"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Ketika Nafasmu Dzikir, Tidurmu Ibadah, dan Doamu Ijabah...

Posted by The Bitch on 10/20/2006 06:13:00 PM

Sepertinya Ramadhan kali ini saya nggak menang. Masih belum bisa tahan diri. Melakukan pembenaran hanya untuk menenggak segelas air dingin di siang bolong. Masih nggak bisa menggigit lidah. Banyak protes. Kurang bersyukur. Menyimpan api dalam sekam bernama dendam. Etc, etc.

Kadang sedih merasa ironisnya hidup. Dulu, jaman masih jauh dari ortu dan sering nggak makan, saya amat sangat menikmati indahnya ibadah dan berlapar-lapar dalam ketiadaan sampai penghujung Hari Raya. Di akhir shalat 2 rakaat, berkumpul bersama saudara seiman di lapangan, saya merasa menang karena berhasil melawan segala keinginan yang sesungguhnya nggak perlu. Saya luruh ketika sadar seluruh isi kitab suci habis terbaca. Nikmatnya... Meski nggak tau mau sahur pake apa dinihari nanti akibat defisit berkepanjangan. Namanya aja freelance berkala. Kala-kala dapet job, kala-kala tidak. Tapi saat itu saya merasa betapa Dia sayang saya. Dia beri teman menyenangkan saat saya jadi Petir di kos. Dia mudahkan makanan ke pintu kamar kos saya (ehm... *ngiler*). Dia cerahkan wajah saya dan wajah semua orang yang menjadikan senyum tersirat dan lapar terlupa. Edan lah!

Sekarang kerjaan nggak usah nyari. Uang juga nggak usah dikejar, meskipun nggak melimpah. Tapi kenapa meluangkan waktu 10-15 menit aja untuk buka dan baca--bahkan untuk membasuh muka dan 'menghadap'--susah sekali ya?

Sepurane njih, Han. Gime next year. I'll make it up for you. Insya Allah...




ps: Judul--yang sama sekali nggak ada korelasinya dengan isi--adalah kutipan dari spanduk sebuah universitas islam (yang mahasiswinya sering pake hipster ketok udel dan jilbabnya entah kemana) yang saya lewati tiap berangkat ngantor.

Labels:

Wasted

Posted by The Bitch on 10/08/2006 11:51:00 PM

Harga cabe melambung tinggi. Kelapa susah dicari. Kolang-kaling, blewah, timun suri dan semacemnya ada di mana-mana.

Untuk apa?

"Seger-segeran dan 'bales dendam' setelah berlapar-lapar puasa seharian."
"Ini perayaan! Setelah sukses melawan hawa nafsu di siang hari, boleh dong kita foya-foya dengan makanan..."

Untuk apa? Di kunyah-kunyah, dirasa-rasa--yang hanya bedurasi sekian menit--kemudian masuk perut, dan keluar jadi tai berwarna kecoklatan dan menjijikkan yang kamu buang di toilet? Sementara kamu sibuk bawa tentengan belanjaan yang mahal-mahal untuk hari--yang katanya--fitri itu tapi kamu melengos liat anak kecil berkerumun di jalanan menenteng kemoceng, berharap recehan dari besih-bersih kaca mobil yang berhenti di prapatan?

Wasted. Percuma. Padahal kapasitas lambung mengecil setelah sebulan puasa.
Jadi... Untuk apa?!

Kemudian nanti tiba hari raya
Ujung dari bulan Ramadhan
Bulan yang paling dipenuhi kemunafikan
Dibanding bulan-bulan apapun yang lain
Bulan dimana Tuhan dicengkiwing masuk pasar
Tuhan, Nabi Muhammad dan Islam memperoleh gilirannya
Untuk diperjuangkan masuk rating industri hiburan televisi
Untuk sementara waktu saja, menggantikan bornya Inul Daratista

(potongan puisi 'Grup Hantu', Kiai Kanjeng)

Btw, selamat puasa semuanya.

note:
penggalan puisi di kopi paste dan diedit seperlunya dari offline message Yahoo Messenger
yang didapat pagi hari sebelum jam kantor, dikirimkan oleh... ehm... anu... mas ini... *blushes*