"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Yang Saya Minta Cuma Itu

Posted by The Bitch on 3/28/2007 07:58:00 PM

Sebut saya dalam setiap doa dan harapan, pada semua Tuhan semua agama yang dipercaya maupun tidak.
Pikirkan saya dalam setiap hal positif yang akan dipersatukan semesta dan sepersekian nano-nya bakal tersalur ke saya.
Ingat saya dalam sebuah mimpi indah dimana semua mahluk bisa bebas mengakses informasi dan berkuasa penuh atas kehendaknya tanpa mencederai hak orang lain (dan tidak ada sinetron, tentunya).
Kenang saya dalam senyum dan mari kita mentertawakan kebodohan, kesalahan, kekecewaan dan sakit yang pernah saya lakukan dan alami.
Masukkan saya dalam relung hati terdalam, hampir terlupakan, tapi akan (berusaha) selalu ada jika diperlukan.
Hidupkan saya dengan cerita indah dan pedih.
Bahagiakan saya dalam setiap proses.
Jernihkan saya yang buram.
Kaburkan saya yang muram.

Karena apa yang akan saya lakukan adalah bukan untuk saya.

[So help me God]


Ini sungguh jurnal dan refleksi harian untuk apa yang akan saya kerjakan di bulan-bulan mendatang.

ps: To Mamih My Germo, gwa tau, ada satu bagian yang paling lo suka! Haha! Betewe, hasil gwa jualan udah bisa kebeli mekbuk blun?

Labels:

The Price I've Got to Pay

Posted by The Bitch on 3/26/2007 12:12:00 AM

... for being somebody's secret mate on his journey to the next end:

Unrecognized, unknown, unadmitted and unlisted even in his website.
He has me only in his head. Feels like unexsist even to a man who says 'I need you', 'I feel like I have you', and 'don't go'.

Very well, then. This is a shout of protest to you about how you assassin my character. Or a sheer jealousy on how you put underage nobody in the list while I'm not. Haha!

Yet, I understand.

I DO really understand, since what we have is just what it is.

Sad but true. Kek lagu metalikah.

*sigh*


...and this post still bears the mark of...

Labels:

I 'Miss' You...

Posted by The Bitch on 3/23/2007 04:05:00 PM

Jadi gini...

Hari Jumat kemaren adalah puncak missunderstanding gwa dan temen seruangan sejak beberapa hari sebelumnya dan ujungnya kita diem-dieman. Karena gwa merasa punya dosa ama dia dan berusaha menghargai rasa sebelnya, ya gwa anteng aja kalo dia nggak ngomong duluan. Begitu terus... ampe beliau pulang.

Lalu Selasa kemaren...

I've done a lot of thinking selama long weekend (dengan cara bermalas-malasan di kamar kos selama hampir 2 hari penuh, menghabiskan 3 buku. Dipanggang dan dikecapin) dan berusaha menyemangati diri kalo hari ini Selasa dan bukan Senin, thus, nggak ada alasan untuk I Hate Monday. Si Maz juga amat sangat ngerepotin, sementara 'mainan-mainan' gwa begitu demanding tenggatnya. Jadi gwa dipaksa buat punya energi lebih. The truth is: Gwa ga pernah merasa se-multitasking itu sampe hari ini. Tapi ya... kok asik aja ya?


Ini yang asli. Emang cuma segini!

Padahal waktu gwa berangkat, 'What If's tu nggak abis-abis. Apalagi asumsi-asumsi yang (sok) beralasan dan berlatarbelakang, mirip skripsi. Ngaujubilah dah, kepala gwa penuh bet ama gituan! Yet, entah jin mana yang merasuki gwa, begitu liat mukanya yang cantik itu kok ndilalah gwa adem ayem aja ya? Kita juga akhirnya kayak biasa lagi, ngobrol-ngobrol masalah kerjaan dan keponakannya yang jail abis, cekikikan dengan tingkah mbak-mbak dan mas-mas sekeliling, nyela cewek-cewek yang berpose seksi di Maxim (gila, push-up bra-nya niat banget! Lu bandingin dong ama ukuran aslinya yang 'CUMA' segini!!!) dan ngakak bareng liat The Quest of Blood Diamond salah satu santri Tibet yang waktu acara ritual ke-gep lagi asyik ngupil.


Dibanding ama yang atas,
yang ini macem dibelah pakek
tongkat nabi musa...
lebar bet!

Dan situasi cair itu bertambah cair ketika acara Roti Sore mulai. Iya, dia emang kebiasaan ngemil sore. Bodinya mungkin gatel-gatel kalo sehari nggak kena cemilan, apalagi roti, karena dia certified as Miss Roti.


Leonardo DiKepruki di filem terbaru.
Nggak tau? Ga gaul deh lo!

Seperti biasa, dia sobek tu roti dan langsung diarahkan ke mulut gwa. Gebleknya, selesai nyuapin gitu dia ngomong, "Emang enak kemaren ga dapet roti..."

Mendadak roti nikmat (karena gratisan) yang udah di tenggorokan itu berasa seret. Ketelen nggak bisa, dimuntahin apalagi. Untung ada aer. Setelah berjuang beberapa detik dengan makanan setengah terkunyah yang nyangkut itu, gwa--dengan tampang super bego--ngeliatin dia.
"Lha?! Gwa pikir lo masih marah makanya diem aja."
"Kan gwa dah PM elu. Eh... malah ditinggal. Gwa buzz sekali, lo diem aja. Gwa bilang, 'Don't you think we need to talk?', lo malah kabur ke belakang, boker."
Langsung aja gwa cari Archive yang emang gwa simpen dan hapus otomatis tiap 10 hari.
"Bentar, bentar... gwa cari log-nya..."

Kutak-kutik, kutak-kutik... Voila! Ga ada sama sekali. Yang ke-record terakhir adalah tanggal 13 Maret sementara Jumat itu tanggal 16.

"See? Nggak ada. Brarti emang nggak masuk ke gwa PM-an lo."
Dia manggut-manggut.

"Ya... lucu aja sih, liat lo cuek gitu kemaren. Gwa udah pengen ketawa... 'Rasain lu ga dapet roti. Makanya jangan ngambek!', gitu pikir gwa..."

Hahahahahahahahahaha!!!

He eh! Gwa kangen roti dan wafer dan biscuit sticks dan nastar dan lumpia mini yang sering lo bawa ke kantor!

*Dezigh!*

Gilole! Gwa udah setengah mampooz cari akal gimana make up to you dan yang di pikiran lu cuma roti?! Huahahahahha!!! Ampooooon! Kapok gwa berantem ama lu lagi!!!

Labels:

A Shoutout to 844 Graduates

Posted by The Bitch on 3/23/2007 01:00:00 PM

Hey, kalian...

Inget nggak?

Dulu kita sering ngobrolin ksatria gagah berbaju zirah mengkilap dalam bentuk laki-laki ngemong, penyayang, tanggung jawab dan punya visi dan misi sama dalam menjalani hidup yang datang dan membuat utuh jiwa kita yang separuh.

Sempat suatu waktu kita mencetuskan gagasan-gagasan cemerlang mengenai bagaimana memperbaiki sistem negara yang bobrok disela-sela kegemasan kita 'mencabuti anggota tubuh halus yang tidak diinginkan'.

Lalu pernah kita bermalam di reservoir lantai tiga, berandai-andai akan jadi apa kamu dan saya nantinya sepuluh tahun mendatang sambil melihat bintang hingga adzan berkumandang. (Dan reservoir yang sama tidak hanya jadi saksi bisu tentang hati yang patah, mimpi tak terjangkau, tujuan yang gagal, dan airmata yang menyertai, tapi juga monumen penyembuhan bagi semua luka.)

Tanpa kenal capek, kita sering 'hunting' diskon baju dalam yang kita sepakati sebagai peninggi kepercayaan diri perempuan. Meski nggak keliatan.

Kemudian, as if it's the sanest thing in the whole universe, kita pernah ngantri di pasar swalayan sambil makan sekotak besar es krim dan cekikikan ngomongin paper dan dosen dan kerjaan lalu membayar wadah kosong berisi tiga sendok kotor sesampainya di kasir.

Mandi = ngobrol sambil jebar-jebur disekat dinding setinggi tiga meter dimana kita sering sharing shampoo dan sabun melampaui pembatas itu.

Malam Minggu adalah Musyawarah Besar ICMI (Ikatan Cewek-cewek Malming Ijen) di bawah bendera Ijo Lumut (Ikatan Jomblo Lucu dan Imut) dengan studi banding ke acara gratisan atau bedah buku di salah satu kamar. Atau hanya rapat nggak jelas.

When shit happens--entah itu hilangnya sebelah sendal atau setoples cemilan--maka all eyes on me, padahal dedengkot jahil cuma senyum-senyum pasang tampang innocent yang kita nggak percaya.

Ultah adalah digeretnya kamu beramai-ramai dan disiram air seember penuh di tengah malam buta nan dingin, lalu diketawain.

Saat pintu tertutup artinya kita sedang perlu sendirian dan--untungnya--itu jarang sekali terjadi.

Waktu salah satu dari kita mendadak jutek, penjelasan untuk semua pertanyaan adalah PMS.

Diet adalah sesuatu yang mesti kudu harus ditertawakan, tapi ketika kita merasa ditarik ke empat arah mata angin saat memakai celana favorit maka itu saatnya mengurangi porsi makan demi menekan biaya sandang.

Teriak dan nyanyi-nyanyi adalah cara kita berkomunikasi, jauh sebelum teknologi wireless communication tercipta.

Dan kalian tahu?
Saya rindu...

[thanx God to make a woman out of me because only women understand the beauty of such things...]

Labels:

The Value of Human Being

Posted by The Bitch on 3/21/2007 11:51:00 PM

Okay. Dia ganteng. Hanya dalam sekali lirik, semua perempuan suka sama gaya dan tampangnya yang kalem dan cool. Dimanapun, semua mata melihatnya. Yang lelaki karena (mungkin) iri sama pembawaan dan sex appeal yang memikat macam Adonis, membuat berpalingnya kepala-kepala entah milik perempuan heterosexual maupun lelaki yang... yah... gitu deh.

Tapi di kumpulannya sendiri dia tersisih, despite pengetahuan, posisi, status sosial dan 'isi' otaknya sekalipun. Bahkan ada beberapa orang yang berani mengancam secara fisik tanpa dia tau kesalahannya. Apa mungkin hanya karena dia ganteng?

Well, then. Beauty kills. Even when it happens to a man.

But there is more to life than just a look. There are things unrevealed with a sheer glance in the corner of the eyes.

