"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Jika kamu bisa bahasa Tuhan, tolong tanyakan apa maksudNya

Posted by The Bitch on 10/31/2005 04:28:00 PM

Puasa yang tinggal beberapa hari ini (lagi-lagi) gwa gak maksimalkan. Nyesel. Target gwa mentah semua. Gila yah, usaha untuk tetap berada di 'jalur' tu. Bullshit banget kalo ada berandalan disuruh kembali ke jalan yang lurus. Buat gwa, analogi 'menjadi baik' adalah berjalan di jalan setapak rusak yang banyak belokan dan kerikil tajamnya, belom lagi pecahan beling atau paku berkarat, sementara untuk melewatinya gwa hanya beralaskan kulit kaki. Coba, pengen traweh aja pasti selalu ada godaan. Mulai dari ajakan teman lama untuk nongkrong bareng, keasyikan cerita setelah buka, males, ujan, wah! Padahal jarak kos ke mesjid cuma beda satu gang. Solat yang gak sampe sepuluh menit aja sering gwa tinggalin, padahal kalo udah nge-game dan ngenet gwa kuat semaleman. It's totally an ultrasonic ride with a supersophisticated vehicle on a wide, smooth parkway that will lead you straight to hell.

Duh, Ramadhan. Bulannya orang yang tidak beruntung, dimana mereka dimanjakan dengan pemberian zakat dan sedekah. Bikin mata gwa lebih kebuka. Dan gwa ketemu lagi sama mbah-mbah kecil renta yang biasa ngetem jualan apapun di pos kamling deket warnet. Mulai dari beberapa bungkus mi instan, kudapan aneh (yang gwa baru tau kalo makanan kayak gitu itu ada), sampe bawang putih/merah. 'Jam kerjanya' adalah jam delapan sampe jam sebelas. Dandanannya juga tipikal mbah-mbah Jokja: kebaya (lusuh) dan jarik, plus konde yang warna rambutnya berubah merah buluk, melekat di kepala yang hampir plontos dengan beberapa lembar rambut putih tersisa. Gwa sempet heran, simbah itu nempelin sanggulnya pakek apa ya? *hush!*

Gwa pernah liat beliau melintas jam dua pagi, jalan kaki sambil nggerundel sendiri. Gwa gak bilang beliau kurang waras, tapi kecenderungan monolog emang ada di beberapa orang. Kata temen gwa, simbah biasa lewat situ, belanja. Ke pasar Kranggan yang jaraknya kurang lebih 3 km. Edan!

Gwa pernah nanya, dimana anaknya. Karena keterbatasan bahasa--beliau ga bisa bahasa Endonesah--yang bisa gwa tangkep adalah anaknya ada di kampung (Wates? Atau Gunung Kidul? Lupa juga). Kenapa sampe jualan di Jokja adalah karena beliau sendiri yang gak betah idle dan gak mau ngerepotin putra-putrinya. Dia bilang, mereka juga orang susah.

Akhir Ramadhan tahun lalu gwa sempet liat dia ngitung duit, di pos kamling yang sama, dengan jumlah yang beda. Kali ini bukan lembaran ribuan lusuh, tapi lima puluh ribuan! Alhamdulillah... Mudah-mudahan tahun ini dapet rejeki yang lebih dari itu ya mbah ya... (=

Gwa sering miris liat orang-orang seperti itu yang masih banyak disini. Coba aja datengin pasar-pasar tradisional Jokja. Semungil dan serenta itu masih banyak yang jadi kuli gendong, turun-naik ke lantai 2 atau 3, memondong satu-dua karung berisi barang dagangan orang dengan bantuan kain batik kumal, hanya untuk dapetin uang tiga ribu perak! Dapet apa sih tiga ribu? Bakso yg lumayan enak aja harganya 3500. Itu aja belum pake minum. Emang kalo keselek mau minum kuah bakso?! Duh... yang nggak masuk akal itu yang nerima atau yang ngasih upah sih?!

Kemana anak-cucunya, Mbah? Dimana kalian tinggal? Siapa yang mijetinin saat kalian lelah? Jadi inget almarhumah buyut gwa yang sering cerita sambil ndhidhisi (mengelus-ngelus kepala dengan jari, bukan telapak tangan. Duh... terbatasnya bahasa Indonesia itu!!!) sampe gwa tidur. Hix... mellow ginih )= Kangen simbah! *hwaaaaaaaaaa!!!*

Mudah-mudahan di penghujung bulan ini mbah-mbah bernasib sama yang jumlahnya ribuan--atau jutaan--di seluruh Endonesah dikasih berkah melimpah dari Dia Yang Maha Hebat itu...

[dan ada suara perempuan centil yang merengek ribut minta belanja karena ada mal baru di Jakarta. ada mahasiswa dengan uang bulanan lima juta membeli sepasang pudel yang harga nyalon anjingnya ratusan ribu karena bingung buang duit. ada wakil rakyat yang tunjangan BBMnya 10 juta per bulan sementara yang diwakili harus menjerit karena jatah 100,000 yang gak merata. kamu tahu dimana letak keadilan? aku hanya bisa berdoa. semoga Dia mendengar.]

Hey You, Mr. Someone!

Posted by The Bitch on 10/27/2005 01:12:00 AM

You are Everything To Somebody
Right now at this very minute-----------

someone is very proud of you. someone is thinking of you. someone cares about you. someone misses you. someone wants to talk to you. someone wants to be with you.
someone hopes you aren't in trouble. someone is thankful for the support you have provided. someone wants to hold your hand. someone hopes everything turns out all right. someone wants you to be happy. someone wants you to find them. someone is celebrating your successes. someone wants to give you a gift. someone think you ARE a gift. someone hopes you are not too cold, or too hot. someone wants to hug you. someone loves you. someone wants to lavish you with small gifts. someone admires your strength. someone is thinking of you and smiling. someone wants to be your shoulder to cry on. someone wants to go out with you and have a lot of fun. someone thinks the world of you. someone wants to protect you. someone would do anything for you. someone wants to be forgiven. someone is grateful for your forgiveness. someone wants to laugh with you about old times. someone remembers you and wishes you were there. someone is praising God for you. someone needs to know that your love is unconditional. somebody values your advice. someone wants to tell you how much they care. someone wants to stay up watching old movies with you. someone wants to share their dreams with you. someone wants to hold you in their arms. someone wants YOU to hold them in your arms. someone treasures your spirit. someone wishes they could STOP time because of you. someone praises God for your friendship and love. someone can't wait to see you. someone wishes that things didn't have to change. someone loves you for who you are. someone loves the way you make them feel. someone wants to be with you. someone is hoping they can grow old with you. someone hears a song that reminds them of you. someone wants you to know they are there for you. someone is glad that you're their friend. someone wants to be your friend. someone stayed up all night thinking about you. someone is alive because of you. someone is remorseful after losing your friendship. someone is wishing that you would notice them. someone wants to get to know you better. someone believes that you are their soul mate. someone wants to be near you. someone misses your guidance and advice. someone values your guidance and advice. someone has faith in you. someone trusts you. someone needs your support. someone needs you to have faith in them. someone needs you to let them be your friend.

someone will cry when they read this.



so sweet, in a way. but... is it true? am i being all THAT MUCH to someone somewhere out there? i know that everything is happen for a reason. birth, death, occurences, even an old friend that unexpectedly we've ran into at some place. but being THAT MUCH?!

my black-nigga-brotha in Surabaya was once said that the odds in finding a soulmate is 1:6,000,000,000,000,000! phew! such a long row for the 0's! it's the design, said he. an incredible one. to find a single soulmate means that one must have faith in it. BELIEVE, that's the key word.

strange... but true. oh, how i despise that kind of truth!!!

Me and My Luv

Posted by The Bitch on 10/15/2005 04:10:00 AM

"Hey, Han! Apa kabar?"

