"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Damn! I Knew It!

Posted by The Bitch on 9/29/2007 06:41:00 AM

What mental disorder do you have?
Your Result: Manic Depressive

You have extreme cycles of highs and lows. Sometimes you feel like you don't know who you are. One week you could be very hyper and happy and the next week you are slow and depressed.

ADD (Attention Deficit Disorder)

GAD (Generalized Anxiety Disorder)

Paranoia

OCD (Obsessive Compulsive Disorder)

What mental disorder do you have?

Telek. Isuk uthuk-uthuk teko warnet ngenteni dibukakno lawang ambek ibu kos malah nyasar neng site nggatheli. Aku yo wes kroso nek awakku gak pati waras. TAPI KENAPA MANIC DEPRESSIVE?! Argh!

Labels:

Jumat Sempurna

Posted by The Bitch on 9/28/2007 03:15:00 PM

Mau weekend, nggak ada kerjaan, boss nggak masuk, udah gajian, barusan dapet THR, internet kenceng, download enak, dan matahari bersinar cerah di luar sana. Isn't that perfect!

Apa salah sekali-kali memanjakan diri setelah 11 hari dalam sebulan saya harus kerja dari pagi sampai pagi lagi? Apa nggak boleh leha-leha setelah kejar-kejaran dengan jarum jam sehari tiga kali macem minum obat? Apa dosa jika sedikit bersyukur pada rezeki bulan ini dimana keluarga saya berkesempatan merayakan lebaran secara sederhana mengingat bapak saya yang cuma tukang foto kawinan, ibu saya yang berusaha menjaga makanan selalu tersaji di meja, dan adik saya yang SPG?

Jadi...
Kenapa saya harus mendengar keluh-kesah kalian tentang tumpukan pekerjaan padahal kalian tetap bisa pulang pukul empat sore? Kenapa saya harus mentraktir kalian jika keluarga saya lebih berhak atas hasil keringat dan usaha saya selama ini karena mereka selalu ada di saat kalian semua berpaling? Urusan apa saya dengan tambahan tugas karena rekan kalian mangkir jika memang itu salah satu resiko profesi?

Maaf jika keberuntungan saya yang berlebih ini menyedot hoki kalian. Saya rasa saya berhak untuk hari yang sempurna ini. Dan tolong, sekali ini saja saya mohon... beri saya liburan dari keluh-kesah kalian. Mungkin kita nggak punya kondisi yang sama, tapi kita bukan lagi bayi yang selalu merengek jika keadaan tidak sesuai dengan keinginan.

Got my point?


Astaghfirullah.... kenapa saya masih sepemarah ini?

Labels:

RED Badge of Courage

Posted by The Bitch on 9/27/2007 02:19:00 PM















Beberapa orang percaya bahwa kemerdekaan adalah hal terpenting dan hak tiap manusia.

Beberapa orang yakin bahwa pemerintahan dibawah kekuasaan militer tidak akan bisa berdamai dengan rakyat.

Beberapa orang paham betul bahwa 'there is no easy way' dalam merebut apa yang menjadi hak mereka.

... dan banyak yang mati karenanya.


Adilkah jika tentara berperang melawan rakyat yang sama sekali tidak bersenjata? Adilkah ketika suara terbungkam paksa demi mendapatkan hak yang melulu tertindas?

Mendukung aksi damai 100,000 biksu dan penduduk yang menolak junta militer di Yangon, Myanmar... USE SOMETHING RED TOMORROW (Friday, September 28)!

(dipanjangin dari seruan via YM tadi siang berbunyi "In support of our incredibly brave friend in Burma: May all people around the world wear a RED shirt on Friday, September 28. Please forward!)


Note: Gambar dipindai sekenanya dari KOMPAS Rabu, 27 September 2007).

Labels:

Dialog Geblek

Posted by The Bitch on 9/20/2007 02:15:00 PM

A: Jadi... kamu serius mau berdoa?
B: Iya. Kenapa emang?
A: Nggak papa. Errr... aku cuma bingung. Emang kamu bisa bahasa Arab?
B: Nggak. Kenapa emang dengan bahasa Arab?
A: Tuhanmu kan tuhannya orang Arab.
B: Ya bukan la. Tuhan tu satu, itu-itu doang. The Great Supreme Power. Namanya aja beda-beda, dan kebeneran aja nabinya orang Arab. Lagian, emang orang Arab itu siapa, munyain Tuhan?! Biarin aja mereka berdoa ke Tuhan pake bahasanya sendiri. Aku juga berdoa pake bahasaku.
A: Nanti Tuhannya nggak ngerti kamu ngomong apa dalam doa.
B: Ya percuma jadi Tuhan kalo Dia nggak ngerti. Tuhan kan Maha.
A: Lha, kamu kalo solat koq pake bahasa Arab? Kenapa nggak pake bahasamu aja?
B: Karena dari kecil diajarinnya solat pake bahasa Arab. Pengennya juga sih pake bahasa Indonesia. Tapi malah repot ngapalinnya lagi. Lagian kan solat isinya cuplikan dari surat-surat di Qur'an dan Qur'an ditulisnya pake bahasa Arab.
A: Lha terus, kalo kamu nggak ngerti bahasa Arab dan solat pake doa-doa berbahasa Arab gimana kamu bisa ngerti artinya? Gimana kamu bisa tau gerakan ini bacaannya ini dan tujuannya buat ini?
B: Aduh... pertanyaannya nggak penting deh! Ya kan ada teknologi yang namanya terjemahan. Buka aja buku pedoman solat, disana dijelasin gerakan ini bacanya apa dan artinya apa. Selesai! Nggak pernah ikut TPA ya dulu?
A: Ya makanya... kenapa nggak dari kecil diajarin pake bahasa Indonesia aja biar gampang. Kalo mau tau artinya kan nggak usah mendadak buka kitab suci atau buku pedoman solat.
B: Sekarang gini deh... mau ketemu Pak RT ampe Presiden aja kan ada tata-caranya toh? Bahkan ngomong ama pacar dan ngomong ama temen juga beda kan? Kamu nggak mungkin ngomong ke gebetanmu dengan nada seperti kamu ngomong ke saya kan? Kamu pasti berbaik-baik ngomong ke gebetanmu itu kan?
A: Iya sih. Terus, apa hubungannya gebetan saya dengan Tuhan?
B: Kalo kamu cinta mentok ama gebetanmu, kamu nembak dan dia nerima, kamu bakal terima kasih banget kan? Kamu bakal abis-abisan sayang ke dia kan? Ya sama. Kamu udah dikasih idup ama Tuhan sampe bisa gebetan, ya terima kasih lah dikit dengan njalanin kewajiban sesuai pengennya Dia. Nggak susah kan? Jadi simbiosis komensalis gitu loh, kamu seperti ikan remora dan Tuhan itu seperti hiu yang kamu tempelin numpang makan juga nggak keberatan.
A: Jadi aku boleh nggak solat?
B: Ya terserah. Aku juga sering nggak solat. Tapi apa Tuhan langsung nyamber aku pake geledek? Nggak kan? Dia juga nggak rugi kok kamu nggak solat, nggak puasa, nggak bayar zakat.
A: Terus... kamu masih mau berdoa?
B: Iya.
A: Buat apa?
B: Bilang terima kasih.
A: Kenapa?
B: Ya nggak kenapa-kenapa. Pengen aja. Nggak boleh? Tuhan aja nggak larang, kenapa kamu yang repot?!
A: Hehe...
B: Nanyanya udah?
A: Belum.
B: Apalagi?
A: Kenapa ikan remora yang kamu jadiin contoh?
B: Karena cuma itu doang pelajaran Biologi di SMP yang nempel di otak gwa, bedul!
A: Ooo...

Labels:

When the Erasee Won't Be Erased

Posted by The Bitch on 9/20/2007 11:27:00 AM

How happy is the blameless vestal's lot!
The world forgetting, by the world forgot
Eternal sunshine of the spotless mind!
Each pray'r accepted, and each wish resign'd.
- Alexander Pope, English poet, 21 May 168830 May 1744

Rasa kehilangan mendalam mengendapkan sakit tak tertahan hingga dada sesak dan berat, dan itu dirasakan Joel ketika Clementine WO dari apartemennya, mabuk dan marah. One thing leads to another hingga Joel melenyapkan ingatan akan Clementine dari otaknya ke sebuah institusi 'penghapus' bernama Lacuna. Berhasilkah? Ya nggak lah!

Film 'susah' garapan Spielberg ini nggak sengaja gwa tonton dinihari (jam orang sibuk bikin makanan saur) waktu gwa pengen mutilasi ingatan menyangkut seseorang. Geblek juga. Bisa-bisanya setema. Argh!

Big question: Emang bisa ngapus memori orang seenaknya?

Gwa selalu percaya 'teori besar' bahwa alam semesta dan isinya menyediakan hal-hal yang kita perlu, bukan yang kita ingin. Termasuk orang-orang berbeda yang tiap hari kita temuin atau papasan di jalan, di mall, semeja di warteg, duduk jejer di angkot, berdiri bareng di metro mini, ngantri bayar listrik, dimanapun. Entah kenal atau nggak. Beberapa diantara mereka mungkin jalan hidupnya bakal bersimpangan dengan gwa, dalam beberapa waktu. Nah, persimpangan itu bukan nggak sengaja. Kalo kita 'harus' kenal dengan seseorang atau nyemplung dalam sebuah komunitas, maka artinya gwa yang perlu orang(-orang) itu, atau dia/mereka yang perlu gwa. Kalopun nggak secara fisik atau materi, setidaknya untuk belajar dan dipelajari. Mungkin dari situ ide manusia sebagai mahluk sosial didapat, karena secara nggak sadar kita saling perlu satu sama lain.

Interaksi gwa dengan manusia-manusia yang gwa kenal dari bayi ampe bangkotan segede gini juga nggak mulus-mulus aja kejadiannya. Gwa pernah dihianatin temen paling deket dan bikin gwa rada jaga jarak untuk berakrab-akrab dengan sesama perempuan. Yes. Girls sucked when I was having those hard times. Gwa juga sering dikecewakan by both girls and boys. Marah? Kesel? Oh, nggak keitung. Tapi gwa juga sadar sih kalo gwa sering berbuat seperti itu ke orang lain.

Apa pantas mereka 'terhapus'?

Rasanya nggak. Sepahit apapun kenangan dan ingatan akan seseorang rasanya amat sangat nggak pantes mengingat 'pelajaran' yang tertanam dalam di benak. Mungkin kemurkaan dan rasa nggak enak itu pernah terlampiaskan dalam bentuk 'I wish we didn't met', but still... kalo emang 'jalan'nya harus ketemu, mau dilenyapkan segimanapun itu ingatan (dan manusianya), ya tetep bakal balik kucing. Karena itu tadi: lagi ada keperluannya. Kalo pun pertahanan tubuh terhadap kenangan yang merusak itu amat sangat gilanya sampe ada yang amnesia karena sistem otaknya memblokir kejadian itu, tetep aja ada triggernya. Akhirnya bakal muncul juga ke permukaan. Dengan cara apapun.

Ujung-ujungnya... mau gimana lagi? Adepin aja. Lupa? Bisa. Untuk sesaat. Pake mabok, ganja atau barang-barang laknat semacam itu. Kalo efeknya ilang ya inget lagi. Dan biasanya lebih menyakitkan imbasnya. Gwa juga pernah kayak gitu.

The point is... gwa cuma pengen minta maaf kalo pernah jadi sundal menyebalkan dalam hidup kalian dan bikin kalian menyesal pernah ketemu dan kenal gwa. Perhaps you all deserved that (=

*teuteup... ga mau kalah. haha!*

Labels:

A Leftist? Left-Winger? South-Paw? Kanan-Kiri Oke, Plis...

Posted by The Bitch on 9/19/2007 07:58:00 PM

Gambar sebelah kiri itu kandang bermain saya setiap hari mburuh di parik topeng. Liat gambar tetikus yang tak kotakin warna merah? Liat printer jadul dan posisi kibotnya? Yup. Sebelah kiri.

Asik juga sih jadi yang aneh dalam kumpulan. Alat bantu mburuh saya nggak bakal diutak-atik soalnya tak kunci jadi secondary tetikusnya (dan nggak banyak orang disini yang tau gimana utak-atik tetikus. Xixixi). Kalo orang makan pake tangan kanan, saya suka reflek pegang sendok di kiri. Ngetik SMS pake tangan kiri. Pegang rokok ya di tangan kiri. Cuma nulis dan makan pakek sumpit aja yang selalu pake kanan.

Saya pikir saya kidal nanggung nggak jelas. Tapi disitu dijelasin kalo orang-orang seperti saya ini ada istilahnya sendiri: ambidextrous; dengan kata lain ya... kanan-kiri oke gitu deh. Tapi ambidextrous ini 'extremely rare'. Saya emang nggak sekeren itu sih, untuk jadi kidal sejati. Mungkin bentuk jari saya yang nggak jelas jumlahnya yang maksa saya jadi rada ngidal.

Untungnya ibu saya nggak pedulian saya mau makan pake tangan yang mana. "Kalo semua harus dilakukan pakek tangan kanan, buat apa Tuhan menciptakan tangan kiri?" jawab beliau waktu nenek saya marah demi melihat cucunya dibiarkan makan dengan tangan kiri. Waktu nenek saya menyanggah dengan alasan kebersihan (karena tangan kiri identik dengan 'dirty chores'), ibu saya menjawab tenang: "Anak itu saya ajarin cuci tangan bersih-bersih sehabis berhajat. Pake sabun, digosok-gosok semua jarinya. Jangan khawatir dia makan teleknya sendiri. Nggak bakal nyisa kok, itu telek. Jari aja dia nggak punya, apalagi kuku!"
Tanpa mengurangi rasa hormat pada nenek saya yang pensiunan perawat RSAL; dan dengan seluruh cinta buat Bunda; I couldn't agree more sama Ibuk kecuali dengan berucap: Damn, you're good!

Sayangnya guru SD kelas satu saya masi produk lama. Bu Jadul itu--yang nama aslinya Darwati dan galak luar biasa sampe bikin saya hampir terkencing-kencing--selalu mukul tangan saya setiap saya pegang pensil pakek tangan kiri. Tapi ya nggak papa sih Bu. Saya ngerti alesan Ibu kok meskipun Ibu melarang saya keren dengan menjadi kidal (=

Dan... tau nggak? Dulu saya pikir saya rada nggak normal sampe ke fungsi tangan. Tapi berkat artikel itu saya jadi tau kalo saya cuma keren nanggung.

Anjrit!


ps. Komentar Babab tiap liat gitaris kidal: Gila! Tangan kiri aja dia bisa sejago itu. Apalagi pake tangan kanan!

Labels:

The Bitch Gives In

Posted by The Bitch on 9/16/2007 11:36:00 PM

Han,
Malem ini aku nggak mau jadi a self-centered, nagging bitch dengan selalu sambat, marah-marah dan wadul ke Kamu. Aku mau matur...

Seorang soulmate di belahan dunia situ sedang resah. Apa yang telah dia usahakan hingga titik darah penghabisan mungkin bakal tercerabut besok. Dia lelah, Han. Meskipun dia nggak bilang. Apa yang dia hadapi sudah terlalu banyak dan berat untuk jadi beban sepasang bahu yang nggak terlalu lebar itu. Dia, yang hampir nggak pernah mengeluh capek dan seperti punya 30 jam sehari, selalu bergerak, terus berpikir, nggak pernah mau kalah dengan keadaan, demi 'menjadi'...

Namun dia tau kuasaMu bicara di akhir. Dia gamang. Dia minta aku berdoa, memohon agar aku meminta padaMu agar dia diberi kekuatan. Untuk kalah atau maju.

Kami juga tau bahwa Kau jadikan indah semua pada waktunya. Jika menurutMu bukan sekarang saatnya, tolong beri dia 'sesuatu' agar tidak terlalu jatuh jika hasil di ujung tidak sesuai dengan harapan. Kalau memang dia berhak menuai apa yang telah dia tanam, jaga hatinya agar tidak jumawa dan melambung terlalu tinggi. Aku takut dia bakal lebih sakit dan pulihnya makan waktu yang nggak sebentar.

Jadi...
Khusus buat dia, aku menunduk, bersimpuh, luruh di bawah kakiMu, Han. (1)Cor meum tibi offero domine prompte et sincere. (2)Sanctificetur Nomen Tuum, adveniat Regnum Tuum, fiat voluntas Tua sicut in caelo et in terra. (3)Iyyāka na'budu wa iyyāka nasta'īn, Ihdinā ş-şirāţ al mustaqīm, şirāţ al-ladhīna an'amta 'alayhim ġayril maġdhūbi 'alayhim walādh dhāllīn...

[To the dearest anak kucing umur seminggu yang kecemplung di got. Kecil, dekil, menggigil, basah, tak berdaya, namun mengeong dengan keras. You'll hang on, my dear. Just like any other little kittens do]

Note:
(1) Motto sekolah ini
(2) Quoted from Lord's Prayer
(3) Quoted from Al Fatihah (1:5-7)

Labels:

A One-Man Show

Posted by The Bitch on 9/16/2007 10:33:00 PM

Sumpah! Keren! Apalagi bapak ini gendut, botak, dan punya jari gemuk-gemuk seperti sosis...

*terpana...*

Weekend Jahanam

Posted by The Bitch on 9/15/2007 10:01:00 PM

Mandor di pabrik topeng tempat saya melacur pernah bilang gini: "Emang siapa gwa sampe semua orang harus suka ama gwa? Siapa gwa ampe orang nggak boleh kesel sama gwa?"

Padahal beliau cantik, baik, pintar, dan menyenangkan. Sementara saya semua kebalikannya. Well, saya juga nggak bela diri kalo ternyata banyak orang nggak suka sama saya. Tapi kalo orang (yang saya rasa) paling dekat lalu bisa-bisanya berhianat... yah, mungkin bukan salah dia juga untuk melakukan itu. Dia punya alasan sendiri. Saya sebenernya ya menghormati sih, apapun yang dia pengenin sama hidupnya. Tapi saya penasaran. Dimana letak salah saya jika saya cuma ingin memastikan omongannya sesuai nggak dengan tindakannya.

Kalo kata mas-mas baik yang langsung saya telepon begitu telepon yang satunya selesai, jika semua orang di dunia berbuat seperti yang dikatakannya, maka penjara bakal penuh. Karena semua pencuri ngaku, semua pembunuh ngaku. Apalagi koruptor. Kesimpulannya: jujur itu nggak gampang.

Jadi...
Apa dia salah kalo dia nggak jujur sama kamu, Nduk? Toh, siapa kamu sampe dia harus jujur sama kamu? Wong sama dirinya sendiri aja udah nggak jujur kok.

Udah ya... nggak usah kemrungsung nggak karuan cuma karena laki-laki. Masih banyak lelaki lain yang jauh lebih baik dari dia dan bersedia ngapa-ngapain aja untuk kamu. Mereka bernama: teman. Kamu sendiri yang bilang bahwa dunia ini tetep indah meskipun semua berpasangan dan cuma kamu yang nggak, asal kamu nyaman bersma teman-temanmu (yang kamu harap sama nggak-berpasangannya sama kamu).

*elus-elus kepala Genduk*

Labels:

Hahahahaha *POP!*

Posted by The Bitch on 9/14/2007 01:55:00 AM

So... that's it? That was all you can do? When you can't even beat me up, you attacked me physically? Ah, correction. You attacked MY physical appearance because that's the least you can do, right? You wanna be cool like me, smart like me, but you can't do anything to enhance that small brain of yours, can you? Face it, lamer. You can't get all what you want in one package. That's the only fairness in this world of you and I, the one we live in. I can stand a brainless twat like you. Yet, if this is too much, you could go anywhere but earth, please.

No offense. But I think you need another lesson in manner, girlfriend. Wait. My mistake in labeling your forehead. As far as I'm concern, a friend doesn't aggressively and shamelessly open any opportunity that could cause stupid catfight amongst women. Luckily, I still have some kind of self dignity and keep my mouth shut. So... what should I call you, then? Not bitch. That name exclusively belongs to me, then.

D'ya read the title above, dumbass? That is for laughing my head off because of you. Oh, I don't have to point any finger--which I'm lack of--at anyone at all, thanks. This is not about you at all. Nah-ah. Who d'ya think you are, the center of everybody's universe?!

I know you can't pace up with me and the boys talking bcuz what we've talked are far too much for the itsy-bitsy brain of yours, so don't push yourself too hard. Thus, show up those flashy, boneless ass of yours instead, or powder that pretty face and put up some shiny clothes. We don't mind. We sure do need a little time to relax and being amused by somebody's stupid actions, afterall (=

Happy now?!

Labels:

Marhaban ya Ramadhan (?)

Posted by The Bitch on 9/12/2007 04:07:00 PM

Han,
Aku minta maaf karena udah cuekin Kamu selama ini. Aku terlalu sibuk sama urusan dan tetek-bengekku sendiri sampe Kamu harus ada di urutan terbawah dari semua hal yang lebih aku pentingkan ketimbang Kamu. Aku tau, kamu fine-fine aja mau aku kayak gimana pun. SayangMu masih tetep sama. PerhatianMu nggak lepas-lepas. Tapi entah kenapa aku merasa nggak adil ke Kamu karena menyia-nyiakan semua yang udah Kamu kasih. Padahal aku benci sesuatu yang terbuang sia-sia. Aku emang bukan pacar wannabe yang ajeg.

Han, Pacarku tersayang...
Denger-denger besok udah puasa. Ramadhan. Bulan dimana kasihMu bertebaran sepanjang nanodetik selama sebulan penuh sebagai ajang penebusan diri, meski kesalahan dan dosa tertuai seumur hidup. Ini gila! Sebejat apapun saya, dia, mereka, kami, tapi Kamu tetep kasih kesempatan untuk mengaku salah dan menunjukkan penyesalan--serta masih diganjar reward di akhirat nanti. Kamu sungguh terlalu baik. Amat sangat baik.

Damn, Han!
Kamu pasti tau kalo disini namaMu dijual demi rating. Pagi-pagi buta, dengan dalih menemani pacar-pacarMu mengisi perbekalan fisik guna memerangi diri sendiri, beberapa diantara kami mengumbar tawa dan lawakan mubazir; membagi-bagi 'rezeki' lewat judi yang kini bertajuk KUIS; mengingatkan betapa mulia dan heroiknya menahan lapar dan haus dan selalu mendengungkan pesan tersebut secara vulgar diiringi iming-iming untuk menggunakan produk tertentu agar pertempuran dengan nafsu menjadi lebih afdol; lalu merasa diri lebih 'bersih' karena telah beribadah dan dengan jumawa membersihkan yang kotor-kotor karena alasan ini.

Ada lagi yang lebih absurd, Han.
Ketika di penghujung masa bertempur itu datang hari yang dianggap sebagai kemenangan. Kita dipaksa merayakannya dengan mengumbar keinginan--dimana selama sebulan penuh telah jadi musuh terbesar. Sebelumnya, mendekati ruang dan waktu bertempur, kami berbondong-bondong meminta maaf seakan mati hanya tinggal di ujung lidah dengan alasan rindu gugur dalam tugas suci berperang dengan setan dalam tubuh. Tapi hey... kami tetap beli mobil, pakaian, perhiasan, makanan berlimpah dan memperbagus rumah demi menyambut perayaan nanti. Dini hari kami telah merencanakan bakal balas dendam akibat larangan makan-minum sehari penuh, nanti setelah matahari terbenam--sambil menodai ibadah kami dengan pikiran jorok tentang makanan dan minuman lezat. Kami seakan kalap menghadapi besok, dan menyesaki lambung yang kapasitasnya nggak seberapa ini dengan makanan, minuman dan keserakahan.

Han sayang...
Aku juga seperti itu--celakanya )= Jangan pernah menyerah ke aku yah. Aku masih punya sisi baik koq. Bener deh. Beri aku waktu. Beri aku kesempatan sekali lagi. Mungkin di penghujung Ramadhan ini aku bisa dapetin. Mungkin...

Labels:

In Memoriam: Bebek a k a Susiawan Widjaja

Posted by The Bitch on 9/05/2007 09:51:00 PM


Kenal cowok sok cool dan sok cakep di sebelah? Bukan, dia bukan pacar saya meskipun kriterianya sesuai dengan type saya. Pertama kali ketemu kita langsung tidur sekamar bareng--dengan empat orang lainnya--setelah melalui trayek Bunderan HI-Kebon Kacang. Malam itu juga kali pertama saya memulai ritual nongkrong mingguan di pinggir kolam Plaza Indonesia tiap jumat malam. Paginya, dengan mata berat karena lelah dan tertidur selepas adzan Subuh, saya dengar suara lelaki berbisik lembut meyakinkan--pastinya pada seorang perempuan--lewat ponsel bahwa semua akan baik-baik saja walau nanti dia jauh. Meski dengan pelupuk mata masih berat, telinga saya yang terbiasa waspada lebih dulu begitu otak terjaga tetap dapat menangkap keteguhan niatnya mencari penghidupan di pulau lain: Aceh.

Malam sebelum tidur, kita (saya, pemilik kamar dan dia) bicara sambil tangannya lincah meg-edit gambar.
"Asik ya, Mas, bisa jalan-jalan ke Aceh. Kerja buat LSM PBB gitu bayarannya gede kan?" tanya saya waktu itu.
"Nggak juga sih. Sama aja. Yang pasti bakal susah nge-net nih," jawabnya datar dengan mata masih menatap monitor.
"Kenapa nggak nyari yang disini aja?" saya nyinyir lagi.
"Lha dapetnya itu. Wong ditawarinnya juga gara-gara nongkrong di BHI. Haha!"

Setengah tahun kemudian dia kembali, mengumpulkan kawan-kawan yang terserak disini untuk kembali berbagi tawa dan pisuhan. Setelah sekian lama badannya sudah sedikit berisi. Yang saya perhatikan adalah gadgetnya yang gendut, pasti dengan fitur-fitur canggih di dalamnya. Dan tidak murahan.
"Keren... udah kaya ya! Ngajak ketemuannya aja di kafe gini!" komentar saya dengan mata menatap nakal ke ponsel barunya.
"Halah! Kaya apa?! Ini? Kalo nggak ada ini aku nggak bisa ngenet, jeh..." sahutnya kalem sambil menimang sayang benda yang ada di tangannya.
Ternyata dia masih tidak bisa dipisahkan dari dunia tak kasat mata yang menyenangkan dan paralel dengan kehidupan nyata.

Malam itu saya dan Mas Pitik jadi setan. Nggak ada satupun luput dari bulan-bulanan cangkem kemproh kami, mulai dari Mbak Pipink Si Penganten Baru, Mas KW Si Pendiam, Mita Si Wanita Keren Wannabe, Mas Bek The President, hingga dua perempuan pendamping The Bebek, Mbak Rani dan Mbak Fannie. Termasuk si empunya hajat. Tapi, segimanapun kita ngerusuh, dia masih berbaik hati menawarkan oleh-oleh yang tertinggal entah dimana.
"Kamu mau kopi dan dodol ganja? Nanti tak kirim aja, ya. Aku lupa... ketinggalan dimana gitu," katanya.

Dan hari ini saya tersentak mendengar kabar dari Pak Presiden bahwa Hulubalang Kopdar yang kalem itu kini tiada. Kecelakaan laut, katanya. Jenazah dimakamkan di Jember pada 2 September lalu. Entah kapan kejadiannya. Entah apa yang waktu itu kamu hadapi. Apakah kamu mungkin hanya panik menyelamatkan nyawamu dan orang-orang yang ada di dekatmu di saat genting? Saya sungguh nggak tau dan nggak mau bayanginnya.

Yang saya tau, kamu baik. Salah satu orang ter-asik yang pernah saya temui di dalam hidup saya. Yang tahan menghadapi kekemprohan cangkem kami dengan senyum dikulum dan pasrah nggak bisa bales. Yang lawakannya seringkali kemriuk tapi pantang mundur untuk selalu garing. Merupakan kehormatan mengenal seseorang seperti kamu, dengan semangat kopdar tinggi melawan semua rintangan nyasar. Cengiran terakhir sebelum kembali ke tempat motormu diparkir, dan dilematisnya memutuskan antara nongkrong di Bunderan dan keharusan sowan ke handai taulan besok malam selintas terbayang kembali. Tapi kamu tidak akan kembali.
Tunggu saya di sana, Bro Bebek! Kita akan segera kopdar gembira lagi! (=


The good dies young, but the spirit carries on...

Labels:

I Need To See Some Blood Shed Before My Very Eyes...

Posted by The Bitch on 9/04/2007 12:36:00 PM

Grmbl grmbl... )@#()*#&$@*(()()$*Q@&$&^%!%#^$)


[pagi hari ini rasanya benak bercampur-baur setelah nerima ucapan terimakasih lewat imel dari dia, manusia yang dulu nempatin tiap sudut ruang hati dan kepala saya, 24/7, 365 hari, tiap nanosecond. bukan, ini bukan CLBK-Cinta Lama Bersemi Kembali-yang saya rasa. melainkan perpaduan antara dendam, amarah, sayang, penasaran, dan entah apa lagi, hanya Sang Pacar yang tau. it is true, who hurt you the most is the one who dearest to your heart. saya nggak ragu tentang itu. tapi.. duh Gusti. kenapa kepala ini rasanya tetep ingin meledak dengan kemurkaan tiada terkira? kenapa saya bisa sebegini pemarah? rasanya sekarang juga saya ingin cincang badannya dan kemudian serpihannya saya sebar ke empat penjuru angin sementara sisanya saya kasihkan ke anjing-anjing geladak biar nantinya terbuang bersama tahi mereka dan (mudah-mudahan) lumayan berguna jadi pupuk. saya ingin lihat darahnya mengalir ke sela jemari saya dari pisau yang saya hunjam ke dadanya. berkali-kali. berkali-kali. ada apa dengan saya?]

Labels:

............. (lagi)

Posted by The Bitch on 9/02/2007 04:15:00 AM

Apa yang akan kamu katakan ketika lidah (di)kelu(kan) dan otak (di)buntu(kan)?
Sementara di ujung sana sebongkah jiwa tanpa rasa dan akal mengaku manusia namun tanpa kemanusiaan

Bagaimana kamu mengguncang yang tak tergoyahkan saat kakimu terinjak dan sakitnya menjalar hingga ke ujung rambut?
Mungkin perlu teriak lantang atau menghantam lutut ke skortum biar sakit sama rasa

Ah, sudahlah. Lagi-lagi saya cuma lelah.


[mengenang perjalanan macet Kopaja 19 dengan suara sirine mobil polisi sesayup sampai dan mengejewantah jadi raungan sangar yang mengawal tiga mobil Ferrari beserta Tommy Soeharto di dalamnya]

Labels: