"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Taek Kalian Semua!!!

Posted by The Bitch on 1/17/2006 06:47:00 AM

Duh, 2006 ini. Meskipun baru 17 hari berlalu rasanya seperti naek roller coaster spiritual puluhan tahun. Nggak cuma perut yang diguncang, tapi juga benak dan akal. Jiwa juga. Semuanya. Keseluruhan seorang Pit (kalopun memang orang) yang nggak ada setai-tainya di dunia maha luas ini. Ah, jaman instan. Harusnya gwa nggak usah heran. Wong makan malem komplit aja bisa tersaji dalam hitungan detik, kenapa pemahaman nggak?!

Berawal dari datangnya 'a long-lost brotha' yang menghilang (hampir) tanpa jejak selama enam tahun. Tanpa sadar dia adalah pembuka kunci ke sebuah tempat yang nggak terjangkau bahkan dengan akal sehat sekalipun, where things happened for some unexplainable reasons.

Setelah physically dia pergi baru gwa tahu kemana dia bakal bawa gwa, melalui komunikasi per telepon ketika SMS kirimannya lama sekali tidak berbalas. Nggak tanggung-tanggung, gwa harus mendengarkan gempuran yang meluluhlantakkan semua rasio dan kerangka yang selama ini ada di benak gwa yang mahacupet. Berjam-jam diskusi lewat telepon yang seringkali disela kemurkaan, kebelet pipis sampe eek dan cooling down karena semua itu jadi tidak tertahankan di tengah perdebatan yang memanas (dan ditanggapi dengan tawa kejinya). Meskipun pembahasan ini udah pernah diulas seorang Yogi setahun lalu dengan bahasa sesederhana mungkin yang bisa dimengerti manusia idiot goblok (for example, me) sekalipun: rasio.

"Sudah saatnya kamu naik kelas ke level yang lebih tinggi dari ini. Nggak melulu semua hal bisa dinalar. Go with the flow. Enjoy the emotional landscape that I've dragged you into. Words are memories. Soul is your source. Start searching from WITHIN, not BEYOND nor BACKWARD."

Bah! Gimana bisa?! Oke lah, semua hal emang terjadi dengan alasan tertentu yang kadang ilmu kita terlalu rendah untuk bisa nyari jawabannya. Tapi masih bisa dijajaki sebab-akibatnya. Dianalisa. Ditimbang untung-ruginya.

... Sampai gwa tersadar. Hanya untuk 'membangunkan gwa dari tidur nyenyak', dia bisa nguras kocek untuk bayar tagihan telepon interlokal yang berlangsung dari tengah malem ampe adzan subuh. 4-5 kali dalam 7 hari. Gilanya, saking ndableknya gwa (yang menurut dia hanya bloking diri sendiri yang terlalu kuat dan karena memang nggak mau percaya), perlu waktu dua minggu penuh untuk bisa meruntuhkan--dengan sangat gampang--apa yang selama ini gwa yakini sebagai benteng terkokoh yang gwa punya.

"Kenapa kamu selalu menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lain? Kenapa semua jawabanmu itu--celakanya--selalu benar? Kenapa kamu rela ngabisin waktumu hanya untuk aku? APA UNTUNGNYA AKU BUATMU?!" protes gwa suatu malam.

Jawabannya:
"Kadang kamu harus berteriak 'DIAM!' pada pemikiran dan segala keterbatasannya. Aku nggak akan kirim bill telponku ke kamu, kalo kamu khawatir tentang materi. Aku nggak akan ambil apapun dari kamu, karena kamu memang tidak menguntungkan. Aku sudah anggap kamu seperti adikku, meski hubungan kita berawal dari persahabatan tanpa sengaja. Aku--semoga Tuhan mengizinkan--tidak akan berpaling dari kamu jika itu yang kamu takutkan, kecuali hal yang tidak bisa terhindarkan itu terjadi. Aku pernah seperti kamu dan tidak ada tangan terulur. Menyakitkan, berjuang sendiri itu. Tapi masing-masing manusia pasti dimintai pertanggungjawaban saat ada ketidakberesan terjadi dengan orang-orang terdekat. Kita saling mengingatkan. Aku mau menghantar kamu mengembangkan sayap dan terbebas dari belenggu yang kamu buat sendiri..."

Tau nggak apa yang paling menyebalkan dari semua itu? I've got three of them dan apa yang mereka katakan adalah Kebenaran. Tentang gwa, yang bahkan gwa baru tau kalo itu ada until they blurting it out in my very face. He's the hardest: pembentur, penyerang, penguji; yang satu penyabar, pendidik dan sopan; sementara satunya adalah 'supervisor' yang mengawasi keduanya, dimana saking halusnya gwa bahkan nggak ngerasa dijedot-jedotin.

You know what I call them? Three Guardian Angels that had been sent--either from Heaven or Hell, God only knows--to teach me lessons in the most sadistic way, with all scratches, bruises and bone-fractures which can not be seen with the naked eyes. Yet, I'm a masochist...



["Pain is power, katamu? Power untuk apa?" tanyamu dengan cengenges melecehkan. Dasar Bangke Babi, lu! *hug*]

Phew!

Posted by The Bitch on 1/15/2006 02:36:00 AM

Akhirnya... tugas yang nggak begitu berat itu selesai sudah. Nggak begitu berat memang, cuma salah satu tugas dalam hidup. Cari duit.

Ngomong apa sih?!

Akibat gwa dapet kerja kayak gini, mata dan hati gwa jadi lebih terbuka meski bagi sebagian orang mungkin nggak penting. Gwa jadi lebih memahami, mengerti, memperhatikan... merasa. Padahal hanya pekerjaan sehari-hari (yang sering gwa sebut sebagai 'melacur': menjual kemampuan otak dalam menerjemahkan bahasa asing ke bahasa gwa dan orang-orang senegara). Tapi imbasnya dahsyat!

Tentang orang-orang di negeri antah-berantah bernama Palestina. Bagaimana mereka mempertahankan tanah yang nggak seberapa itu dari renggutan Zionis Israel yang anteknya menyusup ke seantero jagad dan menguasai sektor-sektor penting seluruh dunia. Bagaimana mereka harus merelakan harta, benda dan nyawa direnggut paksa demi sebuah bangsa yang--dengan membawa kitab suci mereka--menuntut Tanah Yang Dijanjikan sebagaimana tertulis disana.

Buat gwa hal ini amat sangat mengganggu. Sering banget mengetik satu kalimat aja perlu waktu lima belas menit sendiri karena gwa rada gak percaya sama apa yang tertulis, meskipun ketika gwa cari di internet hasilnya memang bener begitu. Bikin sakit hati membaca kenyataan adanya sebuah negara, terdiri dari jutaan manusia dengan darah-daging-jiwa, terlantar dan tertindas tanpa pertolongan dari negara (yang katanya) adikuasa sekalipun!

Me and my melancholic feeling. Kadang saking betenya, itu kerjaan gwa tinggal nge-game atau chatting. Soalnya mau nerusin pun gak akan beres jadinya. Dan pengalihan jadi lebih lama daripada ngegarapnya.

Pernah di suatu dinihari, saat gwa numpang ngerjain di warnet temen dan lagi feeling down low (meski dengan semangat sekuat baja menargetkan harus selesai minimal 10 lembar sampai pagi menjelang), tau-tau ada sweet distraction: teman-teman gwa berkunjung dan ngajak ke burjo. Melewatkan dinginnya udara dengan obrolan hangat dan tawa renyah antar-sahabat. Indahnya. Kontras dengan bahan yang sedang gwa garap. Memuakkan.

Ujung-ujungnya... dibandingin kehidupan percintaan gwa yang begitu-begitu aja (kalopun ada), underpaid job, homeless, restless, dan fucked-up, gwa lebih beruntung dibanding mereka yang untuk hidup dan bernapas aja selalu dikejar-kejar teror...


[... dan nikmat Tuhanmu mana lagi yang akan kamu dustakan, nduk?]

A Humble Gratitude

Posted by The Bitch on 1/06/2006 11:28:00 AM

Hey there. Just dunno what to think and to say. U've let me mblandhang all these times. Then suddenly U've sent two guardian angels in human form to look after me. Shocking.

Where have they been when I was bleed and wounded? Where did U sent them when I feel like drowning all alone, gasping for air, reached nothingness then 1,000-feet-from-the-ground freefalling with a hard touchdown and flatnosed?

Was I blind not to notice their existence? Was I closing down all of the senses, the most delicate one, that U've been blessed in all of U'r creations?

I dun speak Ur language, being all speechless, fucked up and such. But I know U're Forever Knowing, Seeing, Understanding... Loving.

Thanx for those Guardian Angels, anyway.

ps: duh, Gusti. Pengen nangis berember-ember rasanya... Kamu baik sekali sih!
(peluk-peluk Tuhan)

soliloquy

Posted by The Bitch on 1/02/2006 01:04:00 AM

Udah tahun baru lagi. Dua minggu yang lalu umur gwa nambah lagi.
...sementara gwa pengen waktu berhenti...

Bullshit!

Gwa punya temen yang benci dengan Desember.

"Kenapa?"

"Karena Desember berarti akhir. Dan gwa benci akhir. Gwa benci ketika pertunjukan usai dan rasa senang itu hilang."

"Tapi nanti kan Januari lagi. Awal yang baru lagi. Kesenangan yang baru lagi."

"Ya kalo emang seneng. Kalo menderita? Tiap Desember berarti satu tahun lagi kenangan."

"Kalo gitu, lu mati aja. Jadinya lu dikenang, bukan mengenang. Ini cuma masalah kalimat aktif dan pasif aja kan?"

Sesederhana itu.


How happy is the blameless
vestal's lot
the world forgetting by the world
forgot
eternal sunshine of the spotless
mind
each prayer accept and each wish
resign'd

[Alexandre Pope]

Mari berjuang untuk tahun yang nantinya berlalu lagi...