"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Reriungan #1

Posted by The Bitch on 8/29/2007 02:41:00 AM

Sekarang bagian yang kadang nyebelin: sinau.

Bahasa Inggris, strukturnya beda sama bahasa Indonesia. Misalnya, untuk bilang 'Saya makan nasi goreng' mau sekarang, taun kemaren atau seminggu yang lalu ya cuma 'Saya makan nasi goreng'. Jumlahnya pun nggak direken, mau sepiring atau sebakul. Kecuali yang makan ngaku.

Tapi 'I eat a plate of fried rice' itu untuk ngomong apa yang saat ini sedang dilakukan dan 'I ate a plate of fried rice' kalo nasinya udah tandas masuk ke perut. Itupun mesti disebut seberapa banyak (a plate), kecuali kalo yang mbadog boong.

Jadi, bentuk kalimat bahasa Inggris paling sederhana untuk dimengerti adalah Present Tense, atau bentuk kalimat yang menunjukkan kejadian itu berlangsung sekarang. Bisa juga untuk menyatakan fakta atau kebisaan, misalnya the sun rises dan I swim.

Rumusnya:

Subject + verb (+ object atau keterangan lainnya)

Contoh:
You blog, Maz Bek sleeps, Maz Ipul takes a shower, and I lie.

Kenapa Maz Bek sleeps dan Maz Ipul takes a shower? Yang pertama mungkin karena default, dimana-mana juga bisa pelor, nempel terus molor. Yang kedua karena mau ke kantor. Tapi alesan dipakenya akhiran -s pada kedua kalimat itu adalah...

Tunggu Jumat malem besok di BHI aja ya...

(Ini sekaligus pembukaan buat Reriungan 101)

Labels:

Lu Peduli Nggak?

Posted by The Bitch on 8/29/2007 01:40:00 AM

Masih mau sedikit nyumbang buat pendidikan usia sekolah? Ini ada link dimana yang disumbang nggak cuma nadah nunggu donator tapi juga pake peres keringet. Kesempatan ngelmu nggak dipersempit untuk yang pinter thok thil, tapi juga untuk mereka yang mau belajar dan kerja dengan cara yang mereka udah tau dan ngerti.

Ya, emang ndeso abis sih, cuma ngangon kambing. Tapi bukankah kebijaksanaan desa yang mampu menyeimbangkan cara pikir manusia-manusia otomaton kota--melulu cari duit untuk dibuang lagi--dan karenanya penghargaan akan hidup dan sesama mahluk juga lebih tinggi?

Silahkan japri jika tertarik. Saya cuma bantu nyonthong.

ps: Takut duit lu diembat? Kayaknya nggak mungkin deh. Dia lebih suka ngasih daripada minta, apalagi ngembat. Such a big no no. Salah satu manusia langka, local wisdom with global thinking. Kalo nggak percaya ayo nongkrong tiap Jumat malem di bunderan HI, pinggir kolam pas depan tulisan PLAZA INDONESIA dari jam 22 ampe ngantuk. Yang beliin minum dia koq (=

Labels:

Antara Jaran Kore dan Jaran Teji

Posted by The Bitch on 8/24/2007 02:36:00 AM

Mungkin kamu benar. Jaran Kore akhirnya berontak terhadap kemlinthi-nya Jaran Teji yang sangarnya sudah tidak lagi menakutkan. Jika Jaran Teji akhirnya berada di posisi Jaran Kore dan hanya berakhir menjadi kopi paste Jaran Teji sang pendahulu, maka itu bukan revolusi. Hanya substitusi. Fotokopi.

Ya. Kamu benar. Mungkin saya harus mengumpulkan orang-orang yang berpikiran sama, bikin plan A sampe Z, lalu membujuk mereka untuk menjalankan planning-planning tersebut.

... dan apakah nanti saya hanya berujung sama dengan si Jaran Teji? Atau bisakah saya membuat Utopia sempurna seperti yang ada di juklak bagaimana membuat dan mengatur negara? Atau nantinya hanya akan sedangkal apa yang dikatakan Si Botak tentang bagaimana kekuasaan diciptakan dan ditransfer melalui 'ekonomi' diskursus tanpa mengindahkan kesejatian kebenarannya?

Njrit! Postingan lu sama dengan jebakan betmen! Mbales ya?! Tuh, Pet. Sesuai kepengenan elu. Gwa nulis lagi. Kopet!

Labels:

Malem Jumat yang Aneh

Posted by The Bitch on 8/24/2007 02:14:00 AM

Berawal dari tantangan...
Om-om usia dua puluh tujuh taun itu mengeluh sakit, demam, meriang. Tapi saya juga ngeluh karena jam enam kurang udah ada di kamar kos dan bosan dengan bacaan, sementara Si Dino masih ngadat nggak bisa muter film. Saya pengen liat orang lalu lalang sambil ngobrol. Saya ajak dia ke TIM. Eh, dia malah nantang saya dateng ke tempatnya. Saya tanya dia bahaya apa nggak, dia malah ngakak dan terheran-heran kenapa tiap perempuan yang dia undang selalu bertanya hal yang mirip dengan saya.

Wah!!! Nggak bisa didiemin ini!!!
Lalu saya sebel dan balik nantang: jangan nyesel kalo saya ternyata berantakan.

Jadilah...
Jam sembilan saya nongkrong di sebelah sananya Pancoran, dan tengah malem udah methungul lagi di gerbang kos. Jeda tiga jam itu dia 'menjamu' saya dengan pemenuhan janjinya. Meski dia sedang ingin 'bersih', dia rela melinting dan bersabar membiarkan saya menikmati hasil kemenangan. Well, itu konklusi dari analisa acak-adut saya sendiri sih.

Kesimpulan akhir: Terbukti saya gitingnya nggak rese! Buktinya ini masih bisa posting. Xixi...

ps. Bro, Bro. Bener deh. Kalo nggak ngalah ga bakal ada ujungnya. Dan sakit itu nggak bakal pernah sembuh. Makanya. Cepet sembuh yaaa... (=

to Kopet: emang elu doank yang dapet dodolnya dengan gratis?! Gwa juga bisa! Haha!

Labels:

Ouch!

Posted by The Bitch on 8/22/2007 01:34:00 PM

Damn, it hurts. When you think you are a member of a small group comprises of those who dear to one's heart and found out that you're not, it's like as if something unseen had hit you hard on the chest. It nails you spreadeagled on the wall and feels like you can't even draw air into the lungs for the burden beyond. And both of your ankles and wrists knotted tightly.

So... I'm not as no-evil-no-harm-done person as I want to be though I try. Believe me. I'm trying hard.

*sigh*

Gusti... paringono sabar ben iso iklas.

Labels:

Revolusi Yuk!

Posted by The Bitch on 8/22/2007 01:58:00 AM

Jadi...

Selama 3x24 jam tanggal 16 sampe 18 Agustus kemaren total gwa denger lagu Kucing Garong 26 kali. Diantaranya adalah buat bebunyian di booth panitia jalan santai, pengiring lomba makan kerupuk, balap karung, lari bakiak, dan sebagainya, pengisi jeda di panggung, untuk tarian anak-anak dari RT 03 (yang untungnya bukan RT gwa), dinyanyikan sama mbak-mbak seksi dengan pengiring organ tunggal, dan penyemangat bapak-bapak yang bertugas beresin TKP keesokan paginya.

Dalam 3 hari itu juga gwa liat gadis-gadis kecil umur 7 sampai 9 tahun bergincu dan ber-makeup tebal, pongah mengenakan rok mini dan tank-top, melenggak-lenggok di atas panggung mengikuti rancak musik ajep-ajep layaknya diva-diva mini sedang beraksi. Sementara bocah-bocah berpakaian tradisional karena Tari Piring yang mereka bawakan seakan menjadi warga negara kelas dua yang sama sekali nggak punya kebanggaan. Drama perjuangan? Karnaval? Arak-arakan bodor pembuat macet dengan anak-anak berseragam sekolah, berkebaya dan berbaju bodo, dengan songket dan ulos dan jarik parangrusak? Apa artinya?

Toh sumbangan seribu rupiah per orang dari segelintir ibu-ibu yang ikut senam di RW masih aja diembat. Garam beryodium dari kelurahan yang sejatinya dibagi gratis malah dikutip lima ratus per bungkus. Raskin di-markup 50% dan dijual pada mereka yang punya mobil mengkilat dan kulkas sebesar kamar. Dana pemberdayaan lansia dari kelurahan dibuat rayahan pengurus RW. LPJ nggak pernah ada. Pertanggungjawaban kas dijawab dengan kemarahan karena merasa tidak dipercaya. Yang benar dimusuhi, yang salah dirangkul. Kerja sosial mereka anggap sebagai salah satu sumber nafkah.

Lalu di belahan wilayah lain sesama manusia yang lahir dan besar di bumi ini meratapi kios yang jadi ladang penghasilan satu-satunya namun telah luluh lantak dimakan api. Beberapa bulan kemudian akan berdiri mall atau pusat perbelanjaan mewah yang barang-barangnya hanya mampu mereka pandangi. Sekelompok lainnya yang merasa telah membangun rumah di surga sebagai naungan setelah mati dengan enteng menunjuk yang lain sebagai pendosa. 'Dosa' masa lalu akibat terlibat gerakan terlarang masih tertanggung di pundak anak-cucu, menghambat mereka bekerja, bergaul, dan bahkan menikah. Meski kabar burung bilang nggak ada lagi cap TAPOL di kartu identitas mereka. 'Suara' rakyat yang mereka 'perjuangkan' di ruang rapat ber-AC dengan kursi empuk dan nyaman berubah jadi sekedar ajang balik modal dan sarana menangguk untung atas biaya kampanye pemilihan lalu.

Jadi... apa yang dirayakan?

62 tahun sudah. Masih nggak nyadar kalo kita harus berubah?

Merdeka, lah!

Masihkah kau dengar nurani yang berteriak lantang namun berusaha kau bungkam dengan timbunan harta dan wanita, wahai wakil rakyat? Masihkah kau mengeluh kalah tanpa daya sementara kita bisa bergerak, wahai sang rakyat? Jika kita memang bertuhan, maka vox populi vox Dei!

Untuk Ndaru Sukopet, salah seorang soulmate yang baru tau kalo neneknya pernah ikut Gerwani tepat di hari kemerdekaan. Untuk kakek saya yang ternyata sempat 'manggon' di Buru karena dituduh jadi anggota Lekra. Untuk Eyang Pram yang semangatnya masih membara di setiap tulisan hingga ajalnya menjelang. Untuk mereka yang berjuang atas masa depan bangsa yang lebih baik. Untuk mereka yang gugur demi status merdeka. Dan demi cinta saya terhadap sepetak tanah-air (yang dulunya) indah bernama Indonesia (atau Nusantara)... saya persembahkan omelan ini.

Labels:

Introducing...

Posted by The Bitch on 8/21/2007 01:48:00 PM

Kamu seperti pohon besar yang meranggas, keras kepala untuk tetap bertahan hidup meski sedang sekarat, ngotot terlihat tangguh padahal sering kamu rapuh. Tapi letakmu netral kok, ditengah-tengah.
Kamu seperti bulan yang hanya terlihat kala malam datang saking jarangnya kamu tidur ketika manusia lain terlelap.
Tapi tau nggak? Bulanmu punya satelit kecil yang selalu setia menemani kemanapun dan kapanpun kamu mengorbit. Itu saya.

Terima kasih untuk menjadi satelit kecil yang paling terang di malam-malam sepi dan saat-saat sulit. Terima kasih untuk header filosofis. Terima kasih untuk menunggu dua jam lebih. Terima kasih untuk ngenes melihat tampilan lama taman bermain saya dan gemes mbikinin yang baru.


Before

I couldn't ask for more...


Dedicated to Maz Herry. Such a rough ride we had in the past seven years, Brother (=

Labels:

One Fine Evening

Posted by The Bitch on 8/19/2007 11:36:00 PM

The conversation below occured in the house of The Bambangs:

"Jadi yah, RW kita dikasih dana berapa em gitu sama pusat buat bikin sesuatu yang berdaya guna buat warga soalnya RW kita menang pelaksanaan 10 Program PKK," kata Ibu yang pangkuannya dileyeh-leyehi Babab.
"Lha terus mau buat bikin apa tu dananya?"
"Pengennya Bu RW sih beli mesin kompos, biar problem sampah nggak mumeti banget. Tapi kesandung sama masalah lahan. Nggak banyak orang disini yang punya tanah milik sendiri. Apalagi yang mau ditumpuki sampah"
"Kan di depan situ ada lahan kosong punya Perumnas. Nggak bisa dipinjem atau disewa aja? Daripada buat kebon-kebonan nggak puguh gitu," usul saya sambil menjentik abu rokok ke asbak.
"Ya nggak boleh lah. Itu kan sebentar lagi mau dibangun rumah-rumah juga," jawab Ibu sambil mbubuti ubannya Babab.
"Bikin warem aja, warung remang-remang. Kita yang jadi pengusahanya. Sebelum kita jual, tak cicipin dulu," Babab berujar sambil cengar-cengir keenakan botaknya diusap-usap.

Plak!


Babab sontak bangun seraya mengusap jidat yang ditabok Ibu. Cengiran nakal-sok-nggak-berdosa masih mampir di wajahnya yang seperti menantang kebetean di muka Ibu.

"Gaya lu ah! Titit cuma sejempol aja mau petantang-petenteng!"

Saya? Ketawa menggelegar nggak bisa berenti.

Begitulah. Suatu sore yang aneh di rumah Keluarga Bambang yang manusianya nggak kalah aneh...

Bu, Bu... Dulu milih suaminya gimana sih? Icha suka ilfil ama Babab. Plenyun banget jadi bapak-bapak. Anak-anak yang laen kok bisa punya bapak normal sih?

Icha, anak bungsu di keluarga Bambang dan adik dari pemilik kotak muntah ini.

Bab, dulu cari istri dimana? Nggak bisa ganti yang laen, ya... Semacem Monica Belucci gitu?

Saya, anak sulung di keluarga Bambang Sugiharto, kakaknya Icha.

Aduh... Pengen ke mall ah, ngecengin brondong. Siapa tau bisa dapet suami
baru buat gantiin bapak-bapak botak yang demennya ndlosor terus pelor.

Ibu Bambang, istri Pak Bambang, Ibunda pengomel disini.

Wah, Jam satu! Saatnya sharing sama ayam!
Bapak Bambang, Bababnya saya.

Hey! Jangan dikira saya nggak bersyukur! Ini ekspresi kebanggaan saya atas satu keluarga aneh dimana saya selalu diterima, meski dalam keadaan babak bundas maupun saat dagu terangkat...

Labels:

R E S U R R E C T I O N

Posted by The Bitch on 8/10/2007 10:56:00 AM

Hey! I'm back (=

Rasanya seperti Phoenix yang bangkit dari taburan jasadnya sendiri, ketika daur hidup selesai dan internal combustion menyala dari dalam tubuh, membakar hingga ke bulu terujung, untuk sekali lagi mewujud. Merah, jingga, terang, kemudian meredup, lalu lenyap mengabu. Tapi di tengah abu yang bikin batuk dan alergi itulah saya dilahirkan kembali, menjadi sesuatu yang baru dan menatap semua hal di hadapan dengan pandangan berbeda dari sebelumnya. Rasanya tuntas sudah saya mengumpulkan energi untuk kembali menantang dunia. Lebih cepat dari yang saya duga. Um... Kamu tau? Sepertinya saya dapat melihat warna-warni gelap-terang dengan lebih jelas sekarang, meski saya sendiri tetap kelabu.

Dan saya bangkit lagi dari 'kematian kecil' akibat lelah dan selesainya 'satu daur hidup'. Dia membuat saya keluar dari kubur yang dengan suka rela tergali, membuka mata tentang apa makna bertaruh pada hidup dengan mengutip sajak Schiller bahwa "hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak pernah dimenangkan". Dia yang selalu menuliskan tentang kematian tapi sesungguhnya amat memuja kehidupan itu sendiri. Dia yang menantang saya untuk menuangkan perihal perjudian besar yang belum berani saya papar. Tapi akhirnya saya sadar bahwa pertaruhan dalam hidup adalah kematian. Pertaruhan dalam kematian adalah kehidupan, atau bagaimana kamu ingin dilihat Dia setelah nyawa tercabut. Itupun jika Dia ada. Di tengah perihal hidup-mati inilah kita mengada, menjadi, menyublim atau melenyap. Your call. Your choice.

Saya nggak ngoyo untuk selalu jadi pemenang. Meski di akhir perjudian saya kalah karena selalu merasa sendirian, saya harus akui bahwa berdekat-dekat dengan manusia adalah menyenangkan. Bahwa berbagi sakit itu meringankan. Mendengarkan cerita--sekonyol apapun--dari mulut sahabat pada pukul satu dinihari (menurut saya) lebih menyejukkan ketimbang khotbah pemuka agama yang membeberkan fantasi tentang indahnya surga dan kejamnya neraka. Kekecewaan harusnya dibuka agar sama belajar dari sana untuk jadi lebih baik bagi satu sama lain. Pendapat itu dikemukakan, bukan ditahan untuk jadi bisul psikologis yang jika pecah bakal jelek dampaknya. Perjalanan yang dilalui bersama, sejauh dan secepat apapun kaki melangkah, adalah enteng meski kita kadang terengah memburu udara lewat lubang hidung sementara paru serasa penuh batu.

Ya, saya mungkin telah kalah. Tapi dalam tiap kekalahan saya belajar untuk menghadapi perjudian selanjutnya. Entah menang atau kalah--lagi--tergantung bagaimana saya dapat memandangnya sebagai pembelajaran. Mereka membuka mata saya tentang pertaruhan besar-besaran atas mengenal, berbagi, terikat, untuk kemudian menanggung rasa sakit atas kehilangan. Tapi dia yang menampar saya untuk kembali tegak dengan kebrutalan saya dalam beradu rasa, emosi, pemikiran, hati. Dia yang kembali mengenalkan saya untuk melepas apa yang seharusnya tiada dan menerima kenyataan--sepahit apapun. Darinya juga mata saya terbuka bahwa tidak semua niat baik berujung baik, dan saya harus terima jika panggang amat sangat jauh dari api.

Tapi akhir minggu kemarin saya yakin telah memenangkan pertaruhan secara mutlak saat saya dikelilingi sahabat terkasih, menghabiskan waktu bersama dalam komunal, berbagi cerita--indah maupun gelap--menyapa mereka yang sempat hilang, menyambut yang datang, menerima dan diterima (sekacau apapun bangun dan bentuk saya, kami, kita), berbaur, tertawa, misuh, rata, sama, bahagia. Meski untuk sementara. Walau nanti harus berakhir dan hanya jadi salah satu memori yang mengendap di dasar batok kepala. Hanya saat itu yang kita punya, dan dari situ jejak saya dimulai lagi. Dari kalian tenaga saya terisi kembali. Dengan adanya kalian sayap saya tumbuh lagi.

Saya nggak bisa bikin kata-kata indah sebagai persembahan layaknya di lembar skripsi. Saya nggak bisa bikin rangkaian bebungaan karena kalian juga bukan demit penunggu tempat angker. Saya nggak punya harta untuk dibagi-bagi dan saya yakin kalian bukan duafa perlu harta. Saya juga agak risih memeluk kalian satu-satu karena kebiasaan saya yang jarang mandi. Saya nggak ekspresif untuk bisa meneteskan bergalon-galon airmata haru dalam menunjukkan seberapa besar sayang dan rasa syukur saya atas adanya kalian. Yang bisa saya lakukan hanya membayangkan diri sendiri nyengir lebar dan nakal, jingkrak-jingkrak dan berteriak nyaring: "SAYA KEMBALI!"

Terima kasih, kalian...
*membungkuk dalam-dalam hingga pegal*


Dedicated to: Pakdhe Zen 'The Pamei' (yang paham betul frekuensi hati dan otak saya), Om Jin (yang setia menunggu sayap saya mekar lagi), Mamih (yang yakin bahwa saya mampu dan bisa), Bunda Endhoot (yang membujuk dengan durian), Om Jay (dengan Melodi Congornya membantu saya amnesia pada beban), A' Abi (dengan kemampuannya untuk berusaha netral yang... edan lah!), Pace (karena kembali utuh ke tanah air tanpa goresan peluru sedikitpun), Oki (salah satu soulmate cum pengabadi gambar-gambar laknat itu), Om Deden (yang kesaktiannya membuat berbagai perangkat elektronik macet mendadak namun rela kamarnya terisi hanya dengan saya dan para belahan jiwa), Lea & Indra (yang sering bikin saya sirik diam-diam), Bandung dan Jogja (dengan suasana dan udaranya sendiri, tempat para begundal jahanam tersayang berdiam), dan Sutarchie The Kopet yang kedatangannya membuat saya sadar bahwa saya tidak sendiri, dan kalian biangkerok berisik yang ada di Jl Cijerah Indah Blok B5 Komplek Cijerah Permai hari Minggu, 5 Agustus 2007. Gila! Saya sayang kalian! Bahkan mbak-mbak yang lebih suka beres-beres kamar itu! Haha!

ps: saya menagih kutipan yang bikin darah mendidih selama tujuh hari itu. kamu tau alamat imel dan nomer ponsel saya *nyengir iblis*

Labels: