"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Quote-quote di Pagi Buta

Posted by The Bitch on 10/29/2007 04:50:00 PM

Menjejak pantai pada dini hari berangin dingin, membaui udara amis ikan serupa vagina, saya muntah di mukamu.
"Aku cemburu pada perempuan cantik nggak dewasa yang mampu menjungkirbalikkan lelaki hanya dengan sekali lirik. Aku nggak punya kemampuan seperti itu. Perempuan-perempuan seperti aku harus jumpalitan, bahkan hanya untuk didengar sekalipun. Apalagi untuk dianggap."

Kamu hanya terpekur sambil berjalan perlahan. Lirih kamu menjawab: "Aku cinta dia."

Saya buang udara yang seperti menggumpal di dada.
"Ya, aku tau. Karena itulah aku juga kasian sama kamu. Aku nggak rela dia memperlakukanmu seperti itu. Tapi... who the hell am I?!"

Setelah itu berhamburanlah sabda-sabda Pito yang sok bijak, mengutip quote-quote keren yang disampaikan secara sok keren di tengah hembusan angin dingin menggigit hingga ke sumsum tulang. Berteman berbatang-batang rokok dan segelas besar teh tubruk (yang entah kenapa saya pilih dan merasa cocok). Tentang kekasih sekaligus sahabat, tentang masa lalu yang hanya untuk opa-oma pensiunan, tentang cinta sejati.

Dalam hati, saya teriakkan "TAEK!" Sebuah ekspresi kemarahan dan muak atas apa yang saya ucapkan. Yet, a person's garbage is another's treasure, eh?

Labels:

Not Good Enough?

Posted by The Bitch on 10/29/2007 02:10:00 PM

Whatever. I'm just disappointed. I should've made it. I could've done it right. Another thing evaporates in thin air, without trace, without words, right before my very eyes.

It's time like this that I need to hibernate...

Labels:

Bloggers for Bangsari

Posted by The Bitch on 10/24/2007 12:30:00 PM

Now or Never
Di suatu tempat bernama Bangsari (secara administratif bernama Bulaksari, kecamatan Bantarsari) di Cilacap ada satu-satunya Madrasah Tsanawiyah Shalafiyah bermuridkan penduduk sekitar yang sebagian besar kurang beruntung dalam hal ekonomi. Sekolah lainnya adalah SD Islam yang amat sangat sederhana, SMU Negeri yang baru berdiri, dan sebuah pondok pesantren. MTs setara SMP ini menampung anak-anak petani sederhana yang penghasilannya seringkali kurang ketimbang cukup. Dan ada empat murid yang resah, akankah pendidikan mereka terhenti hanya sampai SMP karena tidak adanya sarana penunjang?

Beruntung, seorang putra Bangsari berhasil keluar dari sana, bekerja di sebuah institusi elit dan bergelut dengan IT untuk kemudian mewartakan melalui media blog tentang betapa para belia ini haus pendidikan. Anak-anak itu mau berusaha. Mereka nggak malu bekerja untuk bisa terus bersekolah. Tidak genap sebulan setelah program donasi kambing diposting Agustus kemarin, terkumpul uang sebesar 7,5 juta rupiah (dari banyak nama yang hanya kami sapa melalui blog) guna membeli kambing dan membangun kandang bagi anak-anak tersebut. Empat anak SMP ini telah mendapat modal berupa ternak yang akan mereka urus hingga beranak, dan anakannya bisa dijual untuk kemudian uangnya dapat dimanfaatkan untuk keperluan membeli buku dan perlengkapan sekolah. Semua didapat dari info yang hanya diposting di blog, yang kemudian diposting juga oleh rekan-rekan blogger lainnya di blog mereka masing-masing.

Tetapi bukan hanya empat anak ini yang perlu dibantu. Murid yang mendapatkan BOS (Biaya Operasional Sekolah) dari pemerintah lumayan banyak jumlahnya, karenanya masih terjadi kekurangan biaya sebesar 8 ribu rupiah per orang per bulan. Di tambah biaya 2 kali ujian mid semester (20 ribu/ujian) dan dua kali ujian semester (25 ribu/ujian). Total jendral 186 ribu setahun. Belum termasuk biaya seragam, sepatu dan buku (item terakhir biasanya bisa dianggap diabaikan). Melalui dunia paralel bernama internet kami mengajak Mbak, Mas, Dek, Om, Tante, Budhe, Pakdhe, Yang Kung dan Yang Ti untuk urun bantu, bukan hanya blogger. Di desa yang baru menikmati listrik tahun 95 ini ada banyak anak-anak yang mau bekerja keras demi mereguk sedikit pengetahuan, yang dengan mudah didapat anak-anak lain seusia mereka di lain tempat. Dengan segala kerendahan hati kami ingin kita berbagi kesempatan diatas bumi yang sama kita pijak dan langit yang sama kita pandangi.

Untuk tiap rupiah yang kami dapat akan kami jaga agar selalu amanah. Perkembangannya akan kami laporkan secara berkala melalui e-mail, posting di blog, atau dikirim via snail mail dalam bentuk hard-copy. Nggak perlu jadi blogger untuk dapat melihat senyum terkembang di wajah anak-anak ini. Siapapun: perorangan, badan, organisasi, maupun perusahaan berkesempatan melenyapkan keresahan anak-anak ini. Blogger hanya sebutan, karena kami kebetulan punya rumah virtual di dunia maya. Aslinya kami hanya manusia, sama punya mimpi, harapan, cita-cita, keinginan, seperti anak-anak di Bangsari. Jika kita berani berekspresi di dunia tanpa batas ini, mengapa tidak kita ekspresikan kebebasan berpendidikan di dunia nyata?

Bantuan dapat disalurkan melalui transfer ke rekening
Bank BCA 0751371054 a/n Much. Syaefulloh.

Untuk keterangan lebih lanjut kami bersedia dihubungi:
Pitik: 08157123875 (hadik1@gmail.com)
Ipul: 081578820013, 02199183863 (much.syaefulloh@gmail.com)
Mitha: 0818794474 (mita_ald@yahoo.com)
Iqbal: 02199562833, 081574852877 (i.prakasa@gmail.com)
Hedi
: 081311401084
Pito: 0818691666 (pitopoenya@yahoo.com) yang ini nomernya 24 jam selalu onlen.

Kami percaya bahwa ide bertebaran merdeka di udara dan siapapun bebas menghirupnya. Karena itu, gagasan yang tercetus dari desa kecil di Cilacap ini bebas untuk diaplikasikan dan diterapkan sebebasnya.

Posting tentang hal ini juga ada di tempatnya Mita, Maz Miko, Maz Ipul, Gembul, dan Maz Pitik.

Labels:

Another Requiem for Another Soul

Posted by The Bitch on 10/21/2007 07:30:00 AM



"Hi there, Sistha. I want to share my agony. Tonight I've been heartbroken. It's so damn hurt I threw my guts up. Literally."

Seperti biasa kamu menyapa ketika sedih dan sepi melanda. Aku sama sekali tidak keberatan, karena mungkin kamu hanya perlu aku seperti ini.

"Please. Shoot."

Dan dalam teks-teks panjang melalui internet kamu mengerang, teriak, mengaduh, menyumpah dan akhirnya lungkrah pasrah tanpa bisa apa-apa. Sekali ini kamu mengakui bahwa kamu memang bukan siapa-siapa. Sesuatu yang aneh. Tapi aku bahagia. Kamu masih tetap manusia dan bukan malaikat penjaga pintu surga yang di dalam bayanganku sombong luar biasa karena mandat yang dia pegang, langsung dari The Boss.

Yang lebih edan adalah penyebab patah hatimu itu masih bisa tegar mendampingi kamu curhat di warnet, dengan pisuhan menghampiri sesekali dan hanya dibalas senyum. Perempuan luar biasa itu, yang telah lelah menunggu dan diacuhkan, akhirnya memilih lelaki lain sebagai pendamping dan my brotha tercampak begitu saja. Bukan salahnya. She deserves better and it's obvious that you don't fit the criteria.

Mari muntah bersama, ajakku. Aku pernah sepertimu meski tanpa muntah. Hingga sekarang, setelah hampir tiga tahun berselang, nyeri itu tetap ada meski kadang datang dan pergi. Percayalah. Waktu adalah dokter sekaligus hakim. Kamu setuju. Sementara nikmatilah sakit itu. Kamu pun mengiyakan. Mungkin kamu suhu buat orang lain. Mungkin kamu idola bagi para penulis amatir. Mungkin kamu Alkemis untuk seseorang. Tapi kamu tetap menyumpahserapah saat harus ambruk jiwa-raga hanya karena perempuan. Face it, Bro. You can't have everything you want. Maaf jika aku mentertawakan kerubuhanmu. Aku senang, aku punya teman.

Sudah ya. Baik-baik disana. Jika memang perih, perihlah dengan gagah. Tertawakan kejatuhanmu sendiri. Angleslah pada diri sendiri sambil tersenyum. Itu kesombongan baru yang harus kamu pelajari dari aku since I've been there and done that thousands of times (=



Dedicated to Pakdhe Pamei. See? Bahkan Pamei pun patah hati. Kalo nggak, mana mungkin dia bisa sekejam itu sama Beatrix Kiddo?!

Labels:

About Those Who Left... and Back Again

Posted by The Bitch on 10/21/2007 03:52:00 AM

It was like coincidence that in the big event of Indonesian cyber dwellers, I and this nice, little man were invited. I longed to meet this person in the place so-called Necropolis since he hated it so much. When I called him the other night, he told me he'll come along with a long, lost friend of mine whom once happened to be my classmate back in the City of Holidays.

I never stop wondering how this parallel world could connect us to each other. I met him two years ago in this insane asylum--accidentally--and we've gone along so well up to now. I've known his friend that has been a loyal partner in my sleepless nights hanging around the city, while they even haven't met!

And about this guy named Thomas... Damn! After all these times, we finally chatted again. We were laughing--with our emoticons rolling on the floor--about Miss Elisa with her sleepy eyes, hardly moving lips and soft-almost-unheard voice in our writing class who woke him up right in front of the lecturers' office. We giggled upon the hard times looking for tuition postponement in PR II office, and the borrowed money to pay afterward. We analogized one of the characters in Tennessee William's Glass Menagerie--Laura, who has her own world--with our classmates who were paid cheaply (by the dozen) on their translating job. Also about Mr. Alip commenting on how careless he was with his study. Yet, we succeeded in Dancing Out from the campus! Haha!

Such things to memorize, indeed. And I'll meet him and his loved one next Saturday. Oboy, oboy, oboy! I can hardly wait!

Labels:

Jakarta Pagi Ini

Posted by The Bitch on 10/20/2007 02:47:00 PM

Pagi buta saya terdampar di terminal Blok M, menatap miris pada bocah yang berlari riang sementara ibunya mengejar dengan sisa tenaga yang ada. Lalu si ibu menangkap sang anak untuk kembali bergabung dengan sekumpulan orang yang sedang jongkok atau menduduki tas besar. Melihat tas-tas dan kardus yang dibawa rombongan kecil tersebut, sepertinya mereka menunggu angkutan pulang ke rumah sehabis mudik. Mata mereka pun masih sembab menahan kantuk.

Entah kenapa pagi itu rasanya indra penglihat saya jeli sekali. Saya cermati perubahan warna langit dari biru tua hingga terang. Saya pandangi mbak-mbak yang berjalan di depan saya, segendut saya, dengan kaos oblong, ransel besar dan jins serta lipatan celana dalam yang 'keluar orbit' di baliknya. Mas-mas yang duduk di divider yang sama di sebelah saya nggak sadar saya lirik karena terlalu asyik menikmati belahan dada mbak-mbak yang duduk di sebelahnya lagi. Mbaknya itu sibuk memanjangkan leher, menunggu bis ke Cawang.

Pagi itu lengang. Adzan pun belum terdengar. Atau mungkin saya nggak nyimak karena kedua telinga saya tersumbat cabikan gitar Om Botak nan Keren mendendang 'Always With Me, Always With You' (entah kenapa saat itu saya sedang ingin mendengar yang manis-manis tapi galak). Saya sapa pagi sehabis kumpul-kumpul bareng sahabat, dan saya rusak udaranya dengan asap nikotin yang hampir nggak pernah berhenti saya hisap.

Satu jam saya disana hingga akhirnya Metro Mini yang saya tunggu datang juga. Jurusan Blok M - Lebak Bulus lewat Radio Dalam. Saat saya hampiri, seperti nggak sabar, si abang kondektur meminta saya naik ke bisnya dan saya jawab dengan, 'Iya... ini mau naik.' Si abang tersipu. Ehm... lumayan.

Di dalam baru ada satu penumpang. Nggak berapa lama naik sepasang kakek dan nenek. Ah, sepertinya mereka pengemis. Si Kakek berambut putih berpeci buluk dan membawa tongkat lipat, sementara kedua bola matanya kelabu. Si Nenek mengenakan kebaya dan jarik, dan rambutnya pun nggak kalah putih. Saya ingat simbah almarhumah (may she rest in peace). Supirnya? Lebih keren lagi! Dari obrolan iseng saya dengan Bang Kondektur, dengan bangga dia menyebut si supir bertopi pet menutup kepalanya yang uban semua, sebagai kakeknya (yang tetap 'gila' karena setua itu masih jago nyetir bis).

Abang kondektur itu mulai curhat tentang sedikitnya penumpang--yang dia sebut sewa. Saya besarkan hatinya, "Sabar aja... Bentar lagi kan Senen. Kantor ama sekolah udah pada masuk. Entar bisnya penuh lagi." Dia hanya nyengir, menunjukkan satu gigi depan yang patah. Saya suka mencermati pakaiannya dari belakang. Tumben-tumbenan ada kenek bajunya matching. Sepatu olahraga funky (paduan antara kuning, biru dan putih), jins biru stonewashed, kaos oblong biru, dan vest ngepas warna biru, serta topi berwarna sama dengan vest. Kalo dirapihin dikit lagi, dia bakal kayak mahasiswa karena saya perkirakan umurnya masih akhir 20-an. Saya suka liat matanya, terutama ketika dia nyengir malu-malu. Raut mukanya keras dan dagunya jadi tempat tumbuh jenggot seuprit. Untuk ukuran kenek, kulitnya nggak terlalu gelap. "Biasanya saya bawa 69, Neng, jurusan Ciledug. Lebih enak bawa daripada ngenekin. Ini karena simbah keneknya masih di Jawa makanya saya yang jalan," akunya. Pantes!

Saya nikmati sisa perjalanan pulang dalam diam, berteman rokok yang saya bakar segera setelah saya lihat si abang menyulut Samsu. Showroom BMW tinggal beberapa meter lagi, saya harus turun. Tapi entah kenapa saya ingin melihat Lebak Bulus, terminal paling dekat namun amat sangat jarang saya lewati. Dan saya hanya menoleh ke kubah ruko di seberang dimana Jalan Dwijaya terletak dan kos saya berujung. Bukan, bukan karena abang kondekturnya maka saya bablas. Sungguh!

Jalanan lengang, mungkin karena masih setengah enam. Mulai dari kompleks PIM hingga Pondok Indah ternyata banyak orang jogging, menarik dan menghembus udara bercampur timbal dan karbon, berusaha menjauh dari sakit dengan modal paling murah. Si abang berkomentar seadanya--karena kebetulan saya duduk di kursi belakang--dan hanya saya tanggapi dengan cengiran karena sekarang Eyang Santana yang centil berkumandang di kepala saya.

Angkutan yang saya tumpangi tiba di Lebak Bulus, dan penumpangnya yang segitu-gitu aja dari Blok M pun turun. Demi kesopanan, saya bertanya basa-basi pada si abang apakah bisnya lewat Radio Dalam lagi. "Iya, ini nanti muter disitu terus balik lagi ke jalanan yang tadi," sahutnya. "Ikut lagi ya Bang. Entar bayar juga deh, buat nambah-nambahin setoran," ujar saya. Lagi-lagi si abang cuma pamer gigi. Saya alihkan pandang keluar, melihat betapa 'default'nya setting orang pergi-pulang mudik: ransel/travel bag besar, kardus bekas mie instant atau air mineral diikat tali rafia, muka sembab dan rambut berantakan akibat tertidur di bis, dan jaket yang nggak dilepas seterik apapun matahari yang nanti memanggang.

Dan abang kondektur yang mukanya enak diliat itu akhirnya menolak menerima ongkos yang saya beri kedua kali. Dia malah menawarkan rokok kretek dan air mineralnya pada saya, setelah melihat betapa shock-nya saya membuang muka dari adegan tabrakan di depan SPBU Pondok Indah. Anak kecil ber-helm itu tewas dengan kepala pecah setelah terpental beberapa meter dari motor dan ibunya terbaring miring tak bergerak. Motor-motor parkir sembarangan di depan dan belakang mobil polisi hanya untuk melihat drama jalanan. Saya sekedar menikmati pagi di Jakarta, jalanan yang lengang di Radio Dalam, dan sedikit kebaikan dari orang tidak dikenal.


... it turns out that Jakarta nggak jahat-jahat amat...

Labels:

Lebaran Hebat

Posted by The Bitch on 10/17/2007 10:35:00 PM

Alhamdulillah, Lebaran ini lumayan hebat. Nggak cuma tersedia cukup ketupat dan uba rampenya di meja, tapi juga sekeluarga bisa punya baju baru. Trauma psikologis saya yang pembenci lebaran juga lumayan terobati dengan cerita-cerita konyol sepanjang Ramadhan dan episode-episode kehidupan penuh berkah yang nggak habis-habis saya syukuri. Termasuk ritual sowan ke Simbah di Depok.

Demi ngirit ongkos dan mempersingkat perjalanan, motor titipan dari tetangga saya gunakan buat acara ini; dengan izin sebelumnya, of course. Cuma motor bebek berkopling sih gampang, pikir saya. RX butut punya Babab biasa saya kebut di jalanan--lepas jam 11 malem tapinya. Tapi... Makjang! Koplingnya keras banget! Baru kerasa pegel setelah satu jam jammed di perempatan perumahan Pondok Kelapa Kalimalang. Satu jam berkutat dan bersabar dengan ratusan motor dari empat penjuru angin yang nggak bergerak kemanapun; di bawah terik matahari pukul 12, bareng debu dan asap dari semua knalpot serta jerit bayi menangis kepanasan sementara jalanan sama sekali nggak ramah pada orang tua mereka yang bingung mendiamkan. Om Bono yang teriak lirih dari MP3 portable yang saya pasang dan rokok yang saya sulut demi mengurangi stress, serta adik saya yang berusaha riang bernyanyi-nyanyi di boncengan serasa nggak berdaya melawan pegalnya telapak dan jemari tangan kiri yang terus menahan kopling tetap setengah.

Lepas dari macet, Babab dan Ibu menunggu di pinggir jalan dan saya berhenti di sebelah Babab. Kurang 1 km dari TKP. Waktu jalan lengang dan kendaraan melaju cepat seperti ingin lari dari ketegangan di belakang mereka, saya pun turut. Celakanya, batas antara bahu jalan dan aspal agak tinggi dan hujan semalam bikin tanah dan ban saya basah. Ilmu 'kira-kira' saya kurang. Sekali saya hilang kendali dan setang oleng. Hampir saya ketabrak Mikrolet dari arah kanan. Setelah agak lega, ternyata setang saya oleng lagi ke kiri dan saya lepas kendali karena pegalnya menahan kopling. Dan lutut saya pun beradu dengan aspal. Yak! Akhirnya saya jatoh, sodara-sodara. Untung nggak sampe kesruduk mobil dan motor kalap dari belakang. Ketika Ibu membatalkan perjalanan dan minta pulang demi melihat saya dan adik nyengir menahan perihnya lecet, saya seperti terus dibelokkan ke kiri karena setangnya berhasil bengkok, lampu pecah, dan cat di ujung dashboard sedikit baret.

Gilanya, beberapa hari kemudian, ketika saya udah siap-siap duit buat ngganti kerusakan motor, pemiliknya menolak diganti. Padahal dia terkenal pelit se-Jalan Flores Raya. Nggak tau tuh, dia kesambet malaikat apa.

Yang kedua, karena sebel di rumah nggak bisa onlen, saya pergi ke warnet sebelah gang. Itupun karena mas bos, mandor di pabrik saya kerja, nyuruh meriksa laporan topeng dari Negeri Singa. Karena dia masih di Solo dan nggak onlen, walhasil saya siap sedia dengan ponsel murahan saya. Pas pulang... berhasil juga itu ponsel ketinggalan di warnet. Dan saya yang geblek ini baru sadar besoknya waktu mau iseng ke salah satu anak kecil soulmate saya yang masih di Madiun. Pas saya samperin lagi tu warnet, ternyata ponsel butut saya udah nggak ada. Haha! Saya kasian ama yang ngambil. Masih untung dia nggak kena tetanus saking bututnya itu ponsel.

Anyway, saya bersyukur masih bisa ketemu Lebaran. Mudah-mudahan saya masih bisa merasakan berkah hingga Sya'ban taun depan. Selamat Idul Fitri semuanyaaaaaaaaaaa...
*mengatupkan kedua tangan di depan dada, menunduk, dan menekuk lutut sedikit*

Labels:

Pito Cari Cowok

Posted by The Bitch on 10/10/2007 03:13:00 AM

Oke, oke. Tak ngaku wis. Mengutip 'Leave Out All the Rest'-nya Linkin Park mengenai "I'm strong on the surface, not all the way through. I've never been perfect and neither have you", itulah gwa. Mung macak tough bitch gendut njabane thok. Njerone ijik menungso, dudu bangsa jin. Dan--begonya--gwa bener-bener nggak siap ketika di suatu dini hari ada anak kecil jahanam--dan secara songong manggil gwa tante-tante--yang ngakak nggak berenti waktu gwa mengeluarkan statement: "Kayaknya gwa perlu punya cowok deh..."

Eh, Bangsat! Gini, ya. Gwa jelasin.

Pertama: Gwa tau kalo gwa itu restless, sering mikir aneh-aneh dan sering punya bisul psikologis kalo hal aneh tersebut nggak diomongin. Coba aja ikut gwa afterhour BHI, nginep di Kebon Kacang Headquarter. Bisa-bisa jam delapan pagi baru pada bisa tidur karena gwa juga udah ngantuk, capek, dan udah dapet multi orgasme intelektual dari para korban yang lemes. Gwa perlu penampung biar nggak gila-gila banget.

Kedua: Gwa setengah normal setengah nokturnal. Kalo insom gwa kambuh--kayak sekarang ini dan hampir setiap malam--dan perlu orang untuk gwa ajak Nongkrong-nongkrong Malam dan ngobrol, mosok gwa mesti ngajak para belahan jiwa yang pekerja kerah putih di Kota Mayat ini sih? Hanya untuk nemenin gwa, gituloh! Apalagi mahluk malam, nggak kenal capek, nggak punya puser dan bisa gwa bawa-bawa nongkrong sampe adzan Subuh berkumandang cuma beberapa, dengan status gigolo dari mulut ke atas. Udah gitu sering gwa palak pulak rokoknya. Kasian kan?!

Ketiga: Dengan dua variabel diatas, gwa perlu cowok yang memenuhi semua kriteria itu. Agama? Nomer sekian. Nggak beragama juga nggak apa-apa, asal dia selalu bercelana. Gwa kan mau pacaran, bukan mau kawin! Dan, karena nantinya di jidat seorang lelaki (yang kurang beruntung) itu sudah distempel dengan hurup kapital COWOKNYA PITO, maka gwa berhak duonk minta temenin kemana-mana. Masalah tampang? Nomer sekian lah. Nggak dapet yang kayak Fauzi Ba'adillah, mirip Brad Pitt juga gwa terima kok.

Keempat: Enak punya cowok, bisa ndusel, anget, dan bisa disun-sun ujung hidungnya. Seperti yang pernah diceritain germo gwa di Bandung (bukan begitu, Mamih?!) *blushes* Ama temen kan nggak bisa. Jijay bajay markojay deh ndusel ama temen. Yuck! SIAPA JUGA YANG MAU DIDUSELIN ELU?! *insert suara tamparan keras disini*

Jadi, ya... gitu deh. Ceritanya gwa perlu lelaki yang nggak bakal gwa anggap sebagai dildo berkuping. Berani terima tantangan ini? HUAHAHAHAHAHAHAHAHHAHA!!!


ps. untuk lelaki yang tertarik dengan tawaran saya, pikir 10000000000x atau hidupmu bakal menderita! Kalo mau bukti nanti saya japrikan nama mantan-mantan dan para mantan-calon saya beserta nomer kontaknya. Dikit kok, nggak ampe lima.

Labels:

Ra Penting!

Posted by The Bitch on 10/09/2007 11:15:00 AM

Saya baru sadar. Hampir dua taun saya tinggal di Kota Mayat, saya cenderung lebih pemarah dan pengeluh dibanding ketika saya ngéngér di Kota Berhati Nyaman dulu. Kalo dipindai isi kotak muntahan saya ini, lebih banyak yang asem kecut dan busuk ketimbang yang harum dan menyegarkan. Kalo diliat dialling record di telepon tangan saya, kebanyakan yang saya hubungi itu mereka-mereka yang masih ada disana. Mungkin level kengéngéran saya yang masih freshmen disini ketimbang di tempat anak sekolah berdarmawisata itu ya? Amatiran! Huh!

Waktu saya wadul sama salah seorang belahan jiwa, dengan entengnya dia bilang: Harusnya kamu tahan uji ketika dilepas di rimba raya, dan bukannya saat kamu masih di pertapaan. Damn! Saya merasa seperti Mantili. Haha!

Ya. Disini hutan belantara, dimana saya harus berburu dan mematuhi hukum yang ada--dimana hanya yang kuat yang menang. Sukur-sukur bisa bertahan jika tidak ingin mati kelaparan atau diserang binatang jalang. Saya tau, ketika dua bulan terakhir saya digembleng habis-habisan oleh seorang 'Resi' yang berujung pada terdamparnya saya di Necropolis City ini, maka saya sudah naik tingkat. Harusnya saya senang dengan pencapaian saya itu dan kembali babak bundas demi meraih napas meskipun satu-satu, karena siklus ini tidak akan pernah selesai hingga nyawa tercerabut dari raga. Sekarang saatnya praktek bertahan hidup dan balas menyerang--jika mampu. Sendirian, tanpa pembimbing. Hanya Sang Pacar yang lama-lama saya khawatir terabaikan.

Seperti yang dibilang Bapaknya Noe Letto: Jika dalam arus yang deras menghantam kamu bisa tegak tanpa ikut hanyut, maka itu sudah cukup. Tapi... nuwunséwu, Pakdhé. Kulo mboten saget menawi mboten mursal. Selalu ada yang kurang, selalu ada yang harus dibuktikan, selalu nggak pernah jenak. Apa karena daya adaptasi saya menurun? Atau apa yang saya sebut adaptasi itu sebenarnya cuma screensaver? Mungkin nggak kalo saya iri melihat rerumputan di pagar sebelah yang selalu tampak lebih hijau daripada di halaman saya sendiri? Saya nggak terima apologi kalo semua itu udah default manusia pada umumnya. Jadi gimana dong?!

Whatever. I'm just a grain of sand in a shore. Layaknya Matahari yang segitu alaihimgambrengnya diantara jutaan bintang (yang juga alaihimgambreng) di Galaksi Bima Sakti, dan sebagaimana alam semesta yang hampir tanpa batas dengan ribuan galaksi lain di dalamnya... siapa sih saya?



*Backsound: Adyta (The Neverending Embrace) from Epica, taken from the album 'The Phantom Agony'*

Labels:

Requiem for the Unborn

Posted by The Bitch on 10/04/2007 02:34:00 AM

Lelaki itu tunduk menatap onggokan plastik di pangkuan berisi sebuah kuali gerabah kecil, bersama sebotol besar air mineral, selembar bon rumah sakit dan selimut. Yang membuat wajahnya berduka adalah bungkusan kain putih mungil seukuran sepuluh senti di dalam kuali, berisi fetus berusia hampir empat bulan yang katut bersama pipis sang ibu siang tadi. "Ini ketiga kalinya," ujarnya, mirip desahan. Sang istri yang duduk di sebelahnya juga turut menunduk, menatap sekilas kuali kecil, lalu menoleh ke arah lain. Perempuan yang biasanya ceria itu, yang pernah disandingkan sejajar Nirina Zubir oleh pengagum gelapnya, yang berkutat bersama lumpur di situs proyek, mengenakan sepatu bot berujung baja serta helm pelengkap, bergaul bersama kuli-kuli bangunan namun tetap ingin terlihat 'chic' bersama blus pinky dan jins belel.

Saya nggak tau mesti bilang apa. Belum pernah saya sedekat ini dengan kematian, dengan kekecewaan, dengan harapan yang hilang, tanpa saya bisa berbuat apa-apa. Saya tepuk-tepuk bahunya, berusaha menguatkan dan melucu, meski basi: "Nggak apa-apa. Belum rejeki. Kan jadinya ada alasan untuk selalu bikin lagi sampe jadi." Dia hanya membalas dengan senyum terpaksa. Getir.

Para sesepuh lain, yang kebetulan berada satu mobil bersama kami menuju ke rumah sakit di bilangan pusat Jakarta demi membersihkan gumpalan darah yang masih melekat dalam rahim 'mantan-calon' ibu saling ribut membicarakan kasus lain yang pernah dialami tetangga maupun kenalan. Saya nggak tega dengernya. Melalui Marxianus Samsul Al-Ramadhani saya benamkan suara mereka melalui hentakan Minutes to Midnight, mengirimkan sinyal-sinyal penguatan dari dalam benak pada pasangan yang sedang berduka di hadapan.

Ibu saya pernah berkata--dengan cara jaimnya sendiri--bahwa saya dan adik adalah anugrah terindah yang pernah diberi Sang Maha pada hidupnya. Sebelum saya menghirup udara pertama di dunia, kedua orangtua saya pernah berharap, berdoa, berangan-angan dan mengandai akan jadi apa buah cinta mereka kelak karena saya anak pertama. Ketika saya lahir, mungkin mereka lebih berpijak ke bumi dan sadar bahwa tidak semua angan-angan mewujud nyata, untuk kemudian mengenakan tangan yang 'lebih lembut' dalam mendidik adik saya. Ibu adalah salah satu orang tua paling demokrat yang pernah saya kenal, meski tetap saja beliau adalah standard ibu-ibu pada umumnya yang sering menyebalkan dengan segala dos and don'ts. Namun saya pernah dihadapkan secara frontal dan brutal dengan kekecewaan beliau ketika saya nyata-nyata didapuk tidak berbakti karena tidak turut keinginannya--meskipun akhirnya dia tetap menghormati pilihan saya. Dan saya selintas menangkap refleksi Bunda pada perempuan usia awal tiga puluh bersarung batik berbaju kurung dengan rambut sebahu yang dibiarkan terurai berantakan dan wajah kalah lelah dan pasrah.

Dengan tangan saling menggenggam, sepasang mantan calon orang tua tersebut seperti ingin berbagi rasa kehilangan. Saya hanya menatap mereka dalam diam, dalam hentakan lagu yang entah kenapa juga miris.

Selamat jalan, selamat tidur Jaka Pratama. Tenang-tenang kamu disana, Sayang. Doakan Ayah-Bundamu dalam bahasa janin yang hanya dimengerti Dia.


Dedicated to Mbak Kunti dan Maz Adhi dan si kecil sepuluh senti...

Labels:

Nggathél

Posted by The Bitch on 10/03/2007 02:38:00 PM

Jangan bilang gwa nggak bersyukur dengan kerjaan di pabrik sekarang. Beberapa hari ini emang isinya cuma tidur siang dan nggedabrus nggak jelas. Sangat nggak produktif. Tapi gwa pengen lepas sejenak dari rutinitas dan orang-orang pabrik yang gitu-gitu aja. Beberapa hari ini gwa overloaded emosi dan bakal nggak bagus efeknya kalo gwa lagi-lagi ketemu sama mbak-mbak yang sering gwa bayangin badannya bersimbah darah setelah gwa hunjam pisau komando tepat menembus tenggorok. Ya... mungkin bener gwa manic deppressive yang rada schizophrenic. Peduli setan lah. Orang-orang keren juga kayak gitu.

Tapi ternyata gwa nggak bisa terlalu cepat bernapas lega dan nggak bisa terbiarkan sendirian. Karena jarak pabrik dan tempat gwa tidur begitu dekat, maka mak bedunduk ujug-ujug datanglah kerjaan. "Mbak, ini ada beberapa topeng yang harus dipasangin idung. Kalo cuma masang beberapa kan bisa sambil nongkrong di jamban to? Pak Mandor yang matur begitu..." kata kurir pabrik rada sungkan. Gwa emang pakek alasan diare buat mangkir.

Telék!
Itu pabrik bakal bangkrut apa, kalo gwa bolos sehari aja?! Apa kerjanya mbak-mbak seksi berbibir indah, bertoket besar dan nggathéli itu kalo bisanya numpang nempel-nempel kelenjar susunya ke punggung gwa kalo lagi iseng?! Ngomong menye-menye, pupuran jagoan, tiap dateng langsung macak hengpong trus ngguya-ngguyu sampe ibu tauke dateng lalu dia sok pasang tampang serius. Mandor yang satu lagi ya ngomongnya tinggi, kemaki, kemlinthi, dan gak iso ngilo githoké dhéwé. Aku lho sering nggarap kerjaan mereka, tukeran shift. Lha mosok pasang-pasang gitu aja nggak bisa?!

Taééééééééééééééééééékkkkkkkkk!!!

Labels: