"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Kudos to My Wonderful Kids

Posted by The Bitch on 11/27/2005 06:41:00 AM


Siang menjelang sore. Hujan. Pekerjaan tertunda. Cucian dua minggu yang belum dibilas akhirnya menumpuk di ember. Kalo ikut hasrat hati, pengennya tidur. Tapi 2 jam yang lalu kan baru bangun. Lalu? Bikin kopi, bakar rokok, dan duduk manis sambil liat kedua anak-anak gwa berkejaran dalam rinai hujan.

Iya, gwa single parent dengan dua anak kura-kura Brazil usia dua tahun. Gwa ga tau kenapa suka kura-kura. Dulu sih alasannya karena kura-kura itu berumur panjang dan gwa pengen kalo mati nanti mewarisi binatang peliharaan dan bukannya harta. Kan jadi irit, ga usah beli pet lagi! Apalagi makanannya juga murah-meriah. Padahal banyak orang bilang binatang ini pemalu, suka ngumpet dalem tempurungnya dan lamban bergerak. Selama 3 taun gwa beranakkan mahluk hijau ini (yang pertama, Namanya Toro, kabur dan hilang. Mungkin trauma punya Bunda kayak gwa), ga ada sejarah mereka pemalu. Jalannya juga cepet, sampe gwa curiga kalo di kehidupan sebelumnya mereka adalah anak-anak sekolah yang sering terlambat masuk kelas dan reinkarnasi jadi kura-kura karena karma jelek. Gwa malah sempet berpikir, jangan-jangan mereka sebenernya monyet yang terperangkap di tubuh kura-kura. Lha wong merembeti dinding sampe ketinggian 1 meter di atas tanah aja bisa! Keren kan!

Sore itu gwa ngerasa indah dan nyaman banget liat dua anak-anak gwa mandi ujan. Kutu (Kura-kura Satu) yang dominan selalu eksplorasi ke penjuru lantai begitu diangkat dari akuarium, sementara Kuda (Kura-kura Dua) mengeksplor tempat sejuk dan gelap tempat ngumpet (kalo yang ini gwa percaya dia beneran kura-kura). Tumbennya, mungkin gara-gara kelamaan gak gwa keluarin dari akuarium kali yah, dua-duanya jadi aktif banget kesana-sini.

Jujur aja, beberapa lama ini gwa jarang barengan mereka. Akuarium aja jadi jarang dibersihin. Dulu sih biasanya gwa dibangunin dengan Kutu merembeti kepala dan Kuda di punggung. Akuarium di pojok kamar sering sekali sepi karena mereka gwa 'darat'kan: jalan-jalan ke penjuru kamar. tapi berhubung sekarang ga punya kamar sendiri dan temen sekamar gwa paling sebel sama reptil, gwa harus rela dan tabah melihat mereka berenang-renang terus di akuarium. Demi menghindari jamur yang suka nempelin cangkangnya, gwa sering bersihin rumah mereka dengan sedikit desinfektan. Lumayan buat 2 minggu. Tapi gwa pernah ninggalin sebulan dan DD bener kena jamur. Hix... )= Maaf ya D.

Lalu... dimana kudosnya?

Adalah ketika liat muka mereka yang cuek, rada bloon, sok bijak, pipi jingga dan kuku-kuku kait (yang sakit banget saat merambati tangan tapi gwa ga peduli karena MEREKA LUCU SEKALI!), gwa jadi merasa tenang dan damai. Apalagi kalo gwa deketin akuarium mereka. Yang tadinya pada ngambang ga jelas atau ngantuk-ngantuk di dasar jadi berenang-renang antusias sampe airnya bercipratan kemana-mana. Gwa suka banget liat mereka, merhatiin perkembangan cangkangnya dari yang cuma sekoin secengan ampe setatakan cangkir. Padahal mereka cuma kura-kura, tapi waktu si DD (Kuda) ketauan ambeien gara-gara sering makanin batu hias gwa ampe bingung setengah mampus ngerawatnya, meskipun akhirnya gwa cuma bisa elus-elus setengah berkaca-kaca. Atau waktu duo nakal itu bergelantungan dengan menggigit sirip ekor Paman Koki sepanjang 45 centi di akuarium tetangga, gwa ampe ngakak guling-gulingan liatnya.

Suatu hari mereka hilang dan terperangkap di lubang pembuangan gara-gara gwa luput ngawasin mereka yang lagi jalan-jalan. Pas ketemu besok paginya, gwa omelin mereka. Liat ekspresinya lucu. Gak peduli. Malah gwa yang ditinggal. Herannya, gwa ga bisa marah lama-lama. Gwa ambil, ajak ngobrol dan elus-elus lagi. Kalo mereka lagi pinter, hadiahnya adalah sun! Hihihi...

Kadang gwa ngerasa, mungkin begini rasanya jadi orang tua. Khawatir, sayang, seneng, marah, gak mau kehilangan. Makasih ya, anak-anak Bunda. Kalo seluruh persoalan hidup bisa teratasi hanya dengan melihat kalian tumbuh besar, Bunda gak perlu cowok deh kayaknya! *opo hubungane?!*

Btw, gambar pertama adalah Kutu dan kedua adalah Kuda waktu masih umur setengah taunan, diambil waktu jalan-jalan ke lapangan depan Gedung Pusat.

The War Between Monsters Named "Media"

Posted by The Bitch on 11/24/2005 02:26:00 AM

Seorang teman datang Sabtu kemarin, membawa kekecewaan dari Jakarta yang berusaha dialihkan ke Jokja. "Gwa udah gak betah. Kerjaan gak sesuai dengan hati," katanya. Selain itu, masalah keluarga dan sosial disana membuatnya lelah untuk harus sempurna. "Lo tau kan, gwa gimana? Ortu ama pacar selalu nuntut gwa jadi perfect. Gwa capek." Yeah, rite. Elu yang bisa ngabisin duit ratusan ribu untuk selembar pakaian hanya karena gak tahan dengan ucapan gwa: lo feminin pakek baju 'cubit-cubitan' kayak gitu. Tapi itu dulu.

Jadi AE di salah satu perusahaan media (lumayan) besar di Jakarta ternyata bikin dia berubah. Melihat gimana busuknya bos yang bikin laporan ABS ke Big Boss dan anak buah yang merasa perusahaan adalah punya bapak moyangnya ternyata bisa jadi meresahkan. Dia lihat cara kompetitor bekerja--yang berjuluk 'CIA' karena mereka berani merekrut ratusan orang--dengan biaya operasional ratusan juta, mungkin--cuma untuk menjegal lawannya. Di level paling bawah: agen. Di tingkat paling rendah dan yang paling sedikit dapet jatah kue.

Dari ceritanya, ternyata wartawan dan marketing punya dua dunia yang saling bertolak belakang. Yang pertama murni cari berita, menyelidiki dan berusaha menyebarkan informasi ke masyarakat luas tentang apa, bagaimana, kapan, dimana dan siapa. Yang kedua, murni cari pasar. Apa, bagaimana, kapan, dimana dan siapa berusaha diubah jadi duit dengan teknik marketing secanggih dan sebersih (tapi kotor) mungkin. Dia cerita--berapi-api--kalo temen kerjanya terbiasa diminta mark-up target penjualan taun depan tanpa rumus dan prediksi. Itu perintah langsung dari bos, katanya. Kegiatan tekan-menekan dari atas yang makin ke bawah makin besar. Gak tau kenapa, bayangan gwa adalah rantai makanan dalam ekosistem. Saling memangsa. Meski yang dimangsa adalah sebangsanya. Sadis!

Di luar, kompetitor berusaha menekan penjual dan agen media cetak supaya jualan produknya thok thil, dengan cara preman. Kotor ya? Tapi begitulah. Mereka maen kayu, pengecer dipaksa jual barangnya. Kalo nggak, pengecer yang cuma punya harta segelintir itu bakal dibikin hancur sehancur-hancurnya sampe dia ga bisa jualan lagi.

"Gwa heran deh. Padahal kan mereka media gede. Pelanggannya udah kemana-mana ampe pelosok Indonesia. Tapi koq masih aja maennya dekil. Kalo gwa yang jadi kru CIA, gwa gak bakal tega liat pengecer-pengecer koran digituin," protesnya.

Yah, Bu. Segimanapun manusiawinya, informasi udah diperjualbelikan dan jadi komoditas. Ini masalah duit ratusan milyar dan reputasi. Gak ada urusan sama kemanusiaan.

"Untuk menjadi kaya, harus ada pihak yang dimiskinkan. Gak ada cerita mencapai puncak bergandengan tangan. Menapaki tangga sampai ke atas kamu harus menginjak kepala-kepala orang yang masih di bawah. Itu sah dalam ekonomi!" Begitu ucapan seorang (yang mengaku) lajang nan dandy berusia akhir tigapuluh, utusan Sulawesi yang tugas belajar S2. Di suatu sore di teras sebuah warnet. Gwa melongo. Yah... mau gimana lagi?!

[IT'S A WORLD FULL OF SHIT THAT WE LIVE IN!!!]

F U C K !!!

Posted by The Bitch on 11/16/2005 08:09:00 AM

Whoa! Wait! I aint cursing here. It's jez a title to describe what I've heard in the radio about a week ago. Lame in remembering anything I am, for I could not have even the slightest idea of a single name mentioned. But the fact was very astounding.

Dulu--gwa lupa tepatnya kapan karena repotnya digging my British History textbook di salah satu kardus gede yang gwa taro entah di kosnya siapa--Eropa dilanda kehancuran. Setengah penduduknya musnah, either karena cuaca yang amburadul, imbas perang berkepanjangan, wabah penyakit (pes), sanitasi jelek, gagal panen dan kurangnya makanan (Dark Age-kah? Mungkin). Bener-bener parah. Termasuk di Inggris.

Dengan drastisnya tingkat kematian saat itu, Si Raja (yang namanya ntah siapa) akhirnya muter otak cari cara gimana supaya rakyatnya banyak lagi. Keputusan datang. Peraturan dibuat. Mereka disuruh beranak-pinak banyak-banyak biar jalanan diramein lagi, sekolah penuh lagi, dan desa-desa 'gayeng' kembali.

Akhirnya dikeluarkan perintah: Fornication Under the Command of the King atau Persetubuhan atas Perintah Raja. Or, for short, FUCK. Yes, baby! That's the word! FUCK! The 'F' word we use for swearing for these past decades! And I didn't know for how long that rule had lasted. Too Bad di wikipedia ndak ada )=

Ah... Lebaran. Dan Aku Masih Disini )=

Posted by The Bitch on 11/04/2005 05:05:00 AM

Idul Fitri barusan lewat dengan gempita dan syahdunya, tergantung siapa yang ngerasain. Buat gwa, Lebaran taun ini amat sangat berkesan: sendiri dan dilanda kemiskinan yang amat sangat sampe gak bisa mudik dan beli pulsa. Agak ngiri juga sama yang dapet THR dan heboh beli ponsel dan mobil baru. Tapi yah... namanya juga kerja underground. Mana kenal THR sih?!

Ternyata gwa gak kesepian banget. Walaupun tanpa modal awal (buka front duluan), temen-temen gwa banyak yang kasih ucapan lewat SMS meskipun forward dari orang lain. Misalnya: "Jika hati sejernih air, jangan biarkan keruh/Jika hati seputih awan, jangan biarkan mendung/Jika hati seindah bulan, hias dengan iman/Semoga ini Ramadhan terbaik/Mohon maaf lahir bathin" (gwa dapet dari 4 orang) dengan bahasa singkatan nan padat. Atau: "Melati indah nan berseri/Jadi hiasan di hari suci/SMS hadir mengganti diri/Tanda ingat silaturahmi/SELAMAT IDUL FITRI 1426H/MOHON MAAF LAHIR BATHIN" (yang ini 3). Standarnya: "Selamat Idul Fitri 1426 H. Minal 'Aidin wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Taqaballahu minna wa minkum" (ini 10). Atau yang pakek basa sonoh: "Have a blessed Idul Fitri 1426 H. Can't say anything but forgive all of my faults. Wish U a peaceful happy day =)" dan "Before SMS jammin' I beg U 2 forgive all of my mistakes. Have a nice Idul Fitri, all!"

Kapasitas ponsel murah-meriah gwa yang gak seberapa akhirnya overloaded. Setelah gwa hapus beberapa, hasilnya gak mengecewakan. Hampir 70 and counting. Untuk mencegah dicap pelit atau sombong karena gak bales, gwa akhirnya kirim jawaban 3 huruf: "Thx". Disusul: "Me2" atau "2U2", tergantung isinya minta maaf atau ngucap selamat. Provider seluler yang gwa pakek emang baek. Meski pulsa hampir Rp. 0,- tapi gwa masih bisa SMS 3 karakter. Tinggal yang nerima aja kepusingan kalo nyampenya gak runtut dan gak ngerti maksudnya. *See? Ada yang lebih kejam daripada rezim 160 karakter kan?*

Diantara pesan-pesan yang masuk ada beberapa yang paling gwa suka dan gwa simpen ampe sekarang. Dari abang gwa di Surabaya, bilangnya: "=) semoga langkah kita lebih bijak, Maafkan segala kesalahan dan kekhilafan... 'dare alle luce'... berikan pada cahaya. Met Idul Fitri. Amin. Amin. Amin =)"; 'The Yogi' di Jakarta: "Sebab Allah itu Maha Cahaya, maka tiap manusiapun wajib menjadi terang bagi sesama. Mari saling memaafkan agar tiada lagi gelap di hati kita. SELAMAT IDUL FITRI"; dan Mpok di Bogor: "Sudah hari terakhir Ramadhan. Semoga kita diberi kesabaran dan ketenangan untuk meraih kemenangan. Amin. Selamat berSyawalan. Semoga kebaikan selalu menyertai sampai Syaban".
..... dan yang ada di otak gwa cuma sosok Icha, Babab dan Ibu yang bergembira ria diseling beberapa pertanyaan dalam hati, "Kamu sedang apa disana, Pit?"

[andai teknologi teleporting sudah dijual bebas dan murah...]

Me and My Luv #2

Posted by The Bitch on 11/02/2005 09:06:00 PM

"Nduk? Ada apa? Kok nangis?"

"Ih, Kamu, Han. Masih nanya. Udah tau juga. Sok perhatian ah!"

"Lha? Aku kan lagi pengen ngobrol sama kamu, makanya nanya. Kalo Aku gak nanya, gimana bisa ngobrol?! Emang kamu bisa telepati? Lagian, kamu bawel. Harus ada yang terucap dari bibir cerewetmu itu. Kalo nggak curhatmu gak marem. Ya to?!"

"Huw! Iya nih, lagi sebel ama diri sendiri. Kamu udah manjain aku, kasih dispensasi selama sebulan tapi akunya gak tau diri. Selalu aja gak bisa manfaatin waktu, gak tahan godaan, belum bisa mengendalikan diri, buta dengan pelajaran yang Kamu kasih di depan mata. Janjiku sama diri sendiri juga gak kutepatin, sementara di penghujung bulan katanya ada kemenangan. Menang terhadap apa? Melawan siapa? Lha wong 'sense' jadi pemenang aja gak setai-tainya aku rasa koq. Gimana gak mau gerung-gerung, coba?!"

"Hehehe... Tapi yang pasti Aku udah kasih kamu waktu dan pilihan, kan? Gimana kalo tiba-tiba Aku pengen kamu balik kesini sementara usahamu mencariKu belum maksimal? Aku minta pertanggungjawaban lho, Nduk. Kamu tau kan, aku paling strict masalah tanggung jawab?"

"Iya, Kamu sadis kalo udah menyangkut yang satu itu. Kadang aku sampe bergidik ngeri, kenapa Kamu sekontradiktif itu. Di satu sisi Kamu bisa jadi amat sangat lembut dan di sisi lain berubah kejam. Mbingungi."

"Yah, Nduk. Gimana lagi? CiptaanKu yang modelnya sepertimu itu sering susah dibilangin sih. Aku tuh pengennya kalian jadi kekasih-kekasihKu ketika Kupanggil nanti. Tapi menuju kesana harus ada usahanya: dengan menjadi rahmatan lil alamin, misalnya. Lha ini, gimana mau jadi berkah seluruh jagad sementara kalian malah mendzalimi sesama bukannya saling mengasihi seperti yang sering Kuanjurkan melalui pengabar-pengabarKu."

"Nah... itu salah satunya yang bikin aku berurai airmata. Kadang bahasaMu gak bisa kupahami. Mosok ada orang yang bisa seenaknya gonta-ganti mobil dan yang lain harus berjibaku hanya untuk dapet duit dua ribu perak. Ada yang dengan entengnya beli sendal jepit empat juta dan di kelurahan sebelah bayar 3000 buat beli obat di Puskesmas aja gak mampu. Kalau Kamu memang mencintai kami, kenapa Kamu limpahkan beban penderitaan berlebih pada sebagian orang sementara yang lain bersimbah kemudahan? Ini gak adil! Gak masuk akal!

Kamu gak perlu kami sambangi dengan ritual yang diajarkan pengabar-pengabarMu sebelum kami. Tapi mengapa Kamu ciptakan kami dengan perasaan kurang cukup setiap kami mendatangiMu? Mengapa beberapa kami selalu merasa Kamulah yang terpenting sementara yang lain tidak?"

"Aku gak bisa ngomongin ini ke kamu, Nduk. Nalarmu gak sampe. Bagi sebagian orang, tangan putih kebenaran tampak sebagai penyakit lepra. Namun bagi yang lain, tangan yang sama itu mampu menggantikan kebenaran yang diwakili. Seperti itulah Aku. Kamu boleh merasa sebagai perempuan cerdas. Tapi ilmuKu gak bakal selesai ditulis dengan lautan di seluruh dunia sebagai tinta sekalipun, apalagi otakmu yang hanya beberapa gram itu! Bahkan gunungpun runtuh ketika Musa memaksa untuk mendengarKu."

"Tuh! Yang begitu itu yang bikin aku minder dan sebel sama Kamu! Ke-MAHA-anMu itu lho! Aku frustasi mahamin Kamu, karena kadang Kamu bisa sangat njelimet, tapi juga sangat sederhana."

"Gak usah terlalu pusing mikirinnya. Kamu cuma perlu faith. Kamu sudah punya kan, meskipun seuprit? Pahami Aku dengan sederhana, sesederhana nalarmu bisa menerimanya. Seperti yang kamu lakukan sekarang: membuat dirimu bermanja padaKu meski kamu ngotot meciptakan imej perempuan cuek dan kepala batu. Tapi kamu harus punya keyakinan, layaknya Ismail menyerahkan lehernya di golok sang ayah atas perintahKu. Ingat! Aku tegak pada setiap ciptaanKu, tapi ciptaanKu bukanlah Aku. Dalam dirimu Aku ada, tapi kamu bukan Aku. Jangan kamu jadi manusia 'lucu' yang memuja dunia dan membayangkannya sebagai Aku. Kamu harus tahu, Aku amat sangat tersembunyi dari menara logika mahlukKu. Singkirkan keraguan. Pengetahuan tentang bagaimana Aku amat sangat berbahaya, dan yang mencari mudah sekali tersesat."

"Shhh... nyentilnya jangan keras-keras dunk ah!"

"Merasa kesentil, toh? Ya maabh. Gak maksud. Cuma iseng aja."

"Oke deh. Aku overloaded. Mumet. I just want to be sure... se-mbalelo apapun aku, Kamu masih ada setiap aku perlu kan? Aku masih boleh minta kan, Han?"

"Minta apapunlah, Nduk. Aku kabulin asal kamu juga usaha. Tapi mungkin gak seperti yang kamu mau karena Aku tahu mana yang terbaik untuk kamu. Emang kamu pengen apa?"

"Menurut sebuah buku, di setiap penghujung Ramadhan, dunia dan jagad raya menangis menyambut Syawal, karena manusia kembali melakukan kekotoran dan dosa yang membuat alam raya jadi berat, padahal selama Ramadhan orang-orang berburu pahala dan kebaikan. Akibatnya bumi memuntahkan lahar, benda langit keluar orbit, cuaca berubah. Aku hanya ingin--meskipun officialy hanya sebulan--merasa Ramadhan sampai Syaban tahun depan. Jangan panggil aku dulu sebelum selesai Ramadhan berikutnya nanti. Boleh ya, Han?"

"Hmmm... Lemme see... Mungkin bisa. Tahun depan kamu belum tiga puluh kan? Katanya mau mati umur 30?"

"Hihihi... udah, jangan diingetin lagi. Jadi malu, kesentil lagi. Kamu baik deh, Han."

"Gak usah kamu omongin gitu, Aku tau koq. Udah banyak yang bilang =P Udah sana, makan. Laper kan?"

"Hu uh. Wassalamualaikum, Tuhan."

"Waalaikumsalam, Nduk gendut berkacamata tukang ngeyel..."


[Thx to Jokja FeMale Radio, satu-satunya teman to my final frontier; Jefri Al Buchori dan Aa' Gym for their soothing words and comforting voices; Dian Sastro dan Neno Warisman untuk puisi-puisinya, Da'ud ibnu Ibrahim al Shawni--the author of Madness of God--dengan Mas Diar as THE translator... serta Ramadhan yang penuh perjuangan dan babak belur ini. SELAMAT IDUL FITRI. KESABARAN DAN KETENANGAN TERLIMPAH DALAM MERAIH KEMENANGAN. SEMOGA KEBAIKAN SELALU MENYERTAI SAMPAI SYABAN TAHUN DEPAN.]

Nabi aja gak boleh ngiri, lho!

Posted by The Bitch on 11/01/2005 04:41:00 AM

Seorang bocah gembala bertugas membawa ternaknya mencari makan. Saat itu musim kering, dan rumput di daerahnya sangat sulit didapat. Jadi, dia membawa hewan-hewannya berjalan jauh melewati bukit. Sesampainya di sebuah padang rumput, dia berteduh dan membirkan gembalaannya makan. Untuk melepas penat, dia menghibur diri dengan bercerita pada Tuhan seolah sedang berada disampingNya.

"Tuhan, aku ingin sekali jadi pembantuMu. Nanti kalau Kau lelah setelah bepergian, aku akan siapkan air hangat untukMu mandi. Aku seduhkan kopi untukMu. Aku juga mau memijati kakiMu kalau Kau pegal-pegal."

Musa melintas. Mendengar omongan si bocah gembala itu, dia kaget.

"Hei! Tuhan tidak perlu kopi. Dia juga tidak akan pegal-pegal!"

Jibril pun turun dan menegur Musa.

"Diamlah, Musa. Biarkan mahlukNya memohon dan bermesra. Bebaskan mereka merindu padaNya dengan bahasa mereka sendiri. Sesungguhnya Tuhan adalah kekasih siapapun tempat kau bisa bergayut manja di tangan dan kakiNya."

[Retelling from the story I heard on FeMale radio. Yang mbacain Titi Kamal, man!]