"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Another Fake Orgasm

Posted by The Bitch on 7/30/2007 10:38:00 AM

And that is this fuckin' blog thingy is all about. I'm doing nothing but satisfying my crave of attention. I'm through playing wannabe martyr. I'm done being fallen, unrecognized heroine. My time has come to retire from a miserable drama queen. For all of the unfortunates who are not blessed by fluent English, I'm saying this out loud: Saya selesai sampai disini. Entah sampai kapan.

I'm not impersonating that guy in wordpress that fetched various statements from those who despised him and he tired of them. My visitors are mostly nice people and I would kill to be that popular. Don't put too much honors to yourself. No, it's not because of all the godamned fuckin' irrelevant comments. It's not because of how you put your stupid values upon me either. It's just somehow I feel enough. I'm finished with my broadcasted, no good, ridiculous state of minds that I blatantly pushed before your very silly faces and shoved up to your brain and feel like I already save the world. I've been living in illusion of such level you could involuntarily feel pity to my sorry ass. I've got my own truly stupid reasons that I consider to keep only to myself. It's been one hell of two years that I fake my orgasms here, with a few real ones along the way. And yes, it's because of my incapabilities to cope with the ugly, ill-fated surrounding that becomes one of the ingredients among numerous motives I've got in mind.

As a human, I failed. As a woman, I too failed. And even as a creature, I'm nothing but a big zero. And what was I doing in the process? Putting flowery words that stink? Letting the world know how pathetic I am? Proud of becoming one tough bitch that could happily provoke any storm and ride the eye of it? Trying to apologize by blurting shitloads here? You damn right I am! I'm just tired of people, problems, distant relationship, unseen friends, forced smiles, conspiracy agendas, pretty faces, political correctness, new insights of psychology, self-awareness, socialism, mental slavery, poverty, neighbors who pretend they care, fake understandings, artificial empathy, culture domination, generated emotions, and all the shitty stupid standard things called masks worn and stamped by most of the two-legged population ever walk on the face of this earth from sunup to sundown to sunup again, and all of these disgusting infinitum.

Thus...
Say 'Hallelujah' or 'Alhamdulillah' or even kiss the ground where you set feet upon and thank the most supreme power somewhere, because with this so-called notification I'll be gone. I'm sure it will make the world a better place to live in for everybody because there is one less grudge, grumpy, insecure girl around to shake you up with her fucked up, unsystematically put, deluding logics and pretend to be cool in doing that. As God is my witness, I swear, I'm over with my one fuckin' unfinished task that shuts its door (and mine as well) to get to know another soul. And let's see how long I could recover. Or call it hiatus if you like. I need to gather up my strength for a while to be back on my feet and soaring on my wings again to fight the demons within.

To Oki: Gwa nggak akan nyerah karena gwa adalah Bisma dengan Baratayudha-nya sendiri.

Labels:

Hey, Han. AgamaMu Apa?

Posted by The Bitch on 7/29/2007 09:35:00 PM

Sering gwa dipaksa jomblo kalo lagi nongkrong ama temen-temen gwa yang kebetulan sering melontarkan ide-ide (yang menurut orang lain) subversif. Gwa harus meniadakan Pacar gwa sementara supaya masuk ke term mereka. Dan kemarin gwa ngobrolin masalah ini sama seseorang, tentang gimana agama itu cuma bikinan manusia. Wahyu? Oh, di tempat kami biasa nongkrong sering banget orang-orang ketiban itu. Entah datengnya dari 'penghuni' Planetarium atau dari Dia-Yang-Namanya-Boleh-Selalu-Disebut.

Salah satu manusia fucked up (slash mentor dalam urusan pervert) pernah meng-kupipes gagasan yang dia dapat dari salah satu milis. Menurut kupipes itu, Indonesia sama sekali nggak pernah merdeka dan terang-terangan menindas rakyat dengan memaksakan lima agama 'impor' tanpa mempertimbangkan kepercayaan lokal yang lebih dulu ada. Padahal nggak harus gitu lah. Negara nggak berhak ngurus kehidupan warganya sampe ke level se-personal itu. Sama halnya negara nggak berhak ngurusin rakyatnya mau check-in di hotel mana, dengan siapa, sampe berapa lama. Urusan moral? Kita tau mana yang baik dan yang nggak baik. Semua tergantung gimana manusia denger hati nurani. Kalo mau rakyatnya bener, rasanya bukan ajaran agama yang harus dikedepanin, melainkan pengetahuan tentang moral yang ditanemin. Menurut gwa, beragama itu 'mencari' Tuhan, atau sesuatu yang dipercaya sebagai Supreme Power tanpa batas. Dan itu pribadi banget. Jalannya sama sekali nggak ada yang sama, meskipun per orangnya dibesarkan dalam kultur dan lingkungan yang sama. Karenanya sangat nggak masuk akal kalo hal semacam itu di-universal-kan.

Dari dulu pun gwa percaya bahwa agama sering dijadikan alat validasi untuk memperbolehkan seseorang atau kelompok menyebut diri benar dan akan masuk surga sementara yang lain salah. Atau dinihilkan cuma jadi sekedar alat marketing (remember Christmas dan Lebaran?). Atau bunuh-bunuhan demi membela tuhan masing-masing. Padahal, kalo tuhan-tuhan yang mereka perjuangkan itu memang maha perkasa, kenapa susah-susah mesti dibelain? Menurut mental image gwa yang kartun dan gelap, para tuhan itu lagi asyik nge-bilyar atau duduk sambil minum-minum dan mentertawakan masing-masing kelompok yang mengaku berjuang demi nama mereka. Lengkap dengan atribut masing-masing, entah itu ber-halo atau berpendar-pendar cahaya, dalam daster panjang menyapu awan berambut gondrong berjenggot dan berkumis putih. Konyol kan? Apalagi masalah surga yang dikapling-kapling sama kelompok-kelompok fanatik. Developernya siapa sih?!

Ya, gwa pernah kecewa karena (terpaksa?) melepaskan seseorang hanya karena berbeda tuhan. Meski dia menangis dan menurunkan derajatnya hingga tiarap di kaki gwa, gilanya, demi namaNya gwa bertahan. Padahal sampe sekarang belum ada satu pun manusia yang gwa temuin yang punya kualitas sama dengannya. Tapi ujung-ujungnya karena namaNya juga gwa dihujat oleh orang yang sama, sebab (menurutnya) gwa menghina Pacarnya. Damned!

Seseorang lain di Surabaya yang selalu nemenin gwa lewat suara (dan rada megalomaniac dikit) pernah bilang bahwa agama layaknya ageman atau baju. Semuanya tergantung yang ngagem, tergantung siapa yang pakai. Dan gwa, lepas dari kolom agama di KTP yang jelas-jelas tertulis ISLAM, tetep punya kepercayaan gwa sendiri. Yang gwa pake mazhab Pito. Kalian nggak boleh protes, karena gwa juga nggak protes sama mazhab apapun yang kalian pake. Lepas dari gwa males ibadah atau nggak, gwa percaya tuhan nggak bisa disogok. Ketika gwa memenuhi 'olahraga' gwa sehari lima kali, itu karena gwa lagi kangen dan perlu Dia, bukan karena takut masuk neraka dengan bikin dia seneng dengan gerakan-gerakan gwa. Kalo pun gwa masuk neraka nanti dan gwa nggak tahan siksaannya, gwa nggak akan ngeluh. Moga-moga. Jadi, nggak usah la ngomong depan gwa tentang agama apa yang paling baik, tuhan siapa yang paling pemurah, ajaran mana yang paling mulia. I've been there and done that. Fuck you very much (=
Udah lah. Ini cuma misuh-misuh gwa pra-haid koq. Biasa. Haha!

Labels:

Capitalism, Anyone?

Posted by The Bitch on 7/26/2007 11:12:00 AM

Konon, manusia pernah menemukan cara mencukupi diri dengan saling menukar barang. Kalo misalnya gwa perlu ayam untuk dimasak dan Oknum M butuh wortel (untuk apa? Tanya sendiri), kami tinggal barter. Setelah itu gwa bakal bahagia menikmati semur ayam dan Oknum M akan mengerang dengan wortel. That's what I call fair trade. Everybody's happy and no harm done, kecuali terhadap ayam dan wortel. Dan si Oknum M, mungkin. Kalo dia nggak pake KY jelly atau saos sambel.

Zaman berubah. Manusia selalu berusaha membuat hidup lebih baik dan nyaman, karena itu banyak tercipta alat bantu. Mulai kapak batu hingga cangkul ketika zaman pra-sejarah makin progresif--meramu, berburu, hingga bercocok tanam. (Gwa baru tau kalo jaman pra-sejarah udah ada sekolah Hogwarts. Ada pelajaran meramu segala!)

Kata Eyang Darwin, evolusi berawal dari Homo Soloensis hingga Homo Sapiens (ya ya, ini cuma to make long story short, jangan protes!). Dengan berubahnya fisik, alam, lingkungan dan organ berpikirnya, para Homo ini (yang sudah sangat erectus, apalagi jika pagi hari menjelang) makin progresif pula menciptakan berbagai alat bantu dan alat tukar. Cara barter tinggal sejarah ketika uang telah dibuat, dan yang ada hanya jual-beli. Dan dengan motif ekonomi masing-masing, para pedagang dan pembeli ini akan bersepakat pada harga. Contohnya bisa dilihat di Malioboro dan pasar-pasar tradisional. Wortel dan ayam sekarang punya nominal.

Yang lebih edan lagi adalah penemuan mesin uap yang memicu adanya revolusi industri, dimana barang kebutuhan bisa dibuat banyak dan harganya akan lebih terjangkau. Sesuai dengan hukum, jika suplai berlebih maka harga jadi murah. Tenaga manusia diganti mesin dan proses pembuatan dipercepat untuk menghasilkan produk massal.

Sudah? Belum.

Untuk berproduksi banyak diperlukan bahan baku banyak juga kan? Nah, untuk mendapatkan bahan baku banyak, kita harus keluar modal banyak kan? Disini kapitalis mulai unjuk gigi: ketika modal dikeluarkan dan hasil yang ingin dituai tanpa batas. Dengan mengeruk hasil alam sekalipun, hingga alam babak-bundas dan fungsinya tiada. Kapitalisme dan eksploitasi emang kayak tai ama kentut, barengan terus. Berdasarkan namanya aja, kapital (yang berarti modal), bisa keliatan siapa pemain utama pada sistem seperti ini. Di masa-masa awal revolusi industri, mereka hanya bikin yang diperlukan pasar, berharap dapat menangguk untung berlebih. Dan lebih. Dan lebih. Dan lebih.

Sekarang barang diproduksi bukan karena dibutuhkan sebagai item bertahan hidup, tetapi juga untuk memenuhi hasrat. Kalo nggak ada pasarnya, ya ciptain sendiri dong! Bisa dengan branding, kampanye, gempuran iklan di berbagai media (hingga blog) atau yang pake endorser artis-artis cakep-bening-menyegarkan dan berkulit kenyal layaknya karet sebagai representasi barang yang dijual. Target pasar dibidik sedemikian rupa, pakek strategi dan forecast yang lebih jitu daripada BMG. Dengan modal yang nggak sedikit, tentunya. Seperti yang dikatakan lelaki-agak-cacat-otak yang pernah mengunyah kursi Sastra Nuklir UGM (dan sekarang berkantor di Bapeten. Haha! Gwa sebut lagi!), motif manusia hanya bermuara pada urusan perut dan bawah perut. Ekonomi dan hasrat, dimana keduanya berbanding lurus dan tanpa batas. Kemudian tercipta global trading, dimana barang produksi dalam dan luar negeri saling bersaing dalam hal kualitas, harga dan ketersediaan. Menurut Eyang Marx, kapitalisme cenderung menghasilkan monopoli dan membuat masyarakat jadi miskin karena para kapitalis itu bakal menurunkan upah buruh demi meningkatkan keuntungan. Semua itu ya karena pengaruh persaingan tadi. Disini kapitalisme berubah jadi jahanam karena manusia = alat produksi.

Dulu gwa pernah mencak-mencak karena ada mahasiswa S2 menyebalkan yang bilang: untuk memperkaya satu orang atau kelompok harus ada kelompok lain yang dimiskinkan. Wets! Nggak bisa! Pikiran-sok-humanis gwa menentang keras. Untuk menuju langit kita bisa sambil gandengan, nggak usah nginjek kepala orang, sanggah gwa. Dengan tenangnya, si mahasiswa yang dikuliahin sama pembayar pajak dan retribusi (alias pungli resmi yang dikeluarkan Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia) karena dia pegawai Pemda di Sulawesi sana (dan gwa nggak tau namanya) bilang kalo--meskipun terdengar kejam--begitulah hukum ekonomi. Ya ya ya. Hukum, yang diciptakan hanya untuk melindungi kepentingan dan harta segelintir orang, berbahasa dingin, tanpa perasaan.

Nggak munafik, jaman sekarang kita hidup dalam kapitalisme karena menjadi konsumer adalah keren. Nggak peduli punya duit atau nggak. Buying things you don't need with money you don't have is a lifestyle. Gwa nggak bisa bilang kalo gwa anti. Ya, gwa masih pake produk Triumph, Nike dan Converse meski gwa benci cara mereka memperkuda para pekerja. Apologi gwa adalah: gwa beli ketiga merek itu dengan nunggu diskonan, harga pabrik. At least gwa bayar hasil keringat sodara-sodara gwa sesama buruh dan tutup mata dengan brand value yang nilainya lebih besar dari upah mereka. Dan inilah gwa, si anak haram kapitalis yang dibesarkan di dalamnya tapi berusaha gerilya menolak air susu manis dari tetek yang disorongkan ke mulutnya.

Gwa nggak minder karena gwa berusaha sadar dan (sedikit) pintar menghabiskan duit yang nggak seberapa. Itu knapa gwa nggak punya kartu kredit dan rekening di bank pun cuma untuk transfer fee atau nyimpen duit karena gwa nggak punya dompet. Generasi yang lahir taun delapanpuluhan macem gwa nggak kenal itu romantisme dan ghirah perebutan kemerdekaan, revolusi, atau ORI (Oeang Repoeblik Indonesia) dimana nilai tukar jadi jatuh dan duit cuma buat hasta karya, digunting-gunting. Di masa gwa tumbuh, yang namanya pembangunan sudah semangkin maju dan diharapken mampu meningkatken kesejahteraan rakyat. Seperti yang dulu sering kita denger dan liat waktu Laporan Khusus menayangkan dia-yang-namanya-tidak-boleh-disebut sedang mancing di yacht atau panen padi atau gunting pita di pedesaan (pake ajudan dan asisten bersafari sementara beliaunya cuma pakek celana pendek dan kaos) di tengah film yang lagi rame-ramenya kita tonton. Anak-anak yang tumbuh bareng gwa menghabiskan waktu mereka di mall, kafe, salon, dan toko buku keren macem Aksara dan QB. Nggak, nggak salah sama sekali. Gwa juga suka gitu, kecuali ke salon. Tapi ketika terlintas pikiran bahwa tanpa mall maka hidup jadi hampa... Voila! Selamat! Lo udah jadi bukti nyata betapa kapitalisme mendarah daging di tubuh lo.

Gwa nggak bisa melepaskan diri dari omongan Menteri Keuangan Negara Bunderan HI Merdeka bahwa--mengutip ucapan Eyang Pram--manusia yang tidak berproduksi pasti korupsi. Dan korupsi itu nggak cuma materi. Pemikiran dan cara lo hidup pun bisa korupsi. Misalnya gwa yang punya kecenderungan korupsi dengan komitmen. Gwa tau, untuk sebagian orang pemikiran gwa adalah subversif. Untungnya Bapak Pembangunan yang selalu menggagas penggunaan bahasa Endonesia yang baek dan bener itu udah nggak jadi presiden. Kalo nggak, gwa pasti udah dikerangkeng hanya dalam beberapa jam setelah gwa posting ini. Gwa tau, banyak yang berpendapat bahwa omelan gwa disini cuma sampah nggak penting dan bikin pusing. Silahkan di delete, silahkan dihujat, baik japri maupun di depan publik. Emang gwa peduli? Tapi--dengan sedikit waktu yang gwa punya--gwa cuma mau supaya kita nggak hidup layaknya robot bergenital yang punya hasrat nggak berkesudahan. Setidaknya kita sadar kalo kita manusia yang punya rasa dan mampu berfikir untuk kemudian bertindak. This is my way of action. This is my way of production. Though I'm alone.

*Teriring soundtrack Psychobabble dari Imogen Heap. Yup. Gwa masih mellow*

If life is only a blip on the radar screen, make it big, bright and memorable as an exploding supernova to its extinction.

ps: Thanx untuk The Yogi yang selalu jadi pencerah ketika lungkrah (dan nggak berubah setelah menikah). Ini persembahan atas begadang di tengah pilek sampe jam 3 di TIM. TANPA PLETOK!!!

Labels:

I (Don't) Hate Monday (If She's Around)

Posted by The Bitch on 7/24/2007 01:14:00 PM

Me : Hi there, beautiful
Me : (=
Her: Hei!!! Ya ampyun! Sibuk kamu sekarang?
Me : Nggak sih. Biasa lah, Senin. But I always have time for you, Gorgeous
Me : (=
Her: Haha...
Her: I miss youuuuuuuu... Kangen ngobrol gila sampe dinihari lagi seperti dulu
Me : Aw... sama )=
Her: Uhm, kamu tau nggak? Kalo aku kangen kamu, aku sering nyambangi halaman bermainmu itu. Dan aku baca... tentang cewek yang takut penis itu? Haha!
Me : Hihi... Kamu inget pernah ngomongin itu?
Her: Tapi aku udah pulih sekarang. Nggak takut lagi. Galakku memudar, meski watak kerasku masih tersisa. Dulu itu mungkin cuma justifikasiku aja akibat seringnya diganggu lelaki sejak jadi ABG
Her: Ini udah tahap psikoanalis lho! Haha!
Me : Halah!
Her: Sekarang udah nggak kok. Aku berusaha memposisikan mereka layaknya manusia. Lelaki kan nggak cuma penis aja. Sama kayak perempuan nggak cuma dada aja
Me : Hehe...
Me : Iya sih. Makanya aku bilang aku lebih suka liat Brad Pitt berdarah-darah with his trousers on
Her: =))
Me : Kayaknya kenapa aku keras kayak gitu juga karna aku sebel aja liat lelaki belagu-belagu. Sering pada ngenyek-ngenyek dan mau menang sendiri. Ini caraku justifikasi untuk menginjak-injak mereka, meski bisanya cuma disini. I play their game, I follow their rule
Her: Haha!
Her: Eh, tentang menikah juga
Her: Aku udah lumayan berdamai dengan situasi dan keadaan
Me : Glad to hear that. Aku tinggal tunggu undangan walimahan di Gresik nih?
Her: Wah! Masih jauhhhhhhhhh...
Me : Aku tunggu deh
Her: Aku berubah banyak, Pit. Akhirnya aku harus bisa nerima, nggak sekritis dulu
Her: Tapi kuliat kamu masih stand tall sama kekritisanmu
Me : (=
Me : Kamu nggak di Jakarta, Nduk. Mungkin kamu akan seperti aku kalo kamu disini. Kita bener-bener harus punya determinasi kuat untuk jadi diri sendiri dan nggak ikut arus. Di saat yang sama, kita masih harus sadar bahwa kita manusia
Her: =(
Her: Tapi pernah ga kamu nanya sendiri, kita ini yang terlalu liar keluar mainstream apa cewek-cewek lain yang nggak kepikiran untuk mikir kayak kita ya?
Me : Kupikir cewek-cewek itu aja yang nggak kepikiran
Her: Iya sih, mungkin terlalu sibuk shopping dan nonton sinetron sampe nggak pernah teracuni buku kayak kita
Me : Haha!
Her: Bener lho. Ada masa-masa aku seperti punya duniaku sendiri dimana nggak ada orang yang ngerti cuma gara-gara buku. Gila ya
Me : (=
Me : Nggak papa kok. Kamu kan masih nonton infotainment juga, masih cari-cari berita tentang lelakimu, Ahmad Dani. Jadi imbang
Her: =))
Her: Eh, terus tentang mati muda...
Her: Kamu beneran?
Me: Yup
Her: Waduh... kan cuma tinggal beberapa taun lagi
Me : Correct
Her: Terus... gimana? Kamu mau bunuh diri?
Me : Nggak
Me : Mati umur 30 kan keinginan. Nggak semua keinginan kita dapetin kan? Kalo pun aku masih hidup ketika lewat 30, aku mungkin bakal ngadepinnya dengan sikap orang yang bangkit dari kekalahan
Her: Kenapa sih punya pikiran kayak gitu? Merasa only the good dies young?
Me : Iya. Xixixi
Me : Nggak denk. Aku nggak sebaik itu sampe harus berhak mati muda
Her: Lalu?
Me : Aku cuma seperti yang kamu bilang tadi. Aku masih jaga kekritisanku. Karena kupikir ketika aku 30 nanti aku bakal lelah dan cukup dengan semua yang udah kudapet dan mencoba mencari nyaman. Padahal ketika aku berhenti kritis dan cari nyaman itulah aku mati. Begitulah. Sesimpel itu
Me : Lagipula, dengan kebiasaanku merokok hampir 3 bungkus sehari, kopi tanpa gula minimal 5 gelas sehari, jarang makan dan tidur, kurasa aku nggak betah jadi tua. Menyakitkan
Her: Oalah... Terus sekarang berapa jam kamu tidur dalam sehari?
Me : Nah. Itu yang parah. Paling lama cuma 5 jam. Itupun akumulatif. Rasanya terlalu sayang waktu terbuang hanya untuk tidur. Clock is ticking...
Her: Trus ngapain aja kalo melek?
Me : Bengong di teras depan kamar aja sambil ngerokok, dengerin suara malam. Aku sampe apal, seminggu 4x tetangga sebrang rumahku ajeb-ajeb dan pulang beberapa menit sebelum adzan. Temen sebelah kamar bakal bangun jam 3 dengan alarm iklan Coca-Cola
Me : Anak induk semangku pulang pake Mio bapaknya jam 2. Suka ada suara-suara aneh numpang lewat atau eongan kucing birahi dinihari. Seru. Kalo nggak gitu ya paling baca, nonton DVD sendirian. Atau utak-atik bareng Si Dino.
Me : Pengennya sih sama Mac atau Vaio, sayangnya kantorku cuma punya mesin tik kelurahan itu *sigh*
Her: =))
Her: Pokoknya kita harus ketemu ya, sebelum kamu 30
Her: Aku mau ke ibukota, pengen adu nasib disana. Jika ada peluang
Me : Aku tunggu, Sayang (=
Her: Time to go. Doain aku ya...
Me : Always, beib. Always. Doa makan kan?
Her: Haha!

Labels:

3.54, Merindu Subuh

Posted by The Bitch on 7/24/2007 05:00:00 AM

Han,
Aku mau sambat. Aku sedang kecewa. Aku memaki perubahan di sekelilingku yang tidak membawa kebaikan. Tapi aku nggak bisa berbuat apa-apa, bahkan hanya untuk protes.

Ternyata kebijaksanaan itu sama seperti apa yang disebut hidayah: harus dijaga. Aku down banget melihat orang yang kupikir bisa digugu dan ditiru, sekonyol apapun tingkahnya, sekarang jadi penindas. Dia buta warna, nggak bisa bedain mana merah mana hitam. Yang dia dengar hanya bisikan dan aduan, bukan objektivitas. Kecerewetannya yang dulu kerap bikin aku belajar, sekarang nggak lebih dari kenyinyiran ibu-ibu arisan membincang siapa punya apa berapa dimana dan kapan. Keangkuhannya yang dulu kurasa bikin dia berwibawa sekarang nggak lebih dari kesombongan nggak ada isi dan nggak ada arti. Keropos. Posisinya yang diatas membuat dia selalu mendongak, sulit menunduk dan melihat siapa yang dia injak. Kedermawanannya sekarang mirip dengan ajang pameran. Penilaiannya tertutup kabut pakaian bermerek, bukan performa. Orang yang berkorban paling banyak, dia hina paling sering. Sikap positifnya jadi apatis, alih-alih mendorong malah bikin makin terpuruk.

Dan aku nggak bisa sekonyong-konyong berlaku anarki, meski sangat ingin. Masih banyak jiwa yang mesti tertanggung. Tapi aku juga nggak bisa begini terus. Sungguh, ini seperti berusaha membangun Borobudur di atas spons. Dan aku nggak bisa merubahnya.

Han,
Kamu sering kasih aku pelajaran dari hal kecil sekalipun. Meski aku amat sangat jauh sekali banget dari bijaksana, yet, I did my time. Aku sudah pernah tertohok, tertampar, tertusuk, terbelah, bahkan dipaksa tiarap dengan muka menghantam tanah keras-keras, serta macam-macam penyiksaanMu yang sangat sadis (dan aku membayang Kamu tersenyum melakukannya) karena Kamu Maha Mengerti bagaimana mencocok hidungku agar menuruti mauMu. Meski aku berontak bagai banteng ketaton, Kamu selalu sanggup jadi pawangku.

Kali ini aku minta, benar-benar nyenyuwun. Jika Kamu memang ada dan dipercaya oleh dia, tolong... Beri dia (dan saya dan kami semua di taman bermain kami ini) pembelajaran yang sama seperti yang Kamu pernah lakukan padaku. Ini bukan dendam, Han. Aku cuma sayang Emakku, perempuan luar biasa yang sudah mengalami mati dan bangkit dari sana, hampir seperti Yesus setelah berdarah-darah di Golgota. Aku nggak mau dia terluka. Tapi aku mengerti betul bahwa kadang luka berujung makna pada akhirnya. Meskipun sakit, meskipun pedih. Mungkin dia hanya khilaf sesaat. Ingatkan dia, Han. Ingatkan dia.

[Bapa kami yang ada di surga; dimuliakanlah namaMu; datanglah kerajaanMu; jadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga; berilah kami rejeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin. Doa yang indah.]

Jadilah kehendakMu, Han. Dengan kaf dan nun yang terucap dari dzat yang maha tak tergambarkan...

Labels:

Membedah Nikah

Posted by The Bitch on 7/23/2007 01:26:00 AM

Ada apa sih minggu ini? Temanya kawin ya? Nyindir gwa ya? Emang kenapa kalo gwa anti kawin?

Pertama gwa kena blue syndrome waktu gwa tau satu-satunya orang yang paling mendekati abang di Necropolis City ini bakal nikah setelah Lebaran nanti. Manusiawi sih, lha wong dia sudah tiga puluh sekian dan masih perjaka. Kecuali sama Tante Rosa dan Tante Ropak. Sempet ngobrol sama beliau sih, kalo gwa pasti bakal kehilangan pasangan 'poto-poto bokep'. Gimana akses gwa akan terbatas untuk sekedar wadul atau menghujat kaumnya yang biasanya bakal dia tanggapi dengan santai. Dia pasti bakal meminimalisir waktu nongkrong karena akan sibuk kelon dengan sang belahan jiwa. Seperti sibuknya salah seorang adek kelasnya di Sastra Nuklir dulu yang sekarang memburuh di Bapeten. Lagipula, ini kan pemanfaatan. Daripada cuma dipake pipis doank atau untuk gantungan baju, coba? Cuma gitu tanggapannya. Haha. Bwek!

Kedua Mpok gwa minta gwa mbaca satu ayat yang biasanya ada di undangan-undangan kawin, Ar-Rum:21, sebelum dia diijab-kabul sama Maz Tarzan (yang secara nggak sengaja gwa comblangin dulu). Dan perhelatan akbar buat sepasang manusia ini bakal mewujud tanggal 11 Agustus besok. Dem. Bentar lagi (untungnya dia nggak minta gwa harus berkebaya atau pake rok. Yang penting dateng dan memantrai dia pun udah cukup, katanya. Mungkin dia perlu penguatan dari adeknya yang anti-nikah ini untuk memberinya restu. Entah, ya).

Ketiga My Phoenix Brotha #2 juga bakal 'mentas' ke pelaminan taun ini, entah kapan. Nah, dia ini yang paling gwa khawatirin, secara adatnya dia ketat banget. Menikah = Bye bye, fucked-up brotherhood.

Keempat percakapan Minggu siang dengan seseorang yang batal menikah tiga kali tapi nggak kapok mencoba untuk yang ke empat. Ini gila! Gwa pikir dia bakal di kubu gwa. Tapi ternyata... Hix )= Penghianat!

Kelima dilematisnya seorang Bubun antara mengikat diri dalam janji suci pernikahan dengan manusia pahatan (bertema merah, termasuk kebaya yang harus gwa pake. Dem!) lalu pergi meninggalkan Nusantara dan cintanya pada anak-anaknya yang nakal yang tersebar di seluruh pelosok negeri.

Keenam tertohoknya gwa sama omongan ibunya Ivan yang protes kenapa sampe umur segini gwa masih belum aktif bereproduksi sementara Ivan, yang dulu satu angkatan sama gwa, udah membuahi 2 sel telur dan berhasil jadi bayi-bayi lucu menggemaskan.

Don't get me wrong. Kenapa gwa mau disuruh bebacaan pra-ijab kabul, karena gwa tetap menganggap perjanjian dengan Tuhan (atau The Supreme Power, atau Dia-Yang-Namanya-Boleh-Selalu-Disebut) adalah sakral, sebagaimana yang gwa amini pada komentar seorang manusia ganteng yang sering mengerang itu (Ya. Lo ga berhak protes. Gwa bakal selalu menyebut elu di tiap posting sampe gwa bosen sendiri. Bwek!). Gwa hormat, khidmat dan takluk pada janji itu serta konsekuensi yang mengikutinya. Edan, lho! Janjinya sama yang mbikin alam raya beserta isinya! Sama edannya dengan janji 'Demi Allah..." yang kerap terlontar tiap pelantikan anggota dewan yang terhormat itu.

Yang bikin gwa jadi antipati adalah ketika janji itu lolos dari jalurnya. Sama lah sama janji-janji para wakil rakyat. Yang harusnya mewakili kepentingan warga negara yang mereka presentasikan, ujung-ujungnya malah cari untung sendiri asal bisa balik modal setelah habis-habisan masa kampanye; atau melindungi kepentingan pemilik kapital terbesar yang menguntungkan diri dan beberapa gelintir orang meski mengorbankan berjuta-juta rakyat; dan hal-hal sux semacam itu.

Pengejewantahan serong-menyerong di atas mungkin gak seheboh apa yang dialami pasangan menikah. Masalah umbah-umbah, misalnya. Gwa nggak yakin bakal ada laki-laki hebat lain seperti Babab gwa yang mau cuci baju dan piring di tengah sibuknya beliau bersharing sama unggas piaraan dan motret-motret pasangan bahagia di hari mereka jadi Raja dan Ratu sehari (secara Babab gwa tukang poto orang kawinan). Atau macam sadarnya salah satu Pakdhe gwa yang bangun pagi lebih dulu lalu masak air dan bikin minuman hangat untuk istri dan anak-anaknya sebelum mereka bangun. Atau hebatnya Om gwa yang seniman topeng untuk bersabar menyuapi tiga precil perempuannya sepulang sekolah sementara tante gwa kerja di kantor Pemda. Dan para lelaki itu melakukannya berdasarkan pembagian tugas, bukan karena mereka suka. Namun kenyataan yang gwa liat tiap hari adalah perempuan melulu berada di sisi domestik, karena *masak, macak dan manak harus mereka kuasai betul-betul. Meskipun mereka perempuan-perempuan berkarir bagus dan hebat. Yang laki-laki? Oh, mereka cuma harus bekerja mencari nafkah dan pulang untuk bercengkrama dengan istri yang harus selalu nampak cantik dan segar. Titik. Tanpa mengindahkan bahwa istri juga turut andil dalam berlelah-lelah mencari nafkah, mengurus anak dan rumah, atau mereka bakal end-up di kolong jembatan jika hanya mengandalkan gaji suami.

Beberapa perempuan mungkin merasa dengan mengabdi pada suami mereka menjalankan fungsi sesuai kodrat. Mereka bilang mengurusi makan suami, menyiapkan pakaiannya, menyuguhkan teh sepulang kerja, adalah kenikmatan tersendiri. Penyerahan total. Well, then. Kalo di The Art of BDSM, yang bagian submissive juga gitu, kali. Masing-masing harus maenin peran dengan baik kalo mau dapetin orgasme aneh yang dihasilkan dari cara senggama yang nggak kalah aneh. Tapi entah kenapa laki-laki yang mereka abdi pun akhirnya meninggalkan mereka sendirian. Dan perempuan-perempuan luar biasa ini harus tegar demi anak-anak yang telah terlanjur lahir. Fuck!

Kemudian, menurut statistik temen gwa yang kerja di law firm, prosentasi terbesar penyebab perceraian adalah sexual unsatisfactory. Lelaki nggak puas terhadap service sang istri, itu yang paling banyak share-nya. Rank kedua ditempati gugatan istri karena si suami kepincut cewek laen--yang 'goyangannya' lebih yahud dan lubangnya lebih legit daripada yang ada di rumah. Dem. Beda-beda tipis ama ranking pertama.

Oke, mungkin semua hal di atas bener-bener tergantung sama karakter person per personnya. Tapi kalo sebagian besar pernikahan nggak berhasil atau kebobrokannya tertutupi karena bercerai adalah aib--lagi-lagi untuk perempuan--maka apa yang tersisa dari pernikahan kecuali domestic partnershit bagi pihak istri? Bahkan gwa ngeliat sendiri laki-laki dari pasangan amat-sangat feminis akhirnya nyuruh-nyuruh si istri untuk bikinin dia makan siang sementara dia sendiri asik nonton tivi. Apakah si istri lagi nganggur? Oh, tidak. Dia sedang sibuk menenangkan sang putri berusia lima bulan yang sedang rewel karena demam. Apakah si suami kecapekan sepulang kerja? Oh, tidak. Saat itu hari Minggu dan mereka berdua sedang libur.
SO WHERE'S YOUR FUCKIN' SENSE, DUDE?!

My point is this: Akan amat sangat sulit ketika janji dan penepatannya harus berjalan setiap hari, setiap detik. Tujuan, visi dan misi bersama yang berujung pada komitmen agung itu harus selalu di definisi ulang ketika keajaibannya memudar. Dan gwa, yang cenderung corrupt pada komitmen, nggak yakin bisa nepatinnya. Ini memang kelemahan utama gwa, nggak bisa dipegang sama siapapun. Bahkan Ibu-Babab gwa sendiri udah angkat tangan. Daripada gwa serong, mending nggak sama sekali. Kalo pun gwa icip-icip lelaki ampe mampus tanpa kawin, biar itu jadi dosa ternikmat gwa sendiri, tanpa mengikutkan anak atau suami. Kalo gwa terkucil dan terhukum secara sosial... emang gwa peduli?

... dan kamu pernah berhasil menakut-nakuti saya dengan berkata bahwa suatu hari nanti ada lelaki tidak biasa untuk perempuan yang bahkan kejadiannya pun tidak biasa seperti saya ini. Yeah, rite *berlalu*

To Bubun: Follow your heart aja deh hay! Xixi...

Note:
Umbah-umbah: cuci baju.
Masak, manak, macak: Masak, beranak, dandan. Tiga konsep dasar istri yang baik dan benar dalam masyarakat Jawa. Basa sononya: Great cook in the kitchen, notty slut on the bed, and noble princess in the living room. My ass!

Labels:

Tentang Kawin-Mawin

Posted by The Bitch on 7/23/2007 12:50:00 AM

Sebuah percakapan Minggu siang nggak penting melalui media instant messenger:

Perempuan: Bang, weekend ngapain onlen? Lu kan punya pacar. Pacaran dunk! Jalan-jalan kek, ngapain kek
Laki-laki: Pacaran kan tinggal ngamar aja
Perempuan: Gitu? Emang beda ya gaya pacarannya orang 30sumthing sama anak 20sumthing
Laki-laki: Ya iya lah!
Perempuan: Jadi, minggu ini si kakak ga dapet setoran sperma?
Laki-laki: Oh, itu sih udah tiap hari
Perempuan: Lha tuz buat apa kawin? Macem guguk ngencingin pohon tempat dia biasa berjamban, ya? Nandain teritorial kalo kakak milik lo, bukan milik lelaki laen?
Laki-laki: Karena cuma dengan kawin maka janji gwa ke dia bisa terwujud. Gue pengen bareng dia seumur hidup. Gue ga bisa janjiin apa-apa ke dia selama gwa belum kawinin dia
Perempuan: Lha? Lu janji aja sendiri ke si kakak kalo lo bakal seumur idup ama dia dan bakal jadi laki-laki Batak yang bertanggungjawab dengan cara provide apapun kebutuhannya. Daripada lo ngabisin duit buat acara adat dan pemberkatan di gereja, mending buat beli rumah ato ganti mobil. Nggak praktis deh lu
Laki-laki: Beda. I've got to make my promise to God and I keep my words
Perempuan: Things will be easier when U exclude God from whatever U do. U did it most of the time, didn't U?
Laki-laki: Yes, I know. Tapi gue tau suatu hari nanti gue bakal dateng ke dia
Perempuan: So... it's like U're pulled between consciousness and self-determination and U're waiting who's gonna win?
Laki-laki: Yups
Perempuan: Still, by icip-icip kakak dan spurting your seeds to her womb-a procreation activity that should've be done when U already marry-is like enjoying a mortal's mistake, knowing that U would be forgiven anytime. I sense somewhat self-righteousness, self-centered and a shitty justification in it. On daily basis. Sux! CMIIW, but I dun think that expresses a man who always keep his words
Laki-laki: I know. Alcohol and girls are always my sins, but I've got to make peace with God. I promise Him something and I've got to keep my promises since I've known by my friends as a trustworthy person when it comes to promise, though not to Him
Perempuan: Well, lemme tell u sumthing: God doesn't need U and your fuckin' promises. As far as I'm concern, He owns this fuckin' universe by Himself, with U in it. So, why bother? U're not that important. U're just an itsy-bitsy, tiny-weenie grain in the sand of a beach. U rammed her hard, though, n no consciousness on God when U've got a hard-rock, full metal-jacket boner groping her tits
Laki-laki: =))
Perempuan: Ini seperti Sisifus yang bersusahpayah mendorong batu besar ke atas gunung untuk kemudian digelindingkan lagi ke bawah, yang lalu dia bawa lagi ke atas. Begitu terus. Seumur hidup. Stupid!
Laki-laki: I said I'll come to Him. I didn't say He'll accept me
Perempuan: OK. Case closed. U successfully shut my mouth. That's too private. Personal stupidity, IMHO
Laki-laki: Haha. U could say so
Laki-laki: Lagian... Lu kenapa sih? Kayaknya ngotot banget hari ini...
Perempuan: Gpp. It's just everybody's leaving me to build their own-hopefully-keluarga sakinah mawaddah warahmah umbah-umbah asah-asah. Dat's supersux. Dun get me wrong, I still happy for them and for U. But still... )=
Laki-laki: Your time will come, dear. Your time will come
Perempuan: NO! It's not like that. I need my friends more than I need a man in my bed. I've got a fat carrot with me. Haha. There are friends and there are friends. Not plenty left that understand me well enuff and I try to hold on them. And they're leaving me for their wives. Yet, I dun want 1 of them to be my husband eventually, as well. If U give me a husband, it's like U're giving a bicycle to a fish
Laki-laki: So why the sour tone in the voice?
Perempuan: It's their overmouthed bitches (or wives-to-be in proper words) that will constantly throw jealous look at my face. You and the other future husbands will be different when all of U take the vows and have to live under the same roof with your wifey. I bet my armpit hair on it
Laki-laki: You know what? Though we never met face-to-face, Kris-one of those so-called bitches in Ur term-is jealous of U cuz U always brightened my day
Perempuan: Why?
Laki-laki: Cuz she knows I always like smart girls
Perempuan: Well, U tell kakak dat I aint smart at all. I'm screwed in the head. Smart and screwed in the head are almost the same in words but totally different in reality. Yet, they share similarity also in the end: loneliness. We can't compete with girls who have great hair, flawless make up and amazing bodies
Laki-laki: But she's jealous to any girls, after all
Laki-laki: Cuz I like girls with big boobs, or big butt, and never complain on the small ones either in both departments
Perempuan: Yea rite. Narrow the category: U like any two-legged living things with warm, wet hole
Perempuan: >:P
Laki-laki: Haha
Laki-laki: Still...
Perempuan: What?
Laki-laki: Your time will come, dear
Laki-laki: =)
Perempuan: Argh! SHIT!

Labels:

Yet Another Furiously Thrown Disclaimer

Posted by The Bitch on 7/20/2007 10:30:00 PM

Hari ini dapet ajakan gabung disini dari Ibeng, mantan temen satu sekolah dulu. Ok. Won't hurt to join, though. Jadilah, ikutan bikin account.

Nggak berapa lama di inbox imel ada Maz KW minta di admit jadi temenku. Ternyata beliau ini juga ikut jadi anggota taman bacaan. Ok. Di approve, wes.

Eh, lho? Kok ada lagi? Sekarang pakek kirim-kiriman message segala. Oh, ternyata seseorang udah pernah nerbitin buku (meskipun indie) dan sekalian pengen promosi. Allrighty, then. Tak iya-in wes. Sambil sekalian woro-woro kalo aku juga udah pernah nerjemahin dan nulis kecil-kecilan disini. Eh, berbalas! Seperti ini kutipan balesannya:
hm.. mas pit.. ga ada tulisan yg 'sampah' yang ada hanya 'orisil', 'beda', dan 'eksentrik' ^^
WHOOOOT?! AGAIN?!
Padahal udah tak tulis di account-ku kalo aku FEMALE, avatarku bergambar malaikat setengah setan nan seksi yang susunya wutah-wutah. Katanya dia baca entri gwa, tapi koq...? GWA KURANG PEREMPUAN GIMANA, COBA?!

Kemudian, di shoutbox beliau juga meninggalkan jejak. Bunyinya seperti ini:

wew.. ini mah bukan sampah mas..

Bedebah tenan. Mo meledak rasanya. Kalo nggak percaya gwa perempuan, klik disini! Kalo masih ada yang manggil gwa MAS lagi, gwa sumpahin mukanya seganteng Brad Pitt, bodi sekeren Gerald Butler di 300, penis segede kuda jantan, napsu seliar beruang lagi birahi tapi cuma ngaceng kalo liat abang-abang tukang bangunan!!!

Huh!!!

ps: and I dun even have any idea about what the fuck 'nulis indie' is all about, as you said. Did U write those down and publish your books by yourself or anything? Yes, you're a helluva writer. But most great writers LISTEN and OBSERVE while you're none of those. SSSSSSSSSSSSSSSSSSHIT!

Labels:

Membincang Selangkang

Posted by The Bitch on 7/20/2007 10:44:00 AM

Silahkan maki saya vulgar, nggak beradab, kasar, binal, sundal, apapun lah. Saya cuma nggak mau menabukan hal yang memang nggak tabu karena saya bisa lihat jelas penandanya dimana-mana.

Penis.

Saya rasa satu kata itu nggak mewakili makian atau porno jika dipergunakan dalam term yang sesuai. Lain halnya jika memakai nama lain untuk menunjuk benda yang ada di tiap selangkang lelaki atau trans-gender. Sungguh, buat saya nggak tabu menyebut penis. Yang tabu adalah simbol yang mewakilinya, saking tabunya bahkan sebagian besar manusia nggak sadar bahwa mereka terhegemoni karena amat sangat rapihnya hal tersebut terkamuflase dan tidak dibicarakan.

Buat saya, kekuasaan yang terlambang pada penis sangat menakutkan. I have penis, therefore I rule. Mungkin begitu penjewantahannya dalam kata. Gedung-gedung dibangun sangat tinggi sangat megah, melambangkan phallus yang dipuja orang-orang dahulu kala, lengkap dengan skortumnya berupa bangunan dasar yang melebar. Mari bikin setinggi-tingginya. Masukkan dalam rekor dunia. Capailah langit dan Tuhan dengan perwakilan penis kita yang terdiri dari batu, semen, baja, tenaga, dan waktu yang tidak sedikit. Blah.

Dulu, waktu saya membantu penelitian seorang kawan kulit putih--yang nenek moyangnya menjajah nenek moyang kita berabad lalu--tentang ibu-ibu hebat yang berjualan makanan sebagai penopang hidup, saya trenyuh sekali. Beberapa dari mereka sungguh-sungguh banting tulang menjadi wanita baja, secara fisik dan mental. Dinihari hingga larut malam mereka harus bekerja tanpa henti demi biaya sekolah anak, kebutuhan sehari-hari serta bertahan hidup--instink purba yang melekat pada mahluk, mulai dari tumbuhan bersel satu hingga mamalia terbesar di dunia macam paus. Jauh sebelum adzan subuh berkumandang, mereka harus bergegas ke pasar, sendiri, sementara anggota keluarga lainnya (termasuk suami) masih bergelung nyaman dalam selimut. Menerjang pelecehan dan kesulitan yang timbul hanya karena mereka perempuan, ibu-ibu tersebut pulang ke rumah dan mempersiapkan bahan makanan untuk dimasak lalu dijual. Lelaki yang sering dibilang lebih kuat dari perempuan itu biasanya baru bangun, meminta sesaji kopi dan rokok untuk leyeh-leyeh in the morning dan marah jika keinginannya tidak terpenuhi tanpa peduli sudahkah istrinya istirahat sejenak menikmati pagi. Ketika berkas sinar matahari terlihat, para suami itu akan mengayuh becak atau nongkrong di pasar atau manapun, berusaha mengutip sedikit rejeki dari jalanan untuk digunakan di arena sabung ayam atau tertebar diantara kartu-kartu gaple. Sementara itu istri mereka mesti memutar roda hidup, membagi hasil yang sedikit agar semua keperluan anak-suami tuntas meski dia babak-bundas. Waktu saya tanya buat apa mereka menikah jika beban masih begitu berat, mereka menjawab: buat perlindungan. Jika kamu mencerai suami, maka tetangga akan mencibir. Jika kamu tidak bersuami, tetangga bergunjing dan di pasar kamu akan lebih dilecehkan karena perempuan single adalah milik umum untuk dijamah dan dipandangi sepenuh nafsu. Begitulah, ujar mereka.

Saya jadi ingat ketika iseng bergabung dengan Animal Rescue. Waktu itu ibu dokter harus memeriksa beberapa ekor primata dewasa yang belum lama disita. Di kandang karantina, beberapa primata jantan memamerkan kelamin mereka untuk menunjukkan milik siapa yang lebih besar, yang artinya: siapa jantan dominan. Saya hanya tersenyum getir. Hasil penelitian memang tidak salah. Kita dan primata hanya berbeda kurang dari 3% secara genetis. Sisanya sama saja.

Kawan saya yang berjilbab, cantik, pintar dan galak pernah berkata bahwa sebencong apapun lelaki, meski mereka berdandan lebih cantik dari para perawan, jika mereka masih berpenis maka kita patut takut. Padahal kawan saya perempuan itu macan diskusi, pelahap banyak buku dan pemred handal di persma kampus. Argh!

Jadi, apakah saya pembenci lelaki? Oh, tidak. Pasang kembali penis kalian, lelaki. Jangan khawatir. Saya tidak setakut teman saya itu. Saya juga tidak cemburu dengan kalian seperti yang dikatakan Simbah Freud. Saya punya sepasang gundukan lemak berisi kelenjar susu mirip dengan yang sering kalian pelototi diam-diam di layar komputer warnet dan berharap dapat menyentuh, mengunyel-unyel dan menghisap layaknya bayi. Kalian yang harusnya payudara-envy terhadap saya. Saya juga nggak akan memutilasi penis tiap lelaki yang saya temui karena--MUNGKIN--suatu saat saya perlu ketika saya telah *merobek hymen dengan sendok teh. Maafkan saya jika kenyamanan kalian terguncang akibat intimidasi saya seputar selangkang kalian. Santai saja. Saya hanya sendiri, kok. Kalian pasti akan selalu menang dan saya akan kembali memaki sambil menikmati Brad Pitt, Ariel Peterpan, Johnny Depp, Fauzi Baadillah, Orlando Bloom, Pakdhe Zen dan Ashton Kutcher dengan cengiran aneh dan tatapan mupeng.

ps: tampang Mas Brad terganteng adalah di film Snatch dan Fight Club. Dia satu-satunya aktor yang tambah cakep saat berdarah-darah.

dedicated to cowok keren yang sering komen disini dan kemarin kerap mengerang hingga lemas di meja makan tiap saya ngomong saru. Tolong, jangan ngadu-ngadu ke abangmu duonk! Deg-degan, tauk!

Note:
* dikutip dari ucapan Shakuntala pada Larung-nya Ayu Utami

Labels:

Happy Anniversary!

Posted by The Bitch on 7/20/2007 10:37:00 AM

"Kenapa harus bagus-bagus? Ini kan cuma blog?"

Saya tercekat dan kepala saya otomatis membanding karya dia--meskipun dikerjakan secara ngasal tapi tetep aja keren--dengan orek-orek saya yang dipergaya dengan kata-kata sok canggih. Uhm... bukan kenapa-kenapa sih. Saya hanya nggak suka kerja setengah. Mau bagus, bagus sekalian. Mau blangsak, blangsak sekalian.

Tapi beneran deh, semua yang ada disini amat sangat copyleft. Silahkan dikupipes, compile, utak-atik, acak-acak, di save dan akui ini tulisan kamu. Nggak masalah. Buat saya, semua ini cuma pembuangan sampah yang terkumpul dua tahun.
... karena orang Indonesia yang tidak berproduksi pasti korupsi...
- Pram

[Tepat di hari ini, dua tahun sudah saya disini. Berapa lama lagi hingga jalan jadi ujung?]

Labels:

Inferior Syndrome

Posted by The Bitch on 7/20/2007 10:14:00 AM

Karena gwa selalu otomatis ambil plafon paling bawah--dengan gwa sebagai ukuran, tentunya--dalam menganalisa, seringkali gwa terkaget-kaget sendiri pada akhirnya.

Waktu itu ibunya Ivan, temen seangkatan di SMA dulu, gendong bayi dan dibilang itu cucunya dari si Ivan itu.
"Ayo... elu kapan bisa bikin yang kayak gini? Umur udah berapa, lu?!" tanya si ibu yang emang funky itu.
"Yah, Ibu... Gwa kawin aja males. Pacaran apalagi, lebih males. Gimana mo punya anak?!"
"Lha emang napa lu ga mo kawin? Pacar lu bukannya banyak?"
Dem. Nyindir ni si ibu. Dengan muka cengar-cengir, gwa kemukakanlah hasil analisa ngasal gwa bahwa sepasang lelaki dan perempuan yang meresmikan ikatan suci dalam holy-fuckin'-matrimony adalah bullshit ketika diwujudkan dalam satu atap.
"Yang ada nih Bu yah, ntar gwa capek-capek balik kerja masih harus nyuci baju dan nyetrika juga. Padahal kan baju sama-sama make. Harusnya sama-sama nyuci juga dunk! Gantian lah. Nanti kalo gwa minta suami gwa nyuci ntar jawabnya 'itu kan tugas perempuan!'. Kan gwa sebel, Bu."
"Lha kan bisa bayar pembantu!"

Oops! Pembantu ya? Untuk anak yang dibesarkan murni oleh Ibu (tanpa pembantu atau baby sitter karena keluarga gwa untuk makan aja susah apalagi mempekerjakan batur), konsep itu bahkan gak terlintas secuil pun di kepala gwa. Meminta orang melakukan hal yang nggak kita suka, meskipun dia dibayar, buat gwa adalah penindasan skala kecil. Pengejewantahan kelas yang amat sangat kentara. Lain jika kita memang nggak ada waktu atau keahlian ngerjainnya.

Terus ada lagi kejadian lain:
"Eh, gwa ama temen gwa mo nonton Transformer di DT jam 22.30. Lo kesini aja. Kan masih jam delapan. Ngebis dari kantor lo paling cuma brapa menit. Ada busway kan?" tanya gwa sama manusia ganteng yang tadinya gwa ga tau kalo dia ganteng.
"Waduh, nggak bisa Pit. Gwa masih ada kerjaan. Emang kelarnya jam berapa sih?"
"Ya lu itung aja, pilemnya paling 2 jam. Lu takut keabisan bis ya? Naksi dunk! Macem orang miskin aja!"
Dan beberapa hari kemudian--ketika akhirnya gwa tau kalo dia cakep dan keren--ketemulah kami. Dan dia usia 27 yang udah punya rumah dan mobil sendiri dan digila-gilai cewek sampe mantannya juga hampir gila karena diputusin. Dan waktu itu gwa terpaksa stay nunggu barengan besok pagi karena bahkan untuk naksi sampe Radio Dalam pun duit gwa ga bakal cukup.

Yang lain lagi:
"Eh, kita nongkrong di angkringan aja. Di situ tuh, jahenya dahsyat. Pake gula merah dan jahe tumbuk beneran. Dijamin nggak bakal masuk angin mo begadang ampe jam berapapun."
"Um... Ntar dulu deh Pit. Kita cari yang laen ya..."
Waktu itu gwa pertama kali ketemu sama temen ceting sekaligus temen ngakak gila-gilaan yang setia nemenin gwa jaga warnet dari malem ampe pagi karena dia punya masalah dengan sleeping disorder. Itu percakapan di atas motor yang melaju di jalanan Jogja. Setelah jalan lumayan jauh, kita nyampe di kawasan elit dan tau-tau motornya belok ke kafe keren.
"Gwa nggak nyaman nongkrong di angkringan, Pit. Kalo malem ya biasanya gwa kesini."
Gwa cuma bisa melongo bego waktu itu...

Kejadian sama mantan pacar gwa lucu lagi. Waktu itu gwa mudik bareng lewat Semarang--tempat cowok gwa dulu--ke Jakarta. Sayang, pulangnya kita bertepatan sama arus balik Lebaran.
"Kalo mo nyari kereta bisnis atau eksekutif udah nggak mungkin kecuali di calo. Pasti harganya edan-edanan. Udah la... naek ekonomi aja. Manja amat si mesti naek kereta mahal! Gwa aja naek ekonomi mulu masih gendut-gendut aja kok!"
Dengan mimik muka yang gwa ga tau artinya dia nurutin kata-kata gwa, beli dua tiket tujuan Senen. Hukum rimba memang, di Stasiun Tawang waktu itu. Macem ikan sarden kita desek-desekan. Untungnya kita masih dapet duduk nyaman di bangku dua. Waktu kereta jalan dia bilang, "Gwa kalo balik Jakarta selalu naek kereta eksekutif. Ini pertama kalinya gwa naek ekonomi. Jadi gini ya rasanya... Padet banget. Besok lo harus naek eksekutip kalo pulang!"
Halah! Ternyata gwa pacaran ama cowok model anak mami!

Masih tentang travelling dan mantan pacar gwa itu. Kali ini gwa yang abis ngapelin dia dan mau pulang ke Jogja.
"Dompet dimana? Itu tasnya ati-ati, jangan ampe kebuka kayak kemaren. Bajunya udah semua kan? Nggak ada yang ketinggalan? Buku?"
"Bawel amat si lu! Udah masuk semua ke tas. Ayo... kapan pulangnya ni? Kok ga jalan?!"
Motor dinyalain dan kita meluncur ke... pool bis Nusantara?
"Kan gwa minta dianter ke depan Java Mall aja biar bisa naek ekonomi. Ngirit. Duit gwa tipis nih!"
"Udah, diem disini. Gwa beli tiket."
"Lha? Kan gwa yang jalan, gwa yang bayar dunk!"
Dan gagah lah gwa jalan ke loket. Dengan sisa uang yang tinggal selembar dua puluh ribu gwa bayar ke si mbaknya. Kembali lima ribu. Gwa bengong sebentar dan kembalian itu langsung gwa masukin kantong.
"Duit lo tinggal segitu ya nyampe Jogja?"
"Iya."
Dia keluarin dompet dan ngasih lima puluh ribuan ke gwa.
"Nggak mau. Segini cukup kok. Kan ntar cuma ngebis sekali sampe kos."
"Nggak bisa. Kalo ada apa-apa gimana?!"
"Yah elah. Ada apa-apa apaan si?! Udah, nggak papa."
... dan berantemlah kita masalah gwa yang ga mau terima duit dan dia yang cemas. Sampe akhirnya dia ngalah dan dengan muka sedih dia bilang, "Gwa aja yang cowok gini minimal mesti ngumpetin duit gocap di dompet kalo bolak-balik ke Jogja."

Kayaknya gwa emang ditakdirkan jadi proletar deh...

Labels:

Kamis Yang Aneh...

Posted by The Bitch on 7/19/2007 05:15:00 PM

Pitoresmi Pujiningsih, maukah kamu mbaca surat Ar Rum: 21 sebelum akadku di masjid jam 9 pagi bln Agustus? Pnghulu&pnganten pria dah ada.

Message from: Mpok Rin
8:42am 19-Jul-07

Duh, Han...
Nggak nyangka aku masih dikasih amanah seperti ini.
Terima kasih. Ternyata Kamu masih kangen aku.

(=
And of His signs is this: He created for you helpmeets from yourselves that ye might find rest in them, and He ordained between you love and mercy. Lo! herein indeed are portents for folk who reflect.
Quote taken from here.

Labels:

Pengakuan Dosa

Posted by The Bitch on 7/19/2007 05:46:00 AM

Hey, kamu!

Saya bilangin ya. Saya nggak sebaik yang kamu pikir. Saya perusak. Apapun yang ada di dekat saya pasti hancur. Saya nggak bangga dan juga nggak sedih karenanya.

Tapi...
Saya nggak mau jadi tumpuan kekesalan ketika kamu menyesal mengenal saya. Sudah lah. Kamu nggak kenal saya juga nggak kenapa-kenapa. Duniamu nggak akan jadi lebih baik. Perang nggak lantas berakhir atau wabah kelaparan nggak mungkin berhenti begitu saja.

Namun ada satu hal yang perlu kamu ingat.
Tiap perjumpaan membawa makna sendiri. Dan bersyukurlah pada apa yang kamu percaya-entah setan atau sesuatu yang kamu sebut tuhan-jika kamu merasa hidup berada pada akselerasi teratas dan dunia berjalan semakin cepat. Tandanya kamu sedang menikmati wahana yang tersaji.

Selamat pagi. Selamat tidur. Mimpi yang indah...
(=

dedicated to: OmBu, Mbak Intjeh, Bunjems, dan The Mastah of Lagging. Long Live BDSM dan Oral Sex!!! *Ctar! Ctar!*

Labels:

Yet Another Immaterial Idea Successfully Redefined

Posted by The Bitch on 7/17/2007 05:17:00 AM

Dia, merah marunku. Kurengkuh agar tak terlihat dari luar. Kubiarkan membunglon di tengah lingkaran. Kujaga agar bebas kontaminan. Dan tetap nyalanya terpancar, hangat, memantul lembut di pipi pecinta: merah marun.

Terkadang dia menjadi inti, dengan kulit menjelma violet gelap saat gundah menyergah, mengandai merah yang sama di kungkungan iga berbeda nan entah dimana. Sering terselimuti biru bahkan, ketika rindu menyapa mengecup hangat kening dengan bibir membara. Indah, berkilat, berani, sensual, merah marunku.

Sayang...
Merah marun itu kini sewarna tirai pada teater lawas. Terlupakan. Cabik, kusam, berdebu. Ada tetes leleh serupa darah mengaliri sela jemari ketika kudekatkan dia ke wajah, mencermati masihkah dia baik-baik saja. Meski ternyata tidak, syukurlah dia punya semangat juang tinggi. Aku khawatir dia thalasemia karena lukanya tak kunjung kering walau telah bertahun-tahun digoreskan dan perihnya tak kunjung mereda. Dan kuyakin, merah marunku tidak berusaha menggores dirinya sendiri. Dia hanya pasrah lega-lila pada apa yang sudah digariskan. Jadilah apa yang sudah seharusnya, bisiknya lirih, di sela nafas yang satu-satu terhela. Hebat sekali. Padahal terpikir jutaan kali sudah, untuk menyuntikkan morfin dosis tinggi agar deritanya tuntas dengan nikmat.

Ada masa ketika luka menutup serupa lecet, meski masih berdarah. Kupikir dia akan pulih. Aku sempat senang, tapi tidak berlangsung lama. Lecet itu kembali menetes merah segar. Lebih panjang, lebih dalam, lebih sakit. Sudahlah, aku baik-baik saja, katanya terbata sambil meringis menahan getir.

Pernah dia mengeluh lelah, ingin moksa, tapi kuyakin itu hanya ucapan tanpa arti. Kobar itu masih memancar galak di sepasang jendela jiwanya, sama seperti dulu meski kini hanya titik. Ketika kutanya apa yang sesungguhnya dia damba, pelan senyumnya mengembang. Kamu sudah tau, tak usah bertanya. Berusahalah, jawabnya. Aku akan tetap ada disini untukmu dan kamu tau itu. Aku mengada karena kau mewujud, ujarnya. Aku hanya bisa termangu, sendu menggugu.

Perlahan aku beranjak bangkit dari tepi pembaringannya. Kuelus rambutnya lembut, merah marunku itu, penuh rasa sayang. Wajahnya damai dengan senyum samar terukir. Dia terlihat cantik, walau dengan luka dan parut yang memerahkan bantal di bawah kepala. Sekilas aku menangkap kesan martir agung menanti Le Mort dengan heroik. Aku membungkuk dan mencium pipinya, membaui sedikit anyir dan asin darah di bibirku melalui goresan panjang melintang dari daun telinga kanan hingga ke dahi. Kutatap manik matanya yang masih jalang menunggu datangnya sosok berjubah dan bertudung hitam layaknya Dementor dari neraka, membawa sabit besar berkilat-kilat di tangan kanan. You're such a damned, stubborn bitch. Why don't you give up, tanyaku membatin. To which she replies, ever so slowly as if to emblazone the meaning deeply beneath my skull: I won't, baby, because I am as stubborn as you are; because I am the shape I'm in... and because this marooned thingy is your battered, bleeding heart.

[Ah, Imogen Heap dan Portishead... Kalian ada gunanya juga dipiara di gudang MP3 files.]


To Sutarchie: Ya. Kamu betul sekali. Establish shot saya harusnya memang mimisan. Ini verbalisasinya.

Labels:

Halo, Matahari! Apa Kabarmu Sore Ini?

Posted by The Bitch on 7/16/2007 03:52:00 PM

... dan semua melenyap seiring berkas cahaya pertama pagi hari yang masuk menembus jendela kamar, melewati teralis sok Barok, menyerapi korden bergaris coklat, kemudian jatuh samar-samar ke wajah saya.

Pagi itu semua jadi terlihat lebih jelas, meski saya baru lelap satu jam setengah. Walau pening, saya angkat kepala. Dan kemampatan itu seperti merembes keluar dari kedua belah telinga layaknya congek yang encer akibat isi kepala membara. Meski cairan yang leleh dari kedua sisi kepala saya berbau busuk, udara pagi mengaburkannya.

Terima kasih, Pacar, untuk matahari yang mencipta pagi sempurna, siang sederhana, dan sore menentramkan...

Labels:

Jangan Khawatir. Saya Nggak Akan Iris Nadi atau Gantung Diri karena Saya Terlalu Cinta dengan Hidup yang Hanya Sebentar Ini

Posted by The Bitch on 7/16/2007 03:00:00 AM

Hey, tunggu. Berhenti dulu. Jangan buru-buru. Aku mesti istirahat. Tiba-tiba dadaku sesak. Seperti terhimpit batu tak kasat mata. Bukan, bukan karena capek. Entah apa. Mendadak rasanya sakit. Getir. Miris. Pilu. Jadi satu.

Kenapa bisa?

Apa mungkin karena aku yang kelelahan mengejar apa yang kupikir harus terkejar? Apa aku yang terlalu ngotot mengalihkan rasa kecewa hingga akhirnya semua membuncah keluar tanpa bisa terbendung saat picu ditarik dan peluit wasit berbunyi nyaring? Atau mungkin aku kebingungan mencari sebongkah jiwa yang mampu menampung penat dan sumpek yang memampat dari telinga kiri ke telinga kanan hingga semuanya meluncur turun ke dada sesuai gaya gravitasi? Aku khawatir tidak bisa berkaca seperti mahluk fana pada umumnya. Aku takut nggak bisa liat salahku dimana. Aku ragu apa kepakanku mampu menerjang angin yang bertiup brutal hingga mataku perih dan berair.

Sebentar. Biar kurasa-rasa. Hm... Benar. Ini namanya kesepian.

*Insert 'Portishead - Sour Times' here*


... nobody loves me, it's true, not like you do...

(Argh!)

Labels:

Me: Trying to Swallow More Than I Can Chew

Posted by The Bitch on 7/12/2007 12:14:00 PM

Di suatu masa, hidup Noam Chomsky. Saat dia kanak-kanak, bangsanya tinggal berpencaran ke hampir seluruh dunia, kemudian dibenci dan dibunuhi. Seorang pemikir besar membukukan gagasan membentuk negara baru di 'tanah yang dijanjikan', dan keluarga Chomsky kecil menjadi pendukungnya.

Rupanya dia mendengar nurani. Karena itulah dia berbalik menentang apa yang selama ini dia bela. Kemudian pikiran ilmiahnya menemukan cara bagaimana bahasa dapat menjadi bahan penelitian dengan meletakkan nilai-nilai kuantitatif layaknya matematik pada kata, pada makna, pada akar bahasa (yang bikin gwa ngulang mata kuliah yang sama tiga kali. Ya! TI GA KA LI! Berbuah D, rata. Bedebah memang, bahasa jadi matematika itu).

Lalu ketertarikannya pada media dan teori-teori pengguncang yang dia kemukakan membuatnya jadi salah satu dari sepuluh intelektual yang paling sering dikutip, tepat di bawah Plato dan Freud. Begitu hebat, begitu berpengaruh, begitu cerdas (dan salah satu bukunya jadi diktat wajib di kelas gwa), tapi begitu membumi dan hampir tidak dikenal.

Mengapa?

Karena tesisnya tentang bagaimana media memanipulasi/mendistorsi/menahan informasi agar sesuai dengan keinginan pemiliknya meresahkan korporasi besar yang menyetir negara, dunia, partai-partai politik, dan Media Utama. Dan teori-teori njelimet dari Eyang Noam ini bisa dicerna secara nikmat lewat novel berjudul 1984 karya George Orwell, dimana terjadi eufimisme ketika 'Ministry of Love' berkutat dengan perihal perang alih-alih mengurusi pasangan dilanda asmara (halah! bosone!) yang tujuannya bikin rakyat nggak ngerti maksud pemerintah sebenarnya. Atau pengurangan kata kerja dan kata sifat agar rakyat nggak bisa ekspresif mengungkapkan pendapat. Mengerikan, merasakan sesuatu yang bikin dada sesak dan urjen untuk dikeluarkan (seperti kebelet e'ek) tapi nggak tau ngomongnya apa dan gimana (dan nggak nemuin kakus satu pun).

Dengan berlagak keren mengulas Chomsky dan Orwell, sebenernya gwa cuma mau bilang: Nggak semua yang lo liat dan lo denger itu bener. Televisi, koran, majalah, newsletter, apapun lah... bisa jadi alat propaganda untuk tujuan-tujuan sekelompok orang dengan maksud tertentu, terutama pemegang modal. Apalagi iklan! Terutama di negara-negara berkembang dan negara yang 'matang' macem Amrik itu. C'mon... dunia ini nggak jauh dari urusan perut dan di bawah perut. Murni cuma kepentingan ekonomi dan pemenuhan nafsu. Bener deh! Kalo lo runut-runut sampe pangkal, hanya dua itu yang jadi motif.

Tapi jangan salah. Di suatu tempat bernama Indonesia, media pernah digunakan sebagai penyeru rakyat supaya bergerak melawan kolonialisme. Setelah itu pernah ada seorang (kalo nggak salah) Seno Gumira yang berteriak lantang: "Ketika media dibungkam, saatnya sastra bicara". Cantik, kan? Bisa jadi instrumen penguasaan dan alat pembebasan yang secara teknis sama. Tergantung mau dipake sebagai apa dan siapa di baliknya, dan tergantung bagaimana persepsi masing-masing orang yang menelan isi media tersebut. Sayangnya, puluhan taun terlewat. Dan masa yang dibilang 'merdeka' ini nyatanya cuma dipenuhi tayangan informasi seputar kawin-mawin dan cerai-berainya pasangan artis, tentang daging-daging muda bertampang bermata kejora cerita-cerita di layar gelas tentang gimana dia berhasil beli rumah dan mobil dan berangkat umroh dari lakonnya bersinetron. Bah!

Buat gwa? Oh, lo bisa cari tau dari diri lo sendiri. Secara, kata Eyang Chomsky juga, sebenernya manusia secara instingtif bisa ngerti mana yang salah dan bener dari apa yang mereka dengar dan lihat. Sayangnya, kadang mereka nggak tau gimana mengejewantahkannya ke dalam kata-kata, hanya dirasakan. Gwa pribadi selalu nggak pernah puas dengan satu sisi cerita. Orang yang digampar dan yang ngegampar punya versi sendiri-sendiri, dan kadang gwa sering asyik trackback kejadian-kejadian stupid kayak gitu. Ujung-ujungnya mungkin cuma buat gwa ketawain saking konyolnya. Tapi setidaknya gwa nggak nelan mentah-mentah apa yang tersaji di depan muka gwa tiap hari.

Ya, ya, ya... Ini cuma kerjaan nggak penting yang dilakukan perempuan soliter yang asik onani otak sendirian karena nggak punya temen melek dinihari dan kesepian ketika malam-malam insom menyerang. Menurut Mamih, gwa harus punya anak biar nggak terlalu banyak mikir yang nggak penting karena waktu gwa bakal tersita untuk melerai mereka rebutan boneka, misalnya. Well, mungkin nanti kali ya, kalo gwa udah mapan secara materi, nggak jadi anak kos lagi, sukses miara Siberian Huskies 3 ekor hingga kawin-mawin dan beranak-pinak terus puppynya gwa kasih ke si Ahmadz, dan berhasil dapet sejumput sel sperma Om Bono atau Om Sting untuk diinseminasi ke rahim gwa... Kagak dapet orangnya, dapet calon anaknya juga nggak papa dah!


*Hwanjingz! Ini lagu layangannya Om Bono kenapa masih stuck di kepala gwa selama seminggu ya?!*

ps: untuk seseorang yang pernah menghujat gwa karena buku larangan yang gwa terjemahin, gwa kasih tau ya... NOAM CHOMSKY ITU YAHUDI TOTOK DAN DIA ANTI ZIONIS!!! terserah elu sih, mo percaya profesor linguistik MIT yang superpinter itu atau hasil riset ngasal elu di internet. yang pasti jangan percaya gwa. ntar musrik lu jadinya. powas?!

Labels:

Thus Spoke An Atheist

Posted by The Bitch on 7/12/2007 03:28:00 AM

Gwa dapet tulisan ini dari blog temen yang iseng gwa bongkar-bongkar entrinya. Gwa suka tulisan dan pesan di dalamnya. Kurang-lebih gwa banget. Dari sekian banyak ateis yang gwa kenal (dan hampir ateis--mungkin gwa salah satunya), orang ini nggak menghujat Tuhan atau berkata-kata kasar. Dia lebih santun mengemukakan pendapat. Mungkin karena dia bule atau hidup di lingkungan moderat. Sayangnya, gwa nggak pernah tau siapa penulisnya meski gwa amat sangat seneng ketika terjemahan ini selesai.

Semoga bisa jadi cermin...

ps: untuk tulisan asli dalam boso linggis lo bisa minta ke gwa dan silahkan kritik terjemahan gwa. maaf, nggak ada link. gwa nggak yakin yang punya blog mau diketahui identitasnya sama temen-temen gwa.

Memaknai Hidup ala Ateis

Salah satu konsep salah kaprah tentang ateis yang ada di benak orang awam adalah bahwa kami nggak punya respek terhadap kehidupan - manusia maupun yang bukan. Karena kami, ateis-ateis ini, menganggap seluruh bentuk kehidupan hanya sebagai keanehan alam nan janggal tanpa maksud dan tujuan jelas, dan sama sekali nggak ada artinya. Kami nggak beroleh kesenangan dan rasa terpenuhi yang sama seperti mereka yang percaya Tuhan. Kami nggak peduli penderitaan orang lain karena akhirnya mereka akan berada di tempat yang sama: jadi makanan cacing tanah.
Mengutip pernyataan Harry Hill, kesintingan baru apa sih ini?!

Ya, kehidupan di planet ini semata hanya kecelakaan beruntung aja, sama halnya dengan berbagai bentuk kehidupan tak terhitung di planet lain. Nggak, sama sekali nggak ada tujuan atau makna tertentu dibalik ini semua. Lagipula, kenapa mesti ada anggapan seperti itu? Emangnya lo punya hak apa menganggap diri istimewa?

Tapi, sebagai ateis, gwa menganggap semua (atau sebagian besar lah) kehidupan itu sakral (sebagaimana yang dimaknai orang beragama). Orang-orang ateis tau betul bahwa lo cuma punya kesempatan sekali hidup. Hanya ini. Cuma hidup ini yang lo punya. Nggak ada reinkarnasi, nggak ada surga atau neraka, nggak ada kesempatan kedua. Lo bener-bener cuma punya kesempatan sekali, mau ngerusaknya atau bikin itu jadi sia-sia, terserah elu, meskipun itu bakal jadi hal yang paling mubazir.

Kenapa lo nggak bikin diri lo sadar? Lo didik lah diri lo sendiri supaya lo bisa liat keajaiban semesta raya seagaimana adanya, tanpa terhalang kabut kepercayaan relijius. Lo berenang gih di Samudra India. Atau liat matahari tenggelam di Uluru (Ayer's Rock). Ajak bayi-bayi bercanda dan liat mereka ketawa. Atau manjat pohon. Belajar naek sepeda roda satu. Pijitin pacar lo. Belajar bikin keramik.

Bikin diri lo bahagia dengan cara bikin kehidupan orang lain jadi lebih baik. Banyak orang yang hidup dalam kondisi menyedihkan, yang pendapatannya seminggu mungkin sama dengan pendapatan elu sejam (misalnya). Bantu panti asuhan. Beberapa orang yang percaya Tuhan (teis) punya anggapan aneh bahwa ateis itu nggak lebih dari kumpulan manusia-manusia sedih, egois, dan berantakan yang cuma mikirin diri sendiri, nggak peduli sama kehidupan orang lain, dan kerjanya cuma nyapu-nyapu seharian sambil otaknya muter cari akal gimana caranya bisa masuk surga tanpa harus percaya Yesus dan berbuat baik pada sesama. (Lucu... betapa penilaian orang lain bisa amat sangat beda dengan orang yang ngalamin sendiri)

Kadang gwa juga ditanya, "Kenapa lo mesti repot? Kalo emang hidup ini cuma kecelakaan tanpa makna, tanpa ada tujuan akhir dan nggak berarti, kenapa lo nggak bunuh diri aja? Kenapa lo nggak beli senjata dan tembak-tembakin deh tu orang-orang yang hidupnya nggak berujung. Kenapa lo nggak kayak gitu aja?" Biasanya gwa bakal jawab: "Lo pernah bikin orang-orangan dari salju atau Snowman?" Snowman itu nggak bertahan lama, bakal mencair kalo kena sinar matahari. Snowman juga nggak punya tujuan dan makna. Dua minggu setelah dia dibuat nggak bakal ada bekasnya. Kita bikin Snowman karena kita semua, baik yang teis maupun ateis, hidup di masa sekarang dan disini. Kalo konteksnya kita sebagai mahluk fana yang daur hidupnya singkat, maka itu artinya kita bisa nikmatin kehidupan di dunia dan bersenang-senang dengan melakukan sesuatu yang benar-benar nggak ada tujuannya. Bikin Snowman, naek gunung, liat sunset, atau bersepeda menikmati udara pedesaan adalah hal-hal yang menyenangkan. Tujuan semua itu bukan terletak 'di luar sana', nungguin di suatu tempat supaya kita dapet maknanya. Makna akhirnya terletak pada diri kita masing-masing. Gwa nggak ketar-ketir mikirin gimana kita lima trilyun tahun ke depan, tapi gwa peduli sama masa depan manusia disini, sekarang, dan gimana generasi selanjutnya. Seperti itulah konteks manusia fana, dan karena itulah gwa mau 'repot' menjadi hidup dan menikmatinya.

Hidup itu sendiri nggak ada artinya. Nggak ada tujuannya juga sama alam semesta. Tapi, setidaknya lo bisa punya arti melalui tindakan yang lo lakukan. Bikin dunia ini jadi lebih baik, setidaknya untuk diri lo sendiri, untuk mereka yang hidup sezaman dengan elu, dan untuk keturunan elu.

Seringkali orang-orang ateis punya kehidupan yang menyenangkan dan indah. Sebab, sepengetahuan kita, cuma ini yang kita dapet, dan juga yang didapet orang-orang lain. Karena itulah kita melakukan yang terbaik untuk diri kita sendiri dan untuk orang lain. Percuma kita berdoa ampe berbusa untuk orang-orang sekarat di negara-negara dunia ketiga. Tuhan nggak ada buat bantu mereka, yang ada cuma manusia. Kalo nggak ada satupun manusia yang bertindak, ya nggak bakal ada yang gerak. Gwa muak denger para politikus dan pemimpin gereja ngomong--ketika ada bencana atau semacamnya--bahwa kita harus berdoa untuk para korban karena mereka perlu itu. Nggak! Bukan itu yang mereka butuhkan. Mereka perlu orang lain untuk menggali dan mengeluarkan mereka dari reruntuhan, menenangkan dan menguatkan mereka yang kehilangan, cari tau kenapa pesawat itu bisa jatoh, bawain mereka obat-obatan dan makanan. Cuma berdoa aja nggak bakal bikin semua itu jalan - karena yang bisa bertindak itu manusia. Ada panti asuhan di Kenya, namanya Diani Childrens Village. Anak-anak disana sama sekali nggak punya keluarga dan mereka tinggal di gubuk. Mana yang lebih mereka butuhkan: doa dan Injil atau cinta, uang, makanan, pakaian dan pendidikan?

Sebagai seorang ateis, gwa menganggap hidup itu sakral. Kehidupan dan pikiran adalah sesuatu yang terlalu berharga untuk disia-sia. Gunakan kedua aset itu selagi lo bisa dan bantu orang lain melakukan hal yang sama.

Emangnya kayak gitu tuh jelek ya?


*Insert 'In the Presence of the Enemy from Dream Theater' here*

Labels:

Dont Wanna Live My Life in Autopilot

Posted by The Bitch on 7/11/2007 05:30:00 AM

Saya kangen merindu-dendam lelaki dimana tiap detik rasa dan pikiran saya hanya terisi dia untuk kemudian patah hati, berkali-kali (lalu cari lagi, berkali-kali juga). Saya kangen berhujan-hujan saat saya masih usia lima, hanya mengenakan singlet dan celana dalam dan demam setelahnya. Saya kangen memandangi pendar meriah petasan pada langit di atas taman hiburan ketika Babab ajak saya Sabtu malam, lalu mengantuk sepanjang arisan keluarga keesokannya. Saya kangen melihat sumringah senyum di wajah sahabat akibat kata-kata penguatan yang saya kutip sambil tergagap setelah mata bengkaknya (dan saya) menangis hampir 2 jam akibat pengakuan aborsi yang telah dia lakukan. Saya kangen dimaki kernet bis sepulang sekolah karena saya beri ongkos yang tersisa setengah demi komik Smurf yang saya idamkan. Saya kangen jatuh dari KRL karena terburu-buru lari keluar gerbong sebab bel masuk sekolah hampir berbunyi. Saya kangen nongkrong dan bernyanyi dengan kawan-kawan lelaki yang bergitaran di pos ronda depan kompleks meski Ibu lalu menjewer telinga saya hingga ke depan pagar karena terlalu lama absen dari rumah.

Terlalu banyak kenangan. Terlalu banyak nama tertinggal dalam jiwa. Beberapa terlupa, sebagian menancap dalam meski sempat menetes darah. Kapok? Tidak. Mungkin... lelah sedikit. Tapi tetap menyenangkan. Dan, anehnya, semakin menyakitkan kenangan tersebut, makin menyenangkan untuk diingat. Saya khawatir jadi masokis.

Mungkin hidup baru sebentar. Mungkin nanti akan terlintas niat untuk tetap bernafas dan ngotot mendetakkan jantung serta menjalankan otak untuk seribu tahun ke depan. Siapa tau? Ya, saya terlalu jatuh cinta dengan dunia dan segala isinya. Apalagi beberapa obrolan dengan manusia setengah setan telah membuat saya (agak) gamang, meski sedikit.

"Kamu yakin bercita-cita mati muda? Terlalu banyak orang ingin dan telah mati muda. Nanti kamu hanya akan jadi statistik sahaja. Apa bukan karena kamu terlalu bosan dengan rutinitas dan kebangsatan yang kamu hadapi maka kamu perlu pengalih yang mengguncang kewarasan manusia normal? Ah, kamu, perempuan yang dulu berambut hijau... Sebutkan keinginanmu dan raihlah! Jangan dulu bercita-cita mati! Siapa tau dunia ini hanya representasi sebuah rahim besar dimana ketika nyawa nglungsungi dari tubuh, kamu hanya akan jadi jiwa tanpanama yang menunggu jadwal kelahiran kembali yang entah kapan, dalam sel ukuran dua kali tiga meter, berteman lampu temaram 5 watt dan suara sunyi. Lebih membosankan dari ketika kamu hidup, bukan? Kamu nggak tau seperti apa setelah ajal menjemput. Perhaps it will be some kind of looping ad infinitum, pengulangan terus-menerus tanpa henti. Think about it!"

Hell, yeah! I'm thinking about it fuckin' a lot! So godamn a lot I've got slow-burning coal in my head and it won't come off. I just want to realize about times that passed me by. I want to be aware about what I've been through and it won't be done without knowing that my time is about to end. Mungkin seperti yang pernah dibilang Om Babi juragan distro Linux, bahwa jika waktunya telah datang, jika Dia berkehendak, berkedip dan membetulkan letak dasi pun kita tak sempat.

Come what may. Pun jika usia tiga puluh lewat nanti saya masih hidup, mudah-mudahan saya tidak mati di dalam.

(Lagi-lagi adzan subuh berkumandang sebagai background Om Bono berlagu Staring At the Sun. Teriring cinta untuk matahari yang belum lagi tinggi dan malam yang kalah terpuruk di cakrawala, saya mencoba menjemput lelap nan tak kunjung datang...)


Inspired by Click and dedicated to those in their 30s who still alive and kicking.

Labels:

E-mail Dinihari

Posted by The Bitch on 7/11/2007 01:37:00 AM

Nduk,
Satu jam lalu aku menyentuh diri sendiri lagi. Dan yang aku bayangkan hanya titit dan wajahnya ketika klimaks. Aku kangen dia, Nduk. Sangat. Aku rindu penyatuan dua jiwa kami, dimana memberi adalah anugrah. Tapi aku tau dia bukan untukku dan perasaan ingin kembali adalah salah. Aku harus lepaskan dia demi tanggungjawab yang menyertaiku. Kamu tau dimana dokter yang katamu bisa mutilasi otak untuk mengenyahkan ingatan tentang aku dan dia?

Aku putus asa, Nduk...

Nice. udah hampir dinihari dan dapet imel macem ini. Bingung. Pasti nggak bakal masuk kalo gwa ngomong konsep-konsep feminis saat dia lagi dalam kondisi ini, lha wong dia amat sangat super feminis koq. Nggak mungkin gwa ngingetin dia untuk selalu kaffah bersetia dengan dildo, lha wong dia punya tiga, warna-warni, beda-beda bentuk dan ukuran. Nggak akan kena kalo gwa retelling cerita-cerita yang pernah gwa baca tentang gimana bangsatnya laki-laki dalam novel-novel Fay Weldon. Koleksi bukunya lebih banyak dan lebih keren dan dia adalah kutu buku yang gila. Gwa mesti ngomong apa?

Untung gwa inget obrolan bareng seseorang beberapa menit yang lalu. Dan gwa balas begini:

Mbak,
Menurut Kak Dontjeh--lelaki setengah setan bertanduk maya--titit itu kecil, penis medium, yang gede tu kontol.
Jadi, Mas Mantan tu kecil ya Mbak?


*speechless*

(Bangke ye... gara-gara Si Mbak satu itu gwa ampe bertega-tega mengetikkan nama genital...)

Labels:

Wadul

Posted by The Bitch on 7/11/2007 01:01:00 AM

Jika bisa, saya ingin menukar kepala, leher dan tengkuk dengan sesuatu yang mati rasa.
Sungguh, saya nggak ingkar. Saya berterimakasih atas sakit, tegang dan pekak yang datang beberapa kali dalam seminggu tiap bulan. Karena dengan ini maka saya akan menikmati bagaimana ringannya berpikir tanpa derita.


In memoriam: satu lagi sel telur yang meluruh bersama dinding rahim, saat ini dan nanti. Dan nanti. Terbuang sia-sia karena nggak bisa digoreng untuk lauk sarapan.

Labels:

Semacam Carpe Diem

Posted by The Bitch on 7/10/2007 02:55:00 AM

Malam ini melankoli sekali. Setelah seharian bekerja tanpa peluh dalam ruang berudara dingin bikinan pabrik; diseling tawa dalam kata bersama teman-teman tak kasat mata; mengurai masalah kusut dan berujung pada solusi perlawanan; berbagi senyum dan sebongkah surga dengan malaikat putih tak bersayap; menyesap bergelas-gelas minuman panas demi mendinginkan perut dan kepala; mendengar dan mengusahakan senoktah kecil empati pada jiwa tanpa daya (atau tak mau berdaya, entah yang mana)... Semua berlabuh pada dinihari ini, teriring suara pria berkacamata gelap yang lirih melagu hidup dalam analogi layang-layang.

Rasanya saya lelah sekali.

Namun kelelahan ini membuat saya penuh seluruh. Selaksa alam raya yang terpapar di depan mata, pada detik, pada menit, pada waktu yang terlewat, mengisi tiap ceruk tiap lekuk. Memenuhinya hingga ke titik luber. Menanti semuanya lalu reda, melindap, kemudian menyarikan residu guna disantap hati adalah kesabaran yang harus dikuasai. Dan saya hampir sampai kesana.

Padanya saya melihat aku. Dari lafal yang terucap, kami berkaca. Dan saya sadar, waktu saya sebentar. Hingga batas yang saya buat itu. Hingga akhir yang saya damba itu. Hingga usia tigapuluh itu.

Kemudian saya akan dijemput utusan Sang Pacar, pasrah, lega-lila. Lungkrah, namun puas. Layaknya pengantin selesai berpagut, membelit, mendekap, mengejang dan meregang, basah keringat setara nafas serta degup jantung berkejaran, saat turun-naik dada makin lama makin lambat dan dengan mata pejam dan bibir menyungging senyum...

Saya akan mati dengan nikmat.
Love is a temple, love a higher law
- 'U2 - One'

Duhai, dunia. Betapa saya jatuh cinta sampai mampus denganmu.


...masihkah saya 'hidup' jika batas terlampaui?

Labels:

Don't Wanna Be A Kite

Posted by The Bitch on 7/09/2007 03:50:00 PM

KITE - U2

Something is about to give
I can feel it coming
I think I know what it is
I'm not afraid to die
I'm not afraid to live
And when I'm flat on my back
I hope to feel like I did

And hardness, it sets in
You need some protection
The thinner the skin

I want you to know
That you don't need me anymore
I want you to know
You don't need anyone
Or anything at all

Who's to say where the wind will take you?
Who's to say what it is will break you?
I don't know, which way the wind will blow

Who's to know when the time has come around?
Don't want to see you cry
I know that this is not goodbye

It's summer, I can taste the salt of the sea
There's a kite blowing out of control on the breeze
I wonder what's gonna happen to you
You wonder what has happened to me...

I'm a man, I'm not a child...
A man who sees
The shadow behind your eyes

Who's to say where the wind will take you?
Who's to say what it is will break you?
I don't know, where the wind will blow

Who's to know when the time has come around?
I don't want to see you cry
I know that this is not goodbye

Did I waste it?
Not so much I couldn't taste it
Life should be fragrant
Rooftop to the basement

The last of the rocks stars
When hip hop drove the big cars
In the time when new media
Was the big idea

That was the big idea



.... Don't wanna be a kite; flying up high and proud but still attached to a string but wander without determination when it cuts loose....

Labels:

AAUP (Another Awkwardly Untitled Post)

Posted by The Bitch on 7/04/2007 10:46:00 AM

Are you justified in taking life to save life?
- 'Dream Theater, The Great Debate' from Six Degrees of Inner Turbulence album

Lost in a movie again. There I was, sat in front of my computer, staring blankly on the screen, amidst my obligation to finish up my toy called Monthly Report. In the attempt of building up my mood I watched Munich instead. I knew from the first that this movie will linger in my mind for some times, yet, I couldn't bear the temptation to borrow it from a friend when I saw it laid on his shelf two weeks ago. And yes, indeed it lingered.

Perhaps this is my 'Spielberg Week' since I've been watching his works for two days in a row. Both stories bore resemblance theme: for the life and a place called home. In the colorful, gloriously CGI-ed, and heroic Transformer I watched yesterday I knew how it felt like to fight for a piece of solid ground under one's feet in this strangely identified occurrence called the universe and vaguely concepted of life.

As Hemingway loves to present tragic heroes burdened with their own values against the mainstream in all of his writings, so does Munich. The difference is that the tragic burden lays on the shoulder of the Israelis and the Palestinians as the movie background that create heroes from both sides--but not the main character itself. Well, he is too tired to be consumed between his own humanity and the love for a country that subtly leaving him after his assignment is over, and that is the major plot as stamped by one of the production labels, Amblin, in bold: ENTERTAINMENT. It begins with Black September tragedy where Summer Olympic of Peace and Joy becomes a politically tailored bloodshed, where the meaning of being good athletes whose skill and ability are pushed to the outer limit has been injured by a terrifying scenario and witnessed by all people in the world through television. What is more tragic than a never ending vengeance for the sake of Qisash; or, you may say 'an eye for an eye'? What is more darkly-colored hilarious than to throw a battle over a land that had been promised by the Holy Scriptures?

It is funny how human reacts on its survival instinct of being an individual and a social creature at the same time. Where there is an ideal vision of a nation--comprises of agreed concept, or simply by people who borne accidentally, from one generation to another, on a certain land; there lay some conflict of interests of certain groups--usually economics one. Where a war in certain area(s)--for whatthefuckever reason--is happening; there is always a market for devilishly wicked instruments to massively demolish what-so-called enemies from both sides. The craziest thing is the demand for it is quite high, along with the money, power and dark conspiracy attached.

Yet, it is funny to notice how priority is different from one another. The importance of a soldier to kill those who believed to be the enemy in order to gain victory is different with the importance of a nerdy schoolboy to fuck on weekends, for example. It is shocking to realize on how other person is considered shallow, while one's own shallowness is only an agreeable narrow-mindedness settled by numbers of minds, unifying in a particularly humongous group dubbed a country.

If only everybody read Chomsky and understand the real presentation of 'information dissemination', I don't think we need any idealisms that encourage people killing other people for the sake of what they believe...

Turn to the light, don't be frightened for the shadow it creates
Turn to the light, turning away would be a terrible mistake
- Again, Dream Theater, The Great Debate from Six Degrees of Inner Turbulence album

ps: Sorry. No link. I'm slackin' (=

Labels: