"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Soliloquy... Again

Posted by The Bitch on 12/28/2007 06:18:00 AM

Halah, mbok sudah. Orang-orang lagi banyak yang kesusahan, kebanjiran, nggak ketemu nasi berhari-hari, nggak bisa sekolah, nggak bisa dugem, nggak sanggup bayar rumah sakit untuk istrinya melahirkan nanti, nggak mampu taunbaruan di hotel bintang lima, nggak bisa belanja ke Hong Kong. Lalu apa artinya kangenmu yang nggak berujung itu? Banyak masalah lain yang lebih besar yang pantas kamu pikirkan daripada mikir cara berdamai dengan mahluk berpenis yang kamu cap hatinya dengan label merah marun. Mari mulai cara yang baru: Tidak menghapus bekas bibirnya di bibirmu dengan bibir yang lain. Bisa toh?!

heran.. berapa hari ini kok isinya mellowmania terus ya?

Labels:

Jealousy(?)

Posted by The Bitch on 12/27/2007 02:34:00 PM

Hey, saya sayang kalian semua menurut porsi kalian masing-masing. Ya, saya memberi stempel di jidat kalian dengan tulisan S O U L M A T E berhuruf besar-besar. Still...

Rasanya saya jadi paham mengapa perempuan tidak boleh bersuami lebih dari satu. Shit!

Labels:

Calling All Soulmates

Posted by The Bitch on 12/21/2007 12:26:00 PM

Dear all,

I know I messed you up with my text messages, in the wee hour of the nights, asking a minute--turned hours--of your precious time just to babble the most unimportant things in this whole universe (and you're there all along). I know you couldn't stand the presence of quiet me around for so long when I feel lonely (and you just keep silent). I understand you are all fed up because of my unstoppable nag about how the world contradicts me (and still you listened). You respect the wall I build around myself when I need to be alone (and wait patiently for the hell break loose). I know that I sometimes bossed around and asking the almost impossible missions on behalf of my selfish demands (and you did them perfectly). I sometimes pissed you off when I remind you, over and over and over, about the simplest and most basic deeds to yourselves (and said 'yes' to shut me up). You frowned when I said something ridiculous about the girls you want to score (and uttered not a word of it). I know I've been a self-centered ego-maniac by diminishing myself inside a four-by-four windowed-box and turned my cell-phone off for few days and changed you from worry to anger to helpless sigh (and still have cold shoulders anytime I need them). I know you're mad when I sensed something wrong and you don't want me to know and I annoyingly stamped you with big question marks from all over my face (and answer them eventually). I can't help it.

Look,
I am deeply sorry for my disability in finding one, single man to meet the needs of what you all provide. I truly am. I look for the man who has personality disorder to balance mine while there is no one left to handle me since they're all die (because of the unbearable stress) or in insane asylums or undetected yet. Besides, I've got you all, I need no other. In your most fucked up appearance you'll always be radiant angels with great wings, comforting smiles and understanding eyes though you firmly hold blood-stained spears and spiky whips to teach me lessons. I was born with shattered soul, and only a piece of it left inside this heart-shaped box. Perhaps each of you had involuntarily grabbed the remains that will make it complete like a picture in the puzzle. Forgive me.

I'd love to see you fly, soaring in the sky freely like Icarus reaching the sun with modified pair of wings so they won't melt because of the heat. One of you had done it on November 5 by marrying a woman I didn't know, and still you're a certified soulmate, proven and tested. You, who taught me how to give and let go, to accept without complaining, and to live the life to the fullest. I couldn't ask for more.

Please, let me make this clear: I love you all. Don't die too soon. I might need you again.

Terinspirasi dari Bleach yang saya tonton marathon hampir 24 jam di ruang server Diknas bareng para penunggunya yang wira-wiri nggak puguh tapi baik-baik. Jangan bosen ya...

Labels:

Such A Joyful Birthday

Posted by The Bitch on 12/18/2007 06:35:00 AM

Berawal dari pesan berantai di jendela ceting saya sehari sebelumnya yang berisi MATIKAN TIVIMU TANGGAL 15 DESEMBER JAM 3 SORE. Saya bertanya-tanya, ada apakah gerangan duhai penyampai pesan? Ternyata katanya bakal ada film menyambut Natal yang bikinnya pake puasa sebulan segala biar penonton non-Nasrani pada convert saking kuatnya 'backing' mereka. My opinion: TAI SAPI! Jika kamu masih percaya Tuhan dan melakukan ibadah agama sesuai dengan yang kamu imani, maka kamu nggak menunda panggilan sholat hanya karena sinetron atau program yang sedang kamu tonton. Jadi, sebenernya nggak cuma tanggal 15 Desember aja TV (atau yang lebih dikenal dengan 'an animated box that makes you stupid'--in my term) dimatikan, tapi selamanya! Jika mengaku orang beriman dan percaya sama apa yang diimani, kenapa paranoid hanya karena satu tayangan bodoh di televisi yang juga bodoh?! Kenapa sih selalu berprasangka buruk? Nggak sadar apa prasangka itu jadi komoditi yang paling laris dijual?! Sama halnya dengan majalah prasangka yang selalu menuduh agama lain berusaha keras mengajak umat mayoritas pindah agama dengan segala cara. Kamu tau petinggi majalah itu komentar apa ketika teman saya bertanya mengapa selalu membawa 'jihad' pada tiap tulisannya? "Karena itu yang paling layak jual. Iklannya banyak!" Sux! Islam nggak ngajarin itu! Kalian tau bagaimana 'masyarakat Madani' yang mirip Utopia-nya Plato atau siapapun-itu-lah-namanya? Disitu tempat berdiam Muslim, Yahudi, Nasrani, Majusi dan berbagai pemeluk agama gurem lainnya, dengan damai aman sentosa sejahtera tanpa saling tuduh saling sikut. Mbok kayak gitu kenapa sih?! Hiduplah dengan kasih, hilangkan prasangka, give love a chance and make this world a better place *Insert lagu 'Heal the World'-nya Michael Jackson disini*

Setelah pulang pagi sehabis nongkrong mingguan dan belum bisa tidur, saya baca buku yang sekenanya saya saut dari rak. Surat Kepada Tuhan, judulnya. Tulisan-tulisan Sobron Aidit yang mirip diary dan sungguh Opa-opa sekali--tapi getir. Mengapa? Karena salah satunya, di bagian akhir, begini bunyinya:
Banyak sekali orang berpakaian putih-putih, yang tampaknya siap berjihad membasmi kami kalau ada yang macam-macam. Sudah diizinkan pulang saja sudah untung, jangan macam-macamlah!
- Memoar Sobron Aidit, Surat Kepada Tuhan hal. 30-31, Grasindo 2003
(Udah mirip kutipan skripsi belum? *winks*)
Lha elu siapa emang?! Urusan amat ama ideologi orang?! Kalo adik atau kakaknya DITUDUH atau MEMANG anggota PKI, seluruh keluarganya juga PKI, gitu?! Apa salahnya sih PKI? Lagi-lagi, kalo elu percaya ama tuhan dan yakin ama pilihan lu, nggak bakal lah elu mak bedunduk ujug-ujug bisa masuk PKI meskipun propagandanya gila-gilaan sekalipun. Kakek gwa dulu tapol di Buru dan gwa suka Genjer-genjernya Lilis Suryani. Lalu gwa PKI, gitu?! (Tulisan itu diterbitkan tahun 2003, memang. Tapi masih amat sangat relevan dengan keadaan sekarang. Sayangnya.) My Opinion: Another TAI SAPI!

Lalu setelah capek mengurung diri di kamar sendirian, saya keluar cari udara segar jam sebelas malam. Di Bunderan Senayan saya liat beberapa orang berbaris dua-dua, dalam kelompok-kelompok kecil, berjalan kelelahan. Sebagian besar cepak-cepak. Oh, anak-anak PTIK kurang kerjaan, gumam saya membatin. Tapi hingga jam 5 pagi, ketika saya memutuskan pulang dari Bunderan yang lebih gede lagi, saya baru tau kalo mereka itu peserta gerak jalan Bogor-Jakarta dalam rangka HUT Marinir (atau-apa-lah-namanya-itu). Start dari Bogor? Jam setengah dua siang! My opinion: Ok... not-so TAI SAPI. Simbah-simbah umur 70-an itu mungkin terlalu sepuh atau terlalu bebal dilarang untuk ikut olahraga segini heboh, di bawah rinai yang mengguyur deras hampir tanpa henti sejak tengah malam, berjas hujan biru dan tertatih kadang terduduk di bawah atap shelter busway. Terlihat bodoh, memang. Tapi bertujuan jelas, dengan alasan masing-masing. Entah ngetes kekuatan kaki, kuat malu, kuat terlihat bodoh, atau ngejar hadiah motor. Meskipun hasil akhirnya sama: Pegel-pegel nggak udah-udah. Setelah acara itu selesai, mungkin tukang pijat dan tukang parem se-Jabotabek laku keras. Hey! Lumayan positif juga ternyata!

Pukul lima lebih sedikit dan akhirnya saya berada di Kopaja jurusan Blok M bareng Si Monyet yang heran kenapa saya jadi (sedikit) pendiam. Di luar masih hujan dan saya pandangi rintiknya dari balik jendela. Saya hanya menerawang, melihat pohon dan jalan raya serta mobil-mobil lain berkejaran disiram tetesan air, mencoba mencari tau ada apa dengan saya. Entah kenapa, menginjak usia dua puluh beberapa tahun lalu, saya selalu cranky tiap ulang tahun. Padahal sahabat-sahabat (dan fans *halah!*) saya selalu mengucap selamat. Ibu saya selalu bersikeras bikin bancakan urap yang akan dibagikan ke anak-anak (rame, lucu, gayeng, komentar beliau. Saya pun suka melihat mereka rebutan). Beberapa kali juga saya merayakannya dengan orang terkasih. But still, bawaannya pengen makan orang. Makanya saya lebih suka diam dalam pesta saya sendiri. Apa karena menurut saya merayakan bertambah dekatnya akhir daur hidup adalah bodoh? Dan ketika Kopaja mendadak berhenti agak lama, saya menoleh dan sadar bahwa dari Bunderan HI hingga Stasiun Juanda, bis melaju tanpa kenek. Guess what? Supirnya berenti dan menagih ongkos pada para penumpang! Pake bahasa Jawa, pulak! Damn! Saya seperti berada di bis Jalur 3 dulu! Waktu tangannya menadah di depan saya, sebuah pertanyaan bodoh hampir terlontar: Lewat Toko Merah mboten, Pak? Haha!

Akhirnya ada kejadian menghibur juga meskipun sudah tanggal 16. Wes to, Nduk. Rasah kakehan protes. Nggolek bojo kono ben onok sing ngrungokno, orak ngomyang neng blog terus.

Shit! Tidur jam lima lewat lagi?! ARGH!!!

Labels:

Carpe Diem, Baby!

Posted by The Bitch on 12/15/2007 08:40:00 AM

Pernah bertanya betapa kontradiktifnya jadi manusia? Saya pernah jadi pembenci diri sendiri karena merasa plin-plan dan nggak bisa berprinsip. Buat saya, apapun yang saya percaya untuk kemudian saya pegang teguh sebagai nilai adalah harga mati. Tapi seringnya saya harus jilat ludah sendiri karena belok dari konsistensi. Saat itu saya harus seperti itu. Dan saya benci itu.

Kemudian, sebangun sebentuk dengan peribahasa 'alah bisa karena biasa', maka saya mulai terbiasa jadi nggak konsisten di saat-saat tertentu. Demi kemaslahatan bersama, atau setidaknya demi menjaga agar saya tetap (terlihat) waras. Saya harus kompromi, misalnya saja untuk nggak ngotot mempertahankan pendapat saya di depan mandor pabrik tentang para mahluk tak kasat mata. Tante cantik itu baru selesai telepon keponakannya yang tiba-tiba tertimpa kutukan bisa 'melihat' mereka. 'Kalo kamu tenang, percaya Tuhan, bebacaan rosario dan Novena, pasti mereka pergi. Nggak usah takut,' saran tante mandor. Menurut saya, tai sapi sekali advis seperti itu. Ketakutan dan kaget adalah campuran bagus penghasil histeria sempurna penghilang kontrol pikiran dan logika. ABG manja kaya doyan dugem dan nggak pernah susah dan doyan belanja di mall ngabisin duit pacarnya? What do you expect?!

Baru kemarin saya jadi tong sampah via text message ponsel untuk mbak-mbak berjilbab lebar yang merasa bosan dengan hidup. Padahal dia aktif berkegiatan. Mulai dari ikut diskusi dan bedah buku, jadi sukarelawan di Animal Rescue, mengurusi para waria dan anak jalanan, ikut bela diri, macam-macam lah. Saya heran, dengan kegiatannya yang sepadat itu, mengapa dia bosan? Ternyata karena menurutnya hidup itu nggak ada apa-apanya selain menunggu mati.

Saya udah nggak sempat heran lagi, tapi AMAT SANGAT HERAN. Kalau pun hidup adalah untuk mati, kenapa nggak nikmatin yang tersaji di depan mata, sepuas-puasnya?! Atau beribadah sekenceng-kencengnya buat bikin kapling di surga. Atau... jalani saja. Go with the flow, enjoy the ride. Sama seperti yang dibilang seorang ateis disini. Kenapa susah?

Saya jadi ingat karya Robert Frost. Satu-satunya poem yang amat saya suka:

Stopping by Woods on a Snowy Evening

Whose woods these are I think I know,
His house is in the village though.
He will not see me stopping here,
To watch his woods fill up with snow.

My little horse must think it queer,
To stop without a farmhouse near,
Between the woods and frozen lake,
The darkest evening of the year.

He gives his harness bells a shake,
To ask if there is some mistake.
The only other sound's the sweep,
Of easy wind and downy flake.

The woods are lovely, dark and deep,
But I have promises to keep,
And miles to go before I sleep,
And miles to go before I sleep.

Hidup adalah semata menikmati sejenak dingin dan gulita malam bersalju di tengah hutan milik orang lain, untuk kemudian kembali melanjutkan perjalanan. Entah kemana. Urip iku mung mampir ngombe, kata orang Jawa. Man can count on no one but himself; he is alone, abandoned on Earth in the midst of his infinite responsibilities, without help, with no other aim than the one he sets for himself, with no other destiny than the one he forges for himself on this Earth, kata Sartre.

Jika hidup adalah nasi yang sudah menjadi bubur, kenapa nggak bikin bubur ayam yang enak?

Labels:

Untitled 0.4

Posted by The Bitch on 12/15/2007 06:58:00 AM

Kematian adalah perihal padamnya lampu karena pagi menjelang

- Kutipan yang saya baca entah kapan, entah dimana.

Tick tock
Clock is ticking
Time is running
Another year, another path(s)
Time's awaste, cycles completed
Again, and again, and again

[closer to the end, closer to the grave]

... a celebration of joyful life to welcome a solemn tranquility, destiny, faith: D E A T H

Happy birthday, me. Such a life. Such a life, indeed (=

Labels:

Global Warming, Anyone?

Posted by The Bitch on 12/14/2007 06:15:00 PM

Dengan dagu terangkat dan kepala tegak saya bertanya: Apa yang sudah dan akan kalian lakukan, wahai para petinggi sepetak tanah yang disebut sebagai Negara Republik Indonesia? Ozon bolong, hutan kami terampas tanpa bisa kami lawan, dan kalian menyerah kalah bodoh terlolong karena tangan terikat ekonomi dan industri.

Adakah diantara kalian yang tidak berotak pedagang hingga kita tidak perlu menjual jatah emisi? Pernahkah kalian menghargai cendekiawan-cendekiawan (meski tidak muslim) dengan pantas, menyebabkan mereka tertunduk kecewa meninggalkan Ibu Pertiwi dan berbalik menyerang bangsanya sendiri? (Dan tidak heran hanya pedagang dan pengusaha kaya raya yang tinggal, dan mau tak-mau, hanya merekalah yang bisa kita pilih) Pernahkah kalian amini mereka yang memang pantas mengemban tanggungjawab sebagai pejabat penolak uang rapat ketika pendapatnya murni demi kemaslahatan rakyat tanpa profit bagi kalian? Pantaskah kalian sebagai abdi rakyat memerintah majikan untuk patuh tunduk pada aturan yang kalian buat tanpa sedikitpun mempertimbangkan kami, yang (katanya) kalian wakili? Ketika sejak lama kami telah memelihara sepetak tanah tetap hijau dan sungai tetap jernih, berhakkah kalian membabat itu semua demi tanam paksa masa kini berkedok perkebunan?

Seorang bapak yang masuk hutan di usia dua puluhan dan pernah merasakan hijaunya Sumatra hanya punya satu keinginan sederhana: aku cuma ingin anak-istriku, teman-temanku, dan orang seluruh negeri dapat menikmati indahnya hutan seperti aku menikmatinya dulu. Tapi bagaimana mungkin? Kalian biarkan sistem berantakan. Kalian korbankan sebagian besar dari dua ratus lima puluh juta jiwa dilanda banjir berkala, terendam lumpur, sesak nafas dan ISPA. Kalian biarkan orangutan terpanggang mati karena tiada tempat berlindung. Mengapa susah sekali mengalokasikan anggaran lebih untuk para Jagawana--dan merekrut mereka sesuai rasio hutan yang mereka jaga--agar mereka berani bertindak sesuai hukum yang menguntungkan ekologi?

Saat Belanda berniat membangun sebelas bendungan besar demi antisipasi es kutub yang mencair, apa yang akan kalian lakukan, duhai Bapak-bapak bersafari dalam ruang rapat Hotel Westin Bali?


Saya hanya kaget dengan konferensi sedemikian akbar, di bawah pengawasan seluruh dunia, dan Indonesia hampir tidak punya posisi tawar sebagai pemilik hutan hujan terbesar.

ps. Pakdhe, ajari kami melek seperti dikaw

Labels:

Confession of a Civil Servant

Posted by The Bitch on 12/12/2007 05:43:00 PM

Ini negara Indonesia yang kamu cintai, Sayang:

Ketika misalnya APBD punya anggaran untuk suatu program, katakanlah seribu perak, itu artinya lima ratus untuk kepentingan politik mempertahankan kursi kepemimpinan pejabat saat itu, tiga ratus masuk kantong sendiri, seratus untuk keluarganya, dan seratus untuk tujuan program tersebut. Mekanismenya sudah seperti itu sejak dulu kala. Saya? Hanya verifikator. Punya daya apa saya ketika proposal program sesuai dengan data yang ada. Kamu minta saya ganti pekerjaan? Saya enjoy ada disini. Ini satu-satunya pekerjaan yang menantang. Banyak deadline di akhir tahun, banyak ongkang-ongkang kaki di bulan Juni, banyak 'impossible tasks' yang ternyata saya mampu kerjakan. Ini lebih ke ego saya atas pembuktian bahwa saya bisa. Lagipula, sejak SMP saya sudah berkutat dengan hitung-hitungan macam ini. Kamu tau kakak saya pejabat. Dia sering kasih saya upah--meski habis untuk beli rokok--jika saya mampu menyelesaikan satu SPM ketika saya masih berseragam putih-biru. Lagipula, cuma saya yang bisa ngerjainnya. Uang haram? Nggak lah. Saya digaji sesuai TKS. Saya nggak korupsi. Komisi memang saya terima dari orang-orang yang proyeknya saya centang dan dananya cair. Saya nggak kasih target berapa mereka harus bayar ke saya. Dikasih, sukur. Nggak dikasih juga saya nggak minta. Jujur aja, kalo kamu mau kerja disini dan pengeluaranmu cuma untuk kebutuhan dasar, dalam setahun kamu sudah bisa beli mobil. Saya ajari kamu sampe bisa, meski saya harus bolak-balik puluhan kilo dalam sehari. Kamu bisa dapat lima hingga enam kali lipat gaji dari komisi yang mereka kasih. Sudah hampir lima tahun saya disini. Saya nggak berhasil bahkan beli motor sekalipun karena saya boros. Tapi saya nggak korupsi. Ya, saya mengerti sistemnya, kemana dana mengalir, dan sebagainya, dan sebagainya. Tapi saya nggak bisa merubah sistem yang sudah ada. Saya nggak punya daya. Saya hanya turuti apa yang ibu saya katakan dulu: Lakukan yang terbaik untuk pekerjaan apapun, entah halal atau haram, asal saya senang melakukannya.


Saya hanya bisa gemetar marah mendengar pengakuan yang diocehkan dengan santai dinihari itu, serasa tanpa beban. Koreksi: Saya cinta BANGSA Indonesia, alamnya, budayanya, manusianya, BUKAN negaranya dan yang menjalankan apa yang disebut sebagai negara. Catat itu!

Labels:

Resolution

Posted by The Bitch on 12/12/2007 02:19:00 PM

God created universe, angels, demons, Adam and Eve, then He let them on autopilot. Now, all God do is just sit back, relax, and enjoy a good, ever-continuing show called life.

Labels:

The Tired Lover

Posted by The Bitch on 12/12/2007 03:13:00 AM

Hi, Nduk!

Sedang apa? Sebentar. Biar kutebak. Kopi kental dan panas, rokok, serta Acoustic Alchemy di depan Si Dino. Ah, iya. Biasanya settingan kayak gitu itu di atas jam satu. Belum mengantuk atau terbangun tengah malam.

Seperti aku.

Sebulan ini aku lelah sekali. Dengan pekerjaan. Dengan kehidupan bersosialisasi. Dengan cinta. Lima huruf yang mengejewantah menjadi bangsat ketika tidak berbalas. Sebagaimana yang kubaca di Al Ghazali bahwa awalnya cinta akan membakar kemudian membunuh. Pernahkah kamu berpikir, Nduk, betapa romantisnya terbunuh cinta? Sayangnya kamu bukan mahluk romantis meski pernah mencoba mendengar Kerispatih dan Glenn.

Aku sedang mengasah pedang untuk kutusukkan sendiri pelan-pelan ke dada. Aku mengusahakan cinta yang tidak mungkin kudapat. Aku mengerti perbedaan 'kasta' kami. Dia amat sangat cerdas sementara aku kebalikannya. Dia amat sangat independen sementara aku bergantung pada keluarga, sahabat, tetangga, tukang bubur ayam yang setiap setengah tujuh lewat di depan rumah. Aku terbuka sementara bentengnya setinggi dan setebal sekolah Hogwarts.

Aku nggak bisa seperti kamu, Nduk, yang memendam cinta sendirian dan merasa cukup ketika dia hanya berbagi kecewa dan derita bersamamu. Aku ingin memberi dan diberi utuh seluruh, bulat-bulat. Aku ingin memiliki tawa renyahnya, binar di sepasang kejoranya, senyum hangatnya, sumpah serapahnya... dan ekspresi wajah ketika dia meregang nikmat bersamaku. Berdua. Hanya aku dan dia. Egoiskah?

Sudahlah, Nduk. Mungkin aku harus ganti target operasi sepertimu yang mudah sekali mencari jiwa untuk disayangi. Mungkin tarafku hanya sampai mengangankan dia dan aku berdua di dalam sebuah rumah mungil yang jadi dunia kami sendiri. Hingga kerutan di wajah kami membanyak dan osteoporosis mengancam kami jadi bungkuk. Tidak. Aku tidak bicara tentang pernikahan. Aku juga nggak percaya hal itu. Tapi aku percaya aku tetap perlu seseorang di sampingku dan menghabiskan waktu bersama hingga kami beranjak tua. Dan orang itu adalah dia: Perempuan penyimpan api yang kupuja setengah mampus dan hanya bisa kupandangi dari jauh. Seperti kamu. Sayang... kamu masih di bawah umur. Kalau saja kamu seusiaku, kuperkosa kamu dan kujadikan monumen kemenangan atas namanya. Mungkin nanti aku bisa takluk di bawah kakimu. Hehehe.

ps. hey, lagumu asyik juga. Aku mendengarkan Cryin' hingga menangis. Shit!

Labels:

Berhala

Posted by The Bitch on 12/09/2007 04:33:00 PM

Saya gila baca tapi nggak suka beli buku. Jika harus membeli pun saya lebih suka buku bekas. Saya punya lapak langganan buku bekas tempat ensiklopedia Times dijual hanya dua puluh lima ribu rupiah per buah. Dalam kondisi sangat laik baca (dan pajang). Disini saya merasa hidup adalah humor satir yang terkadang kejam. Saat saya perlu buku referensi untuk tugas (waktu masih jadi bangkusekolahvora), sering saya hanya gigit jari dan pinjam sana-sini. Di perpus yang lumayan ngaujubilah gedenya, 10-20 buku rasanya nggak cukup untuk memenuhi keperluan anak-anak yang rata-rata berkondisi seperti saya. Nggak bisa ngopi, karena untuk berangkat ke sekolah pun saya kerap jalan kaki saking nggak punya duit. Di lapak dekil dan kumuh serta pengap ini, saya temukan buku-buku yang dulu saya perlu dengan harga sekali makan siang di warteg! Getir, kan?

Saya juga sering ditegur satpam penjaga toko buku di mall karena sering numpang baca dari buka sampai tutup. Itupun gayanya kayak di rumah sendiri: duduk bersila, kadang-kadang selonjoran sambil bersandar pada dinding kosong. Cuma kurang susu atau teh anget aja (waktu masih SMP dan SMA saya belum jadi pecandu sigaret dan kafein kayak sekarang). Ya gimana? Saya haus bacaan dan nggak bermodal, jadi saya robek bungkus buku dan saya resapi gambar dan kata yang ada disana. Dan itu memutus urat malu saya--jika memang punya--apalagi hanya untuk takut pada pentungan, kumis sekepal, seragam biru-putih komplit dengan lilitan tali di lengan dan topinya, serta wajah coklat-hitam berminyak yang diseram-seramkan. Jika lapar, saya keluar sebentar ambil tas dan buka kotak makan di salah satu meja foodcourt. Biasanya cuma roti tawar bermentega ditemani air mineral sebotol. Dan saya merasa dunia berputar baik-baik saja asalkan koleksi Trio Detektif dan STOP bisa saya lahap semua. Juga Asterix, Lucky Luke, Si Bob Napi Badung, Steven Sterk, Bul dan Bil, Spirou, Enid Blyton, Lima Sekawan, John Grisham, Sydney Sheldon...

Setelah jadi buruh dan punya uang sedikit, meskipun nggak rutin tiap bulan, saya selalu menganggarkan sepersedikit itu untuk buku. Rasanya nikmat, membuka dan membaca lembar demi lembar buku apak--dan sering bikin wahing itu--ditemani rokok dan kopi panas nan kental.

Saya hanya berharap andai seorang karib di Jogja sana ada di dekat saya, bersama berburu buku. Pasti menyenangkan sekali melihat mukanya yang ditekuk tujuhbelas. Buatnya, beli buku yang layak koleksi itu harus baru, disegel, dan dua buah. Satu untuk disimpan dan satu untuk dibaca atau dipinjamkan. Dan dia mengoleksi hampir semua buku yang dia beli. Si mbak ini sampai pesan lemari besar dan bagus, khusus untuk koleksi buku-bukunya. Setiap kami bertemu, dia yang lebih dulu menyapa dengan: "Udah baca buku anu? Asik, lho. Ceritanya tu tentang teori bla bla bla..." Saya cuma nyengir. Besoknya saya cari versi pdf dan dalam bahasa asli (karena yang dia maksud biasanya versi terjemahan). Buat saya lebih nikmat membaca buku dalam bahasa aslinya. Dan saya bersyukur punya kemampuan bisa berbahasa lain, karena saya bisa balas dia--saat kami bertemu lagi dan dia membicarakan minimal 3 buku--dengan: "Oh, kalo kamu baca versi inggrisnya, itu lebih asik lagi." Ya, ya. Saya tau saya bodoh dengan melakukan itu. Tapi saya tergoda, sementara saya hanya manusia yang nggak tahan godaan. Haha!

Lalu ada masa dimana 'melek buku' adalah tren. Karena terlihat pintar? Mungkin. Tapi tren ini bikin orang berlomba-lomba bikin dan nongkrong di kafe buku, kenalan, bahkan sampai ada yang menjadikannya sebagai ajang cari jodoh. "Kita bisa tau itu cowok gimana karakternya kalo kita tau apa yang dia baca," kata cewek-cewek itu. Sayang, lagi-lagi saya masih belum mampu mengkonfirmasi karena saya nggak mampu nongkrong di tempat seperti itu. Wong cuma buruh, kok.

Tapi rasanya sangat kuper sekali jika saya ketauan belum baca buku anu atau apa lah. Ya saya sih nggak masalah orang mau bilang saya kayak gimana. Lha saya memang kuper. Nggak tau mode. Kemana-mana senengnya gaya dukun, hitam-hitam. Perpaduan warna yang paling bagus pun buat saya ya cuma merah dan hitam. Di lemari saya juga adanya cuma kaos, jins, celana panjang dan jumper. What do you expect?! Kalo saya kuper, apa terus mendadak kena serangan jantung dan mak bedunduk mati mendadak, gitu?

Dan sepertinya, mbak dan mas yang pada jor-joran beli buku itupun masih sama bodohnya dengan saya yang kuper dan nggak mampu beli buku. Nggak tambah pinter, meski maksa terlihat tau segala. Idupnya juga masih seputar kantor, rumah, kafe, mall, ajeb-ajeb; rumah, kantor, mall, ajeb-ajeb, kafe. Gituuu terus. Masalahnya juga berputar sekitar jerawat, selangkang, pakaian, pacar, ketombe, kulit gelap; ketombe, pacar, jerawat, selangkang, kulit gelap, pakaian. Gituuuu terus. Mbok ya kalo udah pinter, bikin anak-anak remaja tanggung di Bunderan Senayan sana jadi pinter juga to, biar nggak pada ngisep lem terus. Atau ngajarin anak-anak pengamen gimana metik dan nyetem gitar--juga nyanyi--yang baek dan bener biar kalo 'manggung' di bis tu sinkron antara congor dan instrumen. Atau bikin ibu-ibu dan mas-mas tukang wedang di Bunderan HI jadi lebih bisa itung-itungan biar nggak kastemernya terus yang rekap. Atau bantuin belajar bocah-bocah berjilbab yang suka minta sumbangan malem-malem di warung tenda Radio Dalam biar nilai rapornya nggak pada jeblok dan bisa lulus tanpa ngulang setaun lagi. Atau mulang kondektur anak-anak dan sebaya mereka yang suka kelayapan di terminal Blok M sampe jauh malam biar orientasinya nggak duiiiit terus.

Makanya, jangan nyembah buku aja. Kalo cuma kamu yang pinter dan orang lain goblok, itu seperti bertarung melawan satu ketapel sementara kamu punya seratus bazooka. Dimana letaknya asik kalo pertempuran nggak seimbang gitu? Ya nggak masalah si, kalo kamu maunya menang dan jadi pemimpin orang-orang goblok.

So?

Labels:

Another 'What The Fuck' Post

Posted by The Bitch on 12/08/2007 08:22:00 PM

Dulu, 'Kambing Jantan' menurut saya adalah buku terkeren karena awalannya yang 'luar biasa'. Hanya dari iseng-iseng cari kompensasi isi waktu luang, didukung semangat pengen silaturahmi, tau-tau bisa jadi buku terlaris dan menggebrak hebat. Dapet duit banyak. Jadi terkenal. Seleb di kalangan cyberians.

Setelahnya banyak yang ngikut. Dialog chatting mulai jadi trend dalam buku-buku berakhiran 'lit'. Menyenangkan, memang. Awalnya. In the end, entah kenapa, rasanya jadi annoying. Mungkin too much of something membuat apapun membasi.

Dulu sempat teman saya yang baru buka penerbitan cari-cari naskah, mulai cerpen, novel, atau bahkan resep masakan hingga buku how-to. Sampe-sampe tulisan kacangan saya dimintanya. Saya? Apa sih yang bisa saya tulis selain makian, cacian, kemarahan, putus asa dan serba nggak teratur? Saya nggak bisa berimajinasi, apalagi menuangkannya ke dalam satu bentuk cerita mencerahkan dan nyenengin pembaca. Sebagai anak sekolah kere dan ngiler tiap liat anak sekolah lain leha-leha di kafe, saya tertarik banget dengan 'bisnis' ini. Duitnya banyak! Bodohnya, saya selalu nggak sempat meluangkan waktu untuk belajar menulis yang baik.

Terussssssss...
Saya ngeblog juga. Masturbasi pikiran, kata saya. Demi ejakulasi intelektual (bah!) yang hanya berani saya lakukan (dan nikmati) sendirian. Atau saya hanya akan berakhir jadi robot bernyawa, membawa sekeranjang penuh karat jiwa di kepala tanpa bisa di daur ulang. Padahal, layaknya urin, karat-karat itu masih bermanfaat meski sedikit. Akhirnya saya suka proses nongolnya ide, menulis, editing, kemudian publishing, meski semuanya hanya saya konsumsi sendiri. Ini cara saya onani. Ini cara saya bermain dengan diri sendiri.

Saya sadar, saya terdisplay penuh pada dunia karena halaman ini nggak saya setting sepenuhnya untuk saya sendiri. Sengaja. Demi keanekaragaman hayati. Well, saya juga mahluk hidup. Meski nantinya punah, saya adalah salah satu representasi spesies aneh dalam genus perempuan. Selama belum berkalang tanah, kalian, para cyberians iseng berlebih waktu hingga nyasar kesini, perlu tau betapa menyenangkannya jadi manusia seperti saya. Betapa bebas saya misuh, mencak-mencak, berdarah dan lebam, untuk kemudian bangun lagi, jatuh lagi, bangun lagi. Ini media saya menjadi saya seutuhnya. Kamu mau apa?!

Dan bagi saya, bodoh sekali ada orang yang melarang-larang orang lain onani di rumahnya sendiri. Macem disini dan disini. Sudahlah. Mereka nggak kenal siapa yang mereka jadikan bahan masturbasi, karena itu yang mereka tau cuma yang jelek-jelek. Dan mereka horny dengan itu! Maklum, fetishnya aneh. Remember 'tak kenal maka tak sayang'? Mereka juga nggak akan jadikan, misalnya, Ibu atau istri jadi konsumsi orang lain, kan? Lagipula, masih banyak yang harus dilakukan daripada ngurusin orang merancap, menegang, lalu mengerang sendirian. Entah nikmat, entah sakit. Atau keduanya.

Tapi saya pikir-pikir lagi, alangkah liciknya mengkomersilkan materi merancap yang sangat personal ini jadi duit. Memang, akhirnya bermanfaat seperti urin yang saya sebut tadi. Namun, bukankah urin yang bermanfaat bagi diri sendiri adalah pipis ketika bangun di pagi hari setelah cukup tidur semalaman? Dan yang berguna bagi diri sendiri belum tentu berguna bagi orang lain, kan?

Mungkin saya masih lempeng abis masalah ini, dimana semua hal idealis yang ada di kepala saya coba wujudkan jadi daging, darah dan tulang. Meskipun saya tertatih membawanya sendirian sementara saya harus bergulat melawan dunia yang nggak se-ide dengan saya (atau saya yang nggak sejalan dengan dunia?). Tetap, saya sangat menanti bagaimana dada terasa plong dan warna di sekeliling jadi lebih cerah ketika satu posting selesai, tanpa ada keinginan membaca komentar para cyber dweller lain, tanpa muatan apapun, tanpa pretensi dan maksud apapun (selain misuh, mungkin), tanpa tenggat. Sebab minimal sehari dua kali saya bertenggat. Melelahkan, tauk.

Jika blog adalah katarsis, EMANG GWA PIKIRIN?!

Labels:

End-Year Habit

Posted by The Bitch on 12/05/2007 05:29:00 AM

Oke. Saya dapet PR menyambut Tahun Baru (yang entah kenapa biasanya saya rayakan dengan tidur 'setahun').

Delapan resolusi yah? Here we go...

  1. Jadi lebih sabar. Nggak grasa-grusu. Katanya, orang sabar bisa banyak belajar.
  2. Bisa ikhlas. Ya, dunia nggak berjalan seperti yang saya mau. So?
  3. Bisa 'nunduk', nggak ndengak terus. Biar tau kalo di bawah ada lobang. Ada yang mau menundukkan saya? *nyengir iblis*
  4. BISA PAKE KAOS DARI KAK DONTJEH! SECARA ukuran gwa XL dia kasihnya M. Babi dehhh.
  5. Bisa bagi waktu. Jadi nantinya work-life itu jadi seimbang, nggak berat sebelah.
  6. Dewasa, bisa membedakan antara MENCARI CELAH pada setiap masalah dan BAGAIMANA ngadepinnya.
  7. LEBIH BANYAK KAOS HITAM!!!
  8. Jalan-jalan Jauh cuz the clock is ticking and it's getting closer to my time.
Udah, itu aja. Boleh kan, Vi? Dan sekarang kutukan saya timpakan pada beberapa soulmate saya: Sandal, Sukopet, Kak Dontjeh, Pakdhe Pamei, Maz Ipul, Maz Bek, dan Balijem. Alasan saya milih mereka? Biar cepet aja. Delapan orang pertama who popped up in my mind emang manusia-manusia itu. Saya nggak pengen mereka berubah sedikitpun. Saya bersyukur memiliki mereka sebagai teman dan kadang sebagai musuh.

Wis! Utangku lunas!

Labels: