"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

By the River Piedra...

Posted by The Bitch on 5/28/2007 03:25:00 PM

Saya nggak akan duduk dan tersedu. Weeping is for lamer only.

Ada sebuah legenda bahwa Sungai Piedra begitu dingin sehingga apapun yang jatuh ke dalamnya--dedaunan, serangga, bulu burung--berubah menjadi batu.

Nggak seperti Pilar yang ingin merenggut hatinya dan mencemplungkan ke dalam sungai itu, saya ingin mencemplungkan diri utuh-utuh ke dalamnya. Masuk lebih jauh, bersilaturahmi dengan dedaunan, serangga dan bulu burung dalam diam, berbagi keheningan bersama, dan berharap tak akan ada sesuatupun mengusik kedamaian kami.

Maaf, duhai cahaya. Kamu (lagi-lagi) terlalu membutakan. Saya akan kembali retreat, mundur teratur.


ps: terima kasih, Eyang Coelho. Buku-buku tentang cinta yang Anda buat memang indah. Tapi saya punya cinta dengan definisi saya sendiri yang nggak akan sanggup Anda tulis saking kelamnya.

Labels:

Di Suatu Siang

Posted by The Bitch on 5/22/2007 03:12:00 PM

Apa salahnya System of A Down, Korn, Dream Theater, Yngwie dan Hetfield dkk disetel siang-siang panas tengah hari bolong, dalam ruangan ber-AC dan sejuk, dengan volume rada kenceng, dibarengi dengan secangkir hot black coffee dan berfungsi sebagai dopping ngerjain tugas yang segambreng?

Maaf ya... Saya ngantuk!

Labels:

Mission: Saturday Nite Date

Posted by The Bitch on 5/20/2007 09:41:00 PM

It was quite fun meeting someone as antisocial as I am. Apalagi kalo manusianya itu sangat, sangat gentleman-like. It's been centuries that I hadn't been treated like a lady. Halah!

Sebenernya saya sih yang semena-mena menyebut ketemuan kami sebagai date. ("Oke, kita ketemuan disini, jam segini, tanggal segini. Deal? Done. It's a date! Haha!" *nyengir iblis*) Padahal ya biasa-biasa aja. Makan gorengan dan es krim ampe kenyang tanpa terhalang radang tenggorok yang sudah melindap tiga hari, lalu pindah tongkrongan, icip-icip 'madu bersoda' di TIM yang kalo kebanyakan diminum bisa tepar ampe jackpot dan merokok hampir sebungkus. Lagi-lagi tanpa mempedulikan tenggorokan laknat saya. Cuma segitu aja. Padahal The Yogi sedang menunggu hanya beberapa meter dari tempat saya berdiam, ingin berusaha memperbaiki kondisi kesehatan saya sebisanya sambil genjrang-genjreng di tempat teman lamanya yang kebetulan tinggal dekat saya (Pempek Pak Raden - Jl Dwijaya cuma 200 meter padahal).

Tapi kami membicarakan (hampir) semuanya; tentang esensi menjadi manusia, standar nilai saya dan dia, bagaimana menghadapi hidup, pekerjaan dan lingkungan, dan bertarung dengan diri sendiri. Tapi penuh ketawa-ketawa. Untuk seorang yang antisosial, dia adalah manusia ramah. Dan amat sangat cerdas serta kalem.

Yang bikin saya tercengang adalah dia amat sangat mengenal saya lewat kata-kata yang saya tumpahkan di halaman bermain saya ini. Dan dia ingat! Saya pikir saya sudah siap lahir-batin ketika saya memutuskan untuk mem-broadcast sedikit kehidupan saya di tempat ini. Tapi yah... tergeblek-geblek juga jadinya ketika saya tau bahwa si abang itu bahkan mengerti betul entri saya 3 bulan yang lalu. Dia bisa langsung menyebut dengan tepat teman-teman saya yang tidak satu komunitas dengannya tapi pernah saya singgung di beberapa posting. Dia seperti menyelami perasaan saya dengan Si Maz dulu. Semacam kaget juga saya. Tapi tetap menyenangkan kok.

Nggak papa, Bang. Saya tersanjung kamu mengenal saya sebegitu dalam meski cuma lewat makian. Dan saya masih gugup dipuji karena saya terbiasa dipisuhi. Kapanpun kamu perlu teman, mari kita nongkrong-nongkrong lagi dan bicara tentang bagaimana mencoba menjalani hidup masing-masing dengan keluar dari zona aman secara bahagia (=


ps: Hey, KAMU!!! Jangan nge-gem dan malas terus! Kerjakan PR sekarang!!! Haha! (Saya tau kamu bakal baca posting ini dan ketawa-ketawa juga. Bwek!)

Labels:

Tentang Perempuan

Posted by The Bitch on 5/20/2007 04:03:00 AM

Uhm... Ini agak nakal. Siap-siap.

Jadi gini...
Kemarin simbak yang 'indah' itu--dengan bibir penuh, merah dan basah, kaki ramping, pinggul bohay, dada besar yang seperti mencoba berontak ketika dia mengenakan blus berkancing--nunjukin satu site yang isinya lagu anak-anak dari berbagai negara. Dia lagi 'panas' sama Tompi yang bilang kalo lagu Balonku yang melegenda itu salah kaprah. Tompi bersikeras bahwa tidak ada balon hijau tapi kenapa balon hijau yang meletus? Dan di site itu balon hijau jelas-jelas disebutkan (ironis, karena itu site luar. Bukan site Indonesia). Dia concern banget karena dia punya balita lelaki yang lucu dan menyenangkan dan dia minta saya nulis ke Tompi supaya masalah yang bengkok ini bisa lurus. Demi seluruh anak bangsa!

Ketika saya sedang menunggu items website loading semua, dia bersandar di punggung saya. Mau gerak kok ya gak enak sama simbak. Tapi kalo didiemin ya kayaknya... risih juga sih. Soalnya dadanya menempel lekat di punggung saya. Damn! I could feel them, man! Seperti ada kenyal-kenyal dan menonjol menekan bagian belakang saya. Saya jadi tau gimana perasaan cowok-cowok bermotor di Jogja yang kalo Malem Minggu cewek-ceweknya laksana tas ransel jadi-jadian membonceng di belakang. Yah... pantes aja kata Ustad Iip 97% mahasiswi Jogja udah nggak perawan. Mungkin setelah mas-mas itu sudah 'merasakannya', mereka minta pembuktian. Seeing is believing, you know. And one thing leads to another. Silahkan simpulkan sendiri.

Wait!
Jangan kalian pikir orientasi seksual saya menyimpang. Meskipun gaya saya macem Butchy (dan pernah dipertanyakan waktu masuk Centro), tapi saya heteroseksual tulen (meskipun belum pernah membuktikannya secara fisik). Saya hanya mengagumi para perempuan indah yang rela bersusah-susah menjaga dan merawat keindahan tersebut. Kalian, laki-laki, nggak pernah tau betapa rumit dan penuh perjuangannya para perempuan merawat semua itu. Kecuali saya, tentu, karena saya percaya kulit muka dan pantat itu sama saja jadi nggak perlu ada sabun yang beda di kedua tempat tersebut.

Misalnya kemarin, iseng buka Yahoo, dan ada berita tentang Butt Facial (dimana letak mukanya ya?) untuk bokong yang turun atau tepos supaya 'you'll look good in your bathing suit this summer'. Dan waktu saya di Jogja, saya pernah ndomblong semenit penuh ketika temen kos saya ngasih tau bahwa dia sedang memakai masker nenen dibalik kaus longgarnya. Di list bedah kosmetik, selain implant solikin di susu dan pantat, implant dan keriting bulu mata biar lentik, kupas bibir supaya merah dadu, suntik Botox yang bikin kamu nggak berkerut dan tetap awet muda (tapi sakit luar biasa), ada yang namanya potong rahang (iya! R A H A N G ! Jaw! Bagian di mukamu dimana geligi tertanam). Gila! Membayangkan bunyi gergaji di wajah saya saja sudah bikin ngilu ke ubun-ubun. Atau olesan Minyak Bulus yang baunya ngaujubillah tapi (katanya) berkhasiat bikin toket mengkal dan tegak melawan gaya gravitasi. Ada lagi jamu/obat untuk menghilangkan pantat item (kita ngomongin dandang ya?) atau tanda melahirkan. Atau macam-macam jejamuan langu dan bacin dan pahit luarbiasa yang bisa bikin vagina rapet dan legit (saya bertanya-tanya apakah yang dibilang legit itu dalam hal bentuk atau rasa? Karena yang saya bayangkan adalah lapis legit). Ada lagi olesan-olesan di wajah yang harus dipake kontinyu selama seminggu dan awalnya bikin muka seperti terbakar, merah dan meradang; untuk mendapatkan hasil putih mulus merona setelah 30 hari pemakaian tanpa putus. Atau, yang paling sederhana: cabut alis. Saya pernah melakukannya waktu SMA dulu. Cuma berhasil nyabut 3 lembar untuk masing-masing alis, itupun udah pakek alkohol dan cara yang benar, sesuai arah tumbuh. Tapi tetep aja nangis-nangis bombay macem ABG kehilangan perawan sama om-om yang bayarannya kurang.

Saya jadi mikir, betapa beruntungnya para perempuan yang dilahirkan dengan payudara besar-kenyal-tegak, pinggang kecil, pinggul bulat, kaki ramping, bibir merah-penuh-basah, mata besar, bulu mata lentik, alis rapi dan teratur, hidung mbangir dan halus, geligi rapi berbentuk seperti biji mentimun, tulang pipi tinggi, rambut tebal lurus, leher jenjang, jemari panjang dan lembut, kulit putih segar mulus, serta bokong kencang nan semok. Karena dengan itu semua dia jadi cantik dan bisa dapatkan semua yang dia inginkan... asal punya otak! Tapi mungkin Dia Yang Maha itu--termasuk Maha Lucu dengan sarkas dan satire-Nya yang kejam tapi kocak--sengaja bikin yang nggak sempurna, supaya manusia ciptaanNya bisa memodifikasi sesuai dengan nilai estetis yang berbeda di tiap zaman dan wilayah.

No pain, no gain. Itu saya percaya. The greater the pain, the more you gain. Itu juga saya percaya. Tapi dari hasil mati-matian mempercantik diri itu apa mereka bener-bener dapetin greater that life could offer? It lays only between your ears, baby. Indeed.


[Dedicated to Ilse, The Netherlander that I've known for only three months but left a humonguous footprints in my life. I hope you'd become a great anthropologist one of these days]

Labels:

Frenemies

Posted by The Bitch on 5/20/2007 03:11:00 AM

Okay. I'm changing. Haha. Big news. To something good? Can't tell yet.

But one thing for sure: entah kenapa trauma itu masih belum hilang, meski lumayan terkikis sedikit demi sedikit. Hey. Ini bukan barang baru. Mungkin memang saya yang sudah lelah atau alam hanya memberi apa yang saya perlukan. Atau keduanya bersinergi dan jadilah...

Dia.
Manusia tanpa wajah tanpa wujud dan hanya saya temui dalam teks-teks panjang nan responsif yang saya sambangi hampir tiap hari (dan malam) dalam sebulan terakhir. Saya nggak tau kutukan apa yang menarik dia ke saya. Yang saya tau hanya bahwa dia membeberkan apa yang selama ini saya takuti: keluar dari gua hibernasi saya (yang baru-baru ini juga berani saya ungkap, thanks to him) dan menghadapi terang dan hangatnya matahari musim semi.

Saya benci dia. Saya benci kelancangannya membuka katup penahan derasnya lelehan otak saya yang berkarat dan membuncah keluar. Saya benci kesongongannya masuk ke dalam waktu-waktu tenggat saya--yang tidak bisa saya kerjakan tanpa ada 'dopping'--dan ada disana ketika beban mental dan beban pekerjaan bertingkah meminta perhatian. Saya benci kepatuhannya untuk menghilang ketika saya berteriak 'Pergi!' dan merasa kosong setelah dia tiada. Saya benci kesabarannya mencari dan mengirimkan apa yang saya suka. Saya benci kebaikannya yang selalu berusaha membantu semua masalah saya--termasuk formula excel yang amburadul akibat ulah saya sendiri. Saya benci karena dia selalu punya waktu untuk saya.

Tapi dia teman saya terbaik saat ini.
Karena ketika saya lungkrah, kata-katanya datang seperti mijiti. Ketika pandangan mata saya kabur, dia ada untuk menuntun saya. Ketika saya salah, dia berani mengatakannya--dengan eyel-eyelan panjang sekalipun. Ketika saya bego, dia nggak pernah mentertawakan saya. Ketika saya takut, dia memberi alasan-alasan untuk tidak takut. Dan semua terjadi hanya dalam sebulan.

Saya sungguh nggak tau apa tujuannya; malaikat yang tidak sombong dan baik budi bahasa (karena dia tidak suka misuh tapi nrimo dipisuhi) kok ya mau-maunya bergaul dengan saya, iblis laknat nan bitchy dan nggak punya tata krama yang selalu kembali ke neraka ketika melepaskan diri dari alam semesta cyber. Di pikiran saya yang kartun tapi gelap, dia adalah Lucifer insap yang lelah hidup ribuan tahun dan mencoba mendapatkan namanya kembali dengan cara menebus semua kebejatan dan bersedia jadi provider untuk orang-orang yang memerlukan. Well, if you live that long, there's nothing you haven't been through. One scar (or a psycho girl in this case) won't even hurt you. Maka jadilah.

Saya nggak tau apakah Tuhan berkata Kun Fayakun ketika mencipta skenario ini. But let there be, Sweet Lord. Let there be. I kinda like it.


ps: I miss you, Han. Namun saya terlalu sombong dan takut bertemu Kamu. Saya khawatir Kamu menolak karena saya nggak cukup bersih ketika menghadap. Tapi terima kasih karena mengirimkan utusanMu untuk mengingatkan bahwa Kamu masih peduli sama saya... (=

pps: Maaf, saya kurang tanggap bahwa selama ini saya dikelilingi malaikat-malaikat tanpa sayap. Bahkan saya baru sadar ada malaikat yang satu ruangan dengan saya, yang hampir tiap sore menyuapkan sebongkah surga dalam bentuk roti isi coklat atau keju. Saya juga berterimakasih untuk itu, Han.

*Frenemies adalah salah satu judul episode Sex and the City season 3 yang saya tonton marathon beberapa hari lalu. Arti sesungguhnya adalah teman (friend) yang berbalik jadi musuh (enemy) dan backstabbing. Buat saya, dia adalah musuh yang berbalik jadi teman dan menyediakan diri di backstab. Gila kan?! Hare gene getoloh!!!

Btw, kamu tau siapa kamu.

Labels:

-----Intermission-----

Posted by The Bitch on 5/17/2007 06:43:00 PM

Dimaki ama temen (yang dulunya) deket itu ternyata agak-agak traumatis juga, apalagi tentang sesuatu yang sama sekali nggak bisa gwa jelasin. Rasanya pintu besi seberat 1000 ton dengan tinggi 10 meter yang secara imajiner gwa bikin untuk melengkapi benteng berlapis (yang juga imajiner) pelindung diri dari duri-duri mawar di luar sana, langsung terhempas menutup tepat di depan muka gwa. BLAM!!!

Damn...

Kamu tau nggak? Mbangun benteng itu capek lho. Apalagi mempertahankannya sendirian. So, please. Leave me alone. I'm quite happy here. Visit me sometimes, but not all the time. OK?


[Dedicated to Mona Nakal. Thanx for the time, the understanding, the ears, and the MP3 files. You take care there, old man. You have no old lady to take care of you]

Labels:

Inside My Solitary Shell

Posted by The Bitch on 5/17/2007 06:23:00 PM

Saya selalu merasa di luar meskipun sendirian. Saya nggak pernah menutup diri. Hanya selalu lari dari jangkauan manusia lainnya, karena saya merasa belum sepenuhnya manusia.

Until one day...
Dunia sesak sekali. Semua hal yang terpapar di depan mata layaknya borok dengan perban bungkus kado kelap-kelip nan cantik namun busuk, bernanah dan anyir saat dibuka. Wajah-wajah itu seperti automaton yang syaraf mukanya hanya bergerak sesuai program yang di entri ke dalamnya. Nggak ada yang orisinal dan tulus.
Padahal saya perlu ketulusan, tanpa pretensi dan ekses, karena saya lelah berpolitik in every second of my waking life.

Lalu kesempatan mengenal lebih banyak wajah datang tiba-tiba. Yah... menyenangkan. Saya kembali belajar psikologi komunal. Urat tawa saya kembali bekerja dengan semestinya, memancing suara-suara dalam dari tenggorokan yang menjadi bahak menggelegar menandakan saya sedang menikmati waktu. Mata saya lagi-lagi dapat bekerja dalam kondisi normal, memandang ke kejauhan dan sekeliling dan bukan hanya layar 14" dengan pendar warna elektronik.

Menyenangkan...

Tapi entah kenapa saya merasa tidak disana. Semua ini terlalu bersinar, terlalu menyilaukan, terlalu bercahaya. Saya masih perlu bayang-bayang agar dapat bersembunyi dari terang yang membutakan. Saya perlu menutupi sesuatu yang saya hujat pada orang lain tapi sekaligus saya nikmati sendiri: borok busuk, bernanah dan anyir yang sama seperti di atas. Entah kenapa, saat menuliskan ini, saya membayangkan diri saya sebagai Gollum karena kami seperti memiliki kesamaan: i r o n i . Haha!

Lalu ada pertanyaan:
"Hey... What took you so long to coming out?"
Who says dat I'm coming out? I was just checking the weather and continuing my brain masturbation inside my hybernating cave... though I rarely sleeping.


*ini laporan kopdar! sungguh! klik aja link-nya. hehe...*

Labels:

Wonderland

Posted by The Bitch on 5/03/2007 02:35:00 PM

Hari ini majalan langganan kantor berdatangan, salah satunya adalah yang gambarnya ada di bawah ini.


Kecil-kecil udah ngeceng di majalah orang dewasa....


Pas lagi diliat-liat, ada sesuatu jatuh ke lantai. Bentuknya kayak gini nih.


Nice 3-Junction!


Bagian belakangnya kayak gini:


Stop drooling! You'll drown us all!!!


Setelah dibuka, dalemnya ternyata...



So, is it as official as a race that need
THIS as one of the supporting tools?


Lengkap dengan cara penggunaannya.


Read them carefully. Your life hangs by those.

Terus, terus...
Setelah cari-cari di lembaran majalah, ternyata 'paket' itu disinyalir jatuh dari lembaran ini:



Bagi duuuunk!

Gila! Keren banget! Sumpah! Konsepnya, artistiknya, semuanya! Gwa ga gitu ngerti iklan, tapi this is one of the hottest advertisement ever made in Indonesia!!!

...but still, mbak-mbak itu layaknya taman hiburan yang tiap lekuk tubuhnya menjajakan kesenangan...

Labels: