkan bukanlah mbak-mbak pemakai tanktop yang pamer kaki jenjang, tapi prasangka dan pikiran jorok. Shoot the message, not the messenger. Mbak-mbak juga nggak bisa menyalahkan para mas-mas yang tatapannya lapar menelanjangi ujung rambut hingga ujung kaki jika kalian berkeliaran di pasar atau terminal hanya dengan singlet ketat dan celana super mini. You carry out the message that the bare flesh is free for everybody to look at.

Namun, sejalang-jalangnya saya, saya risih melihat lelaki-perempuan berangkulan rapat di terminal Blok M sambil menunggu bis, karena bagi saya hal seperti itu terlalu pribadi untuk diumbar. Rasanya seperti mengambil hak orang untuk berprivasi. Mungkin lain halnya jika saya tinggal di luar negeri dimana tidak ada norma agama namun kemanusiaan dan etika entah kenapa tinggi sekali. Tragis.

Yah, sudahlah. Ini cuma ketikan iseng saya menanti kantuk yang tak kunjung datang pada Minggu pagi hari ke dua puluh empat pukul tujuh lewat lima. Shit!


ps. hey, kamu yang cacat jongkok! sekarang kamu tau kan kenapa saya ancur?

Labels:

The Iron Hearted Mid Maiden

Posted by The Bitch on 2/23/2008 03:56:00 AM

Saya ngga bisa bergaul akrab dengan orang kaya, sebaik apapun mereka. Padahal saya percaya manusia adalah sama. Nggak, saya nggak benci mereka. Meskipun jumlah jari di sebelah tangan nggak genap mewakili teman-teman saya yang berpunya, mereka dekat dengan saya. Karena merekalah--setelah bertahun-tahun memendam murka pada yang hidup berkelimpahan--akhirnya saya sadar bahwa garis mereka yang mengharuskan seperti itu sementara yang lain miskin. As simple as that, yet, as hard to understand.

Memang saya serba nanggung. Untuk disebut miskin, saya cukup sandang-pangan-papan (dan tembakau). Malah sekali-sekali bisa belanja lebih dari yang saya butuhkan. Atau nongkrong di kafe sambil bengong meskipun saya lebih suka jadi amateur self-bariste di kos, menyeduh kopi jagung yang dibawanya untuk menemani malam yang sering tanpa tidur. Saya juga sering dolan ke mall berburu diskonan sepatu atau kutang bermerek, dua hal dari dunia kapitalis yang celakanya nggak bisa saya lepaskan. Namun dibilang kaya ya nggak juga, wong hampir dua atau tiga bulan sekali biasanya kas bon sama pabrik topeng cuma untuk menyambung nyawa hingga upah saya keluar seminggu kemudian. Hari Raya Kurban juga rumah saya masih dikasih jatah daging dan sering kena banjir. Idul Fitri ibu masih dapet bingkisan mi instan, beras, teh dan gula. Tabungan sama sekali nggak punya, apalagi deposito. Uang saya pun tingginya nggak meteran.

Mungkin kotak saya bukan di miskin-kaya. Saya sepertinya terklasifikasi dalam kategori beruntung: sesuatu yang nggak bisa diusahakan, datang sendiri, entah dengan bantuan Tuhan atau setan.

Tapi berteman dengan orang kaya adalah sisi lain dari keberuntungan. Sedekat apapun, sehebat apapun mereka minta bantuan saya dan sepayah apapun saya all out buat mereka, saya seperti selalu menabrak tembok tebal virtual. Ada batas antara saya dan mereka meski kami sekuat tenaga berusaha memahami satu sama lain. Mungkinkah deep down inside saya sebenarnya iri nggak bisa jalan-jalan ke luar negeri sepenak udele kayak mereka? Atau mental kere saya yang menolak disetarakan dengan jam tangan Fossil dan syal Burberry? Atau... sebenarnya saya hanya sombong dengan kemiskinan saya karena miskin identik dengan heroik?

Kos saya yang sangat dekat dengan PIM membuat saya bebas mengamati gaya mereka yang saya curiga halaman belakangnya ditumbuhi pohon berdaun uang kertas seratus ribu. Om, tante dan adek-adek abegeh wangi-wangi lalu-lalang dengan dagu terangkat, mantap berada di kerajaan mereka yang terang, mengkilap, indah. Di luar hujan berbadai dan anak-anak belasan menggigil di bawah payung demi beberapa uang ribuan yang beralih-tangan setelah mereka melindungi para tante yang takut sasakan rambutnya kebasahan dari mobil ke pintu mall. Pemandangan biasa. Sama biasanya dengan wajah datar para pekerja kerah putih yang sepasang telinganya tersumpal headset yang tersambung ke ponsel/MP3 player teranyar dan melintas di depan ibu-ibu lusuh yang tangannya menadah dan dada cekingnya dihisap bayi kurus-dekil di jembatan busway Sarinah di suatu malam. Biasa. Wajar. Anak-anak itu memang kerjanya jadi ojek payung dan ibu-berbayi itu sudah berbulan-bulan "ngepos" di situ. Dan di Jancukkarta ini jumlah mereka sak ndayak.

Ah, saya baru ngeh jika tembok antara saya dan 'teman kaya' sesungguhnya adalah perasaan senasib. Nasib saya tidak sama dengan mereka. Berdekat-dekat dengan mereka seperti penghianatan terhadap saudara seperkerean. Dan batas nyata antara saya dan para kere itu adalah saya masih belum bisa terguncang dari zona aman dan nyaman dimana kere adalah wacana.

Dan seperti biasa, saya selalu berada di tengah...

Labels:

Membunuh Murai, Anyone? (Pt. 2)

Posted by The Bitch on 2/22/2008 03:10:00 PM

Ya, ya, ya. Saya lagi sentimentol. Membacanya seperti membawa saya kembali rebah hingga lelap di kursi kayu panjang bawah pohon beringin Soekarno (entah kenapa dinamakan begitu), sendiri, tengah hari, depan kantor BAAK, di belakang perpus kampus yang--menurut saya--paling teduh dan nyaman se-Negara Jogja Raya: UCLA. University of Catholic Lor-é Atmajaya. Iya, saya ngaku. Dulu saya pernah sekolah dan--dengan bangga--Dancing Out ketika harus memilih antara survive dalam hidup atau ngotot dikurung dalam empat sekat beratap rapat (tapi berjendela banyak) diantara saya dan pepohonan di luar.

Ya, ya, ya, saya kangen. Pada bapak-bapak pembawa wedhang yang rambutnya putih semua itu. Pak Parkir yang selalu ngotot mengira saya orang Batak. Mereka yang selalu ngumpul di Pantry tiap saya minta air pengisi gendul (dan dengan ramah menawarkan kopi dan penganan apapun yang ada di hadapan). Pak Pri penjual bakso di kantin yang mengira saya pecandu narkoba. Funky Miss Kat Pethan the Californian yang memuji tindikan saya di dagu. Bu Eny yang lembut, modest berkacamata namun besuara mantap. Mbak Lis laboran SAC dan simas wagu lan kemlinthi. The Twin Niks di Pengajaran yang selalu mendengus sebal tiap melihat saya merokok di pinggir lorong depan kelas. Gazebo belakang kamar mandi Sastra dan talok-talok merah nan menggoda, tempat saya bertapa atau sekedar tidur. Aro putranya Bu Luluk (yang ternyata keponakannya mandor saya di pabrik topeng sini) yang nakal tapi nggemesin. Bu Elisa bermata sendu dan bersuara selembut bantal bulu angsa. Mr. Gabriel the Lizard yang selalu membasahi bibir per kalimat Javling yang meluncur dari mulutnya. The Sweet and Patient Sister Claire bersepeda mini, helm, blus dan celana panjang serta rosario kayu menggantung di leher; Almarhum Pak Ar yang tiap Selasa pintu kantornya terbuka lebar untuk siapapun berkonsultasi apapun; Bu Dewi yang selalu berkeringat di depan kelas namun berasosiasi dengan A Street Car Named Desire (dan dari situ saya mengingatnya sebagai Stella tiap saya mendengar Sweatshop). The Sexy Novita "do-you-mind-to-move-over-darling" Dewi yang gelarnya lebih panjang dari namanya. Pak Sarwoto dan the Tyrannosaurus Sis yang could-you-do-something-to-that-Javling-accent-of-yours-since-you've-been-so-fuckin'-frequently-abroad-for-Christ's-sake. Pak Tatang sok ganteng dan gagal jadi Pi Ar. Jose the White Monkey: A senior turned Structure III teacher yang membolehkan saya membolos asalkan pamit. Mbak Rani pemenang Asia Bagus '96 yang honor nyanyinya selalu abis buat beli beha. Ngurah si Bali Ganteng (who kissed my forehead one afternoon for the sake of impulsive urge when I lied on my back on the grass reading--and shocked afterward. Huahahaha!!!). Ika "Krisdayanti Hamil" yang pernah diisukan jadi pasangan lesbian saya. Dan lain-lain, dan sebagainya.

Damn, it hurts. And yes, ad maiorem dei gloriam was the first Latin phrase that stuck in my head up to now. Blah!

Labels:

Palenting, Anyone?

Posted by The Bitch on 2/20/2008 06:35:00 AM

Berikut adalah gojek kere saya menyambut hari Santo Valentine:

Saya: Eh, selamet palenting yah! (salaman)
Teman: (Garuk-garuk kepala) Lho? Sekarang kan baru tanggal 13 Februari. Felentain kan tanggal 14
Saya: Lha elu emang ikut palenting yang mana? Kalo yang Muhamadiyah ya sekarang. Tanggal 14 tuh palentingnya NU
Teman: Ooo... (garuk-garuk kepala lagi)

Kemaren pas tanggal palenting resmi (yang menurut saya palenting NU), saya dapet imel seperti ini...

KENAPA VALENTINE HARUS 14 FEBRUARI?

Valentine dirayakan setiap 14 Februari sesuai dengan arti kata Valentine
Va berasal dari Fa yang merupakan urutan nada ke-4 dari solmisasi Do re mi fa. Jadi Fa disini menunjukkan 'empat'.
Lent adalah bentuk ke tiga dari kata "Lend" yang dalam bahasa Inggris berarti meminjamkan atau dipinjam. Nahh... dalam pinjam meminjam harus ada unsur 'belas kasihan'. Maka Lent bisa diartikan sebagai 'belas'.
Tine berasal dari kata asli twin yang artinya kembar. Kata kembar adalah identik dengan angka 2.
Maka kata valentine yang asli katanya berasal dari Falenttwin mempunyai arti:
Fa = empat
Lent = belas
Twin = dua
Jadi Empat belas bulan kedua. Alias 14 Februari. Itulah kenapa valentine diperingati setiap tanggal 14 Februari.
(Hanya orang dengan gangguan kesadaran yang percaya bahwa tulisan ini benar.)

SEJAK KAPAN VALENTINE DIPERINGATI?

Berdasarkan buku-buku tentang sejarah valentine yang saya baca--baik buku berjudul "Valentine di Jaman Majapahit", "Primbon Valentine", sampai buku "Da Valentine Code"--serta searching internet di wikipedia dan google, maka didapatkan kesimpulan tentang sejarah awal mula valentine secara detil dan sangat rinci yaitu bahwasanya valentine mulai dirayakan SEJAK DULU. Hehehehe.

KENAPA VALENTINE IDENTIK DENGAN COKLAT?

Haalaaah... Ini mah jawabannya gampang aja. Karena coklat itu romantis. Kan asik kalo pas candle light dinner trus ngasihnya coklat. Coba bayangin kalo ngasihnya nasi tumpeng… kan susah! Jadinya nggak romantis tapi tragis.

KENAPA VALENTINE IDENTIK DENGAN PINK?

Sebenarnya bisa aja dijawab:
Kalo pake item-item, ntar disangkain dukun. Kalo pake biru-biru, disangkain satpam. Kalo pake putih-putih, disangkain pocong. Kalo pake ijo-ijo, disangkain kolor ijo. Ya kan? Jadi emang cucoknya warna pink!


JIKA APA KITA MERAYAKAN VALENTINE?

Satu:
Jika ada pasangan alias pacar! Karena aneh aja kalo makan candle light sendirian, nulis kartu valentine buat diri sendiri, termasuk ngasih coklat buat diri sendiri sambil menciumi diri sendiri di depan kaca... (narsis akut)

Dua:
Jika punya modal. Karena apa? Coklat itu mahal, coklat gambar ayam jago aja paling gak uda seribu rupiah. Belum lagi beli kartu ucapannya, makan malemnya, bunga mawarnya... byuh byuh byuh...

Ingat!
"Cinta itu buta... tapi matre"! Hehehehehe.


APA TEMA VALENTINE TAUN INI?

Ada beberapa tema valentine taun ini, yaitu:
  • Valentine dengan bawain coklat 5 kilo digotong sendirian dari Jakarta ke Bogor (CAPPEEEE DEEHHH....)
  • Valentine sambil menikmati singkong yang dikasih ragi (TAPEEEE DEEHHH....)
  • Valentine sambil makan sambal merah pedas di mangkuk berbentuk hati (CABEEEEE DEEEHH....)
  • Valentine dengan memakai pakaian serba pink. Baju pink, celana pink, sepatu pink, tutup muka pink, telinga pink dan hidung pink (BABIIIIII DEEEHHH....)
Ah, sutralah. Tambah ga penting aja tulisan ini. Ya sud.. Bagi yang merayakan selamat aja, bagi yang memang ga pengen merayakan ya... santai aja. Tapi buat yang pengen merayakan tapi keadaan belum mengijinkan (baca: jomblo), semoga cepat mendapatkan pasangan.

Ingat, prinsip pertama harus jual mahal, sambil berkata "SIAPA GWA".
Kalo belum dapet juga diturunkan menjadi "SIAPA DIA?"
Tapi kalo memang belum dapet2 juga turunkan lagi menjadi "SIAPA AJA"
OK!

Buat semuanya :
SELAMAT VALENTINE! SEMOGA LEKAS SEMBUH!


ps. iya. basi. cuma buat ngingetin orang-orang supaya besok-besok pas bulan Februari (dan kapanpun) jangan kirim imel begini lagi ke gwa. B O S E N ! ! ! tiap taun dapetnya imel doank. coklat napah!

pps. iya. ga nyambung juga ama gambarnya Hitsugaya-kun yang mendelep di tokednya Rangiku-chan. tapi that is the pinkest and cutest picture I've got in my storage... *sigh*

Labels:

Membunuh Murai, Anyone?

Posted by The Bitch on 2/19/2008 02:25:00 PM

Keberanian adalah saat kau tahu kau akan kalah sebelum memulai, tetapi kau tetap memulai dan kau merampungkannya, apapun yang terjadi.

- Atticus to Jem in Harper Lee's To Kill A Mockingbird, Penerbit Qanita (Indonesian version)


Saya percaya yang si om bilang that sometimes a book chooses the reader, not vice versa. Jaman masih khilaf dulu, terkurung empat dinding berjendela bernama 'ruang kelas', saya pernah skimming buku ini di Oret-oret Monyet, tapi ya itu aja. Karena kreditnya cuma satu dan buku yang harus dilaporkan amat sangat banyaknya, saya cuma baca demi kuota. Bukan karena keharusan atau pengen.

Tapi setelah hidup saya memulai siklus baru, tiba-tiba saya dipinjemin buku ini dan saya baru 'liat' betapa memang saya perlu menjadi seperti Atticus di Jakarta ini agar mata saya nggak selalu memandang tampak luar, lebih percaya nurani, nguwongké, dan... yakin bahwa diam adalah emas. Dan saya harus lebih siap jadi 'asing' karena nurani tidak pernah tunduk pada mayoritas apapun.

Another difficult task. Shit. I just wish I could be more carried away with Aneka Yess or Gadis at times like these...

Labels:

A Socking Weekend

Posted by The Bitch on 2/18/2008 11:12:00 AM

Jumat Gaul dan nyeri di kepala makin jadi hingga tersisa dentum monoton. Entah kenapa sakit yang biasanya cuma sebelah itu merata di puncak kepala hingga agak ke belakang leher. Dan rasanya akan sangat kekanakan sekali jika 'sentilan' sedikit ini merusak malam ultah Pak Presiden Negara BHI Merdeka. Akhirnya saya dorong paksa tekanan di kepala itu, meski harus agak tercekik jika saya ngakak rada 'galak'.

Gebleknya, si mas ini nggak mau tinggal diam. Berkat ilmu pijat yang dia selami di Bontang dulu, tangannya nggrathil mijet-mijet telapak tangan saya. Waktu saya mengangguk (sambil nyengir) ketika ditanya masih sakitkah kepala saya, dia mengancam. "Nanti kita selesaikan," katanya dengan muka sok serius.

Dan...
Bener aja! Sesampai kami di Rumah Singgah Tuna Wisma Khusus Malem Sabtu milik Menteri Keuangan, saya bener-bener dapet perawatan toe-to-head, literally. Pertama, telapak kaki saya dua-duanya diunyel-unyel, terus naek sampe ke betis bawah. Sakit, jelas. Tapi saya balas right to the spot. Saya bilang saya belum cuci kaki. Let him know taste! (biar dia tau rasa!) *nyengir iblis*

Abis itu, sambil duduk selonjor, mulai dari punggung sampe kepala saya digarap. Jancukkkkkkkk... loro tenan! Koyok digebuk preman se-Blok M tapi nggak wani mbales. Dan semua itu dilakukan ditengah ngobrol rindik bareng Pak Menteri tentang bagaimana negara ini terbangun atas sistem yang keropos dan proyek-proyek kadang-fiktif-dan-hampir-tidak-pernah-nggak-fiktif. 'Penyiksaan' selesai, kaki saya boleh berubah posisi, dan saya tertatih ke tempat tidur waktu adzan subuh hampir berkumandang. Sebelumnya dia memvonis saya: darah rendah dan lemah jantung (serta satu gejala lain lagi, saya lupa). Harus mengurangi rokok.

Siangnya saya bangun dengan punggung sakit, di sekitar tali kutang saya berada. Tiap saya ingin menegakkan punggung, sakit itu begitu menusuk hingga saya seperti akan tersedak. Begitu pula jika saya mencoba menghirup udara dalam-dalam. Saya curiga, ini pasti something to do dengan paru atau jantung. Waktu Pak Penyiksa saya kasih tau, komentarnya: pulang dari sini jangan kemana-mana. Langsung ke kos. Rebahan, matiin hape, istirahat, jangan tengkurep. Gaya tidurmu yang tengkurep itu jelek buat penapasan. Dan rokok, kurangi!!!

Blah! Saya merasa kayak lagi di-grounded gara-gara ketauan baca komik Hentai jaman masih SMA. Mungkin--ini cuma mungkin--karena saya belum 30 dan belum mau mati sekarang, saya nurut. Dari Sabtu sore hingga Minggu saya cuma di kamar kos. Baca-baca buku, nonton DVD, maen tetris di hape, sambil rebahan. Hingga tiba-tiba ada SMS sore ngajak nonton CJ7 dari mbak-mbak yang pernah jadi pasien curhat. Pas ujan, becek, nggak ada ojek, untung ada bajay! Jadilah, ke PIM basah-basah dikit (dan selalu begitu tiap mau nonton. Heran gwa!).

Setelah lumpia dan yamin Chopstix, Hop-Hop Bubble Capuccino, ketawa gendeng liat Stephen Chow (yang semuanya gratisan), sakit di punggung itu seperti ilusi yang nggak nyata dan samar. Seperti pernah, tapi statistik kemungkinan probabilitasnya hampir nol. Pulangnya saya ke tempat yang paling nyaman, dimana saya seharusnya berada: Blok M. Setelah 3 pasang kaos kaki cebanan yang saya beli Jumat kemarin, saya kembali memilih 3 terbaik menurut saya. Dan menyambut minggu ini saya punya 6 pasang kaos kaki hasil retail therapy karena sakit yang nggak saya percaya ini. Hehe.

ps: yo, Kang Pijet! Besok-besok lagi yax!

Labels:

Untitled 0.6

Posted by The Bitch on 2/18/2008 03:54:00 AM

Aku tahu
kemana harus menunjuk jika seseorang bertanya kemana perginya dua bintang yang harusnya menggenapi terang langit malam ini
Namun kupaksa lidah beku di depanmu
Karena aku enggan kehilangan sepasang cahaya yang kusembunyikan
di matamu


(dan sungguh celaka mereka yang mencinta tetapi bungkam. seperti saya)

Labels:

Yak Opo To Karepé?!

Posted by The Bitch on 2/08/2008 06:33:00 PM


Kenal muka itu? Artis sinetron blasteran. Baru berapa lama ini, konon, lagi 'mengulat' (istilah untuk naik daun). Karena saya miskin, nggak punya tipi dan nggak langganan tabloid infotainment, saya nggak tau adik kecil ini siapa. Tapi entah kenapa jagad maya rame banget ngomongin dia. Yang disini dan disini. Di tipi juga katanya nggak kalah rame.

Sementara, menurut Menteri Keuangan Negara BHI Merdeka, yang banyak diliput media itu mestinya adalah hal yang paling krusial dan penting yang dihadapi sebuah negara. Mestinya dan harusnya sih gitu.

Ternyata namanya Cincha Lawra, dan yang ngomongin dia serta yang ngomongin banjir jumlahnya cuma beda-beda tipis...

ps. saya lebih suka kalo yg namanya Cincha Lawra itu adalah mahluk kecil berkaki empat yang dikempit mbaknya di ketiak. setidaknya dia lebih lucu, more inspiring, lebih fun diajak running dan lari-lari kecil dibandingkan dengan any boyfriend atau teman dekat manapun.

Untuk sumber terwagu dan tergeblek, sila liat disini.

Labels:

Longing

Posted by The Bitch on 2/06/2008 01:04:00 PM


Remembering that good ol' times. As always...

Labels:

Encounter

Posted by The Bitch on 2/05/2008 04:48:00 AM

Semua manusia terlahir unik dan beda, katamu. Dan mimpi mengubah wajah negeri, one person at a time, yang datang dari benak seorang perempuan lusuh, hitam, gendut, melulu berbau nikotin dan jalanan, mungkin terlalu muluk untuk sekedar dicerna. Apa? A rebel without a cause, sanggahmu? Baik, memang begitu adanya. Memang, saya berjuang keras untuk jadi merah di kota mayat bertopeng putih-pucat ini. Saya tegak dalam ketelanjangan muka tanpa tudung. Karena hanya dengan cara itu saya bertahan hidup.

Sungguh sangat paradoks menyelami berbagai kejadian. Saya selalu yakin semua akan sangat proporsional saat saya berjarak. Denganmu, dia, mereka. Namun pemahaman akan datang ketika kamu 'menjadi' saya, dia, mereka. (Dan bagi saya, kamu hanya salah satu dari jutaan urban berhidup nyaman nan enggan tergoyahkan untuk turun membumi.)

Ya, kita sama punya koreng membusuk yang berusaha kita tutup rapat layaknya aib--dengan cara apapun--karena enggan terlihat (terendus) mata (cuping hidung) lain. Dan yang mengharuskan kita bertemu hanya satu: kasih pada seorang bermata kejora terlindung dua lengkung indah yang hampir bertemu di pangkal hidung. Bukan kebetulan. Itu saja.

Saya yakin kamu cukup 'lelaki' dan tidak membuat penis menjadi alat penindas. Saya juga percaya, dia dan sepasang gundukan kembar di dadanya tidak mencari cinta sedangkal stimulus pemantik lubrikan di liang senggama. Even the dogs don't bite the hands that feed them, maka saya berterimakasih atas dua piring apple pie nikmat dan secangkir espresso pekat di Jalan Jaksa, dengan obrolan sekitar film dan buku dan transgender dan kemapanan. Ini cara saya berterimakasih.

Oh, saya lupa bilang ya? Saya cenderung sinis daripada lucu.


I love my coffe black and hot. The taste is familiar with the life I lived in


Labels:

Untitled 0.5

Posted by The Bitch on 2/05/2008 04:07:00 AM

Mari
Sini
Kutera selaksa nganga sewarna merah
Menetes serupa darah
Membaur, tertabur
Pada selangkung tubuh terbalur
Saat madu menyaru hantu

Pada rintik pada titik
Jangan pernah tanya satu selidik:
Pada apa (siapa) mati pernah terbetik?

... dan kala titi mangsa menggeram
diam, dalam, muram
karna waktu hanya menunggu dalam kepatuhan...

Labels:

Berkabung? SAMA SEKALI TIDAK!!!

Posted by The Bitch on 2/02/2008 01:58:00 AM

Akhirnya kamu tidak mampu melawan kehendak alam, meski kamu berkuasa. Selamat jalan. Semoga pengadilan Tuhan mengganjar semua yang telah kau lakukan pada jutaan kami yang tertindas. *32 tahun berduka. Saatnya merayakan.

ps. siapapun penguasanya, saya sesungguhnya nggak peduli koq. wong saya anarki *nyengiriblis*

note:
* Status Yahoo Messenger mas ini sesaat setelah pukul 13.10, 27 Januari 2008
- Gambar diambil dari sini.

Labels: