"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

The Real Loser Shady, Please Stand Up!

Posted by The Bitch on 4/21/2006 04:13:00 AM

"Gambar ini seperti lambang orang Kristen! Kenapa kamu pajang?"
Lalu kenapa? Ini cuma phoenix berwarna merah, yang aku suka dan aku tempel sebagai pengganti muka yang nggak representatif dan nggak sedap dipandang mata orang lain selain diriku sendiri. Mungkin caranya membentangkan sayap seperti burung merpati yang sering dipakai sebagai simbol oleh orang Kristen. Padahal lambang perdamaian pun mirip seperti itu.

"Kenapa kamu pakai 666? Itu lambang setan!"
Lalu kenapa? Aku pake nick itu karena ingin jadi anonim di dunia maya, menutupi keperempuananku dengan lambang menyeramkan agar mereka nggak bisa ngisengin aku, ngerayu dengan teks-teks panjang nan njelehi berisi fantasi yang hanya memuaskan lelaki dan bikin alisku bertaut heran dan gigi gemeretak geram akibat menahan marah betapa kaumku ditindas sebagai ujung pelampiasan bahkan di dunia tidak beridentitas sekalipun.

"Kenapa kamu merokok? Kamu kan perempuan! Nanti kamu keguguran, penyakitan, kanker..."
Lalu kenapa? Apa perempuan bukan manusia yang kebetulan sama-sama pecandu nikotin seperti laki-laki? Apa kamu yakin aku pasti keguguran ketika aku merokok padahal hamil pun tidak? Apa ketika laki-laki merokok maka mereka kebal terhadap penyakit dan kanker?

"Kamu kayak laki-laki aja, doyan begadang..."
Lalu kenapa? Apa ketika pertanyaan-pertanyaan di kepala lelaki mendera begitu hebatnya sampai mata nggak mau kompromi dengan waktu istirahat, maka perempuan nggak boleh punya kegelisahan sama atas jawab yang dia cari?

"Ih, dia kan berjilbab. Mosok ngobrol sama laki-laki sampe dempetan gitu sih?! Cewek sendiri, dikrubutin cowok, bajunya ketat, lagi!"
Lalu kenapa? Setidaknya dia punya temen banyak ampe sekerubutan gitu. Daripada yang cuma bisa ngomongin kejelekan orang dan nggak liat bagusnya dia yang udah usaha menutupi tubuhnya meskipun dengan baju ketat.
Dan kenapa sih orang melulu berkutat dengan simbol? Dengan aturan sendiri yang dia coba terapkan pada orang lain? Apa nggak pernah terlintas kalo masing-masing orang juga punya pengalaman dan dari situ dia punya pemikiran dan aturannya sendiri? Kalo emang itu nggak melukai kamu secara fisik, kenapa rese? Kalo kamu terganggu, kenapa nggak ngomong sama orangnya langsung? Atau, kalau emang niatmu baik, kenapa nggak ditegur dengan omongan yang lebih baik?
Atau... kamu bisa konsekwen dengan omonganmu, seperti halnya Rasulullah yang meneladani apa yang diucapkan dengan perbuatannya sehari-hari?
By the way, terimakasih atas tegurannya. Aku jadi tahu seberapa dangkal kamu mengerti aku...

[Dedicated to all fussy people all around that pretend to care and love me...]

Gosh!

Posted by The Bitch on 4/21/2006 03:05:00 AM

Membosankan sekali, kehidupan sebelum mati itu. Ketika kamu mati rasa dan apa yang tersaji di hadapan tidak lagi menarik indra. Sementara yang kamu ingin hanya terpejam dan mematikan seluruh reseptor, serta membiarkan semua berlalu tanpa kamu perlu tahu.

Membosankan sekali...

I Choose, Therefore I Am *hayah!*

Posted by The Bitch on 4/11/2006 12:40:00 AM

"Hidup itu pilihan. Setiap detik yang kita punya adalah memutuskan, entah untuk berhenti bernafas atau melanjutkan hidup. Meski mati ada peraturannya sendiri."

Sepakat. Tapi ketika pilihan yang kita ambil kemudian berkompromi pada keadaan, dan ketika keadaan jadi bangsat setelah kita memilih... salah siapa?

Lalu ketika ada pemakluman, "Manusia berencana, Tuhan memutuskan". Apa penilaian itu adil buat Dia Yang Maha Adil? Rasanya terlalu remeh untuk Dia urun rembug dalam menetapkan apakah Nira ingin meneruskan pacaran dengan Santo atau membuka lembaran baru bersama Gatot, kenalannya seminggu lalu. Padahal di belahan dunia lain ada jutaan manusia kelaparan atau bergeletakan menanti ajal tanpa ada tangan terulur. Padahal disini banyak sungai tempat hidup ekosistem air yang penting bagi semesta, tapi berwarna hitam dan tidak ada satupun yang peduli kecuali pada perut dan diri sendiri.

[ngelantur mode ya?]

Ketika alasan "Jodoh, mati dan rezeki itu di tangan Tuhan", apa usaha mencari pasangan terbaik adalah salah ketika mukamu sejelek penderita lepra? Atau dengan berdiam diri dan berdoa tanpa putus maka sebungkus nasi kapau langsung jatuh dari "Langit Resto" lengkap dengan lauk-pauk sesuai keinginan?

Yah... lagi-lagi pilihan. Sama halnya ketika memilih tinggal di kamar sempit yang hanya terisi buku, pakaian dan kasur beserta sprei dan sarung bantal pinjaman dengan harga tiga ratus lima puluh ribu rupiah per bulan. Sementara ada dua tempat nyaman tersedia, komplit dengan makannya tanpa harus berlelah-lelah nyari.
Jadi, kamu memilih yang mana, Nduk?

[... dan beranikah kau gadai satu-satunya benda abstrak bernama 'harga diri' itu, ketika Jakarta bahkan tidak sudi memeluk lutut dan menghiba padamu?]

Would You Be There Beside Me, Pals?

Posted by The Bitch on 4/11/2006 12:35:00 AM

Enam belas hari punya ruang pribadi, di sebuah kota bangsat yang bernama Jakarta ini dan aku mulai lelah. Hanya segitu kemampuanmu? Dimana sesumbar "nggak akan kalah" waktu itu?

Hey, jangan terlalu memperbangsatkan semua hal tentang ibukotamu tercinta ini. Meski lelah, kamu nemu orang-orang baik juga disini, kan? Yang dengan tulus memberi kamu piring kecil berisi hot dog hangat dan coklat panas di dini hari kamu bekerja mengejar sesuatu yang selalu berlari. Yang rela kamarnya dijajah padahal baru dua hari mengenalmu. Yang dengan jujur berkata "nggak ada jablay yang bisa menyamai sex performance cewekku" tapi menemukan banding pada selingkuhannya. Yang tiba-tiba amat sangat perlu kamu saat orangtuanya melarang ngekos padahal kamu baru kenal dia beberapa hari. Yang nurut beli buku yang kamu rekomendasikan hanya karena kamu gondok pada materi idealis yang nggak bisa diduitin itu. Dia yang mencarimu ketika audio komputernya nggak bisa nyala. Dia yang sok jadi abang padahal kamu was-was ceweknya cemburu. Dia yang perlu pendengar untuk mulutnya yang nggak bisa di-rem dan omongannya yang sok ilmiah dan keminter tapi amat sangat baik membagi air panasnya dan bertanya apa kamu sudah makan malam ini. Dia yang tengah malam rela minjemin kamar, DVD dan player ketika hasrat nonton horormu gak tertahan sementara dia tidur setengah nyenyak. Dia yang menganggap keberadaanmu adalah sesuatu yang patut ditunggu karena hanya adamu yang bisa bikin dia tertawa lepas.

Enambelas hari yang memuakkan, tapi terbayar. Asal kamu mau buka hati, semua itu sungguh nggak ada bandingannya.
"Banyak sekali orang baik di sekelilingmu, tapi kenapa kamunya kurang ajar, ya?" Begitu kata seorang Yogi. Apa kamu pernah mikirin itu?


... karena ketika dia berguna bagi orang lain maka fungsinya sebagai manusia adalah genap...

5 April, 2006: Pemandangan Siang dari Airport Shuttle Gambir - Bandara

Posted by The Bitch on 4/11/2006 12:25:00 AM

Aduh, otak buntu. Rasanya pengen jedotin aja biar tengkorak ini retak, lalu lelehannya keluar berbareng congek dari telinga. Mungkin dengan begitu maka jadi nggak buntu lagi. Tapi ada yang bilang, gwa bukan orang yang berani ngadepin sakit. Wong ama jarum suntik aja takut! Jadi...?

Speaking tentang otak buntu. Kalo ada sebuah pusat perbelanjaan magrong-magrong berlantai enam, dengan barang kinclong-mulus seharga tujuh kali gaji tukang sapu jalanan di display dibalik kaca akuarium tanpa noda dan di luar ada lapangan parkir seluas lima kali lapangan bola, sementara dua kilometer dari situ anak-anak bingung dimana bisa saling menendang bola plastik murah dengan nyaman tanpa harus diteriaki pengendara motor atau khawatir tertabrak bajay, yang pulang mereka adalah rumah petak sempit (hampir tidak layak huni) dengan selokan mampet yang tiap hujan pasti banjir membawa air hitam masuk sampai kamar tidur dan ketika siang teriknya seperti di oven tempat bakar nastar yang disajikan gegap gempita di tiap Lebaran dimana anak-anak (harusnya) seneng-seneng merayakan hari kemenangan yang basi sementara orang kaya sibuk ngabisin duit untuk beli peralatan ibadah mewah dan "sekali berarti, sudah itu mati": bergaya sok fitri di hari raya dan mentereng di bawah Sang Maha Mentereng dikomandoi imam di depan (hah!), lalu gimana caranya biar otak gak buntu mikirinnya?

Auk ah. Pengen brenti mikir aja.
*berlalu*

[Lalu untuk apa Kau cipta kalbu ketika kami tidak lagi tersentuh? Sementara lebih banyak mereka yang lapar tapi hanya segelintir yang sanggup makan, atau bahkan saling memakan antara sesamanya. Lalu dimana kasih yang Kau sisipkan? Ketika sedikit yang bisa memperpintar diri tapi lebih banyak yang membuat bodoh dan bangga melakukannya. Lalu dimana pilihan Kau tawarkan? Saat yang bisa mereka lakukan adalah bertahan sampai mati kelaparan dan kedinginan atau pergi entah kemana dan terusir-usir dari bumi yang (katanya) mahaluas. Lalu dimana persamaan kesempatan yang konon sama Kau beri? Waktu disini ada orang yang bisa beli satu negara sementara disana ada yang sampai mati pun dia nggak sanggup bayar. Tolong, hentikan pertanyaanku. Aku nggak sanggup lagi nyari jawabannya. Aku perlu bantuan...]

How Convenience

Posted by The Bitch on 4/11/2006 12:20:00 AM

Dia datang tanpa bentuk, hanya suara dan barisan kata di layar virtual. Entah bagaimana, dia seperti cermin: mirip sepertiku. Meski kita bertolak belakang. Lalu tawaran itu datang berbentuk komitmen yang tanpa batas ruang dan waktu.

Apa mungkin?

Kami saling menyebut diri 'dua orang gelisah yang saling menemukan diri dan senasib bersama'. Kami mencibir pertemuan, memaki ikatan, menista mode dan sinetron, tapi sama bermimpi tentang kehidupan tentram-nyaman dalam sebuah perkawinan. Entah dengan siapa.

Apa bisa?

Ya... liat aja nanti. Dimana-mana, masa percobaan adalah tiga bulan. Setelah itu perpanjang kontrak. Itupun kalo mau pake sistem kayak itu. Kira-kira berapa lama lagi ujung ini berakhir?

Eh, Kamu... Makasih Ya!

Posted by The Bitch on 4/03/2006 12:20:00 AM

Dear God,


Thank YOU for not making me perfect, because only with imperfection I could see the beauty in all things I've achieved so hard.

Thank YOU for not making me alone, because I don't know what I'd become without friends that I've passed in all stages of life.

Thank YOU for making me dark, because I could enjoy doing my things under the sun all day long without even worrying of skin cancer.

Thank YOU for creating Babab , Ibu and Icha, and have all the reason in the world to be thankful everyday for having them as my family.

Thank YOU for creating coffee that keeps me awake, alert and aware of who I am daily.

Thank YOU for creating milk that meets my basic need of nutrition when I feel like I don't have the strength to chew even a crumb.

Thank YOU for creating tobacco and cigarette-men, because with their work I could find a minute-friend anytime, anywhere.

Thank YOU for creating internet, because I could be anybody I've ever dreamed of--or even myself--shamelessly.

Thank YOU for creating chocolate, because I don't have to have sex to know how does it feel to have an orgasm. (Well, people said that having your sweet teeth deep into a bar of chocolate is like having a multiple orgasm, rite?)

Thank YOU for the ozone, planets, falling stars, ancient tribes, electricity, broken plateu, rain and rainbow, waterfalls, rivers, Bradd Pit, Asia Carera, lakes, Vivid Interactive, oceans, sky, terasi and sambel, Dream Theater, Converse, Bee Dees, Wacoal, Kariage Kun, Honeysoft Unicharm, roaches, fireflies, Harry Potter and JK Rowling, light, Ariel Peter Pan, Sakura Comics, oxygen etc., etc.

And other small but important things that passed before my very eyes but too little to notice.
I couldn't ask for more.

Wish there are many grateful people instead of hateful ones...

What The Fu..?!

Posted by The Bitch on 4/03/2006 12:11:00 AM

Tentang menjadi dan hidup. Tentang memaknai dan menghargai orang lain. Tentang nilai, meski kadang dinilai dan menilai itu menyebalkan.

Saat kamu terpuruk dan jatuh, ketika ada tangan terulur, maka saat itulah kamu temukan teman sejati.

Hanya pada sistem seperti itukah?

Seseorang bilang bahwa ukuran menjadi baik adalah ketika dia memiliki banyak teman.
"Teman seperti apa?" tanyaku.
Apakah teman yang tersenyum ketika berpapasan di jalan untuk kemudian kembali merengut sedetik setelah kamu berpaling?
Atau mereka yang menghiburmu dengan lawakan-lawakan segar tapi jayus, ketika dirasa mendung bergayut di wajahmu yang kusut?
Mungkin dia yang selalu menanyakan bagaimana kondisi mentalmu, atau jadi penyedia telinga saat kamu perlu didengar?

Apapun. Jangan menyamakan standar penilaian. Karena kamu tahu: Kita beda.