"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

PPA: Puisi Putus Asa

Posted by The Bitch on 6/28/2006 11:21:00 PM

Duh, Han...

Aku lelah
Lungkrah
Tersesat
Di tempat bernama 'hidup'

Kompas yang kupunya
Sekarat
Luluh-lantak
Jarumnya berserakan
Jatuh dalam serpihan
Keping-keping

Peta yang kusimpan
Lusuh, kumal
Tak terbaca
Hilang, kabur

Disini dingin, Han...

Kabut buat bintang buram
Anginnya mengeringkan mata
Gelapnya membutakan
Aku gigil, sepi, lapar

... dan sendirian.

Kamu tahu dimana bisa kutemukan
sosok yang menyebut diri
' t e m a n '
???

Oh, Begini Ya Rasanya Jadi Korban Drakula...

Posted by The Bitch on 6/25/2006 07:39:00 PM

Seminggu yang lalu akhirnya gwa bisa juga jadi donor darah. Niat beribu-ribu tahun lalu--karena jadwal tidur yang ga karuan bikin kadar hemoglobin gwa rendah makanya selalu tertolak jadi donor--akhirnya kesampean juga.

Salah satu program yang ada di event terbesar di Jakarta ini emang ada acara donor darahnya selama 32 hari penuh, dari buka ampe tutup, 10 am - 8 pm on weekends and 3 - 8 pm on weekdays. Hari kedua, gwa adalah pendonor ketujuh. Mesakno. Padahal ada ribuan pengunjung yang datang hanya dari dua hari itu.

Si Ibu yang jadi sukarelawan bilang, katanya mereka kurang dipublikasikan. Padahal mereka udah dikasih tempat luas, free-of-charge, dengan AC menyejukkan dan tempat yang nyaman. Hanya karena Mr. President urung meluangkan waktu saat upacara pembukaan, mereka mutung lalu hilang orientasi, makanya flier dan pamphlet hilang entah kemana. Yah, Bu. Namanya aja aksi sosial yang digalang (hampir) tanpa dana. Mana mau orang dateng wong gak ada 'penarik'nya? Kalo mau dibandingin sama stand rokok atau otomotif, misalnya. Stand-stand itu selalu bikin pengunjung menoleh dengan mbak-mbak berbaju minim dan senyum manis yang siap sedia nawarin produk mereka. Lha ini? Udah sepi mbak-mbak, mesti disedot darahnya pulak!

Nonetheless, gwa suka semangat mereka. Ibu-ibu dan Bapak-bapak ini tergabung dalam satu organisasi relawan penyumbang darah, yang rela meluangkan waktu dan tenaga demi kampanye blood-donating.

Tapi... menurut gwa sih, untuk jadi penyumbang--apapun itu bentuknya, darah, uang, atau bahan makanan untuk korban gempa--lo nggak harus merasa diri paling bener, paling suci, paling rela-tulus-ikhlas. Lalu menyeru-nyeru orang lain untuk ikut dalam barisan suci mereka dan mencibir mereka yang enggan, untuk menoleh sekalipun. Kemudian menuding ketika tiada orang bertandang: kalian nggak punya hati!!! Padahal, namanya aja sukarela. Ya sesuka dan serela mereka dunk, ah. Kalo emang orang-orang itu nggak mau, mereka pasti punya alasan sendiri, kok. Dan itu nggak harus selalu diumumkan ke seluruh penjuru jagad semesta raya.

Apapun itu, nyumbang darah enak, lho. Dapet mie dan telur rebus, jus kotakan dan susu coklat gratis! Haha!

Labels:

Di Jakarta Nggak Ada Orang Miskin!!!

Posted by The Bitch on 6/24/2006 04:27:00 PM

Siapa bilang orang Jakarta miskin?!
Di hari ke enam acara tahunan ini, tercatat total 429,332 pengunjung dengan tiket masuk Rp. 11,000 on weekdays dan Rp. 16,000 on weekends and holidays. Kebayang berapa jumlah uang yang dikeruk hanya dari tiket ini aja?

Di dalem, ribuan stand berlomba-lomba narik pembeli. Dari yang pasang badut-badutan sampe sandwich-board. Atau mbak-mbak berpakaian mini yang nawarin produk-produk rokok, cemilan, sampe susu (susu mbaknya sediri ditawarin ndak ya? =P). Diiringi lagu ajep-ajep sampe dangdutan yang suaranya melebihi ambang batas toleransi yang bisa diterima kuping.

Edan lah.

Kalo lagi rehat atau kerjaan udah nggak ada, gwa sering keliling dan nongkrong di sebelah pengunjung yang lagi duduk-duduk di pinggir. Dari yang klimis sampe yang lusuh. Yang rapi-wangi-modis bisa ketauan: mereka adalah the-have Jakartans yang untuk nyampe ke venue pakek mobil ber-AC dan nggak kringetan. Yang dekil-norak-berminyak: the have-not Jakartans and people from Jakarta buffer areas--even from other provinces!

Atau denger aja cara mereka ngomong dan berpakaian. Yang pakek Bahasa Endonesah dengan logat Jakarta dicampur bahasa Gawul adalah mereka yang (mungkin) jarang nggak dapet apa yang mereka mau. Yang suka clubbing di Cafe atau Lounge dengan harga minuman lima puluh ribu rupiah secangkir kecilnya, untuk kemudian dibuang lewat beberapa tetes air seni di lubang toilet yang kemudian ikut terbanjur bareng air bersih--yang juga tersedia di toilet.

Yang pakek Bahasa Betawi ngapak (untuk tidak menyebut Betawi Ora) dan berpakaian a la penyanyi dangdut mau pentas adalah mereka yang nenek-moyangnya dulu punya tanah berhektar-hektar untuk kemudian terusir ke pinggir karena harus mengalah demi 'pembangunan', yaitu Mall dan gedung perkantoran, dimana mereka belum tentu mampu untuk belanja atau bekerja disana. Mereka datang sekeluarga cari gratisan, membeli tiket setelah beberapa hari menabung, dan menjejerkan lembar demi lembar di meja loket, hanya untuk mengagumi barang-barang tidak terbeli yang dipajang dengan vulgarnya.

Setelah lelah berjalan di area yang luasnya hektaran, mereka mencari tempat melepas penat nan teduh. Pulangnya, mereka harus berdesak-desak dengan para pengunjung lain yang sama kere dan lusuhnya dengan mereka untuk kembali ke rumah petak beratap asbes yang sepanas tungku pembakaran di terik matahari Jakarta yang ganas. Berebut secuil jalan dengan mobil dan angkutan umum yang melintas seperti di arena balap, di aspal yang memanjang selebar lapangan bola tanpa trotoar, dan sama sekali tidak ramah.

Jadi... Siapa bilang orang Jakarta miskin?!
[dan gwa bekerja dengan upah yang diambil dari lembaran-lembaran di meja loket itu...]




In celebration of Saturday-Night Blue Syndrome.

Labels:

Lokalisasi Bernama KANTOR

Posted by The Bitch on 6/24/2006 03:32:00 PM

Lucu ya, ngantor tu. Meskipun nggak resmi-resmi banget, tetep aja banyak politik, banyak dos and don'ts. Seperti negara kecil, dimana ada penguasa (penindas) dan rakyat (tertindas).

Sama seperti kantor-kantoran gwa beberapa bulan lalu. Lo nggak mungkin bertahan hanya dengan tugas yang terlaksana dengan baik, serapih dan secepat apapun itu. Meski disini gwa berkutat dengan orang-orang media yang dianggap paling nyantai dan asik, tetep aja mereka masih mengharap kepala kita tertunduk-tunduk dan wajah sumringah dengan senyum penjilat, meski kamu sedang lelah setengah mampus. Meski lelah yang kamu tanggung nggak sebanding dengan bayaran yang didapat, sementara celah demi tambahan pemasukan yang kamu upayakan membuat posisimu berada di ujung tanduk. Damn!

... and here I am. Melakukan sesuatu yang saya suka dan berbaur dengan orang-orang yang saya nggak suka. Melacur sebulan, sampai entah kapan...


Office sux!


[Hey! Saya marah, bukan mengeluh!!!]

Labels:

Na'...

Posted by The Bitch on 6/20/2006 07:26:00 AM

Mata lo bagus.

Seperti bintang
: kerlip, berbinar sedikit, tapi cemerlang
terang saat semua gelap

Seperti pisau
: tajam, mengiris, mencongkel
menyelidik

Seperti danau
: tenang, teduh, damai
nyaman

Seperti karang
: keras, tegas, masif
bergeming

Tapi yang gwa suka
waktu lo tunduk
saat gwa bilang,
"Besok gwa pergi. Nggak tau kapan balik."

Atau waktu lo menggeragap
ketika gwa tanya,
"Dari segambreng temen lo, kenapa lo ajak gwa?"

Tiap gwa makan di kerangkeng sini
gwa inget elo
karena lo bakal betah, gwa yakin
sebab kita makan tanpa daging
tanpa ada binatang yang harus mati.

Maaf,
Untuk janji yang tidak tertepati
karena urung turut merayakan
'ketidakberdayaan'
selama dua puluh enam tahun Juli nanti

Maaf,
Untuk segelas air yang menciprat
dari gelas gwa ke muka lo
dan cengiran penyesalan gwa karena reflek nan jahanam

Tapi satu hal yang gwa bawa sampe mati
... mata lo bagus...




[hilang ide mau nulis apa karena nginep di kantor]

I'm Starting to Smile... and fading later on (Yakin!)

Posted by The Bitch on 6/17/2006 11:20:00 PM


Phew! Akhirnya sempet juga ngentri setelah tiga hari ngantor temporer disini. Lumayan lah. Akhirnya gwa 'normal' juga. Tidur teratur, jam 2 pagi paling telat jam 3. Bangun jam 7. Sarapan. Mandi. Berangkat. Berkemeja, celana panjang dan sepatu. Tiap hari. Itu juga kalo nggak males. Hehe.

Orang-orang dengan muka-muka baru datang silih berganti tiap hari. Mulai dari wartawan beneran sampe wartawan boongan. Mulai dari yang klimis sampe yang lusuh. Dari yang sopan ampe yang ngerasa Media Center punya nenek moyangnya. Macem-macem. Menyenangkan. Asal mereka nggak ngegusur gwa pas kerja. Kalo gwa merasa situasi nggak ngenakeun, mending jalan-jalan. Gila aja! Pengunjung tu ampe bejubel, ngantri untuk beli tiket seharga sebelas ribu on weekdays, ampe yang hamil hampir pada beranak, mosok gwa yang tiap hari ada di TKP nggak jalan-jalan?! Ujung-ujungnya ya... liat orang-orang pada belanja muasin nafsu posesif mereka. Liatin mas-mas ganteng yang bagus sebagai Vitamin A penyegar mata dan jiwa--yang biasanya diikuti dengan pelototan mbak-mbak langsing, tinggi, kurus, putih, modis dengan rambut berbonding yang dengan manis bergayut mesra di bahu si mas, tapi punya tatapan setajam sembilu dukun beranak dan biasa gwa sebut MONYETNYA--atau ngecengin pengisi acara maupun kru.

Meskipun untuk kerja sebulan dan rutin kayak gini nggak memuaskan untuk gwa, tapi pembelajaran yang gwa dapet nggak sedikit. Gwa sering ngiringin The Yogi yang belajar jadi fotografer amatiran, atau latihan ngewawancara Tora Sudiro dalam waktu kurang dari dua menit!!! Iya! Tora Sudiro yang 'itu'! Sumpah! Dari deket ganteng banget! Makannya apa ya, Mas Tora itu?! =P

Yah... baru tiga hari. Macem-macem lah yang gwa dapet. Tapi mulai males-malesan nih. Semua hal yang rutin bikin gwa bosen.

But, hey! D'ya see my big smile there?! Itu first day, lho! Hehe...

Hmmm...

Posted by The Bitch on 6/13/2006 06:21:00 AM

Ada seseorang yang merasa kesal dengan Yang (katanya) Di Atas Sana.

"Aku mangkel. Dimana Dia saat manusia bertumpasan karena bencana? Kayaknya penciptaan itu jalan sendiri dengan hukum besi fisika!"

Jadi inget tulisan si Ibu yang di review disini. Ada analisa yang gwa suka: Karena dulu ada banyak nabi, Tuhan serasa ada di tengah. Ketika sang nabi berkoar menyeru kebaikan, dan yang diseru nggak patuh, maka diporakporandakanNyalah tanah tempat mereka berpijak. Lalu turun ayat sebagai reminder yang dipakai sebagai acuan oleh pengikutnya sekarang, yang disebut Kitab Suci.

Saat ada konsensus bersama akan nabi terakhir dan bagaimana gambaran akhir dunia nanti, Tuhan seakan mati. Waktu teknologi sedemikian majunya dan semua hal dianalisa dengan logika, maka akan selalu ada penjelasan ilmiah untuk setiap hal yang terjadi. Tidak ada nabi penyeru, yang ada hanya rasio. Dan suara Tuhan sudah tidak lagi terdengar. Dianggap mati.

Seorang gadis belia umur delapan belas berkata, "Kenapa selalu ngeluh waktu ada bencana? Dimana mereka ketika nikmat yang Dia berikan lewat tanpa diperhatikan?" Dan gwa tau betul betapa takut dia akan gempa dan letusan gunung.

But one thing I believe, apapun yang dikatakan orang: Dia ada kemanapun wajahmu menghadap, lebih dekat dari urat nadi di lehermu sendiri, dan bekerja dengan cara misterius.

Seek, then you shall find...


MEMBACA TANDA-TANDA

ada sesuatu yang rasanya mulai lepas
dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari kita

ada sesuatu yang mulanya
tak begitu jelas
tapi kini kita mulai merindukannya

kita saksikan udara
abu abu warnanya
kita saksikan air danau
yang semakin surut jadinya
burung-burung kecil
tak lagi berkicau di pagi hari

hutan kehilangan ranting
ranting kehilangan daun
daun kehilangan dahan
dahan kehilangan
hutan

kita saksikan zat asam
didesak asam arang
dan karbon dioksida itu
menggilas paru-paru

kita saksikan
gunung memompakan abu
abu membawa batu
batu membawa lindu
lindu membawa longsor
longsor membawa air
air membawa banjir
banjir membawa air

air
mata

kita telah saksikan seribu tanda-tanda
bisakah kita membaca tanda-tanda?

Allah
ampuni dosa-dosa kami

beri kami kearifan membaca
seribu tanda-tanda

karena ada sesuatu yang rasanya
mulai lepas dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari

karena ada sesuatu yang mulanya
tak begitu jelas
tapi kini kami
mulai
merindukannya

(Membaca Tanda Tanda, 1982:Taufik Ismail)


in memoriam of more than 5000 souls lost on May 27, 2006 at 6.3
and hundreds of thousands homeless people in less than a second...

To A Dear At Heart

Posted by The Bitch on 6/08/2006 06:15:00 PM

Han,

Ternyata susah sekali mencari Kamu dalam sebuah wujud
Diperlukan jagad dan seluruh isinya untuk mengerti Kamu
Sering, itu juga belum cukup
Tapi dari sebilah rumput pun kadang Kamu terpahami.

Ah... dasar Kamu, Si Maha Kontradiktif!


[Kenapa gwa baru tau ya? Oalah, Nduk... Neng ndhi wae, tho?! *garuk-garuk kepala yang nggak ketombean*]

It's All About Starting

Posted by The Bitch on 6/05/2006 03:01:00 AM

Akhirnya! Atau awalnya? Ntah. Gila! Mungkin kayak gini rasanya orgasme. Lega. Eh, boker juga denk. Terima gaji juga gitu. Puas, meskipun masih ada bagian-bagian yang bolong.

Apa sih?

Ada deh... Hehe. Pokoknya gwa lega banget waktu akhirnya bisa ngejadiin satu hal yang bertahun-tahun lalu diyakinkan seseorang kalo gwa bisa bikinnya. Gara-gara perjalanan liburan gwa selama tiga harmal (Halah! Alm. Pram banget bahasanyah!) ke Bandung, ketemu beberapa begundal pemikir yang menyamar jadi manusia biasa. Gwa banyak belajar dari mereka. Kalo mereka aja bisa, kenapa gwa nggak?!

Terima kasih untuk waktu dan pembelajarannya. Ternyata nggak sesusah yang gwa kira. Awalnya emang sulit banget, tapi kalo udah kena tombol yang pas untuk disentuh, terusannya jadi lancar. Mengalir. Enak, lah!
Sekali lagi, terima kasih. Karena kalian saya ada... (Iklan banget nggak sih?!)

A deep bow to Wenny, Amma, Cikur di Dipati Ukur (Hey! Berrima!), Om Japon dan kamarnya yang udah gwa bajak untuk nonton Spongebob... and the unreachable Aa' Kentung...