"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

I Decide to LIVE!

Posted by The Bitch on 9/27/2005 12:33:00 AM

Bukan salahnya. Gwa aja yang terlalu berharap banyak. Dasar! Beberapa kali trial and error (yang celakanya dapet error terus) masih aja belum bisa ‘nangkep’ maksudnya.

Dan gwa lebih bodoh dari keledai: terperosok lagi—entah untuk keberapa kali—ke lubang yang sama. Meski kedalamannya beda. Yah… namanya aja wishful thinking. Harapan yang diucap berulang-ulang layaknya mantra yang kemudian jadi sugesti dan mewujud menjadi sesuatu yang amat sangat didamba. Geblek!

Lalu, buku yang lagi gwa baca juga amat sangat mendukung: Veronika Memutuskan Mati bikinannya Paulo Coelho. Menarik, tentang seorang perempuan sederhana dan sempurna secara fisik. Dia memilih bunuh diri hanya karena rutinitas terkutuk yang harus dia jalani tiap hari dan kekacauan dunia yang tidak bisa dirubah. Sikap fatalisnya bikin dia nenggak empat kantung pil tidur dan semaput. Ketika sadar, dia malah ada di Vilette, insane asylum, dan bukan di 'limboland'.

Di Vilette itu dia malah menemukan 'cinta' dari orang yang mau menerima dirinya, secabul apapun itu. Veronika masturbasi dan orgasme berulang-ulang, dahsyat, yang gak pernah dia terima dan rasakan seumur hidup, tepat di muka Eduard, si schizophrenia yang menyukai alunan pianonya. Dan Veronika menemukan semangatnya lagi untuk kembali hidup: cinta.

Me? To be honest, I don't believe in love-thingy. Bullshit aja judulnya. Tapi gwa gak maksa orang yang percaya cinta untuk ngikutin gwa koq. Terserah aja lo mau kemana. I have my own way.


[atos mode]

Bangun, Sayang...

Posted by The Bitch on 9/26/2005 11:21:00 PM

Tentang harapan yang terhempas, kandas, dan masuk ke dalam lubang tanpa dasar. Tentang resolusi instan yang amat sangat didamba. Tentang seseorang yang bisa menerima diri apa adanya. Dan semua layaknya halimun pagi yang terusir malu ketika mentari datang.

Pertanyaan salah-benar jadi hilang makna sekarang. Sudahlah. Lahir sendiri, mati nanti pun sendiri. Jadi, mengapa tidak berjalan saja sendiri? Dalam kerumunan orang banyak sekalipun. Bukan masalah besar. Semua orang melakukannya. Beberapa terpaksa, yang lain karena pilihan.

Ini bukan kepengecutan dengan muka tunduk dan bendera putih melambai-lambai di atas kepala. Sama sekali bukan! Kutulis dengan wajah sekeras batu, sedikit gemeretuk gigi yang beradu gemas, dan semangat yang terbebat perban disana-sini karena beberapa kali patah. Tapi (kuharap) tetap mampu menahan hantaman hujan badai sekalipun, karena bekas lukanya menghasilkan baja yang menyatu dalam daging, mengalir bersama darah, menuju jantung, kemudian kembali beredar ke seluruh tubuh.

Karena aku bukan penakut! Silahkan kau ludahi. Boleh kau remukkan, injak, atau cincang sekalian. Tapi jangan harap aku tunduk. As long as I stand tall and proud on the solid ground under my feet, I cry only one word: RESIST!

How Boyish or Girlish Am I?

Posted by The Bitch on 9/25/2005 03:05:00 AM

You Are 80% Boyish and 20%

Girlish

You have a tough exterior - and usually a tough interior to match it.
You're no nonsense, logical, and very assertive.
Sometimes you can't understand women at all, even if you're a woman yourself.
You see things rationally, and don't like to let your emotions get the best of you.
How Boyish or Girlish Are You?

Dapet dari sini nih. Ngakak aja gwa bacanya. Sialan.

Sudahlah...

Posted by The Bitch on 9/20/2005 11:14:00 AM

Kemaren semua header dan stiker ilang. Sekarang shoutbox juga ikut ngadat. Mau mbenerin ga tau caranya, udah diutak-atik begimanapun, karena keterbatasan otak, akhirnya menyerah *keluh*. Bodo ah. Suatu saat nanti juga bener lagi. Gag tau gimana caranya. Haha... *ketawa miris*

Another Crowd, Another Fate, Same World

Posted by The Bitch on 9/13/2005 02:21:00 AM



Tiga kali gwa ngekos di tempat berbeda, dan kebanyakan temen serumah gwa adalah perempuan-perempuan yang kemana-mana pakek tutup kepala bernama jilbab. Meskipun gwa 'kalong' dan perokok, mereka gak ambil pusing. Atau gwa yang terlalu cuek? Gak tau juga ya... =P

Dulu gwa pernah ngajarin Bahasa Inggris ke anak-anak SD sekitar kos di mesjid Madrasah Aliyah Negeri. Ceritanya itu adalah kegiatan remaja masjid, dan gwa bukan anggota disana. Hanya karena diajak temen se kos aja makanya gwa ikutan. Mereka juga gak peduli dengan kebiasaan gwa, asal anak-anak itu gak pada tau. Dan ternyata menyenangkan!

Setelah yang diajarin bosen, gwa beralih ke bidang yang lebih komersil: jadi tentor. Disini, jujur aja, gwa melacur. Melacurkan otak, waktu, tenaga dan kebisaan yang gwa punya. Kepuasannya gak bisa disandingkan dengan ngajarin anak-anak kampung yang bapaknya cuma tukang parkir atau makan aja kadang susah. Cowok kecil berseragam putih-biru anak pejabat DPRD Jokja yang gwa bimbing itu punya motto: "Kata Bapak gak papa ulangan nyontek, asal gak ketauan." Dan ibunya (yang jebolan universitas ngetop di Jokja): "Kalo harus awasin anak saya belajar nanti malem, buat apa bayar Mbak Pit?" Atau anak SMU yang kemana-mana bawa mobil sendiri: "Aku harus fitness sore ini, Mbak. Gak usah belajar aja yah. Di-charge juga gak papa. Cuma lima belas ribu kan?" Yea, rite. Pelacur lima belas ribuan per satu setengah jam pada tahun 2001 dulu. *keluh* Untung ibu dari perempuan kecil kelas 4 SD yang satunya menguatkan tekad gwa : "Saya percayain anak saya ke Mbak. Perlu apa, bilang aja. Saya gak ngerti apa-apa, wong sekolah dulu cuma sampe SMP". Ah, Bu. Kebijaksanaan dan penghargaan pada orang lain gak diukur dari setinggi apa pendidikannya kok (=

Dengan perbandingan dua kejadian itu, maka gwa memutuskan untuk ngajarin anak-anak yang kurang beruntung, dimanapun. Dulu gwa pernah pengen ikut adek kelas gwa yang berjilbab untuk ngajar di LSM katolik. Tapi lalu gwa mikir, saudara seagama gwa aja banyak yang gak bisa dapet pendidikan, kenapa gwa repot urusin orang yang laen agama? Tapi ketika gwa berniat ikut LSM barengan mbak-mbak (yang sama-sama berjilbab) lain, mereka memandang gak enak ke rambut cepak, kaos butut dan jins ancur di dengkul (dua-duanya!). Dan mereka tambah mengernyit khawatir ketika gwa kepergok merokok sambil ngumpet-ngumpet. Iya, gwa ngaku. Pikiran gwa sempit waktu itu. Plak! *tampar diri sendiri*

Jadi, sekarang gwa mau aja deh kalo diajak ngajarin anak siapapun, asal bukan anak orang kaya. Mereka udah terfasilitasi dengan duit ortunya. Gwa udah pernah ngomongin ini ama Starchie hampir dua bulan lalu, malam di bunderan UGM depan lampu kuning kunyit, barengan Toni. Coba dulu ya disini. Kali aja sesuai dengan apa yang gwa pengenin. (This is a wishful thinking)

Another reading:
Maz Bek ng-anjal.

'Blue Saturday Night' Syndrome

Posted by The Bitch on 9/13/2005 12:12:00 AM

Malem Minggu kemaren seorang teman datang ke kos membawa martabak terang bulan dan pukis. Entah karena dia bete dengan generalisasi 'malem minggu = love is in the air' atau apa, dia mengeluh tentang beberapa teman perempuannya yang terlanjur ge er ketika dia bertandang ke kos mereka yang jomblo di waktu apel nasional itu. Lalu dia mengenang tentang kepernahannya jatuh cinta.

"Cinta itu bikin bego dan goblok serta konyol. Kalo kamu tau hal yang kamu lakukan pada seseorang yang kamu sayang adalah tolol, itu namanya cinta." Hah?!

Mungkin gwa yang menyebut diri sebagai 'homo rasionalis' dan selalu (berusaha) berpikir dengan otak dan bukan dengan hati nganggap hal itu gak masuk akal. Atau gwa belum pernah tertimpa nasib buruk bernama falling in love. But to act stupid when I crush on someone is very unreasonable. Buat gwa cinta adalah ketika lo nyaman bersama dengan seseorang dan menikmati hal itu bersama-sama tanpa harus jaim dan over acting.

Udah lah. Biarin si manusia gundul itu dengan pemikirannya, karena sebagai keturunan 'ahlul bait' mereka amat menjaga jarak dalam sosialisasi dengan lawan jenis. Yang penting, martabak dan pukisnya enak! =P

Karena Kita Hanya Punya Satu Bumi

Posted by The Bitch on 9/12/2005 02:02:00 AM


Dari dulu gwa paling benci sampah, dimanapun itu. Di lingkungan temen yang sama-sama perokok, gwa malah dijuluki aneh karena sering bawa asbak portable atau mengosongkan asbak lain yang kadang belum terisi seperempatnya. Ketika gwa beli Lotek (semacem gado-gado) sambil bawa food container dan plastik kresek sendiri, yang jual malah bengong. Lha, gwa kan antisipasi biar tempat sampah gak dipenuhi kertas minyak pembungkus. Lagian, untung di dia kan, ga ada biaya wrapping!

Gwa gak tau sejak kapan jadi orang yang (sok) sadar lingkungan. Kasian aja liat tukang sampah, Gaji gak seberapa tapi kerjaannya dekil banget. Saking dekilnya, tanya aja anak kecil. Kalo ditanya kalo udah gede mau jadi apa, mana mau mereka jadi tukang sampah, coba?

Waktu gwa baru mudik dan tau kalo di lingkungan Perumnas III Bekasi ada radio komunitas di kantor RW, gwa coba siaran bareng temen untuk 'ketok-tular' kebiasaan minimalisasi sampah di sekitar. Tau sendiri lah, Bekasi. Jakarta coret. Daerah gersang-kering-panas-berdebu dan ditinggalkan. Ditambah banyak sampah berseliweran kan gak enak banget. Gini nih, ceritanya:

  • Ajarin anak-anak kecil untuk selalu buang sampah di tempatnya dan kasih contoh sekalian. Lebih gampang ngajarin anak kecil, lho, daripada yang udah bangkotan. Yang dari kecil udah dibiasain, ampe gede bakal kebawa. Sama halnya kalo dari kecil udah biasa buang sampah sembarangan ampe gede masih hayuh aja kayak gitu. Ngerasa nggak? Makanya... jangan mau malu kalo lo bisa ngajarin anak kecil sementara sendirinya masih buang gelas plastik air mineral dari jendela mobil. Inget ama umur!
  • 3R Awareness: Reuse, Recycle, Refill. Pake lagi barang-barang bekas. Ember plastik yang udah bocor bisa di 'reuse' untuk operasi memperbaiki muka. Ya nggak la! Buat dijadiin tempat sampah di dalem kamar, gitu. Biasain beli kebutuhan rumah tangga yang pouch atau sachet, biar botol-botol bekasnya bisa diisi lagi (refill). Lagian, plastik kemasan sachet lebih cepet decompose-nya daripada botol. Walaupun masih hitungan tahun. Kalo udah kebanyakan barang anorganik yang gak bisa di refill atau reuse, kumpulin dan kasih ke tukang abu gosok atau ke pemulung terdekat biar di daur-ulang (recycle). Udah mbantuin mereka cari nafkah, sekalian bikin sampah lenyap.
  • Untuk perokok, do like I do: bawa asbak portabel. Mosok udah mampu beli komputer dan telepon tenteng, beli asbak yang bisa dibawa-bawa aja gak mampu?! Gwa punya kotak kecil yang dikasih ama temen pengrajin batik kayu (gretongan detected!). Yang berminat kontak gwa yah! =P Kalo gak bisa kontrol abunya, setidaknya buat nempatin puntung. Atau selalu sedia plastik kresek di saku. Kalo ga ada tempat sampah di sekitar ketika lo ngerokok, setelah puntung lo matiin, pungut, masukin plastik, kantongin atau masukin ke tas (easy for me to say karena gwa selalu bawa ransel kemanapun). Kalo mo beramal, lo bisa sekalian pungutin sampah-sampah lain yang berserakan. Hehe... Buang ke tempatnya kalo udah nemu.
  • Jangan terlalu banyak pake bahan kimia di air. Deterjen berlebih dengan busa banyak ketika lo nyuci baju ga bakal bikin rendeman lo jadi bersih tanpa lo kucek atau sikat. Liat petunjuk pemakaian dunk, ah! Inget, air bersih makin kurang. Kalo lo tambahin kotoran apa gak tambah kurang jadinya?! Tips: deterjen yang ramah lingkungan itu gak bau untuk ngerendem pakaian dengan kadar kotor normal (bekas keringat, noda dekil, dll) selama 5-6 jam. Kalo seminggu, mending lo simpen aja. Siapa tau ampuh buat pelet.
  • Irit air. Bukan berarti jarang mandi! Kalo mau rada usaha, mending pasang shower instead of bak mandi + gayung. Kalo pake kamar mandi Old-style pun jangan kayak mau nguras bak, yeh!
  • Tularin kebiasaan di atas ke orang-orang sekitar. Anggap aja ini sebagai dakwah atau misi suci.
Gampang kan? Ayo dong, jangan cuma bisa nyuruh! Lakukan SEKARANG!

Recycle, Reborn, Relive

Posted by The Bitch on 9/11/2005 04:37:00 AM

[U2 - Please]

I'm a phoenix. I'm going to get older, weaker, uglier, then got an internal combustion that burnt down all over my body till I become what I am before the creation: ashes. I will reborn and rebuild from such ashes. It gives me all the nourishment I need in the process. Like an embryo drinks fetal membrane in a safe and warm womb. In the end... voila! Meet the new me!

The cycle never stops. Until my time comes.

And I'm proud of being phoenix. Instead of burning, I sorrow. I ache, wounded, pulled up to the sky then fall flat on the face. I've got scars, bruises, even stitches and some broken ribs. But that's allright. I will survive, no matter what.

Because i've lived and will continue living. I've fooled, learned, laughed, loved, amazed and petrified by the beauty of the world. Such a waste to give it up while I can be in it one more time. That's why I decide to go on. To hold on another day.

I've met another phoenix and fascinated by their reason of going through the cycles again. A single mom with three kids, a blind boy with an extraordinary musical talent, some girls who stand tall with their idealisms against the maddening trends, men and women reaching high to the sky and achieve their dreams, and the list will be miles to mention.

I've been down, but I will stand up quickly with my head straight ahead and my chin up. Though it's a pile of shit that I stumble upon.


[In memoriam of all the 'September Victims' in all time... Be a phoenix! Find a reason to keep on living!]

A Warm Place

Posted by The Bitch on 9/07/2005 04:12:00 AM



Malam ini seseorang di milis kasih ini. Jadi inget lagi sama salah satu tempat nongkrong ternyaman di Jokja. Kongkow tanpa liquor. Gwa emang bukan salah satu pengunjung setia dan gak banyak yang gwa kenal. Wong kesana pun gak akan stay lama kalo gak dibayarin ato janjian. Yang ngajak gwa itu yang banyak kenalannya. Dan... you know, lah. Temen ngenalin ke temennya kan jadi temen juga. Penghambat nongkrongnya masalah klasik bin lawas: duit. Dan atmosfer itu mahal. Gak cuma yang ngambang di awang-awang tapi juga di sekeliling. Gak heran untuk ngopi secangkir disini aja orang harus ngerogoh kocek dalem banget hanya untuk dapet suasana cozy dan asik (dan dipandang keren?). Apalagi kalo ada tempat where everybody knows your name.

Sama seperti tempat itu. Walaupun (menurut gwa) lo harus kerja di tempat keren dulu, atau punya posisi apaaa gitu, atau harus jadi manis-cantik-kurus-wangi biar gak malu kalo dapet cupika-cupiki atau cuddles dari Mbak Anik.

*Acute Inferior-Syndrome detected!!!*

Putih - Abu-abu = Pinky Blue

Posted by The Bitch on 9/06/2005 02:20:00 AM

Gwa pernah punya pacar nggantheng pol jaman masih pake seragam putih-abu-abu dulu. Bukan mau pamer. Lagian yang bilang cakep bukan gwa koq, tapi temen-temen. Dengan nyokap Manado dan babe Ambon yang jago nge-mix, jadilah wujud cowok keren bernama Rio. Hehe... nyebut merk =P Kami barengan lumayan lama, 8 bulan. Pacaran jijay. Jadian cuma gara-gara pengen tau gimana rasanya punya gandengan. Hah!

Gara-gara punya cowok macem dia, gwa pernah dipelototin mbak-mbak cantik di angkot. Pertama si mbak itu naik, matanya udah tertancap pada lelaki di sebelah gwa. Ketika pantatnya mendarat di jok, tu muka seakan gak percaya ketika lelaki itu ngobrol ama gwa dan kami ketawa-ketiwi. Kenape, mbak? Gak rela ada cowok secakep dia jalan ama cewek seitem dan sejelek gwa dan bukan elu?!

Waktu itu sih perasaan biasa aja, gak ada gereget atau deg-deg-ser atau apa lah. Wong kita temenan udah lumayan lama. Tapi menyenangkan juga punya seseorang yang selalu nelpon dan datang dengan wajah sumringah, rela dikeluh-kesahkan sehabis ulangan eksak yang bikin kepala berasap, dan gak komentar liat gwa makan sama rakusnya dengan dia. Udahannya pun masih fair koq. Masih suka maen ke rumah walau pernah dianggurin nyokap selama 3 jam nunggu gwa pulang, sementara beliau terlalu asyik menjahit sambil cerita-cerita tanpa merasa ada yang kelaperan dan kehausan sepulang sekolah. Tanpa komplain dan tanpa kapok!

Dodolnya, gwa gak pernah keliatan kayak orang pacaran. Kalo lagi duaan di rumah aja duduknya berseberangan. Romantic moment: lempar-lemparan majalah di ruang tamu sambil cekikikan. Atau main curi-curi sentil kuping. Yang nyentilnya paling unexpected yang menang. Mungkin gwa punya kecenderungan sadis kali yah? *keluh*

Waktu dia telpon dan mengeluh sakit, gwa penuh semangat ke rumahnya dan akhirnya kenal sama kakak dan ibunya. Dari situ Perkumpulan Cewek Bawel terbentuk, karena kalo udah ngumpul bertiga ada aja yang diomongin. Kasian Rio. Dia sering gwa cuwekin kalo gwa dateng atas undangan ibu atau kakaknya. Malah sering diusir kalo pengen nimbrung.

Every beginning has an end, dan ketika kami udah sama bosennya akhirnya kata 'udahan' terlontar juga meskipun hubungan sama keluarganya masih lanjut. Waktu kakaknya sakit dan minta gwa dateng, gwa rada sungkan. Waktu itu kita baru aja putus. Ternyata ibunya tau. "Biarin aja si Rio. Dia lagi gak ada di rumah. Lagian Kak Oti nanya kamu terus," ujar Mami. Ujung-ujungnya gwa malah nginep disana ketika Rio mergokin gwa lagi njawab pertanyaan kakak iparnya tentang pacaran kami yang putus dan dia menolak mentah-mentah untuk nganter gwa pulang. Dengan permohonan seluruh anggota keluarga sekalipun! Gwa gak tau kenapa dia se-atos itu. Sebel karena diomongin atau deep down inside masih suka? *ngarep* Darn! Akhirnya Mami telpon rumah dan minta izin ke Ibu untuk nginep karena udah malem banget dan transportasi buat mulangin gwa juga gak ada.

Thanx God karena menciptakan Rio. Setidaknya gwa jadi punya bahan ketawa saat sedang nostalgia puber.

Time...

Posted by The Bitch on 9/05/2005 01:24:00 AM



Beberapa hari ini rasanya waktu 24 jam gak cukup. Padahal cuma harus kelarin kerja bakti yang gak komersil sama sekali tapi penting untuk relationship maintenance. Penyebabnya mungkin karena terlalu lama punya kebiasaan nyantai, nonton tipi berisi acara gosip terkutuk tentang artis-artis (yang gwa pelototin dengan pasrah karena kuorum lebih memilih itu daripada kartun lucu dan garing), dan baca novel thriller yang gak selesai-selesai. Ada keharusan untuk balik, nengok sarang hangat-nyaman-bersahaja berisi keluarga, tapi selalu ada aja sandungannya. Menurut Mas Sigit bernama 'tuntutan'.

Dulu pernah ada yg ngirim imel tentang arti waktu pakek analogi ember, batu besar, kerikil dan pasir. Untuk mengisinya penuh, pertama ember (waktu) diisi dengan batu besar (tujuan hidup, rencana, harapan, keluarga), lalu kerikil (pekerjaan, sosialisasi), dan terakhir pasir (hobby). Dengan begitu setiap celah waktu bakal terisi penuh dan gak tersia-sia karena semua sesuai dengan porsinya.

Celakanya, entah karena batunya lapuk atau saling desak dan hancur, ember gwa kebanyakan pasir nih!

It's Not the End of the World

Posted by The Bitch on 9/04/2005 02:00:00 AM

Setelah baca disini, gwa baru tau kenapa headernya ilang. Bagian atas berwarna kelabu-biru dan keren bikinannya yang 'nimpa' gambar asli dari blogger itu hilang! Argh! Sebel!

Well, frankly, gwa bukan kesel karena tampilannya jadi sederhana banget. In a way, malah jadi unik tanpa header pun. Gwa kesel karena karyanya yang maha bagus itu jadi gak keliatan oleh para pengunjung (ehm! Sok ngetop lu ah!).

A sickbag doesn't have to look pretty, lah. Lagian, ga ada header bukan berarti kiamat, kan? So, Don... kapan tu gambar bisa nongol lagih? Hihi...

Windmills of Your Mind

Posted by The Bitch on 9/02/2005 07:00:00 AM


Round, like a circle in a spiral
Like a wheel within a wheel.
Never ending or beginning,
On an ever spinning wheel
Like a snowball down a mountain
Or a carnival balloon
Like a carousel that's burning
Running rings around the moon

Like a clock whose hands are sweeping
Past the minutes on it's face
And the world is like an apple
Whirling silently in space
Like the circles that you find
In the windmills of your mind

Like a tunnel that you follow
To a tunnel of it's own
Down a hollow to a cavern
Where the sun has never shone
Like a door that keeps revolving
In a half forgotten dream
Or the ripples from a pebble
Someone tosses in a stream.

Like a clock whose hands are sweeping
Past the minutes on it's face
And the world is like an apple
Whirling silently in space
Like the circles that you find
In the windmills of your mind

Keys that jingle in your pocket
Words that jangle in your head
Why did summer go so quickly
Was it something that U said
Lovers walking along the shore,
Leave their footprints in the sand
Was the sound of distant drumming
Just the fingers of your hand

Pictures hanging in a hallway
And a fragment of this song
Half remembered names and faces
But to whom don't they belong
When you knew that it was over
Were you suddenly aware
That the autumn leaves were turning
To the color of her hair

Like a circle in a spiral
Like a wheel within a wheel
Never ending or beginning,
On an ever spinning wheel
As the images unwind
Like the circle that you find
In the windmills of your mind

Pictures hanging in a hallway
And the fragment of this song
Half remembered names and faces
But to whom don't they belong
When you knew that it was over
Were you suddenly aware
That the autumn leaves were turning
To the color of her hair

Like a circle in a spiral
Like a wheel within a wheel
Never ending or beginning,
On an ever spinning wheel
As the images unwind
Like the circles that you find
In the windmills of your mind


Thanx to this site. It feels good at six o'clock in the morning, sleepless and listen to Uncle Sting (Gosh! He's FILF! An opposite of MILF!) sings my favorite song. I'm in heaven... Ah!

ASL, pls?

Posted by The Bitch on 9/02/2005 06:33:00 AM

Biasanya kalo chatting dan ada cowok yang ajak kenalan, gwa paling empet. Apalagi nanya-nanya age/sex/location. Bukan apa-apa. Jam gwa online biasanya waktu orang tidur nyenyak. Dan penghuni dunia maya saat itu kebanyakan cowok-cowok iseng insom nyari happy hour di warnet (biar murah) dan gak tau mau ngapain lagi setelah bosen nge-bokep dan sedang 'tinggi-tingginya'. Nah, kan butuh instrumen buat menyalurkan, tuh. Gwa gak mau dong, kalo gwa ngaku cewek dan dijadikan objek! Bukan parno, tapi gwa sering ketiban kayak gini. Paling kalo masih nanya dan nyecer, gwa cuekin ampe dia diem sendiri atau misuh ampe bego. Ketika sedang baik hati mode on, gwa tinggal klik kanan lalu ignore. Gampang. Si yammer itu bakal hilang dari pandangan; di room dan di window query. Itu kalo pakek IRC, fasilitas chat yang gwa pakek ampe sekarang selain Yahoo Messenger.

Tapi kalo lagi iseng dan kumat jahilnya, atau emang pengen chatting, biasanya gwa kasih ASL kalo si lawan nyebutin duluan. Bisa menyesuaikan. Gwa gak pernah boong masalah jenis kelamin. Hanya boong umur. Itupun ga jauh banget koq, paling setaun-dua taun aja =P

Pengalaman pribadi gwa, cowok seneng kalo lawan chattingnya lebih muda, beberapa hari sekalipun. Merasa diri lebih tau atau lebih bisa ngasih tau plus ngatur? Atau imbas sistem pallosentris? Entah ya. Tapi rata-rata emang begitu koq.

Jaman masih muda dulu sih gwa sering banget kopdar gembira sama manusia-manusia maya itu, satu lawan satu dan ga pernah se-channel. Males banget ngobrol di channel. Kenal operatornya pun one by one dan ketemunya juga sama. Pasca-kopdar lalu ketemu di room, baru kita ngomong rame-rame. Waktu gwa masih nge-kos di rumah tua belakang supermarket murah, tukang parkir di toko kaset sebelahnya ampe apal nomer rumah gwa gara-gara pernah seminggu disatronin temen chatting ampe 4 kali. Edan ya, kopdar frekuensi tinggi itu. Ga tau kenapa kebanyakan manusia maya yang mewujud itu masih keep in touch ampe sekarang. And no romance included! Karena kita emang cuma temenan.

Balik ke masalah ASL tadi. Karena selalu dianggap lebih muda, mereka suka sok jadi kakak atau abang ke gwa. Asik sih, karena sebagai anak pertama gwa gak pernah ada yang manjain (Aih! Gak pantes, Pit! Gak pantes!!!). Ga sukanya kalo gwa mengajukan pernyataan dan kemudian dibilang gak kredibel karena belum cukup umur. "Anak kecil, tau apa?!" Syalan, kan?! Kalo udah masalah itu, biasanya gwa jadi atos, kepala batu mati-matian mempertahankan argumentasi dengan jemari keriting sekalipun! Kebenaran harus ditegakkan, man!

Lucky me, kebanyakan mereka-mereka itu--yang disebut Mbak Nana sebagai headless but brainy--setuju aja (atau ngalah ama anak kecil yang gendud?) karena kegigihan gwa mempertahankan apa yang haq dan melawan yang bathil (HAH?!). Peduli setan lah. Setan aja angkat tangan ama gwa. Yang penting... it's good to have your naughtiness and arrogance smilingly compromised!

[this is a gramatically incorrect episod]

Ketika Arjuna Memilih Suyatno dan Bukan Sintha

Posted by The Bitch on 9/01/2005 03:00:00 AM


Foto disamping jelas keliatan kan? Iya, itu cowok lagi nyium cowok. Dapet dari sini. Kalo site itu di klik, maka bakal nongol gambar-gambar cowok dengan pose menggiurkan bagi penyuka sesama jenis. Gwa juga ngiler sih =P
Tapi sedih. Bukan, gwa gak anti homoseksual. Liat aja, mereka kan ganteng-ganteng dan bagus-bagus gitu kok ya sama sekali emoh lirik cewek. Malah ada beberapa yang Drag Queen, transexual. Hix... pantes aje aye gak dapet-dapet cowok! (d'oh!)

Gak nyalahin sih. Itu kan preferensi mereka. Dulu gwa sempet 'kesasar' di komunitas gay. Kalo pas lagi rapat atau kumpul-kumpul gwa sering dipandang dengan tatapan sinis ama yang gak begitu kenal gwa. Ya maklum aja, gwa cewek sendiri dan mereka laki semua tapi malah gwa yang lebih maskulin. Meskipun bodi mereka berotot dan kekar--beberapa diantaranya malah instruktur fitness di Jokja--tetep aja kalo lesehan gak bersila, tapi miring.

Waktu itu kita rapat. Setelah selesai, sambil nungguin host-nya mandi dan bedakan (beneran bedakan, nek! Akika gak boong!) gwa melontarkan pertanyaan (sok) kritis ke temen-temen. Pernah gak sih mereka berpikiran untuk menikah dan beranak-pinak nantinya? Dari sekitar 10 orang--kecuali gwa, tentu--semuanya mengangguk mengiyakan. Hanya, mereka masih nikmatin keadaan mereka yang bisa having sex tanpa resiko hamil. Unreasonable buat gwa, karena kalo mereka udah kebiasaan semburit dan apresiatif terhadap tubuh lelaki gimana mungkin mereka bakal horny dengan cewek semudah dan secepat membalik telapak tangan? Perlu proses detox terhadap penyimpangan seksual mereka kan? Jadi...? Dan mereka hanya angkat bahu. Yet, mereka keukeuh sumeukeuh ingin menikah dengan perempuan dan memiliki anak.

Yah... terserah deh. Gwa cuma bisa berharap mudah-mudahan mereka dapet apa yang mereka mau, tetep dengan gaya hidup mereka sekarang atau kembali ke jalan normal.

Tulalit!

Posted by The Bitch on 9/01/2005 01:44:00 AM


Keren yah. Gwa dapet gambar ini dari milis Gajah. Powerful Mom. Dengan perut se-njembling itu, masih PD aja pakek sarung tinju dan baju olah raga! Jadi inget Demi Moore waktu dipoto bugil pas lagi hamdun begini. Terus juga ada copycatnya, mbak mBritney yang juga tanpa malu pamer tamburnya ke seluruh dunia dengan tetep berpakaian minim. Dedeknya di dalem perut pasti lahirnya udah masuk angin. Punggungnya udah belang-belang bekas kerokan.

Gwa selalu menganggap ibu hamil itu keren, rela menderita demi satu mahluk baru yang bakal dia lahirkan ke dunia. Keren, asal tidak terjadi pada gwa. Sama halnya dengan anak-anak yang selalu lucu dan menggemaskan asal itu bukan anak gwa. Bukan berarti gwa gak suka anak-anak. In some ways, gwa sering dianggap anak-anak oleh para anak itu sendiri. Bahasa yang gwa pake ketika berkomunikasi dengan mereka sering sama dan nyambung. Hanya tanggung jawab dan pemeliharaan dan biaya di belakang wajah lucu menggemaskan itu amatlah maha. Maha berat, maha banyak, maha mahal, MAHA. And I don't think I could afford them.

Bukan hanya alasan sepele itu aja sih. Gwa takut sakit =P Gwa sering liat ibu-ibu yang berjuang meregang nyawa antara hidup dan mati--alasan mengapa perempuan yang gugur ketika melahirkan sama dengan berjihad--dan bagaimana mereka dirobek, dibedah, diobok-obok, lalu dijahit kembali setelah si bayi keluar dari 'Gua Garba' Bunda. Gwa pernah liat itu di depan mata. Liatnya aja ngilu. Kapok.

Lagian, dengan gaya hidup gwa yang berantakan gini--perokok dan jadi batgirl karena keseringan begadang--ga yakin bakal jadi ibu yang baik. To make the long story short, semua diawali dari satu pertanyaan: ada niat untuk berhenti merokok gak? Ada, kalo gwa hamil nanti. Kenapa? Karena perempuan yang masih merokok ketika dia sedang hamil akan membahayakan bagi janin yang dikandungnya. Kalo masih diterusin malah bisa bikin cacat si bayi nanti. In that case, I'll be putting another life in jeopardy and it's so not me.

BUT, dengan alasan tertentu yang amat sangat pribadi, gwa lebih memilih untuk menyelesaikan setengah dien (menikah) dengan cara lain; dimana menikah adalah pre-requirement untuk perempuan yang ingin hamil kalo gak mau menghadapi keruwetan hidup lain yang menghadang nanti.

Conclusion: GWA GA AKAN BERENTI MEROKOK!!!

*Ini postingan kok gak nyambung yah?!*