Dan itu yang selalu gwa cari tau dalam (hampir) setiap pribadi. Masing-masing punya nilai yang lebih dari sekedar muka cakeup, tampang keren dan dandanan modis.

Mereka juga punya ketakutan. Dan mimpi.

Gwa amat sangat kagetnya ketika suatu waktu orang yang gwa anggap guru, kakak, bokap dan sahabat itu menuangkan dalam rangkaian pesan panjang di ponsel tentang kekhawatiran dan kesendiriannya, dimana teman yang dia punya hanya sebatas fungsi, bukan hati; sementara rumah baginya bukan lagi tempat tinggal para tetua melainkan metafor yang harus dia ciptakan sendiri. Dia bahkan masih sempat membuat analisa-analisa tajam terhadap diri gwa, tentang tempat kembali dimana gwa mungkin 'too sophisticated' untuk bareng keluarga serta mimpi tentang ruang dan waktu dimana dia merasa di rumah, pulang. Ternyata dia tetap manusia. Sama seperti gwa. Punya emosi, rasa khawatir, dan rindu 'rumah'.

Meski beda, kekhawatiran The Guru dan Si Ganteng dasarnya sama: rasa manusiawi yang membentuk mereka jadi manusia. Bedanya hanya dalam bersikap. The Guru konsisten dengan 'rumah' pilihannya dalam bentuk istri tempatnya pulang yang (setau gwa) nggak pernah mengeluh atau dikeluhkan. Si Ganteng masih punya tempat pengembaraan dan mimpi lain meskipun 'rumah' yang hampir sama telah dibangunnya selama hampir dua tahun ini. Dengan beberapa keluhan.

Dan gwa, anak nakal sok tau yang selalu jadi tumpahan omelan dan kebingungan dua manusia tersebut hanya tinggal menyerap, belajar dan mencoba bergerak maju sesuai velocity yang gwa mau. Based on their experience (tanpa mereka tau, tentunya! Ndak GR). And the big thing that I learn is: There is always responsibility in taking the consequences of the act based on my free will. Disitu (semoga) gwa bernilai.

Hey, pengalaman memang guru terbaik. Tapi yang paling baik adalah tidak mengalaminya sendiri melainkan berhasil 'ngeles' dari kejadian-kejadian nggak ngenakin. Kamu nggak perlu piara kambing untuk ngerasain enaknya sate kambing, kan?

=P


[dedicated to the Yogi and Si Maz. thanx for teaching and showing me how to live my life to the fullest!]

Labels:

Ngomyang

Posted by The Bitch on 3/21/2007 11:28:00 PM

To have one foot on the ground while the other is stepping on the cloud is one thing.

The other one is how to make it balance.

... and I try to enjoy every single minute of it...

[nggak percuma, Bro, lo ngehajar gwa sebulan penuh melalui telpon tanpa putus yang bikin otak, hati, jiwa, rasa dan raga jadi panas]

Dearest Emak...

Cepet sembuh yah dari sakit apapun itu.

Janji... nggak nakal lagi deh!

*crossing fingers*

Labels:

Resep Meresep

Posted by The Bitch on 3/20/2007 03:20:00 PM

Berikut resep-resep hot beverages yang enak (menurut gwa):
Note!
Karena gwa anak kos yang ga kuat beli bahan tokai dan bahan urine mahal-mahal, jadi yang dipake yang kebeli aje yeh...

Cocoa Milk
2 1/2 sendok makan susu bubuk instant
2 1/2 sendok makan cocoa powder (kalo nemu yg merk Hershey enak pisan tu!)
1/2 sendok makan gula pasir
Campur, aduk ampe rata, seduh pakek aer mendidih 1 mug

Kopi!
(Apapun kecuali Kopi Sorong. Tapi takaran berikut sangat dianjurkan buat yang mo bunuh diri pakek kopi itu)
1 sendok makan kopi bubuk (lebih enak Kopi Toraja ato Kopi Aroma Robusta)
1/4 sendok makan gula pasir (kalo mau terbunuh jangan pake gula dan minum sehari 7 gelas)
1 mug AIR MENDIDIH
Nyeduhnya: Masukin gula dulu baru kopinya. Buat gwa bau kopi kena aer panas itu seger. Nendang banget!
PENTING: Kopi bubuk harus diseduh pakek aer mendidih biar matengnya enak dan cepet 'naek' (halah!). Tunggu sampe ampas kopinya turun (5 menitan) baru deh... Hajarrrrrrr!!!

(Ini) Teh(,) Susu(...)
1 sendok makan daun teh (jangan teh celup, soale rasanya nggak 'ngangkat'), rebus pakek aer 1 mug
2 1/2 sendok makan susu bubuk instant full cream (biar gurih kayak upil gwa)
1/4 sendok makan gula
Saring teh mendidih ke mug yang udah diisi susu dan gula. Terserah mau diaduk apa nggak.
Catetan: Kalo pake susu murni, masukin teh langsung pas tu susu mo dipanasin. Kalo nggak mau lepeh-lepeh seperti membuat bunyi-bunyian yang mirip dengan jatuhnya rambut, jangan males nyaring yeee...

Minggu kemaren sempet juga 'ngoktail' pakek Vodka Twist waktu ngumpul bareng Mamih dan Om Jae dan Om Jim dan Om Deden dan Om Abi dan Om Indra serta Tante Lea di Plangi yang udah mau tutup dan hampir diusir satpam.

Caranya: Campur 3 jenis vodka yg beda dengan komposisi masing-masing sama, 1/5 kalo ga salah (kecuali yang diminum Om Jae, 1/8-nya aja soalnya aromanya terlalu santer--bunyinya ada 'berry-berry'nya gitude--tapi bukan Halle Berry, apalagi beri-beri) terus masukin ke gelas Om Deden yang masih berisi jus Guava yang isinya tinggal 2 cm dari dasar gelas. Itupun lebih banyak es batu daripada jusnya. Stir, don't shake. setelah minum lalu hirup Shisha dalam-dalam ampe tinggal arangnya aja. Nampol abissssssssssssssssssssss!!!

[yeah, rite]

*sigh*
*kembali melirik poto-poto dari Bokap yang harus diedit*
*lirik jam, bunyinya 2.05*
*tutup window sotosop, nyalain rokok lagi*
*bengong nunggu ngantuk sambil nggedein volume Om Bagus Dkk*

Labels:

An Employee Has Gone Insane

Posted by The Bitch on 3/19/2007 05:15:00 PM

Teman tidak kasat mata itu bertanya, "Lu kerja nyari apa, Pit?"
Dengan angkuh saya menjawab, "Gwa kerja cari kepuasan karena tiap pagi gwa berangkat ngantor adalah tantangan, berhasil nggak gwa pulang dengan selamat dan bisa berangkat lagi besoknya setelah melacur mengerjakan sesuatu yang sebenernya bukan 'gwa'."
"Emang kepuasan bisa beli beras?"
"Nggak. Tapi ketika tantangan terpenuhi kompensasinya bisa buat beli beras."

Lalu saran dari dia ketika gwa sempat mengeluh nggak betah berada dalam ruangan dari pagi hingga petang.
"Lho? Kamu mau kerja dimana lagi yang bisa seenak sekarang? Bisa pake piyama dan celana pendek, nyendal, nyantai ama bos, ampe dibeliin kasur segala buat tidur..."
"Tapi kan tetep, judulnya di ruangan dari pagi ampe sore. Sering bete. Pengen mrilens lagi..."
"Nanti ga bisa beli sepatu dan kaos lagi..."
"Yah elah. Kalo lo bisa nyomblangin gwa dapet klien kan tetep bisa kebeli."
"Ya kamu ubah mindset aja. Anggap tiap kamu ke kantor itu seperti ke warnet gratisan. Kamu bisa online sesukamu. Nulis-nulis atau baca-baca apa kek. Dan kalo senggang baru kamu main-main kerjain laporan. Bukan kerja kan? Kalo lagi dapet frilens, baru itu kerja."

Ah! Great idea!

Tapi lama-lama tuntutan makin banyak. Yang terbesar adalah dari keluarga besar. Mereka kepingin sekali melihat saya seperti orang-orang kantoran pada umumnya, dengan professional outfit dan high-heels (ouch!). Proposal saya untuk bekerja di daerah bencana--dengan gaji dollar sekalipun--ditolak mentah-mentah karena nggak classy. Duh. Apa kerja di kantor dengan jeans dan sendal jepit itu classy? Atau ukuran classy hanya sesempit 'kerja di kantor' lalu titik?

Bagi saya, tantangan itu sekarang berpindah ke bawah menggantikan beras sementara beras sendiri naik derajat. Nggak munafik. Saya memang perlu materi. Tapi setidaknya harus ada monumen keberhasilan menaklukkan satu dunia bernama kantor yang dulu saya nggak pernah mimpi kecemplung di dalamnya.

Thus, apapun yang terjadi saya bakal tetap disana, tetap nge-warnet gratisan, tetap main-main dengan laporan dan terjemahan, tetap bermuka manis dan senyum mengembang setulus saya bisa, tetap berlapang dada nerima protes kanan-kiri, tetap merasa tertantang dengan tenggat...

Hingga mereka memecat saya atau saya bisa bawa pulang MacBook. Terserah yang mana yang duluan.

Haha!!!

Labels:

Some Good Points Taken

Posted by The Bitch on 3/19/2007 05:02:00 PM

Someone said that he is a lucky bastard because he has me as his everything he wants me to be.

I say that I am a lucky bitch because he turns to me in his oddest times so I feel grateful for whatever I am now.


Hey...It's only a matter of viewpoint, right?


You are what you think you are and I'm thinking to be what I am now.


(=

Labels:

The Vow of Secrecy

Posted by The Bitch on 3/18/2007 04:19:00 AM

Malam, cuaca berhujan menusuk sendi. Suara Ebiet G. Ade (bah!) mengalir sendu dari playlist MP3 kafe tempat kami berteduh setelah salah satu band lokal selesai diaudisi. Di seberang meja duduk orang terkasih (whose path crosses mine in one of our lifestages) bersajen bir dingin, kopi, sepiring kentang goreng dan dua bungkus rokok.

Di kepala melintas satu kata tidak beraturan tanpa makna, dan saraf motorik conthong berucap tanpa bisa dicegah, "********** itu password imel lo ye?"
Salah satu mahluk ajaib yang pernah diciptakan Tuhan itu tersentak. Matanya terbelalak kaget dan mulutnya membentuk huruf 'O' besar (dan saat itu keajaibannya hampir lenyap).
"Kok lo tau?! Tadi ngintip ya?!"
"Nggak. Mata gwa kan straight to your face, nggak ngelirik keyboard sama sekali waktu lo masukin pass. Dan ngintip password orang tu buat gwa adalah perbuatan ter-chicken sepanjang sejarah. Gwa nggak tau, mak bedunduk ujug-ujug aja tu kata sreeeeeet nongol di otak gwa."
Gwa kembali menghisap nikmat rokok di jari kiri gwa dan melirik dia yang menatap penuh selidik dengan pandang heran campur bego.
"Jadi... bener?"
Mukanya gelagapan salah tingkah.
"Bukan kok."
Gwa cuek, mengalihkan pandang ke panggung yang kosong.
"Terus... kenapa lo panik barusan?"
Topi buluk dilepas dan tangannya menggaruk-garuk kepala yang, gwa yakin, sama sekali nggak berkutu.
"Ummm... Errr... Iyah. Itu kata terkeren yang gwa pake buat password semua imel. Tapi kenapa lo bisa tau?"
Gwa cuma angkat bahu dengan cuek sambil mematikan batang rokok ke sekian malam itu pada asbak di tengah meja. Sok cool, padahal otak ini nggak berhenti berputar.
Iya, yah. Kenapa gwa bisa tau?
..........................................................................

Beberapa hari kemudian di suatu sore. Gwa masih di kantor nggarap terjemahan yang entah keberapa. Ada SMS masuk. Dari dia.

Pit, ini kenapa kok imel2 dari N**** nggak ada semua?
From: Si Maz

Gwa berjengit kaget. Baru aja pencet 'Reply', tau-tau ada SMS masuk lagi.

Oh, ada kok. ada.
From: Si Maz

Dan berikut cuplikan Instant Message kami setelah episode SMS:

Me : Gwa ga apa2in koq. bener. cuma gwa bikinin filter ama label doang. baca 1 pun nggak
Si Maz: iya, gwa tau. tapi kan lo satu2nya orang yg tau pass gwa. makanya gwa tanya lo kalo ada apa2
Me: ya tapi gwa ga kutak-katik inbox lo kecuali bikin filter dan label
Me: abis, gwa gregetan lo gatek banget
Si Maz: pit, buat gwa, imel tu satu ruang pribadi untuk seseorang, rumah buat dia sendiri dengan password yang cuma dia yang tau
Si Maz: sekarang lo tau pass gwa, jadi ruang itu diisi 2 orang
Me: emang lo pikir gwa sengaja cari tau pass elu, gitu?!
Si Maz: gwa tau, lo ga sengaja
Si Maz: karna itu kalo ada apa2 di imel gwa lo jadi orang pertama yg gwa tanya
Si Maz: gini deh, coba kalo posisinya dibalik
Me: lo mo tau pass gwa juga? sok, gwa kasih nih
Si Maz: nggak
Si Maz: konteksnya beda
Me: yawda de maz. lo ganti pass de. gwa ga bakal bobol koq
Me: ilmu gwa ga sampe situ dan ga akan nyampe situ
Me: buad gwa, pass imel itu sama sperti mesjid. sacred
Si Maz: nggak, gwa ga bakal ganti
Me: GANTI!!!
Si Maz: nggak pit
Si Maz: gwa cuma pengen lo tau
Si Maz: gimana kalo lo di posisi gwa dan konsekuensi lo
Me: yawda, quid pro quo aja. an eye for an eye
Me: impas, kan?
Me: gwa tau pass lo, lo tau pass gwa
Si Maz: nggak
Si Maz: konteksnya beda
Si Maz: gwa cuma mau lo tau konsekuensinya karna lo tau pass gwa
Si Maz: bahkan simbak pun ga tau
Si Maz: dia pernah liat2 sms dan imel gwa dan dia marah
Si Maz: kita hampir perang puputan waktu itu
Si Maz: tapi itu salahnya
Si Maz: dia jadi tau apa yang harusnya dia ga tau
Si Maz: itu yg bikin dia marah dan dia ngaku salah
Si Maz: sampe skarang dia ga tau dan ga mau tau pass imel dan sms2 di hp gw
Me: emang lo pikir gwa mau kek gini? tau segala sesuatu tentang lo secara ga sengaja gini?!
Me: siapa si lo?!
Me: pacar bukan, temen juga kepaksa, bos gwa juga bukan
Me: tapi tanggungjawab bangsat itu mesti gwa tanggung seumur idup, tauk!
Me: lo pikir gwa suka kek gini?!
Me: NGGAK!!!
Si Maz: pit... udah. gwa ga mau ribut
Me: terus mau lo apa?
Me: maaf?
Me: oke. gwa minta maaf
Me: and u hafta 4give me so i can sleep
Me: still, it won't change any fuckin things
Me: satisfied?
Si Maz: bukan
Me: c'mon! say dat i'm 4given. i need a good night sleep
Me: i'm exhausted
Si Maz: sorry pit
Si Maz: gwa bener2 sorry
Me: jadi, gwa tidak termaafkan?
Me: udah ah, kerjaan gwa masih banyak
Me: i'm outta here
..........................................................................

Dan gwa sukses tidur jam 5 pagi setelah menghabiskan 5 butir obat tidur dan terbangun pukul 8 dengan perut mual dan kepala pening. Seperti percobaan bunuh diri yang gagal hanya karena password jahanam. Gwa nggak tau apakah sekarang dia udah ganti itu pass atau belum karena gwa males ngecek.

Moral of the story: Everybody needs privacy. So am I.

Tapi entah kenapa, kadang seperti ada keharusan mengutarakan sesuatu yang mestinya pribadi bagi seseorang dan itu sama sekali nggak bisa gwa tahan.

Seperti tempo hari. Yang gwa tau saat itu adalah gwa harus mengungkap fakta sebenarnya karena gwa merasa something's about to happen dan gwa benci sama muka-muka sok tau yang terhampar dengan vulgar di depan mata gwa.
Rasanya ingin teriak, "Hey, sodara-sodara! Kalian nggak tau seberapa besar beban dan sakit yang dia derita sementara kalian punya hidup yang nikmat dan tenang dan damai dibanding teman saya tersayang itu. Penderitaan kalian dan saya sama sekali nggak ada setai-tainya. So, keep those fuckin' speculative suggestions of yours and shut up!!!"

Gwa tau, sepersekian detik setelah gwa membocorkan rahasia, bakal ada apa nantinya gwa dengan dia. Kilasan-kilasan kejadian yang melintas cepat seperti rentetan film di fast-forward 20 kali itu bahkan memperlihatkan gwa memegang ponsel murahan yang setia selama 3 tahun terakhir ini dan membaca barisan kalimat darinya dengan isi sama persis seperti yang gwa terima beberapa jam kemudian.

Dan rasanya pembelaan gwa untuk dia di depan orang-orang itu memang nggak masuk akal. I've broken my unwritten vow of secrecy, that's all. And I admit it, despite the main reason that I know something's going to happen.

Very well, then. Let me bear the 'A' scarlet letter for 'Abandoned' sealed with red-hot iron stamp on my temple. Since I know what I already knew makes my loved ones abandon me...



Hey, take all the time in the world to grant my sin redemption. I know you are one tough angel with overflowing forgiveness though I realize...
Mine is unforgotten one.


Labels:

For a Wedding and a Funeral

Posted by The Bitch on 3/17/2007 11:02:00 PM

So be it. There is a wedding to attend so that the happy couple could come to my funeral one day. That's what is all about. But there is also a fuss in attending it: Wearing the (not so) traditional outfit. Yes, that's right. Kebaya.

I've got to wake at 4 (since the vow was at 8 and I was among the first to be tortured by make up and hairspray. They can't wait to be marry, those future man and wife) while I could closed my eyes at 2; hung around with sassy aunts (whom I didn't know exactly from whose side they came from) commenting how big I was and how ridiculuous I would be amidst the ellegant, charming, sparkling guests and bride and groom (and gasped in seeing how perfectly and femininely different I was after all); dressed up in tight clothes and fancy slippers that had made my limbs impaired; stood still and kept my big smiles ready for the visitors while some unknown, distant, mid-aged uncles feast on my bare shoulders; keep my spit in my mouth seeing 'out of reach' food everywhere (because I hardly eat anything since two days before); and almost shaking from the nicotine and caffeine addiction I've got but couldn't, considering the 'forbidden law' applied in this silly circle of 'DOs' and 'DON'Ts'.

Yet, I've made it, though some funny, (again) distant aunts thought that marriage was a race and I've got to be one of the participants who was hoped to join it. Very soon. And some of them even, shamelessly, offer their sons to get to know me well. Haha! They'll be shocked to death, Budhe! Especially when I asked them to torture ourselves slowly, painfully, and mercilessly with cigarettes to death. And you can't have grandchildren since the concept of laboring and pregnancy are beyond my mind.

It was really a difficult task to politely ask people to come when I'm dead.


*sigh*

Labels:

Such a Nice Woods Indeed...

Posted by The Bitch on 3/09/2007 10:53:00 PM

Stopping by Woods on a Snowy Evening

Whose woods these are I think I know,
His house is in the village though.
He will not see me stopping here,
To watch his woods fill up with snow.

My little horse must think it queer,
To stop without a farmhouse near,
Between the woods and frozen lake,
The darkest evening of the year.

He gives his harness bells a shake,
To ask if there is some mistake.
The only other sound's the sweep,
Of easy wind and downy flake.

The woods are lovely, dark and deep,
But I have promises to keep,
And miles to go before I sleep,
And miles to go before I sleep.

-- Robert Frost

Rasanya nyaman, dingin-dingin gimanaaa gitu kalo mbaca puisinya Eyang Frost ini. Padahal mental picture gwa adalah di kelas Poetry I, bete, liat kumisnya Pak Sarwoto dengan Javling-nya yang nggak nguatin, siang-siang, laper, bawaannya pengen kabur ke kantin dan ngerokok-ngerokok bareng Pak Pri atau Pak Uban (penjaga kampus yang gwa ga tau namanya tapi dia selalu menganggap gwa anak nakal yang perlu diberi empati. Hihihi...).

Ah...
Those good ol' days. Yes, I've found many great woods that sustaining me from stepping much further on the long journey. But still, I have miles to go before I sleep...

Labels:

Perihal Kacang

Posted by The Bitch on 3/09/2007 03:47:00 PM

Oh! jadi gitu?!

Kalo gwa yang lama respon maka itu bernama KACANG SESSION, sedangkan kalo elu yg lama itu akibat so many things in your head.

Haha!

*DEZIGH!*

(sabar... sabar...)


sungguh. ini bukan marah. cuma impuls emosi ga jelas antara mo murka dan pen boker.

A Letter for the Insomniacs

Posted by The Bitch on 3/09/2007 02:59:00 PM

Hi, Mbak dan Mas!

Terimakasih atas kerelaannya membolehkan surat kalian tak posting disini sebagai bahan tulisan. Saya merasa kalian dekat sekali.

Dan ini jawaban saya, meski sebenarnya juga nggak lebih dari curhat.

Kalian tau nggak? Ternyata memberi dan membiarkan semuanya mengalir bersama arus itu menyenangkan. Nggak kesusu dan nggak ngoyo itu nikmat. Mencermati tiap gerakan dan kejadian dari sebuah proses--entah panjang atau pendek--adalah sebuah anugrah, meski perih dan berdarah-darah.

Mungkin saya sama dengan kamu, Mbak, menjadi masokis sejati yang kebal terhadap sakit dan malah menikmatinya. Dan begitu yang dikatakan salah satu 'Angel' yang selalu setia berbagi pada saya meski jauh. Seperti kalian.

Tapi sungguh!
Rasa itu tidak terkatakan, ketika kita melihat orang-orang terkasih beranjak ke jenjang berikut, melihatnya mengumpulkan kepingan-kepingan puzzle yang terdiri dari darah, daging, airmata, energi dan waktu kita, kemudian mencermatinya menyusun keping itu satu demi satu menjadi sebuah gambar indah, melihatnya bahagia karena kita membantunya menyelesaikan sebuah agenda, adalah berkah luar biasa.

Ini cinta ya, Mbak? Bener cinta ya, Mas?
Jika ya, maka rasanya saya harus merubah mindset tentang apa itu cinta. Menurut si 'Angel' cantik, berjilbab dan cerdas, cinta adalah ketika kita menjadi tegak di dalamnya dan tidak jatuh mengaduh. Cinta adalah memberi dan membuat satu hati menjadi senang, yang lebih baik daripada ribuan kepala menunduk berdoa. Tapi saya nggak sehebat itu, Mas.

Saya belajar berkat sebuah perjalanan kemarin, yang membuahkan sebuah pelukan dan perasaan hangat. Anehnya, itu bukan nafsu. Saya mengenal seorang perempuan hebat, meski tidak secara langsung, yang mendedikasikan hidup dan rasa yang dia punya untuk seorang lelaki yang--akhirnya saya sadar--tidak terlalu hebat. Saya jadi punya alasan untuk hidup, mencermati, memahami segala sesuatu dan menyaring semuanya dengan hati dan kepala. Tidak habis saya bersyukur, Mas, Mbak. Karena ternyata saya masih berguna untuk seseorang, sesuatu. Walau kadang menyebalkan karena sering semuanya tidak berjalan seiring dengan yang saya mau. Tapi saya sadar, saya bukan pusat alam semesta.

Well...
Tiap awal ada akhir. Saya hanya nggak mau akhir itu datang terlalu cepat. Sepertinya saya harus berdamai dengan keadaan yang terlanjur ini, karena memang menyenangkan. Nggak papa deh ngejomblo ampe mampus, asal orang-orang terkasih yang dijadwalkan bertemu saya di beberapa waktu hidup mereka bisa naik ke atas, meskipun harus menginjak kepala saya. Lagipula, saya kadung dikutuk untuk selalu making impossible relationshit. Haha! (Ketawa saya nggak getir kok, Mbak dan Mas. Bener deh!)

Saya hanya ingin jika ajal menjemput saya nanti, mereka ingat dan mengantar dan--sukur-sukur--berdoa untuk saya nanti. Meskipun wishful thinking, gak papa kan ngarep dikit?

Selamat tidur. Mimpi indah. Karena dengan mimpi kita bisa berharap dan hidup...


[hey, Maz! ini untuk kamu. sangat reflektif dan jujur sejujur-jujurnya saya. dan jangan pernah lagi bilang sharp! bosen, tauk!]

Labels:

Vagina Luka

Posted by The Bitch on 3/09/2007 10:37:00 AM

Rasanya saya ingin menukar apa yang ada di antara selangkang ini dengan sebentuk daging panjang dan aneh bernama penis. Mengapa? Karena penis berhak memilih. Tiap penis beranjak dewasa kemampuan merasakan sensasi nikmat pun bertambah meski luka, sementara vagina hanya mengalami luka. Titik.

Bila kamu berpenis, maka menyatakan perasaan yang terpendam dalam dada adalah jantan. Dengan penis, maka memaki, menulis, berbuat sekotor dan sebrengsek apapun, bukanlah tabu. Penis adalah piala, pemenang, penakluk, tegak gagah dalam keangkuhannya, sementata vagina hanya sebentuk daging busuk runduk yang terjepit, licin, berdarah, menggelikan sekaligus menyedihkan.

Tapi saya hanya berandai-andai. Jika ada tawaran gratis pun rasanya saya urung mengganti. Sebab vagina adalah simbol perlawanan. Bagi saya. Titik.


[Ocehan dinihari ditingkah Yngwie Malmsteen ditengah pekerjaan yang seperti tiada habis...]

Labels:

Baca. Ulang. Percaya. Dan Kamu Dapatkan Mantra

Posted by The Bitch on 3/06/2007 01:26:00 AM

There is nothing to be afraid of but the fear itself.



Gusti...
Kulo nyuwun ngapuro. Kelepatan. Sudah lama saya terlalu jumawa, merasa diri bisa dan berani hingga lupa. Tapi saya cuma mau buktikan bahwa semua hal yang Kau berkahkan pada saya amat sangat bergunanya, termasuk selalu berpikir bahwa saya bisa.

Tapi...
Saya lupa bahwa saya juga punya ketakutan, terutama untuk sesuatu yang saya nggak tau dan nggak bisa dinalar. Saya tidak menganggap bahwa itu adalah berkahMu juga. Saya bebal, Gusti. Nggak bisa dibilangin. Ndablek. Karena buat saya itu nggak masuk akal. Itu nggak fair. Kenapa mesti saya? kenapa nggak orang yang lebih kompeten untuk njalaninnya?

Sudah lama nggak membaca mantra ini. Saya khilaf bahwa ketakutan itu harus dihadapi dan bukan ditakuti. Suatu hal yang saya nggak tau harusnya diselami, bukan dihindari.

Grant me the serenity to accept the things I cannot change; courage to change the things I can; and wisdom to know the difference, Dear God...





[maaf tentang yang kemarin. aku cuma nggak tau mesti gimana, maz...]

Labels:

Learning to Live Pt.2

Posted by The Bitch on 3/06/2007 01:03:00 AM

Everything has its price. Saya percaya itu. Dan sebuah perjalanan jauh--mempertaruhkan nama, harga dan hidup--kemarin membuktikannya.

Berawal dari kepedulian seorang kawan yang sedih melihat saya mendewakan rasio, dia lalu merenggut saya ke sebuah kesadaran tertinggi. Dia buat saya naik kelas, dengan catatan suatu hari nanti akan ada orang yang akan menggantikan posisi saya dan saya akan berada di posisinya. Serta warning: tanggungjawab yang dia emban terhadap saya akan berlangsung seumur hidup meski dia tidak nampak secara fisik.

Lalu mak bedunduk ujug-ujug, masa itu tiba tanpa saya mau, tanpa saya sadari. Saya sendiri nggak tau korelasi apa saya dengan dia hingga tiba-tiba kami begitu terikat, mengingat saya commitment-phobia. Dan ramalan si kawan yang baik (walau menurut saya bangsat sebab dia telah mengenalkan sesuatu yang bagi saya impossible meski saya melakukannya) pun terwujud.

Dan saya harus bertanggungjawab terhadap dia seumur hidup, meski saya nggak mau.


wanjing lah.


.....gwa cuma pengen jadi normal.....


*sigh*


[lidahku kelu. batinku lungkrah. asaku lindap. hey, kamu tahu dimana saya bisa menukar sebongkah otak dengan sebuah ember? mungkin saya lebih memerlukan ember.]

Labels:

Learning to Live

Posted by The Bitch on 3/05/2007 01:30:00 PM

There was no time for pain
No energy for anger
The sightlessness of hatred slips away
Walking through winter streets alone
He stops and take a breath
With confidence and self-control

I look at the world and see no understanding
I'm waiting to find some sense of strength
I'm begging you from the bottom of my heart
to show me understanding

I need to live life
Like some people never will
So find me kindness
Find me beauty
Find me truth

When temptation brings me to my knees
And I lay here drained of strength
Show me kindness
Show me beauty
Show me truth

The way your heart sounds
Makes all the difference
It's what decides if you'll endure the pain that we all feel
The way your heart beats
Makes all the difference
In learning to live

Here before me is my soul
I'm learning to live
I won't give up
Till I've no more to give

Listening to the city
Whispering its violence
I set out watching from above
The 90s bring new questions

New solutions to be found
I fell in love to be let down
Once again we dance in the crowd
At times a step away
From a common fear that's all spread out

It won't listen to what you say
Once you're touched you stand alone
To face the bitter fight
Once I reached for love
And now I reach for life

Another chance to lift my life
Free the sensation in my heart
To ride the wings of dreams
into changing horizons
It brings inner peace within my mind,

As I'm lifted from where I've spilt my life
I hear an innocent voice
I hear kindness, beauty and truth

The way your heart sounds
Makes all the didfference
It's what decides if you'll endure
The pain that we all feel

The way your heart beats
makes all the difference
In learning to live
Spread before you is your soul
So forever hold the dreams within our hearts

Through nature's inflexible grace
I'm learning to live.......





So help me God!

Labels:

About A Girl, About A Boy

Posted by The Bitch on 3/04/2007 03:37:00 AM

A girl gives sex to gain love,
While a boy gives love to have sex.

Stupid girl? Not really. Desperate, to be exact.

I wonder what would it be when people are created sexless. Just a plain flesh down there right at the groin, without ever feeling the burning, tingling desire that needs to be unleashed. I guess there'll be no taking over of a country by means of war initiated by the greedy concubine whose crotch was sore by the grinding and humping of the king.

But neither of us is in the reign. So, why bother?


*and the post has almost nothing to do with the title. i was just screwed. in the head*

Labels:

Crash! Boom! Bang!

Posted by The Bitch on 3/04/2007 03:02:00 AM

............................................................

and silence.

Oh, my dear Lord.
I thank THEE to prevent me from doing the most shameful, stupidest, deadliest, ugliest and dirtiest thing ever happened in my whole fucked up life.

Labels: