"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

A Night To Remember

Posted by The Bitch on 11/28/2007 11:37:00 AM

"Permisi..." ujar kami serempak.
"Silahkan... Besok-besok pake tiket ya," jawab salah satu diantara orang yang berdiri di pinggir jalan.
Lepas tengah malam. Lewat beberapa menit dari pukul dua dan kami merasa tanggapannya lucu sekali, dilontarkan dari mulut seorang lelaki paruh baya dengan gaya kemayu. Hidung dan bibirnya mirip Haji Jeje, berdiri diantara perempuan bermata sipit dengan celana superpendek, paras ditutup bedak tebal-tebal, mengenakan singlet atau tanktop minimalis (dan belahan dada dimana-mana), serta rambut panjang terurai--rata-rata berwarna coklat terang. Ada beberapa yang duduk di atas motor, lengkap dengan helm dan jaket. Di sepanjang jalan itu mereka berjejer. Di pinggir jalan sebelumnya berderet lapak penjual Cialis, Viagra, Kondom Lele dan macam-macam barang seperti itu. Nggak ketinggalan bokep-bokep masa kini. Benar-benar one-stop market untuk urusan pinggang ke bawah. Saya dan si Beyond Pervert melenggang santai menikmati suasana: bagian dari Jakarta yang berdenyut bingar (namun sepi) sepanjang waktu.

Beberapa jam sebelumnya kami baru saja terjebak selama tigapuluh menit. Rencananya akan ada seorang kawan lama yang janji bertemu di sebuah resto cepat saji daerah Lokasari. Saya sudah berharap kita bakal nongkrong dan ngobrol, berusaha menangkap dan mengejar waktu yang hilang diseling rokok dan cemilan. Tapi apa lacur? Si teman yang DJ di tempat ajeb-ajeb itu menggelandang kami menuju ruang karaoke tertutup di lantai atas diskotik abal-abal (meskipun saya nggak pernah suka tempat pekak seperti itu, saya tau beda antara keren dan abal-abal karena dulu sempat terkurung di Centro). Sungguh, tertutup sekali. Ketika kami masuk, bau harum menyengat menerjang hidung. Di detik yang sama, suara hingar-bingar musik menghentak menghantam gendang telinga kami hingga berdentum ke dada. Tanpa jeda. Di dalam remang-remang, hanya beberapa lampu berwarna yang menyala dan tidak begitu membantu. Dua buah televisi 29" mematung diam, gelap tanpa gambar (dan baru saya sadari setelah saya hampir nabrak dengan sukses). Di atasnya menggantung sebuah televisi--lagi--yang menayangkan sinetron tanpa dialog. Hanya mbak-mbak dan mas-masnya mangap-mangap, saling tunjuk, muka marah, berpelukan, lalu nangis. Standar sekali.

Di seberang televisi ada sofa berbentuk L dengan meja besar. Di atasnya ada pitcher, botol-botol bir dan gelas, serta kaleng minuman yang letaknya tidak beraturan. Beberapa pasangan umpel-umpelan rapat nggak karuan. Hanya dari bayangannya saja saya bisa tau itu adalah lelaki dan perempuan, dan ada sekitar empat pasangan disana. Tidak termasuk kami. Terpisah dua meter dari sofa ada ranjang lumayan besar (what the fuck is that bed doing di tempat karaoke?! Emang ada orang nyanyi ampe mo pingsan sampe harus sedia kasur segitu gede?! Hey... ini mana yang nyanyi?! Katanya tempat karaoke?!). Kami hanya garuk-garuk kepala karena nggak ada satu pun orang yang dikenal kecuali Mas Dije. Lagipula, percuma kenalan. Suara musik yang ngaujubillah itu--dengan setelan trebel gaya orkes Soneta--menelan semua usaha komunikasi kami.

Alih-alih berdiri di tengah ruangan macam patung Selamat Datang, saya menyeruak dan duduk secueknya di tempat yang masih lowong. Sebelah kanan saya sepasang manusia yang tadinya rebah merapat langsung lepas dan menyomot tisyu. Nggak tau untuk ngelap apa karena saya buang muka ke kiri, ke lelaki aneh berkacamata hitam yang duduk dengan bahu bersandar sambil gedeg mengikuti hentakan musik. Si Beyond Pervert mengambil tempat di samping saya dan langsung mengeluarkan ponselnya. Sesaat kemudian dia mengangsurkannya ke pangkuan. Ada text message yang belum terkirim, berbunyi 'gwa ga tau bakal dibawa ke tempat kek gini. Sorry. Dun drink anything unless I said ok and keep an eye on your cigarette pack. I won't go anywhere'. Saya jawab dengan: First of all, I dun drink in a place like this. Take your time. I'll try to enjoy this as much as I could. Kinda get the ambience, though (= Dan saya merasa jadi a bad liar.

Saya nggak tau apa yang mereka omongin dan bagaimana mereka cekikikan and make up for the lost times karena mata saya tertancap di layar televisi. Baru kali itu saya bersyukur ada yang menciptakan sinetron, karena saya ada bahan pengalih perhatian: menebak dialog yang diucapkan para pemainnya.

Setelah saya 'menandai teritorial' (iya, edan! Segitu nervousnya sampe saya mules), kita langsung cabut dan menghirup udara luar. Sudah jam sebelas malam dan entah kenapa kami tiba-tiba lapar. Akhirnya terdamparlah kami di resto fastfood tempat janjian tadi. Ngerumpi, ngobrol ngalor ngidul bali ngulon--lagi-lagi berdua--dan ketawa-ketiwi hingga dinihari. Selingkaran kami hanya ada om-om puber ke sekian ditemani mbak-mbak kinyis-kinyis bersuara renyah merdu merayu. Such a night! Such a night, indeed...

As a human, have you ever feel sorry for those mbak-mbak who sell their bodies to the night?
I believe that everybody have their own choices, paths, you name it. Perhaps it's just their way in achieving life and triumph over prosperity.
So, you agree in prostitutions, then?
I never do. I just don't want to make it big by preventing myself from taking the benefit from such thing. I mean, fucking is a matter of need, and it has to be reciprocal. When I fuck one of mbak-mbak, it is going to be me who get the satisfaction. Not them, because they're just selling. It's not fair. And they are fake. You know why they always standing in the dark? Because when you see them in the light, they're all ugly under the face paintings. It's the bodies they sell, the ride, the function. When you--fortunately--got the aestetics side of them, it's merely bonus.
What if they do that because they've got to earn their living?
Still, it's their choice. I think there are a lot of decent ways to earn a proper living and make the best of it. Not by spending weekends to Mondays renting a place to get high, listen to the deafening music and wasting millions to do so. It's an unending stupidity.
And what is 'living', anyway?
It's about getting into the process of how you deal with problems, solved or unsolved. It's about courage to take a daring step for the sake of a better achievement. It's about being brave to bear the consequences without regret, because it's one of the things money can't buy, regret is. It's about pursuing, continuously, to the higher level of accomplishment. Through the ups and downs. That, my friend, is what makes a life.


...and The Pervert Masta has spoken...

[entah kenapa yang terngiang-ngiang di kepala saya adalah Janie's Got A Gun-nya Aerosmith]


Labels:

Mengoceh

Posted by The Bitch on 11/22/2007 06:31:00 AM

Oke. Kamu orang ketiga yang tau saya sedang merah hampir marun. Lagi. Memang kenapa? Apa salah? Saya normal, manusia, punya emosi, punya hati. Tapi saya juga masih belum yakin apa ini namanya. Karena yang saya punya cuma sayang, bukan nafsu.

Ya, ya. Mungkin saya frigid. Mungkin saya angkuh dan bikin benteng tinggi-tinggi dengan menahan nafsu supaya nggak bobol. Mungkin ini pelarian atau pencarian atas sesuatu yang pernah hilang dulu. Tapi saya masih the same old shithead you always know. Saya juga nggak mak bedunduk macak cewek banget, manjangin rambut, ikut diet mati-matian biar berat badan susut atau berubah dari jins belel dan kaos butut ke rok pensil dan blus V-neck. Kalopun saya nantinya berambut hijau, merah atau biru--nggak tau yang mana, saya belum putuskan--itu murni pengen nostalgila karena Si Pervert itu ke Jakarta. Lagian, dengan kulit selegam ini, punya kepala warna-warni malah bikin saya mirip alien nyasar. Bukan tambah bagus!

Udah lah. Biarkan saya dengan perasaan ini sendiri. Saya simpan rapat-rapat di ceruk terdalam. Saya senang dan nyaman dengan hanya begini. Apa? Bilang ke orangnya? NGGAK! Kamu nggak tau situasinya. Aduhhh... Jangan pake alasan itu lagi! Kamu sama aja sama orang kedua sebelum kamu itu. I deserve better, katanya. My ass! It is I who know what's best for me. Not you, not him, nor her.

Gimana, gimana? Kamu bener-bener pengen tau saya terkuple-kuple ama siapa? Nggak bakal ketawa? Sungguh?

Begini... Saya lagi crush sama T U K U L ! Huahahahahahahahahahahahahahahahahahaha!!!

Labels:

Feel Bored?

Posted by The Bitch on 11/21/2007 03:00:00 AM

Disini saya. Setengah dua dinihari, bengong di depan layar komputer berteman susu-madu dan sigaret. Rabi pemusik itu menyumbat telinga saya kencang-kencang. Seorang sahabat baru saja curhat terpaksa karena merasa jenuh akan rutinitas. 'Saya merasa seperti robot,' katanya.

Buat saya, manusia adalah mahluk paradoks yang fleksibel jadi apapun di saat apapun. Mungkin menjadi robot memang perlu, jika pekerjaan yang menghasilkan uang untuk kebutuhannya sehari-hari memang mengharuskannya untuk itu. Berkumpul, bergabung di tengah keramaian, menjaga hubungan baik dengan manusia lain juga penting. Tapi perlu juga waktu sendirian, untuk berpikir maupun hanya menikmatinya. Dan saya sering juga merasa asyik jadi soliter di tengah hiruk-pikuk suara tawa. Nggak ada salahnya. Nggak ada keharusan yang mewajibkan seseorang untuk ikut orang lain.

Ketika kebosanan menyerang hanya satu yang membuat saya 'hidup' lagi: melakukan hal spontan. Jujur, empat kali saya mengutil di supermarket waktu masih sekolah berseragam putih-abu. Hanya karena bosan. Yang saya curi pun bukan barang yang saya perlukan. Krim bayi, gel rambut, kondisioner, dan sabun wajah. Semua saya kasih ke seorang teman yang deg-degan liat kebiasaan saya (herannya kok ya dia terima-terima aja jadi penadah). Yang terakhir, ke empat kalinya, berhasil ketangkep satpam, digiring ke pos, dibentak-bentak (nggak cuma sama satpam tapi juga sama SPG dan SPB), lalu diharuskan bayar sepuluh kali lipat dari harga barang yang saya embat. Dengan cuek, saya keluarkan uang lima ribu karena hanya itu yang saya punya. Saya dibentak lagi, dikata-katain lagi karena goceng nggak sesuai dengan harga yang mereka minta. Untungnya kebiasaan saya nggak punya dompet, nggak pake badge sekolah dan selalu menghilangkan kartu pelajar lumayan berguna juga saat itu. Mereka nggak tau mau lapor kemana dan nggak berhasil mengorek keterangan dari saya. Diancam mau disel pun saya cuma mencibir. Ibu saya dihina, saya balas lebih pedas. Diancam dosa? Ibu saya aja udah capek mukulin pake gagang kemoceng hanya karena saya nggak mau solat. Apalagi cuma diomongin satpam jelek, gendut, berkumis kayak gitu!

Kejadian itu bikin saya kapok. Bukan karena dibentak dan dimaki satpam. Wong saya bales maki, kok. Dan bukan juga karena ketauan. Saya nggak takut ketauan. Semua karena ada satu mbak-mbak SPG yang menegur saya dengan lembut.

'Kamu tau nggak Dek, kalo kamu ngutil gini, kami semua yang harus nanggung. Potong gaji. Mungkin nggak seberapa. Tapi kalo sehari ada satu yang kayak kamu, sebulan ada berapa? Gaji kami kecil, dan kami capek seharian berjaga. Keperluan kami juga banyak sementara kami bukan orang berpunya. Banyak diantara kami yang jadi kepala keluarga di rumah. Kamu beruntung bisa sekolah SMA. Saya cuma lulusan SMP. Kenapa yang sekolahnya lebih tinggi kelakuannya nggak lebih baik?'

Touché! Saya seperti digampar keras-keras oleh seluruh anggota dan pimpinan Asosiasi Preman Se-Indonesia tanpa bisa balas. Saya bungkam. Daya ngeyel saya turun hingga titik nol. Perlawanan saya rata dengan tanah. Saya nggak terima sama diri sendiri karena kompensasi atas kebosanan saya berimbas jelek terhadap orang lain.

Beberapa tahun kemudian, waktu saya dilanda kebosanan lagi, saya memutuskan untuk menindik bagian antara dagu dan bibir bawah saya. Berbekal kaca kecil, alkohol, es batu, jarum pentul dan lilin. Setidaknya saya yang sakit sendiri... dan merasa keren sesudahnya. Haha!

ps. jadi, Ndal... mo nyoba? *evil grins*

Labels:

Weekend Geblek

Posted by The Bitch on 11/18/2007 10:03:00 PM

Sabtu:
  • Pulang nongkrong jam 6 pagi hanya karena kesalahan bego. Spent 3 jam di warnet karena kekuncian, padahal ada janji ama mandor pabrik topeng mau berangkat pagi.
  • Ternyata baru bangun jam 12 siang setelah tidur dari jam 8. Panik, batere ponsel tinggal 1 bar sementara 'kemana'nya pun gwa ga tau, padahal itu semacem tugas negara. Karena males melakukan kenyasaran bodoh dan lemes akibat akumulasi capek, tidur lagi dwonk! Dan, tentu saja, sambil charge batre yang harus dilepas dulu dari rumahnya itu. Damn. I need new ones.
  • Bangun jam 4 (ya, saya senang kalo weekend bisa tidur ngebo), bales-bales SMS yang nggak berenti-berenti dateng.
  • Jam 7 ada 'cry for help'. Baru bisa makan akhirnya jam 9-an. Berangkat nginep ke tempat seseorang sejam setengah sesudahnya.
  • Nonton pelem geblek, ngerokok-ngerokok di luar, baru ngantuk jam setengah lima. Another damn.
Minggu:
  • Bangun kepaksa jam 6, loading, sit on the throne dan mandi sesudahnya.
  • Pergi ke Bandung sebagai anggota seksi hore-hore jam 7. Sarapan di rest stop, ninggalin jejak disana.
  • Kondangan dan nyampe di TKP 15 menit sebelum acara jam 11. Acaranya buat gwa cuma ngabisin makanan.
  • Jam 1 balik, parkir nungguin ibu-ibu belanja dan LAGI-LAGI saya ninggalin jejak di salah satu kamar mandi di kafe deket situ.
  • Nyampe tempat Mamih saya tersayang, yang nggak pernah berhasil menjual sayah, tepat jam 4. Nongkrong bentar, dan KEMBALI buang muatan.

Kesimpulan:
Gwa menandai teritorial dimana-mana. Haha! Siapa suruh baca posting ga jelas gini?! Jijay bajay markojay, kan?!

Labels:

Whisper

Posted by The Bitch on 11/16/2007 04:31:00 AM

Ssssttt... Sini. Let me ask you something. Jika saya nyaman jadi platonis, could you stop choosing me the thing you thought I deserve better? For once in my life, I want to leave. Not be left. Capiche?

Labels:

What A Grown-Up Thinks

Posted by The Bitch on 11/15/2007 03:56:00 AM

Me : Hey. Got a sec? I need a grown-up's opinion
Him : S'up?
Me : Jez wanna know... Is it possible for a woman 2 luv more than a man?
Him : Not only a woman, beib. Even for a man, there's always possibility 2 luv more than 1 woman, or even anotha man
Me : :D
Him : It's commitment dat counts. If u're committed to one person, I think it'll be no problemo 2 luv thousands of wo/men as long as u stick 2 the one whom u committed to
Him : So... who are those cursed bastards u in luv w/? :))
Me : None :D I'm jez curious
Him : U've gotta be kiddin'! There's no way u're asking me this unless u've got sumthin' in dat lil empty brain of urs
Me : Haha! Yeah rite. As always, I've got a crush w/ diz wrong, unlucky bastard. Gotta channel my feelin' out or I've got all used up. I need anotha object of my affection
Him : Do I know dat punk?
Me : P'haps. Won't tell :P N HE'S NOT PUNK! He's nice
Him : Damn.
Him : D'ya luv him?
Me : Dunno. In a way, I guess. I'm trough w/ luv, afterall. What's left is only affection or compassion, if I could say so. Whateva. There's no burning, consuming fire. Not even a flame. It's merely comforting warmth. Fuck
Him : I'll drink 2 dat, sista! What the fuck is luv, anyway? People say dat when u look deep into one's eyes, u'll find what luv is. But when I stare at her eyes, I only got a hard-on :))
Me : =)) U n ur lil dick! U could even fuck a goat's brain out!
Him : Watch out, Lady! The thing between my legs is a MONSTER!
Him : True. I mean, it's surely not the 'noble' luv. When I've got a hard-on lookin' at her eyes, I can't tell if it's merely lust, physically attracted, needed release, or whutevadatnameis. P'haps u should think dat lil prick over. P'haps he jez happened 2 be there when u need sum1
Me : I did. Dat's why I toldcha I only have affection. I just realized dat when my friend said I've been acted differently and he asked me whether I'm in luv or sumthing. It's impossible to answer w/ 'sumthing' cuz he knew me 2 damn well. He noticed me got short fused or sum kind. It's the feeling of longing, I guess. Dat's what makes me different
Him : Did u both fuck?
Me : NO FUCKIN' WAY! It's not physical, really. He's in no way sexy. Not even in the same zip code as sexy. We're not even touching each otha, literally! How do we fuck, then?!
Him : I dunno. Maybe u fuck 'm in ur mind
Me : Hey! We're dealing w/ emotion here, not physical. U dig?
Him : =)) Deep, baby. I dig u deep =))
Him : So... wanna tell him ur feeling?
Me : Nah. I knew him damn well. There'll be only 2 options if he knows: he would stay as a friend, or go away. N I dun wanna take the risk now, losing 'm
Him : Good. U bothered w/ dat?
Me : Nope. I jez can't stand to see him walk away. Take anyone but him, I dun mind. He's like... me in a male form. Tapi lebih keren sedikit :D
Him : Halah!
Me : U know now why I won't tell, eh?
Him : :)
Him : U'r sec's up from the 3rd line ago. Now I've gotta munch. I'm starving
Me : Shoo! Scram, then!
Me : Hey, u
Him : What now?
Me : Thx, Bro *hugs*
Him : No sweat. It's only a child's play >:)
Me : *tonjok*

Labels:

Sumpah Pemuda Effect

Posted by The Bitch on 11/14/2007 02:42:00 PM

Young man control in your hand
Slam your fist on the table
And make your demand
Take a stand
Fan a fire for the flame of the youth
Got the freedom to choose
You better make the right move
Youth is the engine of the world

- YOUTH by Matisyahu, a Jewish Rabbi, a beatboxer, and a peace lover as well


Eyang Pram juga menganggap anak muda adalah benih bangsa yang mampu membawa perubahan karena kaum tuanya mungkin sudah rematik termakan usia dan otaknya lelah berpikir. Masa muda adalah puncak, saat dimana manusia menjadi 'immortal', merasa mampu menggenggam dunia dan melambungkannya dari tangan kiri ke tangan kanan. When each and every youngsters is alpha fe/male ketika daging masih liat dan produksi kelenjar minyak di bawah kulit masih berlebihan.

Sudah. Cukup. Saya nggak mau lagi bermelankoli dengan hidup yang sebentar, merasa heroik karena jadi tempat sampah dan menyampahi waktu dan telinga sahabat-sahabat terkasih, jadi kerak dunia karena hanya sanggup nyonthong tanpa bisa berbuat apa-apa terhadap ketidaksesuaian di sekeliling. Kasih saya jurnal atau tulisan apapun dalam boso inglis yang tidak terikat copyright, biar saya sadur dan pasang. Mudah-mudahan dibaca orang-orang. Kalo nggak dibaca pun, at least saya mengasah mboso saya yang mulai payah. Monggo dipisuhi dan dibantai sesaru-sarunya. Bebas. Dengan segala kerendahan hati, dengan semua keterbatasan yang saya miliki serta bandwith pas-pasan, saya nekat. Silahkan peralat saya untuk jadi medium penyebar informasi, asal nggak ada kotak-kotakan dan picik.

Introducing... Learner Without Border. Where the sky is NOT the limit.

Hyuuuukkk...


Dedicated to Muhammad the Prophet, Isa bin Mariam, Al-Ghazali, Ivan Illich, Mother Theresa, The Yogi, Pak Heri dosen MKI saya dulu, Pakdhe Mbilung, Kebon Kacang Headquarter dan Bloggers for Bangsari, The F-man, My Phoenix Brotha #1, Soe Hok Gie, dan Eyang Pram. You are all inspiring. Highest gratitude goes to Oyek the Abangan Anti-social dengan Belajaran.org dan Kopet yang memperkenalkan saya pada Matisyahu: a new insight of an Israeli. You're all the greatest!

ps. next entry in learner without border: conspiracy theory. xixixi...

Labels:

Woro-woro

Posted by The Bitch on 11/14/2007 01:31:00 AM

Gak usah pada protes kalo nggak bisa ngerusuh disini. Lagi ander kenstraksyen secara bebas. Saya belum sempet acak-acak tapi kadung jatuh cinta sama gambarnyah. Mau misuh personal? Sok kirim pisuhan kalian ke pitopoenya@gmail.com.

Powas?! Powas?!

Labels:

Quoted from a Conversation in a Bus

Posted by The Bitch on 11/12/2007 04:26:00 AM

(+) "In MY movie, heroes die. When they were alive, they live miserably, underpaid, overworked, trying to live double identities as a hero and a pathetically, invisible, low-incomed person in altogether. What do you expect from a live like that when you don't even have the ability to control what's your birthright of life?"

(-) "Jadi itu alasan lo menolak punya hero?"

(+) "Ya. Gwa cuma pengen punya temen baik. Buat gwa, temen yang baik itu yang ngasih tau jalan alternatif ketika yang gwa liat cuma lempeng ga belok-belok. Tapi ya udah. Ngasih tau aja. Terserah gwa mau ambil jalan alternatif itu atau nggak. Jangan maksa."

(-) "Terus kalo lo akhirnya jatoh gimana? Dia kan pengennya lo nggak jatoh."

(+) "Nah, temen yang baik itu selalu nerima gwa untuk balik lagi membawa kekalahan yang gwa bikin sendiri. Oke, dia ngasih tau jalan begini, begini, dan begini. Tapi dia memasrahkan semua keputusan ke gwa, mo dipilih apa nggak. Dan menghargai pilihan gwa. Dan ketika ternyata pilihan yang gwa ambil itu blangsak, dia tetep mau nerima gwa."

(-) "Tapi kan namanya temen, kalo dia bisa mencegah elu untuk berbuat kesalahan yang sama dengan yang pernah dia perbuat, kenapa nggak?"

(+) "Beib, gwa bilangin yah... Itu pikiran pedagang. Nggak mau rugi. Padahal bertemen itu bukan dagang."

(-) "Tapi kan..."

(+) "Buat gwa 'berbuat kesalahan yang sama' adalah bullshit. Nggak ada satu orang pun yang kopi paste dari orang lain. I mean, bahkan ketika ada dua anak kembar identik sekali pun, mereka tetep aja dua jiwa, dua karakter, dua pikiran, dua tubuh. Mungkin ada beberapa hal yang sama, tapi kan nggak semua. Kesalahan buat orang lain belum tentu salah buat gwa, buat elu..."

(-) "Maksudnya?"

(+) "Ya lu tau la kebiasaan gwa kalo lu curhat. Kening gwa berkerut ga udah-udah. Kalo ada LED indicator kayak di CPU, mungkin bakal nyala terus tu lampu. Gwa capek mikirin masalah orang, padahal masalah gwa sendiri nggak kalah banyak. Jadi, daripada gwa pusing sendiri, the least that I can do ya cuma kasih alternatif terbaik buat mereka dan menghargai pilihan apapun yang mereka buat. Kalo ternyata mereka salah pilih, ya gwa selalu punya cold shoulders buat nahan jidad mereka atau untuk nangis sekalipun. Tapi tetep... gwa ketawain dulu. Haha!"

(-) "Ah bajingan lu!"

(+) "Ya, ya. I luv you more..."

Labels:

(Dini) Hari Biru Sedunia

Posted by The Bitch on 11/12/2007 02:58:00 AM

Her : Hi Nduk! *hugs*
Me : Halow, Mbak! Long time no see... Where have you been?! *double hugs*
Her : My fav online sistha as always... *winks*
Her : Well, I've been around lately. Wuzup? Doing OK?
Me : So-so. Still happy w/ my jojoba-ing and hardly social life in any kind *giggles then sobs* How boutcha?
Her : So-so juga. Masih biru-biru ni. Damn!
Me : Owalah... Again?! It's been like... almost three years! How come?
Her : Dunno. I just miss him so much *sighs*
Me : Aw, c'mon! Dontcha dare gimme dat crap! It's been more than two godamn years and you move far away 2 the end of the fuckin' world and you still feel blue?! Go get another dildo with ears for yourself and all things will be just fine
Her : Can't do, Kiddo. He was more than meets the eyes. And those invisibles are the ones I seek and couldn't find in any soul. Entirely. You think that I'd never find another? I've tried some bouncer, ya know. But nobody as open and humble as he was
Me : Bullshit! You just live in your past and dun wanna move on since he was the one whom--YOU THOUGHT--accept you for whoever and whatever you are
Her : P'haps. Still, I longed for his touch, his kiss, his smile. The way his eyes sparkled when he saw me sitting there and thought I didn't notice. The way he sang me a ridiculous song and felt like he was a great singer, just to make me laugh. The way he held my hands when we walked home in the rain and missing the last bus from the movie and how he tried to soothe me...
Me : Mbak... c'mon! I bet it's just your period and all, nothin' serious. Dun be such a bullshit-romantic-fool-crap! He's not all that! It's only your hormone. I know it's the date, isn't it?
Her : Damn rite it is! But, to tell you the truth, Sistha, he is. He was, and he's always be
Me : I thought I'd heard good news, seeing you online and all
Her : Sorry... I guess just like u've said once. I'm strong on the surface, not all the way through
Me : Would you two made up when there's a slight chance to do so?
Her : Nope. Ya know it's impossible for both of us. That's why he avoided seeing me, tho it's only a sheer friendly gathering. It's just a feeling of lost and grief dat I enjoy so much, losing him. To feel there's this hollow in my chest that is irreplacable... I always thought it'll be dissappeared one way or another, with all the people I've met everyday and guys I fucked once in a while... but it won't. In a bizzare way, I feel alive. I feel more human
Me : You're nuts, u know dat?
Her : Haha! It takes one to know one, Sweetie *smooches*
Me : Yucks! Gross!
Her : Hey! I smooch you! Not tounge-fucking your dirty, lousy mouth!
Me : Still! You kiss me with a pair of lips dat once engulfed his prick!
Her : Haha! You lil Bitch! Your foul-mouthed exclamation is always amusing
Me : Your very fuckin' welcome, Mbak *hugs*
Her : Don't get bored with my curhat ya, Nduk
Me : I won't. It makes me grateful for the life dat I have so far, not being a dick-hungry slut like yours FOR THREE FUCKIN' YEARS!
Her : I love you
Me : I love you more. Dat's why I hate seeing you like this. But you won't leave the memory behind. It's like a knife cuts deep on the cheek, ya know. The hurt stings, the wound is there, the blood drips from the sliced-open flesh, but you can't see it. You only feel it. It sucks
Her : I know. It's stupid. But I can't help it
Me : Stop slicing your cheek, then. Let go, Mbak. Let go
Her : Teach me
Me : You know I can't. I'm kinda in to similar situation myself *grins*
Her : Haha! Look who's talking now!
Me : Yeah. Wanna join the club?
Her : You bet I will

... and we don't live happily ever after since we haven't found what we're looking for...

Labels:

Dia yang Hidup dengan Cinta

Posted by The Bitch on 11/11/2007 04:22:00 PM

Jumat malam kemarin adalah kali pertama saya nongkrongin Cak Nun dan Kenduri Cintanya dengan sungguh-sungguh. Minuman yang menemani waktu itu hanya kopi hitam dari bakul yang nenteng-nenteng termos, bukan dari Si Gondrong. Biasanya tiap Kenduri, saya nggak sengaja ada di luar panggung, di balik tembok, di luar pagar, berteman se-pitcher sari buah ber-khamr dan berteman Bala Kurawa yang baik-baik dan cihuy. Kali ini saya niat, madep-mantep, mau dengerin Cak Nun dengan 'bersih'.

Malam itu suaminya Mbak Via ini tampil dalam formasi lumayan lengkap. Bareng Kyai Kanjeng, Ibu Tirinya Sabrang, dan Anak Tirinya Mbak Via. Dalam lagu dan canda, mereka menanggapi Indonesia dan segala rupa-rupanya. Baginya, yang baru dan lama, angkatan tua dan generasi muda, old and new, harus sinergis dalam tubuh sebuah bangsa. Biar imbang, dia bilang. Seharusnya juga para muda-muda itu 'ngeh' akan akar, akan asal, akan budaya, supaya tau bagaimana 'menjadi' secara kaffah (meskipun Cak Nun menjawab 'Pek en!' demi menanggapi batik dan Rasa Sayange yang diembat Malaysia. Semua ada mekanismenya, sanggahnya optimis.)

Sepulangnya, entah kenapa saya merasa sedang evolusi. Berawal dari nyamannya saya di tengah keruwetan Terminal Blok M, memandangi lalu-lalang orang dan bis serta mbak-mas yang pelukan rapat. Ambience yang aneh karena mereka bisa saya cermati sambil senyum, bukan tak pelototin. Lalu suara saya yang tetap datar saat mbak berdada besar dan berbibir indah itu ngenyek nggak karuan. Apakah berkat album Spirit of Buddha Bar yang irama lembutnya menyumpal gendang telinga saya waktu itu? Ataukah saya sudah lelah muring-muring nggak karuan? Atau saya masih terkesima melihat betapa pandai Bapak dari Jombang itu menanggapi masalah dengan arif. Betapa semua kru Kyai Kanjeng menyanyi dan bermain dengan cinta. Yang pasti, beberapa kali saya merinding disko mendengar beberapa lagu yang sama sekali nggak ada di playlist saya, dan bahkan saya baru dengar saat itu. Cuma dua hal yang bisa bikin saya seperti itu: kedinginan dan merasa ditohok di ulu hati secara konotatif. Padahal saat itu saya berkeringat dan suasana agak sumpek.

Apapun itu. Terimakasih, Cak Nun. Gojek keremu bikin kangenku sama Jogja sedikit terobati.

Labels:

Impulsive

Posted by The Bitch on 11/06/2007 05:54:00 PM

"Lagu lu nggak enak," ujar mbak-mbak berjilbab lebar waktu saya balik ke 'kotak penyiksaan' sehabis eek di kamar mandi.
Saya kaget. Bisa-bisanya Om Satriani (yang bapaknya Cimahi dan ibunya Amrik itu) dicibir sebegitu rupa! Dengan nada tinggi dan sengit saya sentak dia. "Biarin!"

Nggak, bukan. Saya nggak benci karena dia nggak suka Om Botak. Saya cuma nggak suka dengan sikapnya yang ngenyek terhadap apa yang saya pilih di playlist. Toh kita nggak sebilik. Saya juga ke tempatnya cuma tandatangan kuitansi upah thok thil. Why bother, Sucker?!

Buat saya, preferensi siapapun terhadap musik, pakaian dan makanan adalah sama seperti orang memilih ideologi dan bahkan agama tertentu: sangat personal. Masing-masing punya alasan sendiri, dan saya nggak pernah urusan sama apapun yang mereka suka. Gumunan, pernah. Karena saya sering menganggap 'kupingmu kupingku juga' buat beberapa teman yang punya kecenderungan musik yang sama dan heran waktu dia 'murtad'. Tapi ya wis to?!

Gwa nggak pernah nyenggol elu, jadi jangan sekali-sekali lo senggol gwa. Have I made myself so godamned fuckin' understood?!

Labels:

Belajar Ikhlas

Posted by The Bitch on 11/05/2007 01:14:00 AM

Ada yang bisa bantu?

Labels:

Laporan PB 2007 (?)

Posted by The Bitch on 11/02/2007 01:29:00 PM

Pesta Blogger 2007
Pesta Blogger 2007? Kalo saya ikut laporan, cuma bakal nambah-nambahin kerjaan mesin carinya Mbah Google. Saya cuma mau terima kasih sama panitia dan sponsor dan pak menteri entah-siapa-namanya yang menetapkan tanggal 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional. Tapi plis deh, Pak. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, ya mbok ditangguhkan aja itu kompetisi jingle blog-nya. Yang ada aja nggak keurus, mau nambah satu lagi?! Omaigoat!

Speaking about goat...
Berkat Pesta Blogger ini juga programnya Mas Ipul bisa sukses. Dari Jumat malem pasca Muktamar-nya Kyai Jemambul sampe Sabtu sore bubaran acaranya Ndoro Bedhes (jare Pakdhe Mbilung lhooo... saya cuma manut yang lebih sepuh), kru Bangsari Attack yang 'siap tempur' bawa-bawa kaos dan uba rampe-nya berhasil malak sampe 7.5 juta rupiah. Edan to!

Sementara itu, gerombolan gajah yang nggak suka ngomongin gajah berhasil juga gerilya sebar-sebar OpenSUSE tepat di depan hidung Mikroskop! Krunya juga edan, pake kaos putih sablonan semalem jadi bertuliskan OpenSUSE Guerrilla #1. Dan Kopet saya tersayang ternyata jadi salah satu dalang, selain Om Noto, Mamih Mira, Kang Abi, de el el yang namanya tidak dapat saya sebut satu-persatu. Thank you all for the Oscar! *lho?*

Tapi lumayan asik sih, kemaren itu. Saya jadi agen ganda. Kaos yang saya bawa dari gerombolan kere buat iming-iming malak saya tawarin ke gerombolan hore di pojok kanan atas dari layar bioskop Blitzmegaplex. Kipas-kipaslah saya bawa duit pampasan perang dari Om Andry (yang katanya THR 30 juta om?! Dipalaknya cuman segitu?!); Om Eko Ganteng papanya Diva; Rendy ndut yang tambah bulet ampe nggak ngenalin; Om Noto dan Kang Abi yang bela-belain beli ampe ngutang (ehm...); Om Bi[G] yang sabar mantengin ponsel demi bisa transfer pakek e-banking; Om Razak musuhnya Aladin dan suka ama Jasmine tapi temenan ama Om Noto (eh, itu Jafar ya?); dan tentu saja Mamih sekaligus germo saya nan cantik jelita dan pipinya enak sekali di sun ituw (slurp!).

Yang paling berkesan sih kedatangan Raden Mas Sinuwunsewu Monggomonggo Sandal bin Yeyen ke ibukota Jakarta tercintah ini. Bayangpun... jauh-jauh dari Purwodadi numpak motor tenanan sampe brutunya linu terus ke Jogja terus numpak motor mabur ke tempat yang ada Monasnya. Berbekal uang logam buat ketok langit-langit pesawat kalo mau turun dan tas kresek kalo-kalo perutnya berontak dan isi usus ngotot keluar lewat atas. Padahal dia biasa hoek-hoek melalui jendela bis yang sedang melaju dan melihat tai muda kehijauan beterbangan dengan riang di aspal jalanan. Semua demi pengen menyimak Taman Lawang, katanya. Pesta Blogger itu cuma alibi ke boss. Yang penting dia bisa liat bencong-bencong hardcore yang berani spank-spank pantadnya sendiri sambil disinari lampu mobil-mirip-tank si Batak Gila. Nekat. Padahal naik becak aja dia sering mabuk, lho!

Dalam waktu kurang dari 2 x 24 jam saya berada dalam siklus hyper dan menyenangkan. Dikelilingi sahabat, bagi-bagi tawa dan pisuhan dan celaan terutama di dinihari dingin di tepi pantai itu. Meskipun endingnya rada malu-maluin--ya, saya tepar, sudara! Masuk anjing!--tetep aja saya merasa tidur sambil senyum, meskipun saya demam tinggi Minggu malam. Meriang sendirian. Syit! Saya nggak bisa dadah-dadah pake sapu tangan sambil bertangis-tangisan diiringi sontrek Broery Pesolimaruparupawarnanya sama Sandal the Yeyen yang berangkat pake kereta dingin jam duapuluh.

Mohon maaf, saya memang pelit publish foto. Sok cari lah, matur sama Mbah Google sana. Mana itu yang namanya Raden Hoek-hoek, mana itu Pito (yang nggak ada sekalipun dalam foto PB 2007), dan mana itu Pakdhe Mbilung dan Ndoro Bedhes, serta kakak-beradik Om Enda dan Kyai Jemambul. Menurut saya, kenangan itu personal sekali sifatnya. Saya merekamnya dalam hati, bukan otak. Karena otak bisa gegar sementara hati adalah tempat berlabuh untuk jiwa-jiwa penat *halah!*

Permisi. Saya mau alim sebentar: Fabiayyi 'ala irabbikuma tukadz dziban...

Labels:

Tentang Sendirian

Posted by The Bitch on 11/01/2007 03:03:00 AM

Di film Komo (Koboy Homo), ada adegan muntahnya salah satu lelaki ketika pasangannya beranjak pergi. Keliatannya dia jijik akibat perbuatan mereka. Beberapa lama sesudahnya baru terungkap bahwa tindakan muntah itu adalah reaksi tubuh atas kesepian menghebat meski baru ditinggal beberapa langkah. Damn...

Salah satu sahabat saya sempat harus mengenakan cincin perak di ibu jari kanan sejak hari pertama dia ditinggal pergi perempuannya hingga dua tahun berselang. Dia bilang, waktu si mbak balik kanan dan dia merasa sendiri, tepat di jempol situ dia sakit tiap hari dan hanya bisa ditahan dengan tekanan logam putih yang sedikit kesempitan... serta 3 batang ganja on daily basis.

Saya kagum dengan orang-orang seperti itu. Bahkan tubuh mereka pun ekspresif mengungkap rasa kehilangan dan perih yang mendera. Saya? Rasanya nggak pernah seromantis dan seheroik itu. Paling cuma ketawa getir dan teriak "Jancuk!" tepat di muka orang yang bikin saya pedih.

Atau mungkin saya sudah kebal sama rasa ' k e h i l a n g a n '? Sering saya menolak ketemuan dan kumpul-kumpul hore bareng teman lama maupun teman baru. Saya selalu beralasan bahwa kegiatan itu cuma buang waktu, buang duit, buang abab. Mestinya saya di rumah, tidur, baca utang buku saya (yang nggak pernah bikin tambah pinter), atau garap laporan pabrik topeng. Waktu saya rasan-rasan lagi, ternyata saya cuma nggak mau terlalu dekat dengan manusia. They return the deed, while there are times when I do my deeds just because I'd love to and taken aback when it returns. Dan saya nggak suka seperti itu. Jadinya saya menganggap dia baik, lalu mendekat, terus kenal akrab, dan akhirnya masing-masing pergi ketika harus pergi.

Well, then. Saya cuma benci perpisahan. It so damn hurts. Semakin sering, maka sakitnya berpangkat tiga dari jumlahnya. Jadi mending nggak usah ketemuan. Simpel to? Siapa bilang saya komplikeited?!



Untuk orang-orang yang selalu ada sejauh apapun saya pergi... terimakasih. Kalian patut dapat Nobel Perdamaian karena tahan dengan saya yang penuh angkara murka ini.

Labels: