"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

So Fuckin' What?!

Posted by The Bitch on 1/27/2008 06:55:00 AM


OK, Perhaps I'm exaggerating. But I'm in love with an anime character you've seen in the picture. From his ever-frowning eyebrows, a pair of continuously thinking green eyes, thin and downward lipline, to his white hair (except for the fact that he's only 133 cm. Haha!).

And I've made a resolution: In case you see him in living flesh, bone, and blood (and taller than my 160-cm height), please do tell me. I might ask his hand to marry me.
*blushes*

(Monyet! Bleach 158 blun nongol! Argh!)

Labels:

Expensive Fantasy

Posted by The Bitch on 1/26/2008 09:13:00 PM

Hey...
Kamu ingat pernah membonceng saya lewat Gang Dolly ketika pertama kali menginjakkan kaki di Surabaya? Waktu itu hampir pukul dua dinihari dan saya protes. "Katanya lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara. Masak cuma berapa gang gini?! Ini sih Sarkem!"

Kamu sedikit menoleh kemudian bersuara dengan logat Jawatimuran yang kental. "Lha ini baru sejalur. Di kanan-kiri masih banyak gang-gang yang kayak gini, Dek!" jawabmu enteng.

Dan saya cuma melongo mencermati rumah-rumah layaknya akuarium tempat ikan-ikan cantik duduk dan mengerling (bukan berenang) di sofa panjang. Tanpa air. Entah kenapa analisa sekilas saya masih lumayan bisa dipercaya. Ada yang bukan pada tempatnya. Beberapa ketiadaan dan kosong, meski lampu berkelip warna-warni dan musik dangdut berkumandang di sana-sini ditingkah teriakan dan cekikikan genit beberapa mbak-mbak dan gelegar bahak dari para mas-mas. Walaupun botol-botol bir tersaji di hadapan beberapa pengunjung yang digelendoti manja para perempuan di sebelah mereka.

"Kok sepi, Mas? Harusnya banyak mbak-mbak di dalem kan?" tanya saya sambil terus mencermati rumah demi rumah yang kami lewati.

"Ya ini udah jam berapa. Udah pada diangkut tho ya. Lagian ini kan weekend. Kalo Pit dateng sorean tadi, jam tujuhan gitu, ya masih banyak," sahutmu, yang waktu itu masih gondrong dan kurus, kalem.

Saya hanya manggut-manggut sementara kedua tangan saya berpegangan pada kaus di kedua sisi pinggangmu. Indera penglihat saya nyalang berusaha menjelajah tiap sudut yang terlewat di atas motor yang melaju agak perlahan. Pertama kali saya melintasi kompleks pelacuran. Pabrik lendir, dimana daging berbau busuk dengan kemasan elok dijual dimana-mana.

Mungkin reaksi saya sangat norak buatmu hingga beberapa kali kamu berpaling sejenak dan saya masih cuek mencermati pemandangan yang ada.

"Disini perempuan macem apa aja ada. Yang mirip artis juga banyak. Waktu itu Mas pernah nemuin yang mirip Tamara Blezinsky. Pas dia mau keluar, diangkut om-om berperut gendut. Malah ada yang mirip Celine Dion lho, Dek!"

Kembali, saya hanya manggut-manggut.

"Pasti yang mirip-mirip artis tuh dibayarnya mahal ya Mas? Kan perawatannya susah..."

"Ya harusnya sih gitu, Dek. Wong ayu ki gak onok sing murah."

Itu kejadian lima atau enam tahun yang lalu yang menimbulkan kesan sangat mendalam di benak saya. Mungkin kamu sudah lupa. Kata-kata terakhirmu hanya berbuah satu konklusi di otak saya: laki-laki senang membeli fantasi, berapapun harganya. (Dan kata orang, pembeli adalah raja.)

My point is: saya nggak pernah menghujat kompleks pelacuran, apalagi para pelacurnya. Buat saya ini cuma masalah pasar. Hukum ekonomi berlaku disini, antara demand dan supply. Saya nggak menuding hidung lelaki yang sering dibilang belang, atau menunjuk pelacur yang sering dibilang pembawa aib. Mereka cuma aktor yang bermain dalam market. Tidak lebih, tidak kurang. Dosa? Itu urusan mereka. Saya rasa kita semua punya otak dan kapasitas yang sama, jadi setidaknya masih bisa berpikir untuk kemudian memutuskan mana yang terbaik. Lagi-lagi, ini masalah pilihan.

Dan nafsu manusia seluas dan sebanyak air di samudera. Nyaris tak terbatas meski terkategori dalam 3 bagian besar: harta, tahta, wanita. Bagi lelaki, yang terakhir adalah penyebab keruntuhan dan kejatuhan dua bagian sebelumnya. Bagi perempuan, karena dia wanita dia dapatkan dua yang pertama (jika dia pintar).

Stupid? Memang, buat mereka yg sudah merasa cukup dan tidak ngotot mengejar semuanya. Dan yang lebih stupid lagi adalah ketika om-om berperut buncit berkumis sekepal dengan muka berminyak dan nafas tersengal mendapatkan klimaksnya saat telanjang diatas perempuan ayu berkulit putih pualam yang wajahnya sering nongol di televisi (dan sama bugilnya). Kompensasi atas kontraksi otot genital 3 detik itu adalah duit berjuta-juta (dan mungkin seperlimanya bisa menyelamatkan saya mendapatkan selembar pembuktian bahwa saya sudah sarjana).

Seorang om-om pernah ngomong ke saya bahwa lelaki juga melakukan multitasking atas perempuan yang ditindihnya saat mereka bersenggama. Mereka sering berfantasi, membayangkan perempuan ideal yang hanya ada di kepalanya. Disini teori bahwa sex adalah 90% imajinasi dan 10% usaha adalah benar. Dia juga bilang bahwa suami sering merasa bosan dengan payudara dan gundukan pubis istri. Rasa ingin tahu lelaki sangat besar, dan ini yang membuat mereka terdorong menjelajahi gundukan lainnya. (Dan pada titik ini lokalisasi semacam Dolly mengejewantah.)

Mungkin, hanya mungkin, hidup itu juga mampir buang lendir. Nggak cuma mampir ngombe.

(Hey, you. Gwa nggak pernah lupa. The memory remains and the feeling for you is so huge it hurts sometimes. But why do you have to be so chauvinist?!)

Labels:

Requiem, Anyone?

Posted by The Bitch on 1/24/2008 04:30:00 AM

Seperti yang pernah saya bilang disini, Tuhan menciptakan langit, bumi, malaikat, setan, manusia, alam semesta dan segala isinya yang kemudian Dia jalankan secara autopilot. Terus abis itu Tuhan ngapain? Well, lalu Dia duduk bersandar dengan nyaman dan menikmati satu drama panjang bernama KEHIDUPAN ditemani bercangkir-cangkir kopi pahit dan kudapan ringan. Tanpa iklan, tanpa jeda. Tanpa cela. Semua aspek di dalamnya berkelindan, membelit, bertautan. Semua berdasar skenario besar yang Dia buat. Dan Hundred Years of Solitude adalah satu skenario berukuran sepersekian nano yang ditimpakan pada Marquez ketika Dia menghela nafas.

Karena itulah saya nggak pernah percaya pada sesuatu bernama 'kebetulan'.

Semua muntahan saya disini bukan usaha saya untuk memposisikan diri jadi tinggi diantara manusia lain, karena rentang antara telapak kaki saya dan ubun-ubun hanya berjarak seratus enam puluh senti (dengan volume sesak, padat dan mampat. Haha!). Namun semua hal yang saya temui hingga saya setua ini layaknya menajamkan satu indera sinergis hasil kolaborasi antara benak dan hati, menundukkan otak kanan yang dulu saya junjung hingga ke langit. Saya sering lihat benang merah yang saling menghubungkan peristiwa, manusia, dan berakhir pada pemahaman. Pada ujung proses yang nggak sebentar itu sering saya temukan jawaban atas lingkaran setan yang sedang saya perangi. Saya sering hilang determinasi untuk bersyukur atau menghujat atas indera yang nggak dimiliki semua orang ini.

Sebulan ini saya merasa Yang Lagi Nonton sedang duduk di sebelah. Tapi kedekatan paling intim adalah dua minggu lalu, di pusara om saya dengan tanah merah yang masih basah bertabur bunga segar. Setelah empat tahun berjuang sambil tersenyum melawan gagal ginjal akhirnya dia harus tunduk pada yang tersurat. He's a damned great fighter, though. The lone survivor till the end diantara rekan 'seangkatan', senasib, dan seruangan yang disambangi tiap Rabu dan Sabtu di Sardjito demi hemodialisa. Darah seniman yang mengalir dalam tubuhnya, meski liat dan bandel, ternyata nggak mampu melawan kehendakNya ketika 'semua telah usai selesai'. Pesan terakhirnya dia sampaikan di sebuah pantai di Jogja. Layaknya ABG kasmaran, disambanginya tempat romantis itu bersama sang belahan jiwa yang telah menumbuhkan tiga gadis kecil. Tante saya bercerita, dengan wajah lembab mata sembab karena airmata yang tertumpah pada setiap doa-doanya, mengenang ucapan suaminya yang tenang dan dalam. Semua sudah selesai, katanya.

Saya terlambat datang dan tanpa sempat melepasnya pergi, apalagi melihat wajah ayah kedua saya itu berbingkai mori untuk terakhir kali. Pada salah satu belahan jiwa yang menunggu saya sejak Subuh di stasiun Tugu saya hanya punya satu pinta: antarkan ke makam lalu pergilah kamu cepat-cepat. Saya ingin ditinggalkan berdua bersama om saya.

Pertama kali dalam hidup, saya menyesal. Saya tidak sempat 'pamit pejah' ketika akhirnya memutuskan masuk kancah perang bernama Jakarta, karena saya tidak ingin membuatnya merasa ditinggal sendirian. Saya jarang sowan karena melihat keadaannya hanya membuat saya marah sebab saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya jadi berjarak karena mendekat berarti berbagi derita di matanya meski humornya selalu segar. Saya diam karena bicara hanya akan membuatnya merasa terbebani. Saya tidak pernah lagi memeluk dan mencium kedua pipi cekungnya yang masih ditumbuhi jambang lebat karena merasa sudah besar dan mandiri. Saya tidak pernah cerita pada keluarga besar bagaimana buruk kondisi kesehatannya karena dia tidak ingin membuat mereka sedih. Dan penyesalan terbesar diantara semuanya adalah: saya tau dia kesepian tapi saya takut untuk menemaninya. Bagi saya ketegarannya membuat saya ciut nyali. Namun saya juga tidak pernah mau menyaksikan dia lungkrah. Padahal saya tau, hanya pada saya dia akan sambat. Padahal dia paman saya sendiri. Padahal dia seperti ayah kedua bagi saya. Padahal dia sangat perlu saya. (Dan saya masih ingat betapa tegasnya guratan nama PIT untuk menandai tiap kaset koleksinya: Joan Baez, Rolling Stones, Pink Floyd, ABBA dan Beatles, yang dibelinya ketika masih jadi mahasiswa ASRI, untuk diputar sebagai pengiring saya tidur, sejak bayi.)

Belum genap pukul delapan pagi itu, dan saya duduk di tanah dengan punggung bersandar pokok Kamboja di dekat kepala nisan. Ransel hitam butut teronggok malas di sebelah. Saya baru selesai membacakan kasih Tuhan paling lembut. Salah satu kalimat yang diulang-ulang di dalamnya menarik pelatuk dan membuka kelenjar airmata saya untuk leleh turun ke pipi. Sambil menatap pusara dengan emosi berkecamuk, berteman batang nikotin kesekian yang saya pegang dengan tangan gemetar, kalimat itu berputar di benak dan hati saya. Fabiayyi 'ala irabbikuma tukadzdziban. NikmatKu yang mana lagi yang akan kau dustakan?

Dua minggu setelahnya saya punya tenaga untuk bisa muntah disini. Saya baru bisa merasakan bahwa dia bukan tiada, namun sedang berkumpul. Reuni dengan Penciptanya. Meskipun sekarang kami tidak lagi berada pada dimensi sama, itu mungkin lebih baik buatnya. Dia tidak lagi harus berbaring empat jam dua kali seminggu dan menyaksikan darahnya sendiri mengalir keluar melalui pipa-pipa bening ke dalam mesin sebesar lemari untuk masuk lagi ke tubuhnya dalam keadaan bersih.

Perjalanan saya pulang-pergi Jogja-Jakarta kali ini adalah yang terpanjang, paling melelahkan, paling menguras emosi, namun juga melegakan. Saya dibimbing malaikat sepanjang jalan, berupa SMS, berbaris-baris teks di YM Mobile, pelukan hangat di stasiun, tatapan sayang nan menyamankan, serta keluarga baru di Gedong Kuning. Benang merah yang menyatukan semua kejadian itu adalah: saya tidak akan pernah sendirian, karena itu saya tidak akan membiarkan siapapun merasa sendirian lagi.

Pada Karin, bocah kelas empat SD yang masih memeluk sajadah tiap habis shalat (karena masih 'bau bapak' jawabnya polos), yang mengenakan jaket ayahnya kemana-mana pada terik siang, yang sangat 'her father's daughter', saya sugesti untuk selalu tegar. Pada Anjani yang baru masuk SMP dan ngotot ingin rambutnya di cat biru seperti saya, saya ingatkan untuk menjaga adik-adik dan ibunya. Pada Dhani si bungsu impulsif, naif, dan sangat techie, saya bisikkan kata untuk tetap melihat larik perak mentari pada tiap tepian mendung. Dan pada Tante Wanti, perempuan kecil berhati lembut dengan ketahanan bagai baja itu, saya percayakan kepingan-kepingan jiwa om saya dan saya yakinkan bahwa kali ini saya akan menemaninya. Meski hanya dari jauh.

Akhirnya saya temukan alasan mengapa saya tidak boleh meminta mati di usia tiga puluh.

[In Memoriam: Edhi Irianto, who celebrated new Hijriah year in heaven. He is a man who once discussed the differences between art and craft as an adult to adult with the 13 year-old me; who put down his calligraphy painting in an exhibition in the second the nine year-old me found an 'alif' missing in his 'Al Falaq'; unbeatable in the match of ngeyel and plesetan; who gave me reasonings why the Christians say 'Paskah' for Easter and why the prophet Muhammad doesn't have any single painting unlike Jesus; who has the limitless capability of making me laugh though his live is hanging by a thread; and the very man who introduced me to Joan Baez and her Green Sleeve in my very young age. You have your life within my heart...]

Labels:

Far Away So Close

Posted by The Bitch on 1/22/2008 03:18:00 AM

Argh!!!

Labels:

Sepotong Sesuatu Bernama Masa Lalu

Posted by The Bitch on 1/20/2008 02:47:00 AM

Saat kau ingin melupakan, di waktu yang sama sesungguhnya kau sedang mengenang
- Pakdhe Pamei, the youngest historian and an avid storyteller ever

Mengenang dan melupakan adalah dua hal yang sejalan. Layaknya pedang bermata dua dia dapat mengiris atau membantumu bangkit. Membingungkan, namun kadang melegakan, perihal mengenang itu.

Perempuan itu baru sadar ketika di suatu dinihari berbadai dia berada di luar, di bawah kanopi shelter Hotel Nikko Jakarta, menikmati pemandangan orang-orang yang berjuang layaknya mempertahankan nyawa selembar. Di sisinya adalah seorang sahabat yang setia menemani ketika kondisinya berada di bawah titik nadir.

"Dia datang lagi lewat abangnya."
Sebentuk kalimat meluncur jernih tanpa jeda dari bibir sang perempuan, sedetik setelah asap nikotin terlepas dari sana.

"Siapa?" tanya si lelaki.

"Dia-yang-namanya-haram-kusebut. Dia-yang-berhasil-membawa-serta-separuh-jiwaku. Dia-si-monumen-penaklukan-sekaligus-penghambaan. Dia-yang-sangat-hebat-karena-tidak-terjangkau. Kamu tau dia siapa," jawabnya datar sementara matanya tetap terpaku pada jalanan basah di hadapan.

Si sahabat menoleh, menatap wajah perempuan di sampingnya, untuk kemudian kembali memandang lurus ke depan.

"Kamu tahu? Aksi sama dengan reaksi. Itu hukum fisika yang kupelajari waktu SMP. Kupikir sangat applicable untuk apapun. Bahkan untuk persoalan hati," ujarnya datar.

Perempuan itu kembali terdiam, hingga saat ini. Dia gundah, akankah harus melupakan (dan mengenang), sementara dia tahu bahwa hidup tidak berjalan mundur?

Sudahlah... Jalani saja. Jika semua terasa berat, tarik nafas dalam-dalam, simpan dalam parumu sesaat, lalu hembuskan kuat-kuat. Ganbatte kudasai!

Labels:

I Object!

Posted by The Bitch on 1/15/2008 04:00:00 AM

My (was) significant one mendadak datang dalam bentuk selarik kata sapaan demi melihat status perangkat ngobrol saya bertuliskan 'terjebak'. Nggak masalah jika kalimat saya sebelumnya bukanlah: "Kalo ampe sore lo nggak dateng, tolong jangan kontak gwa lagi melalui media apapun. Pretend that I ain't exist at all". Ketika saya tanya motif dibalik sapaannya, dia hanya menjawab bahwa itu adalah bentuk kepeduliannya sebagai teman. Tidak lebih.

Namun apakah dia masih bisa dianggap teman ketika permintaan saya yang paling mudah--untuk tidak memperbincangkan agama--tidak dia respon sama sekali? Apakah definisi 'teman ' adalah pemaksaan kehendak akan penerimaan suatu informasi yang salah tanpa mau mendengar penjelasan lebih lanjut? Masihkah dia bisa dianggap teman ketika semua hal yang pernah dia katakan dulu--demi kemaslahatan bersama--ternyata diabaikan?

Pada akhirnya saya hanya akan membangun benteng pertahanan tebal-tebal, tinggi-tinggi. Salahkah saya jika dalam hal ini saya menolak terasuki Tuhan dan setan karena masalahnya hanya ada pada mu dan ku (sementara saya bosan berulangkali jadi audiens basi)?

Sudahlah. Semua Tuhan sama. Hanya nama yang beda. Jika kita nanti sama-sama masuk surga, kita buktikan bahwa salammu ke Dia dan salamku ke Dia akan tertuju pada Dzat yang sebangun dan sebentuk dan yang itu-itu juga. Jika kita nanti masuk neraka, tanyakan pada mahluk merah bertanduk dengan ekor panah dan tangan yang memegang trisula di ujung sana siapakah The Boss. Jawabannya pasti hanya satu: TUHAN (dan entah dalam bahasa apa dia menyebut).

Baiklah... Sekarang silahkan kamu pergi dengan tenang tanpa ribut. Biarkan saya sendiri disini dan mengenang salah satu ciptaanNya yang dulu pernah saya curahkan limpahan kasih lebih daripadaNya: Kamu.

... dan terbukti, yang setia ada disamping saya hingga detik ini adalah DIA! Mau apa kamu?!

Labels:

Fucked Up, Anyone?

Posted by The Bitch on 1/05/2008 05:15:00 AM

Let me apologize to begin with. Let me apologize for what I'm about to say. But trying to be genuine was harder than it seemed. And somehow I got caught up in between. But trying to be someone else was harder than it seemed. And somehow I got caught up in between

Mandor saya di pabrik bilang bahwa saya nggak seharusnya jadi terlalu blunt. Menyenangkan hati orang lain adalah beramal dan toleransi, katanya. Jika saya terlalu jujur maka saya egois karena saya hanya mementingkan perasaan saya sendiri. Ya, sebegitu parah bekerja di pabrik topeng. Karena para buruhnya pun harus memasang topeng yang mereka buat di wajah mereka. Dan saya terjebak di tengah-tengah karena mencoba jadi diri sendiri. Still... What the fuck! I'll do what I want as long as it's not hurting other people. Physically. Teehehe *evilgrins*

Saat saya mengingat ke belakang maka saya sadar betapa amat sangat susahnya menjadi 'perempuan penghibur' untuk menyenangkan hati orang-orang terkasih, menurut standar mereka masing-masing. Menjadi pelajar yang baik menurut para pengajar. Menjadi anak yang baik sesuai harapan orangtua. Menjadi pendengar yang baik seperti yang diinginkan sahabat. Menjadi anak kos yang baik seperti keinginan induk semang. Menjadi anak buah yang baik sebagaimana mandor saya berharap. Semua membuat saya benci melihat pantulan diri saya di cermin: Saya bukan menjadi diri sendiri. Tidak heran, saya sering merasa antara saya dan schizophrenia hanya terpisah oleh dinding setipis rambut bayi.

Dulu Ibu saya sering berkata bahwa saya layaknya buku terbuka yang dapat dibaca siapa saja, orang lewat sekalipun. Siapapun bisa tau bagaimana kondisi kejiwaan saya hanya dengan melihat raut muka. Sebegitu gamblang. Tapi beberapa orang yang saya tanya pendapatnya beberapa waktu lalu tentang saya cenderung salah--menurut saya. Dan deviasinya bisa karena: nggak mau menyakiti saya secara verbal, dinding Hogwarts virtual yang saya buat di sekeliling saya terlalu tinggi, atau mereka memang nggak mau tau. Whathefuckever.

But trying to regain your trust was harder than it seemed. And somehow I got caught up in between. Between my pride and my promise. Between my lies and how the truth gets in the way. The things I want to say to you get lost before they come

Dan saya kembali tersesat saat berdiri di persimpangan antara keberadaan dan penerimaan. Ego dan keikhlasan. Dusta dan kebenaran. Jalan yang paling sering saya pilih dalam keadaan seperti itu adalah aspal lurus dengan jalur hijau di kiri-kanan, berharap saya akan dihargai dan dianggap lebih di ujungnya. Padahal seratus meter ke depan jalur tersebut berubah belukar, jalanan menyempit dan berkelok serta aspal menggerompal. Bisa ditebak. Saya jatuh lagi. Berdarah lagi. Luka lagi. Dan harus menyerah kalah. Eksistensi dan ego yang coba saya bangun ternyata hanya bayangan samar yang buyar layaknya asap tertiup angin.

Kesimpulannya adalah...
Lagi-lagi saya kehilangan diri sendiri. Nggak tau tercecer dimana. Jadi, tolong. Jika suatu hari diantara kalian ada yang menemukannya, kasih tau saya. Mungkin saya sedang memerlukannya.

The only thing that's worse than one is none...

pagi-pagi ditinggal tidur para begundal baik di salah satu kantor institusi negara tempat saya 'lari'

Labels:

Yet Another Pasaran Post

Posted by The Bitch on 1/02/2008 11:44:00 AM

What a damn roller coaster in a whole year. Have a helluva ride ahead, y'all!

Labels: