"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Wash Me Away Like the Morning Rain

Posted by The Bitch on 6/28/2007 08:42:00 AM

Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu

(Sapardi Djoko Damono - 1989)


Hampir pukul delapan dan pagi ini hujan. Rintiknya menenangkan. Saya matikan MP3 player , membawa mug berisi kopi hangat dan duduk di beranda sambil mendengar irama monoton rinai air yang jatuh dari langit. Nyaman sekali.

... andai hari ini akhir minggu. Saya tidak perlu masuk ke dalam dan menghadap komputer lagi...

Labels:

Menjadi Jujur

Posted by The Bitch on 6/28/2007 05:31:00 AM

Saya pernah kagum dengan seseorang yang meratap, menghiba dan merendahkan diri ketika cintanya hilang dan belum tergantikan sejak tiga tahun lalu. Saya tidak bisa begitu. Buat saya pantang menunjukkan ekspresi 'lemah' karena saya telah membatukan hati untuk hal (yang menurut saya) cengeng.

Karena saya sudah cengeng dari kecil.

Ibu saya selalu berkata 'Kamu bisa!!!!' saat saya jadi yang termuda dengan badan terbongsor di kelas satu. Tanpa TK. Ketika teman-teman saya sudah pandai memegang pensil, saya masih gemetar dan gugup menulis, hingga tulisan saya salah-salah terus, tangan saya berkeringat, kertas jadi ikut basah dan selalu robek saat saya hapus. Kalau sudah begitu, ibu guru saya yang galaknya kayak macan betina kelaparan baru melahirkan bernama Bu Dar, pasti murka. Alhasil saya tambah down.

Sebagai anak 'gedong' (gede dan dongo), saya selalu di-bully oleh beberapa teman sekelas. Setiap pulang dari sekolah selalu ada ATK saya yang raib diambil kawan. Saya nggak berani ngomong karena pasti ibu menyuruh saya mengkonfrontasi mereka. Tapi sayangnya saya nggak punya nyali meskipun ibu berusaha mendoktrin saya dengan seruan 'Ayo lawan!!'.

Ibu saya memang luarbiasa. Sebagai ibu muda, dia sangat bertanggungjawab atas anaknya yang ketika lahir bahkan tidak genap satu setengah kilogram. "Seperti bayi tikus," ujarnya sambil tertawa, saat dia bernostalgia di ulang tahun saya yang ke tujuh. Ketika teman-teman sebayanya sibuk ngecengin cowok-cowok dan cekikikan membaca Nick Carter, ibu harus meninabobokan saya dengan nyanyiannya atau suara ABBA, Beatles, Queen hingga Rolling Stones dari tape recorder butut. Ditambah lagi beban psikologis yang harus ditanggung ketika oksigen pertama saya tarik masuk ke dalam paru-paru: Anak yang cacat.

Iya. Saya cacat. Mungkin imbas karena lahir prematur itu, Tuhan terburu-buru dan lupa membuatkan saya jari berformasi lengkap karena di tangan kanan saya hanya ada tiga--itupun tidak semua sempurna. Karena itulah saya mengalihfungsikan tangan kiri--yang juga tidak sempurna. Tidak hanya untuk mengurusi yang kotor-kotor, saya juga kadang makan dengan tangan kiri. Kecuali menulis, karena Bu Dar mengharamkan saya memegang pensil selain dengan tangan kanan. Tapi saya (terpaksa?) senang dengan sepasang tangan saya. Tidak ada jari tengah! Jadi saya nggak bisa memaki dengan bahasa isyarat. Sungguh... tangan yang sopan. Haha!

Hey! Saya nggak mau kamu merasa kasihan karena saya menulis tentang ini. Deretan kata-kata nggak berguna ini layaknya tempelan poster acara musik di dinding bangunan yang belum jadi: Menginformasikan sesuatu yang nggak wajib diketahui tapi juga nggak haram disebarluaskan.

Bertaun-taun saya berusaha jadi normal, jadi sempurna, atau setidaknya menutupi kekurangan saya. Sempat saya mengamnesiakan diri dengan melupakan adegan dimana nenek saya sendiri membekali sapu tangan demi menutupi cacat cucunya. Atau saya yang berjalan pulang tersedu dengan seragam putih merah dan beberapa anak-anak sebaya di belakang saya berteriak 'Buntung!' dengan raut tak kalah bengis dari Hitler ketika mencetuskan F├╝hrerprinzip. Dan akhirnya saya menghujat Pacar saya itu ketika cowok yang saya taksir sangat jago majas-majas pelajaran Bahasa Indonesia dan menilai saya secara pars pro toto; bukan totem pro parte. Sejak saat itu, kelas satu es em pe, saya mengibarkan bendera perang dengan masyarakat yang menganggap diri 'normal'. Jika saya memang dianggap cacat, maka saya akan cacat dengan gembira. Saya pelajari peraturan mereka dan saya lakukan yang sebaliknya. Haha!

Mungkin proses hidup sejak saya bayi hingga sekarang, dengan keadaan saya, dengan pertempuran saya melawan dunia sendirian, membuat saya jadi apa yang dia sebut contrarian. Saya memilih untuk (kadang) remuk menjadi diri saya sendiri daripada tegak bersama 'kenormalan' seragam. Lagipula, apa sih definisi normal? Ketika ada 99 orang gila dan hanya 1 orang normal, menurutmu mana yang disebut waras?

Sudahlah. Saya hanya mau jujur tentang siapa yang selama hampir dua taun ini ngomyang dan misuh-misuh nggak jelas di halaman ini. Apalagi setelah sebotol Smirnoff telah tandas di pagi buta. Sejak saya kenal Internet tahun 2000 saya merasa bebas dan bisa jadi apapun dan sering lupa bahwa saya juga punya kekurangan. Ini cuma cermin saya pribadi yang coba saya broadcast untuk menguji sampai dimana batas saya bisa jujur mengakui kelemahan yang menguatkan ini. Dan sampai batas mana kamu bisa menerima saya. Tanpa topeng (=

Maafkan saya jika 'ketidaknormalan' ini tanpa disadari telah masuk ke dalam alam bawah sadarmu, duhai manusia iseng. Lagipula, cobalah masuk room Bandung. Temukan nick \666\ dan lawanlah dia bermain scramble. Kamu nggak akan sadar jika lawanmu itu kalah secara instrumen tapi ngotot ingin cepat menjawab... TANPA TYPO!!!

*nyengir iblis*


... dan masih ada empat artikel lagi yang harus diselesaikan sementara pagi sudah meninggi...

Labels:

Surat Dari/Pada Pacar

Posted by The Bitch on 6/27/2007 10:43:00 AM

Hey, Nduk.

Ngapain sih terlalu mikir? Serahkan semua padaKu. Aku nggak akan bikin pusing kamu. Cukup kamu baca juklak yang tertulis disitu dan jalani semuanya. Nggak susah kok. Semua sudah pernah dilakukan orang-orang yang hidup jauhhhhhhh sebelum kamu lahir. Kalo kamu ngejalaninnya dengan sungguh-sungguh, kamu bakal dapet sesuatu dari Aku. Gede, lho. Lebih hebat dari cuma mobil mewah atau rumah megah yang nggak ada setai-tainya itu. Nggak ada biaya maintenance, pulak! Ayo dong. Aku pengen liat kamu ada disini sama Aku. Kita bakal seneng deh! Aku janji. Kamu tau kan? Aku bukan pelanggar janji.

Aku tunggu ya!

Luv,

Tuhan



Hey Han!

Aduh...
Makasih ya Kamu masih mau inget aku. Gila deh! Aku yang segini mbalelonya masih aja dikasih keajaiban-keajaiban edan-edanan dari Kamu. Udah gitu, aku masih aja nanya-nanya dan curiga. Ya abis gimana? Kamu selalu kasih pelajaran dari apapun yang terjadi di sekeliling. Dan pelajaran utama adalah: There is the price I've got to pay somehow. Aku jadi rada keder mau ngapa-ngapain.

Soal nanti barengan Kamu disana...
Aku tu nggak mau ketemu Kamu cuma karena iming-iming dapet pemenuhan janji atau luput dari kemurkaanMu. Aku pengennya ketemu Kamu karena Kamu, bukan karena punishment dan reward sebagaimana yang dijejali dan didoktrin ke otakku sejak aku kecil. Kamu juga tau kan kalo aku selalu kasih kebingunganku ke Kamu dan kamu jawab dengan kemudahan dari tempat lain. Aku nggak tau, maksudMu itu untuk pengalih perhatian atau apa. So far sih amat sangat membantu. Padahal sowan ke Kamu aja udah hampir nggak pernah dan Kamu masih segitu perhatiannya sama aku.

Tapi gini ya Han.
Aku percaya Kamu nggak akan kasih aku software sebegitu lengkap kalo Kamu nggak mau aku menggunakannya dengan maksimal. Dan aku pake itu untuk mencari Kamu. Iya, aku tau, Kamu bahkan lebih dekat dari nadi yang ada di leherku. Masalahnya, aku sering kebentur sama hardware. Aku seperti ingin meluk Kamu, melihat Kamu, berdekat-dekat denganMu hingga bisa mencium wangi rambutMu (kalo Kamu punya). Aku nggak mau bikin Kamu marah--karena pasti sangat mengerikan--meski kadang aku suka protes, misalnya, sama keisenganMu bikin mahluk imut dan lucu semacam penguin yang hidup di tempat paling kejam sedunia. Atau leluconMu ketika Kamu bikin skenario dimana aku dipertemukan sama seseorang yang (hampir) jadi belahan nyawaku tapi nggak bisa gathuk karena Pacarnya bukan Kamu. Atau kebrutalanMu membuat dunia centang-perenang hanya dengan sekali hembusan nafasMu yang bikin ombak bergulung sebesar gunung dan kejar-kejaran dari laut ke daratan.

Iya, Han, aku ngerti. Kamu dan aku beda bahasa. Kamu selalu tau apa yang aku maksud sementara aku mesti nerjemahin segala peristiwa (yang aku yakin Kamu dalangnya) serta berusaha paham lewat isi kepalaku yang gak ada seupil-upilnya ini. Itu pun sering salah nangkep. Tapi aku berusaha keras untuk selalu percaya Kamu dan tujuanMu yang pasti mulia itu, apapun nanti yang bakal atau sudah terjadi.

Kamu tau nggak?
Sesepi-sepinya aku, nggak akan sekosong dan sedingin yang aku kira selama aku inget Kamu. Tapi entah kenapa, Kamu sering kuanggap sepi ketika aku dan sekelilingku lagi rame; sedang senang. Mungkin aku chicken, cuma lari ke Kamu waktu aku udah nggak bisa apa-apa. Tapi sungguh, aku hampir nggak pernah minta, kan? Kamu inget to, kalo aku wadul ke Kamu itu cuma murni sambat atau absen tunjuk tangan lalu mbengok 'Hadir!', bukan nyuwun. Wong Kamu juga udah kasih semuanya tanpa aku harus nyenyuwun kok. Aku kan takut bikin Kamu bete.

Aku tuh nggak ekspresif dalam mengungkapkan cinta, Han. Apalagi ke Kamu. Jangan ngambek, ya. Aku selalu inget Kamu kok, lewat Icha, Ibu, Babab, kedua abang Phoenix-ku yang aneh-aneh, Yona, Emak, Maz Bek, Si Maz dan Mbak, Budhe-Pakdheku, Simbah-simbahku, Wita, Ooz, Ibu Kos, Maz Lantip, Casper, si dia-yang-namanya-tidak-boleh-disebut, bahkan dari (mantan) pacar virtualku sekalipun. Juga lewat hujan bulan Juni yang pagi-pagi kusapa setelah lelah insom sepanjang malam. Atau teriknya matahari pukul delapan saat mataku peka cahaya. Semuanya ajaib, semuanya indah, meski dengan cara mereka sendiri.

Han...
Aku jadi inget omongan temenku yang mengaku nggak takut sama Kamu. "Aku cuma takut ketika aku 'lewat' ternyata Kamu nggak ada," katanya. Dan aku jadi inget ucapan salah satu orang yang amat Kamu sayang di ujung wafatnya, tentang (sedikit) keringanan atas sakitnya proses bertemu Kamu: Terlepasnya 'isi' dari 'bungkus'. Dan sekarang aku mau nyenyuwun. Jika sakit itu begitu berat, tinggikan ambang batas ketahananku dalam merasakan sakit itu. Aku nggak mau termehe-mehe ketika ketemu Kamu. Aku nggak mau Kamu ngeliat aku dalam keadaan jelek menanggung sakit (yang pastinya berkali-kali lebih jelek dari sekedar nahan e'ek).

Makasih ya, Han, untuk semua kebaikan dan kemudahan yang secara dangkal kusebut keberuntungan. Sampai ketemu nanti, ketika aku umur 30. Mudah-mudahan.


Luv. More.
-pit-

Which is it, of the favours of your Lord, that ye deny?
Lord of the two Easts, and Lord of the two Wests!
Which is it, of the favours of your Lord, that ye deny?

Ar-Rahman, 55 : 16-18

Labels:

My Longest Entry Ever. Haha!

Posted by The Bitch on 6/27/2007 12:44:00 AM

Term of Condition

Berdasarkan perjanjian asal-asalan antara Seseorang (dan seterusnya disebut sebagai Pihak Pertama) dan mPit (dan seterusnya disebut sebagai Pihak Kedua) pada hari Selasa, 5 Juni 2007 pukul 19:36:42 melalui sarana Yahoo Messenger dengan pernyataan 'would you be my gf?' yang merujuk pada dibangunnya satu bentuk hubungan yang lebih dekat dari hanya sekedar teman (yah... bisa dibilang pacaran lah) dari Pihak Pertama kepada Pihak Kedua yang kemudian disetujui oleh Pihak Kedua dengan syarat dan kondisi tertentu,

Maka
Dengan ini dinyatakan beberapa persyaratan yang mengikutinya:
  1. Pihak Pertama BEBAS bergaul dengan siapa saja, baik di dunia nyata maupun di dunia cyber dan BEBAS ingin mengungkapkannya atau tidak kepada Pihak Kedua, karena Pihak Kedua pun BEBAS melakukan hal yang sama.
  2. Pihak Kedua juga BEBAS menjalin hubungan dengan siapa saja, baik di dunia nyata maupun di dunia cyber dan HARUS mengungkapkannya pada Pihak Kedua karena Pihak Kedua juga BEBAS dan HARUS melakukan hal yang sama.
  3. Pihak Pertama BEBAS mengungkapkan pendapat, perhatian, larangan dan keberatan atas apa yang telah dilakukan dan diceritakan Pihak Kedua, tapi semua itu hanya akan menjadi pertimbangan bagi Pihak Kedua. Pendapat, larangan serta keberatan tersebut menjadi hak Pihak Kedua sepenuhnya untuk menerima atau tidak, begitu juga sebaliknya.
  4. Hubungan ini sama sekali tidak mengikat, terbuka penuh atas ketertarikan kedua pihak untuk terus lanjut atau tidak dan tidak terbatas waktu.
  5. Pihak Pertama memiliki kuasa penuh untuk menghubungi Pihak Kedua melalui media apapun.
  6. Diharapkan Pihak Pertama TIDAK menghendaki pertemuan dalam wujud fisik terhadap Pihak Kedua, KECUALI Pihak Kedua menginginkannya, dan jika Pihak Kedua menginginkan pertemuan fisik terhadap Pihak Pertama maka akan menjadi kuasa penuh Pihak Pertama untuk mengabulkannya atau tidak.
  7. Pihak Kedua mengharapkan terjaganya kerahasiaan hubungan ini baik dari kehidupan nyata maupun kehidupan cyber Pihak Pertama dengan alasan poin pertama (1) dan kedua (2).
  8. Pihak Kedua menganggap cinta hanya ilusi. Jika Pihak Pertama menganggap dirinya jatuh cinta pada Pihak Kedua, atau sebaliknya, maka anggaplah masing-masing dari kedua belah pihak tersebut sudah terlalu banyak nenggak vodka secara virtual.
  9. Poin-poin yang diajukan Pihak Kedua ini belum final, masih bebas untuk dikritisi oleh Pihak Pertama. Keberatan apapun terhadap poin-poin persyaratan yang diajukan oleh Pihak Kedua terhadap Pihak Pertama BEBAS untuk dimusyawarahkan.

Demikian persyaratan ini dibuat oleh Pihak Kedua agar menjadi perhatian Pihak Pertama.

Terima kasih.

Jakarta, 5 Juni 2007

Mengetahui:


Pihak Pertama dan Pihak Kedua

Seseorang dan mPit

Ternyata 'legal contract' di atas cuma berlaku 20 hari. Saya yang nggak tahan karena permainan berjalan sesuai aturan saya hanya pada empat hari pertama. Selanjutnya hanya saya yang bawel dan merasa risih, memenuhi space di software chatting-nya dengan baris-baris teks yang saya buat dan merasa ngomong sama tembok demi mendapat respon sekedar 'oOo' atau 'weks' atau 'trus?'.

Very well, then. Saya nggak merasa patah hati karena saya nggak nenggak vodka virtual. Dan saya pun tetap keluar sebagai pemenang karena saya main sesuai aturan. Meski virtual, saya buat dia spesial. Saya selalu luangkan waktu untuk dia dan jadi buku terbuka, memberi informasi tentang bagaimana saya meskipun dia tidak memintanya. Ternyata saya bertepuk sebelah tangan. Nggak masalah. Saya pun coba-coba. Saya tau, saya sedang dalam Nietzsche mode ketika melakukan ini: Hasrat ingin berkuasa, bukan pada manusianya tapi pada situasinya.

Sekali sempat si Seseorang ini menyinggung tentang bagaimana dia menyikapi hidup 'yang tidak melulu berdasarkan bacaan' ketika saya memprotes hal ini. Kamu menyindir saya karena saya selalu mengutip dari buku ini, film itu dan ucapan si anu? Terserah lah. Apa yang saya baca, tonton, dan dengarkan sering jadi refleksi keseharian saya dan secara nggak sengaja turut andil atas bagaimana saya mengambil pilihan hidup. Karena saya percaya bahwa tulisan dan film yang dibuat seseorang adalah juga tentang refleksinya terhadap hidup itu sendiri. Juga lirik lagu. Maafkan saya jika saya terlalu banyak membaca buku dan mendengar musik. Untuk ukuran kamu, bukan ukuran teman-teman saya yang lain.

Lalu kamu juga pernah menyinggung saya betapa kamu 'bukan orang filsafat'. Saya juga bukan. Filsafat sux. Saya lebih suka dibiarkan dalam keadaan buta daripada tahu realitas matrix yang ada. Kamu bilang kamu memandang hidup dari kenyataan. Saya juga, karena saya bukan tokoh rekaan dalam cerita. Kamu bilang kamu nggak suka ngomong berputar-putar dan lebih nyaman bicara langsung. Saya juga, karena saya gagap bicara dalam simbol. Karena itulah saya menyuarakan pendapat saya tentang bagaimana selama 20 hari terakhir ini kebutuhan saya akan seseorang yang berstatus pacar lumayan terpenuhi tapi tidak seperti yang saya inginkan. Karena itulah saya keberatan jika pacaran virtual ini kamu bilang 'bukan bener-bener pacaran'. Meski saya membuat Term of Condition secara main-main, saya selalu bilang bahwa saya selalu serius dalam bermain. Saya pernah ngomong bahwa kita pernah sama-sama terluka dan luka itu masih menetes darah. Jadi, mari kita sama saling mengobati. Saya tantang kamu untuk berani meminta pada saya untuk jadi salah satu item penyembuh. Tadinya kamu enggan, karena menurutmu jika seseorang memiliki kepentingan khusus pada orang lain dan hasilnya tidak seperti yang diinginkan maka kamu akan malu. Dan kamu takut malu, padahal menurut saya kita tidak saling melihat. Buat apa malu? Saya toh tidak akan menolak.

Saya pikir makna dibalik pernyataan saya sudah kamu tangkap seluruhnya. Tapi saya salah. Dengan basis 'saling mengobati hati' saya berbaik-baik dengan kamu, menyapa dengan kalimat gombal hampir setiap pagi dan pamit (juga dengan kata-kata gombal) di penghujung hari. Buatmu, mungkin saya hanya salah satu alat pengisi waktu yang bisa kamu sambangi ketika kamu bosan dengan yang lain. Nggak masalah juga sih. Kamu juga nggak pernah tau ada berapa windows yang terbuka di layar saya (=

Jadi, begitulah. Kesimpulan saya, kita beda. Layaknya rel kereta api antar propinsi, kita selalu paralel beriringan tapi nggak pernah ketemu. Mungkin saya yang nggak terlalu bisa lucu-lucuan dengan berpura-pura jadi bayi dan bicara bahasa bayi. Mungkin menurutmu saya terlalu serius dan nggak bisa jadi penyeling ketika kamu sedang jangar.

Atau mungkin... (saya ucapkan ini dengan punggung tegak, dagu agak terangkat dan mata melirik tajam, serta jari tangan kiri menjepit rokok yang terselip di bibir dan saya hisap pelan-pelan lalu asapnya saya hembus ke mukamu) saya terlalu pintar buat kamu? Seperti biasa, saya nggak mau tau. Have mercy on me dengan membiarkan saya dengan pikiran-pikiran saya sendiri. Biarkan saya berbangga dengan apa yang saya (anggap) saya miliki.

I am red, proud, and happy. I am short but reaching to the highest. I am flying with my feet on the solid ground, occasionally. I am content, I've got my friends with me. Don't bother. I'm ALIVE!


You're no Jesus, you're no fuckin' Elvis. Step down, step down.

- Incubus - Megalomaniac

ps: Kamu tau password dan ID halaman bermain saya ini. Nggak suka tulisan saya? Silahkan acak-acak. Saya bisa buat lagi (=

Labels:

For the Love of Human

Posted by The Bitch on 6/25/2007 02:02:00 PM

Konon, Tuhan lebih pemaaf dibanding manusia. Sangat mudah mendapat ampunan dariNya ketimbang dari mahluk tersempurna yang Dia ciptakan.

Kadang kebutuhan saya akan kesendirian amat sangat hebatnya hingga saya menafikan orang-orang yang peduli pada saya. Sering saya malas-malasan menerima seseorang di tempat saya, atau hanya setengah hati menanggapi obrolan. Kerap saya tidak peduli berapa kali ponsel meraung-raung minta perhatian karena adanya SMS masuk dari seseorang--sahabat, adik, Babab, teman yang saya kenal di kereta, mantan kawan satu kos...
Tapi apa yang saya lakukan?
Pencet tombol bergambar telepon warna merah rada lama hingga layar meredup lalu tulisannya menghilang. Dua-duanya.

Lalu, untuk apa punya dua ponsel?
Yang satu untuk menghubungi sahabat-sahabat dekat saya dengan budget yang sudah saya tentukan sebelumnya. Satunya lagi untuk keadaan penting dimana komunikasi suara sangat diperlukan dan dibayar belakangan. Saya yang memilih siapa yang akan saya hubungi, bukan sebaliknya. Angkuh? Sombong? Sok nggak perlu orang lain? Memang. Begitulah.

Saya selalu meremehkan arti orang-orang di sekeliling saya karena saya tau mereka selalu ada ketika saya perlu. Dan saya cukup tutup semua indra jika saya bosan dengan mereka. Semudah itu. Padahal ada beberapa kejadian dimana saya perlu seseorang sebagai teman berbagi dan cerita--atau bahkan hanya untuk didengarkan--dan saya tidak menemukannya satu pun. Saya jadi terbiasa dengan itu. Alhasil, saya tenggelamkan diri dengan buku dan musik dan komputer, berteman berbatang-batang nikotin dan bergelas-gelas kafein. Untuk melupakan bahwa saya terlupakan.

Tapi beberapa hari ini apa yang saya tonton, baca, alami dan pikirkan agak menggoyahkan kedirian saya. Manusia perlu manusia lain untuk menegaskan dirinya manusia. Kadang sebagai pembanding, sering sebagai penguat. Berbagi visi, saling mendengar, berdebat, berekspresi, bermusuhan, bersayang-sayangan, dan saling tarik-menarik kepentingan.

Dan film ini membuat saya tercengang. Meskipun yang tertampil pada layar-hampir-14" di hadapan saya hanya kenyataan rekaan, rasanya adegan demi adegan benar-benar menampilkan sisi lemah manusia dan berbagai tujuan mereka yang berbeda-beda. Ada tampilan dimana salah satu perwakilan ras kulit putih yang mengira lebih beradab ketimbang penduduk dimana dia terdampar merasa harus bergegas kembali ke 'peradaban', bahkan ketika salah satu rekan Kaukasianya terluka parah akibat peluru nyasar. Yang harus dinomersatukan adalah kepentingannya untuk kembali berada di tengah 'civilized community', meski ada satu perempuan sekarat tertembus peluru. Seorang gadis Jepang tunarungu merasa bahwa berkeliaran di tengah kota tanpa pakaian dalam adalah penting hanya untuk mendapatkan seorang lelaki yang bakal menerabas liang kewanitaannya. Meski harus mengumbar 'monster berambut'nya ke orang-orang yang melintas. Seorang ibu berkebangsaan Meksiko perasa perlu membawa dua anak asuh Amerikanya demi menghadiri pernikahan sang putra--menerobos perbatasan sekalipun dan terancam dideportasi karenanya.

Dan ternyata menjadi manusia tidak sesulit dan seagung yang dibayangkan. Penolakan beberapa lembar 'rasa terimakasih' dari sang pemandu wisata ketika si suami berhasil membawa istrinya yang tertembak ke dalam helikopter adalah cukup, meski dengan lima anak dan pendapatan yang pas-pasan dia harusnya menerima dollar itu. Kekhawatiran Amelia si penerobos perbatasan terhadap dua anak asuhnya yang dia tinggalkan di gurun adalah cukup meski dia harus dikembalikan ke negara asalnya, tempat mengerikan karena 'penuh dengan orang Meksiko'. Pelukan seorang ayah pada anak gadisnya yang disorientasi dan telanjang di balkon tertinggi sebuah apartemen di Jepang adalah cukup karena sang putri amat sangat perlu ungkapan sayang setelah trauma karena menemukan ibunya yang memburaikan isi otaknya sendiri. Menyerah di hadapan kepungan polisi dengan senjata terkokang adalah cukup, asal abangnya jangan ditembak mati--meskipun sudah terlambat.

Semua maksud dapat tertangkap dan terungkap dalam semua bahasa di dunia. Masalahnya adalah bagaimana menerima dan mengerti. Menara tertinggi itu rencananya dibuat untuk menggapai Sang Maha. Tapi karena modus di baliknya adalah kesombongan, dengan mudahnya Dia runtuhkan dengan menciptakan bahasa yang berbeda hingga maksud tidak tersampaikan dan bangunan gagal total. Sesederhana itu, sedahsyat itu.

Seseorang pernah berkata bahwa sebejat apapun personalnya, manusia jadi suci ketika dalam keadaan tersulit pun dia masih menunjukkan martabat sebagai manusia. Sambil mengusap air mata yang turun ke pipinya, dengan suara tergetar, pada pukul empat pagi itu, saya pernah menyaksikan betapa hatinya bangga dan haru saat dia berkisah tentang Yaser Arafat yang tanpa senjata menyusup masuk ke tempat persemayaman dan mengucap bela sungkawa pada janda pemimpin Israel yang kejam untuk kemudian kembali pulang. Begitu saja. Walaupun Pak Yaser juga tidak kalah jahat dan korup dan diktator. Dengan wajah tolol saat itu, saya sungguh kagum dengannya, laki-laki, yang tanpa malu menguarkan kemanusiannya dengan cara menangis--kelemahan manusiawi yang amat sangat dihindari bagi kaum Pak Adam--di depan saya, perempuan, yang baru beberapa jam dia kenal.

Kali ini tulus saya meminta pada kalian yang sudi membaca tulisan ini: Jangan sekali-sekali lelah menjadi manusia.
Bicaralah satu bahasa: CINTA.

(Playing: For the Love of God - Steve Vai)


... because some things are better left unsaid but felt (=

Labels:

The Bitch is Pissed

Posted by The Bitch on 6/24/2007 09:18:00 PM

Ada apa sih dengan para mantan saya belakangan ini?! Apa mereka sedang bikin konspirasi dan merayakan Minggu Ngeselin mPit kemarin itu ya?

Awalnya adalah hujatan dari si dia-yang-namanya-tidak-boleh-disebut yang semena-mena menghakimi saya tanpa tau isinya sama sekali. Beberapa hari kemudian 'tabokan' dari Si Maz yang dulu sempet saya jatuhi cinta dan bikin 'temper tantrum dua bulan' dan dia merasa saya adalah hadiah alam semesta buatnya. Dengan sak penak udhele dewe dia ngomong harusnya saya bilang kalo nggak bisa bantuin dia, jadi dia nggak usah nunggu-nunggu saya dalam waktu mepet gini. Hey, Mister! We've been working like this for these past six months! Hanya karena saya merubah prioritas dan nggak menjadikan kamu sebagai yang paling atas bukan berarti saya nggak mau bantu! C'mon! Grow up! I do what I say and say what I do. Kalo saya bilang saya rela jadi provider kamu dalam hal apapun, saya siap sedia dimanfaatkan. Saya sungguh cuma platonis sama kamu. Hingga sekarang pun masih, meski saya sedang berusaha menumbuhkan cinta-cinta yang lain. Dan kamu nggak boleh cemburu karena saya baik-baik saja meski tau ada perempuan yang hampir dua taun ini memiliki surat izin tidur di sebelahmu yang secara legal bisa kamu jamah dan gunakan sesuka hati.

Boys will be boys. Setua apapun mereka. Selalu jadi bocah yang terperangkap dalam tubuh besar yang merajuk ketika mainannya direbut, selalu perlu pengalih dangkal dari sesuatu yang agung, selalu ingin menguasai.

Akuilah. Ego kalian yang besar itu hanya untuk menutupi penis kalian yang kecil. Meski saya belum pernah liat.

Labels:

Thus Said mPit

Posted by The Bitch on 6/18/2007 04:40:00 AM

Di dunia yang penuh kesengsaraan dan kematian, kau memalingkan wajah-jutaan kali-seperti yang dilakukan jutaan mortal tiap malam.

-Akasha to Lestat in
Queen of the Damned (Indonesian translation), p.417.


(... dan itulah yang saya lakukan ketika terdampar di Necropolis da Bastard ini...)

Diantara buku-buku fiksi (nggak) ilmiah, selain Fay Weldon (yang emang fiksi abis dan superultra feminist), mungkin ini buku paling feminis diantara novel fiksi lainnya. Salut deh saya sama Nenek Anne Si Beras yang bisa bikin cerita segini keren.

Katanya sih, dulu itu sebelum era masuknya agama-agama wahyu, para pagan menganggap kekuasaan tertinggi di alam adalah dewi, perempuan. Mungkin alasan utamanya adalah peran utama perempuan yang merawat, mengasuh, menjadi 'Madrasah Pertama bagi anak-anaknya', menjadi sumber kehidupan bagi jiwa-jiwa muda yang baru lahir, penjaga 'benteng pertahanan' ketika suami pergi berburu di zaman purba, something like that lah. Tapi dewi-dewi ini nggak menutup diri dari para pendampingnya, dewa-dewa, dan mereka mengatur secara setara. Indah lah pokoknya. Bener-bener kesetaraan.

Andai dunia bisa seperti itu sekarang...

Di buku ini, The Queen of The Damned punya mimpi untuk menjadikan dunia yang dikuasai perempuan. New World Order dengan rasa feminin. Menurutnya, sifat kekerasan muncul dari laki-laki. Pemerkosaan, agresi, penaklukan, kejahatan, itu semua produk dari budaya dan kebiasaan lelaki. Maka dia menghabisi hampir semua laki-laki yang dia temui dan menyisakan segelintir dari mereka dengan tujuan keberlangsungan hidup dan rekreasi bagi perempuan.

Tapi saya bangga menjadi perempuan. Dan, saya tegaskan sekali lagi, dengan segala kekuatan dan kemampuan perempuan untuk bisa berdiri dan jadi diri sendiri, saya menganggap laki-laki tidak lebih dari dildo dengan biaya maintenance tinggi. No offense, lelaki. Saya tetap jadi penikmat nomer satu atas tubuh kalian yang liat, berkeringat, macho, menguarkan feromon berdayapancar tinggi yang sanggup membuat saya mengawang dan membayangkan yang iya-iya, tapi kalian tetap tertatih-tatih ketika bicara dengan saya.

(=

Labels:

Mandi! Mandi! Mandi!

Posted by The Bitch on 6/18/2007 03:37:00 AM

Bayangkan: pukul dua dinihari, seorang perempuan berambut basah dan kulit yang masih lembap menguar aroma sabun Cusson's Imperial Leather putih dari tubuhnya serta Cusson's Baby Shampoo peach dari kepalanya, berpiyama katun biru muda dan kaos gombrang senada, duduk bersila di depan mesin tik kelurahan, berteman hentakan Staind, kopi kental dan rokok. Dunia sekelilingnya lenyap. Dia hanya punya saat itu. Waktu itu. Dia hanya hidup untuk itu.

Sebagai perempuan mungkin saya adalah yang paling kemproh yang pernah kalian kenal. Saya sering nggak mandi. Buat saya, mandi itu diperlukan jika saya hendak keluar rumah. Jika saya sedang semedi berhari-hari dengan buku tanpa perlu menyapa dunia, ya saya nggak mandi.

Tapi mandi sebagai terapi sering saya lakukan. Apalagi ketika kepala penat dan otak sekarat. Yang paling menyenangkan adalah mandi di tempat saya bermain ini (baca: kantor). Disini ada tiga kamar mandi dengan fasilitas hotel minus bathtub. Saya suka 'sauna' disini. Saya putar keran air panas hingga kulit punggung rasanya tersengat. Saya nikmati sakit yang membuka semua pori-pori saya. Rasanya semua masalah turut menguap bersama hilangnya sebagian panas tubuh. Setelah saya merasa cukup, mendadak saya putar keran agar air dingin mengalir. Meski rada kaget, tapi rasanya menyegarkan sekali. Waktu Pak Bos saya tau kebiasaan ini, dengan senyum jahil tapi prihatin dia berkata: Selamat! Kamu bakal mati muda!

Saya sering dapat 'wangsit' dan jadi diri saya sendiri saat mandi. Seiring dengan jatuhnya air ke kepala serta mulut saya yang hampir tanpa henti ber-toilet orkestra mulai dari lagu-lagunya Harem Scarem, Katon Bagaskara, Dream Theater hingga Kitaro, ide-ide berlompatan muncul di kepala. Tapi saat ritual itu selesai, saya lengkap berbaju dan pintu kamar mandi dibuka, anehnya, semua hilang lagi. Sayangnya saya belum cukup gila untuk bawa laptop ke kamar mandi. Dem!

Jadi, moral of this posting adalah: Hey! Saya abis mandi!

Bwek!

*Insert 'Lady of Dreams by Kitaro' here*

Labels:

The Judgement

Posted by The Bitch on 6/17/2007 03:23:00 AM

Tentang dia-yang-namanya-tidak-boleh-disebut, yang pernah mengisi tiap relung jiwa-raga saya; yang pernah memenuhi rongga hati saya penuh-penuh; yang pernah menjadi monumen penaklukan sekaligus penyerahan total saya; yang pernah menjadi pulang saya; yang pernah menjadi pemegang seluruh saham yang di bagian atasnya tertulis dengan lima huruf berwarna merah marun berlafal C I N T A ...

Saya sudah merasa cukup. Karena ternyata ke-aku-an kamu tidak mampu menampung apa yang sudah saya raih: Pemahaman baru.

Maaf.
Mungkin latar belakang, keluarga, pengalaman, dan apapun yang pernah saya dan kamu alami amat sangat bertolak belakang. Karena apa yang berusaha saya jelaskan ke kamu seperti membentur dinding atau mental layaknya menghantam tembok karet. Meski saya sudah berusaha selama lima taun lebih.

Terima kasih.
Kamu telah menjadi (apa yang saya pikir) sahabat, guru, abang, penasihat psikologis, ojek, serverman kantor, dan apapun yang saya inginkan. Mungkin saya yang meminta terlalu banyak. Atau kamu yang tidak bisa menahan perasaanmu sendiri.

Sekali lagi, saya sudah merasa cukup berurusan dengan kamu. Saya sudah cukup dihakimi untuk sesuatu yang hanya kamu baca dari judul tanpa tau apa isinya, literally. Mungkin apa yang kamu hadapi selama ini, tanpa ada saya yang ngerusuhi, sudah membuat kamu berubah begini banyak. Atau kamu hanya menjadi siapa dirimu sesungguhnya? Saya tidak tau, tidak mau tau dan tidak akan pernah tau.

Some things are better left unsaid. And revenge is a dessert better served cold. You've got your revenge. Fuck you very much (=


ps: Still I've got my luck, as my Phoenix Brotha #2 said: You know how he felt for you now. You know how pathetic he is, blinded by his own fanaticism and still pointing at you being fanatic yourself. And yes, I AM still a filthy, damned, lucky bitch as always! *evilgrins*

Labels:

A Damned, Filthy, Lucky Bitch

Posted by The Bitch on 6/14/2007 01:08:00 PM

... dan semua dijadikanNya indah pada waktunya...

Belakangan ini saya baru sadar betapa dada saya sesak dengan perasaan melimpah-ruah yang datang bergemuruh layaknya tsunami. Saya jadi nggak punya keinginan apapun karena semua sudah terpenuhi, bahkan hampir berlebih. Saat saya perlu ponsel, saya bisa dapatkan amat mudahnya dengan harga 'teman'. Ketika saya ambruk, saya disemangati orang yang tidak dikenal. Waktu saya meragu, saya dikuatkan dengan opini-opini tersembunyi yang bahkan saya tidak tau itu ada. Hingga ke detail terkecil--ketika saya perlu sarana pelepas karat otak, tiba-tiba mesin tik kelurahan ini--yang saya sebut dengan panggilan sayang: Si Dino(saurus saking berat dan kunonya)--selalu nongkrong 24/7 di kamar kos saya. Dan ketika dia ngadat pun saya bisa dengan gampang membetulkannya ke seseorang, free of charge, meski makan waktu dari jam 20.30 hingga pukul enam pagi berbonus cumi goreng mentega.

Kemudian ketika saya perlu pengalih perhatian dari luka dalam bernanah kronis yang susah sembuh, saya malah diberi dua. Baik-baik, ganteng-ganteng, dan tidak saling mengenal. Ketika saya krisis eksistensi, selalu ada manusia sesat yang perlu pencerahan nyleneh dan membuat saya merasa dibutuhkan. Saat saya sekarat, selalu ada seseorang yang merelakan energinya terlepas agar saya kembali hidup. Meskipun hanya lewat suara selama hampir empat jam. Dan saya selalu menyaksikan momen-momen spesial dari semuanya, dimana hanya saya, dia, dan Tuhan yang tau.

Rasanya kok nggak adil bagi orang-orang diluar lingkaran saya. Mereka jumpalitan berusaha meraih setitik dari apa yang dihadirkan mak bedunduk ujug-ujug glodak ke depan muka saya. Everything has its price. Saya takut jika suatu hari nanti semua itu terenggut dan saya tidak bisa apa-apa karena daya survival saya menumpul.

Menurut salah satu malaikat tanpa sayap yang sekarang tinggal di Jogja sana, saya sedang menuai hasil dari apa yang saya perjuangkan di masa lalu. Padahal dulu pun saya telah banyak diberi kemudahan. Rasanya orang-orang di sekeliling saya berhak marah, iri, benci, dan memusuhi saya karena keberuntungan mereka saya sedot habis-habisan.

Mungkin saat ini spotlight sedang berada tepat di muka saya dan penonton menunggu saya melakukan kesalahan konyol.

Sudah lah. Nikmati saja (=


ps: makasih ya, Han. Saya tau Kamu sayang saya, memperhatikan saya, dan selalu dekat bahkan dari nadi leher saya sendiri. Tapi jangan lama-lama. Kamu tau saya demam panggung.

Labels:

My Countless Orgasm

Posted by The Bitch on 6/13/2007 03:18:00 AM


Akhirnya...
Setelah 2 taun (iya! Du wa ta wun!) ini buku terbit juga. Puasss... Saya puas sekali. Meskipun katanya ada sedikit misunderstanding waktu buku ini diterbitkan.

Saya ingat gimana berdarah-darahnya dia saya selami. Betapa keloro-loro hati saya mengetahui kenyataan pahit yang menimpa satu negara, tanpa dunia bisa berbuat apa-apa. Amarah hanya dapat saya tumpahkan ke manusia ini yang selalu menyempatkan diri menyediakan telinga dan hati untuk saya--sebelum beliau beranjak ke peraduannya dan membuat suara-suara aneh hingga mencapai langit--dan saya diserahkan berjaga.

Jujur (dan ini paling mentok saya jujur-jujuran), saya menangis waktu itu. Berkali-kali. Sempat terpikir untuk menghentikannya di tengah jalan karena saya hampir nggak kuat bahkan membaca sebaris saja. Tapi apa nanti yang saya dapat? Bahkan Tuhan pun tidak kerja setengah. Meski saya bukan Tuhan, saya tidak ingin bekerja setengah-setengah.

Saya hanya ingin menjadi penyambung informasi dan fakta bahwa ada sebuah wilayah yang penduduknya bertaun-taun menderita, terusir, berusaha menggenggam apa yang kemudian direnggut (dengan dalih kitab suci), tanpa belas sama sekali. Disana memang bukan Indonesia yang (katanya) gemah ripah loh jinawi, yang pemimpinnya adigang-adigung-adiguna (dan semua adi yang ada di langit dan di bumi) dan apa lah namanya, tapi nasib rakyatnya nggak jauh beda dengan yang disana.

*sigh*

Kenapa saya repot?
Take a closer look and read the word after 'Penerjemah' in the image below.




















Itu saya.



ps: Makasih untuk Mbak Fit dan Maz Lantip. Juga A' Anat untuk penggalan puisinya. Dan Maz Bek untuk kesabarannya...

Labels:

Semacam Disclaimer

Posted by The Bitch on 6/11/2007 04:44:00 AM

Saya nggak akan menggunakan apapun yang berwarna pink, jambon, merah muda, atau apapunlah sebutannya KECUALI bra dan celana dalam karena kedua benda tersebut tidak terlihat dari luar dan kebetulan paling murah diantara barang-barang diskon lainnya.

Jadi...

Jangan paksa saya menuruti keinginanmu untuk jadi bulan-bulanan setiap saya menerima SMS atau telepon karena ponsel saya pink. Maaf, pemilihan apapun buat saya adalah sama seperti ideologi. Maaf karena saya menolak ditertawakan akibat ponsel berwarna jambon. Maaf karena ponsel pilihan saya lebih murah seratus lima puluh ribu rupiah dan saya sama sekali tidak kecewa karenanya. Meskipun saya tidak mendapatkan USB, kabel data, dan lain-lain. Meskipun menurut banyak orang saya merugi.

Saya hanya berharap agar kamu dapat menghargai pilihan orang lain dan tidak memaksakan keinginanmu. Tidak semua hal bisa kamu nilai dengan nominal. Ponsel pink sekalipun. Karena itu saya teriak "Shut up!" di depan mukamu.

... dan rasanya seperti orgasme berkali-kali ketika kamu tersentak, wajahmu mengeras, mulutmu terdiam, dan kamu balik kanan bubar jalan dan tidak bicara pada saya hingga di ujung hari. I'm a bad girl. FYI.

*Insert 'Korn - Did My Time' here*

Labels:

Rehat

Posted by The Bitch on 6/11/2007 04:07:00 AM

Lagi baca Queen of the Damned. Entah kenapa saya merasa ada kesamaan antara saya dan mahluk-mahluk immortal di dalam cerita itu. Kecuali kekuatan luar biasa dan kehausan akan darah, tentunya. Mungkin masalah jam biologis?

Ya, saya sadar bahwa saya mahluk nocturnal yang aktif malam hari. Barusan saya lewat kamar teman saya, karena saya harus melongok gerbang dan harus keluar sejam lagi. Mungkin teman saya itu khawatir ada mahluk selain manusia atau kucing piaraan ibu kos yang melintas depan peraduannya. Ketika dia buka pintu dan melihat saya (wajahnya menunjukkan kelegaan, saya yakin itu), dia membentak, "Heh! Tidur! Udah jam berapa ini?!"Saya cuma nyengir.

Btw, terimakasih coklat panasnya ya, Sayang. Bener-bener berenergi dan mampu bikin saya ngetik satu posting di tengah kerjaan kejar setoran!

Labels:

Alert!

Posted by The Bitch on 6/10/2007 05:04:00 AM

Based on my experience, the most dangerous person in the world is the one who gives you much compliments. Those words could lull you to sleep, lift your feet up from the solid ground, take you to the seventh heaven, make you feel like the best person in the world, you name it.

Especially when all you get is only swearing for almost all of your waking life.

Jadi...
Be very, very, careful with people who says nice things to you, four times in only two and a half hour.

Haha!

Sowi, Bang Robin. No Offense (=

Labels:

Conclusion

Posted by The Bitch on 6/10/2007 04:16:00 AM

Let me taste my own blood from my torn lips or swallowing my own teeth when I smashed face first on the hard asphalt as I dropped from 13-storey building. Let me hear my skull cracking and collect the scattered pieces afterward. I need to feel the pain. I need to be alive. I need to feel the mixture of pain, pleasure, desire and hate at the same time to feel alive. I want to be ALIVE!



Why is it so damn hard to understand?!





*Kutipan dari salah satu kejadian fucked up di taman bermain sebelah. Seperti datang dari berabad-abad lalu. Nggak taunya baru dua bulan*

Labels:

Illumination

Posted by The Bitch on 6/09/2007 11:28:00 PM

Pada suatu masa hidup seorang kakek bijak yang dari perenungannya muncul satu kesimpulan: Cogito Ergo Sum. I think, therefore I am.

Beberapa abad setelahnya, ada seorang perempuan berotak rada fucked up (menurut dia, sementara menurut orang lain dia sering dibilang nggak waras) yang terpesona pada pemikiran si kakek dan menjadikan kesimpulan itu sebagai pegangan hidupnya setiap detik. Karena di balik otak fucked up-nya itu, perempuan ini berusaha menjadi manusia yang di kitab-kitab suci sering disebut sebagai mahluk termulia di jagad raya dan pembawa berkah bagi seluruh mahluk lainnya.

Kemudian perempuan ini bertemu seorang malaikat yang menyerupai setan perusak pikiran. Dikenalkannya dia pada 'Tiga Dewa Prejudice' yang bernama Nietszche, Marx, dan Freud. Melalui buah pemikiran tiga kakek ter-fucked up sepanjang sejarah karena berani-beraninya mengguncang tempat mapan kakek Descartes di dalam otak si perempuan, dengan beda masa yang lumayan jauh, si perempuan ini diyakinkan bahwa manusia dikuasai oleh hasrat berkuasa, hukum ekonomis, dan libido.

Dan proses pembongkaran dasar dimulailah...

Pengkafiran, menurut si setan.

Terbukanya gerbang wawasan baru, menurut saya (=



ps: Makasih ya, Maz! Ga cuma mulutmu yang busuk, eksesmu juga busuk. Dan busuk adalah saya.

Labels:

Ngomyang Part Sekian

Posted by The Bitch on 6/09/2007 01:50:00 AM

Ugh...
Jadi gini ya kerjaannya orang pi ar. Mengumbar senyum, lobi-lobi, pasang tampang manis menyenangkan macam anak anjing, say hi sana-sini, telepon-telepon sok penting...

Yet, aren't we all...? Sepertinya disini, di kota ini, semua 'menjual' dan 'membeli' sesuatu. Hubungan bukan berdasar ketulusan tapi hanya murni kebutuhan akan materi, akan networking, akan koneksi.

Sungguh...
Cara bersosialisasi yang aneh...

)=

Labels:

Back to Basic

Posted by The Bitch on 6/07/2007 10:23:00 PM


Jadi, gini lah bentuk dan tampilan taman bermain ini kemarin (tunjuk-tunjuk ke gambar). Ga nyangka, fans-fans gwa banyak yang ribut dan protes. Haha! *nyengir iblis*

Ya udah. Gwa balikin lagi deh ke awal. Sok sanah pada komen. Puas-puasin. Disini mah bebas. Apa sih yang ga boleh ama gwa mah.

Matur nuwun sanget sedoyo. Nggak nyangka bakal dapet tegoran segitu heboh.

Xixixi...

Labels:

I'd be Blessed

Posted by The Bitch on 6/07/2007 01:34:00 AM

Saya nggak pernah tau kenapa saya bisa seberuntung ini. Bisa punya beberapa lingkaran yang kadang pedulinya ga ketulungan; punya teman-teman yang baik bak malaikat penolong di saat kesusahan; sering bisa menemukan celah ga sengaja di masa paling sulit sekalipun; dan selalu merasa terpenuhi dalam segala kebutuhan.

Rasanya jahat sekali, ketika banyak orang tertimpa bencana saya malah terberi anugerah. Saya ingin berbagi. Sungguh. Menyerahkan semua pemberian ini kepada yang memerlukan. Perlu teman, terutama. Karena, meskipun tidak banyak teman saya, mereka adalah manusia-manusia setengah dewa yang mungkin dapat mengabulkan permintaan apapun.

Lagi-lagi, nikmat mana lagi yang akan kamu dustakan, Nduk...?


ps: mucho gracias untuk seseorang yang telah memberi saya ransel dan tumpangan hingga ke depan pintu. Setelah bertahun-tahun, kamu tau saya berjuang sangat kerasnya...

Labels:

Finally!

Posted by The Bitch on 6/06/2007 04:04:00 AM

Ada juga yang mau acak-acak layout gwa. Haha! Makasih ya, A'!!!

*hugs and kisses dari jauh*


(=


ps: ini layout yg bikin anak es em pe getoloh!!!

Labels:

R E H A T

Posted by The Bitch on 6/05/2007 07:29:00 PM

Ketika otakmu penuh, tubuhmu penat, matamu lelah, perutmu kelaparan, telingamu pekak dan jarimu hampir keriting akibat mengetik dan kupipes hingga pagi hampir menjelang, tidak ada satupun yang bisa mengobati itu semua kecuali mi goreng dan susu hangat made in anak kos.

A piece of heaven that I made myself...

(=

Labels:

Moments to Remember

Posted by The Bitch on 6/04/2007 02:21:00 PM

Seorang ibu funky yang membesarkan anak-anaknya sendirian sedang menikmati liburan, duduk di tepi taman padat pengunjung dan menunggu buah hati berputar-putar dengan binatang tunggangan, mengenakan halter top berpunggung setengah terbuka, merokok dan tertawa bersama perempuan lainnya, mengudap penganan ringan pengganjal perut sesaat, menyantap es krim di terik matahari dan merasa semua baik-baik saja, terlepas ada beberapa pasang mata lelaki melotot menatap kulit putihnya yang terbuka. Layaknya mercu suar di tengah kabut laut, kami berbeda di gerumbul keramaian berkomposisi default: ibu, ayah, anak-anak, kakek-nenek.

Saya tersanjung terlibat dalam pengalaman paling intim, dengan rasa yang juga sangat intim ini: berbagi kasih sayang dengan orang-orang terdekatnya.

Dan laki-laki yang ada di lingkaran kami hanyalah seorang bocah tengil ganteng usia delapan yang bahkan nggak ada satu penculik pun yang mau saking tengilnya.

Mudah-mudahan saya akan sering kembali dan mengitik-itik perempuan kecil lain yang ekspresinya seperti selalu berpikir dengan alis yang bertaut itu...

(=



ps: makasih ya Mih...
pps: boker sambil baca sambil ngerokok sambil ditemenin Mix Max Vodka waktu sakit perut mendera akibat alergi kepiting itu lumayan menyenangkan.

Labels: