"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Melaporkan langsung dari tempat kejadian...

Posted by The Bitch on 3/21/2006 07:51:00 PM

Eh, ternyata ada hikmahnya juga difitnah dan dikeluarin dari kerjaan. Gwa dapet kerjaan laen, meskipun masih freelance. Yet, I assume this will be my window, because one of my friend said, "When a door close before your very eyes, there will be another window open. When the window closes too, there will be a vent above your head. When you can't even find a vent, there is a rathole available. When you are trapped inside the four walls and ceiling, dig a hole in one of the wall. You'll find your freedom there."

Quote yang panjang. Mudah-mudahan gwa ga harus cari ventilasi karena jendela yang ada udah bikin udara jadi cukup sejuk.

Kamu Yang Ada Di Atas Sana! Apa Kabar?

Posted by The Bitch on 3/20/2006 07:32:00 AM

What a ride! Dalam dua bulan gwa harus mengalami dua kali meninggalkan comfort zone, yang mungkin untuk orang lain perlu waktu bertahun-tahun. Menyenangkan... dan berdarah-darah.

Pernah terlintas, ini nggak adil buat gwa. Kenapa untuk sesuatu yang dengan gampang didapatkan orang lain, gwa harus mati-matian mendapatkan dan mempertahankannya? Kenapa untuk itu pun gwa berkali-kali di'injak'?

"Orang yang sering diinjak orang lain adalah mereka yang lebih dekat dengan penciptanya," kata seorang teman. Langsung gwa protes! "Han... Tolong. Jika aku harus mendekat padaMu dengan cara sering diinjak seperti ini, jangan sering-sering deh. Aku nggak kuat."

Kenapa ada orang masih merasa berjaya ketika dia naik ke atas dengan menginjak kepala orang lain? Kenapa kita nggak bergandengan tangan aja untuk menapak jenjang selanjutnya?

"Kamu harus ingat. Mereka bukan kamu dan kamu bukan mereka. Toleransimu harus tinggi. Jadilah cair dan jadilah 'saya', bukan 'aku'. Hilangkan ego. Disitu kamu akan menemukan teman-teman sejati."

... dan musuh sejati.

[Terpujilah Engkau yang menciptakan manusia dengan berbagai emosi dan macam-macamnya, yang membuatku belajar dan berusaha, untuk kemudian mengerti bahwa ketidakadilan manusia lebih memuakkan daripada ketidakadilanMu]

Hey, Han. Kamu nggak tidur, kan?

Laporan Cuaca

Posted by The Bitch on 3/17/2006 06:54:00 AM

When you've had enough, it's enough. When you call it quit, then it's over. Be the master of your own fate, and never be mastered by it. Your life. Your choice.

Though sometimes it hurts, yet you have to get back on your feet and be brave when you are down and scared. Raise your chin, face the wind. The sand might get into your eyes, but there is tears to wash it away. The wind might tousle your hair, but it gives you a great movie-clip effect and makes you more heroic. Roar of thunder might be deafening, but it prevents you from hearing things you don't want to hear that makes you weak.

And the rain... It's therapeutic, you know. The needle points that repeatedly falling from the sky will make you numb. The tiredness on the shoulders that had been carrying such a heavy burden will be distracted somehow. The dirt on your face will be wiped with every single drop of it.

Have faith, that there is tranquility after the tempest. That all clouds have silver linings. There is rainbow after the rain. And what goes around, comes around.

So be it, baby. Keep your nose above the water and put on that sweetest smile. It makes people wonder what you've been up to.

The Curse of A Deadliner

Posted by The Bitch on 3/16/2006 05:31:00 AM

Kerjaan sih sebenernya biasa aja. Tapi kenapa gwa selalu ngerasa dikejar deadline yax? Mosok cuman gara-gara maenan solitaire dan ngentri blog macem begini aja bisa ampe menyita waktu banyak banget? Perasaan kerjaan gwa juga nggak ngebut-ngebut banget. Dikasih dua sampe tiga hari untuk nyelesain.

... masalahnya, gwa selalu ngebut di hari terakhir. Ah! Pantes ajah!

[NJRIT! Andai gwa punya 27 jam sehari pun kayaknya gwa gak bakal cukup deh. Emang dasar, saya ini deadliner!]

Procrastinating...

Posted by The Bitch on 3/15/2006 08:44:00 AM

Jam 5.09 pagi buta. Soundtrack: Linkin Park - Points of Authority. Batang rokok ke 24 dari siang kemarin, dan... gelas kedua Kopi Aroma tanpa gula kiriman Tante Mira dalam dua jam terakhir. Suntuk bermain jadi 'tuhan kecil' untuk karakter-karakter yang tidak pernah nyata, di sebuah tempat yang pura-pura nyata, dengan para pemain yang benar-benar nyata.

Dan aku larut dalam derap dan gemuruh mesin industri hiburan yang muram, sepi, diam. Kering. Disini, di sebuah tempat bernama KAPITALIS: sesuatu yang kuhujat, kemudian kuikut tanpa paksa. Ini pilihan. Dan frase itu menjelma mantra dalam benak. Kupercaya, itu manjur.

Indah dan remuknya, bekerja itu. Tapi saya akui, saya memang masokis...


*note: diposting beberapa hari setelah kejadian

Untitled 0.1

Posted by The Bitch on 3/12/2006 03:26:00 AM

Nggak berasa udah hampir 3 minggu gwa disini. Ketemu mahluk-mahluk baik yang bikin gwa betah, dan ampe nginep-nginep di kamar yang mirip gudang tapi perangkat audionya edan-edanan. Bareng sama perempuan-perempuan perkasa dan lelaki kecil nan tangguh sebagai rekan sekerja. Pokoknya... mereka yang bikin gwa bisa bertahan sampe sekarang.

Hey... I aint changing. I'm still the same old shit that used to dream around in Jokja and now trying to catch a star in Jakarta.

I aint changing... Same Shit Different Day.


*Bingung mo nulis apa setelah terbengong-bengong dapet koneksi internet yang tiada putus di tempat begundal*

Blame It on My Menstrual Cycle!

Posted by The Bitch on 3/10/2006 06:10:00 PM

Do you know that...

I love to see, to touch and to feel the softness of the hair on the nape of your neck when we were cruising along the street on motorcycle?

Your pheromones is still lingering somewhere inside my mind and I can recall it easily anytime, anywhere?

I search for you in every soul I know--looking for a shared similarity--to get a good grip on you so I can't lose you anymore, and feel bad about it?

A pair of arms of yours are the safest sanctuary from any life tempest that I've involuntarily plunged into?

I love to feel your nose on my cheek everytime you stole kisses from me when you thought I was sleeping and wish you did it more often?

Rough cheeks that you have are the most smoochable and snugable ones I've ever known?

I get goosebumps everytime you're passing by and I silently waiting for your hands to stop on my head and caress my hair a little?

Your smile is the most energizing tonic, and by looking at it I feel like I could jump over Tugu Muda in one, good, huge leap? (And how I wish to see that smile daily...)

I am too godamn fucking proud to call you first and waiting for your not-so-often call every night instead, even if you only say "sweet dream and sleep tight"?

Your shoulders are the most comfortable place for my forehead to lean on when things don't go my way and I'm sick of them?

I've been waiting 24/7 with every once in a while glancing over my cheap cellphone for incoming message from "Bangsat Tersayang" and blow my head off in excitement though you only say "Hi"?

You've opened my ears and made me deeply in love with Dream Theater, Metallica, Yngwie, Vai, Satriani and Santana, and I'm looking forward to go to DT concert together with you, here in this fucking place so-called Endonesah, all of my life?

I've learned from you how to be patient and wait, even if it took me years?

I like to sit beside you when you're doing your things with computers and listen to your explanation about how things work inside the machine and can't understand a single word of it but continue to listen enthusiastically only to hear your voice?

Every night I take a glance to the sky and admiring the stars above because I know somehow, somewhere, you're doing the same?

I've learned how to love and be loved unconditionally and still enjoying my freedom in moving to the next level of life-stage?

Somehow, they're things that I don't have to tell you, because even if I'm not saying them out loud... you just know.

You are irreplacable. Never was. Never will.


[Yet, do you know that deep down inside I want to curse the day I met you because I still love you till now?]


ANJINGGGGGG......... kangen. *mengusap air liur yang tiada henti menetes*

Pay Respect!

Posted by The Bitch on 3/08/2006 08:34:00 PM

Kenyang dan enaknya... makan jam 4 pagi dengan lauk dingin yang baru keluar dari kulkas karena males nyalain kompor. Tapi gwa nggak mengeluh koq. Lha wong buktinya abis sepiring.

Hampir seminggu ini gwa makan larut malam banget, kadang hampir subuh. Peduli setan dengan diet, cara menderita menikmati dunia itu. What's diet, anyway? Die with tea? Lagian, gwa juga males makan malem. Begadang itu yang diperlukan adalah makan dini hari, bukan malam. Seperti sahur. Dan gwa curiga, jangan-jangan sahur diciptakan berdasar orang kayak gwa. Saya tersanjung! *pret!*

Gwa sering miris liat makanan-makanan itu tiap gwa bangun pagi-hampir-siang. Kadang menu pendamping nasi yang baru dateng disajikan dengan gegap gempita (dalam rantang almunium susun tiga dan wadah bekas es krim seliter), sementara lauk yang nggak habis kemarennya dikumpulin jadi satu. Kalo sampe sore nggak ada yang makan, ya dibuang. *keluh*

Dan ini bukan alasan, kalo gwa berusaha menyelamatkan beberapa sendok makanan itu untuk gwa bantai dini hari. Gwa gak tega liat mereka dibuang, karena 'kamu tidak tahu butir nasi atau kerat tempe mana yang menjadikan rizki untukmu nanti'. Tapi untuk jadi 'saviour' juga gwa masih belum tergerak. Bayangin aja, kadang gwa harus kelarin gawean dalam beberapa jam terakhir sebelum diduluin matahari. Setelah selesai, badan rasanya mau rontok sampe naek ke kamar aja males. Dan kalo gwa harus ngangetin makanan lagi... Oh, no! I need some rest! (Yeah. I know you people are grinning and say "another apology?"! Don't look away! I see it!)

Gwa inget simbah yang suka ngumpulin nasi 'adhang', nasi kemaren yang udah hampir nggak enak dan udah pernah diangetin. Kadang dikeringin, kadang dibikin gendar. Kemudian digoreng. Emang perlu kerajinan luar biasa dan waktu luang yang lumayan banyak, serta ketelatenan. Tapi hasilnya juga nggak sia-sia: kudapan murah-meriah kaya karbohidrat. Alasannya mungkin melankolis nostalgis: "Waktu kecil dulu jarang-jarang Mbah ketemu nasi. Adanya bulgur, yang makan sedikit aja udah kenyang karena mengembang di perut. Mbah kasian liat nasi dibuang..." (Dengan tujuan memudahkan pemahaman pembaca dan penulis, maka kutipan diterjemahkan dari bahasa Jawa ke bahasa Endonesah)

Lalu hari-hari ketika gwa ngekos di Jokja dan jobless. Kadang sampe seminggu gwa ga makan dengan layak karena nggak ada duit serupiahpun di kantong dan sok bangga untuk minjem (tapi cuek mintain rokok ke temen-temen =P). Ketika gwa bisa beli makan... GOSH! Mungkin seperti itu rasanya orgasme berkali-kali.

We are often forget to respect and be grateful for the simplest thing in life, while in other part of this fucking, stinking world, there are kids fighting to the last drop of their blood only to get a morsel to enter their tiny mouths. To sustain a single soul that they have in order to survive: the most primitive instinct of every living creature.

... dan Dia yang Di Atas Sana membenci semua perbuatan mubadzir dan sia-sia, karena manusia tidak diciptakan secara main-main atau serampangan melainkan untuk sebuah tujuan mulia...

(I bow unto thee, Mr. Ghazali. Thou hadth madeth a deep thought that I read from an SMS in my mobile.)

Balada Kopi Aceh

Posted by The Bitch on 3/08/2006 08:22:00 PM

Hey! Good News! Gwa berhasil bawa nuansa warung Jokja ke sini.
Minggu kemaren, Bos gwa dengan suka rela 'menyelundupkan' setengah kilo kopi Aceh ke rumah penampungan tuna wisma ini. On my request! Wah! Senangnya!

Selepas maghrib, gwa rebus barang selundupan itu secara semena-mena, dengan komposisi 3 gelas air dan 4 sendok makan penuh kopi ke dalam panci di atas kompor yang menyala sedang. Diamkan hingga mendidih, aduk sebentar, lalu tutup. Katanya sih harus gitu masaknya. Kalo udah, kemudian disaring. Pakek apa? Adanya peniris spaghetti dan kutang kuning gwa yang mirip saringan teh. Nggak mungkin mengorbankan kutang nyaman itu hanya untuk kopi, betapapun enaknya tu kopi. Jadinya... Ya udah. Bantai wae sak ampase. Nek matek yo kari ngubur =P

Kompensasi kopi adalah: semua kerjaan gwa, tanpa disaring dan diedit ibu mungil berjilbab, langsung dikirim ke si bos. Hayah! Alasannya? "Karena tulisanmu yang paling lumayan diantara anak-anak yang lain..."

Makjang! Padahal minggu ini penentuan. Kalo gwa gak memenuhi kuota setoran nulis maka gwa bakal terancam pulang lagi. Hmmm... Cara aneh untuk malu.

Jadi... doakan gwa untuk tetap jatuh dengan gagah di kota brengsek ini.

("Keruk semua yang ada disini, tapi jangan sampai lupakan dimana hatimu terletak. Bahkan jika Jakarta memeluk lututmu dan mengharap jiwamu tergadai padanya!" Diambil dari gabungan antara e-mail dan SMS dari dua manusia penting dalam hidup gwa. *Bows to Mas Sigit dan Bro Yudi*)

Being Good and Stepped-On

Posted by The Bitch on 3/04/2006 01:35:00 PM

"Sepertinya aku ingat, ada seseorang yang pernah berjanji meninggalkan semua kesenangan semu ini untuk 'kembali'."
Dia menunduk sebentar, lalu beralasan, "Aku nggak mau jadi orang baik. Diinjek terus!"

Benarkah?

Well, terserah dia. Aku hanya reminder. Tapi... being good and continously being stepped-on...? Atau, instead of being stepped-on, you choose to be the stepper that stepped on people who are less fortunate? Begitukah yang kamu inginkan? Lalu apa bedanya dengan orang-orang yang kamu benci dan kamu coba kasih bukti, teman?

Lalu penggalan-penggalan terkuak. Tentang keluarga, keinginan yang harus terpenuhi dan pembalasan dendam pada keadaan buruk yang--sepertinya--sangat jarang pada bentang hidupnya. Dia harus membuktikan diri pada dunia. Bahwa dia adalah 'somebody' alih-alih 'nobody'. Dia menikmatinya, meskipun harga yang dia bayar untuk itu amat sangat mahalnya. Dan tetap tidak akan pernah terpuaskan.

My heart bleed. Twenty-something and threatened by paralyze because of his screwed-up lifestyle. Yet, who am I to judge you, My friend? In fact... Here I am. Enjoying the ride, also...

[Insert Soundtrack here: Joe Satriani - Chords of Life]


PS: Hey... Have you ever try to drink sea water? Well... if you haven't, then don't. Because that's what you are (=

James Bond Made Mistake

Posted by The Bitch on 3/04/2006 01:35:00 PM

Guess what? Just saw a movie advertisement on TV, James Bond's one. 'OCTOPUSSY' it said. Haha!

Should it be 'OCTOPUSSIES' instead, if you insist on a gramatically correct title?

Well, either way, it made me laugh like a loony, coz my interpretation was 'eight hairy pussies-in-waiting'.


[Jeez... Me and my pervert mind...]

U Never Know, Hun... U Never Know....

Posted by The Bitch on 3/03/2006 10:47:00 AM

Cengiran lebar memenuhi muka. Mata berkaca-kaca terharu dan cekikik geli terlontar sesekali di Jumat Pagi cerah dan sumuk.

Kenapa lu? Gila ya?

Iya. Euphoria baca balesan imel Bcc yang dua hari lalu gwa kirim ke orang-orang yang gwa anggap menyesaki ruang hati dan malah bikin gwa merasa kurang ketika mereka nggak ada.

Asli. Kurang banget. Dan gwa nggak nyesel harus pergi sejauh ini hanya untuk tau hal ini. Karena ketika ikatan itu amat kuatnya, yang ada hanya hubungan antar-ruh meskipun tidak menafikan fisik. Thx for all of you. Thx for being there, need you or not.


*Dedicated to someone who is still struggling in searching for his 'home' in his new place... You're not alone, Bro!

Me and My Luv #3

Posted by The Bitch on 3/03/2006 10:10:00 AM

"Howdy, Nduk?"

"Howdy... howdy... Udah deh. Nggak usah sok ramah gitu. Ini udah nggak lucu, tau nggak?!"

"Lho... Ngamuk?"

"Abis... becandanya nyebelin gini. Mosok tau-tau aku dilempar kesini sih?!"

"Lha yang ngelempar siapa? Aku kan cuma kasih kamu pilihan. Wong kamu melempar dirimu sendiri koq!"

"Ya tapi pilihan-pilihanMu itu menjebak. Sama seperti jawaban multiple choice UMPTN!"

"Hahaha... Kenapa sih kamu sampe segitu uring-uringannya?"

"Gimana nggak?! Aku udah enak-enak settle di satu tempat dan kondisi, tau-tau Kamu datengin dua begundal kurang ajar yang ngacak-ngacak kemapanan itu. Digempurrr terus hampir tiap hari. Sampe rasanya pengen bunuh diri berkali-kali saking desperatenya. Udah gitu, waktu aku udah terbiasa dan bisa berdamai dengan semuanya, Kamu ngagetin aku dan begundal-begundal itu pergi. Kemudian? Malah aku yang pergi lebih jauh dari mereka. Saat dia-yang-namanya-nggak-usah-kusebut itu berencana kesini, Kamu malah bikin dia stay disana. Nggak lucu! Nyebelin, tau nggak?!"

"Tapi kamu suka gempuranKu to, Nduk? Jare masochist?"

"Ya... suka nggak suka sih sebenernya. Tetep aja aku mau semua berjalan dengan rencanaku semula, dan bukan rencanaMu! Segimanapun aku sok nrimo, tapi aku mau rencana dan pelaksanaannya itu berjalan beriringan. Rapih. Tapi... gimana lagi, coba?"

"Halah... gayane... Padahal mbilangin orang paling bisa, giliran kena ke dirinya sendiri tetep aja egois. Ra mutu! Ngaku aja deh. Sebenernya kamu cuma nggak mau cari jalan lain aja kan? Bahkan kamu memang nggak nyari karena merasa ini jalanmu kan?"

"Ummm..."

"Kamu ini gimana sih? Seringnya misuh-misuh kalo permintaanmu nggak Kukabulin. Giliran Aku kasih, kamu malah uring-uringan."

"Tapi kan..."

"Sekarang gini deh... Kamu pengen semuanya serbacepet. Ya udah... Aku kasih kamu persiapan sebegitu cepatnya, cuma sebulan. Eeeh... kamu nggak terima. Aku kasih delapan tahun pembelajaran, kamu nggak juga bergerak dari status quo-mu. SEBENERNYA MAUMU APA, HAH?!"

"....................."

"Kamu itu bebal seperti kerbau, tau nggak? Kalo nggak dilecut nggak bakal jalan. Mana jalannya juga masih lambat, lagi! Tapi layaknya kerbau, kamu juga tahan sakit. Lumayan, lah..."

"Idih... malah nyama-nyamain ama kebo, lagi... Nggak mau! Mau jadi manusia aja!"

"Ya sudah! Bertahanlah! Usaha! Tunjukkan kalo kamu nggak cuma bisa eating, mating, kemudian dying. Surviving, Nduk. Living. Be alive. As a human being, bukan kerbau. Disitu ada processing. Biar bisa naik kelas, nggak cuma jadi conseptor tapi jadi applicator. Ketika kamu sudah istiqamah menjalankan apa yang kamu pilih dan menjadi lebih baik dari yang dulu, maka kamu sudah mencapai level selanjutnya. Jangan lupakan itu!"

"....................."

"Nduk...? Ngambek...?"

"Nggak."

"Terus...?"

"Nggak tau. Fucked up."

"Kamu memang selalu bisa memilih nama tengah yang bagus!"

"Damn!"

"Kamu mampu. Asal kamu mengingatKu dan peka terhadap tanda yang Kuisyaratkan. Saat semua mahluk berpaling darimu, Aku selalu ada. Aku selalu ada, Nduk... Bahkan lebih dekat dari denyut nadi di lehermu. Ingat itu!"

"Terimakasih..."

"Sama-sama, Sayang..."

A Small Wish

Posted by The Bitch on 3/02/2006 05:31:00 AM

Dear God...

Buatlah agar untuk beberapa bulan ini adik, Ibu dan Bababku nggak mendadak melek teknologi. Juga sepupu-sepupu, Budhe-Pakdhe dan Om-Tanteku. Kalau memang mereka harus melek teknologi, jangan sampe mereka liat entriku sebulan ini. Atau selama mereka nggak tau aku di Jakarta.

Meskipun harus sampai babak bundas nggak karuan, buat ambang batas sakitku tinggi-tinggi sekali.

Walaupun arus deras menerpa, ingatkan aku untuk selalu teguh pada apa yang kupercaya. Atau plesetannya.

Jika Kau mau menegurku, jangan keras-keras ya God ya...

Kalau Kau sebegitu baik hatinya dan mengabulkan permintaanku...





I couldn't ask for more than Your mercy for being so ignorance for all these years.
Thanx, anyway (=



*Dear God diambil dari kata pembuka puisi seorang teman di Bandung dengan judul yang sama. Puisi tersebut tertuju untuk gebetannya selama beberapa tahun, yang sayangnya nggak pernah kesampean jadi pacar.

Behold! Wiseman Says...

Posted by The Bitch on 3/02/2006 04:04:00 AM

Excerpt from ERAGON, p. 82, Indonesian version.
On request of a friend whose-name-can-not-be-mentioned:

"Jangan biarkan siapapun menguasai pikiran atau tubuhmu. Jagalah agar pikiranmu tidak terpengaruh. Seseorang bisa jadi orang merdeka tapi lebih terkekang daripada budak. Berikan telingamu pada orang-orang, tapi jangan hatimu. Tunjukkan penghormatan pada mereka yang berkuasa, tapi jangan mengikuti mereka dengan membabi buta. Nilailah dengan logika dan pertimbangan, tapi jangan berkomentar.

"Jangan menganggap siapapun lebih unggul daripada dirimu, tidak peduli pangkat maupun tempat mereka dalam kehidupan ini. Perlakukan semuanya dengan adil atau mereka akan membalas dendam. Berhati-hatilah dengan uangmu. Pertahankan kepercayaanmu sekuat mungkin dan orang-orang lain akan mendengarkan. Jujurlah dalam cinta, karena itu satu-satunya alat yang paling kuat membuka hati atau mendapatkan pengampunan."

SOME quotation! Dan aduhai panjangnya. Yet, hanya beberapa yang gwa setuju. Karena gwa percaya semua hal adalah pedang bermata ganda, yang bisa berguna atau malah melukai lo dengan kedua sisi tajamnya.

Missing Myself

Posted by The Bitch on 3/02/2006 03:49:00 AM

Di tengah rehat yang entah keberapa kali pukul lima pagi. Ditemani Joe Satriani, Rage Against the Machine dan Steve Vai. Mengepulkan asap berujung mimpi pada sebatang rokok, juga entah yang keberapa batang.

Here I am. Demam dan batuk-batuk tapi tetap ngotot ngopi, lalu terbelalak tak percaya ketika meriang itu menyerang.

(Anjrit! Sok puitis kau, Njing!)

Day 7 dan gwa masih bertahan. Meskipun kemaren sempet panas tinggi yang keukeuh gwa lawan pake kebebalan gwa yang menolak obat. Cukup air putih dan vitamin C. Kalo emang gwa yakin sembuh, itu aja udah cukup. Mungkin bodoh. Tapi gwa percaya itu. Protes? Gih!

Malem Minggu kemaren gwa sempet nge-date--meskipun yang punya diri menolak keras atas penyebutan sembarangan gwa atas pernge-'date'-an itu--dengan seseorang yang sepertinya 'nge-klik' sama gwa. Teman yang rela-nggak-rela-harus-rela berjuluk "Tukang Es" karena menyediakan diri bawa upeti es krim 10 biji buat orang-orang serumah penampungan tuna wisma ini. Haha! (Sorry, Bro!)

Lalu diajaknya gwa ke markas begundal-begundal baik hati dan tidak sombong meski tidak suka menabung. Rasanya gwa udah kenal, meskipun baru saat itu ketemu. Lucu juga, mereka-mereka itu.

Lalu ketika para begundal cakep itu bersolek (kecuali si Tukang Es), gwa bingung.
"Kemana kita?"
"Dugem," jawab mereka.
Duh... jedang-jedung?! My God! Cemana gwa disana? Minuman paling keras pun cuma kopi dukun sekarang ini. Kalo gwa tergoda minuman setan, terus setan minum apa? Tapi... Arep piye meneh? Nggak tega rasanya menolak kebaikan ajakan mereka yang tulus. Dengan muka dimelas-melaskan dan tampang disangar-sangarkan, gwa memohon pada Tukang Es, "Stick with me or I'll kill you!" lalu gwa senyum seimut-imutnya. Can you imagine?

Dan kenorakan dimulai...
Bermula dari kemolekan tubuh para mbak-mbak yang berseliweran (GILA! Itu toket kemana-mana! Nggak masuk angin apa dia, pake baju kayak gitu?!), udiknya gwa waktu di-cap sama mbak yang jaga di depan (kayak di Dufan... tapi koq gak ada tulisannya ya?), sampai ketika cap itu muncul di bawah sinar UV yang berpendar ungu (Wah... KEREN! Jadi begini ya rasanya jadi duit seratusribuan?).

Sesampai di dalam, gwa celingukan cari tempat mereka. Musik berdentum keras dengan beat monoton yang serasa menghantam dada, lalu berubah cepat. Udah biasa. Gwa sering denger Winamp ampe volume pol dan kuping budek. Disini cuma instink gwa yang jalan. Percuma pake mata: Nggak keliatan! Dan mbak-mbak yang gwa temui di depan melebur satu sama lain sampai mereka hanya jadi liukan panas bagi para mas-mas. Ya, mereka ganteng, cakep dan wangi. Dan gwa seneng berada diantara mereka. Ketularan wangi tanpa perlu beli parfum mahal. Hehe...

Di ceruk yang dipesan para begundal ada sofa nyaman, dan gwa dengan semena-mena ambil PW (Posisi Wenak) di pojok. Lepas sneaker, kaki nangkring di sofa seberang, bersandar dan mata terpejam. Terbukti, si Tukang Es itu memang seorang teman setia: dia nemenin gwa tidur. Kami cuma terbangun ketika haus, pengen pipis atau saat salah satu begundal itu ngagetin kami.

Ketika pulang, gwa mengucap beribu terimakasih disertai satu kesimpulan:
"Centro itu tempat yang enak untuk ngantuk!"

... dan mereka menjelma malaikat penjaga ketika aku lepas, lelah, lungkrah...


*Entry ini dibikin 4 hari setelah kejadian =P