"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Kudos to Mum

Posted by The Bitch on 8/30/2005 05:00:00 AM

It was morning, can't go home yet for I still have something to do. Clicking thousands of sites, I tripped over and fell here. I've read two or three of her posts. About kids, heartbreaks, problems, how to make ends meet, you name it. And all were interwoven (gosh! Another big word!) into one, big, long fabric. Small thing could turn out into major, though. How the birthmark on her kid's face could came up into something suspicious, for instance. It even made the school attendant thought her as an insufficient in dealing with kid's hygiene! Gosh!

I was amazed with my mouth gaping and my jaw dangling. She's a KEWL mum! Her kids should've been really proud of her! She's like having her clock ticking really slow. It's sixty minutes to make an hour for other people, for her it's 120 minutes, perhaps. With all the fuss of being a single , welfare mother, she managed to be in school, afterall!

Behold! Supermom is on the way! Be ashame and reflect, ye youngsters!

[I am included *grins*]

Nadjeez!

Posted by The Bitch on 8/26/2005 12:00:00 AM

Dari sini gwa tau kalo ini cuma boongan. Darn! Tiwas woro-woro ke seluruh dunia kalo pengen menikmatinya secara romantis! Apa yang ada di benak orang-orang nanti demi melihatku yang super-ultra-mellow seperti itu?! Dan salah satu komen sudah membuktikannya!

Ah!

Berdiri di Sisi Lain

Posted by The Bitch on 8/25/2005 03:17:00 AM

Umurnya belum genap tiga puluh, tapi suaminya berusia lebih dari tujuh puluh tahun. Wajahnya terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Kata orang, jika perempuan menikahi lelaki yang jauh lebih tua maka dia akan terlihat sama tua dengan suaminya. Kalo dia menikahi lelaki yang lebih muda maka dia akan terlihat lebih tua dari suaminya. Huh! Perempuan dan kodrat dan analisa dan kerut itu! *keluh*

Badannya khas perempuan: serba bulat. Kepalanya gak pernah lepas tertutup jilbab dengan kacamata yang selalu nangkring di muka. Ketika senyum pun, muka itu gak pernah keliatan bahagia. Atau mungkin gwa aja yang salah liat, ga tau juga. Tapi embel-embel istri kedua dan sering dilabeli "Si Ganjen" atau "Si Genit" kayaknya punya kontribusi untuk bikin dia seperti itu.

Sebelum gwa liat 'penampakan' nya, anak lelaki hampir-bungsu dari istri pertama pernah cerita ke gwa. Saat itu jelas gwa lebih mihak ke si anak yang notabene temen gwa. Secara gak sadar gwa mengidentifikasi diri dengan keadaan sendiri. Gimana kalo Babab yang kayak gitu? Ibu dimadu?! Gwa dan Icha punya ibu tiri?! NO WAY, JOSE! Ah, terkutuklah sistem otak (atau perasaan atau analisa atau pertimbangan apapun-lah-namanya-itu) yang bekerja otomatis memberi label pada hal yang kita dengar atau rasakan! Autorun yang bekerja seperti virus berekstensi EXE di komputer. Bikin lemot dan gak obyektif! Tau-tau file penting kehapus, HD rusak, CPU mati mendadak, dll.

Lalu sepasang manusia itu datang. Gwa berinteraksi dengan 'penampakan' meski gak terlalu dekat. Dari caranya mengikik karena nonton 'Untung Ada Jinny' maupun slapstick di film Warkop, ga heran kalo dia disebut Ganjen. Tapi memanggilnya dengan tatapan dan raut sinis? Nanti dulu!

Sebelumnya dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah (calon) anak tirinya. Mental image gwa: perempuan desa dari pelosok Pemalang yang ingin status sosialnya terangkat untuk bisa sederajat dengan orang-orang di sinetron (media sux, dude!). Kalo jalan satu-satunya adalah menikahi lelaki renta dan dapet warisan dari kekayaannya, it worth trying. Mungkin begitu pikirnya. Apalagi kalo bisa foya-foya sedikit sebelum menjanda, morot sepuasnya. Sayang, harapan gak sesuai dengan kenyataan. Karena gwa tau suaminya adalah tipe pelit luarbiasa yang murka demi mendapati kunci pintu patah setelah pemakaian 10 taun. Selama mereka ada disini pun, makannya gak lebih dari ikan asin dan sayur seadanya. Pergi-pergi ke mall atau jalan-jalan juga gak pernah. Padahal jalan kaki juga bisa kalo cuma ke mall kecil di sebelah aja sih. So, what's the fun?!

Dan gunjingan berlanjut. Ada yang bilang mereka nikah siri, tanpa pencatatan KUA dan gak bisa dipertanggungjawabkan karena gak ada bukti hitam diatas putih. Thus, grebekan oleh warga patut dilakukan. Orang-orang sekitar terus aja ngomongin dan konfirmasi ke gwa yang dianggap kredibel sebagai validator. Biasanya, tanggapan cuma nyengir kepaksa. Gak heran kalo gosip jadi santer. Si bapak adalah orang yang sering ngerasa paling bener sedunia dan akhirat dan tiap perkataannya adalah sabda dalam keluarga. Celakanya dia berusaha bikin lingkungan luar seperti di dapurnya sendiri. Karena itulah mereka-mereka yang kena imbasnya ngerasa gerah dan bikin pendapat umum yang melecehkan. Sementara gwa punya pendapat sendiri.

Tapi opini publik emang susah diubah ya... *sigh*

Posted by The Bitch on 8/23/2005 02:06:00 AM



Mars will look as large as the full moon to the naked eye, katanya. Dari e-mail yang gwa dapet di milis (yang maksudnya melucu dan) kocak, dari awal Agustus ini sampe akhir tanggal 27 nanti, Planet Merah bakal keliatan segede bulan di langit. Taun kemaren juga gitu. Gak lebih gede, sih. Hanya lebih terang, kayak bohlam lima watt yang dipasang di kamar pas gerhana bulan.

Katanya lagi, fenomena ini bakal terulang nanti, tahun 2287.

Duh, andai ada seseorang yang bisa jadi temen romantis untuk nikmatin Dewa Perang ini bareng-bareng...

Gwa dan Tuhan

Posted by The Bitch on 8/20/2005 08:00:00 PM

I am not a religious person dan didikan dari kecil pun gak begitu concern masalah agama. Ibu bisa lancar baca Qur'an setelah gwa balita. Babab bahkan masih belajar sampe sekarang. Kakek dari Ibu pemeluk Pantekosta sementara Nenek Islam Abangan. Dari Babab--meski sama-sama abangan--Alhamdulillah simbah-simbah gwa meninggal dalam keadaan baik, Wallahu'alam.

But I believe in God tanpa fanatik. Buat gwa, Tuhan dan peribadatannya itu a very intimate business. Terserah lo mo nyembah Tuhan siapa, gwa gak peduli. Itu murni 'persetubuhan' lo pribadi denganNya. Asal gak paksain orang lain menyembah dan beribadah sesuai dengan kepercayaan lo, gak masalah buat gwa.

Kadang perihal ibadah jadi hal yang amat sangat intimnya sampe orang lain gak boleh tau. Makanya, kalo temen-temen kos tiba-tiba liat gwa wudhu setelah sekian lama gak keliatan basuh-basuh, mereka heran dan bilang, "Tumben...." Padahal--walopun sering bolong solat--gwa masih perlu Dia.

Gwa pernah ngetes diri sendiri. Jujur aja, waktu itu gwa lagi jadi homo rasionalis--bahwa semua kejadian di dunia ini adalah peristiwa yang diatur alam dan masuk akal, sementara Tuhan hanya satu istilah untuk menyebut cara kerja alam semesta. Gwa menisbikan Tuhan dan hanya mengandalkan pertimbangan akal. Hasilnya? Kemrungsung dan muring-muring gak karuan yang berkepanjangan. Gak tau kenapa.

Gwa sempet mikir kalo Tuhan itu sebenernya hanya rekaan manusia, terlepas dari adanya kitab-kitab suci yang dibawa para nabi. Mereka perlu sesuatu yang lebih 'maha' dan abstrak untuk jadi pegangan ketika yang mereka harapkan gak sesuai dengan kenyataan. In other words; when things fucked-up, you still got something to blame dengan alasan, "Semua terjadi karena kehendak Tuhan." Bah!

Pernah denger kalimat, "Manusia berusaha, Tuhan yang menentukan"? Bullshit! Apologi basi! Itu cuma cara kita melarikan diri dan meminimalisasi kesakitan dan kedongkolan ketika apa yang udah direncanakan gak berjalan semestinya. Manusia berusaha, manusia menentukan. Bukan gwa mau ngecilin artiNya, tapi kita udah dikasih pilihan dan dengan kesadaran dan pertimbangan yang kita bikin maka keputusan itu yang bakal menentukan hasil akhir. Memang ada faktor X yang sama sekali diluar perhitungan. Dan mungkin--just maybe--campur tangan dan kuasaNya bermain disini. Tetep, gwa gak suka melarikan diri.

Dia emang Maha: Maha Keren, Lucu, Jayus, Kuasa, Pengasih, tapi bukan kejam. Ada masa dimana gwa menghujat dan mengumpat. Tapi itu sebelum gwa sadar (aih!). Tapi gwa juga gak bisa membusungkan dada dan bilang ke seluruh dunia kalo sekarang gwa udah mantep. Mungkin umpatan itu masih bersisa tanpa gwa sadar, walaupun sebiji sawi dan voiceless. Toh gwa juga masih manusia. Shit! Alasan dung dung pret itu lagi! Taek la! Haha! *dezigh!*

Starving Edition

Posted by The Bitch on 8/18/2005 03:00:00 AM

Pagi itu gwa punya ide untuk tukeran Ibu, hanya karena ibunya sering ingetin dia solat per telepon jam setengah enam pagi. Nyokap gwa hanya telepon kalo ada kerabat yang meninggal atau ngabarin tentang adek gwa yang keterima di PTN. Itupun basi, beberapa hari setelah kejadian baru bilang. Emang ga cocok jadi reporter dah ah, emak gwa itu!

But there is one thing that I won't trade her for anything in the world: masakannya! Standar kali yah, semua anak di dunia ini pasti memuji setinggi langit masakan ibu masing-masing. Mungkin karena mahluk-mahluk mulia itu bikinnya pakek bumbu yang gak dimiliki chef terhebat dari resto top manapun: sejumput cinta. Walaupun bahannya sama, tapi para ibu selalu bikin karya sederhana mereka jadi masterpiece dengan bumbu rahasianya.

Di negara Sultan Hamengkubuwono ini lidah gwa mati rasa. Makanan sehari-hari selain makanan warung--kalo emang lagi pengen banget makan normal--adalah lotek (mirip gado-gado dengan bumbu kacang a la ketoprak ditambah kencur dan daon jeruk) atau bakso kasih nasi. Murah-meriah, dan diharapkan bisa mencukupi asupan gizi sehari-hari, terutama vitamin c. Mbak Mul, yang jualan lotek, udah apal kebiasaan gwa. Semahal apapun harga cabe, beliau selalu ngulekin minimal 15 butir... eh, biji... eh, buah... eh, auk ah! Pokoknya segitu, minimal. Maksimalnya, 27. Kalo beli bakso, gwa sering dipelototin yang jual pas nyendok sambel. Kalo aja ada tukang bakso yang meletek (melek teknologi) dan kreatif serta peduli pada nasib rekan seprofesi, mungkin muka gwa udah diabadikan pakek kamera digital dan disebarkan ke sesama tukang bakso yang suka berkeliling di daerah Sagan ampe Terban, dengan pinggiran foto bunder warna merah layaknya rambu lalu-lintas dan garis melintang yang juga merah: waspada terhadap dedemit ini atau persediaan cabe lo ludes. Ekstrim emang, numb to the core karena gwa ga pernah mules setelah makan. Kalo 2 atau 3 jam kemudian gwa harus eek, itu emang kebiasaan. Easy come, easy go.

Bude Nani--sepupu simbok yang juga ibu-ibu beranak sepasang dan skillnya melampaui emak--pernah ngeledek gara-gara mules setelah melahap lasagna bikinannya yang terkenal itu. "Kamu udah kebiasaan makan nasi kucing angkringan sih, jadi makan makanan yang harganya lebih dari 10,000 aja perutnya nolak! Kasian amat sih?!"
Syalan...

Duh... kangen Gulai Ikan dan Bebek Kuah yang paling enak sedunia itu...


Selamat Ulang Tahun, Nek Indonesia

Posted by The Bitch on 8/17/2005 02:49:00 AM

Gwa bukan nasionalis dan lebih sering merasa antipati. Tapi salut sama orang-orang yang mau berjuang dan melawan mainstream pemerintahan (maksudnya korupsi kali yeee). Gwa ga akan berhenti berharap dan berdoa untuk kalian.

Kalo jadi mbah-mbah, umur 60 itu adalah usia ideal, tinggal menuai hasil yang udah ditanem kemaren-kemaren. Diharapkan anak cucu pas lagi lucu-lucunya, Post Power Syndrome akibat pensiun udah berakhir, hobi lebih tersalur (gardening, misalnya) dan kematangan spiritual yang mapan tercapai sudah. Sukur-sukur udah pernah haji dan gak maniak berangkat lagi hanya untuk gaya.

Moga-moga ke depannya bisa lebih dewasa lagi dan tambah ngayomi buat anak-cucunya ya, Mbah Indonesia...


[Padahal pengen menista, tapi koq gak tega yah...? Apa karena beliau lagi ultah dan udah sepuh?]

A Silent Moment

Posted by The Bitch on 8/16/2005 02:34:00 AM

Orang-orang Indonesia tandatangan di Helsinki. Katanya sih itu perjanjian untuk saling memahami antara dua pihak: GAM dan Indonesia. Setelah sekian lama, dengan makan korban yang gak sedikit, akhirnya orang di belahan ujung pulau Sumatra sana bisa sujud syukur. Kalopun keadaan gak begitu banyak berubah, at least ada harapan dan itikad baik ke arah sana.

Doain aja...

[Males nulis panjang. Capek berharap. Tapi mudah-mudahan gak usah ada lagi anak-anak yang kehilangan orangtuanya]

It's Jez Sumthin Kept 2 Long in da Back'f Ma Mind...

Posted by The Bitch on 8/14/2005 04:12:00 AM

Gara-gara ceting ama temen lama, gwa jadi inget pernah ketemu seseorang yang sama-sama kami kenal di Stasiun Senen. Walaupun kejadiannya udah 3 taun lalu, rasanya baru kemarin ngalaminnya.

Dia adalah si apatis, gak peduli sama golongan 'the have', menjunjung tinggi persahabatan, rela mati demi teman dan (sedikit) menikmati hidup dengan caranya sendiri: nyantai abis dan PD dengan segala bentuk kekurangan. Walaupun cuma kenal chatting, gwa berasa udah kenal dia sejak bayi dari cerita-cerita orang lain. Gwa cuma pengen dia buka mata sedikit dan memandang hidup lebih cerah, gak melulu suram kayak petromak sekarat pas gerhana bulan dan lampu mati.

Beberapa tahun kemudian ada kesempatan ketemu. Setelah nunggu gak berkesudahan, akhirnya mahluk itu datang. Tapi... koq? Rambutnya di cat pirang, kaos polo-nya berlabel keren yang ga dijual di mal ecek-ecek. Jinsnya, dengan label kecil sekalipun, gwa tau itu Levi's yang harganya lebih dari UMR pegawai pabrik di Jakarta. Dan sepasang sepatu basket Nike terbaru... Damn! Dia nginjek-nginjek duit dua juta kemana-mana!

Lalu dia ngasih 'honor' sebesar satu setengah juta, hasil nerjemahin surat permintaan barang (yang sebagian besar adalah notebook) dari perusahaan fiktif ke warung-warung online di internet beberapa tahun lalu. Walau gak cerita detailnya, dia ngaku usahanya yang sekarang ini bermodalkan hasil yang dia dapat dari 'belanja nipu'.

Yah... manusia berubah. Kalo stuck disitu aja, percuma hidup. Perubahan untuk jadi lebih baik atau buruk tergantung pilihan mana yang diambil.Entah kenapa gwa ngerasa perubahan ini cuma bikin dia masuk ke jurang. Dan gwa jadi salah satu tangan yang mendorong...

Norak!

Posted by The Bitch on 8/13/2005 05:30:00 AM

Tiru-tiru nganggo whiteband. Mung njajal iso rak masange. Wis iso. Seneng. Ternyata I am not as gatek as I thought!

Haha! *tampar diri sendiri*

Dibiarin dulu aja deh sebentar. Buat bahan melongonya gwa yang masih norak karena akhirnya bisa masang walopun basbang dan letaknya ga karuan!

Nadjeeeeeeeeeeeeezzzzzzzzzzzzz!!! Tadi komennya berantakan. Sekarang malah navbar nya nongol. Padahal dari pertama dah sengaja diilangin ama Donceh. Hix...

)=

*Kegatekan tidak akan pernah berakhir, Nak...*

To be me, the whole me, and nothing but me is something to be grateful for

Posted by The Bitch on 8/13/2005 03:09:00 AM

I used to envy her. Sumber dana banyak, sering beli baju, prilaku nadjeez tapi tetep PD untuk hidup. Until one day...

Bad attitude-nya bikin gwa, Idung dan Ooz berang. Selalu minta dimaklumi tanpa mau memaklumi. Selalu sombong dengan harta, kepunyaan, jabatan dan prestasi kerabat tanpa bisa menunjukkan kesombongannya sendiri. Seneng kalo udah ditransfer dan ga ada empati sama sekali terhadap mbak-mbaknya yang harus berjuang mengais rupiah (Najeeezzz!!! Bahasanyaaa!!!). Selalu bisa menunjuk kesalahan orang lain lalu sembunyi dibalik tembok bertuliskan "Bukan aku yang harus minta maaf, koq!"

Dulu gwa pernah punya misi mulia: mbenerin kesalahpahamannya berinteraksi terhadap sekitar. Tapi siapa sih gwa? Dia gak bakal mandang kalo gwa gak kurus, putih, kalem dan normal. It's not her fault. I've made that impression. Toh orang-orang yang lumayan concern ama dia udah berbuat sama dan berakhir dengan 'habis hati' ngadepinnya yang berujung pada frase, "Sekarang hubunganku sama dia hanya sebatas formal, karena aku gak mau sakit ati hanya karena masalah remeh kayak gini."
And it's been going on for three, whole-damned-fuckin-useless years. Waktu yang gak sebentar untuk dia berbenah emosi dan jiwa, kalau dia mau. Celakanya, dia gak mau. Bukan gak bisa.

Gak sampai disitu, Ooz malah punya kesimpulan kalo anak itu jiwanya penyakitan.
"Kalo dia lagi gak nyaman dengan dirinya sendiri, dia bakal bikin orang lain merasa gak nyaman juga karena kondisinya itu. Mental disorder tuh! Orang juga ga bakal betah berlama-lama dengan dia kalo gitu caranya. Ada gak sih temen kampusnya yang dateng ke kos? Nggak kan? (shrugging and rolling her eyes) Kalo gitu sih... terjawab lah!"

Ternyata, setelah tau (secara gak sengaja) gimana dia di lingkungan keluarganya, gwa hanya bisa manggut-manggut mahfum. Begitu banyak kekurangan yang harus dia tambal hanya untuk dipandang lebih daripada seorang mahasiswi pendatang dari pulau terpencil. Penyangkalan yang dia buat amat sangat gedenya sampe gwa ngerasa psikisnya nge-blok kejadian dan keadaan tertentu yang bikin dia punya level lebih rendah dari orang lain. Keinginannya untuk dipandang 'baik' selalu menghasilkan sikap dibuat-buat, gak pernah wajar. Hebat. Salut buat dia yang bisa 24/7 jadi orang lain yang bukan dirinya. Kalo jadi aktris, entah berapa film dan penghargaan yang bisa dia gondol.

Kesimpulannya:
Paling enak jadi gwa yang bisa ngomel dan muntah disini. Setidaknya, gwa jujur kalo muntah.

Manusia-manusia Maya

Posted by The Bitch on 8/08/2005 11:40:00 PM

Gwa anak pertama, tapi punya abang dan mbak dimana-mana. Ortu gwa Portugal, Ibu dari Purworejo dan Bapak asli Tegal. Tapi gwa punya kakak orang Batak, Surabaya, Aceh, Madura, Bandung, Jakarta, Semarang, Bali, dll. Mereka ada yang tinggal di Belanda, Oz, Amrik, dan Jepang. Keren kan!

Mereka adalah 'kakak'. Beberapa gwa kenal dalam hitungan tahun meski gak pernah ketemu muka. Aneh? Nggak. Gwa berinteraksi dengan orang-orang itu di dunia maya dan menjadi dekat ketika pada suatu waktu otak kami memancarkan gelombang yang sama meski berjarak ratusan kilometer: kebutuhan untuk ditemani. And... Voila! There we were, dua mahluk virtual yang dipersatukan dalam obrolan panjang tentang binatang peliharaan, gagasan, politik, budaya, hubungan, pekerjaan, orangtua dan... kesepian.

Manusia adalah homo populis, mahluk yang berkumpul. Gak ada seorang pun yang sanggup hidup sendiri tanpa orang lain. Sekaya apapun, meski berharta dan punya duit setinggi gunung, lo tetep perlu orang lain untuk temen ngobrol, berbagi tawa dan cerita. Or just to be listened to.

Gara-gara susah tidur, gwa sering begadang di warnet. Kalo udah bosen jalan-jalan dari situs-situs menarik terpilih, gwa buka software chatting dan online ampe pagi. Dan berjam-jam yang gwa habiskan di depan monitor sampe bikin mata gwa perih itu menghasilkan orang-orang baru yang tadinya hanya berupa teks ketikan real-time yang saling jawab-menjawab ketika kita tatap muka. Atau kopdar gembira, menurut istilah gwa. Beberapa menjauh demi ngeliat gwa, perempuan gendut, item, dan merokok yang--menurut sebagian orang tapi tidak menurut gwa sendiri--mirip demit. Tapi lebih banyak yang tinggal dan berteman sampai sekarang. Well, I'm an angel in disguise. To hell with you if you don't see some divine qualities underneath the skin; it's totally your damn lost. Hanya orang yang berhati jernih yang bisa liat ketulusan gwa. Anjrittttt!!! Piwwwwit! *pletak!*

I've never took those 'internet people' seriously, kecuali kalo kita ngomongin masalah prinsip. Sometimes we were just two nicks, both babbling about political conditions nowadays. Kadang kita juga ngomong masalah agama dan debat-debat wagu atau gojek kere dan mentertawakan para penggede negara dengan bebas. Sering diskusi itu berlanjut berkali-kali, dalam waktu yang berbeda, lalu beralih ke media telepon karena chatting udah gak memungkinkan untuk adu urat atau berbagi emosi, jarang yang hanya sekali. Sakit hati karena omongan mereka? Pernah. Tapi untuk apa diterusin sampe mempengaruhi orang-orang sekitar yang melihat jelas perubahan ekspresi muka dan cemberutan tanpa akhir? Kalo udah capek ngetik dan ga bisa dibilangin lagi, mending tutup itu window chatting atau ignore. Beres. Kalo ada jodoh dan besok ketemu lagi, mudah-mudahan mood-nya udah beda dan obrolan lancar lagi as usual.

Gwa bukan orang yang hanya hidup di dunia maya. I have my own, real, earthly life, berinteraksi dengan manusia lain yang memiliki wajah dan bukan hanya nick, yang kalo ngobrol bisa langsung tanpa perlu software atau koneksi internet. So, why bother?


[Untuk seseorang yang datang berkunjung ke kota saya. Welcome! Mudah-mudahan meninggalkan kesan baik dan ngangenin...]

Life is a great revolving door

Posted by The Bitch on 8/08/2005 03:17:00 AM

Ada lagu rap, gwa lupa siapa yang nyanyi. Pokoknya liriknya gini:

Ladies come, ladies go in my revolving door
Some are never come back, some are back for more

Just like this morning. Got a phone call dari seorang 'abang masa lalu'. Salah satu sahabat KJ4P (Komunitas Jam 4 Pagi) #Bandung DalNyet jaman masi awal-awal belajar ceting di IRC dulu. Kenal setaunan, jalan-jalan gila bertiga si Donceh (I wonder kenapa selalu bertiga? Apa karena gwa bersifat ganjil? Gak umum?), lalu poof... menghilang. Setelah lima tahun baru tadi beliau ada kabarnya lagi. Mulai dari SMS gak berkesudahan (yang gwa stop karena keterbatasan pulsa) sampe akhirnya dia telepon, 138 menit full! Anjing!!! How I missed him for all these years!

Come, my long lost pals. Come again inside my revolving door. But please, this time, stay...



[dedicated to Bro Yudi, one of my 'Black Nigga Brotha' van Suroboyo]

Fa biayyi aala i Rabbikuma tukadzzibaan...

Posted by The Bitch on 8/08/2005 02:25:00 AM

Itu kutipan dari surah Ar-Rahman. Ayat itu banyak diulang disana. Artinya; Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Meskipun banyak ngedumel ga penting dan ga jelas, gwa boleh unjuk gigi (yang emang gede-gede) sebagai orang yang cukup bersyukur. Walau banyak kekurangan, kelebihan gwa tertambal disana-sini.

Yang gwa ga abis menista adalah ketika ada orang yang diberi banyak tapi gak habis-habis menghujat dan ingkar. Hei, lo mau minta apalagi sih?

Orang yang nggak punya cenderung dipaksa untuk jadi kreatif dan memanfaatkan apa yang ada di diri mereka agar bisa berdaya guna. Misalnya aja para carder dan pemakai Window. Tiga tahun yang lalu, seorang teman dari Louisiana terkaget-kaget ketika tau teman-temannya di Indonesia pada pake Window. "Kalian kaya-kaya ya, pada mampu beli semua," komentarnya. Kami yang disini (terutama gwa yang gatek ga ketulungan) malah bengong. Karena setau gwa software itu didownload atau dikopi, bukan dibeli!

Abang gwa juga pernah cerita tentang teman jurnalisnya yang pengen tau gimana rasanya carding. Veni, vidi, visa: I come, I see, I buy. Transaction accepted. Shipping followed. In the process, ketauan kalo ordernya itu hasil frauding. Vendor dari USA komplen, ngirim email. Isinya: barang yang terlanjur dikirim harus dibalikin. Dengan tenang, si teman mbales;
"Saya frauding karena distribusi barang yang gak merata. What u gotta lose, anyway? Kamu bisa claim ke pihak asuransi dan dengan segera barang yang saya ambil udah terganti. Begitu juga si empunya kartu yang saya bajak. Pihak asuransi juga gak bakal kurang duitnya karena uang yang mengendap pada mereka udah diputar dan menghasilkan untung gak sedikit. Nasabah ga mungkin 'rush' dan mengajukan claim dalam waktu yang bersamaan, jadi mereka ga usah khawatir bangkrut. Mungkin ego kamu yang berasal dari negara adi kuasa gak terima karena dikibulin sama orang dari negara dunia ketiga. Iya kan?"
No reply. Barang dateng. Semua senang! Haha!

Ada cerita tentang seorang perempuan (yang menurut gwa amat-sangat-luar-biasa) beruntung. Anak tunggal seorang pejabat di Jakarta, ortu kaya raya, sekolah di luar negeri. Apapun yang dia minta tinggal tunjuk dan dia bisa dapet dengan gampangnya. Begitu kiranya yang gwa denger dari orang yang kenal dekat personally dengan cewek manis ini (sayangnya gak berkacamata, Don! *jitak Donceh*). Sayang, ketika gwa 'nyasar' ke site pribadinya, banyak sekali caci-maki pada hidup yang gwa baca disana. Mulai dari kurang kasih-sayang, uang berlebih yang gak dia perlukan, ga bisa mengekspresikan diri, terlalu banyak kekangan, sampe ke cowok-cowok yang hanya manfaatin dia sebagai sapi perahan. Banyak komentar dibawah entrinya, semua menunjukkan kata simpati dan ikut memaki ortu. Dan rasanya, semakin banyak simpati yang dia dapat, semakin pahit cercaan yang dia posting pada entri berikutnya.

Gwa memang gak sempurna. Tapi andai sepertujuhpuluh orang di dunia ini seperti gwa, kayaknya dunia bakal jadi lebih baik. Hanya saja gak semua harapan bisa jadi kenyataan, kan?

Nggambleh!

Posted by The Bitch on 8/06/2005 06:00:00 AM

"Idealisme akan mati di usia tigapuluh!" kata manusia hitam kurus bermata besar dan agak bungkuk itu ketika kita lagi ngumpul bertiga di bunderan sebuah kampus dengan lampu kuning kunyit yang menyakitkan mata.
Yeah, rite.

Mengingat kebiasaan gwa yang amat sangat tidak sehat (smoking like sepur, ngopi a la dukun, makan jarang dan tidur kurang tapi doyan jalan kaki), seorang teman pernah memprediksi umur gwa ga akan sampe 30. I don't know either to laugh or to weep. Beruntunglah orang yang mati muda, kata Gie.

Que sera-sera aja lah. Whatever will be, will be. Mau mati umur 30 kek, 100 kek, atau besok pun gwa kan ga akan bisa ngajak malaikat pencabut nyawa ngopi sambil ngobrol-ngobrol dulu untuk suspend my death-time...



[ How sweet it is just to stop here and let the good things I've done be remembered...]

Caffeine-effect

Posted by The Bitch on 8/05/2005 04:23:00 AM

Mau gemeteran kayak mbah-mbah kenak parkinson? Gini resepnya:
  • 3 sachet Nescafe Black
  • 2 sendok teh gula pasir
  • 1 mug air panas
  • Campur, aduk rata, minum selagi hangat.

Kalo udah abis, lalu ditambah dengan:
  • 2 sachet Nescafe Black
  • 1 1/2 sendok teh gula pasir
  • 3 sendok teh creamer
  • 1 mug air panas
  • Campur, aduk rata, minum selagi hangat.

Hasilnya: keringat dingin, tangan gemeteran, melek berkepanjangan dan tenaga tiada habis dan lemes. Gwa tau bakal ngalamin kayak gini. Candu! Syalan!

Hey, Bab!

Posted by The Bitch on 8/04/2005 04:40:00 AM


Yang ganteng dan tinggi itu Babab. Di sebelahnya, yang imut itu... he eh. Itu, bener. Yang pakek celana monyet biru itu, lhooo! Lu sangka gwa boong, apa?! *tampar yang gak percaya* Iya!!! Bener gwa koq! Manis kan?! Apalagi potonya seuprit gitu! =P

Kenapa Babab? Waktu baru belajar ngomong, Ibu dengan sabar mengulang pelan-pelan kata "Bapak". "Baaa... pak", yang gwa ikutin dengan "Baaa... bab". Waktu Ibu bilang "Iiii... bu", gwa ngikut dengan "Baaa... BU"! Untung gak keterusan ampe gede.

Babab itu adalah bokap yang super sabar dan santai serta kocak. Saking santainya, kalo orang-orang udah pada teriak "Pak! Rumahnya kebakaran!" maka Babab cuma bilang "Oh... Ya udah. Siram aja..." lalu melenggang santai ambil ember berisi air. Itu menurut Bude gwa, sepupu beliau. Jangan ketipu sama tampangnya! Sebagai anaknya, gwa tau banget bokap gwa gimana.

Waktu gwa SMP dulu, sehabis makan siang beliau suka banget dengerin lagu Sunda sambil leyeh-leyeh ngerokok. Padahal dia orang Tegal (dan satu-satunya orang Tegal terganteng yang pernah gwa kenal). Terus gwa, Icha dan Ibu ngeriung cerita-cerita. Rada sore, Babab ambil ember item butut, masukin dedak dan campuran makanan sisa, lalu nuang air secukupnya: untuk makanan unggas. Kalo ditanya mau kemana--bercelana khaki lusuh dan kaos yang udah pantes jadi keset (karena banyak 'ventilasi'nya) serta topi tukang minyak--beliau bakal jawab: "Mau sharing nih, ama ayam." Hayah!

Sebengal-bengalnya gwa, kemanapun gwa pergi orang rumah harus selalu tau. Kesadaran, ga ada paksaan. Jaman gwa ke Bandung taun 2000 dulu, gwa numpang collect-call sesampainya di tempat Ari.
"Dengan Pak Bambang, Mas. Dari Pipit," sahut gwa ketika nyambung ke mas operatornya. Setelah dijawab oleh orang rumah, si mas operator itu balik ngomong:
"Mbak, kata Pak Bambang ga kenal sama yang namanya Pipit."
Ya ampun! "Mas! Itu bapak saya!" lalu terdengar cekikikan menyebalkan dari The Babab. Huh!

Kalo kangen rumah gwa selalu telpon di atas jam 11 malem. Nunggu reduksi 75%. Biasa... anak kos. Waktu itu jaman Meteran Gorden lagi ngetop-ngetopnya. Setelah halo dan gwa denger suara Babab di ujung sana, walaupun tau, gwa tetep konfirmasi:
Gwa: "Halo? Babab?"
Babab: (Sambil cengar-cengir) "Bukan... Ini Tao Ming Se."
Gubragh!

Dulu beliau sempet kerja kantor di sebuah perusahaan foto dari Jepang. Karena krisis moneter yang menggila beberapa tahun lalu, beliau kena PHK sepihak. Untungnya dari muda Babab udah seneng fotografi dan sering kerja sampingan sebagai fotografer mantenan. Ibu juga penjahit yang lumayan jempolan. Dapur masih bisa terus ngebul dan sekolah lancar, walau kadang tertatih. Sampai sekarang.

Buat Babab, kamera itu nyawa, cangkul, arit, bajak untuk ladangnya. Kalo ada order mantenan, malemnya pasti nge-charge accu untuk motordrive. Batere udah sedia dua lusin. Tas kotak gede disiapin, diisi 'amunisi': film, blitz, lensa, dll. Pagi buta jam 4 Babab bangun. Mandi, shalat, sarapan seadanya, manasin RX King butut (yang dulu sama sekali gwa ga diajarin gimana njalaninnya, tapi sekarang jago!) lalu meluncur ke 'TKP'. Sementara kami serumah kadang masih lelap sehabis shalat. Itu juga kalo inget!

Gak sampe disitu. Pulangnya masih harus nyetak dan pasang foto ke album. Belum kalo harus menghias dengan benang emas. Mata tuanya (yang sebenernya masih 49 taun) sering berair, lelah. Duh, pengennya mbantuin. Tapi pasti gak dibolehin deket-deket karena tangan gwa yang hampir selalu berkeringat bakal ngerusak 'mahakarya' beliau. Kompensasinya ya... bikinin kopi atau teh aja deh.

Gwa pengen banget beliin kamera digital. Gak usah pakek film, flash segede gajah atau apapunlah. Cukup sekotak kecil itu dengan memory card di dalamnya. Kalo mau bagus, The Magic of Photoshop will do its trick for you. Sayang, Babab luarbiasa gatek. Ngoperasiin ponsel aja bawaannya bingunggg melulu. He doesn't get along with machines and all of those flashy modern gadgets. Yang nurut ama beliau cuma kamera. Kegatekannya menurun ke adek gwa. *Pengingkaran! Padahal sendirinya juga!*

"Ini seni, Pit. Kamu gak bisa nilai ini (sambil nunjuk ke album foto berhias benang emas) dengan sedikit uang," jawab beliau. "Lagian, bulu ketek siapa yang mau digadein buat beli kamera digital?"

Ah, Babab... Kapan ya bisa bikin dikaw hanya ngurusin ayam dan leyeh-leyeh bareng Ibu tanpa harus kerja keras lagi...?

Blog Addict!

Posted by The Bitch on 8/02/2005 04:33:00 AM

Darn! Inilah salah satu alasan kenapa dulu gwa males banget ng-goblog (pinjem istilah Om Enda) disini: utak-atiknya bikin nyandu! Gwa tau betul kapasitas gwa yang penasaran dan gampang kegoda.

Seperti dulu ketika gwa pengen banget nyobain ganja. Kesempatan pertama waktu Sari, temen di kos lama, mau mudik. Dia bilang tetangganya ada yang jadi bandar ganja dan dia bisa bawain kalo cuma satu linting aja. Harap-harap cemas nunggu Sari balik lagi seminggu kemudian. Ternyata, temennya diciduk polisi sebelum dia sempet minta. Mission one: failed!

Kedua, waktu gwa mengunjungi abang baek hati di Depok dulu. Tetangga kamarnya juga pengedar. Dengan (sok) bijaksana, dia membolehkan gwa untuk 'stun' di kamarnya. Rencananya sih itu bakal terrealisasikan dua hari kemudian. Unfortunately, karena jadwal safari kopdar gembira kami yang padat, kegiatan itu baru disadari ketika udah ada di stasiun kereta pas gwa mau pulang ke Jogja! Again... rencana gagal.

Kali ketiga waktu gwa jaga warnet dulu. Ada tetangga sebelah yang udah lama beristri tapi masih pengen jadi bujangan aja. Suatu hari WIL-nya nelpon ke ponsel dan, celakanya, yang angkat adalah sang nyonya rumah! You bet it was! Trouble in paradise la hay! Kompensasinya: dua malem berturut-turut dia ke warnet dan buka site bokep dengan mata 'turun'. Waktu gwa mengutarakan niat pengen nyobain--setelah negosiasi alot--beliau menyetujui JIKA dan HANYA JIKA gwa ngisepnya di bawah pengawasan ketat. Hari ke lima adalah waktu yang disepakati. Ehhh... udah nunggu ampe pagi ternyata beliau ga nongol-nongol. Dan besok malemnya ada kabar bahwa si Om itu dibawa ke rumah sakit karena kebanyakan ngeganja! GAGAL LAGEEEEEEE!!!

Dan itu adalah isyarat buat gwa untuk berenti nyoba. Menilik peristiwa di atas, situasi yang sama pernah gwa alamin pada masalah ini. Berapa kali bikin account dan selalu gagal karena masalah traffic internet yang lagi sibuk. Ditambah lagi demi melihat betapa repot orang yang berusaha keras bikin cantik tampilannya dengan nempelin segala sesuatu pada halamannya. Susyeeeeeeeeeeehhhhhhhhhh!!!

Waktu gwa iseng nyoba bikin Teriak Kotak, ampe bego gwa nyoba setting ga bisa-bisa. Padahal udah ada yang jerit-jerit disana dengan bentuk seadanya pun! Yang penting merawanin, kata dia. Tapi... ugh! Itu tampilan koq tetep aja keukeuh ya? Ga bisa diganti. Fontnya aja masih huruf skripsi yang amat sangat gwa benci itu. Untung ada Donceh si malaikat penyelamat, pikir gwa waktu liat ID Yahoo-nya nyala. Eh, ga taunya sama aja. Dia yang udah master-pun ampe mikir setengah mampus waktu utak-atik!

Ya udah, lah. Kalo ntar malem ni warnet masih ada disini, gwa cobain lagi!

[Tuh kan! Gejala kecanduan kan!]

Mellow to the Lowest Low

Posted by The Bitch on 8/01/2005 04:45:00 AM

How people treat you is the same as how YOU treat people. Gwa ngerasa sudah memperlakukan orang dengan sangat baik. Tapi ga tau juga sih. Kadang apa yang gwa rasa belum tentu sama dengan apa yang diterima orang lain. Persepsi orang beda-beda. Apalagi gwa sering dianggap aneh. Sbodo!

Gwa jarang keluar. Temen juga dikit. Lebih seneng onani otak; memuaskan diri dengan pemikiran-pemikiran ga mutu yang akhirnya berakhir di keranjang sampah ini. Tapi kalo lo sedikittt aja mendekat, gwa rela deh jalan kaki bolak-balik Gejayan-Sagan jam berapapun hanya untuk cekikikan dan ngobrol ngalor-ngidul.

Dan gwa (Insya Allah) bakal jadi sandaran tangguh ketika lo harus bertelekan sekuat tenaga. Perlu bahu lunak untuk menangis. Perlu pendengar yang diam dan menyimak ketika lo bicara. Gwa coba sebisanya.

Ada saat-saat seperti itu, ketika gwa dibutuhkan dengan amat sangat dan dalam situasi mendesak sampe gwa gak bisa bergerak. Tapi ujung-ujungnya dapet perlakuan agak dingin setelah beberapa lama gak ketemu. Ya udah, lah. Ga temenan ama dia lagi juga gwa ga mati!



[Sialan... apa gwa harus sesinis ini setiap mengalami siklus peluruhan?!]