"Fuck!" Say I

Because nobody rules over my thoughts. Live with it.

Dia yang Tak Terjangkau [Babiq la!]

Posted by The Bitch on 7/30/2005 02:14:00 AM

Milik perempuan lain itu duduk di hadapan, dengan semua keangkuhan dan keprofesionalannya. Gwa gak sangka bakal dihadapkan dengan dia. Waktu itu yang ada hanya kaget dan kagum. Titik.

I'm a woman who knows my own interest dan gwa memutuskan untuk suka, cinta, memuja, jatuh (tanpa harus menghamba) pada lelaki. Sama dengan sebagian besar manusia penghuni bumi ini, kesan yang pertama kali gwa lihat adalah muka, kemudian bodi, kemudian fitur-fitur tertentu yang ada--belahan di dagu, celah di pipi yang terbuat oleh tawa, tahi lalat, apapunlah. Dan gwa cuma bisa berteriak 'Anjing!' dalam hati ketika mobilnya berhenti hampir tiap malam di depan warnet yang gwa tongkrongin: nganterin pacarnya.

Setelah interview yang lumayan singkat dan padat itu gwa (sedikit) tau gimana-gimananya lelaki, yang milik perempuan lain, itu. Sistematis, taktis, terkendali. Mungin jabatannya sebagai Head Manager di sebuah perusahaan exportir kerajinan mengharuskan dia bersinggungan dengan bule-bule bawel perfeksionis dan bikin dia terbentuk seperti itu. Gwa yang masih lugu ini *plak!* hanya bisa terbengong-bengong dan menjawab secerdas dan secepat mungkin atas pertanyaannya. Gwa terpesona. Sumpah!

Gak biasa-biasanya gwa liat cowok kayak gitu. Level gwa tuh cuma berani memandang, menelanjangi dari kepala sampe kaki, menilai-nilai gimana rasanya kalo dia jadi pacar gwa, lalu sudah. Hanya sampai disitu. Itupun ngumpet-ngumpet. Apalagi kalo liat mas-mas profesional muda metroseksual yang dari harum semerbaknya aja bisa bikin gwa termimpi-mimpi. Ya, emang hanya itu tingkatannya. Gwa yakin mereka gak anggap gwa ada. Sama halnya dengan semua keseimbangan yang ada di muka bumi ini; cowok-cowok seperti itu biasanya menggandeng mbak-mbak chic nan modis berkulit putih, kaki lencir dan rambut panjang terurai. Gwa cuma bisa ngeces.

Tapi dia beda. Karena ngantor di desa kecil padahal nanganinnya perusahaan berskala besar (meskipun tetep marketing aja kerjanya), itu bikin dia 'down to earth', terjangkau, in a way. Bukan mas-mas profesional muda pada umumnya. Tapi ah... tetap aja ada mbak yang harus dia antar setiap malam atau dinihari. Dan mobil itu masih parkir di depan pagar, dengan dia lelap didalamnya, menanti pagi, kemudian memulai ritual itu kembali: jemput-kerja-antar.

Dan gwa tetap hanya bisa kagum...

Aku Berharta, Maka Aku Berkuasa

Posted by The Bitch on 7/29/2005 06:38:00 AM

Untuk apa sih punya rumah sampe puluhan biji yang tersebar di seluruh Indonesia? Padahal satu pun jarang ditinggalin saking sibuknya. Ngapain punya mobil mewah berderet di garasi? Toh kalo mau make ga mungkin itu mobil dikeluarin semua. Buat apa beli baju harga jutaan? Fungsinya sama: nutupin yang seharusnya tertutup. Uang banyak di rekening bank? Jelas untuk menuhin kebutuhan dan kesenangan hidup. Tapi kalo tetangganya sendiri kelaperan? Atau punya sodara yang lagi bingung karena ga bisa biayain sekolah anaknya? Tergantung sih, kalo yang punya harta berlimpah itu tega-tega aja gak masalah kayaknya.

Gwa baca buku disana ada disinggung teori right-by-might: yang punya harta merasa berkuasa. Kekuasaan bikin orang bisa berbuat sesukanya. Thus, bisa merintah-merintah sakkepenake. Dan itu amat sangat diinginkan oleh hampir sebagian besar manusia. Merasa punya kuasa.

Sama halnya dengan Yang Paling Mulia Sedunia dan Akhirat; bapak kos. Tadinya gwa boleh bangga atas hak istimewa untuk pergi malem-pulang pagi karena kerjaan, terlepas dari pintu kos yang terkunci rapat untuk keluar-masuk setelah pukul 21.00. Inspite of sikapnya yang konservatif abis, menganggap agamanya paling benar dan tahu segalanya. Menurut temen-temen yang lebih lama tinggal disana, beliau mengistimewakan gwa bukan pertimbangan kerjaan, tapi lebih ke duit yang dia dapet tiap tahun. Peduli setan kerja apa, yang penting bisa bayar. Gwa rada ga percaya sih. Karena ada beberapa kesempatan yang membuktikan bahwa sekolot dan sefeodal apapun, gwa masih bisa 'ngobrol' sama dia.

Tapi kejadian kemarin mungkin bikin beliau mikir beberapa kali karena kondisinya yang sekarang beristri muda sementara yang pertama tidak dicerai. Selama 3 tahun gwa nge-kos, baru tadi malam kegiatan rutin gwa bikin dia 'berat' untuk terus 'mempertahankan' gwa. Dengan kata lain, gwa terusir. Kenapa sih? Takut moralitasnya dipertanyakan karena membiarkan anak semang keluar malem ampe pagi? Lalu, bagaimana dengan membawa perempuan baru ke dalam rumah tanpa memperkenalkannya ke RT dan RW? Bapak keberatan dengan kelayapannya saya yang terang-terangan nunjukin kalo begadangan di warnet adalah untuk nafkah sehari-hari? Dan dengan posisi saya sebagai penyewa dan Bapak yang pemilik rumah, dengan sedemikian santai Bapak bisa ngomong gitu? Huh! Gwa juga ga ada niat memperpanjang lagi koq. Makin lama tarifnya naek, ga sesuai sama keadaan. Ga kuat ni kantong.

Tapi ya udah lah. Sama aja kali ya, dengan pejabat yang berkali-kali haji tapi tetap korupsi. Nunjukin kalo ibadah dan maksiat terbuat seiring-sejalan. Atau dengan da'i yang menyeru dan menghujat perbuatan munkar tapi anaknya gak bisa dia dakwahi.

Makanya, nduk, kalo mau gak diseneni utowo diremehno uwong, sugiho sik! Tapi ojo nganti melu-melu uwong sing nyeneni lan ngremehno kowe. Gak usah bersikukuh bikin orang mendengarkan kamu, tapi dengarkan mereka dan buktikan kalau kamu gak seperti yang mereka perkirakan. Karena orang hanya melihat bukti, semanis apapun janji dan perkataan yang kamu ucapkan. Ngerti, nduk cah ayu?




[Kalo lagi emosi terus posting koq jadinya tulalit yax?]

To The Fullest and Nothing More

Posted by The Bitch on 7/29/2005 12:08:00 AM

How much do you feel grateful for the joyful life you've been blessed with? How do you use it, meaningless or meaningful? How big is your appreciation towards people around? Do you smile or looking down, rushing, watching the pavement with unusually great interest to where your steps at when you walk? Or do you walk with your chin up or with your eyes dancing here and there just to say hello with a sheer twitch of the liplines to every soul you've passed?

I've seen handicapped men and women walking, or rolling on their wheechair, limping with their crutches, or simply just living with the greatest spirit a human being could achieve. They decide to never give up on the ill-fated condition that people see as a burden: to become unfortunate ones. Anyway, from which point of view does this 'unfortunate' lay?

I've known her for two years. We had shared the house together, along with the other 19 girls. She had a voluptuous body with round-firm breasts, small waist and great pack of ass. Let alone her big, heavy-lidded dark eyes with dramatic lashes, full pouting lips and beautifully-arched eyebrow that had been made to be put in the exact position on an almost perfect face with the smoothest complexion a girl her age could possibly dreamed of. Hair? I never remember her having a single bad-hair day. But try to sit with her for about ten minutes without saying a word. She will start complaining about split ends, flipping upper arms, far-too-big thighs or pimple on her back. Meanwhile, the rest of us should have been complaining about the stomach that had gone way beyond the belt line, nasty body odor or early receding temples. But, no, thanx. A pity to nag around about such silly matters.

Being the only child in the family had spoiled her for not having any contender to share everything with. Too bad, this attitude had gone too far into the community she had lived in. Yet, we've tried our best to understand. When the heat is ascending and it took more than a one-way understanding, we just turned around and go, or talked behind her back, and more unpatriotic things done.

She moved. And so did the other 15. 4 left to guard the fortress, I am one of them. And she left without even bother to say goodbye. I didn't even saw her packed! People come, people go. So does this girl.

So does this boy. I've met him--unintended--when searching for nothing in the cyberworld. I've seen his work, sense his helplessness, feel his pain--in a humorous kind of writing. A genuine. Being modest and sincere, he laughs at himself, at his incapability that God had been granted upon (or, as people seen, as THE unfortunate). It's a sign of wisdom hidden behind his forever-smiling photographs. He is blind, but what he had done hasn't gave me a slightest clue about his inability. He's smart, allright. A genius, perhaps, in self-achievement and great attitude. Though not all at a time, what wonders me the most is that he has lots of girlfriends that take him for whatever he is! Gosh! His lovelife seemed way more interesting than my dateless-for-ages one!

Perhaps I don't know much of him. But I've tried to figure out how hard it was for his parents to raise a child in such difficult condition. What I kow is that he has a pair of Perfect Parents with capital 'P'. Just like mine. For his situation is quite the same with mine, only worse.

I really want these two persons to meet each other. For her, to see how lucky she is to be given those bounties with some great bonus from The Creator High Above. For him, to see how fortunate he is to have just enough and celebrate it with a never-ending praise and gratitude. But, hey... who am I to ask, anyway?

Dear Mr. President

Posted by The Bitch on 7/27/2005 05:56:00 AM

Negara mana sih yang bisa nandingin kerennya Amerika? Asal-muasalnya MTV, tempatnya Hollywood dengan aktor dan aktrisnya yang super-duper cakep dan berbodi keren, yang mata uangnya masih jadi patokan perekonomian dunia, pusat penyanyi seksi bagai mesin seks dengan wajah semurni malaikat...

Dan pengatur dunia.

Beberapa hari yang lalu waktu pulang pagi dan nyasar di televisi lokal ada VoA disana. Beritanya bikin gwa hampir keselek nasi kuning yang jadi sarapan waktu itu: Mr. President of USA merangkul 100 orang pelajar dari negara-negara muslim untuk ikut student exchange. Alasannya? Agar mereka gak memandang negatif mulu ke Amerika.

Yang diwawancara (sebentar) ada 3 orang, satu cowok (Abdul Rahman, kalo gak salah) dan dua cewek (Fatma, Yaman, berjilbab dan cakep banget! Satunya kriwil, dari Yordan). Komentar mereka senada: teman sekolah dan guru disana sangat menghargai perbedaan keyakinan dan mempersilahkan mereka melakukan ritual ibadah pada waktunya.

Terus gwa inget gimana hebohnya protes seluruh dunia menentang perang di Irak. Begitu heboh sampe banyak artis sana yang ngadain konser untuk menolaknya. Tapi perang itu tetap ada: karena negara itu melanggar HAM dan demokrasi. Padahal banyak para pemilih yang gak dateng ke TPS [see point #8]. Emang beneran itu sebabnya, Pak Bush? Apa bukan karena pengen minyak gratis dari sana? *colek-colek Mr. Bush sambil mata genit* Plakkk!!! *duh... digampar Secret Agent..*

Pinter ya, pemimpin negara tu. Wong dia yang ambil keputusan, ngabisin duit the taxpayer untuk beli senjata pemusnah (manusia) massal, ketika salah yang suruh mbenerin malah rakyatnya. Ya udah la. Itu kan jauh disonoh. Jelas beda sama disini. Presiden sini kan cerdas, nyuruh-nyuruh hemat energi. Sayang anak pulak! Bisa bikin pesta gede-gedean buat pernikahan anaknya beberapa hari setelah himbauannya bergaung di berbagai media.

Ah, gwa cuman sirik aja koq, ga bisa tinggal di Amrik dan ngejar mimpi atau jadi mantu presiden =P

Ah... pasangan jiwa. Dimana kamu? [Bwek!]

Posted by The Bitch on 7/27/2005 03:57:00 AM

"Aku akan selalu menunggu tulang rusukku untuk kembali..." katanya.
Puih! Tapi, ah... ga tega juga pengen puih-puih. Dia cowok super-romantis yang pernah gwa kenal. Walaupun hanya ketemu di dunia maya tapi dia sangat terbuka mengenai luka yang ditinggalkan seorang gadis yang menggores dalam di hatinya. Bukan salah mereka, tapi keadaan yang bikin ruwet. Seperti Yesus menanggung semua dosa turunan, mungkin itu penggambaran konkrit untuk dua orang ini.

Terserah dia sih. Mau nunggu ampe bertaun-taun pun gwa ga perduli. Itu pilihannya. Tapi... melankolis 'tulang rusuk' ini yang ga masuk akal buat gwa.

Oke, Tuhan menciptakan perempuan dari tulang rusuk lelaki yang bengkok, kata Qur'an. Karena itu, tugas lelaki-lah untuk bikin perempuan itu jadi 'lurus'. Dalam artian, membimbing ke jalan yang benar. Itu gwa percaya. Tapi kemudian didramatisir jadi--yang menurut gwa--gojek kere. Contoh:

(Ketemu temen gak sengaja di mall, yang udah seabad gak jumpa)
A : Gila lu ya bisa ketemu disini! (Sambil berjabat tangan erat) Dah berapa anak lo sekarang!
B : Apaan?! Pacar aja gwa ga punya! Masih nyari tulang rusuk yang hilang, nih! Heran gwa, jauh amat sih Tuhan lemparin itu tulang. Emang gwa anjing apa?!

Pret!

Gak, bukan. Gwa gak anti-romantisme. Gwa akuin koq kalo gwa juga nonton Meteran Gorden ([Alt] F4) walaupun dengan semangat menghujat yang luarbiasa edan sampe dimusuhin anak se-kos dan nyokap serta adek (kalo pas mudik). Gwa suka hujan (yang selalu ada dalam tiap novel dan cerpen dan cerita romantis, jadi gwa anggap hal ini juga romantis). Gwa suka kalo dideketin dan dikasih puisi gombal sama cowok, lewat SMS, e-mail, atau surat (dan sampe sekarang ga ada satupun yang ngasih! Huh!). Tapi 'mencari tulang rusuk yang tepat' diantara bermilyar penghuni bumi? it's like trying to find a STRAW in a huge pile of shit! Ops, sorry. I mean NEEDLES. Yeah, right. Get real! Yang ada tangan lo berdarah-darah lalu tetanus! Haha!!! *gaplogh* Awww...

Gwa percaya soulmate, dan itu bisa dikondisikan. Koq? Iya! Bener deh! Dan soulmate bukan hanya berarti pasangan kita yang resmi dari hasil pernikahan. Pacar, temen, sahabat, adik, ortu, tukang angkringan, dll bisa koq jadi soulmate kita. Ini hasil omong-omong gwa selama beberapa jam dengan seorang jilbaber penghuni kos. Sebut aja namanya Idung.

Menurut kami, pasangan jiwa itu terbentuk ketika ada perasaan saling memahami, saling mengerti. Itu perlu kerja keras, toleransi, pengorbanan, rasa sayang dan usaha yang gak sedikit. Saat lo tau jalan yang dia ambil itu salah dan lo mbilangin dia, itu udah salah satu usaha untuk jadiin dia soulmate: nunjukin jalan yang bener, dengan amarah tertahan sekalipun. Amat sangat susah untuk mbilangin orang, apalagi yang sendablek gwa. Bakal banyak argumen yang keluar, yang ujung-ujungnya adalah; "Lu urusan amat sih ama idup gwa?!". Tapi kalo emang bener concern dan mempertimbangkan potensi dan sikap positifnya (say, like... tajir dan suka bagi-bagi duit =P) dan memutuskan bakal jadiin dia sahabat, u're gonna go the hard way. Kalo udah ga bisa lo bilangin dan dia terperosok ke dalam lubang yang dia buat sendiri, jadilah tempatnya berlindung. Jangan bilang "I TOLD you!", tapi beri dia empati. Tunjukin kalo lo selalu ada buat dia. For better or worse, in richer or poorer, happy and sorrow, till death do you part (jadi kayak lirik lagu yax?).

If you've seen some great 'something' inside, dorong dia untuk melakukannya. Misalnya, dia punya suara bagus, tampang cakep, PD dan pengen ngetop. Dukung dia untuk ikut AFI atau Indonesian Idol. Kalo perlu, temenin dari mulai ambil formulir sampe nunggu audisi. Kalo tembus dan berhasil jadi penyanyi, jadilah managernya! Lumayan kan, kalo dia ngetop nama lo bakal tertulis di sampul CD bagian 'Terima kasih pada...' (Ntar 10% penjualan album lo kasih ke gwa yang udah nulis disini)

Bohong kalo ada orang yang ga pernah marah atau konflik satu sama lain. Dia pasti udah di RSJ kalo bisa begitu karena depresi, atau berkepribadian ganda. Kesel gak haram koq. Tapi mending cepet diselesaikan daripada berlarut-larut dan lo kehilangan. Omongin ke dia apa masalah kalian. Pake pikiran dan hati terbuka, jangan emosi dan saling menyalahkan. Sabar, itu kuncinya.

Be someone comfortoable to be with, terima dia apa adanya dan jangan menilai!!! Gak usah bikin label jelek kalo lo belum tau orangnya seperti apa. Kalo udah tau pun, bijaksanalah. Karena ngomongin kejelekan orang adalah seperti memakan bangkai saudaramu sendiri, kecuali kalo kalian lagi maen cela-celaan. Share your activities together dengan cara jalan-jalan, nonton atau menghujat sinetron. Banyak tahu, tapi jangan sok tahu. Toleransi, tapi jangan jadi lemah. Bilangin, tapi jangan menggurui. Share the laughter, but don't laugh at someone. The best is, don't be shy to show your sweet smile, sepahit apapun itu. Mbak lilis aja suka senyum koq! Weep together, kalo perlu. Be strong when he/she needs someone to lean on. And do the same to the person who has made you work your brain out in searching the perfect solution for his/her problem. Bikin mereka atau dia merasa diperlukan, bukan cuma mereka yang perlu elu. Sorrow is a great bound, afterall.


Basicnya sama seperti cari sahabat. See? Gak begitu susah kan? All dificult things rooted from the simple idea, afterall...


[Dedicated to someone that had made the opening line. It was taken by copy-paste-ing our dialogue. Suwer deh!]

Silver Lining of the Cloud

Posted by The Bitch on 7/26/2005 04:53:00 AM

I was writing this to shout at him, to let him know that I was tired of seeing him down, so low he pressed his head to the ground. I've been working my ass off just to have some understanding from this dark creature only because I cared so much of him. He'd done many times better for me in this spec. So, why can't I?

Life is a waste if you can't live it to the fullest: in love, learn and achievement. He had his love, allright (though maybe it's not the kind of love that he had in mind) and he didn't bother much about it. He had--perhaps--had his way on achieving something. But learn? You can't stop right there to the spot in learning. It never ends. I knew that he had learned all the things he needed, technically of speaking, but it's never enough. Because life goes on and on and on and never stop till you die, which is when is a mystery.

He had his family, friends and community and they had some hopes--or should I say demands?--especially his closest surroundings: home. The last thing he always remembered when he had to got back home on Christmas was his father (the only parent he got left) saying: "I just want to be there and see your graduation ceremony, Sonny." Too late, it never happened...

Few days after I left him with his thought of--hopefully--resolution, I heard the news, the thing that had never crossed my mind nor his: The Father had passed away. I heard sorrow in his voice. So, be it. It was God's will. You can't turned back the time. No matter how deep your misery, it won't bring him back to life.

I gave him and his family my deepest condolence, but this thing was keep on banging on my deepest, darkest door in the botommost part of my heart. Was it a crime to feel an itsy-bitsy, tiny-weeny feeling of a covert relief? It's not that I was--nor I am--happy with it, but I just want this moment to whip him, to make him move and act, to have him awaken and aware of his goals, achievements, work.



... and I have to do the same with myself also ...




[Hurt me! Empower me! Force me! And you can't do nothing but wounding, yelling and pushing coz the choice is mine. Darn!]

Dear Mom and Dad...

Posted by The Bitch on 7/25/2005 07:23:00 AM

Seberapa ketat pergelangan tangan lo terpasung? Seberapa parah penderitaan lo tanggung? Seberapa perih luka batin lo derita? Seberapa busuk bohong yang lo tutupi?

Tapi apa pernah lo mikir kalo Babe-Enyak lo dengan suka rela dipasung dengan senyum di wajah dalam ikatan yang namanya perkawinan dan keluarga dan keharusan menafkahi sampe babak belur? Apa pernah lo dikasih tau derita Ibu-Bapak lo waktu mereka mencoba mengangkat muka ketika keluar dari pusat rehabilitasi narkotika yang berusaha nyembuhin lo? Apa lo berani bandingin luka batin lo dengan Mama-Papa lo waktu lo maki mereka karena ga ngerti kebebasan itu perlu buat anak muda seperti elu itu? Apa busuknya bohong Bunda yang berani ngutang demi uang sekolah lo itu lebih busuk daripada bohong lo yang ngembat duit bayaran?

Gwa bukan orangtua, dan semua itu cuma contoh ekstrim yang terlintas di kepala. Tapi gwa mencoba berada di posisi mereka walau Ibu-Babab gwa sendiri gak sempurna. Yang gwa tau, mereka berusaha keras. Dengan anak sebandel dan sebengal gwa, mereka terlalu banyak kompromi.

Gwa pernah ngerasa jadi anak paling malang sedunia sejak gwa dilahirkan. Satu-satunya perasaan yang gwa seselin, karena ternyata itu sama sekali gak penting.

Gwa pernah ngerasain jambakan Ibu. Gak keitung berapa gagang sapu dan kemoceng yang patah karena gwa nakal. Bulatan biru sebesar koin seribuan 'menghias' betis dan paha karena cubitan beliau. Gwa dendam. Gwa marah. Gwa ngerasa gak punya nilai.

Tapi gwa juga pernah ngerasain airmata dan belaian penyesalan Ibu saat gwa hampir lelap di malam-malam setelah 'penyiksaan' itu berlangsung. Gwa pernah ngeliat raut khawatir beliau saat begadang beberapa malam tanpa tidur saat gwa demam tinggi. Gimana cemasnya Babab yang mergokin gwa manjat pagar 4 meter ketika jam malam (yang hampir pagi) terlewati... dan senyum bangga mereka ketika gwa nyanyi di paduan suara anak-anak panggung tujuhbelasan balai kota yang ga seberapa gede.

Mereka melakukannya bukan tanpa alasan. Mereka manusia, sama seperti anak-anaknya. Karena manusia hanya akan melahirkan manusia, bukan gajah atau orong-orong. Apalagi kulkas. Manusia punya emosi, punya dorongan sesaat yang sering disesali sepersekian detik setelah kehendak itu dilakukan.

Setiap orang punya masalah. Dulu gwa bisa senewen cuma gara-gara mikir gimana biar bisa makan di McD dan dibilang keren, beli baju dan tas bagus, dan punya buku-buku gak penting. Sementara masalah orangtua gwa adalah gimana gaji yang 'segitu' cukup buat makan, sekolah, ngontrak dan transport sekeluarga. Dan kalo bisa dipake buat sedikit rekreasi murah-meriah. Ketika dua variabel yang punya masalah beda-beda ini bersinggungan, hasilnya gak bakal semutlak rumus matematika. Masing-masing merasa diri jadi yang masalahnya paling gawat, paling darurat.

Segalak dan setemperamentalnya ortu gwa, untung kami masih bisa berkomunikasi lancar. Amarah kami memang gampang tersulut, tapi juga mudah mereda. Mungkin ini berkah di keluarga gwa yang ga semua orang punya. Dan 7 dari 10 kali kesempatan ketika sumbu itu terpercik api kami lebih memilih diam, cooling down, lalu pergi dan membicarakannya setelah beberapa jam kemudian. Dengan kepala yang lebih dingin dan suasana yang lebih enak. Gwa yakin ortu gwa masih terus belajar sampai saat ini. Sama seperti gwa dan adek gwa. Mereka juga gak malu memposisikan diri sebagai teman buat anak-anaknya. Kami bebas nanya apapun dengan mereka, bahkan masalah internal diantara mereka. Dan itu gak gampang buat ortu. Mereka juga terbuka kalo gwa protes Ibu yang terlalu ketat bikin jam malam, misalnya. Asal alasannya tepat dan argumentasinya kuat--tanpa harus meninggikan volume suara--mereka bisa nerima. Mereka hanya mikir to their children's best interest. Kadang tanpa mempertimbangkan perasaan anak-anak mereka sendiri. Gwa tau, orangtua akan selalu merasa anaknya adalah anak-anak kecil yang harus dijaga meskipun anak itu sudah punya anak lagi. Sampe kapanpun.

Gwa banyak belajar dari binatang piaraan gwa, si Kutu (Kura-kura Satu) dan Kuda (Kura-kura Dua). Lo harus jaga supaya ga kasih makan kebanyakan biar badannya ga kelebihan bobot, bersihin akuariumnya biar ga cepet kotor dan kena penyakit, dan sebisa mungkin bikin tempat hidupnya sealami mungkin. It's kinda parenting mini-training.

Gwa yakin, ga ada Bunda-Ayah, Ibu-Bapak, Mama-Papa, Amih-Apih, Umi-Abi yang ga mau liat anaknya bahagia. Mungkin hanya cara kita atau cara mereka yang salah menyatakannya. Dan itu inti masalahnya.



[Kangen rumah, Babab, Ibu, Icha dan semua kegeblekan serta keplenyunan mereka]

Posted by The Bitch on 7/25/2005 05:08:00 AM

Gwa percaya manusia baru bisa dibilang manusia kalo dia megang prinsip yang dibentuk dari berbagai sumber. Bisa dari pengalaman sehari-hari, ajaran agama, keyakinan yang dia anut, bacaan, pendidikan, kesadaran mental, de el el lah. Semuanya itu bikin satu pondasi kokoh yang jadi pijakan dan acuan dalam bertindak dan menyikapi peristiwa yang ada di sekeliling. Perlu proses, dan bukan hal yang bisa didapat secara instan. Wah, kalo udah sampe sini gwa kok ngerasanya prinsip itu sama dengan idealisme ya?

Seorang teman menemukan kesadaran baru ketika dia belajar Yoga. Banyak yang berubah dari dia sejak terakhir gwa ketemu. Jadi lebih sabar, tenang, gak gampang misuh, dan semua adalah perubahan baik. Dia bilang ada tata cara melatih nurani untuk ngambil keputusan yang benar. Dan pengambilan keputusan melalui cara ini adalah tingkat tertinggi dari pertimbangan akal. Dengan kata lain: mengalahkan apa yang dinamakan rasio sekalipun!

Saat kenyataan dan idealisme berbenturan, sikap praktis diperlukan. Disini prinsip diuji. Seberapa jauh lo konsisten terhadap apa yang udah lo pegang teguh. Jujur aja, gwa pernah jatuh ke pusaran ini. Gwa pikir gwa ga bisa keluar dari sana, malu karena kebohongan yang gwa lakukan terhadap diri sendiri. Saat itu gwa ga ada ubahnya seperti binatang, yang hanya bisa makan, mati dan mating. Ga ada apologi keluar. Ini semua salah gwa.

Tapi ada satu insting yang sama-sama dimiliki seluruh mahluk hidup di dunia: survival. Kemampuan bertahan hidup. Dan gwa bangkit lagi. Bikin pondasi lagi. Gak gampang, memang. Tapi gwa bisa karena gwa mau. Yang penting gwa tau langkah yang gwa ambil itu benar, meskipun hanya gwa sendiri yang bilang itu benar.

Ternyata, kejatuhan gwa hanya satu diantara berjuta hal yang bikin gwa tambah kuat. No matter what people say.



[Diiringi Radio Freedom dari Fusion-nya Donceh.]

Rajam aku, penggallah, cerai-beraikan tubuhku
Tak beda menurutku
...

[Karena aku masih punya jiwa yang tertinggal yang tak akan bisa kau pasung dan kau hirup]

(Kinda) Trapped in Her Solitary Shell

Posted by The Bitch on 7/25/2005 03:21:00 AM

Pernah ngerasa kesepian? Kalo gwa sih hampir selalu. Tapi karena ndablek, ga mau ngakuin--apalagi kalo ada orang-orang sok perhatian dalam radius 10 meter--jadinya gwa berusaha nikmatin aja.

Tapi kadang gwa sangat perlu keberadaan orang-orang di sekeliling, terutama teman. Mungkin karena sering bisa melakukan apa-apa sendiri dan menyendiri, gwa sering banget ditinggal. Awalnya karena gwa sering males diajak jalan. Surga gwa di kamar, baca buku yang entah berapa kali gwa baca. Atau tidur. Gwa susah banget tidur. Yang paling ekstrim gwa sering sehari tidur cuma sejam. Tapi kalo lagi ga ada kerjaan, gwa bisa ngebo. 10 jam! Gwa ngerasa salah aja ama badan gwa sendiri karena gak mengistirahatkannya dengan cukup. Makanya kalo gwa mbathang sebenarnya didasari dengan semangat mbayar utang!

Sebelnya, kalo giliran gwa pengen jalan dan temen gwa ngira males gwa kambuh. Dan mereka udah bikin planning beberapa saat sebelumnya. Bukan salah mereka, sih. Tapi gwa ngerasa left out. Apalagi kalo mereka pulangnya cerita-cerita di kamar gwa yang emang berfungsi sebagai kamar bersama. Mau didengerin, gondok. Gak didengerin, kasian yang udah pada buang saliva ampe berbusa-busa. Yah, paling gwa menyimak dengan maen gem di HP ambil sekali-sekali merespon dengan, "Oh iya?", "Terus gimana?", "Ya ampun!", dll.

Kalo gwa lagi sebel dan suntuk tiada tara, gwa bisa jalan kaki kemanapun. Sagan - Bunderan - Malioboro - Sagan itu biasanya trayek utama gwa. Kalo udah ampe Malioboro gwa sering nongkrong depan Mall. Liat orang lalu-lalang sambil ngerokok atau cuma bengong. Kalo ada duit dikit, gwa mampir aja ke fast food yang ada asbaknya. Cari Pa-He yang paling murah, abis makan bisa nongkrong ngabisin satu buku dan sebungkus rokok.

Padahal gwa gak se-kutubuku itu...

Man, With or Without: Either Way You Can Continue Living

Posted by The Bitch on 7/24/2005 09:09:00 AM

There we were, three average girls, having a good time in Saturday night before an idiot box called 'television' and scraping a one-litre pack of ice cream. The show was great, but what we've been scraping around was way more fascinating. Another time, another moment. But good friends remained the same.

It was a damned cold night, but the ice-cream made us warm. Or perhaps the subject we've been rambling about heightened the heat kept by the walls. Either way, we were comfortable enough.

Berhubung malem Minggu, kita ngomongin lelaki-lelaki yang pernah singgah di hati. Si Mbak yang baru datang jam 3.30 sore tadi ngaku kalo hubungannya selama hampir dua tahun dengan seseorang itu nggak sehat. Dia selalu jadi pihak yang kalah, inferior, (terpaksa) nrimo. Lelakinya selalu 'bersabda', gak mau didebat. Jika si Mbak udah hampir ilang sabar dan minta putus, lelakinya terus jadi manis kayak anak kucing dan tatapannya selalu bikin luluh. Dan gwa selalu nendang anak kucing yang sok minta dimanja. Jadi anak-anak harus kuat, biar gedenya bisa ngadepin dunia sendirian. Apalagi kamu anak kucing, pikir gwa. Juga terhadap cowok yang kayak gitu. Tendang aja.

One thing lead to another, dan kita ngomongin lelaki-lelaki yang memperlakukan istri-istrinya dengan semena-mena. Ada yang gak mbolehin si 'sigaran nyowo' ibadah, ada yang marah-marah kalo makanan gak anget atau sambelnya kurang pedes, ada yang suka mukul, maksain kebutuhan biologisnya terlampiaskan saat istrinya lagi lungkrah... macem-macem lah. Padahal mereka orang-orang baik, yang nasihat-nasihatnya selalu tertumpah ketika Hari Raya datang, penuh kasih sayang di depan sanak dan kerabat. Dan berubah sedrastis itu ketika sendiri bersama keluarganya. Ada yang baru setahun pernikahan trus maen pukul. Bahkan ada yang udah Haji berkali-kali. Tapi tetep aja kelakuannya kayak preman pasar. Apalagi mereka merasa didukung peraturan dan perintah agama dalam memperlakukan istri seperti itu. Perintah, my ass! Liat-liat dulu dong konteksnya kayak apa! Lagian, mana ada agama mbolehin sesuatu yang merusak kayak gitu?! Lu aja yang mikirnya demi kepentingan pribadi! Dasar, cowok penindas! Diktator ga bertaring kalo di luar kandang! Untung Babab gwa ga brengsek kayak gitu!

Akhirnya ada satu pertanyaan menggantung di udara (kayak balon komik gitu deh!): gimana cara milih pasangan hidup yang gak gampang maen tangan, sabar dan gak maksain kehendak? Setelah melalui brainstorming yang kalem (karena kita udah kekenyangan eskrim duluan), ada beberapa kesimpulan:

  1. Jauhin cowok yang gaya ngomongnya kayak salesman, bermulut manis dan ngobral janji surga. Cowok kayak gini biasanya cuma 'screensaver'. Kalo lo 'goyang' mouse dikit, sifat aslinya keliatan. Dan kalo dia belum dapetin yang dia mau--say, like... sex, maybe--dia bakal terus bermanis-manis sampe lo luluh.
  2. Cowok sok tau juga ga bagus dideketin. Jangan terlalu berinteraksi ama cowok kayak gini lah. Rugi di elu. Biasanya dia ga pernah mau kalah soal omongan. Ujung-ujungnya lo bakal ngerasa selalu inferior dan nurut aja diatur-atur dia. Kalo beneran sayang sama elu dia harus bisa hargain elu dan diskusi, bukan debat dan maksain kehendak!
  3. Ambisius abis. Gwa punya temen yang digila-gilain kakak kelasnya jaman SMA dulu yang yakin banget bakal jadi the next president of Indonesia. Padahal lulus aja belon. Omongannya selalu ga jauh-jauh dari itu. Lo dipacarin cuma buat jadi audiencenya ketika dia lagi orasi. Yang ada bosen setengah mampus karena idupnya melulu berkutat seputar dia dan dirinya.
  4. Over protektif. Bikin lo jengah luarbiasa. Lo jadi kayak benda mati yang ga bisa jaga keselamatan diri. Kemana-mana harus bilang dan dianterin. Temen-temen bakal pergi satu-satu njauhin elu karena sebel ama dia. Diharapkan lo bakal tergantung ama dia ampe ga bisa mutusin apapun sendiri dan dia akan merasa selalu jadi hero buat elu. Mau kayak gitu?!
  5. Ganteng. Cowok ini hanya bagus untuk jadi Vitamin A, gak bagus dijadiin pacar. Karena tampangnya, dia ngerasa punya posisi tawar lebih tinggi di pasar bebas. Kecuali kalo dia punya kerendahan hari luar biasa dan menganggap kegantengannya itu hanya berkah. Tapi menemukan cowok seperti ini sama aja percaya Sinterklas.
  6. Kaya. Dengan duit dia ngerasa bisa memiliki segalanya. Lo berharga sebatas kemana aja dia bisa 'bawa' elu. Kalo lo profesional, bisa nikmatin itu tanpa ada 'rasa', enjoy aja. Biasanya cowok macem gini royal banget. Lo minta pesawat juga dibeliin, kali!

Ini cuma secuil bahasan kami bertiga semalem. Tapi kesimpulan umumnya, pasangan lo adalah cerminan diri lo sendiri. Lagian, gwa yakin kalo you'll got what you deserve. Dan yang penting pijakan prinsip dan konsisten dengan apa yang lo yakinin, banyak belajar dan gak cupet biar lo gak gampang lemah oleh mulut manis nan berbisa.

Lucky Him, He Died Young

Posted by The Bitch on 7/23/2005 08:47:00 AM

Kemaren malem janjinya terpenuhi: nonton Gie! Gwa yang janji dateng jam 7.30 terpaksa molor setengah jam karena ada temen berkunjung. Untung aja pas sampe bioskop belum terlambat. Yah... namanya aja bioskop ecek-ecek. Katanya jam 8, nyampe sana jam 8 lewat juga blum mulai. "Udah pada masuk, tapi pilemnya belum diputer," jawab mbak-mbak penjaga loket. Untung gak ketinggalan seuprit pun!

Jujur aja, gwa baru kali ini menginjakkan kaki di bioskop Jokja yang tanpa embel-embel '21'. Dibayarin lagi! Sebenernya sih lebih enak nonton di komputer temen. Bisa tiduran, ngemil, ngerokok, bikin kopi =P

Waktu itu parkiran penuh, tapi isinya lebih banyak yang parkir untuk makan bebek goreng (apa ayam ya? Gwa lupa) daripada nonton.

Karena gwa masuk ketika orang-orang udah pada duduk, gwa ga begitu tau barengan-barengan gwa saat itu gimana bentuk dan rupanya. Ruangannya lumayan, terkesan jadul banget tapi nggak mengecewakan. ACnya dingin pisan! Untung aja gwa pakek celana training dan jaket. Layarnya juga gede. Lucunya, kita bisa duduk dimana aja dan gak kepatok sama nomer kursi. Xixixi... Jadi inget pas mudik naek kereta ekonomi.

Waktu kita udah duduk manis di salah dua kursi, temen sepenontonan gwa yang emang gila scooter itu nunjuk-nunjuk setiap ada adegan yang berisi vespa. Hu... dasar maniak! Katanya sih vespa tu seksi, montok. Gwa curiga. Jangan-jangan dia punya kelainan: tidak tertarik pada mahluk berlainan jenis dengan spesies sama. Hanya tertarik pada vespa!

Dari awal ada sesuatu yang bikin gwa senyum-senyum: lambang Garuda gede di atas layar. Ironis banget sih ini film! Ceritanya tentang aktivis anti pemerintah yang mati muda tapi sepanjang pemutaran dipantatin ama Garuda! Gwa kirain si mas ini gak sadar. Ehhh... tau-tau dia ngomong: "Pit, punya ketapel nggak? Aku pengen nembak garuda itu biar jatuh." Gendeng!

Waktu pilemnya selesai dan kita udah di luar pintu, gwa langsung buka bungkus rokok dan nawarin dia. Nah... baru deh gwa bengong. Yang pada nonton, mak... Kayak mau dugem! Terutama mbak-mbaknya. Pada pakek kaos kekecilan dengan model aneh-aneh keluaran butik-butikan, dengan selop yang bisa bikin mabuk udara saking tingginya, lipstik mengkilat kayak abis makan gorengan setampah, dan make-up lengkap. Padahal kan di dalem bioskop gelap. Lo mau kayak Britney juga cowok lo ga bakal liat. Itu kalo emang nonton pilem =P Kalo di daerah Blok M mungkin gwa masih bisa terima la yang kayak begini. Tapi ini Jokja! Yang kata temen gwa bioskop aja ga ada karena Mataram itu gak keitung bioskop! Udah gitu masih aja ada orang yang HP-nya bunyi tununut-tununut. Dijawab pulak! Ampun dah!

Gwa sih miris aja liatnya. Lagi-lagi ironis. Gak sesuai dengan filemnya. Wong filem tentang orang yang idealismenya bikin dia terasing, dekil, dikejar-kejar, bau dan 'gak dapet apa-apa', yang nonton koq malah yang kinclong-kinclong gitu? Mungkin ini sama dengan Che Guevara. Tapi dengan nonton Gie mereka punya kesempatan untuk jadi lebih concern ama dunia sekitar kali ya? Hey, this movie won't be made for nothing!

Pay Respect!

Posted by The Bitch on 7/23/2005 07:10:00 AM

Penting gak sih nikah itu? Ya. Asal bukan pernikahan gwa karena gwa bahkan gak kepikiran sama sekali. Tapi menikah adalah satu level, siklus dan hal baru yang mengubah total kehidupan. Revolusi menuju evolusi bersama: menjadi individu baru yang (diharapkan) tumbuh dan berkembang menuju yang lebih baik.

Temen se-kos gwa menikah jam 8.30 nanti, sementara gwa, dua setengah jam sebelum perubahan status itu, masih ada disini. Belum tidur dan males pulang.

Ga ada niat dateng walaupun dia temen yang lumayan baik sekalipun. Alasannya mungkin sepele: respek. Not mine to her, but vice-versa.

Seminggu menjelang hari-H dia baru kasih tau gwa--itupun karena ada 'kecelakaan' sebelumnya--dengan embel-embel, "Sttt... jangan kasih tau yang lain ya. Aku gak mau heboh dulu." Dan semua berjalan seperti apa adanya dengan mobilitas tinggi dari mulai bikin izin nikah, cari kontrakan, cari hotel buat keluarganya, dan lain-lain. Yang dikeluhkannya beberapa jam setelah dia ngaku. Jam 9 malam tadi, dia baru bilang: "Besok dateng kan? Dateng ya..." waktu gwa dan temen yang lain lagi asik nonton tipi. Gwa males liat mukanya. Jadi gwa anggap undangan itu bukan ditujukan ke gwa. Lagian dia gak nyebut nama gwa.

Bukan hanya gwa yang diperlakukan seperti itu. Yang lain juga sama. Malah ada yang nyangka dia mau jualan ketika sekarung keripik kentang dimasukkan dalam plastik kecil-kecil sebagai pelengkap hidangan walimah. Padahal temen kami yang lain--yang sekarang tinggal di ujung gang terjauh--sempet berlama-lama ngomongin tentang hari ini di kamar tertutup. Dan yang lain lagi, yang tinggal ratusan kilometer jauhnya dari kami, malah dikirimi undangan dan SMS yang meminta kehadiran mereka.

Ketika gwa komentar kalo tindakannya itu wagu, alasannya adalah karena gak mau bikin ribut. Padahal standarnya orang yang akan menikah adalah menyampaikan kabar baik ke seluruh kerabat dan kenalan untuk jadi saksi ketika janji terucap. Itu bukan keributan. Kita juga gak akan ribut, kok. Malah mbantu sebisanya, karena kami tau pernikahan ini lain dari yang biasa. Dan gwa tau mana yang basa-basi dan mana yang nutup-nutupin. Gelagatnya selama ini adalah yang terakhir.

Banyaknya perbedaan yang kami miliki gak mengubah persahabatan. Menurut gwa. Friksi adalah bumbu dalam hubungan antar-manusia yang beda karakter dan latar belakang dan sebagainya, sekeras apapun benturannya. Sedrastis apapun dia berubah, dia tetep temen gwa yang gwa kenal lumayan deket selama beberapa tahun terakhir ini. Apalagi kalo kita tinggal serumah. Beberapa teman yang lain menganggapnya gak ada niat ngundang dengan sikapnya yang seperti itu. Apa karena ritual kamu beda dengan yang umum, Mbak? Padahal kami mau datang sesuai aturan main. Asal kamu juga mengundang kami sesuai aturan main.

Keinginan kondangan hilang merunut kejadian seminggu ini: gwa ga dianggap teman, ga dianggap orang yang pantes diundang, karena tawaran itu gak pernah eksplisit terucap dari mulutnya. Gak sama seperti ketika dia ngomong tentang beberapa temen gwa yang mirip penghuni Pasar Kembang hanya karena pake tank top yang bertujuan mencari isis di area kos yang tanpa mata lelaki sama sekali.

Sayang, sefasih apapun kamu merasa mengenal Tuhan dan aturanNya, kamu gak punya penghormatan sama sekali terhadap sesama mahlukNya. Padahal Tuhan kita sama. Dan gwa tau Dia Maha Adil dan gak membeda-bedakan kemurahan dan rasa sayangnya ke seluruh ciptaanNya. Atau karena kamu merasa lebih tau segalanya dan kami cuma noktah jadi kamu merasa lebih berhak memiliki Tuhan? Nanti ya, kalo kita ketemu lagi, setelah kamu menyandang nama Nyonya BlaBlaBla, gwa bakal tanya-tanya semuanya. Tunggu aja!

Touche!

Posted by The Bitch on 7/22/2005 04:07:00 AM

Me : Ini Pak, uang listrik 3 bulan jadi 30,000 ya.
(Hanya untuk 'kandang' berisi buku, majalah dan lampu neon 50 watt sebagai hiburan, duit segitu sama sekali bukan milik dia. 1,2 juta per tahun cukup untuk nutup biaya listrik gwa yang ala-kadarnya dengan fasilitas rumah yang gak pernah diperhatikan. Apalagi gwa orang yang amat sangat peduli listrik dan air. Huh! Dasar, kapitalis kecil!)

Bapak Kos (BK): (Sambil cengar-cengir kesenengan menggenggam duit yang berpindah tangan) Makasih ya... Kamu sampe Juli kan? Mau nerusin disini lagi apa nggak?

Me : Kayaknya sih nggak, Pak. Mau pindah aja, cari yang murah. Tapi masih nunggu temen dulu, biar bareng.

Pak Maman (PM) : Oh, pindahnya sama yang tadi siang itu ya?
(note: PM ini adalah tetangga/tukang sampah/kuli serabutan yang bantu-bantu benerin kos-kosan yang emang udah bobrok luar biasa milik bapak berusia 70-something, beristri dua dan amat sangat kolot. Beliau ini kebetulan ada disana karena [mungkin] sedang diberi petuah oleh 'Da Capitalist' tentang bagaimana menjaga kos putri sementara dia bersama istri mudanya mudik ke Pemalang selama seminggu. Dan keberadaan 'The Outsider' ini bener-bener bikin gwa eneg banget dengan tatapannya yang melecehkan)

Me : (Bengong.) Perasaan tadi siang ga ada temen cewek maen kesini? (Terus langsung inget) Oh... Mas Tombro? Itu abangku!

BK : (Cuwek) Nanti pindah ke kos apa ngontrak?

Me : Kos kayaknya.

PM : (Dengan cengiran di wajah) Nggak ngontrak sama masnya yang tadi siang itu?

Me : (Mulai tersinggung) Dia sudah punya calon dan akan menikah nanti. Kalo abang ya abang, temen ya temen, pacar ya pacar! Lain!

BK : (Sambil cengar-cengir gak kalah nyebelin) Ya sudah. Itu rolling door-nya bapak tutup, jadi kamu lewat pintu depan aja. Kuncinya kalo mau diduplikat gak papa.

PM : Iya. Kamu kan suka pulang pagi. Maenan komputer ya? (Meringis najis)

Me : (Tambah muntab) Saya di warnet kerja dan belajar. Dari pertama saya kos disini, Bapak Kos udah saya kasih tau makanya saya jadi satu-satunya anak kos yang diperbolehkan pulang atau pergi dini hari. Dulu saya jaga warnet, tapi sekarang saya nerjemahin dan ngetik. Karena di kamar gak ada komputer makanya saya numpang ngetik di warnet temen. Yang kasih kerjaan gak cuma di Jokja, tapi juga di Jakarta dan mereka ngasih waktu cuma sedikit. Jadi harus cepet selesai dan langsung dikirim lewat e-mail. Kerjaan orang kan macem-macem, Pak. Emang, saya gak punya kantor, tapi dengan kerja seperti ini saya bisa bayar uang kos dan kuliah sendiri. Kalo Pak Maman gak percaya, tengokin ke warnet! Kalo perlu, pelototin saya ngapain aja semaleman ampe pagi! Jangan ngomong sembarangan kalo gak tau!
Sudah ya, Pak. Saya mau mandi dan ke warnet lagi. Jadi nanti tolong pintunya jangan dikunci dulu sebelum saya turun!
(Balik kanan, naek ke kamar dengan langkah berdentam dan gigi gemeretuk serta tangan terkepal)

BK : .....

PM : .....


Moral of the story: Kalo udah mendekati waktu haid gwa bisa jadi singa betina yang kelaparan dan galak yang sumbunya amat sangat pendek dan gampang tersulut.

There's always a first time for everything...

Posted by The Bitch on 7/20/2005 05:22:00 AM

When there is an important meeting to attend on a rainy day that will probably change your whole damned life, the hardest part is putting your first step outside your door and crazily running away from the hail. It's all just the same here.

When I desperately want to have an interceptor for the rusting, tangled thought that had been kept too long and driving me nuts, there was a familiar sensation of refusal to act and made one. I'm not a computer freak, I'm not getting a good relationship with machine--but men are my worst case--and I don't think I could sit and spit them out just like that.

But, hey, who knows? Maybe it will turn out to be a good shelter for keeping the rain out and let my sunshine inside. Behold! I'm coming!


[To Maz Tombro and Nunuz... Motivator ga sengaja]