"Ah, kamu ini. Setiap ada sesuatu selalu sok manis gitu ngomongnya. Bilang aja, ada apa hari ini?"

"Ih, tau aja sih, Han?! Ummm... gini. Gara-gara kamu--secara gak langsung--aku tarik urat dengan teman yang baru kukenal beberapa minggu ini. Sebel."

"Lha? Kamu pasti bela Aku ya?"

"Iya. Hanya karena dia bilang kalo mesjid itu tempat dia 'berbuat bodoh di dalamnya' dulu: shalat. Aku muntap karena persepsi yang (mungkin) salah atas perkataannya itu. Aku punya Kamu dan amat sangat susah untuk menempatkan se-uprit Kamu disini ini *tunjuk-tunjuk dada*. Pencarianku belum selesai atas Kamu, meski kadang ibadahku bolong-bolong dan aku sudah merasa cukup dengan apa yang Kamu beri dan kudapat."

"Hey... kamu gak perlu bela Aku sedemikian heboh, Nduk. Santai saja."

"Dan one thing leads to another. Harusnya aku gak mempertanyakan kepercayaan dan ketidakpercayaan orang, katanya. Aku memang merespon agak keras pada setiap ucapannya waktu itu, lalu dia mentertawakan ketidakdewasaanku. Aku tahu dan (agak) sadar kalo reaksiku itu cuma trigger yang bikin akumulasi kekesalanku meledak. Demi jalan-jalan gak jelas itu aku permisif meninggalkan Kamu. Karena gak ketauan mau makan dimana, lagi-lagi aku gak nengok Kamu tarawih tadi. Pokoknya banyak deh! And he had pushed the right button to blow the hell out of me. Aku tahu Kamu gak perlu tak jenguk atau tak bela. Tapi aku perlu kamu. Dan itu yang bikin aku bela Kamu."

"Lalu?"

"Aku sendirian. Gak ada yang memihak dan menenangkan, meskipun aku juga gak minta untuk itu. Aku gak tau apa memang aku yang sensitif banget atau saat itu kutukan terkucil di keramaian lagi kena ke aku. Untungnya setelah itu ada salah satu teman yang njejeri langkahku dan ngajak evaluasi atas apa yang terjadi. Dia lumayan bisa terima semua muntahan laharku yang kuucapkan dengan nafas agak memburu karena marah, sambil berjalan cepat setengah sprint. Setelah itu memang aku memaafkan diriku atas kesalahan yang telah aku buat. Tapi aku belum bisa memaafkan dia, karena bagiku dia gak salah. Hanya menyebalkan. Jadi orang yang menyebalkan bukan kesalahan, kan Han? Patut dikasihani, malah. Dia mungkin gak tau. Atau mungkin sudah banyak orang yang bilang, tapi dia tutup telinga."

"Bisa jadi. Tapi ya udah lah. Sekarang kamu udah gak kesel lagi kan? Selesai kan?"

"Memang. Cuma waktu ada evaluasi lagi di tempat mereka ngumpul, salah seorang diantara kami ada yang (sok) menganalisa. Entah mungkin karena itu benar atau (lagi-lagi) aku yang sedang terlalu peka, aku gak suka dengan isi ucapannya. Dia bilang aku terlalu over-reacted pada beberapa kasus. Kamu tahu, kan, aku paling gak suka dinilai. Dan dia menilai! Ah... bawaannya anak-anak kelahiran 80-an kali ya Han. Maunya serba cepat, instan, gak sabar menunggu waktu yang tepat dan gak bisa nangkep gestur yang menandakan aku belum bisa terima meskipun aku mengiyakan. Kalo aja dia ngomongnya nunggu waktu yang pas..."

"*Angguk-angguk* Terus kamu gimana?"

"Yaaa... as usual. 'Shoot all the bullshits. I choose to be deaf,' sahutku dalam hati. Persis seperti apa yang kuucapkan 10 menit setelah 'Ground Zero' di depan masjid itu."

"Hahaha... Tepat! Kamu banget, itu! Tapi, ngomong-ngomong, apa lagi sih sebenernya yang bikin kamu murka?"

"Potensial konflik, Han. Kalo within earshot ada orang yang sama reaktifnya sepertiku, or even worse; gak suka dengan ucapannya lantas ngajak gelut, piye? Kan chaos tu bakalannya. Apalagi hari gini orang-orang sumbunya dipaksa jadi pendek karena keadaan yang makin susah. Mungkin ini terlalu jauh. Tapi aku gak suka aja ada omongan provokatif seperti itu. Sama halnya ketika kita batal makan di suatu tempat dengan pertimbangan mahal yang diucapkan keras-keras, padahal tempat makan itu juga cuma kafe Amigos pinggir jalan. Murah, memang, bagi sebagian orang walaupun buat kita itu mahal. Tapi gimana perasaan yang kerja disitu? Toh mereka juga menyambung hidup kan? Resiko pekerjaan, oke lah. Tapi kalo kita bisa bikin orang gak sakit hati, kenapa harus mengucapkan hal yang bikin sakit hati? Kalo cuma ngerasa gak enak tanpa ada kesadaran kayak gitu kan percuma aja to, Han?"

"Kamu juga sering melakukan itu tanpa sadar kan? Mungkin kamu merasa sudah mengurangi, tetapi tetap ada yang lolos, kan?"

"Ya iya, sih. At least kalo aku gak suka ama sesuatu aku memilih untuk diam atau tidak melakukannya at all, kecuali masalah prinsip seperti tadi. Kalo udah kayak gitu, aku memang payah yah! *nyengir*"

"Gak koq, kamu gak payah. Hanya kurang berlatih dan kurang sabar."

"Mungkin. Udah yah Han. Ngantuk. Aku mau sahur terus tidur."

"Jangan lupa setor muka dulu ke Aku ya, Nduk. Kamu gak tahu kan kalo Aku juga sering kangen kamu?"

"Ah, jangan bikin ge-er dong! Ini cuma nyeneng-nyenengein aja kan?"

"Sudah sana, bergerak. Jangan malas ya. Aku sayang kamu, Nduk. Sini, berikan keningmu. Biar tak sun jidat megkilatmu itu! Hahaha..."

"Huuuu. Terima kasih deh, karena masih sayang. Terima kasih juga atas hadiah hidup yang sulit dan berdarah-darah ini. Aku tahu, kalo gak susah dan sakit aku gak bakal belajar, kan? Kalo kadang aku suka getun dan mencaciMu, percaya deh. Aku bakal selalu balik ke Kamu. Jangan berhenti sayang ke aku ya, Han. Karena aku perlu Kamu..."

I Celebrate The Life That Subtly Cursed Upon Me

Posted by The Bitch on 10/14/2005 12:17:00 AM

Hey there!
Do you know what lost is? It goes like; I know where I stand, but I don't know where to go. I know who I am, but I don't know what I'd become. I realize the surrounding, but I don't recognize the inner me.

People said that maturity and wisdom grow with time. The older you are, the wiser you get. Ripe, ready to be picked. Me? Course, I am, moron! Considering...

*sigh*
So, here I am. With another reason and pardoning words. No, I'm not jealous with everybody, if that's the impression you get. I'm just tired with me. With you. With the world. With the big 'L': LIFE.

There are times that I feel like swallowing a pot of sleeping pills or slashing my wrists and bleed. I pictured me lying and my own blood oozing from the tiny gap I made. Feeling how they trickle. Drip, by drip, by drip. Vision blurring and slowly blackening. Flashing of events like a movie on a screen before my very eyes. Pieces by pieces chronoligally telling my phases from the warmth and comfort of mother's womb to an almost-adult me. Then I'll go to the next nowhere where I haven't been. How simple it is! Too bad I've never have the guts to do so.

Was it because of my so-godamned-fuckin'-called survival instinct? Geez. In that case, God had made me way too perfect. Yet, there is nothing perfect than The Most Perfect One.

Yea, rite.

[So I sat here, thinking, gnawing on my consciousness, stumble upon my faith, trying to grasp whatever things within my reach, and considering... another fuckin' consideration!]

ps: hey... ini gak ikut-ikutan Lilis, lho!

Pret!

Posted by The Bitch on 10/10/2005 03:13:00 AM

Nadjeez kale ini blog! Gag ada header, gag ada gambar, gag ada grapis, gag ada bagus-bagusnya pisan. Teuing la. Sebodo.


*bengong, melongo, garuk-garuk kepala, pencetin jerawat, bakar rokok, pulang*


Sahur ya? Berjuang nih. Masih tiga minggu lagi. Semangat! Cayo!

A Growing Pain

Posted by The Bitch on 10/10/2005 12:30:00 AM

Malem Minggu ini gwa kedatengan lelaki lagi. Kali ini bukan mahluk gundul yang pernah gwa ceritain dulu, meskipun sama botaknya. Dia datang lebih awal, Sabtu pagi pukul 07.30, dengan kereta ekonomi dari Jakarta, bercelana Hawaian, sendal jepit lusuh dan jumper putih serta ransel coklat buluk dan kacamata minus (sok) keren bertengger di hidungnya: Bogie. Masih 'brondong', semester I UI fakultas Hukum. Seangkatan dengan Icha, adek gwa, meskipun lebih tua dia setahun. Dan anaknya Budhe!

Kamis sore sebelumnya ada SMS masuk waktu gwa nguber Maghrib di Masjid Kampus. Dari Bogie yang pakek nomer Mamanya karena keabisan pulsa. Simpel aja isinya: ke Jokja yang murah dan nekat naik apa? Gwa kaget banget bacanya, mengingat episode minggatnya dulu. Karena marah sama Mamanya dia nekat ke rumah gwa, menempuh perjalanan hampir 3 jam ditambah 2 jam menunggu di depan pintu rumah karena hari itu orang-orang keluar semua. Makanya gwa bales dengan ancaman, "Kalo lo mau kabur jilid 2, gwa bilangin nyokap lu nih!" Ternyata dia pergi dengan persetujuan sang mama. Ya udah. Jadilah.

Gak taunya dia datang untuk seorang perempuan yang dekat di hatinya selama beberapa tahun terakhir. To make the long story short, perjalanan jauhnya gak seperti yang diharapkan. Perempuan cantik itu lelah dengan hubungan mereka. Dia memohon untuk tutup buku, selesai. Dan Bogie amat sangat 'patah'. Malam itu juga tiba-tiba dia kangen rumah, rindu pulang dan mendamba berada di dekat orang-orang yang mau menerima dia, sejelek dan sedekil apapun itu.

Akhirnya dia cerita semuanya, apa yang terjadi pada lima belas perempuan-perempuan yang sama mudanya dengan dia, tentang serunya 'mengejar' serta betapa menyenangkan dan membosankannya saat 'reward' itu sudah di tangan. Matanya sedih, meski dia masih tetap cegar-cengir. Belum pernah dia cerita sebanyak itu sejak mengenalnya ketika umurnya masih beberapa hari. Menyelami dia sedalam itupun rasanya juga gak pernah, karena menurut gwa dia cuma anak manja yang amat sangat beruntung, yang bebas melakukan keinginannya (dan selalu positif) dan orang tua permisif.

"Gwa gak tau deh, udah berapa aja cewek yang patah hati ama gwa. Ternyata kayak gini ya rasanya patah hati... sakit!" ujarnya. "Tapi gwa bakal nunjukin koq kalo gwa bisa berubah." Lalu dia berkali-kali memeluk gwa di stasiun sebelum kereta berangkat, malam itu juga. Gwa cuma merasa manusia yang ada di rengkuhan gwa ini adalah bunga liar rapuh yang harus survive sendirian untuk tetap tumbuh. Separah apapun hantaman angin yang dia terima.

Duh, dek. Kamu ternyata gak se-bayi yang kukira. Kamu sudah besar, sudah merasa sakit yang kamu perlu untuk tumbuh. Kamu sedang mengalami fase phoenix yang sedang terbakar. Jangan khawatir. Kamu akan tumbuh jadi burung berbulu indah yang memiliki airmata penyembuh dan nyanyian menenangkan. Aku tunggu!

Gigi Gajah!

Posted by The Bitch on 10/07/2005 05:00:00 AM

Gambar ini diambil beberapa minggu yang lalu waktu iseng nyobain ponsel berkamera milik Mas Anom yang baru datang dari Surabaya. Setelah beberapa kali menjeprat-jepret objek lain dengan pose normal, giliran objeknya diri sendiri dengan pose tidak normal. Mulai dari kantong mata sampe gigi yang segede gajah itu.

Speaking about gigi...
Dulu waktu pergantian gigi susu ke gigi dewasa, gigi depan sebelah kanan yang duluan goyang. Waktu itu masih takut mau bilang ke Ibu. Pasti langsung digarap: dililit benang, gesek-gesek sampe daging antara gigi dan gusi terkelupas, lalu tarik. Makjang! Baru 'otek' (bahasa gwa dulu gitu) aja sakit, apalagi diperlakukan dengan brutal begitu! Sempat merengek ke Ibu, cabut ke dokter gigi aja. Tapi menurut beliau ke dokter malah lebih ngeri. Cabutnya pakek tang. Walah! Akhirnya dengan kepasrahan luarbiasa anak usia 9 tahun, kuserahkan jiwaraga pada Bunda tersayang (bah!). Ternyata gak seheboh perkiraan gwa. Lancar-lancar aja. Sakit sedikit. Seterusnya, ketika geligi lain ber-otek-an, gwa cabut sendiri dengan tenang, berbekal pelatihan yang udah pernah diajarin Ibu.

Celakanya, jenis gigi depan gwa itu termasuk kelinci yang lebih gede diantara dua deret gigi lainnya. Jadilah! Sampe pernah diledekin sama Om Edi, adiknya Babab yang kuliah di ASRI (sebelum jadi ISI), kalo gigi gwa itu kayak iklan di bioskop. Koq?
"Iya, kalo bioskop kan ada poster film hari ini dan besok yang tulisannya TODAY sama TOMORROW. Bacanya kan 'tude-tumoro', kayak gigi kamu. Untu gede, tur mung loro!"
Huh!

Ketika awal-awal gwa kuliah di Jokja dan sempet tinggal di rumah Om gwa yang kocak itu, ngeledeknya lebih parah lagi.
"Kamu itu beneran gagah ya Pit, jadi perempuan. Sampe giginya juga 'mbegagah' gitu!"
Gwa bengong dan nanya arti mbegagah itu apa. Om gwa malah ngakak.
"Cari sendiri dong!"
Sepupu gwa yang masih TK nol besar akhirnya nimbrung.
"Mbegagah itu gini lo, Mbak..." lalu dia memperagakannya dengan membuka kaki lebar-lebar, kedua lutut ditekuk dan kedua tangan bertolak pinggang dengan siku maju ke depan.

Gubrak!

Jadi... silahkan nikmati gigi gajahku yang pinggirnya maju dan nggak rata!

*ini bangga, bukan desperate!*

Me Playing Hidir

Posted by The Bitch on 10/07/2005 01:18:00 AM

[ If I Ever Lose My Faith In You - Sting]

Marhaban ya Ramadhan. Akhirnya masih bisa ketemu puasa lagi (=

Mungkin gwa orang yang gak begitu antusias kirim-kirim selamat puasa dan minta maaf lewat SMS maupun e-mail. Bukannya takabur, tapi gwa tau koq temen-temen dan sekeliling gwa adalah orang-orang baik yang gampang forgive and forget. Gwa juga udah lupa koq apapun--menurut gwa--kesalahan yang mereka perbuat lima menit setelah dilakukan. Ini bukan kapasitas berlapangdada, tapi lebih ke otak yang cuma 2 kb!

Berkat seorang kakak/sahabat/musuh/Ibu/penasihat/motivator selama di Jokja sini, gwa jadi lebih lebur ketika Ramadhan datang. Dalam 2 tahun ini, dia yang ngenalin ke gwa indah dan nikmatnya berlelah-lelah jalan kaki Sagan-Masjid Kampus UGM (kampus gwa ga ada mesjidnya, jadi numpang di kampus orang =P) hanya untuk buka puasa bareng atau tarawih. 4 kilo PP, man! Dan karena dia juga gwa belajar sikap baik ketika khatib sedang ceramah: baca Qur'an dengan suara lirih, tidur sekalian, atau baca buku yang gwa bawa dari kos. Lebih baik daripada ngobrol!

Karena kesibukan dia, tahun ini gwa sepertinya bakal lebih sering tarawih sendiri. Dan gilanya (ini beneran unbelievable!), gwa nikmatin banget semua ibadah bulan puasa ini. Sampe-sampe gwa kepikiran untuk shalat 'Ied disini. Bener-bener fenomena alam! Entah karena umur yang makin nambah atau kesadaran yang terbentuk secara gak langsung, gwa targetin Ramadhan kali ini tarawih full (kecuali haid) dan khatam Qur'an. Meskipun jalannya masih tertatih. Tertatih?

Iya. Gwa masih sering melakukan yang (mungkin) dianggap sebagian orang adalah gak bener: merokok. Waktu Maghrib datang, gwa ngambil teh hangat manis yang disediakan di mesjid, nasi bungkus (kalo masih dapet) atau makanan yang gwa bawa sendiri, lalu bakar rokok. Buat para pecandu nikotin, itu adalah sweet relief setelah seharian menahan diri. Setelah shalat, baru gwa makan. Jeda ceramah antara Isya dan Tarawih, gwa biasanya turun (jemaah putri di lantai dua) bawa rokok+lighter+asbak portabel dan cari spot di pinggir kolam. Ngerokok, sendirian, sambil dengerin ceramah. Kadang gwa pura-pura gak liat aja kalo ada orang-orang yang memandang aneh ke gwa. Emang perempuan perokok gak boleh ikutan solat, Mbak/Mas/Pak/Bu?!

[Sabar, Nduk... puasa... inget... =P]



BBM Terkutuk!

Posted by The Bitch on 10/02/2005 12:41:00 AM

Bukan latah ikut-ikutan, tapi gara-gara demo BBM ini gwa sempet clash sama seseorang.

Ceritanya begini:
Jumat siang, 30 September, dan duit sama sekali gak ada. ATM udah gak bisa diharapkan lagi. Sebulan lalu diblokir gara-gara otak yang kapasitasnya cuma 2 kb ini lupa PIN. Lagian mending ga ada kartu ATM sih. Gak boros dan gak asal narik tiap kali perlu (gwa kan gak tahan godaan =P) Karena males jalan panas-panas sendirian, jadilah si teman ini gwa ajak barengan ke bank sebelah kantor pos dekat Bunderan UGM.

Mendekati Bunderan udah ada rame-rame. Beberapa polisi berjaga-jaga dekat kerumunan mahasiswa yang bawa-bawa TOA dan berorasi. Si teman yang emang kritis abis itu langsung bernada tinggi ngomentarin kejadian yang ada di depan mata. Gwa sih cengar-cengir aja dan mencoba bikin dia cooling down. Males panas-panas begini buang energi, buang abab serta spanneng.

Nyampe di bank kita ngadem sebentar. Menurut gwa sih ACnya lumayan bikin kepala dan hati jadi dingin. Sekeluarnya, dia ajak gwa liat buku 2ndhand yang dijual dekat-dekat situ. Ujung-ujungnya kita malah ngobrol instead of liat-liat. Lalu dia nunjuk sebuah buku dan nanya harganya. Gwa heran.
"Perasaan lo udah punya deh buku itu," kata gwa.
"Iya, emang. Gwa cuma pengen tau aja. Ternyata disini lebih mahal."
Dan penjualnya cuma nunduk demi mendengar kata-kata tersebut. Strike one.

Lalu gwa lewat kios langganan dan menyempatkan beli sebungkus penyakit berjudul ROKOK disana. Karena si bapak itu juga jualan banyak majalah, koran dan tabloid, dia menyempatkan diri untuk liat-liat dan nanya harga. Ketika dijawab sama Pak Sarjono (yang ke'Sarjono'annya sama sekali gak didapat lewat bangku kuliah), dia mengernyit.
"Di kampus perasaan cuma 10,000 deh," sahutnya sambil asik membolak-balik salah satu majalah politik yang udah dia buka dari plastiknya (bukan segel).
"Tapi kan emang dimurahin kalo di kampus. Kata temen gwa yang kerja di bagian distribusi, itung-itung sosialisasi majalahnya," jawab gwa.
Strike two.

Lalu ada mobil pick-up melintas perlahan dengan sepasang speaker mesjid di atas atapnya dan mahasiswa yang berkoar-koar di bak belakang layaknya orator ulung dengan suara serak dan pecah. Sendirian, lusuh dan kelihatan lelah. Teman gwa memandang bengis ke arah mobil. Majalah diletakkan, telunjuk mengacung.
"Dia berani ngomong gitu sekarang. Kenapa dia gak ngomong waktu Presiden dateng kesini?" ujarnya dengan suara (yang lagi-lagi) meninggi. Pak Sarjono keluar dari singgasananya, memungut majalah yang disemena-menakan, dan memasukkannya kembali ke dalam plastik. Dengan raut sabar.
"Hey, majalahmu gak dirapihin lagi?" tanya gwa. Dia cuma menoleh ke tukang rokok yang sehari-hari tinggal dalam kios tripleknya yang sempit, berdesakan dengan TV 14", tumpukan kardus rokok dan dagangan lain, yang hanya menyisakan space seluas peti mati, dan kadang terkantuk-kantuk sampai jauh malam menunggu insom-insom pecandu nikotin yang menyambangi kiosnya.
"Udah diambil sama bapaknya," jawabnya. Acuh.
Strike three, and I have enuff!

Sambil berjalan pulang, dengan perut melilit menahan hajat dan protes, gwa berusaha ngomong dengan nada datar hampir rendah. Dan selama beberapa tahun gwa kenal dia, gwa yakin kritik gwa bakal ditampung dan jadi refleksinya.
"Harusnya lo gak kayak gitu tadi."
Lalu gwa jelaskan kelebat-kelebat kejadian yang gwa tangkap selama bareng dia. Sehalus mungkin. Teman gwa ini amat sangat baik. Gwa gak rela ada orang yang tertinggalkan kesan buruk padahal orang itu sama sekali gak kenal dia. Tapi nyatanya dia gak terima.
"Kalo begitu cara halus lo untuk bilangin gwa, berarti lo kasar. Banyak koq hal-hal yang lo lakukan dan menurut gwa gak bener. Tapi gwa gak protes. Lo salah kalo ngomong gwa seperti itu!"

Lalu dia diam. Gwa diam. Tapi kami terus jalan. Jam 3 sore. Dengan matahari yang masih terik, sementara mata gwa mulai membentuk kantong hitam yang makin tebal karena sama sekali gak bisa merem sejak semalam. Shit! Kurang tidur emang bikin gwa lebih peka ke orang lain dan bukan ke temen gwa sendiri! Dan gwa menyalahkan demo anti kenaikan BBM karenanya!

[... karena kamu hanya kuliah dan berkecimpung dalam cita-cita yang lebih mulia bukan berarti orang yang mengais rezeki di zaman sulit ini lebih kecil nilainya dari kamu, sahabat. dan akupun tidak lebih baik dari kamu...]


ps: kalo kamu baca ini, sejujurnya itu yang aku rasa ke kamu. ini keberatanku ke kamu. kalo kamu gak suka, kamu tahu dimana mencariku. mari bicara. setelah semuanya selesai dan tuntas, entri ini akan kuhapus.