"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

I Live, Therefore I Work, Therefore I Live, Therefore I Work

Posted by The Bitch on 9/20/2006 11:14:00 AM

Bahagialah orang yang hidup dan bekerja untuk orang lain karena dia memberi dan akan dicukupkan dari keringatnya. Celakalah orang yang hidup dan hanya bekerja untuk dirinya karena diri tidak akan pernah cukup mencapai apapun.


Dua perempuan duduk berhadapan dengan dua cangkir kopi yang hampir kosong, dua bungkus rokok dan asbak penuh abu di meja kafe. Mereka saling berpandangan setelah beberapa jam ngobrol heboh. Yang satu menatap lurus-lurus ke perempuan di depannya yang memandang balik dan memainkan rokok di sela jemari sambil tersenyum.

"Lu kenapa liatin gue terus? Suka?"

"Enak aja. Emangnya gue jeruk makan jeruk?! Nggak... gue kagum aja. Akhirnya lo udah mirip wanita karir sekarang. Look atcha! Drastis. Padahal lo pernah bilang nggak mau jual diri dengan menghamba pada jam kantor dan gaji bulanan."

"Haha. People change, Baby. Gue juga. Gue harus liat ke depan, nggak bisa selamanya begini terus. Sekarang gue mau numpuk duit banyak-banyak."

"Untuk apa? Bukannya lo anti duit? I mean, lo bilang lo nyaman dengan hanya diberi cukup. Bukan berlebih. Kemana elo yang dulu? Apa sebegini gampangnya lo berubah? Atau... lo mau kawin ya!"

"Kawin? Amin. Mudah-mudahan otak gue geser dan kembali ke jalan yang benar menurut ibu gue. Haha. Gwa gak berubah-berubah banget kok. Deep down inside, gwa masih sama."

"Masih sama gimana?! Lo tuh udah 180 derajat baliknya. Istilahnya, dari kiri mentok ke kanan mentok."

"Nggak, gue masih sama. Yang gue lakukan cuma pengen nutup mulut orang-orang sekitar gue yang nggak percaya kalo gue bisa maju. Selama ini gue diem dihajar sekian banyak omongan yang bikin telinga dan hati panas. Ini pembalasan dendam, a revenge, which is best served cold."

"Gue masih nggak ngerti..."

"Ah, lo emang bego! Intinya apa yang gue lakukan bukan semata-mata duit, tapi posisi. Dengan kerja tetap begini selain gue bales dendam ke orang-orang nyinyir itu, gue juga bales dendam sama keadaan gue."

"Gimana caranya?"

"By playing a generous bitch, dumbass. Gue harus banyak duit kalo pengen ngewujudin apa yang selama ini gue gembar-gemborkan: making the world a little bit better for me and for the unfortunates people to fit in. Gue pengen ngasih ke orang yang kondisinya lebih nggak ngenakin dari gue since I've been them before. Gue pernah nggak makan seminggu, jalan kaki ke kampus, ditolak temen-temen gue sendiri karena nggak punya tempat tinggal, numpang di kos orang, and it sucked. Rasanya nggak enak. Dulu gue cuma bisa nyumpah-nyumpah orang kaya dan pejabat. Sekarang gue bisa sedikit berbuat. Dan gue pengen orang-orang itu tau kalo ada orang yang peduli sama mereka, karena dulu cuma ada sedikit orang yang peduli sama gue. I aint Mother Theresa, but I act."

"Oh, lo mau jadi Robin Hood cewek dan ngasih duit ke orang jalanan gitu? Lalu... feeling like an angel? Enjoying yourself? Masturbasi otak dan perasaan lo dengan melakukan perbuatan baik, gitu?

"Itu kelemahan lo, terlalu cepet ngejudge, nggak sabaran, jump into conclusion sekenanya. Lo itu salah satu objek yang harus gue kasih pembelajaran. Jangan pernah menilai apapun yang kamu nggak tau, Sayang... Lo dulu pernah bilang pengen kasih pembelajaran ke orang tentang perempuan perokok. Lo pengen tunjukin ke publik kalo lo perempuan perokok yang bukan jablay, bukan murahan, punya prinsip sendiri. Sama halnya dengan gue. Gue pengen kerja, kejar duit sebanyak-banyaknya tapi bukan untuk gue semata. Ini untuk orang-orang sekitar gue. Gue pengen belajar dan kasih pembelajaran kalo kerja mati-matian untuk orang lain itu lebih berharga, lebih heroik dan tragis daripada cuma untuk diri sendiri. Keren kan!"

"So... in other word, pemerataan?"

"Yup! Tumben lo bener! Gue pengen bikin sekeliling gue jadi sosialis, sama rasa dan sama rata. Haha!"

"Sinting!"

"It takes a loony to know another loony and I've learnt much from you to be a good loony. I love you too, anyway."

Mereka tertawa lebar, bangkit dari kursi dan beranjak keluar.





ps: thnx for that lady who taught me how to breathe in an office atmosphere. Been here for more than a month and love a single minute of it (=

Labels:

Han, Jangan Ketawa. Saya Ngaku Kalah.

Posted by The Bitch on 9/19/2006 07:03:00 PM

Hey, kamu.

Saya minta dengan sangat, segenap jiwa raga, sepenuh hati, dengan saksi alam raya dan seisinya...

Tolong lepas dari kepala, hati dan hidup saya. Biar saya maju ke depan tanpa menengok ke belakang.

Tolong...




[as I sit here, powerless, helpless, with your overwhelming image still ramming inside my skull, haunting like a ghost, and getting bigger as I try harder to get rid of you]

Labels:

Lungkrah, Capek, Sebel

Posted by The Bitch on 9/18/2006 08:52:00 PM

Betapa merusaknya rasa marah terhadap seseorang, seberapapun besarnya cinta yang pernah atau masih ada. Serasa ingin mencengkram, mencabik, melihatnya bergelimang darah, menatap dengan senyum puas ketika ia tercekat waktu nyawa di tenggorok, akibat perkataan maupun perbuatan yang menyentuh harga diri. Karena harga diri adalah harta terakhir perempuan, a woman's last treasure, without which her purse would be empty. Meski sering jadi bumerang.

Duh, Han...
Redakan hati hamba. Bikin dia terima cobaan dan nikmatMu dengan kesabaran seluas jagat. Buka pikiran dan akal agar bisa menerima dan tetap tegar bertahan, berapa kali pun dihajar rasa kecewa yang bikin murka...

Ah...

Posted by The Bitch on 9/15/2006 07:03:00 PM

Gwa bukan orang yang ngejar sesuatu dengan ngoyo karena gwa jarang kepingin sesuatu dengan amat sangat. Gwa juga bukan orang yang teguh pendirian karena ada masa ketika apa yang gwa percaya berbalik 180 derajat menyerang gwa. Tapi gwa yakin pada usaha. Karena semua memang ada harganya, harus ada usaha.

Dari bayi ceprot--bahkan ketika masih di perut--gwa udah usaha. Untuk tetap hidup, diterima di lingkungan teman sebaya, di sekolah, di rumah, di kampus, you name it. Bahkan di komunitas yang menurut gwa nyaman. Meski lahir dengan berat kurang dari 2 kilo, pas gede gwa emang bongsor dan 'lain'. Gwa gak terlahir dengan kaki 2 pasang atau hidung di jidat, tapi gwa selalu dianggap aneh oleh orang yang menganggap diri normal. Oke, gwa terima. Dan gwa--berkali-kali--berusaha untuk jadi so-called normal. Untuk dapetin sepasang sepatu yang biasa dipake temen-temen pun gwa harus usaha ngojek payung biar uang kekumpul dan sepatu kebeli. Gwa nggak nyesel. Itu pelatihan dini untuk gwa yang waktu itu masih kelas 5 SD.

Since I raised in the culture of trying in gaining something , gwa pikir semua orang di luar dunia gwa yang sempit ini juga melakukan hal yang sama. Ternyata gwa harus menelan kekecewaan. Beberapa orang dapet keistimewaan untuk dapetin sesuatu dengan amat mudahnya. Kadang ini bikin gwa marah. Sering gwa pengen ngubah cara pandang orang-orang itu untuk fight for what you want to achieve. Yet, they are what they want to be, and I have no single right to change anybody.

Yang gwa sesalkan adalah ketika orang-orang itu berada dalam kondisi yang mengharuskan mereka berjuang, berusaha, tetapi mereka nggak bisa sementara untuk beberapa manusia lainnya hal tersebut only piece of cake. Misalnya aja nggak bisa naek bis dan makan di warteg untuk menghemat uang hanya karena nggak bisa melepaskan kenyamanan taksi atau makanan resto. Nggak mau 'jemput bola' untuk ambil duit pinjeman karena terlalu capek padahal butuh.

Again, I haven't got the wisdom to differentiate things that I can change and stuff I have to accept without regret...



To those who felt stabbed by my writing... my deepest apologize *bows*

??? ....... !!!

Posted by The Bitch on 9/05/2006 02:03:00 PM

"Lo masih sayang ama gwa?"

"Jangan tanya itu sekarang. Gwa pusing..."


[Dialog post-ciuman antara dua mantan kekasih yang masih berteman baik]

"Setiap bibir kami bersentuhan, getar itu masih ada. Perasaan dilempar ke langit terjauh dan terhempas nikmat dengan kepusingan ambrosia yang memabukkan selalu melindap, meski 'persetubuhan kecil' itu sudah keseribu kalinya. Apa perempuan selalu menyerahkan diri dan tubuhnya untuk mendapatkan cinta sementara lelaki memberi cinta untuk mendapat nafsu? Gwa bingung, nih..."

Jujur, Sahabat... Gwa juga nggak tau mesti bilang apa...

Man sux!