"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Kopi Lu Gimana?

Posted by The Bitch on 5/31/2006 06:25:00 AM

Kalo gwa di rumah, tiap hari terjadi diskriminasi pada suguhan kopi. Bokap gwa selalu bangun paling pagi, lalu masak air dan bikin minuman panas untuk anak, istri dan dirinya sendiri. Cuma gwa yang nggak pernah dibikinin. Padahal minuman pagi--dan siang dan sore dan malam--gwa paling gampang: satu setengah sendok makan kopi diseduh dengan air mendidih satu mug. Nggak usah nakar gula karena gwa ga suka kopi manis. Gwa mau ngopi, gituloh! Bukan minum sirup karamel panas!

Sebenernya sih Si Babab bukannya diskriminasi. Tapi kayaknya beliau bete aja, kalah wibawa sama anak perempuannya dalam hal kopi-mengopi. Soalnya takaran Babab adalah 2 sendok makan kopi, 3 sendok makan (penuh!) gula, diseduh dengan air satu mug. Tapi kalo gwa udah bikin sendiri, gelas gwa yang paling aman dari gangguan seruputan lambe-lambe nggak bertanggungjawab karena nggak ada yang doyan. Biasanya Ibu yang komentar: "Siapa sih yang sudi ngembat kopi dukun kamu?!"

Tadinya gwa masih suka kopi dengan sedikit gula meski kekentalannya bisa buat luluran sebadan *berlebihan*. Tapi semua berubah sejak gwa maen ke kosnya Si Bule Belanda doyan bakwan yang gwa dampingin sebulan lebih. Waktu itu dia cuma punya bubuk kopi tanpa gula karena begitulah keluarganya ngopi. Terus gwa nyoba, dan rasanya emang beda. Lebih ngampleng. Berasa kayak abis dicium Brad Pitt gitu deh. Seger banget. Mata gwa juga melek lebih lebar jadinya.

Temen kos gwa ada yang suka menyamar: dia lebih banyak masukin krimer daripada kopi tapi pura-puranya ngopi. Katanya, gwa keren kalo lagi ngopi sambil baca buku diseling rokok. Duh... jadi pengen malu dibilang keren... *pipi merona merah*.

Sementara Kakak/Temen/Ibu/Tentor gwa di Jokja--meskipun ga tahan kafein--mesti, kudu, harus ngopi sebelum nemuin dosen pembimbing yang dia takutin banget.
"Karena kopi bikin gwa deg-degan, setidaknya gwa udah terlatih sebelum ngadep," ujarnya.

Well...
Different heads, different preferences, different reason, and different taste. Sama halnya seperti kita milih keyakinan akan apapun. Kalo gwa maksain semua orang minum kopi dukun seperti gwa, berarti gwa fanatik. Belum tentu orang yang gwa suruh minum itu tahan sama paitnya. Tapi kalo gwa ditawarin untuk nyobain kopi baru dan ternyata enak, gwa juga ga bakal nolak. Dan jika ternyata semua kopi udah gwa coba dan gwa stick to one kind of coffee, itu gwa idealis.

Ah, udah ah. Sakaw kopi jadinya...

[Berencana pergi ke Kopi Aroma dan borong sekilo untuk diriku sendiri...]

*note: image ripped from here.

Numb Lagi, Numb Lagi... Bosen Ah!

Posted by The Bitch on 5/31/2006 03:21:00 AM

Ya, ya, ya.

Gwa berduka. Jogja-Jateng gempa hebat Sabtu lalu. Sewon dan Bantul rata dengan tanah. Beberapa tempat lain rusak, meskipun nggak terlalu parah. Ribuan orang harus kehilangan nyawa tertimpa tempat perlindungan mereka sendiri. Dan ribuan lagi luka-luka sampe mati karena jumlah korban jauuuuh lebih banyak daripada tenaga medis yang tersedia. Juga masih ada ribuan lainnya yang jadi tunawisma karena nggak punya tempat berteduh.

........ dan gwa nggak ada di tempat kejadian ketika bencana itu datang.

............. sementara di 'rumah' gwa orang bergelimpangan, sekarat, papa dan putus asa, gwa liburan ke Bandung dan menikmati waktu-waktu menyenangkan bersama sahabat.

As if nothing happened. As if we're living in another reality. As if what we've seen on the news was just another show that meant to develop the viewers' sympathy.

But yes, I grieved. I stunned. They were real. The blood spurted from the open wounds was not artificial. The sorrow they felt was not an act of performance. The ruins left by a 57-second-quake were not made by the props crew.

Cripes! Have I lost my senses? Damn lah...

Dan pembelaan gwa adalah: "Hey! Don't tell me to grieve too much. I have my own problems!"

Egois sekali!

Being Mature and Aware...

Posted by The Bitch on 5/09/2006 11:57:00 AM

Ada seorang nenek yang merasa sudah melampaui segalanya dan bangga akan hal itu."Usiaku 74! Semua teman-temanku sudah berpulang dan aku masih bertahan dan sehat. Otakku masih bekerja sempurna karena aku suka membaca. Coba... Mana ada nenek segagah aku sekarang?!"

Sementara anak dan cucunya hanya memandang getir dari balik jendela ketika mereka melihatnya sesumbar pada tukang ojek yang mangkal di depan rumah.
Begitukah menjadi dewasa dan sadar akan kedewasaannya?


...................................................................................another procrastination moment of my life.

Adikku Pekerja

Posted by The Bitch on 5/08/2006 10:29:00 PM

Dia pulang larut malam pukul sebelas. Ibu dan aku menunggu di teras depan, cemas. Apa jadinya hari pertama training si bungsu manja yang masih suka tidur di pelukan Ibu itu.

Lalu dia datang bersama Babab yang menjemputnya. Wajahnya lelah. Rambutnya berantakan. Rias wajah tipis yang dipoleskan oleh Ibu tadi pagi memudar. Setelah menghempaskan diri di kursi, airmata tiba-tiba menetes tanpa mengindahkan tanya yang mengambang di wajah kami.
"Capek... Kakinya lecet berat gara-gara pake sepatu baru... Sebel..."

Duh, Dek. Berdiri di resto Cina yang ada di salah satu Mal besar Jakarta memang bukan hal enteng. Kamu harus menahan hati dengan senyum siap sedia, melayani dan memandangi orang-orang kaya yang bebas-merdeka menikmati makanan harga jutaan (meskipun kamu tahu ada banyak anak-anak pengojek payung kedinginan di luar). Dengan gaji 15,000 per hari--yang kamu dapat secara akumulatif setelah dua minggu disiksa dalam 11 jam kerja sebelum kamu diperas dengan bayaran lebih tinggi--bonusmu adalah melirik artis-artis sinetron yang ganteng dan cakep. Dan mengenal para pekerja lain dan menyelami sikap mereka selama menjadi mesin duit.

Kamu harus ingat, bagaimanapun kamu manusia yang punya nilai kemanusiaan.

Jangan jadi batu, Sayang. Gerakkan nalar yang merupakan berkah terbesar dari alam. Gunakan hati dalam setiap sikap. Jadilah beda dari alat pabrik, karena kamu bukan mesin penghasil duit. Itu yang berkali-kali kutekankan padamu, Dinda: KAMU MANUSIA!!!


[...dan aku nyeri mendengar kamu berkomentar, "Bahkan untuk baca koran pun sekarang udah nggak ada waktu..."]